gen hormon pertumbuhan

Top PDF gen hormon pertumbuhan:

Isolasi Fragmen Tertentu Gen Hormon Pertumbuhan Ikan Mas Majalaya Dan Nila Gift Dengan Metode Ctab - Pcr (Isolation of partial fragments of growth hormone of Majalaya carp fish and GIFT nile using CTAB - PCR methods. By: Ibnu Dwi Buwono and Maman Herman S

Isolasi Fragmen Tertentu Gen Hormon Pertumbuhan Ikan Mas Majalaya Dan Nila Gift Dengan Metode Ctab - Pcr (Isolation of partial fragments of growth hormone of Majalaya carp fish and GIFT nile using CTAB - PCR methods. By: Ibnu Dwi Buwono and Maman Herman S

penyandi GH untuk mengkopi urutan GH yang dapat dilipatgandakan jumlah kopinya dengan thermocycler (mesin PCR / Polymerase Chain Reaction) melalui tahapan denaturasi, annealing dan elongation. Gen hormon pertumbuhan dari beberapa ikan seperti chum salmon, rainbow trout, chinnok salmon, tilapia (jenis ikan nila) dan carp (jenis ikan mas) telah dapat dikloning dan memberikan ekspresi gen GH pada E. coli (Sekine et al., 1985 ; Tsai et al., 1995).

12 Baca lebih lajut

Keragaman Gen Hormon Pertumbuhan pada Ayam Lokal Indonesia dan Persilangannya

Keragaman Gen Hormon Pertumbuhan pada Ayam Lokal Indonesia dan Persilangannya

Ayam lokal memiliki potensi genetik yang bernilai ekonomis tinggi seperti produksi daging dan telur, kemampuan bertahan terhadap iklim tropis yang lebih panas serta daya tahan terhadap penyakit. Gen hormon pertumbuhan pada ayam (chicken growth hormone atau cGH) memiliki peran yang penting dalam mengatur pertumbuhan dan metabolisme sehingga keragaman dari gen cGH berpotensi memiliki pengaruh terhadap sifat ekonomisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman gen cGH pada beberapa populasi ayam lokal Indonesia dan persilangannya serta ayam ras pedaging dan ras petelur. Keragaman gen cGH intron 4 dianalisa pada 229 sampel darah ayam yang terdiri dari ayam kampung, pelung, sentul, ras pedaging, ras petelur, merawang, ras pedaging x kampung, kampung x ras pedaging, sentul x kampung dan pelung x sentul. Primer khusus didesain untuk mengamplifikasi sekuen DNA target. Sekuen yang teramplifikasi dipotong menggunakan enzim restriksi MspI dan menghasilkan 2 alel yaitu A dan B dengan frekuensi 0.88-0.96 dan 0.04-0.12 kecuali pada ayam ras petelur hanya ditemukan 1 alel yaitu A dengan frekuensi 1.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen cGH|MspI pada ayam kampung, pelung, sentul, ras pedaging, merawang, ras pedaging x kampung, kampung x ras pedaging, sentul x kampung dan pelung x sentul bersifat polimorfik, sedangkan ayam ras petelur bersifat monomorfik. Populasi ayam lokal Indonesia dan persilangannya yang dianalisa pada penelitian ini memiliki keragaman genetik yang rendah namun tetap berada pada kesetimbangan Hardy-Weinberg.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN ANALISIS GEN HORMON PERTUMBUHAN LELE (Clarias gariepinus Burch.)

ISOLASI DAN ANALISIS GEN HORMON PERTUMBUHAN LELE (Clarias gariepinus Burch.)

Isolasi gen hormon pertumbuhan lele dumbo (C. gariepinus) dari hipofisa ikan merupakan sumber DNA yang selanjutnya dapat digunakan sebagai cetakan untuk mengkopi gen tersebut menggunakan primer Amc-GH-F dan Amc-GH-R. Fragmen DNA lele dumbo hasil isolasi terdeteksi berdasar elektroforesis gel agarosa 1%. Amplifikasi gen penyandi hormon pertumbuhan (Growth Hormone / GH) lele dumbo menggunakan primer Amc-GH-F (5’-GCAGAAATGGCTCGAGGTAAGG-3’) dan Amc-GH-R (5’- CAGGGTGCAGTTGGAATCC-3’) dapat mengkopi sekuen gen GH lele dengan ukuran fragmen PCR sekitar 1.400 bp. Sementara amplikon gen GH American catfish (Rhamdia quelen) menggunakan primer Amc-GH-F dan Amc-GH-R sebesar 1.465 bp. Hasil analisis sekuensing gen penyandi GH menggunakan program BlastP dan Genetyx versi 7.0, menunjukkan bahwa sekuen gen penyandi GH lele dumbo memiliki homologi 80% dengan sekuen GH C. gariepinus pada bank gen (no. aksesi AF 416488.1), sehingga sebagian besar sekuen gen penyandi hormon pertumbuhan ikan tersebut dapat diamplifikasi secara in vitro.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Introduksi dan ekspresi gen hormon pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) pada ikan lele (Clarias sp)

Introduksi dan ekspresi gen hormon pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) pada ikan lele (Clarias sp)

Produksi akuakultur setiap tahun meningkat seiring dengan meningkatnya pertambahan penduduk di Indonesia. Pada tahun 2005 jumlah penduduk Indonesia sebanyak 220 juta jiwa dan membutuhkan ikan sebanyak 6,3 juta ton jika konsumsi perkapita 28,7 kg/orang/tahun. Pada tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia meningkat menjadi 235 juta jiwa dan membutuhkan ikan sebanyak 7,0 juta ton jika konsumsi perkapita naik menjadi 30,0 kg/orang/tahun (Dahuri 2006). Dalam program revitalisasi Kementerian Kelautan dan Perikanan 2010-2014 ada beberapa komoditas yang ditargetkan meningkat produksinya. Ikan lele merupakan salah satu komoditas akuakultur yang selalu meningkat permintaannya setiap tahun. Peningkatan produktivitas akuakultur dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan. Salah satu pendekatan terkini yang diharapkan dapat meningkatkan produksi adalah teknologi trangenesis. Teknologi transgenesis merupakan suatu teknik rekayasa genetik dengan cara mengintroduksi gen yang khas pada ikan tertentu untuk mendapatkan keunikan yang memiliki nilai tambah. Teknologi transgenesis ini telah diaplikasikan pada bidang akuakultur sejak tahun 1985 di Cina dengan mengintroduksi gen pengkode hormon pertumbuhan yang berasal dari manusia pada ikan maskoki (Zhu et al. 1985). Sejak itu, teknologi transfer gen mulai dikembangkan di beberapa negara dengan fokus penelitian pada transfer gen hormon pertumbuhan. Pada penelitian selanjutnya di gunakan gen hormon pertumbuhan (Growth Hormone /GH) dari ikan, gen anti beku, gen pengatur sintesa DHA, gen anti penyakit dan gen pengatur warna (Dunham 2004).
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Polimorfisme DNA pada Lokus 2 Gen Hormon Pertumbuhan Sapi Madura DNA polymorphism at locus 2 of growth hormone gene of Madura cattle

Polimorfisme DNA pada Lokus 2 Gen Hormon Pertumbuhan Sapi Madura DNA polymorphism at locus 2 of growth hormone gene of Madura cattle

Polimorfisme atau variasi genetik pada jenis yang sama sangat penting, karena mempunyai banyak aplikasi dalam persilangan dan genetika. Polimorfis- me pada situs restriksi oleh enzim MspI pada lokus-2 gen hormon pertumbuhan sapi disebabkan oleh adanya transisi C menjadi T pada posisi +837 (Hoj et al., 1993a,b). Penelitian untuk mengungkap variasi situs restriksi menggunakan enzim restriksi MspI pada sapi Sahiwal Zebu (Mitra et al., 1995 dalam Sutarno, 2000) diketemukan frekuensi alel MspI (+) sangat rendah (0,14), dan sapi Bali sebesar (0,80) (Sutarno, 2000), sedangkan pada penelitian ini diperoleh frekuensi alel MspI (+) sebesar (0,44). Hasil penelitian ini, memperlihatkan adanya polimorfisme DNA pada lokus-2 gen hormon pertumbuhan dari jenis sapi Madura. Penerapan dari diversitas genetik telah banyak dilakukan pada peternakan sapi perah dengan penggunaan rekombinan DNA yang didasar- kan pada polimorfisme gen hormon pertumbuhan yang telah diterapkan di Amerika Serikat yang terbukti dapat meningkatkan produksi susu.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Keragaman Gen Hormon Pertumbuhan Reseptor (GHR) pada Sapi Perah Friesian Holstein

Keragaman Gen Hormon Pertumbuhan Reseptor (GHR) pada Sapi Perah Friesian Holstein

Gen hormon pertumbuhan memiliki peran penting dalam pengaturan siklus laktasi, perkembangan kelenjar susu dan proses pertumbuhan melalui interaksi dengan reseptor spesifik. Hormon pertumbuhan (growth hormone, GH) merupakan hormon anabolik yang disintesis dan disekresikan oleh sel somatrotop di lobus anterior hipofisa. Hormon pertumbuhan berinteraksi dengan reseptor spesifik pada permukaan sel target. Reseptor hormon pertumbuhan (growth hormone receptor, GHR) telah dijadikan sebagai kandidat gen untuk sifat-sifat yang terkait dengan produksi susu pada kelompok bovidae. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keragaman gen GHR pada sapi Friesian Holstein (FH). Sampel darah sebanyak 353 sampel dikumpulkan dari lima populasi yang terdiri dari Balai Pengembangan Pembibitan Ternak Sapi Perah (BPPT-SP) Cikole (88 sampel), Pasir kemis (96 sampel), Cilumber (98 sampel), Balai Embrio Transfer (BET) Cipelang (40 sampel), Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari (32 sampel), dan 17 sampel dari semen di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang. DNA genom diekstraksi menggunakan protokol standar fenol-kloroform dan diamplifikasi menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Penentuan genotipe gen GHR dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lokus GHR|AluI ditemukan dua alel yaitu A dan G dengan tiga genotipe yaitu AA, AG dan GG. Frekuensi alel A (0,70-0,82) lebih tinggi dari alel G (0,18-0,30). Pengujian χ 2 menunjukkan bahwa pada kelompok populasi BPPT-SP Cikole, Cilumber dan Pasir kemis tidak berbeda nyata
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

ISOLASI FRAGMEN TERTENTU GEN HORMON PERTUMBUHAN IKAN MAS MAJALAYA DAN NILA GIFT DENGAN METODE CTAB–PCR

ISOLASI FRAGMEN TERTENTU GEN HORMON PERTUMBUHAN IKAN MAS MAJALAYA DAN NILA GIFT DENGAN METODE CTAB–PCR

Hormon pertumbuhan (Growth Hormone/GH) pada ikan berperan untuk memacu pertumbuhan, di samping terlibat juga dalam fungsi osmoregulasi, pengaturan keseimbangan cairan elektrolit, dan proses-proses metabolisme. Metode CTAB (Cetyl Trymethyl Ammonium Bromide) digunakan untuk mengisolasi DNA sel ikan (DNA genomik) dari sirip ekor ikan mas Majalaya dan nila GIFT. Isolasi gen hormon pertumbuhan dari DNA genomik kedua jenis ikan dapat disintesis dengan primer cGH (carp Growth Hormone) dan TiGH (Tilapia Growth Hormone) menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Hasil elektroforegram produk amplifikasi PCR untuk sebagian gen hormon pertumbuhan ikan mas Majalaya dapat dideteksi dengan ukuran fragmen DNA sebesar 615 bp dan 349 bp. Fragmen DNA hormon pertumbuhan ikan nila GIFT dapat dideteksi dengan ukuran 597 bp.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Karakterisasi Gen Hormon Pertumbuhan (Chicken Growth Hormone) pada Ayam Lokal Indonesia

Karakterisasi Gen Hormon Pertumbuhan (Chicken Growth Hormone) pada Ayam Lokal Indonesia

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Karakterisasi Gen Hormon Pertumbuhan (Chicken Growth Hormone) pada Ayam Lokal Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

26 Baca lebih lajut

Identifikasi Keragaman Gen Hormon Pertumbuhan (GH-MspI) pada Kerbau Lokal (Bubalus bubalis)

Identifikasi Keragaman Gen Hormon Pertumbuhan (GH-MspI) pada Kerbau Lokal (Bubalus bubalis)

15 akan hilang (splicing). Mutasi yang terjadi pada sekuen yang tidak ditranskripsikan (intron) akan mengakibatkan silent mutation yaitu mutasi yang tidak mengakibatkan perubahan fenotipik. Selain itu, silent mutation juga dapat terjadi karena 1) mutasi yang terjadi tidak menyebabkan perubahan asam amino karena beberapa asam amino yang sama dikodekan oleh kodon yang berbeda, 2) mutasi tidak terjadi pada situs aktif protein (Paolella, 1998). Namun Funk (2001) menyatakan bahwa tingkat polimorfisme dan mutasi yang tinggi pada daerah non-coding diduga dapat mempengaruhi ekspresi gen secara tidak langsung. Mutasi pada intron dapat mengganggu proses spilicing, seperti tidak terpotongnya intron atau timbulnya splice site baru, hal ini yang akan menyebabkan terganggunya pengaturan ekspresi gen. Sebagai contoh, menurut Gunadi (2006) hampir 50% penyakit genetik pada manusia diakibatkan oleh mutasi yang mengganggu splicing dan salah satu contoh penyakitnya adalah ß-thalasemia.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Keragaman genetik gen hormon pertumbuhan (GH) dan hubungannya dengan kualitas karkas pada sapi aceh

Keragaman genetik gen hormon pertumbuhan (GH) dan hubungannya dengan kualitas karkas pada sapi aceh

This study was conducted in order to identify polymorphism of growth hormone gene and to characterize nucleotide changes and its position in the DNA sequence of the exon five in the bovine growth hormone gene. In addition, this study was done to determine the association of GH/AluI polymorphism with carcass quality and to describe D-Loop of mtDNA and microsatellite alleles in Aceh cattle. A total of 242 DNA genome samples were extracted from four Aceh cattle population, i.e., Banda Aceh (29), Aceh Besar (30), Indrapuri (129), and Saree (54), while for sample comparison was derived from the Gen Bank. The bGH gene was sequenced to identify new single nucleotide polymorphism (SNP). The sequence data were analyzed using BLAST and MEGA 4 software, and the PCR-RFLP was used to amplify 404 bp of GH gene. D-Loop sequences of mtDNA amplification were done by using specific primer with the PCR product of 980 bp, and the dnaSP program was used to build the NJ tree and to identify the haplotype. Three markers of BM1824, SPS115, and ILSTS028 were used for microsatellite DNA genotyping. The data of genotyping was analyzed using GeneMapper versi 4.0 software and Excel program. The result showed that one new SNP was found in the exon five of bGH gene, which located at position of 2.230 bp (C/T). Genotype frequencies of SNP in position 2.230 bp of Aceh cattle were 0.36; 0.14; and 0.50; for CC, TT, and CT respectively. On the contrary, the LL genotype was the only genotype which found in other Aceh cattle population. This finding indicated that there was not evidence of polymorphism of GH/AluI in Aceh cattle, and there was not correlation of GH/AluI gene with carcass quality of Aceh cattle. It could be affected by small number of sampling size. D-Loop mtDNA analyses showed that there was 27 haplotypes, and 28 Aceh cattle integrated into group of Buthan, China, India, and Zebu cattle with maternal origin of Bos indicus and one sample was from Bos taurus. These finding could be assumed that Aceh cattle has more genetic introgression of Bos indicus compared to that Bos taurus breeds. Microsatellite analyses showed that the average number of allele per locus was 7.6. The genotype of Indrapuri population was higher than those of Banda Aceh and Saree population. Based on the microsatellite alleles analyses, the frequency of C alele locus of SPS115 and ILSTS028 was higher in Indrapuri population. Nevertheless, these locus could be uses for further study to get more information about polymorphism in Indrapuri population. However, this study suggests that GH gene could be possible used as genetic marker.
Baca lebih lanjut

189 Baca lebih lajut

PRODUKSI IKAN LELE CEPAT TUMBUH GENERASI F-0 MENGGUNAKAN METODE TRANSGENESIS

PRODUKSI IKAN LELE CEPAT TUMBUH GENERASI F-0 MENGGUNAKAN METODE TRANSGENESIS

Penggunaan teknologi transgenesis untuk memproduksi ikan cepat tumbuh telah berhasil dilakukan pada beberapa spesies ikan budidaya. Pada penelitian ini dilakukan introduksi gen hormon pertumbuhan ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus growth hormone, PhGH) menggunakan teknik elektroforasi pada sperma ikan lele (Clarias gariepinus) untuk memproduksi ikan lele cepat tumbuh generasi F-0. Hasil penelitian menunjukkan gen PhGH mampu terinsersi dan terekspresi secara genotip dan fenotip pada ikan lele. Transfer gen PhGH pada konsentrasi 100 μg/mL memiliki tingkat keberhasilan insersi gen terbaik yaitu sebesar 56%. Berdasarkan pemeriksaan ekspresi mRNA gen PhGH menunjukkan bahwa terjadi over-ekspresi gen PhGH pada sirip individu yang positif membawa transgen. Individu ikan lele dalam populasi yang diintroduksi gen PhGH memiliki bobot badan yang lebih bervariasi dibandingkan kontrol. Berdasarkan distribusi bobot ikan lele, terdapat dua individu pada populasi hasil introduksi gen PhGH yang memiliki bobot hampir dua kali lipat dibandingkan bobot rata-rata populasi kontrol. Berdasarkan hasil penelitian ini maka telah terjadi over-ekspresi secara genotip dan fenotip pada generasi F-0 ikan lele cepat tumbuh.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Introduksi dan ekspresi gen hormon pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) pada ikan lele (Clarias sp)

Introduksi dan ekspresi gen hormon pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) pada ikan lele (Clarias sp)

Promoter berperan penting dalam transgenesis sebagai pengatur ekspresi gen yang diintroduksi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas promoter β -aktin dari ikan medaka (mBP) pada ikan lele (Clarias sp.) sebagai langkah awal dalam rangka produksi ikan lele transgenik dengan karakter yang berguna bagi akuakultur. Aktivitas promoter diketahui dengan cara mengamati ekspresi gen penyandi protein berpendar hijau (green fluorescent protein, GFP) pada embrio hasil mikroinjeksi. Konstruksi gen dalam bentuk plasmid mBP-GFP dengan konsentrasi 50 µg/ml . Konstruksi gen tersebut diinjeksikan secara terpisah ke dalam blastodisk embrio ikan lele fase 1 sel. Jumlah telur yang diinjeksi untuk konstruksi gen adalah sebanyak 30 embrio dan dilakukan 2 pengulangan. Telur diinkubasi pada akuarium dengan suhu air sekitar 28 o C. Ekspresi gen GFP diamati menggunakan mikroskop fluoresen (Olympus SZX 16) dimulai pada jam ke-4 setelah fertilisasi dan dilanjutkan setiap 2 jam sekali hingga ekspresi GFP tidak terdeteksi. Derajat kelangsungan hidup embrio (DKH-e) dan derajat penetasan (DP) dianalisis sebagai data pendukung. DKH-e dihitung sebelum telur menetas, sedangkan DP dihitung ketika semua telur telah menetas. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DKH-e (63,33±3,34%) dan DP (63,63± 10,03%) kontrol tidak diinjeksi lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan injeksi. DKH-e yang diinjeksi dengan β-aktin-GFPadalah 25,00±1,67%. Nilai DP untuk β -aktin-GFP adalah 18,34±1,65%. Persentase embrio yang mengekspresikan gen GFP adalah 3,3 ±0,0%. Puncak ekspresi gen GFP yang dikendalikan oleh promoter β -aktin adalah pada jam ke-10. Ekspresi gen GFP tidak tampak lagi pada saat telur menetas. Kesimpulannya adalah bahwa promoter β -aktin dari ikan medaka dapat aktif mengendalikan ekspresi gen asing pada ikan lele, sehingga promoter tersebut dapat digunakan dalam pembuatan ikan lele transgenik.
Baca lebih lanjut

203 Baca lebih lajut

Hubungan Keragaman Gen Hormon Pertumbuhan dengan Pencitraan Ultrasonografi Lemak Perirenal dan Otot Longissimus dorsi pada Kelinci

Hubungan Keragaman Gen Hormon Pertumbuhan dengan Pencitraan Ultrasonografi Lemak Perirenal dan Otot Longissimus dorsi pada Kelinci

Identifikasi keragaman gen GH menggunakan teknik PCR-RFLP dari 33 sampel darah kelinci jantan dewasa di Balai Penelitian Ternak (BALITNAK) dan dilakukan sekuensing pada sampel dengan genotipe yang berbeda. Primer gen GH yang digunakan dengan runutan primer forward : 5’ - GTA TAG TGG GAT GGG GTT GG - 3’, primer reverse: 5 ’ - TTA CGC TCC CAT TCA GAA GC -3 ’ (nomor akses GenBank Z28137). Produk PCR dari fragmen gen GH (231 pasang basa (pb)) dipotong dengan enzim pemotong Bsh1236I. Ketebalan otot Longissimus dorsi dan lemak perirenal dicitrakan dan diukur menggunakan alat ultrasonografi yang dilengkapi oleh transduser mikro-convex dengan frekuensi 7.5 MHz pada posisi lumbar vertebrae ke 2 hingga ke 3 pada sisi kiri tubuh. Analisis data PCR- RFLP dilakukan dengan menghitung frekuensi genotipe dan frekuensi alel. Hubungan antara data fenotipik terhadap setiap bangsa kelinci serta hubungan antara data keragaman gen GH|Bsh1236I terhadap peubah tebal lemak perirenal dan otot Longissimus dorsi dianalisis menggunakan metode General Linear Model (GLM). Perhitungan koefisien korelasi digunakan untuk menemukan hubungan antara peubah bobot badan dan hasil pencitraan ultrasonografi dari ketebalan lemak perirenal dan otot Longissimus dorsi.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Identification of Growth Hormone Gene Variation in the Exon Region of Indonesian Local Cattle Based on PCR SSCP Method

Identification of Growth Hormone Gene Variation in the Exon Region of Indonesian Local Cattle Based on PCR SSCP Method

Indonesia memiliki berbagai bangsa ternak sapi potong yang merupakan ternak lokal yang informasi genetiknya masih terbatas seperti sapi Bali, Aceh, Madura, Pesisir dan sapi Katingan. Sapi potong tersebut memiliki potensi yang sangat besar karena merupakan sumber daya genetik ternak lokal yang tidak ternilai harganya. Keunggulan yang dimiliki sapi lokal Indonesia adalah kemampuan adaptasi lingkungan ekstrim, ketersediaan pakan yang berkualitas rendah dan fertilitasnya yang sangat baik, serta mampu bertahan pada kondisi iklim tropis. Keunggulan pada sapi lokal Indonesia inilah yang menjadi salah satu alasan dasar atas kajian molekuler terhadap gen hormon pertumbuhan (GH) yang diduga sebagai salah satu gen utama (major gene) yang berperan penting dalam proses pertumbuhan. Polimorfisme dari gen GH yang terdapat sapi lokal seperti sapi Bali, Madura, Pesisir, dan sapi Katingan (Kalimantan Tengah) belum banyak informasinya. Hal ini terkendala dari segi penelitian maupun teknik dalam pendeteksian keragaman gen tersebut. Teknik yang juga bisa digunakan untuk mendeteksi keragaman gen pada suatu ternak adalah dengan teknik PCR- SSCP (Polymerase Chain Reaction-Single Strand Conformation Polymorphism). Teknik ini relatif masih baru dalam penentuan polimorfisme suatu gen, dan tidak banyak dilakukan, khususnya dalam penentuan gen GH terlebih pada ternak sapi lokal Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman gen hormon pertumbuhan di daerah exon dengan menggunakan teknik PCR-SSCP pada populasi sapi lokal Indonesia.
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

Microsoft Word   sutarno

Microsoft Word sutarno

Penelitian-penelitian terhadap hewan percobaan di labo- ratorium maupun hewan ternak seperti sapi telah dilakukan untuk mengungkap adanya pengaruh variasi genotip terhadap sirkulasi hormon pertumbuhan maupun secara langsung pengaruhnya terha- dap kecepatan pertumbuhan. Pada sapi pedaging jenis Simmental, Schlee et al. (1994a) menunjukkan bahwa individu yang memiliki genotip LV (Leucine/Valine) pada gen hormon pertumbuhan adalah superior dalam pencapaian berat karkas dan kualitas daging. Polimorfisme yang dideteksi dengan Taq I pada gen hormon per- tumbuhan dilaporkan berhubungan dengan berat lahir pada sapi jenis Brahman (Rocha et al., 1991). Sedangkan pada sapi Korea telah dilaporkan bahwa polimorfisme Taq I pada gen ini secara signifikan berhubungan dengan pertumbuhan sapi (Choi et al., 1997). Penelitian yang dilakukan oleh Sutarno (1998) terhadap sapi Hereford dan Composite dari Wokalup Reasearch station-Australia menunjukkan bahwa polimorfisme Msp I gen hormon pertumbuhan pada daerah antara ekson III dan IV secara signifikan mempenga-
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Single Nucleotide Polymorphism of Growth Hormone Exon 10 as Basic Information for Selection on Pesisir Cattle Germplasma In West Sumatera

Single Nucleotide Polymorphism of Growth Hormone Exon 10 as Basic Information for Selection on Pesisir Cattle Germplasma In West Sumatera

Data penelitian ini berasal dari data penelitian lapangan dan penelitian laborato- rium. Penelitian lapangan untuk memperoleh data karakter eksternal (berat badan dan ukuran-ukuran tubuh) dan penelitian labo- ratorium untuk memperoleh data polimorfis- me dan sekuen gen reseptor hormone pertum- buhan. Penelitian lapangan dilaksanakan di Kabupaten Pesisir Selatan yaitu pada Keca- matan Ranah Pesisir, Kecamatan Lengayang dan Kecamatan Sari Linggo baganti. Pene- litian lapangan ini dilakukan dari bulan Maret sampai Mei 2010.Sampel ternak adalah sapi yang berumur ±1,5 tahun dengan kelamin jantan. Penentuan umur ternak sapi sampel dilakukan berdasarkan pada keterangan lang- sung dari peternak dan pertukaran gigi seri menurut klassifikasi I 1 sudah haus atau mulai
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Identifikasi Keragaman Genetik Gen Reseptor Hormon Pertumbuhan (GHR AluI) pada Sapi Bali

Identifikasi Keragaman Genetik Gen Reseptor Hormon Pertumbuhan (GHR AluI) pada Sapi Bali

  Sama halnya dengan gen GH, target utama dari gen GHR adalah hati. Ekspresi gen GHR bersifat autoregulation. Gen GHR 1A diekspresikan secara eksklusif pada hati (Lucy et al. 1998), sedangkan gen GHR 1B dan GHR 1C diekspresikan pada jaringan (Jiang dan Lucy 2001). Ekspresi mRNA GHR 1A bermacam-macam pada tahapan perkembangan, ada sedikit mRNA GHR 1A pada fetus hati tetapi setengah pada mRNA GHR dalam hati individu dewasa yang dihasilkan olah mRNA GHR 1A (Jiang dan Lucy 2001). Menurut Scanes (2003) terdapat dua mRNA GHR yang dihasilkan dari sambungan dan inisiasi pada transkripsi dari promotor 1 dan 2. Hal ini digambarkan berturut-turut sebagai gen GHR 1A dan GHR 1B pada sapi. Ekspresi gen GHR 1A dibatasi pada hati dan merupakan pengontrol perkembangannya, hal tersebut tidak terjadi pada saat setelah panyapihan. Sebaliknya, ekspresi gen GHR 1B ditemukan pada lipatan jaringan dan dalam tahapan awal dan akhir perkembangan setelah kelahiran (Liu et al. 2000).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGGUNAAN TEKNIK MOLEKULER PENGGUNAAN TEKNIK MOLEKULER UNTUK MEMPERBAIKI SIFAT PRODUKSI HEWAN TERNAKHEWAN TERNAK

PENGGUNAAN TEKNIK MOLEKULER PENGGUNAAN TEKNIK MOLEKULER UNTUK MEMPERBAIKI SIFAT PRODUKSI HEWAN TERNAKHEWAN TERNAK

individu yang superior dalam pertumbuhan. Penemuan ini sesuai dengan penemuan terdahulu yang menunjukkan bahwa variasi gen hormon pertumbuhan berpengaruh pada pertumbuhan sapi peda- ging jenis Composit dan Hereford (Sutarno, 1998). Sampai bebe- rapa tahun yang lalu, seleksi untuk memperoleh bibit unggul umumnya dilakukan hanya berdasarkan penampakan luar (fenotip). Individu yang memiliki fenotip baik dikawinkan dengan individu lain yang fenotipnya juga baik dengan harapan diperoleh keturunan yang fenotipnya baik. Namun demikian, teknik ini kurang tepat, keadaan lingkungan yang menguntungkan, misalnya faktor makan- an, air dan fasilitas pemeliharaan dapat menjadikan suatu individu memiliki penampakan luar yang baik, namun faktor ini tidak dapat diturunkan. Dengan demikian, perlu adanya seleksi yang didasar- kan pada gen yang bertanggung jawab terhadap munculnya sifat fenotip yang diinginkan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pelajaran IPA Kelas 6

Pelajaran IPA Kelas 6

Demikian pula halnya dengan tanaman mangga, rambutan, atau jeruk yang semula kecil dapat berubah menjadi pohon yang tinggi dan besar dengan buahnya yang lebat. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu proses dimana keduanya berjalan berdampingan. Dengan demikian proses pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Baca lebih lajut

Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Dengan Pupuk Hayati Pada Perbedaan Volume Media Tanam

Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Dengan Pupuk Hayati Pada Perbedaan Volume Media Tanam

Azotobacter spp. memiliki kelebihan dibandingkan dengan bakteri penambat N atmosfer nonsimbiotik lainnya, karena mampu mensintesis hormon seperti IAA. Sintesis IAA pada bakteri melalui jalur asam indol piruvat. IAA yang disekresikan bakteri memacu pertumbuhan akar secara langsung dengan menstimulasi pemanjangan atau pembelahan sel atau secara tidak langsung mempengaruhi aktivitas ACC deaminase. ACC deaminase yang dihasilkan oleh banyak bakteri pemacu pertumbuhan tanaman mencegah produksi etilen pada tingkat yang menghambat pertumbuhan tanaman (Patten dan Glick, 2002).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...