faktor risiko DM tipe 2

Top PDF faktor risiko DM tipe 2:

FAKTOR RISIKO DIABETES MELLITUS TIPE 2 Fatma Nuraisyah

FAKTOR RISIKO DIABETES MELLITUS TIPE 2 Fatma Nuraisyah

Dari hasil analisis multivariate diperoleh bahwa p value <0,05 adalah variabel umur (p=0,04), dan riwayat keluarga (p=0,02) memiliki nilai bermakna terhadap kejadian DM tipe II pada pasien rawat jalan di Pus- kesmas Panjatan II secara statistik sedang- kan aktifitas fisik (p=0,36) tidak memiliki kemaknaan secara statistik. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian oleh Zahtamal (2007) terhadap 152 responden yang me- nunjukkan bahwa hubungan antara umur dengan kejadian DM Tipe 2 pada pasien rawat jalan di RSUD Arifin Achmad Pro- vinsi Riau bermakna secara statistik (p=0,00), dimana orang yang berumur >45 tahun memiliki risiko 6 kali lebih besar terkena penyakit DM Tipe 2 dibanding-
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Gambaran Kadar Glukosa Darah dan Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Wanita Menopause.

Gambaran Kadar Glukosa Darah dan Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Wanita Menopause.

Pada wanita menopause setelah ovarium berhenti memproduksi hormon, hormon estrogen diproduksi secara eksklusif dari androstenedion yang dihasilkan glandula adrenal dan mengalami aromatisasi menjadi estron dalam proses konversi extraglandula perifer. Transformasi tersebut terjadi terutama di dalam jaringan lemak sehingga menyebabkan wanita postmenopause memiliki jaringan lemak yang lebih banyak dan terjadi perubahan komposisi tubuh pada wanita menopause. Akumulasi lemak viscera yaitu terutama lemak abdomen sentral pada wanita menopause berpengaruh pada produksi protein adiponektin yang berkurang. Adiponektin bekerja dengan cara membuat sel-sel tubuh lebih sensitif terhadap aksi insulin. Kadar adiponektin dalam serum yang rendah berhubungan dengan kondisi resistensi insulin yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah dan akhirnya berkembang menjadi DM tipe 2 (Lee, 2009).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DEPRESI  PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE-2   Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Depresi Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe-2 Di Grha Diabetika Surakarta.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DEPRESI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE-2 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Depresi Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe-2 Di Grha Diabetika Surakarta.

Diabetes yang tidak terkontrol, mengacu pada kadar glukosa yang melebihi batasan target dan mengakibatkan dampak jangka pendek langsung (dehidrasi, penurunan BB, penglihatan buram, rasa lapar) serta jangka panjang (kerusakan pembuluh darah mikro dan makro). Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian DM tipe-II diantaranya genetik, umur, riwayat lahir dengan BBLR. Serta faktor yang meningkatkan risiko penyakit yakni aktivitas fisik atau gaya hidup, pola makan, hipertensi, dislipidemia, diet tidak sehat dan stress. DM dapat diperparah dengan komplikasi yang dapat mengakibatkan timbulnya depresi pada penderita. Depresi dapat mempengaruhi kadar gula dalam darah. Dampak yang ditimbulkan dari depresi yakni naiknya gula darah disebabkan meningkatnya glikogenolisis dihati dan peningkatan glukagon terhambat pengambilan glukosa oleh otot dan berkurangnya pembentukan insulin pankreas (PERKENI, 2006; Azmi, 2003).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Gambaran Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Budi Agung Juwana Periode Januari-Desember 2015.

Gambaran Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Budi Agung Juwana Periode Januari-Desember 2015.

Peningkatan jumlah penyandang DM di negara berkembang termasuk Indonesia sangat besar. Hal ini terjadi karena peningkatan kemakmuran di negara bersangkutan. Peningkatan pendapatan per kapita dan perubahan gaya hidup menyebabkan peningkatan penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, dislipidemia dan penyakit jantung koroner (PJK) (Suryono,2009). Perubahan pola hidup yang salah yaitu pola makan dan aktivitas menyebabkan obesitas yang merupakan faktor risiko terjadinya DM. Faktor urbanisasi juga berperan terhadap meningkatnya penderita DM (Suryono, 2009).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

GULA DARAH TIDAK TERKONTROL SEBAGAI FAKTOR RISIKO GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 USIA DEWASA MENENGAH.

GULA DARAH TIDAK TERKONTROL SEBAGAI FAKTOR RISIKO GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 USIA DEWASA MENENGAH.

Pasien dengan DM dapat terjadi kondisi hipoglikemia yang timbul akibat peningkatan kadar insulin yang kurang tepat atau obat yang meningkatkan produksi insulin seperti sufonilurea. Hampir semua pasien yang mendapat terapi insulin dan sebagian besar pasien yang mendapat terapi sulfonilurea pernah mengalami kondisi hipoglikemia. Episode berulang dari hipoglikemia yang berat telah dikaitkan sebagai kemungkinan penyebab GFK pada penderita DM. Kondisi hipoglikemia dapat menyebabkan kerusakan dan kematian sel otak. Oleh karena otak hanya menyimpan glukosa dalam jumlah yang sedikit, maka fungsi otak sangat tergantung pada kadar glukosa dalam sirkulasi (Soemadji, 2006). Hipoglikemi mungkin mempunyai efek terhadap fungsi kognitif, tetapi hanya sedikit bukti yang mendukung bahwa GFK disebabkan oleh hipoglikemia (Cukierman dkk, 2005).
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

5.2 Bella Yanita done

5.2 Bella Yanita done

Telah diperlihatkan bahwa aktivitas fisik secara teratur menambah sensitivitas insulin dan menambah toleransi glukosa. Baru-baru ini penelitian prospektif juga memperlihatkan bahwa aktivitas fisik berhubungan dengan berkurangnya risiko terhadap DM tipe 2. Penelitian ini lebih lanjut mengusulkan ada gradien risiko dengan bertambahnya aktivitas fisik. Lebih lanjut aktivitas fisik mempunyai efek menguntungkan pada lemak tubuh, tekanan darah, dan distribusi lemak tubuh/ berat badan, yaitu pada aspek ganda sindroma metabolik kronik, sehingga juga mencegah penyakit kardiovaskuler. Hubungan antara inaktivasi fisik dengan DM masih terlihat, bahkan setelah di-adjusted dengan obesitas, hipertensi, dan riwayat keluarga DM tipe 2. Dengan demikian olahraga memiliki efek protektif yang dapat dicapai dengan pengurangan berat badan melalui bertambahnya aktivitas fisik. Pada penelitian ini aktivitas olahraga < 3 kali /minggu selama 30 menit menunjukkan risiko menderita DM lebih tinggi dari pada aktivitas olah raga yang rutin. Hal ini sesuai dengan penelitian- penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kurangnya olah raga memperlihatkan perbedaan prevalensi DM tipe-2 hingga 2-4 kali lipat. Diabetes Melitus Tipe 2 berasal dari interaksi genetik dan berbagai faktor mental. Penyakit ini sudah lama dianggap berhubungan dengan agregasi familial. Penelitian di Jepang yang melibatkan 359 penderita DM tipe 2 dari 159 keluarga, mendukung bahwa penyakit ini berhubungan dengan kromosom 3q, 15q, dan 20q, serta mengidentifikasi 2 loci potensial, yaitu 7p dan 11p yang mungkin merupakan risiko genetik bagi DM tipe-2 pada masyarakat jepang. Dalam penelitian ini, orang yang memiliki riwayat keluarga menderita DM lebih berisiko daripada orang yang tidak memiliki riwayat keluarga menderita DM. Hal ini selaras dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan terjadinya DM tipe-2 akan meningkat dua sampai enam kali lipat jika orang tua atau saudara kandung mengalami penyakit ini.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Status Gizi dan Sindrom Metabolik dengan Kejadian Komplikasi Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Rawat Jalan di RSUD Dr. Moewardi.

PENDAHULUAN Hubungan Status Gizi dan Sindrom Metabolik dengan Kejadian Komplikasi Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Rawat Jalan di RSUD Dr. Moewardi.

Penelitian sebelumnya yang terkait status gizi pada pasien DM yang dilakukan oleh Sugiani (2011) yang menyatakan bahwa meningkatnya obesitas dapat menyebabkan terjadinya komplikasi. Purnawati (1998) menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara IMT dengan terjadinya DM Tipe 2. IMT yang lebih tinggi memiliki faktor risiko lebih tinggi terkena DM Tipe 2. Pada pasien yang didiagnosis DM Tipe 2 dan hiperglikemia akan berimplikasi pada komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler pada penderita DM Tipe 2 yang berkaitan dengan hipertensi juga (Barnett, 2004).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Hubungan Kepesertaan Prolanis dengan Tingkat Pengetahuan Tentang Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Pengetahuan Tentang Prolanis di Puskesmas Teladan, Kota Medan Tahun 2015

Hubungan Kepesertaan Prolanis dengan Tingkat Pengetahuan Tentang Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Pengetahuan Tentang Prolanis di Puskesmas Teladan, Kota Medan Tahun 2015

hiperglikemia pada keadaan puasa dan ada yang bekerja pada hiperglikemia postprandial. Penting juga diperhatikan efek samping dan interaksi masing- masing obat. Keuntungan dari pemakaian obat kombinasi adalah kita memberi obat dengan mekanisme kerja yang berbeda, yang bersifat potensiasi (seperti diketahui patofisiologi DM tipe 2 adalah kompleks; efek samping dari masing- masing obat akan berkurang karena dosis obat yang diberikan lebih kecil. Disamping pengobatan yang bertujuan mengendalikan glukosa darah, pada pasien DM tipe 2 perlu juga diperhatikan koreksi berbagai faktor risiko penyakit pembuluh darah yang sering terjadi pada resistensi insulin, hiperinsulinemia dan diabetes mellitus tipe 2 misalnya pengobatan hipertensi, koreksi dislipidemia dan sebagainya (Arifin, 2011).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Analisis Faktor Risiko yang Memengaruhi Kejadian Komplikasi Gagal Ginjal pada Penderita DM Tipe II Di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015

Analisis Faktor Risiko yang Memengaruhi Kejadian Komplikasi Gagal Ginjal pada Penderita DM Tipe II Di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2015

Faktor Risiko Perilaku yang Berhubungan dengan Kadar Gula Darah Pada Penderita DM Tipe 2 di RSUD Kabupaten Karanganyer, Skripsi; 2014 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.. Komplik[r]

3 Baca lebih lajut

Analisis Faktor Risiko Penyebab Kejadian

Analisis Faktor Risiko Penyebab Kejadian

12 Berdasarkan hasil pengamatan pada indeks penyakit DM di RSUD Tugurejo Semarang, untuk jumlah pasien rawat inap JKN dengan diagnosis utama DM yang dirawat mulai dari bulan Januari sampai dengan Maret (triwulan I) tahun 2014 tercatat sebanyak 87 pasien. Persentase jumlah pasien DM pada triwulan I paling banyak terdapat pada bulan Februari sebanyak 39 dan paling sedikit terdapat pada bulan Maret sebesar 23 pasien, sedangkan untuk bulan Januari sebanyak 25 pasien. Hal ini berarti Pada bulan Maret jumlah pasien DM mengalami peningkatan yang cukup banyak sebesar 21,87%, namun pada bulan Maret kembali menurun jumlahnya sebanyak 25,81%. Kasus DM paling banyak menyerang kelompok umur 51-60 tahun yaitu sebesar 34,48% dan kelompok umur 41 – 50 tahun yaitu sebesar 26,45%. Hal ini menggambarkan bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang menyebutkan bahwa mulai pada kelompok usia >45 tahun keatas menjadi faktor resiko DM, khususnya pada tipe 2. (Dian Aristika, 2014)
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Faktor Risiko Kejadian Diabetes Mellitus Tipe Ii Di Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan Surakarta.

PENDAHULUAN Faktor Risiko Kejadian Diabetes Mellitus Tipe Ii Di Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan Surakarta.

Menurut data Dinas Kesehatan Jawa Tengah pada tahun 2012, prevalensi kasus DM tipe II, telah mengalami penurunan dari 0,63% pada tahun 2011 menjadi 0,55% pada tahun 2012. Prevalensi tertinggi yakni Kota Magelang sebesar 7,93% (Dinkes Jateng, 2012). Berdasarkan hasil Riskesdas (2013), prevalensi DM tipe II yang tertinggi terdapat di Kota Surakarta dan Salatiga sebesar 2,21%.

7 Baca lebih lajut

GULA DARAH TIDAK TERKONTROL SEBAGAI FAKTOR RISIKO GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 USIA DEWASA MENENGAH.

GULA DARAH TIDAK TERKONTROL SEBAGAI FAKTOR RISIKO GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 USIA DEWASA MENENGAH.

Tingkat pendidikan yang rendah telah diketahui sebagai faktor risiko yang kuat untuk terjadinya GFK. Pada penelitian yang dilakukan oleh Xu dkk (2010), untuk mencari efek dari DM terhadap MCI mendapatkan hasil bahwa subyek dengan tingkat pendidikan rendah (< 8 tahun) berhubungan dengan kejadian MCI pada penderita DM (OR= 2,13; IK 95%= 1,15-3,15). Manly (2005), yang meneliti insiden MCI pada penduduk usia lanjut daerah urban di Manhattan Amerika Serikat mendapatkan bahwa MCI lebih banyak dijumpai pada usia lanjut yang memiliki masa pendidikan formal 9 tahun ke bawah. Bruce dkk (2008b), melakukan penelitian dengan menggunakan data yang digunakan pada Fremantle Diabetes Study (FDS) untuk menghetahui prediktor-prediktor terjadinya gangguan fungsi kognitif pada penderita DM usia lanjut (>70 tahun). Dari analisis multivariat, didapatkan bahwa tingkat pendidikan di bawah pendidikan dasar merupakan satu satunya faktor independen terhadap kejadian GFK pada penderita DM tipe 2 usia tua (p<0,001).
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

PROPOSAL Widi

PROPOSAL Widi

World Health Organization (WHO) (dalam Hill Jo, 2003 ) menyatakan bahwa obesitas merupakan salah satu dari 10 kondisi yang berisiko di seluruh dunia dan salah satu dari 5 kondisi yang berisiko di negara berkembang. Obesitas adalah stimulator utama untuk terjadinya berbagai penyakit terutama Sindroma Metabolik (SM), Diabetes Melitus tipe 2 (DM tipe 2) dan hipertensi. Penyakit tersebut merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler. Menurut WHO 40-60% pasien obesitas akan berkembang menjadi DM tipe 2 dan memiliki tekanan darah tinggi (Pusparini, 2007). Salah satu cara mendeteksi apakah seseorang menderita obesitas dapat diukur dengan rumus Indeks Massa Tubuh (IMT).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Faktor Risiko Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Wanita di Puskesmas Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan Tahun 2014

Faktor Risiko Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Wanita di Puskesmas Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan Tahun 2014

DM tipe 1 sering dikatakan sebagai Diabetes “ Juvenile onset ” atau “ Insulin dependent ” atau “ Ketosis prone ”, karena tanpa insulin dapat terjadi kematian dalam beberapa hari yang disebabkan ketoasidosis. Istilah “ Juvenile O nset” sendiri diberikan karena onset DM tipe 1 dapat terjadi mulai dari usia 4 tahun dan memuncak pada usia 11-13 tahun. Sedangkan istilah “ Insulin dependent ” diberikan karena penderita Diabetes Mellitus sangat bergantung dengan tambahan insulin dari luar. Ketergantungan insulin tersebut terjadi karena terjadi kelainan pada sel beta pankreas sehingga penderita mengalami defisiensi insulin. Karakteristik dari DM tipe 1 adalah insulin yang beredar di sirkulasi sangat rendah, kadar glukagon plasma yang meningkat, dan sel beta pankreas gagal berespons terhadap stimulus yang semestinya meningkatkan sekresi insulin (Omar dalam Poretsky, 2010).
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

Analisis Faktor-Faktor Risiko Penurunan Kepekaan Rasa Manis Pada Diabetes Mellitus Tipe 2 | Suhartiningtyas | Insisiva Dental Journal 575 1806 1 PB

Analisis Faktor-Faktor Risiko Penurunan Kepekaan Rasa Manis Pada Diabetes Mellitus Tipe 2 | Suhartiningtyas | Insisiva Dental Journal 575 1806 1 PB

Pengecapan merupakan komponen penting fungsi oral, namun sejauh ini penurunan kepekaan rasa (PKR) ma- nis pada diabetes mellitus (DM) tipe 2 kurang dianggap sebagai suatu rintangan yang serius bila dibanding- kan dengan penurunan pendengaran dan penglihatan. Sejumlah faktor seperti jenis kelamin, usia, kadar glukosa darah (KGD), durasi DM tipe 2, merokok, status nutrisi dan medikasi telah dikaitkan dengan PKR manis pada DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang berperan dalam PKR manis pada DM tipe 2. Penelitian ini terdiri dari 120 penyandang DM tipe 2 (67 laki – laki dan 53 wanita), berusia ≥ 40 tahun yang datang ke Poliklinik Penyakit Dalam di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Yogyakarta dari bulan Juli 2013 - Oktober 2013. Skrining pasien dilakukan berdasarkan rekam medis. Data tentang faktor-faktor risiko PKR manis diperoleh dari anamnesis, pengukuran dan pemeriksaan laboratorium. Evaluasi fungsi pengecapan menggunakan gustometri kimia. Data dianalisis dengan uji chi- square dan uji multipel regresi logistik dengan tingkat signifikansi 95% (p < 0,05). Analisis statistik menunjukkan durasi DM tipe 2 dan usia secara signifikan sebagai faktor risiko yang berperan dalam PKR manis pada DM tipe 2 (p<0,05), tetapi tidak untuk KGD, jenis kelamin, status nutrisi, merokok, dan medikasi (p>0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, durasi DM tipe 2 dan usia merupakan faktor risiko PKR manis pada DM tipe 2.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 Pasien Rawat Jalan (Studi Kasus di Rumah Sakit Umum Daerah Sunan Kalijaga Demak).

Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 Pasien Rawat Jalan (Studi Kasus di Rumah Sakit Umum Daerah Sunan Kalijaga Demak).

Prevalensi DM tipe 2 pada bangsa kulit putih berkisar antara 3-6% dari angka orang dewasanya. Angka ini merupakan baku emas untuk membandingkan kekerapan diabetes antar berbagai kelompok etnik di seluruh dunia, hingga dengan demikian kita dapat membandingkan prevalensi di suatu negara atau suatu kelompok etnik tertentu dengan kelompok etnik kulit putih pada umumnya, misalnya di negara-negara berkembang yang laju pertumbuhan ekonominya sangat menonjol seperti Singapura. Kekerapan diabetes sangat meningkat dibanding dengan 10 tahun yang lalu. Demikian pula pada beberapa kelompok etnik di beberapa negara yang mengalami perubahan gaya hidup yang sangat berbeda dengan cara hidup sebelumnya karena memang mereka lebih makmur, kekerapan diabetes bisa mencapai 35% seperti misalnya di beberapa bangsa Mikronesia dan Polinesia di Pasifik, Indiana Pima di AS, orang Meksiko yang ada di AS, bangsa Creole di Mauritius dan Suriname, penduduk asli Australia dan imigran India di Asia. Prevalensi tinggi juga ditemukan di Malta, Arab Saudi, Indiana, Canada, Cina di Mauritius, Singapura, dan Taiwan (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006: 38).
Baca lebih lanjut

125 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Overweight dengan Hipertensi pada Pasien Diabetes Mellitus di Kota Yogyakarta

Hubungan Antara Overweight dengan Hipertensi pada Pasien Diabetes Mellitus di Kota Yogyakarta

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa overweight merupakan faktor risiko kejadian hipertensi pada penderita DM (hipertensi-DM). Orang yang mengalami overweight berisiko terhadap kejadian tekanan darah tinggi (hipertensi) pada penderita DM. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Chew et al.,[1] bahwa orang dengan DM tipe 2, yang berusia tua dan overweight menyebabkan tekanan darah mereka tidak terkontrol. Orang dengan diabetes cenderung malas untuk datang ke klinik untuk mengontrol tekanan darah. Hal ini karena rendahnya pengetahuan mereka bahwa mengkonsumsi anti hipertensi cukup untuk mengontrol tekanan darah.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

KAJIAN PENGGUNAAN OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS TEMINDUNG SAMARINDA Adam M. Ramadhan, Laode Rijai, Jeny Maryani Liu Laboratorium Penelitian dan Pengembangan FARMAKA TROPIS Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman,

KAJIAN PENGGUNAAN OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS TEMINDUNG SAMARINDA Adam M. Ramadhan, Laode Rijai, Jeny Maryani Liu Laboratorium Penelitian dan Pengembangan FARMAKA TROPIS Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman,

Berdasarkan data yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa sebagian besar pasien menggunakan obat yang berasal dari golongan sulfonilurea. Meskipun algoritma terapi DM tipe 2 menunjukkan obat dari golongan biguanid sebagai lini pertama dalam pengobatan DM tipe 2, setelah dilakukan pemeriksaan 2-3 bulan selanjutnya, kondisi kadar glukosa darah pasien masih berada di atas normal dan beberapa pasien mengeluhkan gangguan gastrointestinal saat menggunakan metformin, sehingga obat selanjutnya yang digunakan adalah obat yang berasal dari golongan sulfonilurea. Meskipun beberapa literatur menyebutkan bahwa kondisi lansia berpotensi mengalami hipoglikemia setelah pemberian sulfonilurea, hal ini dapat dicegah dengan menginformasikan kepada pasien
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Karakteristik Neuropati Pada Diabetes Melitus Tipe 2 Di Divisi Endokrinologi Departemen Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2011-2012

Karakteristik Neuropati Pada Diabetes Melitus Tipe 2 Di Divisi Endokrinologi Departemen Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2011-2012

Faktor risiko yang berhubungan dengan peningkatan terjadinya diabetes mellitus tipe 2 adalah riwayat keluarga dengan diabetes melitus, obesitas (berat badan ≥ 20 % dari berat badan ideal atau IMT ≥ 25 kg/m2), aktivitas fisik yang kurang, gangguan toleransi glukosa atau gangguan glukosa darah puasa sebelumnya, hipertensi (tekanan darah ≥ 140/90 mmHg), dislipidemia (HDL- kolesterol ≤ 35 mg/dL dan atau kadar trigliserida ≥ 250 mg/dL). Di samping itu, juga perlu diperhatikan riwayat diabetes melitus gestasional atau melahirkan bayi dengan berat badan bayi lahir > 9 pound dan mempunyai riwayat penyakit vaskular.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Depresipada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUP Haji Adam Malik Medan

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Depresipada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUP Haji Adam Malik Medan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian depresi pada penderita DM tipe 2 di RSUP. Haji Adam Malik, Medan. Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional. Untuk menilai derajat keparahan depresi, dibagikan kuesioner BDI (Beck Depression Inventory) kepada 115 orang sampel dengan metode consecutive sampling. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square dan Regresi Logistik untuk mencari faktor mana yang paling dominan.

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...