GARIS SEMPADAN SUNGAI

Top PDF GARIS SEMPADAN SUNGAI:

PP Garis sempadan sungai

PP Garis sempadan sungai

(2) Garis sempadan sungai besar tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, ditentukan paling sedikit berjarak 100 (seratus) meter dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang alur sungai.

14 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI GARIS SEMPADAN SUNGAI DAERAH ALIRAN SUNGAI BEDADUNG (STUDI IMPLEMENTASI SALINAN KEPUTUSAN BUPATI JEMBER NOMOR 88 TAHUN 2004 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI DI WILAYAH KELURAHAN SUMBERSARI)

IMPLEMENTASI GARIS SEMPADAN SUNGAI DAERAH ALIRAN SUNGAI BEDADUNG (STUDI IMPLEMENTASI SALINAN KEPUTUSAN BUPATI JEMBER NOMOR 88 TAHUN 2004 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI DI WILAYAH KELURAHAN SUMBERSARI)

Menyatakan bahwa, karya ilmiah yang berjudul “ Implementasi Garis Sempadan Sungai Daerah Aliran Sungai Bedadung (Studi Implementasi Salinan Keputusan Bupati Jember No. 88 Tahun 2004 Di Wilayah Kelurahan Sumbersari ” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali disebutkan sumbernya dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

16 Baca lebih lajut

KAJIAN SEMPADAN SUNGAI

KAJIAN SEMPADAN SUNGAI

Sehubungan dengan selesainya tahapan Evaluasi Dokumen Kualifikasi pekerjaan Kajian Teknis Penetapan Garis Sempadan Sungai Cilemer pada proses Pengadaan Jasa Konsultansi Diatas Rp. 200 Juta Dengan Cara Seleksi Umum Pada Kegiatan Sumber Daya Air Dan Pemukiman pada Dinas Sumber Daya Air dan Pemukiman Provinsi Banten, yang menghasilkan daftar pendek pihak penyedia jasa.

2 Baca lebih lajut

ANALISIS KESELARASAN LETAK BANGUNAN DAN PEMANFAATAN LAHAN TERHADAP PERATURAN SEMPADAN  Analisis Keselarasan Letak Bangunan Dan Pemanfaatan Lahan Terhadap Peraturan Sempadan Sungai Menggunakan Citra Satelit Quickbird (Kasus Sepanjang Sungai Code, Kota Yogy

ANALISIS KESELARASAN LETAK BANGUNAN DAN PEMANFAATAN LAHAN TERHADAP PERATURAN SEMPADAN Analisis Keselarasan Letak Bangunan Dan Pemanfaatan Lahan Terhadap Peraturan Sempadan Sungai Menggunakan Citra Satelit Quickbird (Kasus Sepanjang Sungai Code, Kota Yogy

Pasal 6 ayat 1b dinyatakan bahwa garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sekurang- kurangnya 3 (tiga) meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul; pasal 8a menyatakan bahwa sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter, garis sempadan ditetapkan sekurang- kurangnya 10 (sepuluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan; pasal 8b menyatakan bahwa sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter sampai dengan 20 (dua puluh) meter, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) meter dihitung dari tepi sungai waktu ditetapkan; dan pada pasal 15 ayat 2 dinyatakan bahwa batas daerah penguasaan sungai yang berupa daerah retensi ditetapkan 100 (seratus) meter dari elevasi banjir rencana di sekeliling daerah genangan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

RTRWBAB V Renc. Pola Ruang 1 H.1 10

RTRWBAB V Renc. Pola Ruang 1 H.1 10

1. Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 (lima ratus) Km2 atau lebih dengan garis sempadan sungai ditetapkan sekurang-kurangnya 100 (seratus) m, termasuk sungai besar di Kabupaten Ngawi ini antara lain adalah : Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun.

10 Baca lebih lajut

KAJIAN LEBAR SEMPADAN SUNGAI (STUDI KASUS SUNGAI-SUNGAI DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)

KAJIAN LEBAR SEMPADAN SUNGAI (STUDI KASUS SUNGAI-SUNGAI DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)

Dalam UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, dinyatakan bahwa sungai merupakan salah satu bentuk alur air permukaan yang harus dikelola secara menyeluruh, terpadu berwawasan lingkungan hidup dengan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan demikian sungai harus dilindungi dan dijaga kelestariannya, ditingkatkan fungsi dan kemanfaatannya, dan dikendalikan dampak negatif terhadap lingkungannya. Dalam rangka mewujudkan kemanfaatan sungai serta mengendalikan kerusakan sungai, perlu ditetapkan garis sempadan sungai, yaitu garis batas perlindungan sungai. Garis sempadan sungai ini selanjutnya akan menjadi acuan pokok dalam kegiatan pemanfaatan dan perlindungan sungai serta sebagai batas permukiman di wilayah sepanjang sungai.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

peraturan bupati 2007 23

peraturan bupati 2007 23

1) garis sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan pada sungai besar sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter dan pada sungai kecil sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

5 Baca lebih lajut

Analisis Vegetasi Strata Pohon di Sepanjang Sempadan Sungai Code Yogyakarta

Analisis Vegetasi Strata Pohon di Sepanjang Sempadan Sungai Code Yogyakarta

Daerah sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 (tiga) meter, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No : 63/PRT/1993). Pada daerah sempadan Sungai Code ditumbuhi oleh berbagai jenis vegetasi tumbuhan mulai dari strata herba, semak, perdu dan pohon.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Desain Ruang Terbuka Hijau Bantaran Sung

Desain Ruang Terbuka Hijau Bantaran Sung

Pada RTH bantaran sungai kelurahan Lere yang bersebelahan dengan permukiman penduduk masih terdapat bangunan yang melanggar garis sempadan sungai. Bangunan tersebut berjarak kurang dari 3 meter dari bibir tanggul, yaitu ada yang mencapai 2 meter dari bibir tanggul. Bangunan tersebut harus ditertibkan dan perlu diantisipasi dalam desain RTH bantaran sungai kedepannya.

21 Baca lebih lajut

STATUS PENGUASAAN TANAH OLEH MASYARAKAT DI SEPANJANG DAERAH ALIRAN SUNGAI DI KOTA BANDAR LAMPUNG

STATUS PENGUASAAN TANAH OLEH MASYARAKAT DI SEPANJANG DAERAH ALIRAN SUNGAI DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Tanah merupakan hal yang penting untuk hidup manusia, ketidakseimbangan antara persediaan tanah dengan kebutuhan manusia yang semakin bertambah akan menimbulkan persoalan atas tanah, Berdasarkan ketentuan Pasal 13 Peraturan Pemerintah no. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah ditentukan mengenai penggunaan dan pemanfaatan tanah. Penggunaan dan pemanfaatan tanah di kawasan lindung atau kawasan budidaya harus sesuai dengan fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. Sungai merupakan kekayaan negara dan memiliki garis sempadan sungai yang merupakan kawasan lindung, dalam Peraturan Pemerintah no 38 tahun 2011 diatur mengenai batas garis sempadan sungai dengan karakteristik masing-masing sungai, fungsi sempadan sungai sebagai ruang penyangga ekosistem sungai agar fungsi sungai tetap terjaga kelestarianya, akan tetapi di kota Bandar Lampung terdapat penggunaan yang seharusnya merupakan daerah aliran sungai dikuasai dan digunakan menjadi lahan pemukiman oleh masyarakat hal ini bertentangan dengan Peraturan Pemerintah tentang sungai dan Peraturan Daerah no 10 tahun 2011 tentang rencana tata ruang wilayah kota Bandar Lampung. Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana status penguasaan tanah oleh masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai di kota bandarlampung dan bagaimana dampak penguasaan tersebut terhadap pelestarian lingkungan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

DOCRPIJM 1504156615BAB 3 ARAHAN STRATEGIS NASIONAL

DOCRPIJM 1504156615BAB 3 ARAHAN STRATEGIS NASIONAL

 air bersih dari IPA yang terletak di Kelurahan Buaran Kecamatan Pekalongan Selatan dengan kapasitas kurang lebih 1650 (seribu enam ratus lima puluh) l/dt, yang sumber air bakunya berasal dari Sungai Wisnu di Desa Lolong Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan.

27 Baca lebih lajut

Perda Kota Mataram Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota1

Perda Kota Mataram Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota1

32. Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografi dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

128 Baca lebih lajut

Penggunaan Ruang Terbuka Hijau (Studi Etnografi Tentang Urbanisme Kota Satelit di Kota Binjai)

Penggunaan Ruang Terbuka Hijau (Studi Etnografi Tentang Urbanisme Kota Satelit di Kota Binjai)

Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kerata api merupakan RTH yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api. Jalur sempadan jalan kerata pai yaitu di kawasan sisi kiri dan kanan rel kereta api dengan jarak sekurangnya 20 m.

10 Baca lebih lajut

KESIMPULAN DAN SARAN  PENGGUNAAN TANAH UNTUK RUMAH TINGGAL DI SEMPADAN SUNGAI CODE DALAM KAITANNYA DENGAN PERLINDUNGAN FUNGSI RUANG BERDASARKAN PERATURAN DAERAH NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA YOGYAKARTA.

KESIMPULAN DAN SARAN PENGGUNAAN TANAH UNTUK RUMAH TINGGAL DI SEMPADAN SUNGAI CODE DALAM KAITANNYA DENGAN PERLINDUNGAN FUNGSI RUANG BERDASARKAN PERATURAN DAERAH NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA YOGYAKARTA.

3. Masyarakat diharapkan mempunyai kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian sungai dengan mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan memahami konsep penataan dari Pemerintah Kota Yogyakarta apabila nantinya Pemerintah Kota Yogyakarta telah mensosialisasikan konsep tersebut.

9 Baca lebih lajut

Perencanaan Lanskap Sungai Kelayan Sebagai Upaya Revitalisasi Sungai di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan

Perencanaan Lanskap Sungai Kelayan Sebagai Upaya Revitalisasi Sungai di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan

Secara umum, tipe pasang surut yang ada di tapak sama dengan Kota Banjarmasin yaitu tipe diurnal, dimana dalam 24 jam terjadi gelombang pasang 1 kali pasang dan 1 kali surut. Lama pasang rata-rata 5–6 jam dalam satu hari. Selama waktu pasang, air di Sungai Barito dan Sungai Martapura tidak dapat keluar akibat terbendung oleh naiknya muka air laut. Kondisi ini tetap aman selama tidak ada penambahan air oleh curah hujan tinggi. Namun di beberapa segmen berdasarkan pengamatan di lapang dan wawancara dengan masyarakat setempat dan Dinas Pengelolaan Sungai dan Drainase terdapat genangan banjir pada saat terjadi gelombang pasang air laut yang mana luasannya dapat dilihat pada Tabel 5. Peta daerah genangan banjir pada tapak disajikan pada Gambar 12. Keadaan seperti ini disebabkan karena tidak berfungsinya kantong-kantong air di sekitar kawasan tersebut dan matinya Sungai Pekapuran yang merupakan daerah hulu Sungai Kelayan. Selain itu juga disebabkan karena terjadinya pendangkalan di sungai yang disebabkan oleh sampah, pemukiman, erosi, dan tumbuhan- tumbuhan air yang memperlambat arus sungai serta tidak adanya saluran drainase di samping kanan kiri jalan.
Baca lebih lanjut

259 Baca lebih lajut

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Ayung Terpadu.

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Ayung Terpadu.

Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) sebagai bagian dai pembangunan wilayah sampai saat ini masih menghadapi berbagai masalah yang kompleks dan saling terkait. Permasalahan terasebut antara lain terjadinya erosi, pencemaran air sungai, banjir, kekeringan, masih belum adanya keterpaduan antar sector, antar instansi dan kesadaran masyarakat yang rendah tentang pelestarian manfaat sumber daya alam. Menurun dan merosotnya kondisi DAS itu, maka umumnya disebabkan oleh beberapa factor, antara lain adanya tekanan penduduk, tekanan pembangunan dan tekanan sosial ekonomi masyarakat di kawasan DAS.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GALERI EKSPEDISI BENGAWAN SOLO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI BANTARAN SUNGAI

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GALERI EKSPEDISI BENGAWAN SOLO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI BANTARAN SUNGAI

4.2.1. Kondisi Kontur Dikaitkan dengan Peraturan Pemerintah………………IV-31 4.2.2. Keberadaan Jembatan pada Tapak………………………………………IV-31 4.2.3. Ketinggian Banjir…………………….…………………………………..…IV-32 4.2.4. Kelembaban pada Site………………………………………………….…IV-32 4.2.5. Keberadaan Sampah pada Site……………………………………….…IV-32 4.2.6. Dampak Hujan pada Site……………………………………………….…IV-32 4.2.7. Kondisi Air Sungai yang Keruh/Degradasi Ekologi Sungai……………IV-33 4.2.8. Keberadaan Jalan Lingkungan……………………………………………IV-33 4.2.9. Potensi Material Site………………………………………………….…...IV-33 4.2.10. Kondisi Vegetasi pada Tapak………………………………………….…IV-34 4.2.11. Keberadaan PKL……………………………………………………..….…IV-34 4.3. Analisa Pencapaian..………………………………………………………………..IV-35 4.4. Analisa Perletakan Massa Bangunan………………………………….……….…IV-37 4.5. Analisa View……………………………………………………………………….…IV-41 4.6. Analisa Angin ………………………………………………….………….…………IV-43 4.7. Analisa Matahari …………………………………………………………………….IV-45 4.8. Analisa Bentuk Massa Bangunan………………………………………………….IV-48 4.9. Analisa Struktur …………………………………………………………………….IV-50 4.10. Analisa Sistem Sanitasi dan Pengolahan Sampah….…………………………..IV-51 4.11. Analisa Interior ……………………………………………………………………..IV-53
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Undangan Pembuktian Kualifikasi Pemb. Paving Block & Garis Sempadan pantai pada Dinas Porapar.

Undangan Pembuktian Kualifikasi Pemb. Paving Block & Garis Sempadan pantai pada Dinas Porapar.

Menindaklanjuti hasil koreksi aritmatika, evaluasi administrasi, evaluasi teknis, evaluasi harga dan evaluasi kualifikasi pekerjaan : Pembangunan Garis Sempadan Pantai Sawarna. Bersama ini Pokja Pengadaan Barang/Jasa mengundang perusahaan saudara untuk melakukan klarifikasi/pembuktian kulifikasi yang dilaksanakan pada :

2 Baca lebih lajut

BAB IV - DOCRPIJM 1503903561BAB IV RPIJM Moker

BAB IV - DOCRPIJM 1503903561BAB IV RPIJM Moker

Pada tahun 2006 sampai dengan saat ini PDAM Kota Mojokerto hanya memanfaatkan Sungai Brantas sebagai sumber air baku sistem penyediaan air minum untuk Kota Mojokerto, sebelum dikonsumsi air baku terlebih dahulu diolah di instalasi pengolahan air bersih yang terdapat di Desa Wates dengan kapasitas desain 110 lt/dt. PDAM Kota Mojokerto memiliki potensi sumber air baku yang dapat dikembangkan. Pada awalnya air baku yang digunakan PDAM Kota Mojokerto berasal dari Mata Air Jubel yang terletak di Kabupaten Mojokerto yang sekarang pengelolaannya diserahkan kepada PDAM Kabupaten Mojokerto. Sumber air yang potensial dikembangkan lainnya adalah penggunaan air tanah dalam. Terdapat 8 sumur bor yang pernah digunakan Kota Mojokerto.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

BAB IV - DOCRPIJM 7465d65e93 BAB IVBAB IV RPIJM Moker

BAB IV - DOCRPIJM 7465d65e93 BAB IVBAB IV RPIJM Moker

Pada tahun 2006 sampai dengan saat ini PDAM Kota Mojokerto hanya memanfaatkan Sungai Brantas sebagai sumber air baku sistem penyediaan air minum untuk Kota Mojokerto, sebelum dikonsumsi air baku terlebih dahulu diolah di instalasi pengolahan air bersih yang terdapat di Desa Wates dengan kapasitas desain 110 lt/dt. PDAM Kota Mojokerto memiliki potensi sumber air baku yang dapat dikembangkan. Pada awalnya air baku yang digunakan PDAM Kota Mojokerto berasal dari Mata Air Jubel yang terletak di Kabupaten Mojokerto yang sekarang pengelolaannya diserahkan kepada PDAM Kabupaten Mojokerto. Sumber air yang potensial dikembangkan lainnya adalah penggunaan air tanah dalam. Terdapat 8 sumur bor yang pernah digunakan Kota Mojokerto.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...