Enterococcus faecalis

Top PDF Enterococcus faecalis:

KEMAMPUAN EKSTRAK ETIL ASETAT DAUN RASAMALA (Altingia excelsa Noronha) TERHADAP BAKTERI Enterococcus faecalis ( Perbandingan dengan Bahan Pengisi Saluran Akar Pasta Antibiotik 3MIX) - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

KEMAMPUAN EKSTRAK ETIL ASETAT DAUN RASAMALA (Altingia excelsa Noronha) TERHADAP BAKTERI Enterococcus faecalis ( Perbandingan dengan Bahan Pengisi Saluran Akar Pasta Antibiotik 3MIX) - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Enterococcus faecalis dalam kedokteran gigi dikenal sebagai bakteri penyebab utama pada infeksi endodontik, tidak hanya itu penelitian yang dilakukan oleh charles dan sedgley (2006) menunjukkan bahwa Enterococcus faecalis juga menjadi penyebab utama dalam terjadinya kegagalan dalam perawatan saluran akar dengan prevalensi sebesar 77%. Enterococcus faecalis dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang esktrim seperti dalam pH basa yang ekstrim dan larutan garam sekalipun. Bakteri ini terikat pada dentin dan masuk kedalam tubulus dentinalis serta dapat mengubah respon tubuh dan menekan aksi limfosit. Enterococcus faecalis dapat berkolonisasi di dalam saluran akar tanpa bantuan bakteri lain dan dapat bersaing dengan sel-sel lain (Hedge, 2010).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - Daya Hambat Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Terhadap Bakteri Enterococcus faecalis Sebagai Alternatif Bahan Medikamen Saluran Akar (In Vitro)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - Daya Hambat Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Terhadap Bakteri Enterococcus faecalis Sebagai Alternatif Bahan Medikamen Saluran Akar (In Vitro)

Sifat resistensi bakteri Enterococcus faecalis sangat kuat, beberapa upaya telah dilakukan untuk menanggulangi masalah tersebut dan banyak alternatif yang dikhususkan untuk menghambat atau membunuh bakteri Enterococcus faecalis tersebut. Antibakteri yang sudah ada kurang mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri ini sehingga masih dibutuhkan adanya inisiatif-inisiatif baru untuk menyempurnakan fungsinya, oleh karena itu diharapkan muncul alternatif lain dari bahan alami untuk mendapatkan antibakteri yang dapat lebih baik dari yang sudah ada. 26
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB 1 PENDAHULUAN - Efek Antibakteri Sea Cucumber (Stichopus Variegatus) Terhadap Bakteri Enterococcus Faecalis Sebagai Bahan Medikamen Saluran Akar

BAB 1 PENDAHULUAN - Efek Antibakteri Sea Cucumber (Stichopus Variegatus) Terhadap Bakteri Enterococcus Faecalis Sebagai Bahan Medikamen Saluran Akar

Bakteri yang biasa dapat bertahan dalam saluran akar adalah golongan bakteri anaerob. Salah satunya yaitu Enterococcus faecalis merupakan bakteri yang paling banyak ditemukan dalam saluran akar yang menyebabkan kegagalan perawatan endodontik. Keberadaan bakteri ini dapat diketahui dari hasil kultur dan metode polymerase chain reaction (PCR). Sundqvist menemukan sejumlah bakteri anaerob seperti Entercoccus Faecalis, Streptococcus anginosus, Bacteroides gracilis dan Fusobacterium nucleatum pada saluran akar yang gagal (Fisher K, Philip C.,2009).

Baca lebih lajut

Efek Antibakteri Minyak Atsiri Kayu Manis terhadap Enterococcus faecalis sebagai Bahan Medikamen Saluran Akar Secara In vitro

Efek Antibakteri Minyak Atsiri Kayu Manis terhadap Enterococcus faecalis sebagai Bahan Medikamen Saluran Akar Secara In vitro

Penelitian eksperimental laboratorium secara in vitro mengenai minyak atsiri kayu manis terhadap Enterococcus faecalis adalah untuk membuktikan bahwa minyak atsiri kayu manis memiliki efek antibakteri dalam hal menghambat pertumbuhan Enterococcus faecalis. Pada tahap awal, pengujian efek antibakteri dari suatu bahan dilakukan secara in vitro. Ada dua metode untuk menentukan aktifitas antibakteri, yaitu agar diffusion test dan direct exposure test (metode dilusi). Pada metode agar diffusion test, ukuran zona inhibisi antibakteri tergantung daripada kelarutan dan difusi bahan coba pada media, sehingga kemungkinan kurang efektif dalam menginhibisi mikroorganisme. Dalam penelitian ini dilakukan pengujian efek antibakteri dari minyak atsiri kayu manis terhadap Enterococcus faecalis dengan metode dilusi. Dengan metode ini bahan coba dapat berkontak langsung dengan mikroorganisme, sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat dan dapat diketahui nilai MIC dan MBC dari bahan coba seperti yang direkomendasikan oleh National Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS, USA). 11
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Efek Antimikroba Ekstrak Etanol Rimpang Jahe (Zingiber officinale Rosc.) terhadap Enterococcus faecalis.

Efek Antimikroba Ekstrak Etanol Rimpang Jahe (Zingiber officinale Rosc.) terhadap Enterococcus faecalis.

Penelitian bersifat eksperimental laboratorik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kertas cakram steril yang ditetesi ekstrak etanol rimpang jahe (Zingiber offcinale Rosc.) dengan konsentrasi 5%, 10%, 20% dan 40% dan klorheksidin 0,2% sebagai kontrol positif serta kertas cakram steril yang ditetesi akuades steril sebagai kontrol negatif pada medium Mueller-Hinton Agar (MHA) yang telah dibiakkan bakteri Enterococcus faecalis. Cakram diinkubasi pada suhu 37 o selama 24 jam. Data yang diukur adalah diameter zona hambat pertumbuhan Enterococcus faecalis dalam satuan millimeter (mm). Analisis data bila berdistribusi normal diuji dengan ANAVA bila tidak berdistribusi normal digunakan uji non-parametrik Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann- Whitney dengan α = 0,05 .
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

DAYA ANTIBAKTERI PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP BAKTERI Enterococcus faecalis SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF BAHAN MEDIKAMEN SALURAN AKAR - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

DAYA ANTIBAKTERI PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP BAKTERI Enterococcus faecalis SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF BAHAN MEDIKAMEN SALURAN AKAR - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

host dengan mengekspresikan protein dan berkompetisi dengan bakteri lain serta mengubah respon host. Bakteri Enterococcus faecalis menekan aksi limfosit yang mempunyai potensi untuk berkontribusi dalam kegagalan endodontik. Enterococcus faecalis mempunyai gelatinase, serin protease, dan protein pengikat kolagen yang membantu pengikatan dentin. Enterococcus faecalis akan menginvasi dan bertahan di tubulus dentin. Protease berperan dalam menyediakan nutrisi pada organisme dan menyebabkan kerusakan baik secara langsung maupun tidak langsung pada jaringan pejamu. Faktor virulensi terkait dengan kolonisasi pada pejamu, kompetisi dengan bakteri lain, resistensi dalam merespon mekanisme kekebalan pejamu, dan produksi bahan patologis yang dapat mempengaruhi pejamu secara langsung dengan menghasilkan toksin atau secara tidak langsung yakni dengan cara menginduksi terjadinya proses inflamasi (Kayaoglu and Orstavik, 2004 ; (Mulyawati, 2011).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Aloe vera Terhadap Enterococcus faecalis Secara in Vitro.

Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Aloe vera Terhadap Enterococcus faecalis Secara in Vitro.

Gambar 3. Sebuah model penyakit endodontik terkait dengan faktor-faktor virulensi Enterococcus faecalis. faktor-faktor virulensi bakteri dalam tubulus dentin dan saluran akar yang dilepas menuju daerah periradikular sehingga merangsang leukosit untuk menghasilkan mediator inflamasi atau enzim litik. Beberapa bakteri dapat berpindah ke lesi periradikular. Faktor- faktor virulensi yang merugikan dan produk leukosit ditampilkan pada zona antara garis potong. Pada gambar yang diperbesar, menggambarkan perlekatan bakteri ke berbagai elemen dari dentin. Produk bakteri melawan bakteri lain juga dimasukkan. Perhatikan bahwa nama dalam kotak hitam adalah produk dari bakteri. Singkatan: Adh (surface adhesion); AS (aggregation substance); Bact (bacteriocins), BS (binding substance); CP (collagen peptides); Cyl (cytolysin); Ef (Enterococcus faecalis); Elas (elastase); Gel (gelatinase); Hya (hyaluronidase); H 2 O 2 (hydrogen peroksida); IFN-γ (gamma interferon);
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum L) BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP BAKTERI Enterococcus faecalis SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN MEDIKAMEN SALURAN AKAR GIGI - Repository Universitas Muhammadiyah

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum L) BERBAGAI KONSENTRASI TERHADAP BAKTERI Enterococcus faecalis SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN MEDIKAMEN SALURAN AKAR GIGI - Repository Universitas Muhammadiyah

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian laboratorium in vitro tentang uji efektifitas antibakteri daun kemangi (Ocimum sanctum L) sebagai alternatif bahan medikamen saluran akar terhadap bakteri Enterococcus faecalis.

7 Baca lebih lajut

Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) terhadap Enterococcus faecalis sebagai Bahan Medikamen Saluran Akar (Secara In Vitro)

Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) terhadap Enterococcus faecalis sebagai Bahan Medikamen Saluran Akar (Secara In Vitro)

Substansi agregasi (AS) berperan sebagai mediasi antara donor dan resipien bakteri, serta merupakan ikatan mediasi matriks protein ekstraseluler (ECM), termasuk kolagen type I. Dengan kemampuannya untuk tetap berada pada kolagen menjadi penyebab penting dalam infeksi endodonti. Diketahui melalui kasus – kasus bakterimia dan isolasi endokarditis bahwa bakteri Enterococcus faecalis memiliki daya perlekatan yang tinggi terhadap permukaan protein. Bakteri ini mampu mengadakan kolonisasi yang baik pada permukaan protein serta membentuk biofilm pada dinding – dinding dentin. Hal inilah yang menyebabkan bakteri dapat tetap bertahan pada saluran akar. Superantigen yang diproduksi bakteri dapat menginduksi inflamasi melalui stimulasi dari limfosit T, diikuti dengan masuknya hasil pelepasan dari sitokin inflamasi. Sitokin TNF- α dan TNF - β diimplikasikan dalam terjadinya resorpsi tulang, sedangkan INF- γ diketahui menstimulasi produksi makrofag dan neutrofil yang menyebabkan kerusakan jaringan. Selain itu, Enterococcus faecalis memiliki berat molekul yang tinggi pada permukaan protein. Hal ini akan membantu dalam pembentukan biofilm pada dinding dentin dan inilah yang menyebabkan resistensi bakteri terhadap efek bakterisidal calsium hydroxide. 11,12,28
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.) TERHADAP HAMBATAN   Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Kersen (Muntingia Calabura L.) Terhadap Hambatan Pertumbuhan Enterococcus faecalis Dominan Pada Saluran Akar Secara In Vitro.

PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK DAUN KERSEN (Muntingia calabura L.) TERHADAP HAMBATAN Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Daun Kersen (Muntingia Calabura L.) Terhadap Hambatan Pertumbuhan Enterococcus faecalis Dominan Pada Saluran Akar Secara In Vitro.

Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L.) mempunyai daya antibakteri terhadap Enterococcus faecalis pada konsentrasi 15% (d=10,62 mm), 30% (d=13,43 mm) dan 60% (d=17,71 mm). Hasil uji Anova satu jalur menunjukan nilai signifikansi p=0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L.) memiliki pengaruh terhadap hambatan pertumbuhan Enterococcus faecalis dan konsentrasi ekstrak daun kersen 60% memiliki hambatan tertinggi.

18 Baca lebih lajut

Perbedaan Daya Antibakteri antara Klorheksidin Diglukonat 2% dan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium Guajava Linn) Berbagai Konsentrasi (Tinjauan Terhadap Enterococcus Faecalis) Differences Of Antibacterial Power Between Chlorhexidine Digluconate 2% And Vari

Perbedaan Daya Antibakteri antara Klorheksidin Diglukonat 2% dan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium Guajava Linn) Berbagai Konsentrasi (Tinjauan Terhadap Enterococcus Faecalis) Differences Of Antibacterial Power Between Chlorhexidine Digluconate 2% And Vari

Latar belakang: Enterococcus faecalis merupakan bakteri patogen penyebab kegagalan paska perawatan saluran akar karena memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mentoleransi secara ekologis pada kondisi perawatan saluran akar yang gagal. Pemberantasan Enterococcus faecalis dari saluran akar dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan bahan irigasi. Salah satu bahan irigasi yaitu klorheksidin diglukonat 2% yang efektif melawan Enterococci dan jamur, namun tidak dapat melarutkan jaringan. Klorheksidin diglukonat 2% dapat menimbulkan reaksi alergi apabila digunakan secara berulang dalam jangka waktu yang lama. Bahan alternatif irigasi lain untuk menghindari reaksi alergi tersebut yaitu ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava Linn) yang dapat berfungsi sebagai antibakteri. Adanya kandungan tanin di dalam daun jambu biji (Psidium guajava Linn) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis. Tujuan penelitian: untuk mengetahui perbedaan keefektivitasan daya antibakteri antara klorheksidin diglukonat 2% dengan berbagai konsentrasi ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava Linn). Desain penelitian: eksperimental laboratories in vitro dengan metode difusi sumuran agar pada media TSA. Media TSA di olesi Enterococcus faecalis kemudian ditetesi larutan uji khorheksidin diglukonat 2%, aquabides steril dan ekstrak daun jambu biji dengan konsentrasi 20%, 40%, 60% dan 80%. Perhitungan daya antibakteri dengan mengukur zona radikal menggunakan slidding caliper. Data dianalisis menggunakan uji One Way Anova dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil penelitian: klorheksidin diglukonat 2% memiliki daya antibakteri yang lebih tinggi terhadap Enterococcus faecalis dibandingkan dengan ekstrak daun jambu biji dengan konsentrasi 20%, 40%, 60% dan 80%. Konsentrasi ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava Linn) sebesar 60% memiliki daya antibakteri paling tinggi dibandingkan konsentrasi lain sehingga dapat digunakan sebagai bahan alternatif irigasi saluran akar.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Enterococcus faecalis sebagai Salah Satu Bakteri yang Berperan - Efek Antibakteri Sea Cucumber (Stichopus Variegatus) Terhadap Bakteri Enterococcus Faecalis Sebagai Bahan Medikamen Saluran Akar

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Enterococcus faecalis sebagai Salah Satu Bakteri yang Berperan - Efek Antibakteri Sea Cucumber (Stichopus Variegatus) Terhadap Bakteri Enterococcus Faecalis Sebagai Bahan Medikamen Saluran Akar

Kalsium hidroksida dianggap sebagai obat saluran akar pilihan. Namun, mikroba tertentu seperti Enterococcus faecalis nampaknya resisten terhadap kalsium hidroksida. Keadaan ini penting secara klinis, karena pada setiap kegagalan perawatan saluran akar selalu ada kaitannya dengan Enterococcus faecalis.Struktur biofilm dapat memberikan pertahanan yang efektif bagi mikroba, baik pertahanan terhadap host maupun obat saluran akar. Biofilm dapat beradaptasi terhadap lingkungan yang buruk dan dapat melakukan metabolisme secara aktif walaupun dalam kondisi kekurangan nutrisi. Menurut Athanassiadis dkk. terapi antimikroba dapat mengeliminasi mikroba bebas, tetapi tidak menghilangkan sel-sel yang terikat pada biofilm sehingga dapat terjadi infeksi ulangan (Athanassiadis.,2007).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Peranan Enterococcus Faecalis Terhadap Persistensi Infeksi Saluran Akar.

Peranan Enterococcus Faecalis Terhadap Persistensi Infeksi Saluran Akar.

Pada studi invitro, Enterococcus faecalis menunjukan kemampuan untuk menginvasi tubuli dentin, dimana tidak semua bakteri memiliki kemampuan tersebut. 20 Enterococcus faecalis dapat memasuki fase Viable But Non Culturable (VBNC) suatu fase bakteri yang dapat bertahan hidup tetapi tidak berkembang biak. 20 Mekanisme pertahanan hidup ini dimiliki beberapa spesies bakteri ketika berada dalam lingkungan yang sulit. Kondisi ini akan terus berlangsung hingga lingkungan kembali normal. Habitat bakteri ini adalah pada saluran pencernaan, saluran kemih dan juga dapat berkoloni dalam rongga mulut manusia. Enterococcus faecalis merupakan bakteri yang tidak membentuk spora, fakultatif anaerob, kokus gram positif dan tidak menghasilkan reaksi katalase dengan hidrogen peroksida. 19,21
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Efek Antimikroba Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica A.Juss) Terhadap Enterococcus faecalis.

Efek Antimikroba Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica A.Juss) Terhadap Enterococcus faecalis.

Enterococcus faecalis merupakan bakteri kokus fakultatif anaerob gram positif yang ditemukan dalam bentuk tunggal, berpasangan atau rantai pendek, berhabitat pada saluran pencernaan manusia dandianggap sebagai salah satu bakteri penyebab kegagalan perawatan saluran akar. 14,15,16 Mekanisme masuknya E.faecalis dalam menginvasi saluran akar masih belum jelas, tetapi diduga bukan berasal dari mikroflora normal endogenus manusia melainkan melalui rute eksogenus. 13

21 Baca lebih lajut

Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Siwak (Salvadora Persica) Sebagai Alternatif Bahan Irigasi Saluran Akar Terhadap Enterococcus Faecalis (Secara In Vitro)

Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Siwak (Salvadora Persica) Sebagai Alternatif Bahan Irigasi Saluran Akar Terhadap Enterococcus Faecalis (Secara In Vitro)

Salah satu mikroorganisme yang sering menyebabkan kegagalan perawatan saluran akar adalah Enterococcus faecalis. Bahan irigasi saluran akar saat ini kurang dapat memberikan efek antibakteri terhadap bakteri yang resisten seperti E. faecalis sehingga penggunaannya harus dikombinasikan dengan bahan irigasi yang lain. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menemukan bahan irigasi yang efektif menghambat pertumbuhan E. faecalis salah satunya adalah ekstrak etanol siwak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak etanol siwak sebagai alternatif bahan irigasi saluran akar terhadap E. faecalis dengan mencari konsentrasi minimal ekstrak etanol siwak yang dapat menghambat (KHM) dan membunuh (KBM) E. faecalis.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGARUH AIR PERASAN BUAH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia Swingle) TERHADAP HAMBATAN PERTUMBUHAN  BAKTERI  Pengaruh Air Perasan Buah Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) Terhadap Hambatan Pertumbuhan Bakteri Enterococcus Faecalis Dominan Pada Salura

PENGARUH AIR PERASAN BUAH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia Swingle) TERHADAP HAMBATAN PERTUMBUHAN BAKTERI Pengaruh Air Perasan Buah Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia Swingle) Terhadap Hambatan Pertumbuhan Bakteri Enterococcus Faecalis Dominan Pada Salura

The results showed that lime juice (Citrus aurantifolia S.) has an antibacterial activity in the presence of inhibitory zone at a concentration 25% (d = 5.09 mm), 50% (d = 8.72 mm), and 100% (d = 13.52 mm). One way Anova test results showed the value of p=0.000 (p <0.05), so it can be concluded that lime juice has an effect on Enterococcus faecalis growth inhibition in vitro. Lime juice (Citrus aurantifolia S.) has the largest Enterococcus faecalis growth inhibition at a concentration 100%. Chlorhexidine 2% (positive control) has a larger Eterococcus faecalis growth inhibition than lime juice (Citrus aurantifolia S.) in concentration 25%, 50% and 100%.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Efek Antimikroba Ektrak Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss) terhadap Enterococcus faecalis.

Efek Antimikroba Ektrak Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss) terhadap Enterococcus faecalis.

Enterococcus faecalis merupakan bakteri kokus fakultatif anaerob gram positif yang ditemukan dalam bentuk tunggal, berpasangan atau rantai pendek, berhabitat pada saluran pencernaan manusia dandianggap sebagai salah satu bakteri penyebab kegagalan perawatan saluran akar. 14,15,16 Mekanisme masuknya E.faecalis dalam menginvasi saluran akar masih belum jelas, tetapi diduga bukan berasal dari mikroflora normal endogenus manusia melainkan melalui rute eksogenus. 13

Baca lebih lajut

Products of Orange II Biodegradation by Enterococcus faecalis ID6017 and Chryseobacterium indologenes ID6016

Products of Orange II Biodegradation by Enterococcus faecalis ID6017 and Chryseobacterium indologenes ID6016

Chryseobacterium indologenes and Enterococcus faecalis were isolated from activated sludge of textile wastewater treatment plant. These bacteria had the ability to decolorize several azo-dyes. Degradation of azo dyes was initiated by decolorization (reduction of azo bond) which occurred in anaerobic condition. In this study, we focussed on biodegradation of Orange II by pure culture of C. indologenes ID6016 and E. faecalis ID6017, and to determine the metabolite products of Orange II degradation. The degradation of Orange II by both bacteria was carried out in batch experiments using liquid medium containing 80 mg/l Orange II, under sequential static agitated incubation. During the bacterial growth under static incubation (6 h), 66.1 mg/l Orange II were decolorized by 35.54 mg/l biomass of E. faecalis ID6017, but no decolorization found with C. indologenes ID6016. Based on HPLC results, the decolorized Orange II products were identified as sulfanilic acid and amino-naphthol. These metabolites were probably used or degraded by C. indologenes ID6016 under agitated incubation.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Effectiveness Comparation of Chitosan (2-Acetamido-2-Deoxy-D-Glucopyranose) and Nano Chitosan on the Growth of Enterococcus faecalis In Vitro

Effectiveness Comparation of Chitosan (2-Acetamido-2-Deoxy-D-Glucopyranose) and Nano Chitosan on the Growth of Enterococcus faecalis In Vitro

Enterococcus faecalis is an aerobic bacterium that causes aerobic vaginitis in women. Currently, Enterococcus faecalisis frequently reported as a problem in developed countries and developing countries due to its resistance to antimicrobial drugs. One of some drugs alternative therapies is chitosan. In nanotechnology, chitosan can be processed as nano chitosan which has high absorption rate when compared to regular chitosan. This study aimed was to verify and compare the effect of chitosan and nano chitosan to prevent the growth of Enterococcus faecalis in vitro. This research was true experimental research post test only design with well diffusion method. Chitosan and nano chitosan were dissolved in acetic acid. The concentration of chitosan and nano chitosan using in this study were 1 %; 0.5 %; 0.25 %; 0.125 % and 0.0625 %. The result was analyzed using one way ANOVA, correlation test and regression test with 95 % confidence level (α = 0.05). The result showed that inhibitory zone of chitosan with concentration 1 %; 0.5 %; 0.25 %; 0.125 %, and 0.0625 % were 36,6875 mm, 31,1875 mm, 30,5625 mm, 26,5 mm, and 19.8125. The inhibitory zone of nano chitosan with the same concentration were 35,525 mm, 31,1875 mm, 29,9375 mm, 25,75 mm, and 22 225 mm. This study concluded that chitosan and nano chitosan are effective as antimicrobial agents for Enterococcus faecalis bacteria in vitro but there are no significant beetwen nano chitosan and chitosan for inhibiting the growth of Enterococcus faecalis.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM  (Syzygium Polyanthum) TERHADAP HAMBATAN PERTUMBUHAN  Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Salam (Syzygium Polyanthum) Terhadap Hambatan Pertumbuhan Bakteri Enterococcus Faecalis Dominan Di Saluran Akar I

PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium Polyanthum) TERHADAP HAMBATAN PERTUMBUHAN Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Salam (Syzygium Polyanthum) Terhadap Hambatan Pertumbuhan Bakteri Enterococcus Faecalis Dominan Di Saluran Akar I

Enterococcus faecalis is a Gram-positive anaerobic bacteria which usually found on periapical lesion. It is known as phatogenic bacteria often cause failure on root canal treatment. Herbs usage as an antibacterial agent has been widely applied by people, on of them is bay leaf ( syzygium polyanthum), a herbs contain chemical compound that has antibacterial ability such as tannin, flavonoid and aetheric oil. This study was conducted to examine the effect of bay leaf ’s (Syzygium Polyanthum) ethanol extract concentration against Enterococcus faecalis growth dominant root canal in vitro.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 107 documents...