fraksi air

Top PDF fraksi air:

Penetapan kandungan fenolik total fraksi air ekstrak etanolik biji trembesi (samanea saman (jacq.) merr.) dan aktivitas antioksidan menggunakan radikal 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (dpph)”.

Penetapan kandungan fenolik total fraksi air ekstrak etanolik biji trembesi (samanea saman (jacq.) merr.) dan aktivitas antioksidan menggunakan radikal 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (dpph)”.

sebagai obat tambahan saat mandi air hangat untuk mencegah kanker (Hartwell, 1971). Daun trembesi dapat digunakan untuk obat tradisional antara lain demam, diare, sakit kepala dan sakit perut (Duke,1983). Ekstrak daun trembesi memiliki kandungan antimikroba terhadap Escherichia coli, Staphyloccus aureus, Candida albican dan Xanthomonas. Dari hasil penelitian sebelumnya diperoleh data bahwa trembesi mengandung tannin, flavonoid, saponin dan terpenoid (Prasad, Viswanathan, Nayak, Swetha, Archna, Parathasarathy and Rajkumar, 2008 ; Raghavendra, Satish and Raveesha, 2008). Pada penelitian ini yang diuji adalah biji, karena jumlahnya yang tersedia relatif banyak, mudah diperoleh dan dapat dimakan khusus dibuat tempe sebagai pengganti kedelai (Solikhah, 2009). Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk melakukan pengukuran fenolik total dari ekstrak etanol fraksi air dari biji trembesi dan aktivitas antioksidan. Sebab fenolik total memiliki korelasi yang baik dengan aktivitas antioksidan sehingga dapat dilakukan penelitian terhadap keduanya.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Toksisitas Fraksi Heksan, Fraksi Kloroform dan Fraksi Air Sisa Ekstrak Etanol Daun Ketela Gendruwo dengan Brine Shrimp Lethality Test - Ubaya Repository

Toksisitas Fraksi Heksan, Fraksi Kloroform dan Fraksi Air Sisa Ekstrak Etanol Daun Ketela Gendruwo dengan Brine Shrimp Lethality Test - Ubaya Repository

Daun Ketela Gendruwo disari dengan cara maserasi kinetik menggunakan pelarut etanol 80 % kemudian ekstrak etanol difraksinasi dengan menggunakan pelarut n- heksan dan kloroform sehingga diperoleh fraksi heksan, fraksi kloroform dan fraksi air sisa. Larva Artemia salina Leach yang digunakan adalah yang berumur 48 jam dan diberi perlakuan selama 24 jam dengan larutan uji fraksi heksan pada konsentrasi 15 μg/ml, 30 μg/ml, 45 μg/ml, 60 μg/ml, 120 μg/ml, fraksi kloroform pada konsentrasi 20 μ g/ml, 30 μ g/ml, 40 μ g/ml, 50 μ g/ml, 100 μ g/ml, dan fraksi air sisa ekstrak uji pada konsentrasi 10 μg/ml, 20 μg/ml, 30 μg/ml, 40 μg/ml, 100 μ g/ml. Dari data kematian larva Artemia salina Leach diolah dengan menggunakan Probit Analysis Program sehingga dapat disimpulkan fraksi heksan, fraksi kloroform, dan fraksi air sisa ekstrak Daun Ketela Gendruwo (Manihot utilissima Pohl) mempunyai efek toksik dengan nilai LC 50 pada fraksi
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

FRAKSI AIR DAUN SUKUN ayu

FRAKSI AIR DAUN SUKUN ayu

FRAKSI AIR DAUN SUKUN Artocarpus altilis SEBAGAI ANTIHIPERURISEMIA TERHADAP MENCIT JANTAN YANG DIINDUKSI Pottasium Oxonat AYU WAHYUNI Program study Farmasi Universitas Tulang Bawang La[r]

2 Baca lebih lajut

Antidiabetes dari Fraksi Air Daun Karamu

Antidiabetes dari Fraksi Air Daun Karamu

Selama 15 hari perlakuan terjadi perubahan berat badan mencit. Mencit diabetes mengalami penurunan berat badan. Hal ini karena pada kondisi diabetes glukosa yang ada tidak bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi.Untuk memenuhi energi tubuh maka lemak dan protein pada jaringan otot dan adiposa di katabolisme secara berlebihan. Berat badan mencit diabetes yang diberi fraksi air ekstrak daun karamunting dengan dosis 20 dan 40 mg/kgBB mengalami penurunan berat badan pada hari ke-5, 10, dan 15. Hal ini mungkin disebabkan karena kandungan dari fraksi air ekstrak etanol daun karamunting yang menyebabkan perubahan nafsu makan mencit sehingga terjadi perubahan berat badan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Toksisitas Fraksi Heksan, Fraksi Kloroform, dan Fraksi Air Sisa dari Ekstrak Etanol Biji Pepaya (Carica papaya L.) dengan Brine Shrimp Lethality Test - Ubaya Repository

Toksisitas Fraksi Heksan, Fraksi Kloroform, dan Fraksi Air Sisa dari Ekstrak Etanol Biji Pepaya (Carica papaya L.) dengan Brine Shrimp Lethality Test - Ubaya Repository

Telah dilakukan penelitian uji toksisitas fraksi heksan, fraksi kloroform,dan fraksi air sisa dari ekstrak etanol biji pepaya (Carica papaya L.) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test terhadap larva Artemia salina Leach. Kandungan senyawa biji pepaya disari dengan cara maserasi kinetik menggunakan pelarut etanol 90%. Kemudian difraksinasi dengan menggunakan n-heksan, dan kloroform. Larva yang digunakan adalah Artemia salina Leach yang diberi perlakuan selama 24 jam dengan larutan ekstrak uji masing – masing pada fraksi heksan 25 μ g/ml, 50 μ g/ml, 75 μ g/ml, 100 μg/ml, fraksi kloroform dengan larutan ekstrak uji masing – masing 101 μg/ml, 102 μg/ml, 103 μg/ml, 104 μg/ml, 105 μg/ml serta fraksi air sisa dengan larutan ekstrak uji p100 μ g/ml, 200 μ g/ml, 300 μ g/ml, 400 μ g/ml, 500 μ g/ml. Data kematian larva Artemia salina Leach dicatat dan diolah dengan menggunakan Probit Analisis Program untuk menentukan nilai LC 50 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi heksan, fraksi
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Toksisitas Fraksi Heksan, Fraksi Kloroform, Dan Fraksi Air Sisa Dari Ekstrak Etanol Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya L.) Dengan Brine Shrimp Lethality Test - Ubaya Repository

Toksisitas Fraksi Heksan, Fraksi Kloroform, Dan Fraksi Air Sisa Dari Ekstrak Etanol Kulit Buah Pepaya (Carica Papaya L.) Dengan Brine Shrimp Lethality Test - Ubaya Repository

Telah dilakukan penelitian Uji Toksisitas Fraksi Heksan, Fraksi kloroform, Fraksi Air sisa Etanol kulit Buah pepaya (Carica papaya.L) menggunakan Metode Brine Shrimp Lethality Test terhadap larva Artemia salina Leach sebagai hewan uji. Kandungan senyawa yang terdapat pada kulit Buah pepaya disari dengan cara maserasi kinetik menggunakan pelarut etanol 90 %.kemudian ekstrak etanol difraksinasi dengan menggunakan pelarut heksan dan kloroform. Hasil dari masing-masing dipekatkan sehingga diperoleh fraksi heksan, fraksi kloroform dan fraksi air sisa. Larva Artemia salina Leach yang digunakan adalah yang berumur 48 jam diberi perlakuan selama 24 jam dengan larutan faksi heksan, fraksi kloroform ekstrak uji pada konsentrasi 100 μ g/ml, 200 μ g/ml, 300 μ g/ml, 400µg/ml, 500 µg/ml dan fraksi air sisa ekstrak uji pada kosentrasi 400 μg/ml, 500 μ g/ml, 600 μ g/ml, 750µg/ml, 800 µg/ml. Data kematian larva Artemia salina Leach dicatat dan diolah untuk menentukan harga LC 50 . Hasil penelitian
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

UJI EFEK ANTIINFLAMASI FRAKSI AIR EKSTRA

UJI EFEK ANTIINFLAMASI FRAKSI AIR EKSTRA

The anti-inflammatory activity of EEMM leaves against sub-acute inflammation was tested by Granuloma pouch method. Rats were anesthetized with ether, and subcutaneous dorsal air pouches were then prepared at the backs, by injecting 20 ml of air with the help of a fine needle, after proper shaving and disinfection. Then 1 ml of 20% carrageen an suspension in sesame oil was injected into each pouch; 48 h later air was withdrawn from the pouch and 72 h later any resulting adhesions were broken. The animals were treated with 3% gum acacia, EEMM, or aspirin in the respective groups for 4 days starting from the day of pouch formation. On the 5th day, the animals were sacrificed under ether anaesthesia. The pouch was opened and exudates were sucked out and the amount
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Fraksi Air Dan Kloroform Ekstrak Daun Be

Fraksi Air Dan Kloroform Ekstrak Daun Be

Sebagai Diuretik Terhadap Tikus Putih Jantan Rafiqa Hapsari Program study Farmasi Universita Tulang Bawang Lampung, Indonesia E-mail : rafiqahapsari33@gmail.com.[r]

1 Baca lebih lajut

Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol serta Fraksi n-Heksana Etilasetat dan Air Herba Kurmak Mbelin (Enydra fluctuans Lour.)

Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol serta Fraksi n-Heksana Etilasetat dan Air Herba Kurmak Mbelin (Enydra fluctuans Lour.)

Hasil karakterisasi simplisia diperoleh kadar air 5,2%, kadar sari yang larut dalam air 20,63%, kadar sari yang larut dalam etanol 17,24%, kadar abu total 14,28% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,54%. Hasil skrining fitokimia herba kurmak mbelin mengandung senyawa kimia golongan flavonoida, glikosida, saponin, steroida/triterpenoida dan tanin. Hasil pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan bahwa ekstrak etanol, fraksi n- heksana, fraksi etilasetat dan fraksi air dari herba kurmak mbelin memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai inhibitory concentration (IC 50 )
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Dan Beberapa Fraksi Daun Ekor Naga (Rhaphidophora pinnata (L.f.) Schott) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Dan Pseudomonas aeruginosa

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Dan Beberapa Fraksi Daun Ekor Naga (Rhaphidophora pinnata (L.f.) Schott) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Dan Pseudomonas aeruginosa

Karakterisasi simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik, mikroskopik penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut dalam air, kadar sari larut dalam etanol, kadar abu total, dan kadar abu tidak larut dalam asam. Penentuan golongan senyawa kimia dilakukan terhadap simplisia, ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi kloroform, fraksi etilasetat, dan fraksi air. Ekstraksi daun ekor naga dilakukan dengan cara perkolasi dan fraksinasi ekstrak etanol dilakukan dengan cara ekstraksi cair-cair (ECC). Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi kloroform, fraksi etilasetat, dan fraksi air terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Pseudomonas aeruginosa dilakukan dalam berbagai konsentrasi dengan metode difusi agar menggunakan Punch hole dan media Nutrient Agar. Sebagai ukuran aktivitas diukur daerah hambatan pertumbuhan bakteri dengan metode Kirby Bauer.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

Perbandingan Kandungan Makronutrisi Dan Isoflavon Dari Kedelai Detam 1 Dan Wilis Serta Potensinya Dalam Menurunkan Berat Badan (Comparation Of Macronutrition And Isoflavone Content Between Detam 1 And Wilis Soybeans And Its Potencial To Reduce Body Weight

Perbandingan Kandungan Makronutrisi Dan Isoflavon Dari Kedelai Detam 1 Dan Wilis Serta Potensinya Dalam Menurunkan Berat Badan (Comparation Of Macronutrition And Isoflavone Content Between Detam 1 And Wilis Soybeans And Its Potencial To Reduce Body Weight

Biji kedelai merupakan sumber protein berkualitas tinggi, oligosakarida, serat makanan, mineral dan fitokimia terutama isoflavon. Isoflavon dan protein yang merupakan komponen utama dalam kedelai terbukti mempunyai beberapa efek yang menguntungkan. Isoflavon mempunyai efek menurunkan berat badan melalui peningkatan kadar hormon pencernaan Kolesistokinin (KSK). Kedelai varietas Detam 1 adalah kedelai unggulan berkualitas tinggi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian November 2008, dan sebagai pembanding adalah kedelai lokal varietas Wilis yang banyak ditanam oleh petani di Indramayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan membandingkan kandungan makronutrisi (air, protein, lemak dan karbohidrat) kedelai dan tempe, mengetahui jenis ekstrak yang mengandung kadar isoflavon yang tertinggi. Pengujian kadar air dengan metoda Thermogravimetri, protein dengan metoda Kjeldahl, lemak dengan metoda Soxhlet, dan karbohidrat dengan metoda Antron. Kadar Isoflavon yang terdapat dalam ekstrak metanol, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, fraksi n-butanol, fraksi air dan ekstrak protein dari kedelai dan tempe dari Detam 1 dan Wilis diperiksa menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Hasil penelitian menunjukkan kadar protein yang paling tinggi terdapat dalam biji kedelai Detam 1 (41,82%). Proses fermentasi meningkatkan kadar air dari biji kedelai namun menurunkan kadar protein, lemak dan karbohidrat. Kadar isoflavon paling tinggi terdapat dalam fraksi etil asetat, kadar Daidzein tertinggi dalam fraksi etil asetat biji kedelai Detam 1 (Daidzein 0,669%). Ekstrak metanol tempe kedelai Wilis juga memiliki kadar isoflavon yang tinggi (Daidzein 0,580%, Genistein 0,576%). Ekstrak metanol tempe kedelai Wilis diharapkan mempunyai manfaat sebagai terapi untuk penurunan berat badan di masa mendatang.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN PECUT KUDA (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) TERHADAP ISOLAT KLINIS Methicillin Resistant Staphylococcus aureus.

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN PECUT KUDA (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) TERHADAP ISOLAT KLINIS Methicillin Resistant Staphylococcus aureus.

Infeksi Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSa) sangat sulit diobati, karena bakteri ini resisten terhadap berbagai jenis antibiotik. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan kandidat antibakteri baru, diantaranya berasal dari bahan alam. Salah satu tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan tradisional penyakit infeksi adalah tumbuhan Kakurang atau Pecut Kuda ( Stachytarpheta jamaicensis (L) Vahl). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri daun pecut kuda terhadap isolat klinis MRSa . Penelitian dilakukan melalui tahap pengumpulan bahan dan determinasi tumbuhan, ekstraksi simplisia, penapisan fitokimia ekstrak, uji aktivitas antibakteri ekstrak, fraksinasi ekstrak, uji aktivitas antibakteri dan penentuan Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) serta Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) fraksi, penapisan fitokimia fraksi teraktif dan penentuan profil Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ekstrak dan fraksi teraktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak, fraksi air, fraksi etil asetat dan fraksi n-heksan dari daun pecut kuda memiliki aktivitas antibakteri terhadap isolat klinis MRSa. Fraksi teraktif adalah fraksi air dengan KBM sebesar 0,0625% (b/v). Fraksi ini berupa cairan kental berwarna coklat tua, berbau khas, dan berasa pahit, dengan rendemen sebesar 75 % dari ekstrak sebanyak 20 gram dan kadar air sebesar 6%. Aktivitas antibakteri fraksi air diduga berasal dari sedikitnya 3 senyawa dari golongan polifenol dan saponin.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Karakterisasi Sifat Fisiko-Kimia dan Pengujian Antiproliferasi Ekstrak Buah Merah (Pandanus Conoideus Lam.) Terhadap Sel Kanker Hela dan K-562 Secara In Vitro

Karakterisasi Sifat Fisiko-Kimia dan Pengujian Antiproliferasi Ekstrak Buah Merah (Pandanus Conoideus Lam.) Terhadap Sel Kanker Hela dan K-562 Secara In Vitro

Abu dalam bahan pangan merupakan residu anorganik yang mempresentasikan total mineral yang terkandung dalam bahan pangan (Pomeranz dan Clifton, 1971). Menurut Farlex (2008), sebagian besar elemen mineral dalam bahan pangan, stabil terhadap kondisi pemasakan standar. Mineral tidak hilang karena adanya panas. Namun, mineral dapat larut ke dalam cairan hasil pemasakan. Dalam hal ini, mineral larut dalam fraksi minyak dan air. Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai kadar abu (basis kering) yang diperoleh untuk sampel fraksi minyak sebesar 0.03%, fraksi air sebesar 11.92% dan buah merah segar 2.57%. Kandungan mineral pada fraksi minyak dan air lebih rendah dibandingkan dengan buah merah segar. Hal ini dapat dikarenakan fraksi tersebut telah mengalami proses pemisahan dengan pasta dan biji yang banyak mengandung mineral. Menurut Thung (2005), pasta buah merah mengandung kalsium yang merupakan salah satu jenis mineral.
Baca lebih lanjut

123 Baca lebih lajut

PENGUJIAN EKSTRAK AIR DAN FRAKSI FRAKSI

PENGUJIAN EKSTRAK AIR DAN FRAKSI FRAKSI

Telah dilakukan pengujian ekstrak air, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air daun teh hijau (Camellia sinensis (L.) Kuntze) terhadap aktivitas bakteri penyebab jerawat yaitu Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus dengan menggunakan metode difusi agar perforasi. Ekstraksi daun teh hijau dilakukan dengan cara perebusan menggunakan pelarut air, dilanjutkan dengan fraksinasi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan-air (1:1) dan etil asetat- air (1:1). Hasil pengujian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat paling potensial dalam menghambat kedua bakteri uji. Konsentrasi hambat minimum (KHM) dari fraksi etil asetat terhadap aktivitas Propionibacterium acnes adalah 2%, dengan diameter hambat 14,15 mm, sedangkan konsentrasi hambat minimum (KHM) dari fraksi etil asetat terhadap aktivitas Staphylococcus aureus adalah 2%, dengan diameter hambat 14,84 mm. Hasil pemeriksaan kandungan kimia fraksi etil asetat daun teh hijau menunjukkan terdapatnya flavonoid, polifenol, tanin, monoterpenoid dan seskuiterpenoid, serta steroid dan triterpenoid. Senyawa tersebut diduga menjadi zat aktif yang berperan dalam menghambat aktivitas bakteri.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Uji Toksisitasekstrak Etanol dan Fraksi n-Heksana, Etilasetat Dan Air Daun Titanus (Leea aequata L.) Terhadap Artemia salina Leach Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test

Uji Toksisitasekstrak Etanol dan Fraksi n-Heksana, Etilasetat Dan Air Daun Titanus (Leea aequata L.) Terhadap Artemia salina Leach Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis melakukan penelitian pengujian pendahuluan toksisitas ekstrak etanol, fraksi n -heksana, fraksi etilasetat dan fraksi air daun titanus menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test terhadap larva Artemia salina Leach sebagai hewan uji.

4 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN KEMBANG DAYANG (Cestrum nocturnum L.) Antioxydant activity of extract and fraction of kembang dayang (Cestrum nocturnum L.)

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN KEMBANG DAYANG (Cestrum nocturnum L.) Antioxydant activity of extract and fraction of kembang dayang (Cestrum nocturnum L.)

mekanisme penangkapan radikal, sehingga diduga daun kembang dayang memiliki aktivitas antioksidan (Al Reza et al., 2010). Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat dan fraksi air ekstrak etanolik daun kembang dayang.

5 Baca lebih lajut

UJI AKTIVITAS ANALGESIK FRAKSI-FRAKSI EKSTRAK ETANOL RIMPANG KENCUR (KaempferiagalangaL.) DENGAN METODE GELIAT.

UJI AKTIVITAS ANALGESIK FRAKSI-FRAKSI EKSTRAK ETANOL RIMPANG KENCUR (KaempferiagalangaL.) DENGAN METODE GELIAT.

Obat yang banyak digunakan untuk mengatasi nyeri disebut analgesik. Analgesik adalah senyawa yang dalam dosis terapeutik dapat meringankan atau menekan rasa nyeri tanpa memiliki kerja anastesi umum. Rimpang kencur ( Kaempferia galanga L.) telah dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional untuk menahan rasa nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas analgesik fraksi-fraksi ekstrak etanol rimpang kencur pada 25 ekor mencit jantan, berumur 2-3 bulan dengan berat badan 15-25 gram yang dibagi dalam lima kelompok masing-masing terdiri dari lima ekor mencit yang diinduksi asam asetat 0,7%. Kelompok kontrol negatif diberi suspensi PGA 2%, kelompok kontrol positif diberi asam asetilsalisilat 1,3 mg/20 g BB, kelompok uji I, II, dan III masing-masing diberi fraksi n -heksan, etil asetat, dan air dengan dosis 32 mg/20 g BB. Dari penelitian diperoleh persentase daya proteksi asam asetilsalisilat 1,3 mg/20 g BB sebesar 40,34%, fraksi n- heksan sebesar 43,87%, fraksi etil asetat sebesar 36,64%, dan fraksi air sebesar 24,54%. Berdasarkan dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa setiap fraksi n -heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air rimpang kencur dengan dosis masing-masing 32 mg/20 g BB memberikan aktivitas analgesik dan fraksi yang memberikan aktivitas analgesik yang paling besar adalah fraksi n- heksan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

AKTIVITAS ANTIDIABETES FRAKSI N-HEKSAN, ETIL ASETAT, DAN AIR DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis.) PADA MENCIT JANTAN DENGAN METODE UJI TOLERANSI GLUKOSA.

AKTIVITAS ANTIDIABETES FRAKSI N-HEKSAN, ETIL ASETAT, DAN AIR DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis.) PADA MENCIT JANTAN DENGAN METODE UJI TOLERANSI GLUKOSA.

Diabetes melitus adalah penyakit metabolik yang berlangsung kronik menyangkut metabolisme karbohidrat di dalam tubuh yang bercirikan hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antidiabetes dari fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis.) dengan menggunakan metode toleransi glukosa pada mencit jantan. Fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air daun binahong diberikan peroral dengan dosis 500 mg/kgBB. Sebagai kontrol positif digunakan metformin HCl dosis 135 mg/kgBB. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan setiap 30 menit selama 120 menit setelah diinduksi 1g/kgBB glukosa dengan menggunakan glukometer. Hasil pengujian menunjukkan bahwa masing-masing fraksi dapat menurunkan kadar glukosa darah mencit (taraf nyata 0,05). Aktivitas hipoglikemik tertinggi yaitu pada fraksi air dengan dosis 500 mg/kgBB pada menit ke-120 setelah pemberian glukosa. Penapisan fitokimia yang dilakukan pada fraksi n-heksan daun binahong mengandung alkaloid dan flavonoid, fraksi etil asetat mengandung senyawa flavonoid, dan fraksi air mengandung senyawa polifenol, flavonoid, dan saponin.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Karakterisasi Simplisia dan Skrining Fitokimia Serta Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Ketepeng (Senna alata (L.) Roxb.) Dengan Metode DPPH

Karakterisasi Simplisia dan Skrining Fitokimia Serta Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Ketepeng (Senna alata (L.) Roxb.) Dengan Metode DPPH

Hasil karakterisasi serbuk simplisia diperoleh kadar air 6,62%, kadar sari yang larut dalam air 20,46%, kadar sari yang larut dalam etanol 15,40%, kadar abu total 4,14%, dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,37%. Hasil skrining fitokimia daun ketepeng mengandung senyawa kimia golongan flavonoida, glikosida, tanin, antrakinon, saponin dan triterpenoid/steroid. Hasil KLT dan KKt ekstrak etanol diperoleh 6 senyawa tanin, 3 senyawa flavonoid dan 4 senyawa triterpenoid/steroid. Hasil pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan bahwa ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi etilasetat dan fraksi air dari daun ketepeng memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai inhibitory concentration (IC 50 ) yang diperoleh dari ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

POTENSI ANTIBIOFILM FRAKSI DAUN BINTARO (Cerbera odollam) TERHADAP Staphylococcus aureus ATCC 6538

POTENSI ANTIBIOFILM FRAKSI DAUN BINTARO (Cerbera odollam) TERHADAP Staphylococcus aureus ATCC 6538

Biofilm Staphylococcus aureus adalah pertahanan Staphylococcus aureus terhadap antibiotik, sehingga Staphylococcus aureus menjadi resisten terhadap antibiotik. Penelitian tentang bahan alam sebagai antibiofilm sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibiofilm fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air daun bintaro terhadap Staphylococcus aureus ATCC 6538 serta mengetahui golongan senyawa apa dalam fraksi aktif daun bintaro yang mempunyai aktivitas antibiofilm. Metode maserasi dengan pelarut etanol 96% digunakan untuk ekstraksi daun bintaro, lalu difraksinasi menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat dan air. Setiap fraksi diuji antibiofilm pada microplate mulai konsentrasi 300000 ppm dengan pengenceran berderet. Antibiotik pembanding yang digunakan dalam penelitian adalah tetrasiklin HCl dengan konsentrasi 1500 ppm dengan pengenceran berderet. Pembacaan uji antibiofilm dibantu dengan larutan kristal violet 1% pada panjang gelombang 595 nm dengan metode spektrofotometri. Data hasil pengujian aktivitas antibiofilm fraksi daun bintaro terhadap Staphylococcus aureus ATCC 6538 berupa % penghambatan biofilm. Persen penghambatan biofilm terbesar pada fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air berturut-turut 73,05% (4687,5 ppm), 97,25% (150000 ppm), dan 96,289% (75000 ppm). Fraksi etil asetat sebagai fraksi dengan aktifitas terbesar daun bintaro menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, alkaloid, saponin steroid, tanin/polifenol, dan saponin triterpenoid.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...