Gadai Tanah Pertanian

Top PDF Gadai Tanah Pertanian:

Pengaruh Peraturan Gadai Tanah Pertanian (Pasal 7 UU No.56/PRP/1960) Terhadap Pelaksanaan Gadai...

Pengaruh Peraturan Gadai Tanah Pertanian (Pasal 7 UU No.56/PRP/1960) Terhadap Pelaksanaan Gadai...

Transaksi gadai tanah adalah salah saat transaksi tanah yang bersumber dari hukum adat yang sampai sekarang masih tetap hidup di pelbagai lingkungan hukum adat di Indonesia termasuk hukum adat Minangkabau. Karena pembentuk undang-undang beranggapan bahwa gadai tanah mengandung unsur pemerasan, maka dikeluarkanlah aturan (Pasal 7 IJU No. 56/Prp/1960) yang bertujuan untuk menghapus transaksi gadai tanah yang berdasarkan hukum adat di Indonesia. Namun l e mb a g a p e ra d i l an d i d a l a m p e n er a p an ny a ma s i h tid a k kon s i s te n s eh in gga menimbulkan adanya dualisme, yaitu gadai tanah berdasarkan hukum agraria nasional dan hukum adat. Karena batasan antara keduanya tidak jelas maka menimbulkan ketidakpastian perlindungan hukum dan hubungan yang tank menarik. diantara keduanya.Oleh karena itu kiranya perlu dikaji tentang pengaruh peraturan gadai tanah pertanian (Pasal 7 UU No. 56/Prp/.1960) terhadap pelaksanaan gadai tanah dalam hukum adat Minangkabau.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN GADAI TANAH PERTANIAN MENURUT HUKUM ADAT DI DESA RANCATUNGKU KECAMATAN PAMEUNGPEUK KABUPATEN BANDUNG DIKAITKAN DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 56 PRP TAHUN 1960 TENTANG PENETAPAN LUAS.

PELAKSANAAN GADAI TANAH PERTANIAN MENURUT HUKUM ADAT DI DESA RANCATUNGKU KECAMATAN PAMEUNGPEUK KABUPATEN BANDUNG DIKAITKAN DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 56 PRP TAHUN 1960 TENTANG PENETAPAN LUAS.

Dalam keberadaannya, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria dan Undang-Undang Nomor 56 Prp. Tahun 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian telah banyak mengatur berbagai macam hal mengenai pertanahan, salah satunya mengenai Hak atas Tanah yang bersifat sementara yaitu gadai tanah pertanian. Desa Rancatungku, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, merupakan salah satu daerah yang masyarakatnya masih melakukan praktek gadai tanah pertanian untuk mendapatkan uang dengan cepat dan pelaksanaannya pun hanya berdasarkan ijab Kabul tanpa adanya saksi dan bukti tertulis, serta tidak adanya kejelasan waktu perjanjian yang mengakibatkan pelaksanaan gadai tanah pertanian di daerah ini berlangsung bertahun-tahun. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Desa Rancatungku, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, mengenai pelaksanaan gadai tanah pertanian dan mengenai penyelesaian masalah gadai tanah pertanian dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 56 Prp. Tahun 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Efektifitas Putusan Mahkamah Agung Nomor 626 K Pdt 2010 Terhadap Masalah Gadai Tanah Pertanian (Studi Di Kabupaten Tanah Karo)

Efektifitas Putusan Mahkamah Agung Nomor 626 K Pdt 2010 Terhadap Masalah Gadai Tanah Pertanian (Studi Di Kabupaten Tanah Karo)

Gadai menggadai menurut ketentuan hukum adat umumnya mengandung unsure eksploitasi, karena hasil yang diterima oleh pemegang gadai dari tanah yang bersangkutan setiap tahunnya umumnya jauh lebih besar daripada apa yang merupakan bunga yang layakdariuanggadai yang diterima pemilik tanah. Umumnya ekonomi pemegang gadai lebih kuat dari pemilik tanah.Hal inilah yang mengandung sifat feudal dan bertentangan dengan jiwa Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Namun menyangkut gadai atas tanah milik masyarakat di pedesaan sebagai objeknya belum ada disentuh oleh Undang-undang tersebut. Khususnya di Kabupaten Tanah Karo mengenai objek gadai tanah yang telah berlangsung tujuh tahun atau lebih sampai saat ini masih banyak dikuasai oleh penerima gadai dan dikembalikan kepada pemberi gadai, karena pemberi gadai maupun penerima gadai tidak dibahas dalam tesis ini yaitu, bagaimana efektifitas hukum terhadap pelaksanaan gadai tanah pertanian di Tahan Karo, bagaimana Perkembangan Prp Nomor 56 Tahun 1960 setelah digantinya menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian, bagaimana perlindungan hukum terhadap pemberi gadai atas tanah pertanian pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 626 K/Pdt/2010.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Gadai Tanah Pertanian Ditinjau Dari Undang-Undang Pokok Agraria (UU No. 5 Tahun 1960)...

Pelaksanaan Gadai Tanah Pertanian Ditinjau Dari Undang-Undang Pokok Agraria (UU No. 5 Tahun 1960)...

Gadai tanah pertanian adalah salah satu bentuk jaminan hutang didalam hukum adat. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yaitu keberadaan lembaga gadai tanah pertanian pada masyarakat hukum adat Kecamatan Tilatang Kamang setelah berlakunya UU No. 56 Prp Tahun 1960, persepsi masyarakat mengenai pelaksanaan UU No. 56 Prp Tahun 1960 khususnya Pasal 7 di Kecamatan Tilatang Kamang dan persamaan (titik temu) antara ketentuan yang mengatur gadai tanah pertanian yang terdapat dalam hukum agraria nasional dan hukum Islam.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Efektifitas Putusan Mahkamah Agung Nomor 626 K Pdt 2010 Terhadap Masalah Gadai Tanah Pertanian (Studi Di Kabupaten Tanah Karo)

Efektifitas Putusan Mahkamah Agung Nomor 626 K Pdt 2010 Terhadap Masalah Gadai Tanah Pertanian (Studi Di Kabupaten Tanah Karo)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi perkembangan ilmu hukum dan untuk memberikan sumbangan pemikiran dan saran dalam ilmu hukum perdata dan hukum agraria yang berkaitan dengan gadai tanah pertanian berdasarkanPutusan MARI. No. 626 K/Pdt /2010,Menghukum Tergugat (penerima gadai) karena telah menguasai gadai tanah lebih dari 7 (tujuh) tahun, atau orang lain yang mempunyai hak dari para Tergugat untuk menyerahkan tanah terperkara kepada Penggugat dalam keadaan kosong dan tanpa halangan apapun juga, seketika setelah ada keputusan atas perkara ini.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

KAJIAN YURIDIS GADAI TANAH PERTANIAN MENURUT UNDANG – UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960 TENTANG PERATURAN–PERATURAN DASAR POKOK AGARARIA (UUPA)

KAJIAN YURIDIS GADAI TANAH PERTANIAN MENURUT UNDANG – UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960 TENTANG PERATURAN–PERATURAN DASAR POKOK AGARARIA (UUPA)

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah dengan judul “KAJIAN YURIDIS GADAI TANAH PERTANIAN MENURUT UNDANG– UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960 TENTANG PERATURAN– PERATURAN DASAR POKOK AGARARIA (UUPA)”adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika disebutkan sumbernya dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

17 Baca lebih lajut

Efektifitas Putusan Mahkamah Agung Nomor 626 K Pdt 2010 Terhadap Masalah Gadai Tanah Pertanian (Studi Di Kabupaten Tanah Karo)

Efektifitas Putusan Mahkamah Agung Nomor 626 K Pdt 2010 Terhadap Masalah Gadai Tanah Pertanian (Studi Di Kabupaten Tanah Karo)

Gadai menggadai menurut ketentuan hukum adat umumnya mengandung unsure eksploitasi, karena hasil yang diterima oleh pemegang gadai dari tanah yang bersangkutan setiap tahunnya umumnya jauh lebih besar daripada apa yang merupakan bunga yang layakdariuanggadai yang diterima pemilik tanah. Umumnya ekonomi pemegang gadai lebih kuat dari pemilik tanah.Hal inilah yang mengandung sifat feudal dan bertentangan dengan jiwa Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Namun menyangkut gadai atas tanah milik masyarakat di pedesaan sebagai objeknya belum ada disentuh oleh Undang-undang tersebut. Khususnya di Kabupaten Tanah Karo mengenai objek gadai tanah yang telah berlangsung tujuh tahun atau lebih sampai saat ini masih banyak dikuasai oleh penerima gadai dan dikembalikan kepada pemberi gadai, karena pemberi gadai maupun penerima gadai tidak dibahas dalam tesis ini yaitu, bagaimana efektifitas hukum terhadap pelaksanaan gadai tanah pertanian di Tahan Karo, bagaimana Perkembangan Prp Nomor 56 Tahun 1960 setelah digantinya menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian, bagaimana perlindungan hukum terhadap pemberi gadai atas tanah pertanian pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 626 K/Pdt/2010.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Efektifitas Putusan Mahkamah Agung Nomor 626 K Pdt 2010 Terhadap Masalah Gadai Tanah Pertanian (Studi Di Kabupaten Tanah Karo)

Efektifitas Putusan Mahkamah Agung Nomor 626 K Pdt 2010 Terhadap Masalah Gadai Tanah Pertanian (Studi Di Kabupaten Tanah Karo)

Dari rumusan resmi tentang gadai tanah diatas disimpulkan bahwa pembentuk Undang-Undang berpendirian bahwa gadai tanah merupakan perjanjian asseoir dari suatu perjanjian hutang–piutang. Jadi hak gadai itu lahir manakala ada dua pihak yang melakukan perjanjian hutang piutang dan pihak debitor menyerahkan tanah yang dimilikiya kepada kreditor sebagai jaminan atas pelunasan hutang. Dengan demikian, definisi tentang gadai tanah yang dibuat oleh pembentuk Undang-Undang diatas berbeda dengan definisi gadai tanah yang dirumuskan oleh para ahli hukum adat yang menyatakan gadai tanah sebagai perjanjian yang mandiri dengan objek tanah dan bersifat tunai. kemungkinan kesalahan akan pemahaman tentang gadai tanah sudah diingatkan jauh sebelumnya oleh Ter Haar. menurut beiiau penterjemahan terhadap lembaga transaksi gadai tanah dalam hukum adat diatas dengan istilah grondverpanding yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai gadai tanah menimbulkan dua alasan keberatan, yaitu:
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Eksistensi Perjanjian Gala (Gadai) Tanah Pertanian Pada Masyarakat Aceh Di Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara

Eksistensi Perjanjian Gala (Gadai) Tanah Pertanian Pada Masyarakat Aceh Di Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara

Penelitian ini menggunakan metode yang bersifat deskriptif analitis dengan pendekatan yuridis empiris. Data-data yang dihimpun dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode wawancara dan studi leteratur terhadap tulisan-tulisan yang berhubungan dengan gadai tanah pertanian. Responden pada penelitian ini sebanyak 15 orang sebagai mewakili 3 desa, masing-masing desa terdiri 5 orang yang sudah pernah melakukan transaksi gala (gadai).

14 Baca lebih lajut

TESIS PENGUASAAN GADAI TANAH DALAM LINGKUP PENETAPAN MAKSIMUM LUAS TANAH PERTANIAN

TESIS PENGUASAAN GADAI TANAH DALAM LINGKUP PENETAPAN MAKSIMUM LUAS TANAH PERTANIAN

Gadai tanah pertanian merupakan bentuk hak atas tanah yang bersifat sementara karena bertentangan dengan prinsip-prinsip dari UUPA. Sementara sebelum dihapus gadai tanah ini diatur dalam pasal 7 Undang-Undang Nomor 56 Prp. Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian. Pelaksanaan pasal tersebut tidak menutup kemungkinan terhadap adanya permasalahan yang timbul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui eksistensi gadai tanah pertanian menurut perundang-undangan tentang gadai tanah pertanian dan perlindungan hukum penggadai gadai tanah pertanian terkait Putusan Mahkamah Agung Nomor 2343 K/Pdt/2004.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

Welcome to Repositori Universitas Muria Kudus - Repositori Universitas Muria Kudus

Welcome to Repositori Universitas Muria Kudus - Repositori Universitas Muria Kudus

Skripsi dengan judul Gadai Atas Tanah Pertanian Pada Suku Adat Kayuagung Sumatera Selatan ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan gadai tanah pertanian menurut hukum Adat, serta penyelesainya jika terjadi sengketa atas gadai tanah pertanian di Suku Adat Kayuagung.

10 Baca lebih lajut

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM GADAI TANAH DI KECAMATAN TAWANGMANGU  Tinjauan Hukum Islam terhadap Sistem Gadai Tanah di Kecamatan Tawangmangu.

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM GADAI TANAH DI KECAMATAN TAWANGMANGU Tinjauan Hukum Islam terhadap Sistem Gadai Tanah di Kecamatan Tawangmangu.

Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui akad gadai yang dilaksanakan oleh masyarakat Tawangmangu tersebut telah sesuai dengan peraturan akad gadai yang telah diatur dalam hukum Islam atau belum. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, dan data-datanya didapatkan menggunakan metode observasi, interview, dan dokumentasi. Metode analisis datanya menggunakan teknik analisis data secara kualitatif, dan dalam mengambil kesimpulan penulis menggunakan metode induktif.

Baca lebih lajut

TINJAUAN HUKUM ISLAM MENGENAI SISTEM GADAI SAWAH (Study Kasus Di Dusun Cirapuan Desa Sindang Jaya Kabupaten Pangandaran  Tinjauan Hukum Islam Mengenai Sistem Gadai Sawah (Studi Kasus Di Dusun Cirapuan Desa Sindang Jaya Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa

TINJAUAN HUKUM ISLAM MENGENAI SISTEM GADAI SAWAH (Study Kasus Di Dusun Cirapuan Desa Sindang Jaya Kabupaten Pangandaran Tinjauan Hukum Islam Mengenai Sistem Gadai Sawah (Studi Kasus Di Dusun Cirapuan Desa Sindang Jaya Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa

b. Sebagai alternative, praktek gadai tersebut yang telah dilangsungkan harus dikombinasikan dengan aqad muzara’ah ataupun aqad mukhabarah. Muzara’ah ialah dimana nantinya tanah yang digadaikan oleh rahin kepada murtahin selanjutnya untuk digarap oleh murtahin dengan modal pembiayaan dari rahin dengan menggunakan skema bagi hasil anatara kedua belah pihak yang melakukan akad. Prosentase bagi hasil itu sendiri ditentukan ketika transaksi awal berlangsung. Namun jika terdapat kendala lagi, bahwa rahin merupakan orang yang memiliki modal pas-pasan tentu hal tersebut akan menghalangi terjadinya akad muzara’ah dimana rahin selaku pemilik lahan yang harus memberikan modal tidak dapat dipenuhi oleh rahin. Oleh karena itu aqad rahn dapat dikombinasikan dengan aqad mukhabarah. Mukhabarah ialah sebuah kerjasama pengurusan sebuah lahan pertanian dengan modal yang digunakan dari pihak penggarap sawah (murtahin selaku pemegang jaminan yang
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Eksistensi Perjanjian Gala (Gadai) Tanah Pertanian Pada Masyarakat Aceh Di Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara

Eksistensi Perjanjian Gala (Gadai) Tanah Pertanian Pada Masyarakat Aceh Di Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara

Di dalam hukum tanah adat istilah menjual gadai ini tidak sama pengertian dengan istilah menjual lepas, menjual tahunan, walaupun ketiga jenis ini merupakan transaksi tanah yang bersifat riil di dalam hukum harta kekayaan. Pada prinsipnya pemilik tanah yang melakukan transaksi gadai tidak menginginkan pelepasan tanahnya itu kepada pihak lain, melainkan pada suatu saat tertentu si pemilik tanah dapat menebus hak atas tanah tersebut dengan syarat membayar kembali uang tebusan yang diterimanya dahulu, adanya penebusan kembali ini merupakan salah satu ciri jual gadai yang artinya sebelum ditebus tanah yang bersangkutan berada dalam penguasaan pemegang gadai.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Hukum tanah adat Suku Bali

Hukum tanah adat Suku Bali

A menggadaikan tanah kepada B pada th 1991 dengan uang gadai senilai 100 gram emas, dimana pada saat itu harga per gram emas = Rp. 50.000.,- Jika pada tahun 1994 A hendak membeli kembali tanahnya, maka berapa jumlah uang tebusan yang harus ia bayar jika pada harga emas per gram menjadi Rp. 90.000 ?

Baca lebih lajut

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM GADAI TANAH DI KECAMATAN TAWANGMANGU  Tinjauan Hukum Islam terhadap Sistem Gadai Tanah di Kecamatan Tawangmangu.

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM GADAI TANAH DI KECAMATAN TAWANGMANGU Tinjauan Hukum Islam terhadap Sistem Gadai Tanah di Kecamatan Tawangmangu.

Dari analisis tersebut, dapat dikatakan bahwa pemanfaatan marhu>n pada akad gadai di Kecamatan Tawangmangu tidaklah benar dan tidak sah menurut ketentuan hukum Islam, karena pada dasarnya murtahin memanfaatkan barang gadai ( marhu>n ) tanpa ada izin dari ra>hin dan hasil dari pemanfaatan tanah sawah tersebut diambil sepenuhnya oleh murtahin. Seharusnya murtahin disini hanya dapat mengambil manfaat tanah sawah tersebut sebatas biaya rawat dan operasionalnya saja, sisa hasil pemanfaatannya diberikan kepada ra>hin . Maka hal tersebut dapat dikatakan ada unsur pengambilan kesempatan dalam kesempitan serta tidak memelihara nilai- nilai keadilan karena pada dasarnya barang gadai tidak boleh diambil manfaatnya, baik oleh ra>hin sebagai pemilik ataupun oleh murtahin sebagai pemegang amanat. Hak murtahin terhadap barang jaminan hanyalah menahan barang tersebut sebagai jaminan pelunasan piutang yang diberikannya kepada ra>hin dan tidak berhak untuk menggunakan atau memungut hasilnya. D. Kesimpulan dan Saran
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kajian Hukum Atas Gadai Tanah Dalam Masyarakat Minangkabau Di Kecamatan Sungayang Setelah Berlakunya Undang-Undang No. 56 Prp 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian

Kajian Hukum Atas Gadai Tanah Dalam Masyarakat Minangkabau Di Kecamatan Sungayang Setelah Berlakunya Undang-Undang No. 56 Prp 1960 Tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian

Gadai tanah merupakan salah satu transaksi tanah yang sampai saat ini masih ada dan dibutuhkan oleh masyarakat hukum adat di Indonesia termasuk masyarakat hukum adat Minangkabau. Dimana transaksi gadai tanah yang dilakukan oleh masyarakat di Minangkabau terutama di Kecamatan Sungayang, dimana masih banyak transaksi yang sudah berlangsung puluhan tahun, baik secara lisan maupun secara tertulis. Alasan bagi masyarakat masih melakukan transaksi gadai adalah untuk biaya pengobatan, biaya sekolah/kuliah anak/kemenakannya. Yang menjadi objek gadai, bukan hanya sawah, perkebunan, pohon. Tapi kolam ikan maupun kendaraan bermotor bisa menjadi objek gadai, dan dalam transaksi dibuatlah surat pinjam meminjam, namun bentuk suratnya adalah surat gadai. Dan apabila terjadi sengketa gadai, maka penyelesaiannya harus dilakukan secara bertahap, pertama dilakukan dengan musyawarah, jika tidak bisa baru diselesaikan melalui Kerapatan Adat Nagari (KAN), jika tidak bisa diselesaikan melalui KAN, baru melalui Pengadilan Negeri setempat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Eksistensi Perjanjian Gala (Gadai) Tanah Pertanian Pada Masyarakat Aceh Di Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara

Eksistensi Perjanjian Gala (Gadai) Tanah Pertanian Pada Masyarakat Aceh Di Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara

ada tersedia uang, tanpa harus menjuali benda-benda miliknya serta tidak perlu di ketahui oleh orang banyak. Justru kalau satu keluarga telah menjual lepas tanahnya, maka akan dirasakan sebagai yang merendahkan martabat keluarga tersebut. Sebab dalam kebiasaan masyarakat kalaupun terjadi jual lepas tanah, harus terlebih dahulu menuruti ketentuan “hak terdahulu” yakni orang yang mau menjual tanah tidak begitu saja dapat menjualnya kepada siapa saja. Akan tetapi harus mendahulukan penjualan itu kepada kerabat dekatnya atau keluarga satu marganya. Bila tidak ada kawan satu kerabat yang hendak membeli tanah itu, dia harus menjualnya kepada orang sekampungnya dan apabila juga tidak ada yang membeli dari kawan sekampung, pemilik tanah masih harus mencari orang yang berdekatan dengan tanah tersebut atau di mana tanah itu berada, tetangganyalah didahulukan. Bila juga tetangga yang berdekatan dengan tanah itu tidak ada yang mau membeli, barulah dia dapat menjual lepaskannya kepada siapa saja yang mau membelinya. 1
Baca lebih lanjut

125 Baca lebih lajut

Silabus : Hukum Adat Minangkabau

Silabus : Hukum Adat Minangkabau

Akibatnya karna bidang bidang tanah itu merupakan sumber kehidupan yang mempunyai potensi ekonomi maka kehidupan masyarakat minang dewasa ini hanya ditopang usaha kecil kecil mandiri dengan produksi per unit yang sangat kecil kwalitasnya, sehingga hanya menjanjikan pasar local dengan harga yang rendah pula, akibatnya usaha petani, dan perikanan yang dijalankan oleh masyarakat tidak begitu memberikan harapan, maka anggota persekutuan anak nagari/ anggota suku paruik akan berusaha mencari sendiri sendiri kehidupan mereka diluar persekutuan mereka dengan cara, merantau, menjadi pedagang dsb.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kedudukan Gadai Tanah Sawah Di Kabupaten Aceh Besar

Kedudukan Gadai Tanah Sawah Di Kabupaten Aceh Besar

Hasil penelitan menunjukan bahwa perjanjian gadai di kabupaten aceh dilaksanakan menurut Hukum Adat. Perjanjian gadai dengan surat di bawah tangan diketahui oleh Kepala Desa (Keuchik) dan tidak mempunyai jangka waktu, perjanjian ini dilakukan karena ada kebutuhan yang mendesak, tolong menolong, kerja sama memiliki tanah garapan dan mencari modal. Perjanjian gadai menurut hukum adat termasuk kategori jual.

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...