ekonomi nelayan

Top PDF ekonomi nelayan:

JARINGAN EKONOMI NELAYAN

JARINGAN EKONOMI NELAYAN

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran hubungan kerja antara juragan darat dengan nelayan buruh pada jaringan ekonomi nelayan yang terjadi di pesisir Kapongan Situbondo dan untuk mendeskripsikan patronase ekonomi yang terbentuk pada jaringan ekonomi nelayan yang terjadi di pesisir Kapongan Situbondo. Metode penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive area yaitu Desa Landangan, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo. Penentuan subjek penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode snowball sampling yaitu tekhnik pengambilan subjek penelitian sebagai sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar yaitu sebanyak 7 subjek penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan terdiri dari metode: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, danp enarikan kesimpulan (verifikasi). Adapun hasil dari penelitian ini adalah hubungan kerja antara juragan dan nelayan bersifat terbuka, artinya juragan dapat memilih nelayan sesuai dengan keinginannya, begitu pula nelayan dapat memilih mana yang akan menjadi juragannya. Sistem bagi hasil yang diterapkan dibagi sesuai dengan hasil tangkapan waktu melaut yaitu 4 : 2 : 1. 4 bagian untuk juraan darat, 2 bagian untuk juragan laut, dan 1 bagian untuk nelayan yang dilakukan dengan bagi hasil bersifat transparan, jelas, dan terbuka. Hubungan patronase yang terbentuk bukan merupakan bentuk ekploitasi kepada para nelayan karena juragan dengan kekuasaannya tidak pernah semena-mena dalam mempekerjakan mereka bahkan lebih banyak membantu para nelayan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Kehidupan Sosial Ekonomi Nelayan Desa Percut (Dusun Bagan) Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

Kehidupan Sosial Ekonomi Nelayan Desa Percut (Dusun Bagan) Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

Latar belakang penulisan ini berangkat dari kehidupan masyarakat nelayan di Indonesia khususnya nelayan tradisional yang selalu di identikkan dengan kemiskinan. Ditengah kondisi laut Indonesia yang menyediakan potensi yang begitu besar, terdapat kenyataan pahit dimana masyarakat nelayan belum juga bisa keluar dari lingkaran kemiskinan. Kondisi demikian merupakan kenyataan yang tidak dapat di pungkiri sehingga perlu untuk diteliti mengenai kehidupan sosial ekonomi nelayan dan faktor yang menyebabkan kemiskinan tersebut. Penelitian ini dilakukan di dusun Bagan Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Bagan merupakan sebuah Dusun yang berada di desa Percut kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Lokasi ini menjadi tempat penelitian karena wilayah ini merupakan wilayah pesisir yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kehidupan sosial ekonomi nelayan khususnya nelayan tradisional di dusun Bagan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dalam penelitian ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu informan utama, informan kunci dan informan tambahan. Informan utama yaitu terdiri dari 2 orang nelayan pencari kerang dan 1 orang nelayan jaring gembung. Informan kunci yaitu istri nelayan dan anak nelayan. informan tambahan yaitu toke kerang dan kepala dusun 18. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipatif dan wawancara mendalam. Berdasarkan data yang telah diperoleh dari lapangan dan di analisis maka kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan tergolong miskin. Hal tersebut dikarenakan kehidupan nelayan tradisional sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan yang diperoleh dari laut. Kondisi miskin pada nelayan tradisional di Bagan Percut dapat terlihat dengan jelas melalui keadaan rumah yang kurang layak, pendapatan nelayan yang tidak menentu, anak-anak nelayan yang mengalami putus sekolah akibat orangtua tidak sanggup menyekolahkan. Kondisi demikian bukanlah suatu keadaan yang otomatis terjadi pada kehidupan nelayan tradisional melainkan terdapat berbagai hal yang menyebabkannya sebagai berikut: kebiasaan nelayan yang menghabiskan penghasilan sehari untuk kebutuhan sehari, gaya hidup boros/ tidak menabung, keterbatasan kemampuan modal usaha, keterbatasan kualitas sumber daya manusia, sistem pemasaran hasil tangkapan, dampak negatif program struktural pemerintah dan termasuk kondisi alam.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

89741 ID keragaan sosial ekonomi nelayan di wilay

89741 ID keragaan sosial ekonomi nelayan di wilay

yang menyangkut perceraian, kejahatan dan kenakalan anak, konflik rasial dan keagamaan bersumber dari keseluruhan, karena faktor-faktor itu saling berhubungan. Problem masyarakat yang telah disebutkan di atas, juga dialami oleh keluarga nelayan. Secara umum nelayan diidentikkan dekat dengan kemiskinan, padahal nelayan sangat dekat dengan akses sumberdaya, yaitu perikanan tangkap yang bersifat open access. Berbagai program pemberdayaan nelayan juga telah digulirkan oleh pemerintah untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi nelayan. Diduga ada hambatan yang dihadapi sehingga nelayan tidak mampu memperoleh manfaat optimal dari sumberdaya yang ada di sekitarnya. Apa yang terjadi dengan nelayan, sehingga seringkali terperangkap pada garis kemiskinan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

JARINGAN EKONOMI NELAYAN (Studi Kasus tentang Hubungan Kerja dan Sistem Patronase Ekonomi antara Juragan dan Nelayan Buruh di Pesisir Kapongan Situbondo)

JARINGAN EKONOMI NELAYAN (Studi Kasus tentang Hubungan Kerja dan Sistem Patronase Ekonomi antara Juragan dan Nelayan Buruh di Pesisir Kapongan Situbondo)

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis ilmiah yang berjudul: “ Jaringan Ekonomi Nelayan (Studi Kasus tentang Hubungan Kerja dan Sistem Patronase Ekonomi antara Juragan dan Nelayan Buruh di Kecamatan Kapongan Situbondo) ” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika disebutkan sumbernya dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

17 Baca lebih lajut

Sosial Ekonomi nelayan pantai baru bantu

Sosial Ekonomi nelayan pantai baru bantu

Cara pendistribusian hasil tangkapan rata-rata nelayan mendistribusikannya di TPI setempat dengan cara dilelang dan pembayarannya pun secara tunai kepada para nelayan. Tetapi ada juga yang para tengkulak yang langsung membeli hasil tangkapan dari nelayan akan tetapi harganya berbeda dengan lelang di TPI langsung.

5 Baca lebih lajut

Perilaku Ekonomi Nelayan Rajungan dalam Kerangka Industrialisasi Perikanan

Perilaku Ekonomi Nelayan Rajungan dalam Kerangka Industrialisasi Perikanan

Kemiskinan selalu merujuk pada sebuah kondisi yang serba kekurangan. Soekanto (2002) dalam Listianingsih (2008) beranggapan bahwa kemiskinan adalah suatu keadaan seseorang tidak dapat memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf hidup kelompok di sekitarnya dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. Kemiskinan juga diartikan sebagai ketidakberdayaan sekelompok masyarakat di bawah suatu sistem pemerintahan yang menyebabkan mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi. Pengertian yang terakhir ini lebih dikenal sebagai kemiskinan struktural. Pendapat tersebut didukung oleh Satria (2002) tentang pengategorisasi kemiskinan yang dilakukan berdasarkan faktor-faktor penyebab kemiskinan. Ada dua aliran besar yang melihat faktor-faktor penyebab kemiskinan. Pertama, aliran modernisasi yang selalu menganggap persoalan kemiskinan disebabkan faktor internal masyarakat, yaitu faktor budaya (kemalasan), keterbatasan modal dan teknologi, keterbatasan manajemen, serta kondisi sumber daya alam. Kedua, aliran struktural yang selalu menganggap faktor eksternal sebagai penyebab kemiskinan nelayan.
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

Jurnal KEADAAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN SO

Jurnal KEADAAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN SO

Cara untuk mengoperasikan alat tangkap ini menggunakan satu perahu yang dilengkapi dengan motor tempel. Jaring dibawa dengan perahu ke lokasi penangkapan, tempat meletakkan jaring di dekat terumbu karang dimana kedalaman air ± 8 meter dari permukaan. Jaring dibentangkan dengan posisi tegak di dasar perairan dan menghadang arah arus. Jaring dibiarkan sehingga ikan yang melewati terjerat dibagian kepala ikan. Nelayan harus menunggu agar ikan masuk kejaring dan hal itu akan memerlukan waktu yang lama, Oleh karena itu, agar ikan cepat menuju jaring dan terjerat, maka nelayan harus turun ke laut sambil menggiring ikan agar melewati jaring. Nelayan menepuk-nepuk permuka-an air sehingga ikan terkejut dan melarikan diri ke arah bentangan jaring sehingga insangnya terjerat (gilled) dalam mata jaring. Jika nelayan merasa sudah banyak ikan yang terjerat, jaring diangkat ke perahu dan ikan-ikan yang tertangkap diletakkan di dalam coolbox.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Kehidupan Sosial Ekonomi Nelayan Desa Percut (Dusun Bagan) Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

Kehidupan Sosial Ekonomi Nelayan Desa Percut (Dusun Bagan) Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

Lukman, 2008. Tesis Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Terhadap Lingkungan Rumah Tempat Tinggal Nelayan di Desa Lalang dan di Desa Medan Kecamatan Medang Deras Kabpaten Batubara, (diakses pada 29 April 2017, 17.00).

2 Baca lebih lajut

Penilaian Nelayan Terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap Khususnya Pemberian Bantuan Alat Tangkap Ikan (Studi Kasus: Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai)

Penilaian Nelayan Terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap Khususnya Pemberian Bantuan Alat Tangkap Ikan (Studi Kasus: Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pengembangan perikanan tangkap tidak mengalami peningkatan dari tahun 2011 sampai tahun 2012 ditinjau dari segi jumlah pelaksana dan jumlah anggota, ditinjau dari segi jumlah penerima bantuan, program mengalami penurunan sebanyak 7 kelompok atau sebesar 20,59% dari jumlah penerima pada tahun 2011 sebanyak 34 kelompok. 43,33% dari jumlah sampel bersikap positif, selebihnya 56,67% dari jumlah sampel bersikap negatif terhadap program pengembangan perikanan tangkap. Karakteristik sosial ekonomi nelayan tidak memiliki hubungan yang nyata dengan sikap nelayan. Secara serempak dan secara parsial, karakteristik sosial ekonomi nelayan tidak berpengaruh nyata terhadap sikap nelayan. Hambatan yang dihadapi pelaksana program adalah kurangnya kesadaran nelayan akan pentingnya kelompok nelayan, kurangnya kepedulian dan rasa ingin tahu nelayan serta banyaknya kelompok-kelompok baru ketika ada bantuan.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Peran Pemilik Modal (Pengamba’) Dalam Pemberdayaan Masyarakat Nelayan (Studi Kasus pada Masyarakat Nelayan Gardanan di Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi)

Peran Pemilik Modal (Pengamba’) Dalam Pemberdayaan Masyarakat Nelayan (Studi Kasus pada Masyarakat Nelayan Gardanan di Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi)

Nomenklatur “kelompok usaha bersama” dipilih untuk menghindari sistem pencairan dana dan pembayaran kredit kepada nelayan berdasarkan jangka waktu dan penggunaan agunan sebagai satu-satunya jalan mendapatkan sumber permodalan. Karena disadari atau tidak, selama ini mekanisme pencairan kredit semacam ini akan semakin menjauhkan jangkauan golongan ekonomi rendah seperti halnya petani dan nelayan dengan lembaga ekonomi formal bentukan pemerintah. Selain masuk dalam golongan masyarakat dengan pendidikan rendah, tipe pendapatan yang musiman dan tidak menentu, sangat bergantung terhadap iklim dan cuaca, dan umumnya aktivitas ekonomi nelayan dilakukan dengan resiko yang sangat tinggi telah mengakibatkan nelayan susah mengakumulasikan pendapatan mereka. Memaksa menggunakan koperasi di tengah susahnya merencanakan pendapatan akan semakin menekan masyarakat nelayan ke dalam kemiskinan itu sendiri.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

STRATEGI SURVIVAL RUMAH TANGGA NELAYAN DI KAWASAN PERMUKIMAN NELAYAN KECAMATAN LABUHAN BADAS KABUPATEN SUMBAWA NUSA TENGGARA BARAT.

STRATEGI SURVIVAL RUMAH TANGGA NELAYAN DI KAWASAN PERMUKIMAN NELAYAN KECAMATAN LABUHAN BADAS KABUPATEN SUMBAWA NUSA TENGGARA BARAT.

Dengan penduduk yang mayoritas nelayan dan kehidupan yang sangat bergantung dari laut, tekanan terhadap kehidupan sosial ekonomi nelayan terjadi ketika musim barat tiba. Masa-masa ini merupakan masa-masa paceklik, karena nelayan tidak dapat melaut. Nelayan yang memiliki barang-barang berharga yang mereka beli ketika tangkapan membaik, akan dijualnya kembali untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, namun bagi nelayan yang tidak memiliki barang berharga mereka melakukan peminjaman uang atau barang-barang kebutuhan pokok ke tetangga, teman bahkan pemilik perahu. Dalam masa paceklik tersebut anak-anak dan istri nelayan berusaha untuk bekerja dalam beragam sektor pekerjaan dengan tujuan untuk menambah penghasilan suami dan bapak mereka sehingga dapat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya perbedaan sosial ekonomi penduduk.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Aplikasi Ketel Sederhana untuk Pengolahan Awal Rajungan

Aplikasi Ketel Sederhana untuk Pengolahan Awal Rajungan

Rajungan yang baru ditangkap oleh nelayan membutuhkan penanganan yang cermat dan teliti. Proses pananganan rajungan pada prinsipnya terdiri dari penanganan awal rajungan setelah ditangkap oleh nelayan, penanganan bahan baku di miniplant dan penanganan bahan baku plant besar atau menengah. Dan tujuan yang ingin dicapai melalui Program Iptek bagi Masyarakat ini meliputi perancangan dan pembuatan instalasi peralatan untuk perlakuan awal rajungan melalui pengukusan yang meliputi silinder bertekanan (ketel kukus), tungku, instalasi bahan bakar gas, panci dan rak penyimpanan, pengepakan dan komponen pendukung. Beberapa kegiatan juga dilakukan meliputi pelatihan, perbaikan, perawatan dan konsultasi berkala mesin pengukusan terutama komponen silinder, tungku dan instalasi bahan bakar gas. Aplikasi mesin pengukus pada unit pengolahan awal rajungan di tingkat nelayan memberikan hasil positif baik kualitas rajungan dan peningkatan ekonomi nelayan di mana aktifitas tersebut mampu menggerakkan dan melibatkan seluruh masyarakat di sekitar nelayan terutama ibu-ibu dan juga pengolah rajungan di tingkat pengolah awal mampu meningkatkan potensi pendapat mencapai Rp 200.000,- s/d Rp 240.000,- setiap hari.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Terhadap Lingkungan Rumah Tempat Tinggal Nelayan Di Desa Lalang Dan Desa  Medang Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batu Bara

Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Terhadap Lingkungan Rumah Tempat Tinggal Nelayan Di Desa Lalang Dan Desa Medang Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batu Bara

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas hidup manusia. Tingkat pendidikan yang rendah akan membatasi seseorang untuk masuk kedalam akses sumber daya ekonomi yang lebih baik sehingga cenderung mengakibatkan kemiskinan dan ketertinggalan. Terdapat faktor-faktor yang diduga mempengaruhi tingkat pendidikan anak nelayan yaitu umur kepala keluarga, tingkat pendidikan kepala keluarga, umur ibu, tingkat pendidikan ibu, jumlah tanggungan, pendapatan keluarga, status usaha kepala keluarga, jenis kelamin anak dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini faktor pendidikan mempengaruhi lingkungan permukiman nelayan. Keberlanjutan anak nelayan dalam melanjutkan pendidikannya ataupun alternatif layanan pendidikan non formal lainnya yang lebih sesuai dengan kondisi/situasi rumah tangga nelayan. Bertambahnya tingkat pendidikan akan membawa perubahan terhadap lingkungan permukiman masyarakat nelayan.
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

Analisis Pendapatan Nelayan Tradisional Dibandingkan Dengan Upah Minimum Regional di Kecamatan Meulaboh Kabupaten Aceh Barat

Analisis Pendapatan Nelayan Tradisional Dibandingkan Dengan Upah Minimum Regional di Kecamatan Meulaboh Kabupaten Aceh Barat

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari belasan ribu pulau. Kenyataan ini memungkinkan timbulnya struktur kehidupan perairan yang memunculkan pemukiman-pemukiman penduduk di sekitar garis pantai. Dalam hal ini, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari para penduduk yang bermukim di daerah pantai tersebut pada umumnya memilih pekerjaan sebagai nelayan selain pekerjaan-pekerjaan sampingan lainnya. Hasrat untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dalam arti sebenarnya adalah tujuan mulia yang hendak dicapai oleh bangsa Indonesia termasuk Kecamatan Johan Pahlawan Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai subsistem didalam Sistem Pemerintah Republik Indonesia.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

II.A.2 4 Laporan Penelitian MP3EI Tahun 2017   Ketua

II.A.2 4 Laporan Penelitian MP3EI Tahun 2017 Ketua

Pulau Rote sebagai pulau terselatan Indonesia memiliki banyak potensi sumberdaya alam dan sosial budaya yang dapat dikembangkan dengan nilai ekonomis tinggi namun pengelolaannya belum optimal (BPS Rote Ndao, 2013). Faktor pembatas untuk melakukan eksplorasi kelautan dan perikanan di Pulau Rote sebagai pulau terluar adalah dampak ekologis dari tercemarnya Laut Timor akibat tumpahan minyak dan peralihan kawasan budidaya menjadi kawasan pariwisata (Paulus, 2014). Komunitas masyarakat nelayan dengan lingkungan alam yang memiliki kelimpahan stok sumberdaya akan memiliki perilaku (sosiologi) yang berbeda dengan komunitas masyarakat nelayan pada kondisi stok sumberdaya alam dan lingkungan yang terbatas seperti komunitas masyarakat nelayan pada pulau kecil terluar di Kabupaten Rote Ndao. Sebaliknya, kelimpahan dan keterbatasan stok sumberdaya alam dan lingkungan tidak menjamin kesejahteraan hidup masyarakat nelayan lebih baik. Oleh karena itu, diperlukan suatu model pendekatan pemberdayaan masyarakat nelayan yang lebih terfokus pada kesadaran tentang kondisi lingkungannya atau melihat hubungan yang sangat erat antara perubahan perilaku masyarakat nelayan (sosiologi masyarakat nelayan) dengan perubahan-perubahan lingkungan di sekitarnya (sosio-ekologi). Keterkaitan antara faktor-faktor ekologi dan proses sosial adalah sangat penting sebagai dasar untuk mendesain model bagi manajemen berkelanjutan komunitas masyarakat nelayan sebagai kehidupan yang masih tradisional.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

STRUKTUR SOSIAL PEREKONOMIAN IKAN ASIN DI KELURAHAN PEMATANG PASIR KECAMATAN TELUK NIBUNG  KOTA TANJUNG BALAI

STRUKTUR SOSIAL PEREKONOMIAN IKAN ASIN DI KELURAHAN PEMATANG PASIR KECAMATAN TELUK NIBUNG KOTA TANJUNG BALAI

Kami pun tidak ingin mengganggu aktifitas nelayan yang akan melaut sehingga kami pun mewawancarai pemilik gudang yang bernama Acong usia 45 tahun beliau bersedia kami wawancarai dengan sangat terbuka. Sesuasai berkenalan dengan beliau kami menanyakan apa yang perlu kami tanyakan. Gudang yang sudah lama berdiri sekitar 8 tahun terakhir ini dimiliki dan di kelola bapak Acong sendiri beserta rekan-rekan kerjanya. Terlihat gudang ikan Bapak Acong ini tidak sedang melakukan jual beli ikan dengan pelanggan dikarenakan sudah 2 minggu terakhir hasil melaut yang didapatkan para nelayan berkurang, bukan hanya itu banyak juga nelayan yang tidak di bolehkan pergi melaut karena tidak mempunyai surat izin yang resmi sebagai nelayan. Sesuai dengan peraturan yang baru dari Menteri Maritim bahwa nelayan harus mempunyai surat izin yang resmi baru di bolehkan melaut. Jika tidak ada ikan yang didapatkan para nelayan apalagi nelayan yang pergi melaut sedikit jumlah nya, maka proses jual-beli ikan di gudang pun akan tersendat. Itu artinya akan menurunkan penghasilan juga bagi pihak gudang. Hasil tangkapan ikan yang didapatkan para nelayan juga harus dibayarkan kepada pemilik kapal. Nelayan tidak harus memberikan upah kepada pemilik gudang ataupun sebaliknya, akan tetapi nelayan yang berangkat dari gudang ikan tersebut akan menurunkan ikan ataupun menjual ikan di gudang tersebut. Dalam hal ini pemilik gudang dan nelayan tidaklah memiliki perjanjian ataupun sistem kontrak melainkan hanya sistem kerja sama saja yang ada diantara mereka agar saling menguntungkan kedua belah pihak.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Kemiskinan Dan Ketimpangan Pendapatan Nelayan Buruh Kapal Bermotor < 5 GT (Studi kasus: Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Kota Medan)

Kemiskinan Dan Ketimpangan Pendapatan Nelayan Buruh Kapal Bermotor < 5 GT (Studi kasus: Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Kota Medan)

Menurut data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara di tahun 2007 nelayan yang berdomisili di 3 kecamatan tersebut berjumlah 11.492 orang atau sekitar 8,59% dari total penduduk di tiga kecamatan tersebut. Dari jumlah itu sebagian besar nelayan dapat dikategorikan sebagai nelayan miskin dengan tingkat pendapatan yang masih rendah. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ahmad, F (2005) dalam bukunya kebijakan perikanan dan kelautan bahwa pembangunan subsektor perikanan khususnya Indonesia, boleh dikatakan situasi diametrical, yaitu situasi yang menggambarkan di satu sisi potensi perikanan melimpah sementara di sisi lain kekayaan tersebut tidak tercermin dalam pelaku perikanan. Ia juga menyebutkan bahwa hampir sebagian besar penduduk pesisir pantai dikategorikan penduduk miskin dan kehidupannya di bawah upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Dalam berbagai jurnal ilmiah disebutkan bahwa kelompok nelayan yang dikategorikan dalam nelayan miskin adalah nelayan tradisional yaitu nelayan yang tidak memiliki kapal/perahu, nelayan yang menggunakan perahu/kapal yang masih sederhana dengan ukuran kapal < 5GT – 10GT, serta nelayan buruh kapal yang hanya memiliki faktor produksi berupa tenaga kerja.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects