Gangguan Tidur

Top PDF Gangguan Tidur:

Prevalensi Gangguan Tidur pada Remaja Us

Prevalensi Gangguan Tidur pada Remaja Us

berbagai faktor, baik medis maupun non-medis. Faktor-faktor non-medis yang mempengaruhi tidur antara lain jenis kelamin, pubertas, kebiasaan tidur, status sosioekonomi, keadaan keluarga, gaya hidup, dan lingkungan yang berhubungan dengan gangguan tidur. Sedangkan faktor medis yang mempengaruhi tidur antara lain berbagai gangguan neuropsikiatri dan penyakit kronis, seperti asma dan dermatitis atopi. 3,6,7 Diagnosis gangguan tidur pada remaja sulit

6 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN LACTIUM TERHADAP GANGGUAN TIDUR PADA MAHASISWA FK UNDIP ANGKATAN 2008 YANG MENGHADAPI UJIAN PRE SEMESTER - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PENGARUH PEMBERIAN LACTIUM TERHADAP GANGGUAN TIDUR PADA MAHASISWA FK UNDIP ANGKATAN 2008 YANG MENGHADAPI UJIAN PRE SEMESTER - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Latar belakang : Gangguan tidur merupakan salah satu dampak yang diakibatkan oleh stres. Pada orang normal, gangguan tidur yang berkepanjangan akan mengakibatkan perubahan- perubahan pada siklus tidur biologiknya, menurunnya daya tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain. Salah satu tawaran alternatife yaitu manajemen stres lewat nutrisi dalam bentuk susu yang mengandung lactium .

23 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur Pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang

Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur Pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang

Berbagai studi telah meneliti hubungan antara obesitas dan gangguan tidur, yang sebenarnya memiliki hubungan dua arah. Penelitian Lowry et al(2012) menunjukan hubungan signifikan antara jam tidur yang kurang dengan kejadian obesitas pada remaja, diduga tidur yang kurang akan menyebabkan gangguan regulasi hormon leptin dan ghrelin yang berdampak pada pengaturan nafsu makan dan jumlah kalori asupan makanan. Peningkatan hormon ghrelin merangsang keinginan untuk makan, sedangkan leptin mengisyaratkan hipotalamus bahwa simpanan energi sudah cukup. Tetapi pada obesitas, peningkatan kadar leptin tidak mengurangi nafsu makan karena terjadi resistensi leptin (Ganong & Hall, 2008). Sedangkan penelitian yang dilakukan Chrunch(2011) menilai hubungan sebaliknya, antara persentase body fat, BMI, dengan PSQI score, kualitas tidur dan durasi tidur. Ditemukan korelasi linier positif antara body fat% dengan PSQI score(r=0.27), dan hubungan linier positif antara BMI dengan PSQI score(r=0.58). Akan tetapi masih belum terlalu banyak penelitian yang melihat hubungan antara status gizi dan gangguan tidur tersebut.
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

BAB 31. GANGGUAN TIDUR PADA LANJUT USIA

BAB 31. GANGGUAN TIDUR PADA LANJUT USIA

Depresi dan kecemasan biasa terjadi pada pasien lanjut usia yang mengalami kesulitan tidur. Depresi sering berhubungan dengan pola terbangun pada tengah malam atau bangun terlalu pagi, meskipun pasien dengan fase depresi dari gangguan tidur bipolar (penyakit manik depresi) dapat juga mengalami tidur yang berlebihan. Kecemasan biasanya berhubungan dengan kesulitan untuk memulai tidur. Dari berbagai penyebab, gangguan tidur juga dapat terjadi sekunder akibat ganngguan sistem saraf pusat. Insomnia sering disertai demensia multi infark, Alzheimer, delirium, dan demensia lainnya. Meskipun penurunan fungsi yang dihubungkan dengan kondisi ini ringan, perpindahan kedalam lingkungan baru seperti Rumah Sakit atau Rumah Perawatan dapat menimbulkan disorientasi. Pada malam hari saat sedikit yang dapat dilihat, pasien dapat mengalami disorientasi dan agitasi (sun downing). Merupakan hal yang terpenting lainnya adalah menyingkirkan sebab-sebab metabolic atau toksik seperti infeksi atau uremia.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

GANGGUAN TIDUR PADA LANJUT USIA

GANGGUAN TIDUR PADA LANJUT USIA

Bentuk yang paling sering adalah obstructive sleep apnea , Apnea merupakan salah satu gangguan tidur yang cukup serius. Lebih dari 5 juta penduduk Amerika Serikat mengalami gangguan ini. Faktor risiko terkena gangguan ini antara lain: kelebihan berat badan (overweight), usia paruh baya (terutama pada wanita), atau usia lanjut yang pernah mengalami ketergantungan obat. Apnea adalah penyakit yang disebut juga?to fall asleep at the wheel? karena sering dialami ketika penderita sedang mengemudikan mobil. Apnea terjadi karena fluktuasi atau irama yang tidak teratur dari denyut jantung dan tekanan darah. Ketika terserang, penderita seketika merasa mengantuk dan jatuh tertidur. Penderita apnea mengalami kesulitan bernafas yang merupakan akibat dari kolapsnya jaringan palatum lunak, obstruksi parsial jalan pernafasan dan peningkatan tahanan jalan napas. Obesitas dan hipertensi dapat menyebabkan kondisi seperti ini. Pasien dengan COPD dapat memperlihatkan kesulitan bernapas saat tidur bernafas saat tidur. Apneu yang bersifat sentral relative jarang terjadi dan dapat terjadi pada saat obstructive sleep apnea ( campuran sleep apnea ) .
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa gangguan tidur dapat menimbulkan beberapa efek pada manusia. Ketika kurang tidur seseorang akan berpikir dan bekerja lebih lambat, membuat banyak kesalahan, dan sulit untuk mengingat sesuatu. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas kerja dan dapat menyebabkan kecelakaan. Selanjutnya, di Amerika kerugian akibat hal di atas diperkirakan mencapai 18 milyar dollar per tahun. Efek lainnya pada pekerja yaitu pekerja menjadi lebih cepat marah, tidak sabar, gelisah, dan depresi. Masalah ini dapat mengganggu pekerjaan dan hubungan keluarga, serta mengurangi aktivitas sosial (Nurmianto, 2004).
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Hubungan Gangguan Tidur dengan Status Mental Emosional pada Anak Berumur 14-17

Hubungan Gangguan Tidur dengan Status Mental Emosional pada Anak Berumur 14-17

Gangguan tidur adalah gangguan yang berhubungan dengan tidur, yaitu sulit untuk tidur, sulit untuk tetap tertidur, tertidur pada saat yang tidak tepat, terlalu banyak tidur, atau adanya kebiasaan buruk saat tidur (UMM,2014). Penelitian yang dilakukan oleh Meltzer et al (2010), menunjukkan bahwa besar prevalensi gangguan tidur pada anak usia 0-18 tahun adalah 3.7%. Sementara itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Haryono et al pada tahun 2009, didapatkan angka prevalensi gangguan tidur pada remaja usia 12-14 tahun adalah sebesar 62,9% dimana jenis gangguan yang paling banyak ditemui adalah gangguan transisi bangun-tidur.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur Pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang

Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur Pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT atas nikmat dan karunia- Nya yang telah diberikan sehingga karya tulis ilmiah yang berjudul, “Hubungan Status Gizi dan Gangguan TIdur pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang” ini dapat diselesaikan sesuai waktu yang ditentukan. Karya tulis ilmiah ini disusun sebagai tugas akhir serta prasyarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

12 Baca lebih lajut

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia”.

11 Baca lebih lajut

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Secara umum klien hipertensi mengalami gangguan tidur karena beberapa kondisi fisik dan kondisi lingkungan yang dialaminya sehingga berdampak pada kualitas tidur yang dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Penelitian ini adalah desain deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia menggunakan teknik pengambilan sampel metode convinience sampling dengan jumlah sampel penelitian 44 orang klien hipertensi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari kuesioner data demografi, kuesioner pola tidur dan kuesioner gangguan tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak dapat tidur dengan baik yang dapat dilihat dari total waktu tidur malam hari 5-6 jam (30%), waktu untuk memulai tidur 31-60 menit atau lebih (57%), frekuensi terbangun malam 1-2 kali (45%), kepuasan tidur klien merasa mengantuk (36%), kedalaman tidur klien tidur tetapi tidak nyenyak (66%), merasa cukup segar bangun di pagi hari (64%), merasa lemah atau lelah saat beraktivitas di siang hari (36%). Dari 7 parameter tidur tersebut maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilainya maka semakin baik pula kualitas tidurnya. Mayoritas responden mengalami gangguan tidur karena kondisi fisik seperti pusing (51%), rasa tidak nyaman (47%), terbangun buang air kecil (76%) dan kelelahan (71%) dan mengalami gangguan tidur karena kondisi lingkungan seperti suara bising (65%), penerangan (69%) dan suhu ruangan yang tidak sesuai (58%). Maka hasilnya semakin tinggi nilainya semakin tinggi pula gangguan tidurnya.Berdasarkan hasil penelitian diperlukan adanya rekomendasi untuk mengatasi kualitas tidur yang buruk dan faktor-faktor gangguan tidur pada klien hipertensi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Secara umum klien hipertensi mengalami gangguan tidur karena beberapa kondisi fisik dan kondisi lingkungan yang dialaminya sehingga berdampak pada kualitas tidur yang dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Penelitian ini adalah desain deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia menggunakan teknik pengambilan sampel metode convinience sampling dengan jumlah sampel penelitian 44 orang klien hipertensi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari kuesioner data demografi, kuesioner pola tidur dan kuesioner gangguan tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak dapat tidur dengan baik yang dapat dilihat dari total waktu tidur malam hari 5-6 jam (30%), waktu untuk memulai tidur 31-60 menit atau lebih (57%), frekuensi terbangun malam 1-2 kali (45%), kepuasan tidur klien merasa mengantuk (36%), kedalaman tidur klien tidur tetapi tidak nyenyak (66%), merasa cukup segar bangun di pagi hari (64%), merasa lemah atau lelah saat beraktivitas di siang hari (36%). Dari 7 parameter tidur tersebut maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilainya maka semakin baik pula kualitas tidurnya. Mayoritas responden mengalami gangguan tidur karena kondisi fisik seperti pusing (51%), rasa tidak nyaman (47%), terbangun buang air kecil (76%) dan kelelahan (71%) dan mengalami gangguan tidur karena kondisi lingkungan seperti suara bising (65%), penerangan (69%) dan suhu ruangan yang tidak sesuai (58%). Maka hasilnya semakin tinggi nilainya semakin tinggi pula gangguan tidurnya.Berdasarkan hasil penelitian diperlukan adanya rekomendasi untuk mengatasi kualitas tidur yang buruk dan faktor-faktor gangguan tidur pada klien hipertensi.
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Kualitas tidur dan faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja puskesmas medan teladan.. Sleep Disorders and Headache.[r]

3 Baca lebih lajut

Gangguan Tidur pada Lanjut Usia

Gangguan Tidur pada Lanjut Usia

Rekaman tidur polisomnografi (PSG) menunjukkan bahwa meskipun pada orang lanjut usia menghabiskan waktu lebih banyak di tempat tidur, mereka mengalami kesulitan untuk dapat tertidur, kurang tidur secara keseluruhan, lebih sering terbangun di malam hari, terbangun lebih awal di pagi hari sehingga mengurangi efisiensi tidur dan membutuhkan waktu tidur siang lebih banyak. Hasil dari Multiple Sleep Latency Tests (MSLTs), suatu pengukuran objektif untuk mengevaluasi rasa kantuk di siang hari melalui rekaman PSG saat tidur siang, menunjukkan bahwa secara signifikan orang lanjut usia lebih mengantuk sepanjang hari dibandingkan dengan orang dewasa muda (7). Gangguan tidur pada populasi lanjut usia dihubungkan dengan beberapa faktor, termasuk gangguan tidur spesifik, perubahan dari irama sirkadian endogen, kelainan medis dan psikiatri, serta pengaruh obat-obatan (8).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Persepsi Lansia terhadap Gangguan Tidur di Panti Wredha Wening Wardoyo Ungaran Semarang. - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Persepsi Lansia terhadap Gangguan Tidur di Panti Wredha Wening Wardoyo Ungaran Semarang. - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Latar Belakang : gangguan tidur merupakan masalah yang paling banyak dialami oleh lanjut usia. Gangguan tidur dapat meningkatkan biaya penyakit secara keseluruhan. Gangguan tidur juga dikenal sebagai penyebab morbiditas yang signifikan. Pemahaman lansia tentang gangguan tidur yang dialaminya dapat berhubungan dengan perubahan fisik, mental, psikososial, dan perkembangan spiritualnya. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi lansia terhadap gangguan tidur di Panti Wredha Wening Wardoyo Ungaran Semarang. Metode : penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dan melibatkan 6 informan sebagai objek penelitian dan menggunakan teknik sampel bertujuan (purposive sampling). Alat pengumpul data yang digunakan adalah wawancara mendalam (indept interview).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Persepsi Lansia terhadap Gangguan Tidur di Panti Wredha Wening Wardoyo Ungaran Semarang. - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Persepsi Lansia terhadap Gangguan Tidur di Panti Wredha Wening Wardoyo Ungaran Semarang. - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Latar Belakang : gangguan tidur merupakan masalah yang paling banyak dialami oleh lanjut usia. Gangguan tidur dapat meningkatkan biaya penyakit secara keseluruhan. Gangguan tidur juga dikenal sebagai penyebab morbiditas yang signifikan. Pemahaman lansia tentang gangguan tidur yang dialaminya dapat berhubungan dengan perubahan fisik, mental, psikososial, dan perkembangan spiritualnya. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi lansia terhadap gangguan tidur di Panti Wredha Wening Wardoyo Ungaran Semarang. Metode : penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dan melibatkan 6 informan sebagai objek penelitian dan menggunakan teknik sampel bertujuan (purposive sampling). Alat pengumpul data yang digunakan adalah wawancara mendalam (indept interview).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Tidur 1.1. Defenisi Tidur - Kualitas Tidur Dan Faktor-Faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Tidur 1.1. Defenisi Tidur - Kualitas Tidur Dan Faktor-Faktor Gangguan Tidur Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Johor

Menurut International Classification of Sleep Disorders dalam Japardi (2002), gangguan tidur terbagi atas: disomnia dan parasomnia. Disomnia terdiri atas gangguan tidur spesifik di antaranya adalah narkolepsi, gangguan gerakan anggota gerak badan secara periodik/ mioklonus nokturnal, sindroma kaki gelisah/ Restless Legs Syndrome atau Ekboms Syndrome, gangguan pernafasan saat tidur/ sleep apnea dan pasca trauma kepala; gangguan tidur irama sirkadian di antaranya adalah gangguan tidur irama sirkadian sementara/ acute work shift/ jet lag, gangguan tidur irama sirkadian menetap/ shift worker. Sedangkan parasomnia terdiri atas tiga, yaitu gangguan tidur berjalan (sleep walking/ somnabulisme), gangguan terror tidur (sleep terror), gangguan tidur berhubungan dengan fase REM.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Pola Tidur dan Gangguan Tidur Klien Hipertensi di Puskesmas Helvetia

Saya adalah mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan. Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola tidur dan gangguan tidur klien hipertensi di Puskesmas Helvetia.

40 Baca lebih lajut

Kualitas Tidur dan Faktor-faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi

Kualitas Tidur dan Faktor-faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi

Penelitian ini hanya dilakukan pada 35 orang responden penderita hipertensi di Wilayah kerja Puskesmas Medan Johor. Untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan judul penelitian ini sebaiknya mempunyai sampel yang lebih banyak yang mewakili dari beberapa Wilayah Kerja Puskesmas. Di samping itu perlu diperhatikan apakah gejala klinis dari penderita hipertensi yang menyebabkan tidurnya terganggu sebelum diidentifikasi tingkat gangguannya dan juga perlu diidentifikasi skala tiap-tiap bagian dari faktor gangguan tidur yang dialami oleh penderita hipertensi seperti faktor fisik yaitu pusing, rasa tidak nyaman, sulit bernafas, sukar tidur, dan mudah lelah serta faktor lingkungan yaitu suara/ kebisingan, sorot lampu ruangan yang terlalu terang, dan suhu ruangan yang terlalu panas. Selain itu, peneliti juga menyarankan untuk menambahkan pertanyaan terbuka pada kuesioner faktor-faktor gangguan tidur untuk mengetahui adanya faktor lain yang menyebabkann gangguan tidur selain gejala fisik penyakit tertentu maupun lingkungan.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi dengan Gangguan Tidur pada Anak di SDN 10 Samosir

Hubungan Status Gizi dengan Gangguan Tidur pada Anak di SDN 10 Samosir

Skala Gangguan Tidur untuk Anak SDSC sebagai Instrumen Skrining Gangguan Tidur pada Anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.. Ilmu Kesehatan Anak..[r]

2 Baca lebih lajut

Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur Pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang

Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur Pada Remaja di SMA Negeri 1 Kota Padang Panjang

Pola tidur remaja yang irregular, sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis, gaya hidup, dan gangguan siklus sirkadian bangun-tidur akibat pengaruh perubahan hormon melatonin saat pubertas menyebabkan prevalensi gangguan tidur remaja sekitar 25-40%. Seiringan dengan hal tersebut, kejadian gizi berlebih pada remaja usia 16-18 tahun mengalami peningkatan menjadi 7,3% di tahun 2013, dengan 1,6 % mengalami obesitas dan 5,7% mengalami kelebihan berat badan(overweight).

2 Baca lebih lajut

Show all 9049 documents...