Fault Current

Top PDF Fault Current:

ANALISIS IMPLEMENTASI SATURATED IRON – CORE SUPERCONDUCTING FAULT CURRENT LIMITER PADA JARING DISTRIBUSI PT. PERTAMINA RU V BALIKPAPAN. - ITS Repository

ANALISIS IMPLEMENTASI SATURATED IRON – CORE SUPERCONDUCTING FAULT CURRENT LIMITER PADA JARING DISTRIBUSI PT. PERTAMINA RU V BALIKPAPAN. - ITS Repository

Agar arus gangguan tidak sampai menyebabkan penggantian peralatan pada sistem, maka arus gangguan hubung singkat harus diminimalisir sehingga nilainya dibawah dari level kemampuan peralatan yang ada. Sehingga diperlukan salah satu cara untuk mengurangi besarnya arus gangguan hubung singkat yaitu dengan memasang Saturated Iron – Core Superconducting Fault Current Limiter (SISFCL) pada sistem. Arus gangguan akan diredam dengan impedansi dari inti SISFCL sehingga tidak akan merusak peralatan. Pemasangan SISFCL akan mempengaruhi koordinasi proteksi pada rele arus lebih, sehingga perlu dilakukan koordinasi ulang agar bisa mengetahui apakah sistem pengaman akan bekerja dengan baik atau tidak.
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

Studi Koordinasi Sistem Proteksi Pada Jaringan Distribusi PT. PLN (Persero) APJ Gilimanuk Terhadap Penerapan SFCL (Superconducting Fault Current Limiter) - ITS Repository

Studi Koordinasi Sistem Proteksi Pada Jaringan Distribusi PT. PLN (Persero) APJ Gilimanuk Terhadap Penerapan SFCL (Superconducting Fault Current Limiter) - ITS Repository

Arus hubung singkat yang sangat besar tidak hanya berbahaya bagi lingkungan pada saat terjadi gangguan akan tetapi dapat mengurangi umur peralatan bahkan dapat merusak peralatan apabila arus gangguan tidak cepat diamankan melalui suatu sistem pengaman. Semakin besar potensi arus hubung singkat maka dibutuhkan suatu peralatan pengaman dengan daya tahan arus gangguan (breaking capacity) yang besar pula. Dengan alasan keselamatan dan keamanan pada setiap peralatan maka dipasang suatu pembatas arus atau Superconducting Fault Current Limite (SFCL) .SFCL merupakan suatu peralatan yang mampu mengurangi arus hubung singkat sesuai dengan prinsip kerja konduktivitasnya. Pada SFCL memiliki suatu besaran impedansi yang akan bekerja pada saat terjadi gangguan, besar impedansinya disesuaikan dengan besar arus hubung singkat yang akan dikurangi, akan tetapi pada kondisi normal (tanpa terjadi gangguan) impedansi tersebut bernilai nol, sehingga tidak membani jaringan.
Baca lebih lanjut

253 Baca lebih lajut

Studi Kasus Akibat Pemasangan SISFCL (Saturated Iron-core Superconducting Fault Current Limiter) di PT. Pupuk Kalimantan Timur II (PKT II) - ITS Repository

Studi Kasus Akibat Pemasangan SISFCL (Saturated Iron-core Superconducting Fault Current Limiter) di PT. Pupuk Kalimantan Timur II (PKT II) - ITS Repository

Alhamdulillah Robbil ‘Alamin, terucap syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, berkah dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “ STUDI KASUS AKIBAT PEMASANGAN SISFCL (SATURATED IRON-CORE SUPERCONDUCTING FAULT CURRENT LIMITTER)”. Tujuan dari penyusunan tugas akhir ini adalah sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar sarjana teknik pada bidang studi Teknik Sistem Tenaga, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

Studi Penambahan Hybrid SFCL (Superconducting Fault Current Limiter) di PT. Pupuk Sriwidjadja IIB - ITS Repository

Studi Penambahan Hybrid SFCL (Superconducting Fault Current Limiter) di PT. Pupuk Sriwidjadja IIB - ITS Repository

Pada tahun 2013 PT. Pupuk Sriwidjaja (Pusri) telah membangun pabrik baru yaitu Pusri IIB yang menggantikan Pusri II. Pada Pusri IIB koordinasi rele proteksi pada jaringan masih buruk dan apabila dibiarkan dapat menyebabkan kegagalan sistem kelistrikan. Untuk itu perlu koordinasi ulang rele arus lebih dan membatasi arus saat gangguan, dengan tujuan koordinasi proteksi lebih mudah dilakukan. Cara membatasi kenaikan arus gangguan adalah dengan menggunakan Hybrid SFCL (Superconducting Fault Current Limiter). Arus gangguan yang terjadi dapat direduksi dengan memanfaatkan reaktansi dari Current Limitting Reactor (CLR) yang terhubung parallel dengan superconductor. Pemasangan Hybrid SFCL akan ditempatkan pada feeder antara Bus STG1 dengan SG-61 dan Bus T-STG1 dengan SG-61 karena memiliki nilai arus hubung singkat yang besar dan karena nilai arus kontribusi yang hampir sama. Sebelum dilakukan pemasangan Hybrid SFCL, saat gangguan antara Bus SG-61 dengan Bus STG1 nilai arus kontribusi pada Bus T-STG1 dengan SG-61 sebesar 16,98kA dan saat gangguan antara Bus SG-61 dengan Bus T-STG1 nilai arus kontribusi pada Bus STG1 dengan SG-61 sebesar 21,46kA. Setelah dilakukan pemasangan Hybrid SFCL nilai arus kontribusi pada Bus T-STG1 dengan SG-61 menjadi 7,15Ka dan nilai arus kontribusi pada Bus STG1 dengan SG-61 sebesar 8 Ka. Setelah pemasangan Hybrid SFCL pada jaringan arus kontribusi menjadi berkurang sehingga perlu seting ulang rele. Untuk melihat hasil dari pemasangan Hybrid SFCL dan pengaruh pada sistem koordinasi proteksi maka akan disimulasikan.
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

Analisa Koordinasi Proteksi Akibat Pemasangan Hybrid Superconducting Fault Current Limiter (SFCL) DI PT. Ajinomoto Indonesia - ITS Repository

Analisa Koordinasi Proteksi Akibat Pemasangan Hybrid Superconducting Fault Current Limiter (SFCL) DI PT. Ajinomoto Indonesia - ITS Repository

Dari data tabel 4.1 dapat dianalisa bahwa nilai puncak dari arus gangguan maksimal 3 fasa ½ cycle pada ke empat bus melebihi nilai batas kemampuan peralatan atau bracing peak bus yaitu sebesar 100 kA. Untuk itu sistem ini membutuhkan sebuah device pembatas arus hubung singkat yaitu Hybrid Superconducting Fault Current Limiter (Hybrid SFCL). Untuk pemilihan penempatan Hybrid SFCL maka perlu menganalisa arus kontribusi hubung singkat pada tiap – tiap bus agar dapat mengetahui arus kontribusi dari bus atau feeder mana yang membuat nilai arus hubung singkat pada bus tersebut menjadi bernilai tinggi.
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

Studi Koordinasi Proteksi Arus Lebih Dengan SFCL (Hybrid Superconducting Fault Current Limiter) di PT. Terminal Teluk Lamong - ITS Repository

Studi Koordinasi Proteksi Arus Lebih Dengan SFCL (Hybrid Superconducting Fault Current Limiter) di PT. Terminal Teluk Lamong - ITS Repository

Pada Tugas Akhir ini penggunaan Hybrid Superconducting Fault Current Limiter (SFCL) digunakan untuk mereduksi arus gangguan pada sistem pengaman peralatan di PT Terminal Teluk Lamong. Untuk mengetahui akibat dari penggunaan SFCL pada koordinasi proteksi PT Terminal Teluk LAmong maka dilakukan analisa tripping sequence yang terdiri dari empat case (A-D) seperti pada Gambar 4.1. Hal tersebut untuk membandingkan tripping sequence plan saat existing tanpa penambahan SFCL dan dengan penambahan SFCL. Pengamatan tripping sequence menggunakan software simulasi Etap 12.6.
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

RANCANG BANGUN PROTOTIPE SUPERCONDUCTING FAULT CURRENT LIMITER MODEL INDUKTIF

RANCANG BANGUN PROTOTIPE SUPERCONDUCTING FAULT CURRENT LIMITER MODEL INDUKTIF

DESIGN OF THE INDUCTIVE MODEL SUPERCONDUCTING FAULT CURRENT LIMITER PROTOTYPE. Design of the inductive model Superconducting Fault Current Limiter (SFCL) prototype has been conducted. The inductive model SFCL prototype was designed with a transformator topology, having a primary coils of Copper wire and the secondary coils being the tube of superconductor made of YBCO material. The SFCL simulation have been carried out on a voltage of V s = 3000 volt, the alternating current frequency of = 50 Hz and the circuit load of R L = 1250 . When the SFCL is applied on a circuit without load and the SFCL being in the non-resistive state, then the current of I s = (9.6-11.6)×10 6 A is able to be attained in
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Automatic Street Lighting Control System With Fault Current Analysis.

Automatic Street Lighting Control System With Fault Current Analysis.

This SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) analysis project is based on fault current to the automatic street lighting control system. The project has used SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition), which is a software using Indusoft and also can link to a controller using IsaGRAF software. SCADA/ HMI sof t ware is used because it runs on everyt hing f rom mobile phones t o PC workst at ions, handles an unlimit ed number of t ags f or large process cont rol syst ems, and int erf aces t o high level sof t ware syst ems. Then, t he syst em int erf aces wit h t he ready made hardware t o run t he program.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

I. PENDAHULUAN - PROTECTION COORDINATION OF DIRECTIONAL OVERCURRENT RELAYS CONSIDERING FAULT CURRENT DIRECTION ON PLANT PT. PETROKIMIA GRESIK - ITS Repository

I. PENDAHULUAN - PROTECTION COORDINATION OF DIRECTIONAL OVERCURRENT RELAYS CONSIDERING FAULT CURRENT DIRECTION ON PLANT PT. PETROKIMIA GRESIK - ITS Repository

Abstrak - Pasokan kebutuhan daya listrik di PT. Petrokimia Gresik dengan adanya jalur interkoneksi meningkat dengan tujuan untuk menjaga kontinuitas pelayanan daya listrik. Namun, dengan meningkatnya pasokan kebutuhan daya listrik ada dampak yang terjadi ketika ada gangguan hubung singkat di jalur interkoneksi dan koordinasi proteksinya masih belum optimal sehingga menyebabkan sistem kestabilan menjadi terganggu. Oleh karena itu, dibutuhkan perubahan setting rele dengan menggunakan rele arah arus lebih (DOCR). Rele arah arus lebih (DOCR) ini digunakan untuk mengamankan gangguan hubung singkat yang terjadi di jalur interkoneksi dengan pemutusan selektif yang dapat membuat sistem menjadi lebih stabil. Dalam melakukan koordinasi proteksi diperlukan grading time antar rele sesuai standar IEEE 242 yaitu 0.2 s/d 0.3 s dan time delay dikoordinasikan sehingga rele tersebut dapat bekerja dengan tepat. Hasil analisa hubung singkat serta koordinasi proteksi akan ditampilkan dalam bentuk kurva time current curve (TCC).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

For Practitioners in the Oil, Gas and Petrochemical Industry

For Practitioners in the Oil, Gas and Petrochemical Industry

The graphs are plotted in two parts. The first part is a straight line that occupies all of the graphical area available, and is the line for the peak value of the asymmetrical current available against the symmetrical fault current available. The relationship between these variables is simply the appropriate ‘doubling’ factor, which can be found from the manufacturer’s curves to be typically in the range of 2.1 and 2.4 per unit. The second part is a set of curves or lines of lower slope that apply to all the fuses or circuit breakers in the manufacturer’s range of products. Each one of these lines intersects the single prospective line, at a point which represents the current that corresponds to melting a fuse or parting the contacts of a circuit breaker when the instantaneous current is at its peak value in the first half-cycle. This point is called the ‘threshold current’ in some of the literature, see Reference 8. At this point no cut-off occurs. Thereafter for higher symmetrical fault currents the particular rated device will experience an amount of cut-off, the higher the fault current the more the cut-off will occur. Theoretically the set of lines for the devices will be curved when plotted on a log-log scale, but in practice manufacturers may approximate these by straight lines. Figure 7.6 shows the characteristic for one fuse and one moulded case circuit breaker, each rated at 40 A for protecting an induction motor. The location of the device lines or curves in the vertical plane will vary considerably with different manufacturers and functions, such as motor feeders, heavy duty or light duty. In general they will be parallel lines or curves for a particular type of device, i.e. one type with many different ratings in the range of product.
Baca lebih lanjut

633 Baca lebih lajut

INDONESIAN JOURNAL ON GEOSCIENCE

INDONESIAN JOURNAL ON GEOSCIENCE

glomerate of Jurassic-Cretaceous age. The fault slip sense (arrow) is determined from the disposition of the crescentic depression and the crag-and-tail feature complete with the groove track that marks the crag’s progress. The 17. scoop depressions (Sc) do not appear indicative of slip sense and are only elongated in the direction of fault movement. Some of the fault drumlins have 18. sheath-like features (labeled as ‘peel-offs’ in the sketch) on their lee-sides. The vein quartz of Figure 17b is part of a very large dyke of the same material. The more than 17-km long dyke invaded a strand of the Kuala Lumpur fault zone . In turn the quartz dyke became faulted. One of the fault surfaces displays rugged microtopography of fault roche moutonnee (labeled 7) and/or fault drumlins (2 in the sketch) with pointed ends and bruising on the stoss ends. Subsequent to this positive slip sense identification, pluck and accretion steps could also be recognised.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fisiografi Regional

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fisiografi Regional

Sesar atau patahan adalah rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran relative (displacement) yang berarti, melalui bidang rekahnya (Billings, 1972). Suatu sesar dapat berupa bidang sesar, ataupun rekahan tunggal. Tetapi lebih sering berupa jalur sesar (Fault Zone), yang terdiri lebih dari satu sesar. Jalur sesar biasanya memiliki dimensi panjang dan lebar yang beragam, dari skala minor sampai dengan puluhan kilometer. Kekar yang memperlihatkan ada pergeseran walau sedikit dapat pula dikatakan sebagai sesar minor.

23 Baca lebih lajut

APPLICATION OF SWALLOWTAIL CATASTROPHE THEORY TO TRANSIENT STABILITY ASSESSMENT OF MULTI-MACHINE POWER SYSTEM.

APPLICATION OF SWALLOWTAIL CATASTROPHE THEORY TO TRANSIENT STABILITY ASSESSMENT OF MULTI-MACHINE POWER SYSTEM.

This manuscript suggest a method to solve the transient stability problem of multi-machine power Systems with the system having more than one critical machine for a specified disturbance. Here the critical machines during a three-phase fault are identified, single-out and combined to be one equivalent machine and also the rest of the system as another single equivalent machine using the general dynamic equivalent approach. Then the energy balance equation is derived from the equation of motion of the equivalent critical machine against the rest of the system. The energy balance equation is then used to form the equilibrium surface of the swallowtail catastrophe manifold from which the transient stability region is derived by the bifurcation technique. The results obtained by this general swallowtail catastrophe approach is in good agreement with those obtained by the time solution method.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PEMULIHAN ARUS GANGGUAN PADA SKTM 20 KV DENGAN MENGGUNAKAN FASILITAS GROUND FAULT DETECTOR (GFD) 3G

PEMULIHAN ARUS GANGGUAN PADA SKTM 20 KV DENGAN MENGGUNAKAN FASILITAS GROUND FAULT DETECTOR (GFD) 3G

One of the main tasks of the electricity industry is to provide reliable electricity to customers. Supply interruptions are less and less accepted by customers and society mainly because their socioeconomic effects are increasingly severe. Reliability of supply and its value are key factors for the decision making process underlying expansion plans not only of electricity generation systems but also of transmission and distribution networks. To meet these demands, the PLN use reliable distribution technology, i. e. 3G Ground Fault Detector (GFD). This paper aims to analyze the use of 3G GFD. The secondary data were obtained from the substation Setiabudi Jakarta. The results showed that use of 3G GFD can speed maneuverability and long outages of 143.06 minutes to 34.25 minutes and reduce the number of unsold kWh amounting to 76.06%.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

BAB V ANALISA DAN INTERPRESTASI - BAB V ANALISIS dan INTERPRESTASI

BAB V ANALISA DAN INTERPRESTASI - BAB V ANALISIS dan INTERPRESTASI

Dengan membangun fault tree maka dapat diketahui penyebab utama kecelakaan dari terjadinya kecelakaan kerja di perusahaan dan mengetahui tindakan perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan kerja serta keadaan lingkungan kerja yang tidak aman, sehingga dapat dianalisi pada table berikut ini :

8 Baca lebih lajut

smk12 TeknikTransmisiTenagaListrik Aslimeri

smk12 TeknikTransmisiTenagaListrik Aslimeri

Disturbance Fault Recorder DFR Disturbance Fault Recorder DFR suatu alat yang dapat mengukur dan merekam besaran listrik seperti arus A , tegangan V dan frekuensi Hz pada saat [r]

125 Baca lebih lajut

Development of fault detection system for three-phase voltage source inverter (VSI).

Development of fault detection system for three-phase voltage source inverter (VSI).

Apart from solar panels, inverters also play role in transmitting power from batteries and fuel cells. Grid-tied inverters are used in solar electricity system. These inverters have the ability to feed back energy into the utility grid since it produces alternating current with the amplitude and frequency as the energy provided by the utility distribution network. Thus, these help during blackout since they can be shut off. Therefore, inverters play a big role in order to achieve or to make a system to be possibly operated. As time move on, the development of technologies using renewable energy is needed for future generation to fulfill their demand as well as to protect the environment and make it greener. So the inverters are important device and their efficiency must be taken into account.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Tugas UTS Pengujian Perangkat Lunak

Tugas UTS Pengujian Perangkat Lunak

TUGAS UNTUK UTS PENGUJIAN PERANGKAT LUNAK Dalam membuat perangkat lunak dengan kualitas yang bagus, Antisipasi Kesalahan Fault Handling harus kita lakukan sejak awal.. Fault Avoidance [r]

1 Baca lebih lajut

66671 testing 04 based of testing

66671 testing 04 based of testing

Failures, Faults Failure: output yang tidak benar/ tidak sesuai ketika sistem dijalankan Fault: kesalahan dalam source code yang mungkin menimbulkan failure ketika code yg fault tsb d[r]

19 Baca lebih lajut

Penerapan Fault Management Untuk Network Management System (NMS) Berbasis Open Source Pada World Wide InteroperabilityFor Microwave Access (WiMAX)

Penerapan Fault Management Untuk Network Management System (NMS) Berbasis Open Source Pada World Wide InteroperabilityFor Microwave Access (WiMAX)

Sebagai tambahan dari standar fault management tersebut juga tersedia map view dan chasisView. Pemanfaatan map view dan chasisView dapat memudahkan seorang administrator jaringan dalam mengawasi fault yang terjadi pada jaringan secara visual. Setiap node bisa ditampilkan dalam sebuah peta yang memiliki indikator severity. Apabila terjadi kegagalan pada node teresebut maka indikator akan berubah warna sesuai dengan tingkat kegagalan yang terjadi. Contoh map view dengan latar peta Bandar Lampung dengan node chosen.unila.ac.id yang menjadi WiMAX BS Simulator sedang mengalami kegagalan minor yang ditandai dengan indikator severity warna kuning..
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 3536 documents...

Related subjects