Ekstrusi Debris

Top PDF Ekstrusi Debris:

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro)

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro)

Ekstrusi debris melalui foramen apikal dapat terjadi pada tindakan irigasi saluran akar. NaOCl merupakan bahan irigasi yang dianggap paling efektif, namun NaOCl memiliki efek toksik bila terjadi ekstrusi. Kitosan blangkas molekul tinggi merupakan bahan alami yang biokompatibel dan memiliki efek antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan jumlah ekstrusi debris antara larutan kitosan blangkas molekul tinggi berbagai konsentrasi dengan NaOCl bila kitosan blangkas molekul tinggi dijadikan sebagai bahan irigasi alternatif.

13 Baca lebih lajut

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro)

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro)

Ekstrusi debris melalui foramen apikal dapat terjadi pada tindakan irigasi saluran akar. NaOCl merupakan bahan irigasi yang dianggap paling efektif, namun NaOCl memiliki efek toksik bila terjadi ekstrusi. Kitosan blangkas molekul tinggi merupakan bahan alami yang biokompatibel dan memiliki efek antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan jumlah ekstrusi debris antara larutan kitosan blangkas molekul tinggi berbagai konsentrasi dengan NaOCl bila kitosan blangkas molekul tinggi dijadikan sebagai bahan irigasi alternatif.

2 Baca lebih lajut

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro)

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro)

Parirokh et al (2012) pertama kali meneliti hubungan antara bahan irigasi serta konsentrasi bahan irigasi dengan ekstrusi debris. Bahan irigasi yang digunakan adalah klorheksidin 2%, NaOCl 2,5% dan 5%, dengan teknik preparasi disamakan yaitu crown-down menggunakan Hero rotary instrument dan teknik irigasi manual dengan jarum irigasi side-vented ukuran 28G dan jarak penetrasi jarum 2mm dari panjang kerja. Hasilnya menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara NaOCl konsentrasi 5% dengan 2 kelompok lainnya dimana NaOCl 5% memiliki ekstrusi debris tertinggi dibanding NaOCL 2,5% dan klorheksidin. Hal ini membuktikan bahwa konsentrasi bahan irigasi memberi pengaruh terhadap jumlah ekstrusi debris. 13
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro) Chapter III VII

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro) Chapter III VII

Berdasarkan penelitian terdahulu, teknik irigasi konvensional spuit dan jarum irigasi masih sering digunakan oleh para klinisi. Namun teknik ini memberi kemungkinan ekstrusi debris lebih tinggi. Beberapa modifikasi telah dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya ekstrusi debris dan meningkatkan pembersihan saluran akar. Menurut penelitian, jarum irigasi yang aman digunakan adalah ukuran 28G dan 30G dengan penetrasi jarum 1-3 mm dari panjang kerja. Penetrasi jarum yang terlalu jauh dari panjang kerja tidak dapat membersihkan 1/3 apikal saluran akar dengan baik. Namun, semakin dekat ke foramen apikal, jumlah vortex yang terbentuk semakin berkurang sehingga ekstrusi debris dan bahan irigasi meningkat.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro)

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro)

Parirokh et al (2012) pertama kali meneliti hubungan antara bahan irigasi serta konsentrasi bahan irigasi dengan ekstrusi debris. Bahan irigasi yang digunakan adalah klorheksidin 2%, NaOCl 2,5% dan 5%, dengan teknik preparasi disamakan yaitu crown-down menggunakan Hero rotary instrument dan teknik irigasi manual dengan jarum irigasi side-vented ukuran 28G dan jarak penetrasi jarum 2 mm dari panjang kerja. Hasilnya menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara NaOCl 5% dengan 2 kelompok lainnya dimana NaOCl 5% memiliki ekstrusi debris tertinggi dibanding NaOCL 2,5% dan khlorheksidin. Hal ini membuktikan bahwa bahan irigasi dan konsentrasinya memberi pengaruh terhadap jumlah ekstrusi debris. Hal ini dapat disebabkan oleh kemampuan larutan irigasi untuk melarutkan jaringan dan dinding dentin dan nekrotik. 13
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro)

Perbedaan Jumlah Ekstrusi Debris Antara Kitosan Blangkas Molekul Tinggi Dengan Sodium Hipoklorit Pada TindakanIrigasi Saluran Akar (Penelitian In Vitro)

– Penelitian Banurea dan Trimurni 2008 menunjukkan bubuk kitosan blankas bermolekul tinggi bereaksi positif sebagai antibakteri terhadap bakteri Fusobacterium nucleatum – Penelitian Ra[r]

12 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN   Fenomena transverse welding pada proses ekstrusi aluminium.

PENDAHULUAN Fenomena transverse welding pada proses ekstrusi aluminium.

Fenomena transverse welding merupakan kasus yang perlu diprediksi dalam proses ekstrusi karena perolehan informasi tentang transverse welding digunakan untuk mengontrol ketelitian pada saat memproses bentuk komponen dan memprediksi kegagalan pada proses ekstrusi yang dilakukan. Fenomena transverse welding dapat diprediksi melalui suatu pendekatan numerik yang

5 Baca lebih lajut

Karakterisasi sifat fisikokimia produk ekstrusi berbasis jewawut

Karakterisasi sifat fisikokimia produk ekstrusi berbasis jewawut

Keuntungan proses pemasakan dengan metode ekstrusi antara lain produktivitas tinggi, biaya produksi rendah, bentuk produk khas, produk lebih bervariasi walaupun dari bahan baku yang sama, pemakaian energi yang rendah, serta mutu produk tinggi karena proses menggunakan suhu tinggi dengan waktu yang singkat (HTST) sehingga kerusakan nutrisi dapat dikurangi (Smith, 1981). Selain itu produk yang dihasilkan seragam, perlatannya mudah diotomisasi, tidak banyak limbah, dan hasil akhir dapat diatur. Kerusakan zat gizi terutama protein dan vitamin dapat diusahakan seminimal mungkin, namun mampu merusak senyawa seperti hemaglutinin, gosipol, dan antitripsin. Selain itu tidak ada bakteri maupun larva yang mampu bertahan hidup selama proses ekstrusi. Hal ini dikarenakan proses yang bersifat HTST (Muchtadi et al., 1988).
Baca lebih lanjut

146 Baca lebih lajut

6. DAFTAR PUSTAKA - PENENTUAN FORMULASI TERBAIK DAN FLAVOR YANG SESUAI UNTUK EKSTRUDAT CAMPURAN JAGUNG (Zea mays) DAN SORGUM PUTIH (Sorgum bicolor L.) - Unika Repository

6. DAFTAR PUSTAKA - PENENTUAN FORMULASI TERBAIK DAN FLAVOR YANG SESUAI UNTUK EKSTRUDAT CAMPURAN JAGUNG (Zea mays) DAN SORGUM PUTIH (Sorgum bicolor L.) - Unika Repository

Hidayah, T. N; Mangunwidjaja, D; Sunarti, T. C. dan Sutrisno. (2005). Pengaruh Suhu Proses Ekstrusi Dan Campuran Ubi Jalar Merah (Ipomoea batatas L) Dengan Kacang Bogor (Voandzeia subterranea L Thouars) Terhadap Beberapa Karakteristik Fisik Ekstrudat. Jurnal Teknologi Pertanian, Vol. 6 No. 2 Halaman 121 - 130.

5 Baca lebih lajut

Pengembangan Produk Makanan Ringan Dengan Proses Ekstrusi Dan Penggorengan

Pengembangan Produk Makanan Ringan Dengan Proses Ekstrusi Dan Penggorengan

Retrogradasi merupakan proses lanjut setelah gelatinisasi. Polimer pati yang terlarut dan sis a bagian butir yang tidak larut kembali bersatu setelah pemanasan. Retrogradasi menghasilkan formasi agregat kristal yang mempengaruhi tekstur. Molekul amilosa linier lebih cenderung bersatu dan membentuk ikatan hidrogen daripada molekul amilopektin yang lebih besar dan bercabang. Pada saat retrogradasi, pasta pati menjadi berwarna opak dan membentuk gel. Gel berangsur-angsur menjadi seperti elastis atau kenyal dan cenderung melepas air. Perubahan ini terjadi selama dan setelah ekstrusi, pemanggangan, penggorengan, dan proses lainnya (Huang dan Rooney dalam Lusas dan Rooney, 2001). Dehidrasi melepas air dan meningkatkan retrogradasi. Lapisan film yang terbentuk tergantung dari jumlah relatif air, jenis pati dan interaksinya dengan bahan lainnya dalam formula. Retrogradasi luas dari amilosa menghasilkan fraksi pati yang tahan terhadap kerja enzim pencernaan. Retrogradasi amilopektin pada produk hasil pemanggangan berhubungan dengan peristiwa ‘melempem’. Pada makanan ringan, hal ini menghasilkan tekstur yang ringan, garing dan renyah.
Baca lebih lanjut

142 Baca lebih lajut

Formulasi Mi Kering Sagu dengan Substitusi Tepung Kacang Hijau | Yuliani | Agritech 9322 17302 1 PB

Formulasi Mi Kering Sagu dengan Substitusi Tepung Kacang Hijau | Yuliani | Agritech 9322 17302 1 PB

Teknologi ekstrusi banyak diaplikasikan dalam pengembangan produk mi dan pasta dari bahan baku non WHULJX*LPHQH]GNN3DGDOLQRGNN7DPGNN +DO LQL NDUHQD SDGD SURVHV HNVWUXVL WHUMDGL SURVHV pemasakan yang dapat menyebabkan terjadinya gelatinisasi yang diperlukan pada pengolahan mi dan pasta non terigu 7DPGNN.DUDNWHULVWLNPLSDWLVDQJDWGLSHQJDUXKL ROHK VLIDW IXQJVLRQDO SDWL 3DWL \DQJ PHPLOLNL YLVNRVLWDV setback yang tinggi karena memiliki kecenderungan retrogradasi yang tinggi paling baik untuk pembuatan mi pati .DWD\DPDGNN7DQGNN

9 Baca lebih lajut

Application of Wavelet Analysis in Detecting Runway Foreign Object Debris

Application of Wavelet Analysis in Detecting Runway Foreign Object Debris

Runway Debris is an important form of Foreign Object Debris which contains several types such as damaged road and devices; components or units from aircraft; missed tools after maintenance; debris brought about from carriage and luggage of passenger, and sundries at turning corner of narrow runway, and so on.

8 Baca lebih lajut

Karakteristik reologi mi jagung dengan proses ekstrusi pemasak pencetak

Karakteristik reologi mi jagung dengan proses ekstrusi pemasak pencetak

Bagian Pertama disertasi ini adalah Pendahuluan yang berisi kondisi yang melatarbelakangi pentingnya penelitian ini dilakukan, tujuan, hipotesa dan manfaat penelitian. Bagian Kedua berisi Tinjauan Pustaka yang terkait dengan penelitian. Bagian Ketiga menggambarkan Tahapan Penelitian secara keseluruhan dan metode (langkah) dalam setiap tahap penelitian. Bagian Keempat berisi Pengaruh Ukuran Partikel, Konsentrasi dalam Air dan Garam terhadap Profil Gelatinisasi Tepung dan Pati Jagung, Bagian Kelima Optimasi Proses Ekstrusi Mi Jagung dengan Metode Respon Permukaan, dan Bagian Keenam berisi Pengaruh Garam (Sodium Karbonat dan Sodium Klorida) dan Passing pada Optimasi Proses Mi Jagung. Pada Bagian Ketujuh disajikan pembahasan umum dari semua hasil yang telah diperoleh dari penelitian ini.
Baca lebih lanjut

138 Baca lebih lajut

Inaktivasi lipase pada bekatul dengan teknik ekstrusi ulir ganda

Inaktivasi lipase pada bekatul dengan teknik ekstrusi ulir ganda

Pada proses penggilingan gabah kering giling akan diperoleh hasil samping berupa bekatul sebanyak 8% (Pourali, 2009). Bekatul selama ini hanya banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, padahal jumlahnya melimpah, kaya akan protein, lemak, serat, mineral, vitamin B kompleks dan tokoferol serta memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan seperti menurunkan kadar kolesterol dalam darah, namun pemanfaatannya sebagai bahan pangan masih sangat terbatas. Faktor yang menjadi kendala dalam pemanfaatan bekatul sebagai bahan pangan adalah sifatnya yang mudah rusak akibat ketengikan. Kerusakan bekatul terjadi sesaat setelah proses penyosohan beras pecah kulit karena adanya interaksi antara minyak bekatul (15-19,7%) dengan enzim lipase dan lipoksigenase yang secara alami terdapat dalam bekatul. Enzim lipase mengkatalisis proses hidrolisis lemak (trigliserida) menjadi gliserol dan asam lemak bebas. Asam lemak bebas kemudian akan dioksidasi oleh enzim lipoksigenase menjadi peroksida, keton dan aldehid yang menyebabkan ketengikan pada bekatul. Peningkatan jumlah asam lemak bebas berdampak pada penurunan mutu bekatul sehingga bekatul tersebut tidak layak untuk dikonsumsi manusia dan memiliki umur simpan yang sangat singkat. Bekatul dengan kandungan asam lemak bebas lebih dari 10% tidak layak untuk dikonsumsi sebagai pangan. Permasalahan ini dapat diatasi dengan stabilisasi lipase yang terdapat di dalam bekatul. Pada penelitian ini akan digunakan proses ekstrusi dengan ektruder ulir ganda (double screw extruder) tanpa die untuk menginaktivasi enzim lipase pada bekatul untuk menghasilkan bekatul yang stabil.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Karakteristik reologi mi jagung dengan proses ekstrusi pemasak-pencetak

Karakteristik reologi mi jagung dengan proses ekstrusi pemasak-pencetak

Bagian Pertama disertasi ini adalah Pendahuluan yang berisi kondisi yang melatarbelakangi pentingnya penelitian ini dilakukan, tujuan, hipotesa dan manfaat penelitian. Bagian Kedua berisi Tinjauan Pustaka yang terkait dengan penelitian. Bagian Ketiga menggambarkan Tahapan Penelitian secara keseluruhan dan metode (langkah) dalam setiap tahap penelitian. Bagian Keempat berisi Pengaruh Ukuran Partikel, Konsentrasi dalam Air dan Garam terhadap Profil Gelatinisasi Tepung dan Pati Jagung, Bagian Kelima Optimasi Proses Ekstrusi Mi Jagung dengan Metode Respon Permukaan, dan Bagian Keenam berisi Pengaruh Garam (Sodium Karbonat dan Sodium Klorida) dan Passing pada Optimasi Proses Mi Jagung. Pada Bagian Ketujuh disajikan pembahasan umum dari semua hasil yang telah diperoleh dari penelitian ini.
Baca lebih lanjut

264 Baca lebih lajut

MODEL FISIK BANGUNAN PENGAMAN PILAR JEMBATAN AKIBAT ALIRAN DEBRIS

MODEL FISIK BANGUNAN PENGAMAN PILAR JEMBATAN AKIBAT ALIRAN DEBRIS

Debris flow generally occurs in rivers in mountainous areas. This flows is a very dangerous and destructive. This happens because the debris flow has a high speed and carry a mixture of sediment and other materials. Of infrastructure is built on rivers area flow pattern makes the need for special handling to maintain the protected structure with a substantial investment. This study focuses on the modeling and observation influence debris flow on bridge piers with three (3) conditions: unprotected bridge piers, using gabion safety, and using protected bored pile on the model.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Prediction of helical gear life using wear debris analysis.

Prediction of helical gear life using wear debris analysis.

Gear is an important component in a machine or equipment. The rubbing and rolling action in the gear meshing will normally generate wear debris. However, the increase in abnormal loading due to misalignment will increase the risk of unpredicted gear failures. These failures will result in the unexpected lost of production and increase of maintenance cost. Hence, it is recommended to predict the onset of failure of the gear to allow replacement at the right time before catastrophic failure occurs.

24 Baca lebih lajut

Show all 178 documents...