filosofis dan metodologis

Top PDF filosofis dan metodologis:

ANALISIS METODOLOGIS-FILOSOFIS KONSEP TAFSIR JAMÂL AL-BANNÂ

ANALISIS METODOLOGIS-FILOSOFIS KONSEP TAFSIR JAMÂL AL-BANNÂ

Abstrak: Artikel ini mencoba untuk mengulas metode penafsiran Jamâl al-Bannâ secara metodologis dan filosofis. Dimulai dengan upaya untuk mendekonstruksi interpretasi hasil dari semua mufasir klasik, Jamâl al-Bannâ mengusulkan tiga tahap dalam penafsiran al-Qur’an, yaitu pendekatan seni, pendekatan psikologis, dan pendekatan rasional. Ketiganya merupakan tahapan hierarkis untuk bisa sampai pada sebuah penafsiran. Setelah bisa sampai pada tahap penafsiran, Jamâl al-Bannâ tidak merekomendasikan metode tertentu atau membatasi ilmu pengetahuan tertentu sebagai metode analisa penafsiran. Ia menolak jika salah satu metode tertentu memiliki garansi sebagai satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran, karena al-Qur’an tidak harus dibatasi. Dalam sosiologi pengetahuan, pemikirannya mirip dengan Against Method (Anarkisme Metode) Paul K. Feyerabend. Bagi Jamâl al-Bannâ, manusia sangat otonom dan bebas untuk menafsirkan selama itu sejalan dengan prinsip-prinsip humanis dan universal yang terkandung dalam al-Qur’an.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pengawasan Terhadap Izin Tata Ruang dan Bangunan Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan

Pengawasan Terhadap Izin Tata Ruang dan Bangunan Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan

DAFTAR PUSTAKA Buku Bungin, Burhan Analisis Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2003.[r]

2 Baca lebih lajut

STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBAHASA (Studi Multi Situs di Pondok Persantren Darul Hikmah Tawangsari Tulungagung dan Pondok Pesantren Al Kamal Kunir Blitar) - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBAHASA (Studi Multi Situs di Pondok Persantren Darul Hikmah Tawangsari Tulungagung dan Pondok Pesantren Al Kamal Kunir Blitar) - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Bungin, Burhan, 2005, Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada.. Chairani, Lisya dan Su[r]

3 Baca lebih lajut

STUDI AGAMA-AGAMA (Wacana Pengantar Metodologis)

STUDI AGAMA-AGAMA (Wacana Pengantar Metodologis)

Banyak sarjana terkemuka mempertanyakan keabsahan penerapan metode-metode dan teknik eksperimental (uji coba), kuantitatif (pengujian teori di lapangan), dan penelitian kausal (sebab-akibat) terhadap dunia ruhani. Di sisi lain, pandangan filosofis tentang kebebasan jiwa banyak ditekankan oleh para sarjana, di antaranya adalah Bergson, Dilthey, Balfour, Von Hugel, Troeltsch, Husserl, Scheler, Temple, Otto, Yung, Beillie, Berdyaev, dan lain-lain. Oleh karena itulah, agar metode itu sesuai dengan sasaran yang diteliti, yaitu agama, maka fenomena individu, hakikat nilai, dan arti kebebasan harus diakui, sebagaimana hasil penelitian yang ditunjukkan oleh William James 13 . Hasil utama penelitian James adalah variasi khas pengalaman keberagamaan setiap orang, meskipun mereka berada dalam bimbingan hakikat nilai yang sama dalam satu agama sekalipun, apalagi antar individu dalam agama-agama yang berbeda.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PEMIKIRAN METODOLOGIS A. MUKTI ALI TENTANG PENELITIAN AGAMA ipi441551

PEMIKIRAN METODOLOGIS A. MUKTI ALI TENTANG PENELITIAN AGAMA ipi441551

Selanjutnya, Mukti Ali mengemukakan beberapa metode atau pendekatan yang selama ini telah digunakan dalam studi agama. Pertama, pendekatan sejarah, yaitu pendekatan yang berusaha untuk menelusuri asal-usul dan pertumbuhan ide-ide agama dan lembaga-lembaganya berdasarkan periode- periode dari perkembangan tertentu serta berusaha memahami kekuatan-kekuatan yang ada pada agama itu dalam periode tertentu dalam menghadapi berbagai masalah. Para ahli sejarah agama seringkali menggunakan penelitian-penelitian arkeologis dan filologis dalam mengkaji agama. Mereka melakukan studi yang diteliti terhadap monumen-monumen dan bukti-bukti literer dari masa lalu. Kedua, pendekatan psikologis yang digunakan oleh para ahli psikologi, yaitu pendekatan yang berusaha memahami sisi dalam dari pengalaman agama di mana dan kapan saja pengalaman itu terjadi. Pendekatan ini juga berusaha memahami perasaan indidividu dan kelompok berserta dengan dinamikanya. Ketiga, pendekatan sosiologis, pendekatan ini semula menggunakan metode sosiologi umum yang dicetuskan oleh ahli sosiologi yang kemudian dikoreksi oleh pendiri sosiologi agama. Keempat, pendekatan fenomenologi agama yang menurut Mukti Ali sendiri merupakan metode baru dalam studi agama. Pendekatan ini bertujuan untuk melihat ide-ide agama, amalan-amalan, dan lembaga-lembaganya dengan mempertimbangkan tujuannya tanpa menghubungkannya dengan teori- teori filosofis, teologis, metafisis atau psikologis. Dengan mengikuti pandangan Scheler, Ali menjelaskan bahwa metode fenomenologi diaplikasikan dalam studi agama dengan cara membiarkan manifestasi- manifestasi pengalaman agama untuk bicara bagi dirinya sendiri daripada memaksakan manifestasi- manifestasi itu dimasukkan pada suatu skema yang sudah ditentukan lebih dahulu. Pendekatan fenomenologis memiliki prosedur ganda, yaitu epoche (penghentian sementara dari semua usaha untuk mengetahui kebenaran) dan eiditic vision (mencari esensi yang dalam fenomena agama). Kelima, metode tipologis yang merupakan jembatan antara penelitian empiris dan normatif. Fenomena yang diberikan oleh sejarah, psikologi dan sosiologi agama harus diatur. Untuk hal ini diperlukan kategori-kategori tipologis. Penyusunan tipe-tipe ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang sejarah agama. Tipe-tipe mitos, teologi, peribadatan, karisma agama, kepemimpinan, pengelompokan dan otoritas agama merupakan beberapa tipe yang dikaji melalui pendekatan tipologis. 48
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Kajian Historis dan Filosofis Kujang

Kajian Historis dan Filosofis Kujang

Secara umum, kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai nilai estetika yang bermakna filosofis dan simbolis budaya Sunda. Di mana nilai dan makna tersebut mempunyai kekuatan tertentu bersifat mistis yang berasal dari Hyang Tunggal. Sebagai sebuah wesi aji atau pusaka sejak dahulu hingga saat ini kujang menempati satu posisi yang sangat khusus dalam masyarakat Sunda.Bagi masyarakat Sunda, upaya untuk mengungkap makna dibalik perupaan sebuah artefak, yang dalam penelitian ini adalah kujang, tidak dapat dilakukan dengan mengadopsi cara atau pendekatan yang keluar dari konteks cara ungkap masyarakatnya sendiri. Dengan demikian, cara atau pendekatan yang dipergunakan dalam mengungkap dimensi intrinsik dari artefak Sunda seperti Ilmu Palintangan Sunda Buhun (Sunda Lama) berdasarkan disiplin Aksara Sansakerta atau Ha Na Ca Ra Ka (cacarakan) berdasarkan kitab Sastra Jendra Hayuningrat, Pola Tiga Sunda (Kosmologi Sunda), Pancaniti atau Lima Titian Ilmu, Konsep Estetika Sunda pada Kujang, Konsep Perupaan Kujang, merupakan cara atau pendekatan yang benar dan relevan dalam konteks filsafat timur, maupun filsafat seni. Hal ini dikarenakan cara atau pendekatan tersebut berlandaskan kepada tuntunan kehidupan masyarakat Sunda yang merupakan cara mereka berfilsafat, membangun pengetahuan berikut kekuatan penjelasannya (explanatory power), membangun jarak estetik, sekaligus kritis, dengan artefak-artefak warisan budayanya sendiri.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pendekatan Filosofis dalam Studi Islam

Pendekatan Filosofis dalam Studi Islam

Diketahui bahwa islam sebagai agama yang memiliki banyak dimensi, yaitu mulai dari dimensi keimanan, akal pikiran, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, sejarah, kehidupan rumah tangga, dan masih banyak lagi. Untuk memahami berbagai dimensi ajaran islam tersebut jelas memerlukan berbagai pendekatan yang digali dari berbagai disiplin ilmu. Salah satu pendekatannya adalah pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG PENDIDIK Anal

TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG PENDIDIK Anal

Anak beradab berarti anak yang mempunyai tingkah laku atau budi pekerti yang baik serta terpuji dalam kesehariannya.14 Masih banyak kaitannya kata dalam bahasa arab yang menunujukkan a[r]

18 Baca lebih lajut

Paradigma dan Landasan Filosofis Penelitian

Paradigma dan Landasan Filosofis Penelitian

• Perspektif akan mempengauhi defnisi, model atau teori kita yang pada gilirannya mempengaruhi cara kita melakukan penelitian • Oleh karena setiap peneliti memandang bidang ilmunya[r]

41 Baca lebih lajut

REFLEKSI FILOSOFIS DALAM MATEMATIKA KELA

REFLEKSI FILOSOFIS DALAM MATEMATIKA KELA

Hampir tiga puluh tahun yang lalu beberapa peneliti Jerman yang terkenal dalam filsafat matematika dan matematika pendidikan mengajukan pertanyaan apakah filsafat harus diintegrasikan ke dalam kelas matematika (cf. Otte 1977). Para peneliti secara ekstensif membuat saran bagaimana memasukkan pertimbangan filosofis dalam pendidikan matematika. Akan tetapi, meskipun semua penulis menyepakati pentingnya pertimbangan filosofis di kelas matematika, mereka harus mengakui bahwa praktik kelas tidak mencerminkan kepentingan ini.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

2 landasan filosofis TP

2 landasan filosofis TP

MISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN  Melakukan pendekatan integratif dengan semua kegiatan pembangunan di bidang pendidikan, pelatihan & pembelajaran  Menyediakan tenaga kompeten untuk mengel[r]

16 Baca lebih lajut

Landasan dan Kerangka Filosofis HKI.

Landasan dan Kerangka Filosofis HKI.

Para kaum libertarian mengkritik eksistensi HKI. Teori ini dipelopori oleh Palmer (1989) yang membangun sebuah argumen yang mengkritisi perspektif filosofis yang dominan dalam memberi justifikasi terhadap perlindungan HKI. Sejalan dengan ini, Barlow (1994) berpendapat bahwa sistem HKI mengancam dan merusak kebebasan pertukaran ide-ide melalui internet dan memungkinkan kepentingan perusahaan untuk menjalankan kontrol yang besar atas ekspresi budaya dan politik (Menell, 1999: 159).

12 Baca lebih lajut

LANDASAN FILOSOFIS DAN PSIKOLOGIS PENGEM

LANDASAN FILOSOFIS DAN PSIKOLOGIS PENGEM

Mengacu pada landasan filosofis pengembangan kurikulum di atas, maka tampak bahwa pengembangan kurikulum itu pada hakikatnya adalah pengembangan komponen-komponen yang membentuk sistem kurikulum itu sendiri serta pengembangan komponen pembelajaran sebagai implementasi kurikulum. Landasan fiosofis pengembangan kurikulum juga merupakan sistem nilai yang harus menjadi dasar dalam menentukan tujuan pendidikan. Sistem nilai bangsa Amerika misalnya, adalah bersifat liberalis demokratis, maka dengan demikian tujuan pendidikan di Amerika adalah membentuk manusia liberalis-demokratis. Begitu pula dengan sistem nilai di Tiongkok atau negara-negara Timur Tengah dan lain sebagainya. Di Indonesia, sistem nilai yang berlaku adalah Pancasila. Oleh sebab itu membentuk manusia yang Pancasilais merupakan tujuan dan arah segala ikhtiar berbagai level dan jenis pendidikan. Dengan demikian, isi kurikulum yang disusun harus memuat dan mencerminkan nilai-nilai
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KONSEP FILOSOFIS TENTANG visi ARTI

KONSEP FILOSOFIS TENTANG visi ARTI

Atas dasar ini dapat dikatakan bahwa para ahli pendidikan Islam pada hakikatnya sependapat bahwa tujuan umum pendidikan Islam adalah terbentunya manusia yang baik, yaitu manusia yang ber[r]

8 Baca lebih lajut

Penerjemahan Simbol-Simbol Verbal Religi pada Kitab Wahyu.

Penerjemahan Simbol-Simbol Verbal Religi pada Kitab Wahyu.

Hasil pembahasan yang menyangkut proses transfer TSu ke TSa pada tataran ideologi menghasilkan kebaruan metodologis berupa landasan berpikir bahwa keseluruhan proses analisis terhadap produk terjemahan Alkitab sebaiknya selalu mengacu pada ideologi yang telah ditetapkan. Pemikiran ini menghasilkan temuan berupa taksonomi prosedur/teknik penerjemahan yang dikategorisasi berdasarkan pada ideologi. Selanjutnya, pada tataran strategi serta pengaruhnya terhadap kesepadanan mengungkapkan tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketidaksepadanan diantaranya ialah (1) ketidaktaatan penerjemah pada ideologi dalam menerapkan strategi penerjemahan, (2) BSu produk terjemahan Alkitab termasuk di dalamnya Kitab Wahyu yang tidak hanya mengacu pada bahasa Inggris tetapi juga bahasa Yunani sebagai bahasa asli dari kitab-kitab PB, dan (3) rendahnya tingkat pemahaman penerjemah terhadap makna simbol sehingga meskipun menerapkan prosedur/teknik yang sesuai dengan ideologi akan tetap menghasilkan makna yang tidak sepadan dengan BSu. Analisis terhadap strategi penerjemahan juga mengahasilkan temuan tentang pemanfaatan prosedur/teknik penerjemahan baru (di luar taksonomi), yaitu penerjemahan legisign sebagai objek tanda.
Baca lebih lanjut

137 Baca lebih lajut

LANDASAN FILOSOFIS MANAJEMEN BERBASIS SE

LANDASAN FILOSOFIS MANAJEMEN BERBASIS SE

KAITAN PENDIDIKAN DENGAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH MBS  PENDIDIKAN NILAI Di Indonesia pendidikan nilai yang dominan adalah pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan agama.. Kedua [r]

7 Baca lebih lajut

Landasan Filosofis Manajemen Berbasis Se

Landasan Filosofis Manajemen Berbasis Se

odul 1 ini memuat tentang alasan-alasan diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Alasan tersebut secara garis besar terbagi dua, yaitu alasan yang bersifat filosofis dan alasan yang berlandaskan pada hukum atau peraturan perundangan. Kegiatan Belajar 1 diawali dengan mengulas tentang fungsi pendidikan dikaitkan dengan perkembangan zaman dan dilanjutkan dengan uraian tentang model pendidikan dikaitkan dengan perkembangan zaman. Uraian tentang fungsi pendidikan dikaitkan dengan perkembangan zaman masih bersifat umum, sementara uraian tentang model pendidikan dikaitkan dengan perkembangan zaman sudah lebih mengarah pada MBS atau MBS merupakan salah satu pendekatan yang diharapkan dapat mengakomodasikan model pendidikan yang diinginkan. Alasan lain yang bersifat filosofis tercakup dalam Kegiatan Belajar 2, yang membahas tentang pendidikan nilai dikaitkan dengan MBS. Di sini juga tampak bahwa MBS merupakan salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk mengakomodasi pendidikan nilai. Dalam Kegiatan Belajar 2 ini, lebih ditekankan dengan mengajukan alasan perlunya MBS disebarkan secara meluas. Kegiatan Belajar 3 memuat tentang alasan yang berupa landasan hukum atau peraturan perundang-undangan (biasa disebut legal basis), dalam hal ini adalah Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam uraian dikemukakan banyak bab yang terkait dengan MBS secara umum dan ada pula satu bab yang secara tegas menyatakan tentang penerapan MBS atau madrasah.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

PENDEKATAN FILOSOFIS TERHADAP MULTIKULTURALISME INDONESIA

PENDEKATAN FILOSOFIS TERHADAP MULTIKULTURALISME INDONESIA

Pertama, kesadaran tentang ketegangan filosofis antara kesatuan dan perbedaan (one and many). David Miller menulis bahwa multikulturalisme radikal menekankan perbedaan-perbedaan antarkelompok budaya dengan mengorbankan berbagai persamaan yang mereka miliki dan dengan demikian multikulturalisme akan melemahkan ikatan-ikatan solidaritas yang berfungsi mendorong para warga negara untuk mendukung kebijakan-kebijakan redistributif dari negara kesejahteraan. Hal ini, komentar Anne Phillips akan menghancurkan kohesi sosial, melemahkan identitas nasional, mengosongkan sebagian besar dari isi konsep kewarganegaraan ‖ . Jika telah sampai pada titik yang berbahaya, multikulturalisme radikal akan membangkitkan semangat untuk memisahkan diri atau separatisme dalam psike kelompok-kelompok kultural.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pendekatan Filosofis dalam Kajian Fikih

Pendekatan Filosofis dalam Kajian Fikih

Karena sifatnya reflektif, makadibutuhkan kemampuan kognitif untuk menjabarkan teks-teks agama yang bersifat ‘idealis’ ke dalam realitas sosial yang empirik, dari dalil-dalil hukum ke dalam peristiwa-peristiwa yang belum ada hukumnya. Nah, di sinilah letak urgensitas ijtihad. Jadi, ijtihad sebenarnya merupakan proses berpikir filosofis (mendalam) dalam rangka untuk mendapatkan produk fikih. Menurut para ulama, karena fikih timbul dari hasil ijtihad, maka diperlukan perangkat tertentu yang mengatur pencapaian produk-produk fikih yang dikenal dengan ushûl fikih(legal theory) dan qawâ’id fikihiyyah(legal maxim). Yang pertama dipahami oleh para yuris muslim sebagai bangunan prinsip dan metodologi investigatif yang dengannya aturan- aturan hukum prkatis memperoleh sumber-sumber partikularnya. Sedangkan yang kedua lebih bercorak sebagai pedoman pengambilan hukum-hukum agama secara praktis, yang menentukan bentuk akhir keputusan hukum yang akan diambil jika kondisi dan persyaratan yang melatarbelakangi suatu masalah yang tadinya sudah diputuskan telah mengalami perubahan. 10
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Landasan Filosofis dan Teoritis Standar

Landasan Filosofis dan Teoritis Standar

Dari paparan-paparan di atas dapat disimpulkan bahwa baik landasan filosofis maupun landasan teoritis dari KBK 2004/KTSP 2006 mengarah pada penerapan Hallidayan’s Systemic Functional Linguistics . Pertanyaan mendasar untuk LPTK Bahasa Inggris (FKIP UNRAM salah satunya) adalah sudahkah LPTK mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan? Dengan kata lain, apakah dengan kurikulum yang ada sudah mampu membekali mahasiswa calon guru dengan kemampuan-kemampuan yang dituntut di atas? Kalau ya, di bagian mana konsep-konsep tersebut diberikan? Perubahan besar yang terjadi di sekolah menuntut lebih dari sekadar sisip-menyisipkan pada mata kuliah tertentu, tetapi harus jelas porsinya. Menurut pengamatan penulis, sampai rekonstruksi terakhir kurikulum Bahasa Inggris FKIP UNRAM, belum tampak adanya perubahan ke arah pemenuhan kebutuhan lapangan dalam hal peningkatan kompetensi pedagogis maupun profesionalnya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects