Fatwa DSN MUI

Top PDF Fatwa DSN MUI:

Analisis Manajemen Hotel Adilla Syariah Yogyakarta (Tinjauan Fatwa DSN MUI No: 108DSN-MUIX2016)

Analisis Manajemen Hotel Adilla Syariah Yogyakarta (Tinjauan Fatwa DSN MUI No: 108DSN-MUIX2016)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi manajemen hotel Adilla Syariah Yogyakarta sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 108/DSN-MUI/X/2016 tentang hotel syariah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif eksploratif. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam (depth interview) kepada Manajer Hotel Adilla Syariah, observasi dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisis data model James Spardley melalui empat tahap, yaitu: Analisis Domain, Analisis Taksonomi, Analisis Komponensial, Analisis Tema Kultural. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi manajemen hotel Adilla Syariah Yogyakarta sesuai dengan fatwa DSN MUI No: 108/DSN-MUI/X/2016.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ANALISIS EKONOMI FATWA DSN MUI NO. 08 TA

ANALISIS EKONOMI FATWA DSN MUI NO. 08 TA

g) Dalam Fatwa DSN MUI ini secara umum belum diatur sanksi atau aturan hukum bagi para pihak yang melanggar atau tidak memenuhi syariah, seperti sanksi kepada penyelenggara wisata, wisatawan itu sendiri bahkan untuk masyarakat yang ada dan berperan di sekitar wisata syariah. Hal ini sangat diperlukan sehingga fatwa DSN MUI dapat menjadi fatwa yang tidak hanya menguntungkan salah satu pihak saja, tetapi juga menjadi fatwa yang dijadikan sebagai acuan hukum bagi seluruh pihak.

9 Baca lebih lajut

EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA DI BANK SYARIAH MANDIRI KOTA MALANG DI TINJAU DARI FATWA DSN MUI NOMOR 68 TAHUN 2008

EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA DI BANK SYARIAH MANDIRI KOTA MALANG DI TINJAU DARI FATWA DSN MUI NOMOR 68 TAHUN 2008

Ketiga, tinjauan hukum islam terhadap eksekusi yang dilakukan oleh BSM kota Malang, sebagai lembaga yang berwenang dalam memberikan masukan serta mengeluarkan fatwa tentang transaksi yang dilakukan oleh perbankan syariah khususnya BSM kota Malang. Bahwa dalam transaksi yang dilakukan menurut DSN MUI sudah sesuai dengan prinsip syariah meskipun tidak semua aturan yang telah diberlakukan yang digunakan oleh BSM. Aturan yang pertama, dalam aturan UUJF dalam pasal 29 yang memuat tatacara dalam hal eksekusi, intinya sebelum melakukan eksekusi setelah adanya surat peringatan maka harus adanya pemberitaan melalui surat kabar yang beredar di kota tersebut. Akad yang digunakan belum sesuai yang mana mestinya, yaitu menggunakan akad Rahn tasjily yang dikeluarkan oleh DSN MUI. kedua, penyelesaian eksekusi belum menggunakan peradilan agama dan arbritase nasional.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS FATWA DSN MUI NOMOR 54 TAHUN 20

ANALISIS FATWA DSN MUI NOMOR 54 TAHUN 20

DSN-MUI dibentuk dalam rangka mewujudkan aspirasi umat Islam mengenai masalah perekonomian/keuangan yang dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Pembentukan DSN-MUI merupakan langkah efisiensi dan koordinasi para ulama dalam menanggapi isu-isu yang berhubungan dengan masalah ekonomi/keuangan. Berbagai masalah/kasus yang memerlukan fatwa akan ditampung dan dibahas bersama agar diperoleh kesamaan pandangan dalam penanganannya oleh masing-masing Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang ada di lembaga keuangan syariah. Kemudian untuk mendorong penerapan ajaran Islam dalam kehidupan ekonomi dan keuangan, DSN-MUI akan senantiasa dan berperan secara proaktif dalam menanggapi perkembangan masyarakat Indonesia yang dinamis dalam bidang ekonomi dan keuangan 7 .
Baca lebih lanjut

123 Baca lebih lajut

JUAL BELI EMAS SECARA TIDAK TUNAI  (Telaah Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010)  Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai(Telaah Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010).

JUAL BELI EMAS SECARA TIDAK TUNAI (Telaah Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010) Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai(Telaah Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010).

1. Chairul Afnan (UIN Sunan Kalijaga, 2013) dalam skripsinya yang berjudul “Jual Beli Emas secara Tidak Tunai (Kajian terhadap Fatwa DSN MUI Nomor 77/DSN-MUI/V/2010). Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa fatwa jual beli emas secara tidak tunai muncul karena dilatar belakangi oleh keadaan sosial politik masyarakat saat ini dan juga keluarnya fatwa ini pada dasarnya untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam perbankan syariah, secara filosofis fatwa ini sebaiknya ditinjau ulang untuk kemaslahatan umat, secara metodologis fatwa ini hanya menitik beratkan pada minoritas ulama yang ada.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Dilema aplikasi akad berbasis sosial dan (2)

Dilema aplikasi akad berbasis sosial dan (2)

seperti itu, maka tentu saja dapat dibenarkan oleh ajaran Islam, bahkan dianjurkan. Metode takâful tersebut akan meringankan penderitaan seseorang, yaitu dengan jaminan keselamatan kerja, askes, pensiun hari tua, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kesehatan, dan sebagainya. Fatwa DSN MUI No. 53/DSN-MUI/III/2006 telah mengatur pengelolaan dana yang menggunakan akad tabarru’ pada usaha asuransi syariah. Pengelolaan dana tabarru’ harus mengikuti aturan dari DSN MUI, yaitu: (1) pembukuan dana tabarru’ harus terpisah dari dana lainnya; (2) hasil investasi dari dana tabarru’ menjadi hak kolektif peserta dan dibukukan dalam akun tabarru’; (3) dari hasil investasi, perusahaan asuransi dapat memperoleh bagi hasil berdasarkan akad mud } a > rabah atau akad mud } a > rabah mushtarakah, atau memperoleh ujrah (fee) berdasarkan akad wakalah bil ujrah.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

EVALUASI MEKANISME PENGELOLAAN DANA DENGAN SISTEM  Evaluasi Mekanisme Pengelolaan Dana Dengan Sistem Mudarabah Pada Asuransi Syariah (Studi Kasus Di AJB Bumiputera 1912 Cabang Syariah Surakarta).

EVALUASI MEKANISME PENGELOLAAN DANA DENGAN SISTEM Evaluasi Mekanisme Pengelolaan Dana Dengan Sistem Mudarabah Pada Asuransi Syariah (Studi Kasus Di AJB Bumiputera 1912 Cabang Syariah Surakarta).

Analisis Data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain 6 . Penulis menganalisis data dilakukan secara deksriptif evaluatif, yakni mendeskripsikan atau menggambarkan keadaan objek penelitian yang sesungguhnya untuk mengetahui dan menganalisis tentang permasalahan yang dihadapi oleh objek penelitian kemudian dievaluasi dengan standar yang ada. Dalam penelitian ini, peneliti mendeskripsikan data yang terkumpulkan kemudian dievaluasi dengan cara membandingkan antara pengelolaan dana dengan sistem muḍᾱrabah yang diterapkan oleh AJB Bumiputera 1912 Cabang Syariah Surakarta dengan prinsip-prinsip syariah yang ada dalam fatwa DSN No: 21/DSN-MUI/X/2001.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Studi Kritis Fatwa DSN NO. 15 DSN-MUI IX 2000 Tentang Prinsip Distribusi Hasil Usaha Dalam Lembaga Keuangan Syariah

Studi Kritis Fatwa DSN NO. 15 DSN-MUI IX 2000 Tentang Prinsip Distribusi Hasil Usaha Dalam Lembaga Keuangan Syariah

Mekanisme bagi hasil menjadi ciri atau karakteristik Lembaga Keuangan Syariah (selanjutnya disingkat LKS), dimana dengan sistem bagi hasil ini menjadi solusi untuk terhindar dari riba (Muhammad Syafi’i Antonio, 2001: 10). Namun, berdasarkan asumsi bahwa para nasabah LKS belum terbiasa menerima kondisi berbagi hasil dan berbagi resiko, maka LKS di Indonesia saat ini memilih pola pendistribusian pendapatan (revenue sharing). Dipilihnya sistem revenue sharing oleh LKS, juga didasarkan pada fatwa Dewan Syariah Nasional (selanjutnya disingkat DSN) No. 15/DSN-MUI/IX/2000 tentang Prinsip Distribusi Bagi Hasil Usaha dalam Lembaga Keuangan Syariah, dimana dalam Ketentuan Umum poin kedua disebutkan bahwa: “Dilihat dari segi kemaslahatan (al-ashlah), saat ini pembagian hasil usaha sebaiknya digunakan prinsip Bagi Hasil (Net Revenue Sharing).” Selain itu, alasan lainnya adalah dalam penerapan profit sharing, LKS harus menerapkan dan memaparkan secara rinci biaya-biaya operasional yang dibebankan kepada para pemilik dana, tentu hal ini menjadi kendala besar bagi para pemilik dana yang menginvestasikan dananya di LKS maupun LKS itu sendiri.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Dualisme Akad Tabarru dan Tijarah dalam

Dualisme Akad Tabarru dan Tijarah dalam

This article examines the legal issues on sharia insurance industries in Indonesia. The focus is on the application of the dual contract. It is the combination of the tabarru’ (voluntary) and tijārah (business) bonds. This qualitative study used secondary data. It will be approached with taxonomic technique. It is used to figure out the legal problems. Theoretically, the contract scheme should separate the management of both contracts. In this case, the main contract is the tabarru’ , while the second is an additional. However, the takāful industries in Indonesia are more focused on the additional contract rather than the main. Based on research, Islamic insurances in Indonesia did not separate the tabarru’ and tijārah fund managements. It means that they mixed the returns obtained from both sectors. This shows that the dualism of tabarru’ and tijârah contracts in sharia insurance in Indonesia is not in line with the fatwas of The National Sharia Council-The Indonesian Ulama Council on Islamic insurance. However, this article also found that there are some guidelines of DSN-MUI which are ambiguous. This article offers an alternative scheme of both contracts from the perspective of fiqh al- mu’ā malah (Islamic economic law). The contract that can be applied by the takaful as tabarru’ is a fee-based (ujrah). While the most logical contract for the rest is a profit and loss sharing-based investment contracts.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

SKRIPSI KHUSNUL NUR AISYAH 210214064

SKRIPSI KHUSNUL NUR AISYAH 210214064

Majelis Ulama Indonesia (MUI) berdiri pada tanggal 17 Rajab 1395 Hijriah bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 Miladiah. MUI hadir ke pentas sejarah ketika bangsa Indonesia tengah berada pada fase kebangkitan kembali, setelah 30 Tahun sejak kemerdekaan energi bangsa lebih banyak terserap dalam perjuangan politik di dalam negeri maupun internasional, sehingga kesempatan untuk membangun menjadi bangsa yang maju dan berakhlak mulia kurang diperhatikan. Pendirian MUI dilatar belakangi adanya kesadaran kolekktif pimpinan umat Islam bahwa Indonesia memerlukan suatu landasan kokoh bagi pembangunan masyarakat yang maju dan berakhlak. Karena itu, keberadaan organisasi para ulama, dan cendekiawan muslim ini merupakan konsekuensi logis dan persyaratan bagi berkembangnya hubungan yang harmonis antara berbagai potensi yang ada untuk kemslahatan seluruh rakyat Indonesia. 24
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

JUAL BELI EMAS SECARA TIDAK TUNAI  (Telaah Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010)  Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai(Telaah Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010).

JUAL BELI EMAS SECARA TIDAK TUNAI (Telaah Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010) Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai(Telaah Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010).

Tetapi dalam fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010 tentang jual beli emas secara tidak tunai yang dikeluarkan pada tanggal 3 Juni 2010, DSN- MUI menyatakan bahwa jual beli emas secara tidak tunai itu boleh (mubāḥ ), selama emas tidak jadi alat tukar yang resmi (uang), baik melalui jual beli biasa maupun jual beli m urābaḥ ah. Menarik untuk dikaji alasan fatwa ini dikeluarkan dan kesesuaian i stinbāṭ hukum DSN-MUI dengan i stinbāṭ hukum MUI dalam mengeluarkan fatwa ini.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

ANALISIS METODE HILAH DALAM PROSES FATWA DSN-MUI Elimartati

ANALISIS METODE HILAH DALAM PROSES FATWA DSN-MUI Elimartati

melakukan penelitian bersifat conten analisis dalam proses istinbat hukum yang bersumber dari fatwa DSN tentang akad produk-produk perbankan syariah menerapkan konsep hilah. Penelitian diawali dengan melihat kedudukan metode hilah dalam hukum Islam. Selanjutnya menginventarisasi Fatwa DSN tentang produk perbankan syariah, kemudian menelaah dalil-dalil hukum yang dipakai dalam fatwa berupa ayat-ayat Alquran, yakni menginventaris ayat-ayat yang menjadi dalil hukum dan manafsirkannya dengan berlandaskan pendapat para mufasir. Kemudian menginventaris Hadis-hadis Rasulullah Saw yang menjadi dasar hukum dari masalah yang ditetapkan hukumnya. Mengambil kaedah hukum yang menjadi dalil pelengkap dari dalil-dalil di atas. Dalam hal yang belum jelas hukumnya ditetapkan berdasarkan dalil di atas, maka melihat dalil- dalil hukum yang dipakai para ulama dalam mengistinbatkan hukum, dan melihat penerapan metode hilah dalam istinbatnya. Penelitian ini menganalisis penerapan hilah dalam penetapan fatwa DSN tentang akad-akad produk perbankan syariah. Karena keterbatasan waktu, biaya dan kemampuan dalam penelitian ini. Fatwa yang diteliti berjumlah delapan sebagai berikut :
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KONSEP ASURANSI SYARIAH DALAM PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG BADAN PENYELANGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS)

KONSEP ASURANSI SYARIAH DALAM PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG BADAN PENYELANGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS)

Setelah tahun 1976, para ahli ekonomi Islam terus melangsungkan kegiatan- kegiatan konferensi Ekonomi Islam Internasional. Dalam beberapa konferesnsi, hukum halal- haram bunga bank tidak lagi menjadi pembahasan, sebab sudah disepakati sejak awal akan keharamannya. Kesekapatan-kesekapatan itu didukung lagi oleh Lembaga Islam Internasional, yaitu oleh para ulama dunia yang tergabung dalam Rabithah Alam al-Islami. Jadi, kalau seluruh ahli ekonomi Islam dunia sepakat tentang keharaman bunga bank, dikuatkan lagi oleh ulama OKI dan Rabithah Alam Al- islami serta majma‟ buhuts (lembaga fatwa) di seluruh dunia, maka sudah dapat dikatakan kejelasan dan kepastian tentang hukumnya tersebut, sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi. Firman Allah, “Kemudian kami jadikan bagi kamu syari‟ah untuk urusan itu, maka ikutilah syari‟ah itu, jangan ikuti hawa nafsu orang- orang yang tidak mengetahui”. Menurut ayat ini, orang yang tidak mengikuti syari‟ah (termasuk ekonomi syari‟ah), adalah karena dua alasan, yaitu:
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kumpulan Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis U Indonesia (MUI) tentang Keuangan dan Perbankan Syariah | PUSTAKA MADRASAH

Kumpulan Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis U Indonesia (MUI) tentang Keuangan dan Perbankan Syariah | PUSTAKA MADRASAH

4. Fatwa DSN nomor: 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah, Fatwa DSN nomor: 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah, dan Fatwa DSN nomor: 09/DSN- MUI/IV/2000 tentang Ijarah berlaku pula dalam pelaksanaan Pembiayaan Rekening Koran Syariah (PRKS) sebagaimana dimaksud dalam angka 1, 2, dan 3.

Baca lebih lajut

LEGISLASI FIKIH EKONOMI PERBANKAN: SINKRONISASI PERAN DEWAN SYARIAH NASIONAL DAN KOMITE PERBANKAN SYARIAH | Umam | Mimbar Hukum 16139 30687 1 PB

LEGISLASI FIKIH EKONOMI PERBANKAN: SINKRONISASI PERAN DEWAN SYARIAH NASIONAL DAN KOMITE PERBANKAN SYARIAH | Umam | Mimbar Hukum 16139 30687 1 PB

berwenang untuk mengambil tindakan apabila peringatan tidak diindahkan. Format fatwa tidak selalu berbentuk tanya jawab sebagaimana yang lazim ditemukan. Dalam banyak kasus terutama di Indonesia, format fatwa sering mengikuti bentuk surat keputusan. Dalam surat fatwa yang demikian, fatwanya diberi nomor dan terkadang juga judul, kemudian diikuti dengan konsideran dan diakhiri dengan amar fatwa sendiri. Konsideran memuat pertimbangan- pertimbangan mengapa fatwa itu dikeluarkan, argumen-argumen bagi amar fatwa tersebut serta landasan syar’i fatwa yang bersangkutan. Format fatwa seperti ini biasanya dikeluarkan oleh suatu lembaga yang melibatkan sejumlah mufti secara kolektif dan karena itu fatwa tersebut lebih terlihat resmi. Dengan demikian surat fatwa (ruq’ah al- fatwa) jenis ini tidak memuat pertanyaan mustai , dan memang barangkali fatwa ini dikeluarkan tidak karena adanya suatu pertanyaan khusus langsung yang diajukan penanya kepada mufti, melainkan mungkin dikeluarkan atas inisiatif para mufti sendiri setelah melihat adanya banyak pertanyaan di tengah-tengah masyarakat mengenai masalah yang bersangkutan. Fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) mengambil bentuk ini sebagaimana dapat dilihat dalam Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional. Materi muatan fatwa tersebut segera menjadi doktrin hukum substantif Islam (ikih). 10
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN WAHBAH AZ-ZUHAILI TENTANG ASURANSI - Electronic theses of IAIN Ponorogo

ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN WAHBAH AZ-ZUHAILI TENTANG ASURANSI - Electronic theses of IAIN Ponorogo

Untuk mendapatkan jaminan perlindungan asuransi (taka>ful), seseorang perlu menghubungi perusahaan yang secara hukum berkompeten menyelenggarakan jasa tersebut. Tindak lanjut dari hubungan antara perusahaan dengan pengguna jasa, akan diikat oleh suatu perjanjian yang berlaku dalam perusahaan asuransi. Menurut Fatwa No.21/DSN- MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, akad yang dilakukan antara peserta dengan perusahaan terdiri atas akad tija>rah dan/atau akad tabarru’ . Dalam akad tijarah (mudha>rabah), perusahaan bertindak sebagai mudha>rib (pengelola) dan peserta bertindak sebagai sha>hib al-ma>l (pemegang polis). Sedangkan dalam akad tabarru’ (hibah), perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola dana hibah yang diberikan oleh peserta untuk menolong pihak yang terkena musibah. 36
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Syari’ah BMT Harapan Ummat Kudus

Syari’ah BMT Harapan Ummat Kudus

Namun jika dilihat berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia NO: 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang wakalah bahwa dalam pembiayaan murabahah pihak lembaga keuangan Syariah mewakilkan kepada anggota untuk membeli barang yang dibutuhkannya, dimana anggota sudah cakap bertindak atau mukallaf, cakap dalam hukum yaitu mampu bertindak menurut hukum dan mampu mempertanggungjawabkan tindakannya dihadapan hukum yang berlaku serta mampu menjalankan amanah. Dan untuk obyek yang diwakilkan merupakan barang yang tidak melanggar Syariah Islam. Sedangkan implementasi di BMT Harapan Ummat Kudus menunjukkan bahwa anggota sebagai wakil sudah menjalankan amanah yang diberikan kepadanya dalam hal membeli sendiri barang yang diinginkan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Hukum Ekonomi Islam (1) subjek hukum ekonomi

Hukum Ekonomi Islam (1) subjek hukum ekonomi

Di sisi lain, eksistensi sistem perbankan dan keuangan Islam (Islamic syariah), sebagai tuntutan global terkini, mengharuskan Indonesia melakukan reformasi di bidang hukum ekonomi. Berbagai undang-Undang seperti Undang-Undang No : 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, Undang-Undang No : 19 Tahun 2008 Tentang Surat Berharga Syariah Negara, peraturan Bapepam-LK yang mengatur tentang Indeks Syariah, Pereaturan Menteri Keuangan Tentang Asuransi Syariah, penerbitan sukuk, Reksadana syariah, merupakan bentuk antisipasi terhadap perkembangan aktivitas ekonomi dengan sistem syariah di Indonesia. Eksistensi Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam ranah hukum positif Indonesia mengubah peta regulasi hukum Ekonomi Indonesia.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KAJIAN PENGEMBANGAN PRODUK SYARIAH DI PA

KAJIAN PENGEMBANGAN PRODUK SYARIAH DI PA

Walaupun keberadaan DPS belum secara tegas diatur dalam kerangka hukum pasar modal, namun demikian dalam praktiknya produk pasar modal berbasis syariah seperti reksa dana syariah, pada umumnya memiliki DPS. DPS ini biasanya terdiri dari 3 (tiga) orang yang direkomendasikan dari DSN-MUI. Meskipun tidak diatur secara khusus dalam undang-undang pasar modal maupun peraturan pelaksanaannya, DPS ini telah diatur dalam undang-undang yang lain, yaitu Pasal 109 Undang-undang Perseroan Terbatas (UUPT) No.40 tahun 2007. Dalam UUPT tersebut dinyatakan bahwa Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah selain mempunyai Dewan Komisaris wajib mempunyai DPS. DPS ini terdiri atas seorang ahli syariah atau lebih yang diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas rekomendasi MUI. DPS bertugas memberikan nasihat dan saran kepada Direksi serta mengawasi kegiatan Perseroan agar sesuai dengan prinsip syariah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Eksistensi fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia dalam tata hukum nasional - Digital Library IAIN Palangka Raya

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Eksistensi fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia dalam tata hukum nasional - Digital Library IAIN Palangka Raya

Mengacu kepada klasifikasi di atas, fatwa DSN MUI tidak termasuk ke dalam legislative acts maupun executive acts, bukan pula termasuk judicial acts, sebab fatwa DSN MUI bukanlah sebuah putusan lembaga peradilan.Bahkan di bidang perbankan syari’ah di Indonesia, yang menjadi acuan pelaksanaan aktifitas perbankan syari’ah adalah Peraturan Bank Indonesia.Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah pun sejatinya adalah Peraturan Mahkamah Agung Republik

9 Baca lebih lajut

Show all 1134 documents...