gaya manajemen konflik

Top PDF gaya manajemen konflik:

Gaya manajemen konflik seminaris

Gaya manajemen konflik seminaris

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa gaya manajemen konflik yang cenderung digunakan para seminaris X adalah gaya akomodasi (mean=37.00) dan jarang memakai gaya kompetisi (mean=27.66). Berdasarkan uji anova (taraf signifikan 0.05) diperoleh perbedaan antara lima gaya secara signifikan karena p<0.05. Keadaan ini dapat terjadi karena para seminaris X memahami pentingnya kerja sama dan keselarasan yang harus dibangun dalam hidup bersama. Unsur-unsur seperti pengorbanan, menjaga hubungan dengan orang lain, dan memperhatikan keinginan komunitas menjadi pilar utama dalam membangun sebuah komunitas yang sehat. Penelitian ini mendukung pandangan Thomas (dalam Daft, 2010) yang menggambarkan bahwa individu yang memilih gaya akomodasi adalah individu yang mencerminkan derajat kerjasama yang tinggi dan menjaga keselarasan dalam hubungan. Contoh pernyataan gaya akomodasi: “saya menenangkan perasaan orang lain dan berupaya menjaga hubungan, saya mengorbankan keinginan saya untuk memenuhi keinginan orang lain, saya berusaha tidak menyakiti perasaan orang lain dalam penyelesaian masalah, saya mempertimbangkan keinginan orang lain dalam penyelesaian konflik.” Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan Cornille et.all (1999) mengenai gaya manajemen konfik para guru dengan mitra kerja dan orangtua murid di Florida, Amerika Serikat. Hasil penelitian Cornille et.all (1999) menunjukkan bahwa dalam mengelola konflik, para guru lebih cenderung menggunakan gaya akomodasi daripada gaya menghindar. Faktor pendidikan membantu para guru menentukan gaya konflik dengan lebih baik yang cocok dengan situasi. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa strategi manajemen konflik yang paling sering digunakan oleh perawat dan dokter pada saat berhadapan dengan konflik adalah menghindar (Basogul & Ozgur, 2016; Dahshan & Keshk, 2014; Johansen & Cadmus, 2016; Kaitelidou et al., 2012; Lahana et al., 2019; Moisoglou et al., 2014). Hasil penelitian ini juga berbeda dengan penelitian Hasibuan (2016) yang menunjukkan bahwa mahasiswa perantau dari luar Pulau Jawa lebih cenderung menggunakan conflict approach avoidance maupun penelitian Ghavifekr, Nair, dan Ibrahim (2019) yang menyatakan bahwa
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

GAYA MANAJEMEN KONFLIK ANTAR PRIBADI PAD

GAYA MANAJEMEN KONFLIK ANTAR PRIBADI PAD

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dialektika yang terjadi antara keinginan pasangan untuk mendekatankan diri atau menjauhkan diri dengan pasangan karena kesibukan kerja, keterbatasan komunikasi, waktu yang kurang tepat untuk berkomunikasi maupun bertemu dengan keluarga, serta konflik pribadi. Selanjutnya dialektika antara keinginan untuk terbuka atau tertutup dengan pasangan yaitu mereka mencoba untuk saling terbuka tetapi ada informasi yang dirahasiakan. Dialektika terhadap sesuatu yang baru dan hal yang dapat diprediksi di mana terdapat rutinitas jika seseorang berprofesi sebagai TNI sering meninggalkan keluarganya untuk menjalankan tugas serta tugas pekerjaan rumah dan mengurus anak di bebankan pada istri apalagi pasangan yang baru menikah dan yang telah memiliki anak masih balita. Gaya manajemen konflik pada penelitian ini ditemukan bahwa yang paling banyak digunakan oleh pasangan yakni gaya kolaborasi terdapat satu pasangan yang menggunakan gaya manajemen konflik kompromi dengan melibatkan pihak ketiga. Pasangan yang menjalani proses perkenalan yang cukup lama sebelum menikah tidak menjamin menggunakan gaya manajemen konflik kolaborasi tetapi mereka lebih memilih menggunakan gaya manajemen konflik kompromi walaupun pasangan sama-sama menjalani pernikahan selama 2 tahun hal ini terjadi karena perbedaan kepentingan dan karakter dari masing-masing pasangan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

BAB II KAJIAN TEORI A. GAYA MANAJEMEN KONFLIK 1. Pengertian Gaya Manajemen Konflik - PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP GAYA MANAJEMEN KONFLIK PADA PERAWAT RUMAH SAKIT ANANDA PURWOKERTO - repository perpustakaan

BAB II KAJIAN TEORI A. GAYA MANAJEMEN KONFLIK 1. Pengertian Gaya Manajemen Konflik - PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP GAYA MANAJEMEN KONFLIK PADA PERAWAT RUMAH SAKIT ANANDA PURWOKERTO - repository perpustakaan

Konflik menurut Robbins (1996) adalah suatu proses yang mulai bila satu pihak merasakan bahwa suatu pihak lain telah mempengaruhi secara negatif atau akan segera mempengaruhi secara negatif. Definisi ini mencangkup rentang yang luas dari konflik yang dialami orang dalam organisasi, seperti ketidakcocokan tujuan, perbedaan dalam penafsiran fakta, ketidaksepakatan yang didasarkan pada pengharapan perilaku, dan sebagainya. Selanjutnya Robbins mendefinisikan gaya manajemen konflik sebagai keputusan untuk bertindak dalam suatu cara tertentu dalam episode konflik.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Peran Kepribadian Big-Five dalam Gaya Manajemen Konflik

Peran Kepribadian Big-Five dalam Gaya Manajemen Konflik

extraversion, agreeableness dan conscientiousness juga mempengaruhi gaya manajemen konflik integrating. Dimana menurut mereka pada tipe kepribadian extraversion memiliki indikator perilaku dari integrating yaitu assertif yang merupakan satu hal yang penting untuk gaya integrating, adanya sikap mau menolong orang lain membuat tipe kepribadian agreeablenness dapat mempengaruhi gaya manajemen konflik integrating, dan untuk dapat menggunakan integrating sebagai gaya manajemen konflik, dibutuhkan kemauan yang kuat dan motivasi yang tinggi untuk mencapai solusi yang terbaik bagi kedua pihak, hal ini yang membuat conscientiousness juga mempengaruhi gaya manajemen konflik integrating, sedangkan individu dengan tipe kepribadian neuroticsm yang tinggi tidak menunjukkan adanya hubungan dengan gaya manajemen konflik integrating dikarenakan ketidakmampuan menghadapi situasi yang penuh stress sehingga tidak dapat membantu mencari solusi terbaik.
Baca lebih lanjut

149 Baca lebih lajut

Peran Kepribadian Big-Five dalam Gaya Manajemen Konflik

Peran Kepribadian Big-Five dalam Gaya Manajemen Konflik

Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran kepribadian big-five dalam menentukan gaya manajemen konflik seseorang. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitati dengan 204 partisipan yang diambil secara incidental. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Hasil penelitian ini menunjukkan Individu dengan tipe kepribadian openness, conscientiousness, dan agreeableness memiliki kecenderungan menggunakan gaya manajemen konflik compromising. integrating, obliging dan dominating. Individu dengan tipe kepribadian openness, extraversion, dan agreeableness memiliki kecenderungan menggunakan gaya manajemen konflik integrating. Individu dengan tipe kepribadian openness memiliki kecenderungan menggunakan gaya manajemen konflik dominating dan obliging. Individu dengan tipe kepribadian extraversion memiliki hubungan negatif dengan avoiding, sedangkan individu dengan tipe kepribadian neuroticsm cenderung memiliki hubungan positif dengan gaya manajemen konflik avoiding. Penelitian ini dikaitkan dengan berbagai penelitian sebelumnya, terkait hubungan antara kepribadian dengan gaya manajemen konflik dan implementasi pengukuran kepribadian untuk memprediksikan gaya manajemen konflik dalam proses assessment dan perekruitan tenaga kerja.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gaya Manajemen Konflik 2.1.1. Pengertian konflik - Perbedaan Gaya Manajemen Konflik Berdasarkan Karakteristik Demografi Kepala Ruangan Rumah Sakit di Medan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gaya Manajemen Konflik 2.1.1. Pengertian konflik - Perbedaan Gaya Manajemen Konflik Berdasarkan Karakteristik Demografi Kepala Ruangan Rumah Sakit di Medan

Gaya manajemen konflik interpersonal dalam organisasi pertama sekali diperkenalkan oleh Mary P. Follet pada tahun 1926. Dalam konsepnya, dia mengemukakan tiga cara primer untuk menangani konflik yaitu domination, compromise, dan integration, serta dua cara sekunder untuk menangani konflik yaitu avoidance dan supression. Pada tahun 1964, Blake dan Mouton mempresentasikan skema konseptual untuk mengklasifikasikan manajemen konflik interpersonal yang terdiri dari lima gaya yaitu: forcing, withdrawing, smoothing, compromising, dan problem solving. Kelima gaya manajemen konflik tersebut disusun berdasarkan dua sikap manajer, yaitu berfokus pada produksi (concern for production) dan berfokus pada orang (concern for people). Pada tahun 1976 Kenneth W. Thomas menerjemahkan ulang skema Blake dan Mouton. Dia mengklasifikasikan lima gaya manajemen konflik berdasarkan cooperativeness (berusaha memenuhi keinginan pihak lain) dan assertiveness (berusaha memenuhi keinginan pihak sendiri). Lima gaya manajemen konflik menurut Thomas adalah collaborating, accommodating, competing, avoiding dan compromising (Rahim, 2001, 2002).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

HUBUNGAN GAYA MANAJEMEN KONFLIK DENGAN KINERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL

HUBUNGAN GAYA MANAJEMEN KONFLIK DENGAN KINERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL

Berdasarkan hasil try out, reliabilitas pada gaya manajemen konflik yaitu 0,884. Dari hasil try out tersebut, didapatkan hasil bahwa dari jumlah item yang di ujikan sebanyak 28 item, terdapat 11 item yang gugur, sehingga item yang masih tersisa sebanyak 17 item. Pada gaya manajemen ini dilakukan dengan pengukuran skor total. Dari perhitungan skor total pada skala ini dari 17 item tersebut yang valid telah mewakili masing-masing dimensi pada skala gaya manajemen konflik. Indeks validitas pada gaya manajemen konflik yaitu 0,392-0,746. Sedangkan pada variabel terikat kinerja berisi 20 item dengan menggunakan skala dari Based Performance Scale (RBPS) dari Welbourne, Johnson dan Erez (1997) yaitu job (pekerjaan), organization (organisasi), the career role (karir), the team role (tim) dan the innovator role (inovator). Skala kinerja ini juga merupakan skala likert, dengan menggunakan kriteria jawaban (SS) sangat setuju, (S) setuju, (TS) tidak setuju, (STS) sangat tidak setuju. Setelah diterjemahkan oleh Language Center didapatkan salah satu contoh skala itemnya yaitu Saya memastikan kelompok kerja saya dapat mengerjakan tugas dengan baik.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Gaya Manajemen Konflik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Gaya Manajemen Konflik

Ketika seseorang memiliki kompetensi komunikasi interpersonal yang baik, ia akan banyak membuka diri, seperti mengutarakan pendapat, sekaligus terbuka dengan pemikiran dan perasaan orang lain. Faktor seperti ini memungkinkan seseorang untuk memakai gaya kolaborasi sebagai gaya manajemen konfliknya. Gaya kolaborasi dinilai sebagai gaya yang ideal di antara seluruh gaya manajemen konflik yang dipaparkan oleh Thomas-Kilmann (2007). Gaya ini asertif dan kooperatif seperti kompromi, tetapi dalam gaya kolaborasi kedua sikap tersebut berada dalam tingkat tinggi. Kedua belah pihak akan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Sistem gaya kolaborasi adalah menang-menang, sehingga tidak ada pihak yang rugi atau dirugikan. Kolaborasi dapat menjadi efektif untuk skenario yang kompleks ketika seseorang membutuhkan solusi yang baru, dan dapat juga berarti mengkonsepkan kembali tantangan untuk membuat ruang yang lebih besar dan wadah untuk gagasan semua orang. Namun, gaya ini membutuhkan kepercayaan yang dalam pada orang lain dan harus mencapai mufakat. Untuk mencapai mufakat dapat memerlukan banyak waktu dan usaha untuk membuat semua orang ikut serta dan untuk menyatukan gagasan semua orang. Rotter (Anderson & Narus dalam Zeffane, Tipu,
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gaya Manajemen Konflik - Hubungan Kompetensi Supervisi dengan Gaya Manajemen Konflik Perawat Supervisor Rumah Sakit Pemerintah di Banda Aceh

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gaya Manajemen Konflik - Hubungan Kompetensi Supervisi dengan Gaya Manajemen Konflik Perawat Supervisor Rumah Sakit Pemerintah di Banda Aceh

Marquis dan Huston (2010) mendefinisikan secara berbeda gaya manajemen konflik kompromi dan gaya manajemen konflik menghindar. Kompromi diartikan sebagai penyelesaian konflik melalui pencarian jalan tengah yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Bentuk-bentuk kompromi meliputi perpisahan pihak-pihak yang bertentangan sampai mencapai persetujuan, arbitrasi (perwasitan) dimana pihak ketiga diminta memberi pendapat, kembali ke peraturan-peraturan yang berlaku dan penyuapan dimana salah satu pihak menerima kompensasi dalam pertukaran untuk mencapai penyelesaian konflik. Sedangkan pendekatan menghindari dilakukan dengan cara memilih untuk tidak mengakui adanya masalah dan membiarkan masalah selesai dengan sendirinya.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

BAB II - Peran Kepribadian Big-Five dalam Gaya Manajemen Konflik

BAB II - Peran Kepribadian Big-Five dalam Gaya Manajemen Konflik

Gaya manajemen konflik ada lima yaitu integrating, compromising, dominating, obliging dan avoiding (Rahim, 2001). Integrating merupakan gaya manajemen konflik yang berfokus kepada bagaimana kedua belah pihak yang berkonflik berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemecahan masalah sehingga mendapatkan hasil yang saling menguntungkan. Lee (2008) mengatakan bahwa gaya manajemen konflik ini bersifat terbuka, mau bertukar informasi dengan pihak lain dan menyatukan perbedaan untuk mencari solusi yang terbaik bagi kedua pihak. Gaya manajemen konflik ini juga dianggap kompeten karena menyelesaikan dengan mencari tahu tujuan, persepsi atau ide dari pihak lain kemudian mencari solusi secara bersama- sama (Tutzauer and Roloff, 1988; Lee, 2008).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Gaya manajemen konflik compromising dan dominating   dalam mengurangi  stres kerja perawat pelaksana

Gaya manajemen konflik compromising dan dominating dalam mengurangi stres kerja perawat pelaksana

Gaya manajemen konflik dominating cenderung sering diterapkan oleh pemimpin kepada bawahan, namun bisa juga sebaliknya yaitu apabila konflik yang terjadi meluas dan melibatkan berbagai pihak. Sebagai contoh penerapan metode ini dilakukan di Afrika dimana perusahaan yang digunakan sebagai obyek penelitian menggunakan gaya dominating. Dalam kasus ini justru karyawan yang menerapkan gaya manajemen konflik dominan untuk mendesak atasannya dengan cara meminta kenaikan gaji. Pihak manajemen mengikuti permintaan karyawan, dan hal ini membuat karyawan menghargai pekerjaannya dan meminimalisir stresnya sehingga kinerja karyawan dapat ditingkatkan secara keseluruhan (Odoziobodo, 2015).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Skripsi. Pengaruh Kepribadian terhadap Job Performance. Dengan Gaya Manajemen Konflik sebagai Variabel Moderating

Skripsi. Pengaruh Kepribadian terhadap Job Performance. Dengan Gaya Manajemen Konflik sebagai Variabel Moderating

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karuniaNya, serta bantuan dari berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: Pengaruh Kepribadian terhadap Job Performance dengan Gaya Manajemen Konflik sebagai Variabel Moderating.

20 Baca lebih lajut

Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Gaya Manajemen Konflik pada Wanita Dewasa Awal yang Telah Menikah

Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Gaya Manajemen Konflik pada Wanita Dewasa Awal yang Telah Menikah

Penelitian yang dilakukan oleh Mary & Adhikari (2012), menjelaskan bahwa ada hubungan antara kecerdasan emosional dan kualitas pada perkawinan antara pasangan yang telah menikah. Hubungan ini lebih tampak pada kecerdasan emosi istri dan kualitas perkawinan yang dirasakan. Hasil penelitian dari Veshki, dkk (2012) wanita dengan kecerdasan emosional yang lebih tinggi mengelola konflik perkawinan mereka secara efisien. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan konflik perkawinan, perlu mengatur untuk memperkuat kecerdasan emosional. Kecerdasan emosi dapat menjadi salah satu unsur yang berpengaruh dalam pemilihan gaya manajemen konflik pada dewasa awal yang telah menikah. Seperti dalam artikel yang ditulis oleh Atkinson (2005) bahwa percaya adanya cara yang benar hanya akan menyebabkan perselisihan perkawinan dan ketidakbahagiaan. Hal ini lebih baik untuk mengelola reaksi negatif yang intens pada pasangan dengan mengasumsikan bahwa ada alasan yang baik untuk tindakan mereka dan berusaha untuk mengetahui prioritas pribadi di balik perilakunya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Gaya Manajemen Konflik pada Wanita Dewasa Awal yang Telah Menikah

Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Gaya Manajemen Konflik pada Wanita Dewasa Awal yang Telah Menikah

Penelitian yang dilakukan oleh Mary dan Adhikari (2012), menjelaskan bahwa ada hubungan antara kecerdasan emosional dan kualitas pada perkawinan antara pasangan yang telah menikah. Hubungan ini lebih tampak pada kecerdasan emosi istri dan kualitas perkawinan yang dirasakan. Hasil penelitian dari Veshki, dkk. (2012) wanita dengan kecerdasan emosional yang lebih tinggi mengelola konflik perkawinan mereka secara efisien. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan konflik perkawinan, perlu mengatur untuk memperkuat kecerdasan emosional. Kecerdasan emosi dapat menjadi salah satu unsur yang berpengaruh dalam pemilihan gaya manajemen konflik pada dewasa awal yang telah menikah. Seperti dalam artikel yang ditulis oleh Atkinson (2005) bahwa percaya adanya cara yang benar hanya akan menyebabkan perselisihan perkawinan dan ketidakbahagiaan. Hal ini lebih baik untuk mengelola reaksi negatif yang intens pada pasangan dengan mengasumsikan bahwa ada alasan yang baik untuk tindakan mereka dan berusaha untuk mengetahui prioritas pribadi di balik perilakunya.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP GAYA MANAJEMEN KONFLIK PADA PERAWAT RUMAH SAKIT ANANDA PURWOKERTO

PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL TERHADAP GAYA MANAJEMEN KONFLIK PADA PERAWAT RUMAH SAKIT ANANDA PURWOKERTO

Penelitian ini bertujuan untk mengetahui pengaruh komunikasi interpersonal terhadap gaya manajemen konflik pada perawat Rumah Sakit Ananda Purwokerto. Hipotesa dalam penelitian ini adalah ada pengaruh komunikasi interpersonal terhadap gaya manajemen konflik pada perawat Rumah Sakit Ananda Purwokerto.

15 Baca lebih lajut

Pengaruh Kepribadian terhadap Job Performance Dengan Gaya Manajemen Konflik sebagai Variabel Moderating - Unika Repository

Pengaruh Kepribadian terhadap Job Performance Dengan Gaya Manajemen Konflik sebagai Variabel Moderating - Unika Repository

Pengaruh Kepribadian terhadap Job Performance dengan Gaya Manajemen Konflik sebagai Variabel Moderating benar-benar merupakan karya saya. Saya tidak mengambil sebagian atau seluruh karya orang lain seolah-olah saya akui sebagai karya saya. Apabila saya melakukan hal tersebut, maka gelar dan ijasah yang saya peroleh dinyatakan batal dan akan saya kembalikan kepada Universitas Katolik Soegijapranata.

20 Baca lebih lajut

Perbedaan Gaya Manajemen Konflik Berdasarkan Karakteristik Demografi Kepala  Ruangan Rumah Sakit di Medan

Perbedaan Gaya Manajemen Konflik Berdasarkan Karakteristik Demografi Kepala Ruangan Rumah Sakit di Medan

Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan merupakan sebuah rumah sakit pemerintah yang dikelola pemerintah pusat dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara, terletak di lahan yang luas di pinggiran kota Medan. Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik mulai berfungsi sejak tanggal 17 Juni 1991 dengan pelayanan rawat jalan, sedangkan untuk pelayanan rawat inap dimulai tanggal 2 Mei 1992. Instalasi Rawat Inap terbagi dalam 2 gedung dengan jumlah tempat tidur sebanyak 650 tempat tidur, terdiri dari Rawat Inap Terpadu (Rindu) A terdiri dari 3 lantai dengan jumlah tempat tidur sebanyak 305 tempat tidur Rawat Inap Terpadu (Rindu) B terdiri dari 3 lantai dengan jumlah tempat tidur sebanyak 345 tempat tidur (rsuphadammalik.com). Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pingadi Kota Medan didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan peletakan batu pertamanya pada tanggal 11 Agustus 1928 dan diresmikan pada tahun 1930. Setelah sekian tahun beroperasi masih sangat sedikit penelitian mengenai gaya manajemen konflik yang dilakukan pada kepala ruangan di kedua rumah sakit tersebut.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

Hubungan antara tipe perfeksionisme dengan gaya Manajemen konflik pada individu dewasa awal yang sedang menjalani hubungan pacaran

Hubungan antara tipe perfeksionisme dengan gaya Manajemen konflik pada individu dewasa awal yang sedang menjalani hubungan pacaran

dahulu oleh professional judgment. Kemudian, peneliti membagikan skala ini kepada lima orang yang memenuhi kriteria sebagai subjek untuk mengetahui pemahaman subjek terhadap item-item yang disajikan dalam skala tersebut. Dalam hal realibilitas, skala gaya manajemen konflik diuji dengan pendekatan Alpha Cronbach. Skor yang diperoleh dari pengujian ini adalah 0,90 pada gaya manajemen konflik cooperative , 0,82 pada gaya manajemen konflik nonconfrontation , dan 0,85 pada gaya manajemen konflik controlling . Hal ini menjelaskan bahwa skala gaya manajemen konflik memiliki realibilitas yang tergolong sangat baik.
Baca lebih lanjut

153 Baca lebih lajut

Hubungan antara tipe perfeksionisme dengan gaya Manajemen konflik pada individu dewasa awal yang sedang menjalani hubungan pacaran.

Hubungan antara tipe perfeksionisme dengan gaya Manajemen konflik pada individu dewasa awal yang sedang menjalani hubungan pacaran.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan signifikansi antara tipe perfeksionisme dengan gaya manajemen konflik pada dewasa awal yang sedang berpacaran. Hipotesis penelitian ini, yaitu (1) ada hubungan positif antara perfeksionisme self oriented dengan manajemen konflik cooperative (2) ada hubungan positif antara perfeksionisme other oriented dengan manajemen konflik controlling (3) hubungan positif antara perfeksionisme socially prescribed dengan manajemen conflik non confrontation. Subjek penelitian sebanyak 101 orang dengan rentang usia mulai dari 18 tahun sampai dengan 25 tahun. Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan google doc yang disebarkan melalui media online. Koefisien reliabilitas dari skala perfeksionisme adalah 0,82 pada self-oriented, 0,62 pada other-oriented, dan 0,71 pada socially prescribed perfectionism dan koefisien reliabilitas dari skala manajemen konflik adalah 0,90 pada gaya manajemen konflik cooperative, 0,82 pada gaya manajemen konflik nonconfrontation, dan 0,85 pada gaya manajemen konflik controlling. Koefisien korelasi yang diperoleh dari penelitian ini adalah : (1) 0,208 (p=0,019) pada perfeksionisme self oriented dengan manajemen konflik cooperative (2) 0,185 (p=0,032) pada perfeksionisme other oriented dengan manajemen konflik controlling dan (3) 0,304 (p=0,001) pada perfeksionisme socially priscribed dengan manajemen konflik nonconfrontative. Hal ini menunjukan bahwa : (1) terdapat hubungan positif yang signifikan antara perfeksionisme self oriented dengan manajemen konflik cooperative (2) terdapat hubungan positif yang signifikan antara perfeksionisme other oriented dengan manajemen konflik controlling (3) terdapat hubungan positif yang signifikan antara perfeksionisme socially prescribed dengan manajemen conflik non confrontation.
Baca lebih lanjut

155 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...