Film Kartun

Top PDF Film Kartun:

Representasi Simbolik Film Kartun “Dora the Explorer”: Ethnographic Content Analy

Representasi Simbolik Film Kartun “Dora the Explorer”: Ethnographic Content Analy

Film kartun Dora the Explorer merupakan film seri animasi yang tayangannya berdurasi 30 menit. Kreator dari film ini terdiri dari tiga orang yaitu Chris Gifford, Valerie Walsh, dan Eric Weiner. Sementara itu, para produser eksekutifnya ialah Chris Gifford, Jake Burbage, Harrison Chad, Felipe Dieppa, Elaine Del Valle, Ashley Fleming, Eileen Galindo, Chris Gifford, Kathleen Herles, John Leguizamo, Ricardo Montalban, Esai Morales, dan Amy Principe. Para bintangnya sendiri terdiri dari delapan orang yaitu Irwin Reese, Antonia Rey, K.J. Sanchez, Adam Sietz, Sasha Toro, Leslie Valdes, Marc Weiner, dan Jose Zelaya dengan explorer stars voices yang terdiri dari empat orang, yaitu Christiana Anbri, Henry Gifford, Katie Gifford, dan Aisha Shickler. Negara asal film Dora the Explorer ini adalah Amerika Serikat (USA) dengan saluran orisinalnya ialah Nickelodeon sebagai saluran bagi anak-anak prasekolah. Sampai saat ini, film kartun Dora the Explorer sudah mencapai 101 episode.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

IDEOLOGI FILM KARTUN ANIMASI ANAK (REFLEKSI FILOSOFIS ATAS PEDAGOGI TERSEMBUNYI DALAM DUNIA DISNEY) | Murtiningsih | Jurnal Filsafat 3523 29055 1 PB

IDEOLOGI FILM KARTUN ANIMASI ANAK (REFLEKSI FILOSOFIS ATAS PEDAGOGI TERSEMBUNYI DALAM DUNIA DISNEY) | Murtiningsih | Jurnal Filsafat 3523 29055 1 PB

Dengan menganalisis film kartun animasi anak produk Disney, kita akan menemui kentalnya nuansa konstruksi gender di dalamnya. Hal ini terlihat dari kuatnya karakter perempuan Disney yang selalu berada di bawah narasi wacana dominan kaum laki- laki. Artinya, keberadaan perempuan secara eksistensial selalu ditentukan oleh posisi mereka dalam narasi patriarki, dan tidak oleh kekuatan dirinya sebagai perempuan. Tema tersebut dapat dibuktikan dari banyaknya cerita Disney yang menggambarkan kehidupan perempuan melalui wacana laki-laki, dan penghargaan berlebihan terhadap kecantikan sebagai alat untuk memperoleh kekayaan secara kilat. Kecantikan dengan demikian identik dengan kekayaan. Barang siapa memiliki paras cantik berarti memiliki kesempatan emas untuk dipilih oleh seorang laki-laki kaya dan ini merupakan modal untuk menjadi kaya. Akibatnya kemudian banyak anak bermimpi menjadi Cinderella yang terangkat status sosialnya oleh seorang pangeran.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN MEDIA FILM KARTUN DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS CERITA PENDEK.

PENGGUNAAN MEDIA FILM KARTUN DALAM PEMBELAJARAN MENULIS TEKS CERITA PENDEK.

Hasil penelitian yang dilakukan, ternyata data menunjukkan bahwa kelas eksperimen yaitu kelas yang mendapat perlakuan media film kartun memiliki hasil menulis teks cerita pendek yang lebih baik dari pada kelas pembanding. Hasil rata-rata nilai prates untuk kelas eksperimen adalah 61 dan untuk kelas pembanding adalah 62. Artinya, kedua nilai masih di bawah KKM. Nilai KKM Bahasa Indonesia di SMP Negeri 15 Bandung adalah 70. Dapat disimpulkan kedua kelas memiliki kemampuan yang hampir sama sebelum diberi perlakuan.

34 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYIMAK CERITA PENDEK MENGGUNAKAN MEDIA VCD FILM KARTUN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 PEGANDEKAN.

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYIMAK CERITA PENDEK MENGGUNAKAN MEDIA VCD FILM KARTUN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 PEGANDEKAN.

teman lainnya, (3) guru harus lebih sering lagi membimbing dan memotivasi siswa untuk giat belajar dan bersungguh-sungguh dalam menyimak dan mengerjakan soal evaluasi agar hasil yang diperoleh dapat maksimal, (4) kosentrasi siswa dalam menyimak cerita pendek yang ditayangkan lebih ditingkatkan dengan cara menayangkan bahan simakan sebanyak 2 kali atau membiasakan siswa untuk lebih banyak menyimak, (5) guru lebih memberikan kesempatan siswa untuk lebih aktif dalam menjawab pertanyaan dan memberikan pertanyaan terkait bahan simakan yang belum dipahami, serta menceritakan isi cerita yang telah disimak secara singkat dengan bahasa sendiri dan memberikan tanggapan terkait cerita yang disimak, (6) meningkatkan kesungguhan siswa saat mengerjakan soal evaluasi yang diberikan agar hasil yang diperoleh dapat maksimal. (7) membiasakan guru untuk lebih mengoprasikan penggunaan media VCD film kartun dalam proses pembelajaran dan memperbesar gambar atau tayangan cerita yang akan ditayangkan agar siswa lebih jelas dalam menyimak. Oleh karena itu, tindakan kelas ini perlu dilanjutkan pada siklus II.
Baca lebih lanjut

268 Baca lebih lajut

Frekuensi Kemunculan Adegan Kekerasan Dalam Film Kartun (Studi Analisis Isi pada Serial Kartun Naruto Karya Masashi Kishimoto)

Frekuensi Kemunculan Adegan Kekerasan Dalam Film Kartun (Studi Analisis Isi pada Serial Kartun Naruto Karya Masashi Kishimoto)

Berangkat dari fenomena itulah peneliti mencoba menganalisis seberapa besar frekuensi kemunculan adegan kekerasan dalam film kartun. Pemilihan judul film yang diteliti yaitu film kartun Naruto dikarenakan film kartun ini memunculkan banyak protes dari orang tua namun juga menjadi film kartun kesayangan anak-anak mereka. Anak-anak mereka akan selalu setia menunggu episode demi episode serial Naruto yang ditayangkan di televisi atau membeli vcd Naruto yang sudah dijual bebas dipasaran dengan harga yang cukup terjangkau. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar frekuensi kemunculan adegan kekerasan yang terdapat dalam film kartun Naruto. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi dengan perangkat statistik deskriptif. Tujuan dari analisis isi adalah merepresentasikan kerangka pesan secara akurat. Penelitian ini menggunakan unit analisis dialog dan adegan sebagai bagian penting dari sebuah film, dengan struktur kategori berupa kekerasan fisik dengan indikator kekerasan dengan menggunakan tangan kosong,
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Muatan Pendidikan Nilai: Perspektif Pendidikan Kewarganegaraan (Analisis Semiotik Terhadap Film Kartun Upin dan Ipin).

PENDAHULUAN Muatan Pendidikan Nilai: Perspektif Pendidikan Kewarganegaraan (Analisis Semiotik Terhadap Film Kartun Upin dan Ipin).

Film sebagai media pembelajaran harus mengandung misi pendidikan dan pembelajaran. Film kartun sebagai media hiburan juga sebagai media pembelajaran sampai sekarang masih mendapat tempat dihati para pecinta atau penggemarnya. Penggemar film jenis ini tidak memandang usia, meskipun film jenis ini kebanyakan untuk konsumsi anak-anak. Ada juga film kartun untuk usia remaja dan dewasa, yang membedakan film kartun anak-anak dengan film kartun dewasa adalah pada penokohan, tema cerita dan amanat/pesan. Materi-materi yang disajikan dalam film kartun di televisi sekarang ini sangat banyak memberikan penggambaran mengenai kekerasan fisik, adegan perkelahian, adegan yang terkait dengan seks, kekuatan gaib atau mistik, serta penggambaran nilai moral yang tidak eksplisit (Nurdiansyah, 2005:5). Materi-materi tayangan seperti ini sesungguhnya sudah tidak lagi bersahabat dengan anak-anak, karena sudah menjurus pada tayangan antisosial. Gencarnya tayangan yang berbau antisosial di televisi yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak telah membuat khawatir masyarakat terutama para orang tua.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

REPRESENTASI KEKERASAN DALAM FILM KARTUN “BERNARD BEAR” Versi DVD ( Studi Semiotik Representasi Kekerasan Dalam Film Kartun “Bernard Bear Versi DVD ).

REPRESENTASI KEKERASAN DALAM FILM KARTUN “BERNARD BEAR” Versi DVD ( Studi Semiotik Representasi Kekerasan Dalam Film Kartun “Bernard Bear Versi DVD ).

Ringakasan yang diperoleh dari scene 1 pada film Bernard Bear tersebut diambil diluar ruangan tepatnya di disebuah lahan kosong yang terdapat sebuah tong sampah dan terdapat tembok bangunan yang menjadi background, terlihat sedikit langit yang biru, rumput hijau hanya sedikit yang berada disekeliling, batu kerikil.. Busana yang digunakan oleh took dalam film ini adalah tidak ada. Pencahayaan tampak terang benderang namun sedikit gelap pada tembok bagian belakang karena tembok tersbut terhalang oleh tembok yang berada didepannya, dan biasanya dalam film kartun selalu identik dengan pencahayaan yang terang benderang sehingga film dapat terlihat dengan jelas dan dapat dinikmati dengan baik. Pencahayaan terang disini juga menggambarkan suasana hati kedua toko tersebut yang menggebu-gebu dan semangat dan saling bertengkar. Nampak pula kedua tokoh dalam scene ini yang saling berhadapan yaitu zack yang sedang berada diatas bernard. Posisi tersebut menggambarkan bahwa mereka tidak saling bercanda namun bertengkar. Terlihat zack yang sedang memukul kepala bernard.
Baca lebih lanjut

166 Baca lebih lajut

PENERJEMAHAN FILM KARTUN UMARA MIN AS SA

PENERJEMAHAN FILM KARTUN UMARA MIN AS SA

Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yakni sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah film kartun umara min as-sama' khalq al-shira’ 'ala al-hukm wa hikmah sulaiman. Adapun sumber data sekunder peneliti menggunakan serta merujuk pada beberapa buku penerjemahan, jurnal penelitian, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus Arab-Indonesia cetak maupn online, serta internet.

13 Baca lebih lajut

DEIKSIS DALAM PENERJEMAHAN FILM KARTUN A (1)

DEIKSIS DALAM PENERJEMAHAN FILM KARTUN A (1)

Alasan peneliti mengambil film kartun Amra' Min As-Sama' Khalqa Al-Shira’ 'ala Al-Hukm Wa Al-Hikmah Sulaiman dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini, karena film ini sarat akan nilai-nilai pendidikan agama, selain itu film ini juga menghadirkan kisah-kisah nabi terdahulu baik 25 nabi yang wajib diketahui umat Islam ataupun nabi-nabi yang hanya dikenal oleh umat nasrani saja contoh nabi Samuel. Film ini juga mampu menambah pengetahuan serta wawasan penonton. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menjadikannya sebuah judul.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

SIKAP IBU RUMAH TANGGA TERHADAP TAYANGAN FILM KARTUN SPONGEBOB SQUAREPANTS SETELAH MEMBACA BERITA ONLINE (Studi Deskriptif tentang Sikap Ibu Rumah Tangga di Surabaya Terhadap Film Kartun Spongebob Squarepants Setelah Membaca Berita Online tentang Film Kar

SIKAP IBU RUMAH TANGGA TERHADAP TAYANGAN FILM KARTUN SPONGEBOB SQUAREPANTS SETELAH MEMBACA BERITA ONLINE (Studi Deskriptif tentang Sikap Ibu Rumah Tangga di Surabaya Terhadap Film Kartun Spongebob Squarepants Setelah Membaca Berita Online tentang Film Kar

Untuk mengukur variabel sikap masyarakat terhadap berita online tentang film kartun Spongebob tidak baik untuk balita dalam model ini digunakan skala likert digunakan untuk mengukur sikap seseorang, tentang sesuatu objek sikap. Objek sikap ini telah ditentukan secara sistematis dan spesifik oleh peneliti. Indikator-indikator dari variabel sikap terhadap suatu objek merupakan titik tolak dalam membuat pertanyaan atau pernyataan yang harus diisi responden. Setiap pernyataan atau pertanyaan tersebut dihubungkan dengan jawaban yang berupa dukungan atau pertanyaan sikap yang diungkapkan dengan kata-kata : Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Sangat Tidak Setuju, dan Tidak Setuju (TS) (Kriyantono, 2007:134) Dalam penelitian ini meniadakan jawaban ragu-ragu (undecided)
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS FILM KARTUN CERITA RAKYAT BALI LUBDHAKA.

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS FILM KARTUN CERITA RAKYAT BALI LUBDHAKA.

Penyampaian nilai-nilai budi pekerti media pembelajaran berbasis film kartun cerita rakyat Bali Lubdhaka dilakukan melalui skenario dari film kartun. Cerita Lubdhaka lebih menarik dalam bentuk film kartun dengan pemanfaatan efek visual dan efek audio yang dapat mendukung ketertarikan masyarakat yang menonton, sehingga lebih mudah untuk memahami nilai-nilai budi pekerti yang disampaikan, terlebih anak-anak yang lebih mengenal film kartun sebagai hiburan.

1 Baca lebih lajut

KEKERASAN DALAM PROGRAM ANAK (Analisis Isi Kuantitatif Adegan Kekerasan Dalam Film Kartun Spongebob  Kekerasan Dalam Program Anak (Analisis Isi Kuantitatif Adegan Kekerasan Dalam Film Kartun Spongebob Squarepants).

KEKERASAN DALAM PROGRAM ANAK (Analisis Isi Kuantitatif Adegan Kekerasan Dalam Film Kartun Spongebob Kekerasan Dalam Program Anak (Analisis Isi Kuantitatif Adegan Kekerasan Dalam Film Kartun Spongebob Squarepants).

Analisis Isi Kuantitatif Adegan Kekerasan Dalam Film Kartun Spongebob Squarepants ” Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dengan segala keterbatasan yang dimiliki penulis. Melalui skripsi ini, penulis berharap dapat turut berbagi ilmu pengetahuan bagi siapapun yang membutuhkan referensi, khususnya bagi rekanrekan mahasiswa konsentrasi Broadcast and Cinema pada Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Informatika, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Selama penyusunan skripsi ini penulis telah banyak menerima bantuan dari berbagai pihak, untuk itu tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada:
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Dampak Film Kartun Berbahasa Melayu Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Anak Usia Sekolah Dasar di Sukosari, Babadan, Ponorogo Tahun 2018 - Electronic theses of IAIN Ponorogo

Dampak Film Kartun Berbahasa Melayu Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Anak Usia Sekolah Dasar di Sukosari, Babadan, Ponorogo Tahun 2018 - Electronic theses of IAIN Ponorogo

Menurut Bapak Yusron, film kartun Upin dan Ipin yang berbahasa Melayu mempunyai dampak positif dan dampak negatif terhadap penggunaan bahasa Indonesia anak usia Sekolah Dasar. Dampak positif dari tayangan film kartun Upin dan Ipin mempengaruhi pengetahuan anak-anak terhadap penguasaan bahasa khas negara Malaysia dengan cepat dan mudah. Selain berdampak positif, film kartun Upin & Ipin juga berdampak negatif. Film kartun tersebut berpengaruh terhadap berubahnya pelafalan bahasa Indonesia ke bahasa Melayu pada penggunaan bahasa Indonesia anak usia Sekolah Dasar walaupun dianggap tidak fatal. Sebab, mereka tidak sepenuhnya menggunakan bahasa dalam film kartun tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Namun, mereka tetap bisa menirukan dan menggunakan bahasa tersebut meskipun tidak lancar dan belum benar pada kalimat-kalimat tertentu. Jika anak-anak disuguhi tayangan yang berbahasa khas negara lain secara terus-menerus, secara perlahan mereka akan meninggalkan bahasa Indonesia yang semestinya harus mereka gunakan untuk berinteraksi dengan orang lain mengingat mereka sebagai warga negara Indonesia. Hal ini tampak dalam kutipan wawancara berikut ini.
Baca lebih lanjut

123 Baca lebih lajut

TOKOH DORA PADA FILM KARTUN PETUALANGAN DORA SEBAGAI PENGAJARAN   TOKOH DORA PADA FILM KARTUN PETUALANGAN DORA SEBAGAI PENGAJARAN ILMU PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN NILAI.

TOKOH DORA PADA FILM KARTUN PETUALANGAN DORA SEBAGAI PENGAJARAN TOKOH DORA PADA FILM KARTUN PETUALANGAN DORA SEBAGAI PENGAJARAN ILMU PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN NILAI.

Penelitian ini mengambil film kartun Dora di Global TV sebagai film kartun yang bertema pendidikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana tokoh Dora di dalam film kartun petualangan Dora mengajarkan ilmu pengetahuan dan pendidikan nilai kepada penonton, terutama penonton anak-anak pada umumnya dan untuk mengetahui fungsinya sebagai media massa.

10 Baca lebih lajut

PENERJEMAHAN FILM KARTUN AMRA docx

PENERJEMAHAN FILM KARTUN AMRA docx

Alasan penulis mengambil film kartun Amra' Min As-Sama' Khalqa Al-Shira’ 'ala Al-Hukm Wa Al-Hikmah Sulaiman untuk dijadikan objek dalam penelitian ini, karena film ini sarat akan nilai-nilai pendidikan agama, selain itu film ini juga menghadirkan kisah-kisah nabi terdahulu baik 25 nabi ataupun nabi-nabi yang hanya dikenal oleh umat nasrani saja. Film ini juga mampu menambah pengetahuan serta wawasan penonton. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menjadikannya sebuah judul.

13 Baca lebih lajut

Bias Gender Dalam Film Kartun Anak

Bias Gender Dalam Film Kartun Anak

Adapun pencitraan-pencitraan tersebut dapat kita jumpai dalam film kartun anak-anak yang secara tidak langsung merepresentasikan bias gender seperti perilaku perempuan yang digambarkan cantik, emosional, lemah disisi lain sang pria menggambarkan sosok yang kuat, gagah berani, heroik dan lain sebagainya. Tayangan film kartun dapat dikatakan sebagai salah satu produk media massa saat ini, melalui penggambaran tokoh-tokoh animasi yang terdapat dalam film kartun tersebut menunjukan masih terdapatnya superioritas tokoh pria yang mendominasi tokoh wanita hampir pada setiap adegan yang ditampilkan. Peran yang digambarkan tokoh tersebut secara tidak langsung memberikan dampak secara psikologis terhadap pola interaksi yang terjadi antara anak pria dan anak perempuan sebagai audience. Hal ini menunjukan bahwa apakah penggambaran tokoh pada film kartun tersebut dipengaruhi oleh perspektif bias gender terbentuk oleh kebudayaan patriakis di masyarakat yang telah mengakar Ataukah persepektif tersebut dibentuk oleh keberadaan media massa yang mempengaruhi pemikiran masyarakat itu sendiri?
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH DISTRAKSI VIDEO FILM KARTUN TERHADAP KECEMASAN ANAK USIA 6-8 TAHUN SELAMA TINDAKAN DENTAL  Pengaruh Distraksi Video Film Kartun Terhadap Kecemasan Anak Usia 6-8 Tahun Selama Tindakan Dental Di Rs Tk Iv 04.07.02 Slamet Riyadi Surakarta.

PENGARUH DISTRAKSI VIDEO FILM KARTUN TERHADAP KECEMASAN ANAK USIA 6-8 TAHUN SELAMA TINDAKAN DENTAL Pengaruh Distraksi Video Film Kartun Terhadap Kecemasan Anak Usia 6-8 Tahun Selama Tindakan Dental Di Rs Tk Iv 04.07.02 Slamet Riyadi Surakarta.

Kecemasan dental pada anak menyebabkan kegagalan dalam perawatan gigi karena sering menunda perawatan yang dapat membuat kondisi gigi semakin parah. Kecemasan berasal dari rasa takut yang kemudian direspon oleh medulla adrenal yang dapat merangsang saraf simpatik dan menghasilkan eprinephrine yang menyebabkan meningkatnya denyut nadi. Film kartun merupakan salah satu distraksi yang dipercaya dapat menurunkan denyut nadi ketika anak merasa cemas selama tindakan dental. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh distraksi visual berupa video film kartun terhadap kecemasan anak usia 6-8 tahun selama tindakan dental. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuasi eksperimen dengan jumlah sampel sebanyak 30 anak yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 15 anak pada kelompok perlakuan dan 15 anak pada kelompok kontrol. Perlakuan dengan memperlihatkan film kartun selama anak menerima tindakan dental. Indikator tingkat kecemasan pasien dengan denyut nadi yang diukur dengan menggunakan alat denyut nadi digital (oxymeter). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan uji independent t-test. Hasil penelitian menunujukkan bahwa hasil rerata selisih denyut nadi pada kelompok kontrol (tanpa menggunakan distraksi video film kartun) mengalami kenaikan sebesar 5,67 sedangkan pada kelompok perlakuan (dengan menggunakan distraksi film kartun) mengalami penurunan sebesar 10,00. Hasil uji analisis independent t-test menunjukkan nilai p = 0,000). Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan bermakna antara rata-rata selisih denyut nadi sebelum dan sesudah antara anak yang diberikan atau tanpa diberikan distraksi film kartun pada saat dilakukan tindakan dental, dimana anak yang diberikan distraksi mengalami penurunan kecemasan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

BENTUK KEKERASAN PADA FILM KARTUN DI TELEVISI ( ANALISIS ISI PADA SERIAL KARTUN DORAEMON )

BENTUK KEKERASAN PADA FILM KARTUN DI TELEVISI ( ANALISIS ISI PADA SERIAL KARTUN DORAEMON )

3 anak. Film anak – anak ini biasanya dikemas dalam bentuk film kartun. Sesuai dengan karakter anak – anak yang sangat menyukai gambar dan warna yang lucu. Pada awalnya film kartun memang dibuat sebagai sarana hiburan untuk anak – anak. Namun dalam perkembangannya tidak sedikit orang dewasa yang mulai menyukai film kartun. Sehingga membuat para industri film mulai memperluas ruang gerak film kartun baik dari segi tema cerita maupun gambarnya dengan tujuan memperluas segmentasi penontonnya.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Pornomedia Pada Film Kartun (Analisis Isi Pornomedia pada Tayangan Film Kartun di ANTV dan Global TV ).

Pornomedia Pada Film Kartun (Analisis Isi Pornomedia pada Tayangan Film Kartun di ANTV dan Global TV ).

Dari keseluruhan adegan film kartun yang ditampilkan ini, satu hal yang timbul adalah bahwa korban dari pornomedia itu sendiri adalah khalayak umum bukan lagi perorangan atau pun antar jenis kelamin, namun pornomedia itu sendiri telah diperlihatkan didepan khalayak masyarakat/umum. Bahkan untuk pelaku pornomedia tersebut bukan lagi orang dewasa melainkan anak-anak usia remaja. Anak-anak yang selalu digambarkan sebagai pihak yang lemah dalam susunan masyarakat bahkan identik sebagai korban pornomedia berubah menjadi sosok pelaku pornomedia itu sendiri. Dan untuk pelaku pernomedia yang umumnya identik dengan dunia laki-laki, dalam penelitian di ANTV, pelaku pornomedia tersebut dilakukan oleh wanita dewasa. Sosok wanita yang kita kenal sebagai sosok yang lemah, yang juga selalu menjadi korban kekerasan bahkan korban pornomedia karena selalu dilecehkan kini menjadi sosok yang melakukan pornomedia itu sendiri dalam film-film kartun yang tayang di program acara stasiun televisi di Indonesia. Dan film-film kartun ini disaksikan oleh anak-anak karena film kartun dianggap sangat menarik, ini hanya berlaku bagi film kartun yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta Indonesia, bagaimana pula dengan keluarga yang mengkonsumsi
Baca lebih lanjut

148 Baca lebih lajut

MUATAN PROSOSIAL DALAM FILM KARTUN ( Analisis Isi Pada Film Kartun “Tom and Jerry Meet Sherlock Holmes” )

MUATAN PROSOSIAL DALAM FILM KARTUN ( Analisis Isi Pada Film Kartun “Tom and Jerry Meet Sherlock Holmes” )

Sesuai perkembangan zaman, di dunia industri film kartun juga berkembang setelah munculnya dunia komputer, film kartun pun mengalami banyak perkebangan. Dengan komputer segala bentuk animasi dapat mudah dilakakuakan dengan biaya yang lebih murah dan efisien. Mulai dari film kartun 2D dan 3D bisa dikerjakan dengan mudah. Hanya butuh ketrampilan dalam mendesign objek dan menggerakkan objek agar tampak alami. Film kartun 2D umunya dikerjakan dengan manual seperti membuat animasi, inbetween dan clean up. Adapula gambar background\latar dibuat secara manual sampai dengan pewarnaan. Contoh film 2D ; ”The Old Parent”, “Power Puff Girl”, “KimPosible”. Sedangkan film kartun 3D seluruh pengerjaannya dilakukan secara komputerisasi. Mulai dari design sampai pemberian material dilakukan di komputer. Contoh film 3D: “Toy Story”, “Bug Life”, ”Chiken Life”, ”Jimm Neutro n” .
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Show all 6613 documents...