ekosistem perairan

Top PDF ekosistem perairan:

Studi Dinamika Ekosistem Perairan Di Teluk Lampung: Pemodelan Gabungan Hidrodinamika-Ekosistem

Studi Dinamika Ekosistem Perairan Di Teluk Lampung: Pemodelan Gabungan Hidrodinamika-Ekosistem

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika ekosistem perairan di Teluk Lampung dengan menggunakan gabungan model hidrodinamika-ekosistem dengan pendekatan numerik. Secara umum, hasil simulasi pola arus residu M2 cenderung masuk dari mulut teluk sebelah barat, sebagian terus memasuki sam- pai kepala teluk dan sebagian keluar kembali dari mulut teluk bagian timur. Selain itu, terlihat pula adanya suatu eddy yang mengalir berlawanan arah jarum jam di sekitar kepala teluk. Pola penyebaran masing-ma- sing kompartimen ekosistem hasil model memiliki kesamaan dengan hasil pengamatan di lapangan, serta konsisten dengan pola arus residu M2. Pengaruh suplai dari sungai, interaksi antara proses biologis seperti produktifitas primer, sekunder (pemangsaan), kematian alami plankton, serta proses dekomposisi oleh bakteri belum begitu berperan dalam neraca dan standing stock ekosistem di Teluk Lampung. Peranan suplai dari laut lebih dominan dibanding dengan proses-proses biokimiawi yang berinteraksi di dalam teluk. Hasil perhi- tungan tingkat efisiensi aliran energi dari proses dekomposisi dan produksi urine zooplankton ke produktifitas primer mengalami kehilangan sebesar 30.48 %, sementara dari produktifitas primer ke produktifitas sekunder (pemangsaan) mengalami penambahan 17.24 %.

11 Baca lebih lajut

Karakterisitik Ekosistem Perairan Menggenang di Situ Gede

Karakterisitik Ekosistem Perairan Menggenang di Situ Gede

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik yang tidak terpisahkan antara makhluk hidup dan lingkungannya. Praktikum ekosistem perairan menggenang bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari karakteristik ekosistem perairan menggenang. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 29 Agustus 2010 di Situ Gede wilayah kuadran II tepatnya pada stasiun 6. Metode yang dilakukan dalam praktikum ini adalah pengambilan sampel (metode sampling) yang meliputi wawancara, observasi lapang, dan teknik pengumpulan data dengan beberapa parameter, seperti sifat fisika, kimia, dan biologi, kemudian dilakukan analisis sampel di laboratorium. Karakteristik umum yang didapatkan dari hasil parameter fisika adalah warna perairan cokelat keruh, kecerahan berkisar 27-31 cm, kedalaman berkisar 105-138 cm, tipe substratnya berupa lumpur halus dan suhu pada ketiga substasiun adalah 31ºC. Hasil dari parameter kimia, didapatkan bahwa derajat keasaman (pH) perairan di Situ Gede adalah 5. Hasil dari parameter biologi, didapatkan berbagai jenis plankton, perifiton, neuston, dan benthos, sedangkan nekton tidak ditemukan pada substasiun manapun. Semua karakteristik umum tersebut merupakan faktor pembatas yang mempengaruhi kelangsungan hidup organisme perairan menggenang.

12 Baca lebih lajut

FAKTOR PEMBATAS EKOSISTEM PERAIRAN

FAKTOR PEMBATAS EKOSISTEM PERAIRAN

Faktor pembatas adalah suatu yang dapat menurunkan tingkat jumlah dan perkembangan suatu ekosistem. faktor lingkungan menjadi faktor pembatas, baik itu abiotik maupun biotik. Abiotik diantaranya adalah suhu, kecepatan, arus dan pH. Pengertian tentang faktor lingkungan sebagai faktor pembatas kemudian dikenal sebagai Hukum faktor pembatas, yang dikemukakan oleh F.F Blackman, yang menyatakan: jika semua proses kebutuhan tumbuhan tergantung pada sejumlah faktor yang berbeda-beda, maka laju kecepatan suatu proses pada suatu waktu akan ditentukan oleh faktor yang pembatas pada suatu saat.

7 Baca lebih lajut

MAKALAH KELIMPAHAN PLANKTON DI EKOSISTEM PERAIRAN

MAKALAH KELIMPAHAN PLANKTON DI EKOSISTEM PERAIRAN

Sampling dilakukan secara horizontal pada permukaan perairan yang ditarik selama 2 – 3 menit dengan kecepatan konstan. Sampel dikoleksi dalam botol sampel yang diberi formalin dengan konsentrasi 4 % dan kemudian dicacah dan diidentifikasi di laboratorium dengan menggunakan mikroskop high power.

7 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Jenis Makrozoobentos di ekosistem Perairan Rawapening Kabupaten Semarang

Keanekaragaman Jenis Makrozoobentos di ekosistem Perairan Rawapening Kabupaten Semarang

polita, Polinices didyma). Pada stasiun II tidak ditemukan jenis dari Kelas Pelecypoda (Anodonta cygnea), Gastropoda (Pila polita, Littorina undulata, Faunus ater). Tidak diketemukannya beberapa jenis makrozoobentos pada stasiun I dan II tersebut dikarenakan pola penyebaran beberapa jenis bentos dipengaruhi oleh substrat tempat hidupnya. Jenis substrat pada stasiun I dan II adalah tanah humus berlumpur, dimana 50-100% fraksi tanah berupa lumpur. Menurut Setyobudiandi (1997) kelompok bentos yang sesuai mendiami substrat berlumpur adalah pemakan deposit seperti cacing. Selain jenis substrat, tidak ditemukannya beberapa jenis makrozoobentos pada stasiun I dan II juga dipengaruhi oleh kedalaman perairan. Perairan yang tidak terlalu dalam disebabkan oleh tingginya bahan organik yang mengendap di dasar sungai. Berdasarkan hasil penelitian Purborini (2005) kadar N 5,55%, P 16,75 ppm, dan K 0,72 mg/25 ml. Bahan organik tersebut berasal dari fiksasi bakteri dan serasah tumbuhan di atas perairan, misalnya Eicchornia crassipes dan Salvinia cucullata yang terdapat bebas di perairan Rawapening dalam jumlah yang sangat melimpah serta bahan terlarut lainnya.

71 Baca lebih lajut

FAKTOR PEMBATAS EKOSISTEM PERAIRAN

FAKTOR PEMBATAS EKOSISTEM PERAIRAN

Nitrat dan fosfor sampai batas tertentu tampaknya terbatas jumlahnya hampir pada semua ekosistem air awar. Dalam air danau dan aliran air dengan kesadahan rendah, kalsium dan garam-garam lain juga tampaknya terbatas. Kecuali pada beberapa mata air mineral, bahkan pada air dengan kesadahan tertinggi hanya mempunyai kadar garam atau salinitas kurang dari 0,5%, dibandingkan dengan 30-37% dalam air laut.

4 Baca lebih lajut

PENGARUH LOGAM BERAT TERHADAP PENCEMARAN

PENGARUH LOGAM BERAT TERHADAP PENCEMARAN

Seperti yang kita tahu, air merupakan senyawa yang penting bagi semua makhluk hidup di Bumi. 71 persen dari permukaan bumi ditutup oleh air. Terjadinya perkembangan IPTEK memacu terjadinya pencemaran air, yaitu berubahnya kondisi air oleh kegiatan manusia atau melalui proses alami, sehingga mutu kualitas air sampai tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi sebagai mestinya. Terganggunya kualitas air ditandai dengan perubahan bau, rasa, dan warna. Terjadinya pencemaran air dapat menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan makhluk hidup, seperti terganggunya kehidupan organisme air karena keracunan, hingga dapat menyebabkan punahnya biota air. Salah satu factor dan tanda terjadinya pencemaran air adalah terdapatnya logam berat di dalam suatu ekosistem perairan

15 Baca lebih lajut

Pertukaran gas CO2 udara laut di perairan pesisir  studi kasus di Selat Nasik, Belitung dan Estuari Donan, Cilacap

Pertukaran gas CO2 udara laut di perairan pesisir studi kasus di Selat Nasik, Belitung dan Estuari Donan, Cilacap

Terumbu karang merupakan ekosistem perairan tropis dan sub tropis yang terdiri dari struktur karbonat yang didominasi oleh karang Scleractinia dan mikroalga (Borges, 2005). Ekosistem terumbu karang mewakili sekitar 2% dari luas permukaan continental shelf dan menyumbang sekitar 83% dan 50% dari produksi dan akumulasi partikel karbon anorganik ekosistem pesisir (Milliman, 1993). Terumbu karang berkembang pada tingkat kekeruhan rendah, perairan yang oligotrofik dengan suhu tahunan minimum 18 o C dan mempunyai tingkat metabolisme karbon organik dan kalsifikasi yang tinggi (Gattuso et al., 1998). Meskipun perairan terumbu karang mempunyai laju fotosintesis dan respirasi yang tinggi, produksi ekosistem bersih di perairan tersebut mendekati nol (Gattuso et al., 1998). Proses kalsifikasi dan fotosintesis merupakan proses utama yang mempengaruhi siklus karbon di perairan sekitar terumbu karang. Fiksasi CO 2 oleh produksi ekosistem bersih (NEP) biasanya rendah tetapi tingkat

66 Baca lebih lajut

Modul 2 Makhluk Hidup Dan Lingkungannya

Modul 2 Makhluk Hidup Dan Lingkungannya

Perbedaan antara ekosistem darat dan ekosistem perairan adalah terlihat jelas dari komponen abiotiknya. Komponen tersebut mempunyai jumlah yang paling banyakekosistem. Jika di dalam ekosistem darat terdapat banyak tanah, namun di dalam tersebut adalah terdapatnya air yang banyak pada ekosistem perairan.

9 Baca lebih lajut

Ecosystem management of seagrass on the tourism area at Sanur Beach, Denpasar City, Bali

Ecosystem management of seagrass on the tourism area at Sanur Beach, Denpasar City, Bali

Pantai Sanur adalah daerah wisata yang ramai dikunjungi wisatawan dari mancanegara dan domestik di pulau dewata di Bali. Di lokasi dengan kondisi seperti ini banyak dimanfaatkan untuk kegiatan renang dan kegiatan wisata lainnya. Ditambah pada kawasan ini beberapa hotel berbintang juga berdiri tepat di bibir pantai Sanur. Akibatnya limbah dari kegiatan manusia ini akan masuk secara langsung ke perairan. Ini mengakibatkan lamun yang tumbuh alami tersebut semakin hari semakin tertekan yang mengarah kepada terjadinya degradasi lingkungan pantai yang lebih serius. Penambatan perahu dan pembuatan jalur masuk perahu pada beberapa tempat membuat kerusakan terhadap ekosistem ini. Minimnya informasi serta pengelolaan terhadap ekosistem lamun mengakibatkan lamun tidak diperhatikan dalam pelestariannya dibanding ekosistem terumbu karang maupun mangrove. Ekosistem lamun di Bali sudah banyak terdegradasi akibat adanya aktivitas masyarakat dan pembangunan seperti pengambilan batu karang, reklamasi Pulau Serangan dan budidaya rumput laut di Pulau Nusa Penida dan Lembongan, serta aktivitas pariwisata tirta di lokasi yang berdekatan dengan habitat padang lamun tersebut, tak terkecuali yang ada di Pantai Sanur (Gambar 1).

114 Baca lebih lajut

Hubungan Keanekaragaman Ikan dan Faktor Fisik-Kimia Perairan Sungai Mencirim, Binjai Provinsi Sumatera Utara

Hubungan Keanekaragaman Ikan dan Faktor Fisik-Kimia Perairan Sungai Mencirim, Binjai Provinsi Sumatera Utara

Arus air adalah faktor yang mempunyai peranan yang sangat penting baik pada perairan lotik maupun pada perairan lentik. Hal ini berhubungan dengan penyebaran organisme, gas-gas terlarut dan mineral yang terdapat di dalam air. Kecepatan aliran air akan bervariasi secara vertical. Arus air pada perairan lotik umumnya bersifat turbulen, yaitu arus air bergerak ke segala arah sehingga air akan terdistribusi ke seluruh bagian dari perairan tersebut. Selain itu dikenal arus laminar, yaitu arus air yang bergerak ke arah tertentu saja (Barus, 2004) Kecepatan arus air permukaan tidak sama dengan air bagian bawah. Semakin ke bawah gerakan air biasanya semakin lambat dibandingkan dengan di bagian permukaan. Perbedaan kecepatan arus antar kedalaman menyebabkan tampak bentuk antara organisme air pada kedalaman yang berbeda tidak sama. Kecepatan arus air dapat diukur dengan beberapa cara, mulai dengan cara yang paling sederhana sampai dengan alat yang khusus untuk itu, yaitu dengan meteran arus buatan pabrik (Suin, 2002).

10 Baca lebih lajut

Studi Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur Anodontia edentula pada Ekosistem Mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam

Studi Ekologi dan Reproduksi Populasi Kerang Lumpur Anodontia edentula pada Ekosistem Mangrove Teluk Ambon Bagian Dalam

Pengambilan contoh sedimen dilakukan di salah satu muara sungai Wai Tonahitu pada perairan pantai desa Passo Teluk Ambon Bagian Dalam. Titik-titik pengambilan sedimen sesuai dengan pembagian zona yaitu dekat dengan mangrove, jauh dari mangrove ke arah laut dan zona antara. Pengambilan contoh sedimen ini dilakukan sebanyak dua kali selama penelitian berlangsung. Untuk mengetahui dominasi ukuran butiran dan jenis sedimen pada substrat, maka dilakukan pengambilan contoh dengan “sediment core” sampai kedalaman 50 cm pada setiap kuadran pengamatan bersamaan dengan pengambilan contoh A.edentula. Sedimen dikering anginkan untuk analisis partikel butiran yang dilakukan di laboratorium kimia, Balai Penelitian Tanah, Departemen Pertanian, Bogor. Hasil yang diperoleh diklasifikasikan dalam klasifikasi skala wenworth sediment (Dyer, 1986) berdasarkan ukuran butiran, yaitu lempung/liat (clay), lanau/lumpur (silt), pasir (sand), butiran (granule), kerikil/koral (pebble), batu bulat (cobble) dan batu besar (boulder). Skala wenworth sedimen sebagai panduan pengklasifikasian tertera pada Lampiran 2. Hasil pengklasifikasian butiran diplotkan ke dalam segitiga Shephard (1954) diacu dalam Dyer (1986).

179 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Makrozoobentos di Perairan Danau Toba Desa Silalahi Kabupaten Dairi

Keanekaragaman Makrozoobentos di Perairan Danau Toba Desa Silalahi Kabupaten Dairi

Bagi organisme air, intensitas cahaya berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisme tersebut dalam habitatnya. Contohnya, larva dari Baetis rhodani akan bereaksi terhadap perubahan intensitas cahaya, dimana jika intensitascahaya matahari berkurang, hewan ini akan ke luar dari tempat perlindungannya yang terdapat pada bagian bawah dari bebatuan didasar perairan, bergerak menuju kebagian atas bebatuan untuk mencari makanan (Barus, 2004).Intensitas cahaya dan perbedaan suhu air sangat berperan pada pengklasifikasian perairan lentik, sedangkan pada perairan lotik justru kecepatan arus atau pengerakan air, jenis sedimen dasar, erosi dan sedimentasi yang paling berperan (Jeffries & Mills 1996).

8 Baca lebih lajut

Klasifikasi dan morfologi Ikan Nila

Klasifikasi dan morfologi Ikan Nila

Telah lama diketahui bahwa merkuri dan turunannya sangat beracun, sehingga kehadirannya di lingkungan perairan dapat mengakibatkan kerugian pada manusia karena sifatnya yang mudah larut dan terikat dalam jaringan tubuh organisme air. Selain itu pencemaran perairan oleh merkuri mempunyai pengaruh terhadap ekosistem setempat yang disebabkan oleh sifatnya yang stabil dalam sendimen, kelarutannya yang rendah dalam air dan kemudahannya diserap dan terkumpul dalam jaringan tubuh organisme air, baik melalui proses bioaccumulation maupun biomagnifications yaitu melalui food chain (Assa, 2003).

10 Baca lebih lajut

FAKTOR FISIKA KIMIA PERAIRAN YANG MEMPENGARUHI EKOSISTEM MANGROVE

FAKTOR FISIKA KIMIA PERAIRAN YANG MEMPENGARUHI EKOSISTEM MANGROVE

Oksigen terlarut (DO) sangat penting untuk hewan di hutan mangrove, terutama untuk proses respirasi. Konsentrasi DO pada mangrove bervariasi berdasarkan daerah dan zona tumbuhnya, serta bervariasi menurut waktu, musim dan keragaman tumbuhan serta biota akuatik yang hidup di daerah mangrove. Kandungan oksigen mempengaruhi jumlah spesies yang hidup di sekitarnya, semakin stabil pasokan oksigen maka semakin banyak spesies yang hidup di daerah tersebut (Dewiyanti and Yunita, 2010). Menurut Effendi (2003), kisaran oksigen yang bagus untuk bisa menunjang kehidupan suatu ekosistem berkisar antara 3.2 - 4.5 ppm.

2 Baca lebih lajut

Keragaman makrozoobenthos di perairan Kuala Gigieng Kabupaten Aceh Besar Diversity of macrozoobenthos in Kuala Gigieng estuary, Aceh Besar

Keragaman makrozoobenthos di perairan Kuala Gigieng Kabupaten Aceh Besar Diversity of macrozoobenthos in Kuala Gigieng estuary, Aceh Besar

Burke et al.(2002) menyatakan bahwa 50% ekosistem terumbu karang yang berada di kawasan Asia tenggara berada pada level “resiko tinggi” terhadap ancaman kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Selanjutnya, Baird et al. (2005) menyatakan ekosistem terumbu karang di Perairan Aceh termasuk didalamnya wilayah Kabupaten Aceh Besar adalah salah satu ekosistem yang mengalami degradasi karena adanya perbuatan manusia yang tidak ramah lingkungan, seperti penangkapan ikan dengan metode yang merusak, pembuangan limbah ke laut dan lain-lain.

8 Baca lebih lajut

PERMENHUT NO 48 TH 2014 ttg TATA CARA PELAKSANAAN PEMULIHAN EKOSISTEM PADA KSA DAN KPA

PERMENHUT NO 48 TH 2014 ttg TATA CARA PELAKSANAAN PEMULIHAN EKOSISTEM PADA KSA DAN KPA

9. Ekosistem perairan laut adalah ekosistem perairan yang berada di perairan laut mulai dari tepi pantai sampai laut dalam, yang meliputi komponen kehidupan flora, fauna dan abiotis di pesisir pantai, perairan pantai, perairan laut yang saling berinteraksi dalam suatu kesatuan sistem, antara lain terumbu karang, padang lamun, mangrove, perairan laut dangkal dan perairan laut dalam (dengan kedalaman lebih dari 6 meter pada saat surut terendah).

23 Baca lebih lajut

Pengelolaan Ekosistem Mangrove Dalam Upaya Meningkatkan Produksi Perikanan Di Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara

Pengelolaan Ekosistem Mangrove Dalam Upaya Meningkatkan Produksi Perikanan Di Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara

Mangrove menyediakan daerah asuhan (nursery ground) bagi ikan, udang dan kepiting, serta mendukung produksi perikanan di perairan pesisir. Melalui proses rantai makanan, produktivitas primer dari ekosistem mangrove menyebabkan produksi perikanan daerah sekitarnya menjadi melimpah. Namun pemahaman tersebut bagi masyakarat dan pemangku kebijakan di wilayah pesisir belum sepenuhnya dimiliki karena sifatnya tidak terlihat secara langsung dan dalam waktu yang singkat, sehingga pengelolaan ekosistem mangrove tidak diintegrasikan dengan pengelolaan perikanan tangkap dan budidaya.

6 Baca lebih lajut

Pelestarian Ekosistem Mangrove Pada Daerah Perlindungan Laut Desa Blongko Kecamatan Sinonsayang Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara

Pelestarian Ekosistem Mangrove Pada Daerah Perlindungan Laut Desa Blongko Kecamatan Sinonsayang Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara

Peningkatan pendapatan bagi masyarakat yang bermata pencaharian nelayan merupakan salah satu strategi penting dalam pelestarian ekosistem mangrove. Pengembangan di sektor perikanan antara lain dilakukan dengan cara pengetahuan tentang teknik penangkapan ikan, pembelajaran tentang cara penangkapan ikan yang tidak merusak lingkungan, penambahan armada penangkapan, ketersediaan bahan bakar minyak dan teknik pemasaran. Sampai saat ini teknik penangkapan ikan masih bersifat tradisional dan sangat tergantung pada musim dan keadaan bulan. Keterbatasan teknologi mengakibatkan daerah penangkapan ikan tidak jauh dari tempat tinggal, hal ini untuk mengurangi pengeluaran yang besar terhadap bahan bakar. Beberapa cara penangkapan seperti penggunaan panah dan teknik penggunaan bubu yang salah masih sering dijumpai di desa ini padahal secara tidak langsung hal ini menjadi ancaman terhadap kelestarian ekosistem pesisir. Minimnya pengetahuan akan fungsi dari terumbu karang mengakibatkan masyarakat masih menggunakan cara-cara yang merusak untuk mendapatkan ikan atau biota lainnya yang hidup pada daerah pesisir.

94 Baca lebih lajut

Penilaian Ekonomi Kerusakan Ekosistem Lamun Di Perairan Teluk Banten (Studi Kasus: Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten)

Penilaian Ekonomi Kerusakan Ekosistem Lamun Di Perairan Teluk Banten (Studi Kasus: Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Provinsi Banten)

Gambar 5.4 Karakteristik responden berdasarkan tingkat penghasilan Berdasarkan Gambar 5.4 penghasilan responden non nelayan sebagian besar berpenghasilan sebesar Rp 500.001-1.500.000 per bulan dan responden nelayan sebesar Rp 2.500.001-3.500.000 per bulan. Rendahnya penghasilan responden per bulan salah satunya dipengaruhi oleh rusaknya ekosistem di Perairan Kecamatan Bojonegara. Faktor lain yaitu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah. Rusaknya ekosistem di Perairan Kecamatan Bojonegara menyebabkan jumlah biota laut menjadi berkurang, sehingga penghasilan responden berkurang. Dampak negatif tersebut terjadi karena menurunnya hasil tangkapan dan meningkatnya biaya yang dikeluarkan untuk penangkapan per tripnya. Kondisi ini menyebabkan sebagian dari penduduk di Desa Bojonegara, Desa Margagiri, dan Desa Karangkepuh beralih pekerjaan dari nelayan menjadi pedagang atau buruh pabrik, sedangkan melaut dijadikan sebagai pekerjaan sampingan. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan responden juga mempengaruhi tingkat penghasilan responden dimana responden sulit untuk beralih pekerjaan. Akibatnya, responden sulit untuk meningkatkan taraf kesejahteraannya.

125 Baca lebih lajut

Show all 7233 documents...