GARIS SEMPADAN SUNGAI

Top PDF GARIS SEMPADAN SUNGAI:

PP Garis sempadan sungai

PP Garis sempadan sungai

Penentuan garis sempadan sungai yang terpengaruh pasang air laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf e, dilakukan dengan cara yang sama dengan penentuan garis sempadan sungai sesuai Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8 yang diukur dari tepi muka air pasang rata-rata.

14 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI GARIS SEMPADAN SUNGAI DAERAH ALIRAN SUNGAI BEDADUNG (STUDI IMPLEMENTASI SALINAN KEPUTUSAN BUPATI JEMBER NOMOR 88 TAHUN 2004 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI DI WILAYAH KELURAHAN SUMBERSARI)

IMPLEMENTASI GARIS SEMPADAN SUNGAI DAERAH ALIRAN SUNGAI BEDADUNG (STUDI IMPLEMENTASI SALINAN KEPUTUSAN BUPATI JEMBER NOMOR 88 TAHUN 2004 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI DI WILAYAH KELURAHAN SUMBERSARI)

Garis sempadan sungai adalah tanah milik Negara yang dikelola oleh Dinas Pengairan yang digunakan untuk batas aman sungai jika terjadi banjir dari rumah warga. Dengan begitu kementrian PU mengeluarkan Undan-undang yang mengatur garis sempadan sungai nomor 63/PRT/1993 dan diteruskan oleh pemerintah Daerah Kabupaten Jember dengan mengeluarkan Salinan Keputusan Bupati Nomor 88 Tahun 2004 tentang Garis Sempadan sungai.

16 Baca lebih lajut

Desain Ruang Terbuka Hijau Bantaran Sung

Desain Ruang Terbuka Hijau Bantaran Sung

Pada RTH bantaran sungai kelurahan Lere yang bersebelahan dengan permukiman penduduk masih terdapat bangunan yang melanggar garis sempadan sungai. Bangunan tersebut berjarak kurang dari 3 meter dari bibir tanggul, yaitu ada yang mencapai 2 meter dari bibir tanggul. Bangunan tersebut harus ditertibkan dan perlu diantisipasi dalam desain RTH bantaran sungai kedepannya.

21 Baca lebih lajut

STATUS PENGUASAAN TANAH OLEH MASYARAKAT DI SEPANJANG DAERAH ALIRAN SUNGAI DI KOTA BANDAR LAMPUNG

STATUS PENGUASAAN TANAH OLEH MASYARAKAT DI SEPANJANG DAERAH ALIRAN SUNGAI DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Tanah merupakan hal yang penting untuk hidup manusia, ketidakseimbangan antara persediaan tanah dengan kebutuhan manusia yang semakin bertambah akan menimbulkan persoalan atas tanah, Berdasarkan ketentuan Pasal 13 Peraturan Pemerintah no. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah ditentukan mengenai penggunaan dan pemanfaatan tanah. Penggunaan dan pemanfaatan tanah di kawasan lindung atau kawasan budidaya harus sesuai dengan fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. Sungai merupakan kekayaan negara dan memiliki garis sempadan sungai yang merupakan kawasan lindung, dalam Peraturan Pemerintah no 38 tahun 2011 diatur mengenai batas garis sempadan sungai dengan karakteristik masing-masing sungai, fungsi sempadan sungai sebagai ruang penyangga ekosistem sungai agar fungsi sungai tetap terjaga kelestarianya, akan tetapi di kota Bandar Lampung terdapat penggunaan yang seharusnya merupakan daerah aliran sungai dikuasai dan digunakan menjadi lahan pemukiman oleh masyarakat hal ini bertentangan dengan Peraturan Pemerintah tentang sungai dan Peraturan Daerah no 10 tahun 2011 tentang rencana tata ruang wilayah kota Bandar Lampung. Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana status penguasaan tanah oleh masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai di kota bandarlampung dan bagaimana dampak penguasaan tersebut terhadap pelestarian lingkungan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ANALISIS KESELARASAN LETAK BANGUNAN DAN PEMANFAATAN LAHAN TERHADAP PERATURAN SEMPADAN  Analisis Keselarasan Letak Bangunan Dan Pemanfaatan Lahan Terhadap Peraturan Sempadan Sungai Menggunakan Citra Satelit Quickbird (Kasus Sepanjang Sungai Code, Kota Yogy

ANALISIS KESELARASAN LETAK BANGUNAN DAN PEMANFAATAN LAHAN TERHADAP PERATURAN SEMPADAN Analisis Keselarasan Letak Bangunan Dan Pemanfaatan Lahan Terhadap Peraturan Sempadan Sungai Menggunakan Citra Satelit Quickbird (Kasus Sepanjang Sungai Code, Kota Yogy

Peningkatan jumlah penduduk telah menyebabkan meningkatnya permintaan jumlah tempat tinggal. Permintaan yang tinggi akan tempat tinggal, kurang sebanding dengan luasan lahan yang tersedia. Masyarakat telah melakukan pemanfaatan lahan, di kawasan sempadan sungai yang menurut peraturan perundangan yang berlaku terlarang untuk didirikan bangunan. Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 63 Tahun 1993 terdapat aturan jarak minimal bangunan fisik yang ada di daerah sempadan maupun badan sungai terkait garis sempadan sungai, daerah manfaat sungai, daerah penguasaan sungai dan bekas sungai. Adapun batas area sungai dan daerah manfaat sungai adalah sungai bertanggul di wilayah garis sempadan sungai yang ditentukan berjarak 3 (tiga) meter dari tepi tanggul luar dan di wilayah luar kota : 5 (lima) meter dari tepi tanggul luar. Sempadan sungai tak bertanggul di wilayah kota berjarak 10 (sepuluh) meter dari tepi tanggul dan di wilayah luar kota : 15 (lima belas) meter dari tepi tanggul luar.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Perencanaan Lanskap Sungai Kelayan Sebagai Upaya Revitalisasi Sungai di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan

Perencanaan Lanskap Sungai Kelayan Sebagai Upaya Revitalisasi Sungai di Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan

Aspek ekonomi yang diamati dalam studi ini yaitu terkait dengan kesejahteraan masyarakat dalam kawasan. Secara umum dari hasil pengamatan di lapang dan wawancara dengan masyarakat sekitar, tingkat kesejahteraan masyarakat yang bermukim di sekitar Sungai Kelayan cukup beragam. Ada beberapa penduduk yang secara ekonomi tergolong sejahtera, hal ini dapat dilihat dari kondisi fisik rumah, dimana dindingnya terbuat dari tembok dan lantainya sudah menggunakan keramik serta memiliki fasilitas rumah yang cukup banyak seperti TV, kulkas, mesin cuci, parabola. Masyarakat yang tergolong sejahtera ini banyak dijumpai di Segmen Kelayan Timur dan Kelayan Dalam yang merupakan sentra perekonomian kawasan tersebut. Masyarakat yang secara ekonomi tergolong kurang sejahtera, dilihat dari kondisi fisik rumahnya berdinding kayu dan beralaskan kayu, dengan fasilitas rumah yang terbatas dimana mereka hanya hanya memiliki radio, tv, kursi kayu. Masyarakat golongan ini banyak dijumpai di daerah pedalaman yaitu Segmen Tanjung Pagar dan Murung Raya dimana lokasinya cukup jauh dari kota. Aksesibilitas untuk menjangkau tempat ini dapat melalui jalur air dan darat. Namun pada jalur darat menuju kedua lokasi tersebut masih berupa tanah, bukan perkerasan/aspal sehingga pada saat setelah hujan kondisinya becek.
Baca lebih lanjut

259 Baca lebih lajut

KAJIAN LEBAR SEMPADAN SUNGAI (STUDI KASUS SUNGAI-SUNGAI DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)

KAJIAN LEBAR SEMPADAN SUNGAI (STUDI KASUS SUNGAI-SUNGAI DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)

Dalam UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, dinyatakan bahwa sungai merupakan salah satu bentuk alur air permukaan yang harus dikelola secara menyeluruh, terpadu berwawasan lingkungan hidup dengan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan demikian sungai harus dilindungi dan dijaga kelestariannya, ditingkatkan fungsi dan kemanfaatannya, dan dikendalikan dampak negatif terhadap lingkungannya. Dalam rangka mewujudkan kemanfaatan sungai serta mengendalikan kerusakan sungai, perlu ditetapkan garis sempadan sungai, yaitu garis batas perlindungan sungai. Garis sempadan sungai ini selanjutnya akan menjadi acuan pokok dalam kegiatan pemanfaatan dan perlindungan sungai serta sebagai batas permukiman di wilayah sepanjang sungai.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

sempadan pantai Dede S

sempadan pantai Dede S

ditentukan harus dipilih untuk menjelaskan posisi garis pantai. Sedangkan dalam UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, garis pantai didefinisikan sebagai garis air rendah. Oleh karena itu secara teknis harus dijelaskan juga garis air rendah mana yang dipilih. Dalam bidang hidrografi biasanya digunakan garis air tinggi (high water line) sebagai garis pantai. Dalam bidang pertanahan garis pantai yang digunakan merupakan garis air rendah atau garis pertemuan antara air pasang rata-rata tertinggi pada saat pasang purnama atau pasang perbani, sehingga terdapat perbedaan dengan garis pantai yang dimaksud dalam aplikasi hidrografi. Fakta yang ada, penentuan garis pantai di lapangan banyak menghadapi kendala, baik yang berkaitan dengan karakteristik pantai maupun teknik-teknik penentuannya (Djunarsah, 2001).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PERDA No. 1 Thn 2012 ttg RTRW KAB. DGL THN 2011 2031.

PERDA No. 1 Thn 2012 ttg RTRW KAB. DGL THN 2011 2031.

(4) Kawasan sekitar danau atau waduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, berupa kawasan sepanjang perairan dengan jarak 50-100 (lima puluh sampai seratus) meter dari titik pasang tertinggi, yang berada di Danau Dampelas Kecamatan Damsol dan Danau Rano Kecamatan Balaesang Tanjung seluas kurang lebih 112 (seratus dua belas) hektar, dengan rencana perlindungan sempadan danau dilaksanakan melalui peningkatan pengendalian dan pengawasan, melakukan rehabilitasi sempadan danau, menata pola penangkapan dan budidaya ikan serta meningkatkan fungsi rekreasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Undangan Pembuktian Kajian Sempadan Sungai

Undangan Pembuktian Kajian Sempadan Sungai

Sehubungan dengan daftar isian prakualifikasi jasa konsultansi yang perusahaan Saudara sampaikan kepada Kelompok Kerja Pekerjaan Kajian Sempadan Sungai Di Wilayah Provinsi Kalimantan Utara Biro Layanan Pengadaan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara melalui aplikasi SPSE, maka kami mengundang Saudara untuk dapat menghadiri acara pembuktian isian data kualifikasi pada :

Baca lebih lajut

DAFTAR ISI - Analisis Tata Ruang Wilayah pada WAS Sugutamu dalam Rangka Restorasi Sungai - Unissula Repository

DAFTAR ISI - Analisis Tata Ruang Wilayah pada WAS Sugutamu dalam Rangka Restorasi Sungai - Unissula Repository

Sekitar Sungai Sugutamu ................... 123 Tabel IV.25. Pembahasan Dalam Kegiatan Warga ........... 123 Tabel IV.26. Tingkat Kehadiran Dalam Perkumpulan Warga . 124 Tabel IV.27. Iuran yang Dikelola RT .................... 124 Tabel IV.28. Kegiatan Warga yang Masih Berjalan di Sekitar

Baca lebih lajut

Penggunaan Ruang Terbuka Hijau (Studi Etnografi Tentang Urbanisme Kota Satelit di Kota Binjai)

Penggunaan Ruang Terbuka Hijau (Studi Etnografi Tentang Urbanisme Kota Satelit di Kota Binjai)

2. Ruang Terbuka Sempadan Sungai. Ruang Terbuka Hijau sempadan sungai adalah jalur hijau yang terletak di bagian kiri dan kanan sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya. Adapun rencana sempadan di Kota Binjai adalah Sungai Mencirim 15 m, Sungai Bingai 15 m, Sungai Bangkatan 15 m, Sungai-sungai kecil 10 m.

10 Baca lebih lajut

Analisis Vegetasi Strata Pohon di Sepanjang Sempadan Sungai Code Yogyakarta

Analisis Vegetasi Strata Pohon di Sepanjang Sempadan Sungai Code Yogyakarta

Strata pohon yang terdapat di sepanjang sempadan Sungai Code Yogyakarta terdiri dari 31 spesies. Vegetasi strata pohon yang memiliki rerata INP tertinggi pada area kajian A (daerah ujung) yaitu Albizia falcataria (104.82%) , Cocos nucifera L (93.44%), dan Swietenia mahagoni (17.95%). Area kajian B (daerah tengah) yaitu Albizia falcataraia (73.74%), Artocarpus integra Merr (28.50%), dan Cocos nucifera L (24.95%). Area kajian C (bagian akhir) yaitu Tectona grandis L (45.25%), Artocarpus integra Merr (34.43%), dan Leucaena leucocephala (24.42%). Rerata Indeks Keanekaragaman (Indeks Diversitas) pada area kajian A (daerah ujung) 1.36, area kajian B (daerah tengah) 1.77 dan area kajian C (daerah akhir) 1.89. Faktor lingkungan abiotik yang berpengaruh terhadap pola pengelompokan stand vegetasi strata pohon adalah kelembaban udara.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Ayung Terpadu.

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Ayung Terpadu.

PT Bina Karya Cabang Denpasar, 2002. Laporan Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan Perencanaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai (PSAWS) Baian Proyek Pengelolaan Sumber Air Bali, Proyek Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Air Bali. Dinas PU Provinsi bali.

15 Baca lebih lajut

Analisis Vegetasi Strata Semak Berdasarkan Cluster Lingkungan Abiotik di Sempadan Sungai Tepus Sleman, Yogyakarta sebagai Sumber Belajar Biologi SMA Kelas X

Analisis Vegetasi Strata Semak Berdasarkan Cluster Lingkungan Abiotik di Sempadan Sungai Tepus Sleman, Yogyakarta sebagai Sumber Belajar Biologi SMA Kelas X

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis strata semak yang memiliki peranan paling besar berdasarkan indeks nilai pentingnya, indeks diversitas jenis-jenis strata semak, dan hubungan antara faktor lingkungan abiotik yang terukur meliputi: kelembaban udara, suhu udara, suhu tanah, pH tanah, unsur N, unsur P, unsur K, dan KPK tanah dengan pola pengelompokkan stand vegetasi strata semak di sempadan Sungai Tepus Sleman, Yogyakarta, serta untuk mengetahui apakah proses dan hasil penelitian analisis vegetasi strata semak berdasarkan cluster lingkungan abiotik di sempadan Sungai Tepus Sleman, Yogyakarta, memiliki potensi sebagai sumber belajar biologi SMA kelas X pada materi pembelajaran struktur dan fungsi ekosistem terestrial.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perda Kota Mataram Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota1

Perda Kota Mataram Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota1

32. Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografi dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

128 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI PEMANFAATAN DAERAH SEMPADAN SUNGAI TUKAD AYUNG Putu Aryastana

IDENTIFIKASI PEMANFAATAN DAERAH SEMPADAN SUNGAI TUKAD AYUNG Putu Aryastana

Berdasarkan Gambar 1 dapat diketahui bahwa pemanfaatan daerah sempadan sungai di Tukad Ayung didominasi oleh sawah yaitu sebanyak 45%. Sedangkan sebanyak 20% dimanfaatkan sebagai tegalan/tanah kosong. Selain sawah dan tegalan, pemanfaatan daerah sempadan di Tukad Ayung juga terdiri dari pemukiman dan hotel, pertokoan dan fasilitas umum yang memiliki prosentase masing- masing sebanyak 15%, 15% dan 5%.

Baca lebih lajut

2.1  Kondisi2.1.1  Kondisi LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR TRADISIONAL BANTARAN SUNGAI DI SINTANG KALIMANTAN BARAT.

2.1 Kondisi2.1.1 Kondisi LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR TRADISIONAL BANTARAN SUNGAI DI SINTANG KALIMANTAN BARAT.

Sumber: BPS Kabupat en Sint ang, 2006 Sumber Daya Alam yang t erkandung, baik di dalam sungai maupun daratan merupakan pot ensi ekonomi yang besar. Pengelolaan sumber daya alam secara efisien dapat meningkatkan pendapat an pemerint ah daerah dan kesejaht eraan masyarakat . Peningkatan pendapatan daerah dan kesejaht eraan masyarakat jelas memberikan dampak positif t erhadap penyediaan dana dan fasilitas perdagangan. Sumber Daya Alam andalan Kabupat en Sint ang dapat dilihat pada t abel berikut .

Baca lebih lajut

ARAHAN PEMANFAATAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) JENEBERANG TERHADAP JARAK SEMPADAN SUNGAI DI KELURAHAN PANGKABINANGA KABUPATEN GOWA

ARAHAN PEMANFAATAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) JENEBERANG TERHADAP JARAK SEMPADAN SUNGAI DI KELURAHAN PANGKABINANGA KABUPATEN GOWA

Daerah Aliran Sungai (DAS). Gejala Kerusakan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari kondisi kritis seperti dicerminkan Dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor. SK.328/Menhut-II/2009 disebutkan bahwa sebasar 108 Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam kondisi kritis yang memerlukan prioritas penanganan. Luas lahan kritis dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan salah satu indikasi tingkat kekritisan suatu Daerah Aliran Sungai (DAS). Di Indonesia lahan kritis masih terus berkembang dan telah mencapai 77,8 juta hektar (Departemen Kehutanan, 2007) yang tersebar di dalam kawasan hutan sekitar 51 juta ha dan di luar kawasan hutan kurang lebih seluas 26,8 juta ha. Padahal pada tahun 2000, lahan kritis di Indonesia diperkirakan 23.242.881 ha yang berada di dalam kawasan hutan 8.136.646 ha (35%) dan di luar kawasan 15.106.234 ha (65%) (Dep. Kehutanan, 2001). Padahal upaya pengendalian lahan kritis telah digaungkan secara intensif sejak tahun 1976 melalui program Inpres (Instruksi Presiden) Reboisasi dan Penghijauan, dan mulai tahun 2003 telah didorong melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan/GNRHL).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...