Gigi Desidui

Top PDF Gigi Desidui:

PERAWATAN PULPEKTOMI NON VITAL PADA GIGI DESIDUI ANTERIOR MAKSILA

PERAWATAN PULPEKTOMI NON VITAL PADA GIGI DESIDUI ANTERIOR MAKSILA

Kemudian dilakukan pengambilan jaringan pulpa nekrotik (pulp debridement) dengan tekhnik pull stroke menggunakan barber broach yang ditandai rubber stop, step ini dilakukan sampai jaringan pulpa benar-benar terambil seluruhnya. Panjang kerja pada tahap ini adalah 2/3 dari panjang kerja, yaitu yaitu gigi 51 (9,6 mm), gigi 52 (9,1 mm) dan gigi 62 (8,8 mm). Selanjutnya, dilakukan preparasi saluran akar dengan K-File ukuran nomor 15 dan diakhiri file ukuran nomor 35 atau sampai didapat white dentin. Pada gigi desidui, preparasi dilakukan hanya untuk mengangkut jaringan pulpa bukan untuk memperluas saluran akar. Kemudian, dilakukan finishing preparasi saluran akar dengan H-File nomor 40. Setelah itu, saluran akar diirigasi menggunakan larutan natrium hipoklorit (NaOCl) dan di sterilisasi menggunakan pasta Ca(OH) 2 yang diaplikasikan
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1Periode Gigi Geligi 2.1.1Periode Gigi Desidui - Distribusi Maloklusi pada Pasien di Departemen Ortodonsia RSGMP FKG USU Tahun 2009-2013

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1Periode Gigi Geligi 2.1.1Periode Gigi Desidui - Distribusi Maloklusi pada Pasien di Departemen Ortodonsia RSGMP FKG USU Tahun 2009-2013

Beberapa klasifikasi faktor etiologi maloklusi telah diperkenalkan salah satunya adalah klasifikasi etiologi menurut Graber yang membagi faktor etiologi dalam dua kelompok yaitu faktor umum dan faktor lokal.Faktor umum yang merupakan etiologi maloklusi adalah herediter, kongenital, lingkungan, keadaan dan penyakit metabolik, nutrisi, kebiasaan buruk dan kelainan fungsional, postur dan trauma. Faktor lokal yang merupakan etiologi maloklusi adalah anomali jumlah gigi, anomali ukuran gigi, anomali bentuk gigi, frenum labial yang abnormal, premature loss gigi desidui, retensi gigi desidui yang berkepanjangan, erupsi gigi permanen yang terlambat, arah erupsi yang abnormal, ankilosis, karies dan restorasi yang tidak baik. 5,6
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PERBEDAAN KEKERASAN EMAIL GIGI DESIDUI ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH PERENDAMAN DENGAN BEBERAPA JENIS SEDIAAN SUSU

PERBEDAAN KEKERASAN EMAIL GIGI DESIDUI ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH PERENDAMAN DENGAN BEBERAPA JENIS SEDIAAN SUSU

Email gigi merupakan jaringan yang mengalami mineralisasi paling besar pada tubuh manusia karena mengandung lebih dari 90% bahan anorganik yaitu hidroksiapatit. Email pada gigi desidui memiliki struktur yang kurang padat dan lebih tipis apabila dibandingkan dengan email gigi permanen sehingga proses terjadinya karies pada anak-anak rentan terjadi. Anak cenderung suka mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis seperti susu. Susu merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi karena memiliki kandungan nutrisi yang lengkap seperti laktosa, lemak, protein, berbagai vitamin dan mineral. Susu disajikan dalam berbagai bentuk sediaan seperti susu bubuk, susu cair atau susu UHT (Ultra High Temperature) dan susu kental manis. Komposisi makanan manis dapat mempengaruhi kekerasan struktur email gigi desidui karena mengandung glukosa dan sukrosa yang berdampak terhadap terjadinya proses demineralisasi dan remineralisasi gigi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Sampel yang digunakan berjumlah 24 gigi desidui yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dimana terdapat 6 sampel pada masing masing kelompok perendaman yaitu susu bubuk, susu cair (UHT) dan susu kental manis sebagai variabel pengaruh serta aquades sebagai variabel kontrol. Hasil penelitian memperlihatkan nilai normal dan homogen sehingga dapat dilakukan uji One way Anova untuk menganalisa perbedaan kekerasan email antara sebelum dan sesudah perendaman pada seluruh kelompok perlakuan. Hasil uji One way Anova menunjukkan nilai probabilitas 0,00 yang berarti p<0,05 dan disimpulkan bahwa terdapat perubahan yang bermakna antara sebelum dan sesudah perendaman dengan susu bubuk, susu cair (UHT) dan susu kental manis.
Baca lebih lanjut

83 Baca lebih lajut

PERBEDAAN KEKERASAN EMAIL GIGI DESIDUI ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH PERENDAMAN DENGAN SUSU, TEH, DAN SODA

PERBEDAAN KEKERASAN EMAIL GIGI DESIDUI ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH PERENDAMAN DENGAN SUSU, TEH, DAN SODA

Penelitian ini dilakukan dengan merendam sampel gigi desidui dengan tiga variabel berbeda, yaitu susu, teh, dan soda selama 45 menit. Hasil uji kekerasan menggunakan alat Micro Vickers Hardness Testing Mechine mendapatkan nilai dua diameter yang terbentuk dari hasil uji sebelum dan sesudah perendaman. Nilai diameter-diameter tersebut kemudian dihitung menggunakan rumus kekerasan, dirata-rata dan dicari juga selisihnya, kemudian didapatkan rerata nilai kekerasan sebelum dan sesudah perlakuan. Nilai-nilai kekerasan tersebut kemudian dirangkum pada Tabel 1. yang menunjukkan adanya perubahan rerata nilai kekerasan serta selisih antara sebelum dan sesudah perendaman dalam masing-masing variabel pengaruh.
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

PERBEDAAN TINGKAT KEKERASAN EMAIL ANTARA GIGI DESIDUI DENGAN TAF DAN TANPA TAF SEBELUM DAN SESUDAH PERENDAMAN PADA SUSU

PERBEDAAN TINGKAT KEKERASAN EMAIL ANTARA GIGI DESIDUI DENGAN TAF DAN TANPA TAF SEBELUM DAN SESUDAH PERENDAMAN PADA SUSU

dari 96% mineral anorganik dan 4% mineral organik dan air. Mineral anorganik yang terkandung dalam gigi adalah hidroksiapatit yang juga dapat ditemukan pada tulang. Kandungan mineral yang tinggi menyebabkan struktur email keras namun apabila terjadi karies dapat menyebabkan email menjadi mudah rapuh. (Nanci, 2003). Karies merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya demineralisasi pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh empat faktor yang bekerja secara bersamaan, yaitu mikroorganisme (bakteri), diet (karbohidrat), waktu, dan host (gigi). Mikroorganisme yang bersifat kariogenik di antaranya adalah bakteri Streptococcus mutans dan Lactobacillus sp. Bakteri beserta produk- produknya akan melekat pada gigi dan membentuk deposit lunak yang biasa dikenal sebagai plak gigi. Beberapa jenis karbohidrat makanan seperti sukrosa dan glukosa dapat diragikan oleh bakteri tersebut dan akan membentuk asam. Asam yang terbentuk akan menurunkan pH plak hingga <5 sehingga akan menyebabkan demineralisasi permukaan gigi (Fajerskov & Kidd, 2008). Miller (1989) mengatakan bahwa perlunakan email dan dentin merupakan awal dari terjadinya karies.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Distribusi Maloklusi pada Siswa SMAN 4 Medan Tahun 2016

Distribusi Maloklusi pada Siswa SMAN 4 Medan Tahun 2016

Maloklusi memiliki penyebab yang multifaktorial dan hampir tidak pernah memiliki satu penyebab yang spesifik. 11,12 Faktor penyebab maloklusi terbagi dua, yakni faktor umum dan faktor lokal. Faktor umum misalnya seperti genetik atau herediter, defisiensi nutrisi dan kebiasaan abnormal, sedangkan untuk faktor lokal berasal dari lengkung rahang misalnya gigi supernumerary, karies gigi dan kehilangan gigi desidui sebelum waktunya. 11 Beberapa klasifikasi etiologi maloklusi sudah dikenalkan, salah satunya adalah klasifikasi etiologi maloklusi menurut Moyer.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Klasifikasi Dan Evaluasi Klinis Glass Ionomer Cement

Klasifikasi Dan Evaluasi Klinis Glass Ionomer Cement

Glass-ionomer cement telah mendapatkan penelitian intensif sebagai bahan restorasi untuk gigi desidui. Beberapa penelitian telah dilakukan terus menerus pada bahan konvensional yang asli dengan bahan yang dimodifikasi resin. Pada umumnya hasil yang diperoleh tidak memuaskan khususnya pada kavitas aproksimal dimana semen relatif tidak mendukung. Karena kerapuhannya, glass-ionomer cement membutuhkan pendukung di sekeliling struktur gigi sehingga penampilannya lebih baik pada permukaan kavitas dengan permukaan tunggal dibandingkan dengan kavitas dengan berbagai permukaan. 1,2
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Prediksi Leeway Space Dengan Menggunakan Tabel Moyers Pada Murid Sekolah Dasar Ras Deutro-Melayu Di Kota Medan

Prediksi Leeway Space Dengan Menggunakan Tabel Moyers Pada Murid Sekolah Dasar Ras Deutro-Melayu Di Kota Medan

Perubahan pada insisivus terjadi selama fase transisi pertama dimana insisivus desidui digantikan dengan insisivus permanen. Insisivus sentralis bawah merupakan yang pertama erupsi. Insisivus permanen memiliki ukuran lebih besar daripada insisivus desidui. Perbedaan mesiodistal di antara gigi insisivus desidui dan permanen disebut dengan incisal liability. 23,24 Pada segmen anterior, keempat insisivus permanen maksila rata-rata 7,6 mm lebih besar daripada insisivus desidui. Sedangkan pada insisivus permanen mandibula rata-rata 6,0 mm lebih besar daripada insisivus desidui. 24 Bhalajhi (2009) menyatakan bahwa incisal liability pada rahang atas rata-rata 7 mm, sedangkan pada rahang bawah 5 mm. 23,24 Incisal liability ini dapat dibagi oleh beberapa faktor 12,24 : a. Pemanfaatan ruangan diantara gigi pada gigi desidui akan menyediakan ruang 4 mm di rahang atas dan 3 mm di rahang bawah.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Morfologi Gigi Decedui

Morfologi Gigi Decedui

 Perkembangan gigi desidui lebih cepat daripada gigi permanen. Gigi desidui mulai berkembang sejak di dalam rahim dan korona mulai lengkap sebelum lahir. Kelainan sistemik prenatal dapat mempengaruhi mineralisasi korona gigi desidui

92 Baca lebih lajut

Hubungan Pengan Karies dan PUFA dengan Indeks Massa Tubuh(IMT) pada Anak Usia 12-14 Tahun di Kecamatan Medan Timur dan Medan Tuntungan

Hubungan Pengan Karies dan PUFA dengan Indeks Massa Tubuh(IMT) pada Anak Usia 12-14 Tahun di Kecamatan Medan Timur dan Medan Tuntungan

Karies yang tidak dirawat dapat menyebabkan pulpitis, ulserasi, fistula, dan abses. Indeks PUFA digunakan untuk menilai kondisi rongga mulut akibat dari karies yang tidak dirawatdan berkaitan dengan infeksi jaringan sekitarnya. Indeks PUFA pada gigi permanen dan indeks pufa untuk gigi desidui. 8,9

5 Baca lebih lajut

Prevalensi Premature Loss Gigi Molar Desidui pada Pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU Tahun 2010-2014

Prevalensi Premature Loss Gigi Molar Desidui pada Pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU Tahun 2010-2014

Premature loss gigi desidui dianggap sebagai faktor lokal yang paling umum menyebabkan maloklusi. Gigi desidui yang memiliki risiko karies paling tinggi dan paling sering dilakukan pencabutan dini sebagai efek dari karies adalah gigi molar, baik molar satu maupun molar dua. Prevalensi premature loss gigi molar desidui yang dilaporkan pada beberapa penelitian bervariasi pada setiap populasi di berbagai negara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi premature loss gigi molar desidui pada pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU pada tahun 2010-2014 dan untuk mengetahui prevalensi premature loss gigi molar desidui pada pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU pada tahun 2010-2014 pada rahang atas dan rahang bawah serta pada setiap kuadran rahang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh rekam medik dan model studi pasien di klinik S-1 departemen Ortodonsia RSGMP FKG USU selama 5 tahun terakhir yaitu pada tahun 2010-2014. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel pada penelitian ini adalah 280 sampel. Penelitian dilakukan dengan mencatat data pasien sesuai rekam medik kemudian dilakukan pengamatan pada model studi pasien untuk mendapatkan data mengenai premature loss gigi molar desidui.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Prevalensi Premature Loss Gigi Molar Desidui pada Pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU Tahun 2010-2014

Prevalensi Premature Loss Gigi Molar Desidui pada Pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU Tahun 2010-2014

Selain mesial drift dan distal drift , jika sebuah gigi tanggal dari lengkung giginya seringkali akan terjadi erupsi berlebihan dari gigi antagonisnya atau perkembangan vertikal dari struktur dentoalveolar yang berlebihan. Prosesus dentoalveolar yang elongasi dapat menyebabkan masalah fungsional dan ganguan oklusal. 3,33 Keadaan ini dapat terjadi setelah tanggalnya gigi-gigi desidui, namun hanya bersifat sementara. Erupsi dari gigi-gigi penggantinya, bersama dengan pertumbuhan alveolar yang berlanjut, biasanya akan menyebabkan terbentuknya bidang oklusal yang benar, asalkan gigi-gigi pengganti bisa saling beroklusi. 3 Migrasinya gigi tetangga dan antagonis setelah terjadi premature loss dapat dilihat pada gambar 6.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Prevalensi Premature Loss Gigi Molar Desidui pada Pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU Tahun 2010-2014

Prevalensi Premature Loss Gigi Molar Desidui pada Pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU Tahun 2010-2014

Pengaruh kehilangan gigi desidui tergantung pada tipe gigi yang hilang. Semakin ke distal gigi yang hilang, maka semakin besar risiko kehilangan ruang. 12 Gigi desidui yang paling rentan terhadap karies dan paling sering dilakukan pencabutan secara dini karena karies adalah gigi-gigi molar satu dan molar dua. 13,14 Gigi molar desidui cenderung mudah terkena karies karena adanya pit dan fisur pada permukaan oklusal. Kehilangan dini gigi molar desidui cenderung mempengaruhi maloklusi dikarenakan adanya pergeseran gigi yang berdekatan ke ruangan yang hilang tersebut. Kehilangan dini gigi molar satu desidui dapat menyebabkan pergeseran kaninus ke arah distal. Kehilangan dini gigi molar dua desidui adalah sebuah tantangan yang lebih besar karena gigi molar dua desidui berperan dalam menuntun erupsi gigi molar satu permanen. Dengan hilangnya penuntun, maka gigi molar satu permanen berpotensi menyimpang mesial dan kemudian akan menempati ruang untuk gigi premolar dua yang belum erupsi sehingga dapat menyebabkan impaksinya gigi premolar dua. 8,9,15
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Prevalensi Crossbite Anterior Dental dan Piranti yang Digunakan dalam Perawatan di Klinik S-1 Departemen Ortodonti FKG USU

Prevalensi Crossbite Anterior Dental dan Piranti yang Digunakan dalam Perawatan di Klinik S-1 Departemen Ortodonti FKG USU

yang menyebabkan perpindahan lingual benih gigi permanen, adanya gigi supernumerari pada bagian anterior, crowding pada bagian anterior, adanya gigi atau akar gigi desidui yang nekrotik, kebiasaan buruk seperti mengigit bibir atas, bentuk dan ukuran lengkung gigi yang tidak cukup dan odontoma. 6,8,9

4 Baca lebih lajut

Manifestasi Kleidokranial displasia pada Rongga Mulut dan Perawatannya

Manifestasi Kleidokranial displasia pada Rongga Mulut dan Perawatannya

Kleidokranial displasia biasanya ditandai dengan aplasia atau hipoplasia klavikula, baik unilateral maupun bilateral yang mengakibatkan hipermobiliti bahu. Gambaran klinis dari Kleidokranial displasia dapat dilihat juga pada sebagian besar anggota tubuh. Pada penderita Kleidokranial displasia dapat terlihat palatum yang tinggi pada rongga mulutnya. Hal ini disebabkan adanya pertumbuhan yang abnormal pada tengkorak. Penderita Kleidokranial displasia juga mengalami gangguan pertumbuhan gigi geligi seperti persistensi gigi desidui, keterlambatan atau kegagalan erupsi gigi permanen, dan perkembagan supernumerary teeth.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Prevalensi Premature Loss Gigi Molar Desidui pada Pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU Tahun 2010-2014

Prevalensi Premature Loss Gigi Molar Desidui pada Pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU Tahun 2010-2014

Tabel Halaman 1 Kronologi erupsi gigi geligi desidui menurut Kronfeld R .......... 6 2 Kronologi erupsi gigi geligi permanen menurut Kronfeld R. ..... 7 3 Urutan tanggalnya gigi desidui secara alami .............................. 19 4 Prevalensi premature loss gigi molar desidui pada pasien

14 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asimetri - Gambaran Asimetri Lengkung Gigi dan Asimetri Wajah pada Pasien Gigitan Terbalik Anterior yang Dirawat di Klinik Ortodonti RSGMP FKG USU

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asimetri - Gambaran Asimetri Lengkung Gigi dan Asimetri Wajah pada Pasien Gigitan Terbalik Anterior yang Dirawat di Klinik Ortodonti RSGMP FKG USU

Gigitan terbalik anterior merupakan kelainan posisi gigi anterior maksila yang lebih ke lingual daripada gigi anterior mandibula (Gambar 13). Gigitan ini dapat dijumpai pada anak terutama pada periode masa gigi bercampur. Kasus ini sering menjadi keluhan pasien karena menimbulkan penampilan yang kurang menarik, disamping itu dapat mengakibatkan terjadinya trauma oklusi. 1,12 Etiologi gigitan terbalik anterior karena crowded pada lengkung maksila yang menyebabkan malposisi gigi insisivus di lengkung rahang. Gigitan terbalik anterior yang muncul pada periode gigi desidui sebaiknya segera dikoreksi sebelum berkembang menjadi maloklusi yang lebih parah sehingga perawatan lebih sulit dilakukan. 12,24,26
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Prevalensi Beberapa Dental Anomaly Pada Penderita Down Syndrome Menggunakan Radiografi Panoramik Pada Pelajar   Sekolah Luar Biasa Pembina Medan

Prevalensi Beberapa Dental Anomaly Pada Penderita Down Syndrome Menggunakan Radiografi Panoramik Pada Pelajar Sekolah Luar Biasa Pembina Medan

bawah) dan gigi desidui (20 gigi pada rahang atas dan rahang bawah). Agenesis dental (hipodonsia) adalah karakteristik umum pada penderita Down syndrome, berkisar dari 30-53%, dan gigi geligi yang tidak terdapat pada mereka juga tidak terdapat pada gigi populasi individu normal (Kieser et al., 2003). Dijumpa 60-63% penderita Down syndrome mengalami satu atau lebih missing teeth. Russell dan Kjaer (1995) melakukan penelitian lebih detail pada 100 penderita Down syndrome dan membandingkan mereka dengan populasi normal. Missing teeth terjadi 10 kali lebih sering pada penderita Down syndrome berbanding populasi umum dan sering terjadi pada laki-laki berbanding perempuan. 1 Kebanyakan kasus hipodonsia adalah karena genetik. Agenesis gigi sering dijumpai pada individu yang ada hubungan dengan populasi yang mempunyai penyakit genetik. 15
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Prevalensi Premature Loss Gigi Molar Desidui pada Pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU Tahun 2010-2014

Prevalensi Premature Loss Gigi Molar Desidui pada Pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU Tahun 2010-2014

Premature loss gigi desidui dianggap sebagai faktor lokal yang paling umum menyebabkan maloklusi. Gigi desidui yang memiliki risiko karies paling tinggi dan paling sering dilakukan pencabutan dini sebagai efek dari karies adalah gigi molar, baik molar satu maupun molar dua. Prevalensi premature loss gigi molar desidui yang dilaporkan pada beberapa penelitian bervariasi pada setiap populasi di berbagai negara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi premature loss gigi molar desidui pada pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU pada tahun 2010-2014 dan untuk mengetahui prevalensi premature loss gigi molar desidui pada pasien Ortodonsia di RSGMP FKG USU pada tahun 2010-2014 pada rahang atas dan rahang bawah serta pada setiap kuadran rahang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh rekam medik dan model studi pasien di klinik S-1 departemen Ortodonsia RSGMP FKG USU selama 5 tahun terakhir yaitu pada tahun 2010-2014. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel pada penelitian ini adalah 280 sampel. Penelitian dilakukan dengan mencatat data pasien sesuai rekam medik kemudian dilakukan pengamatan pada model studi pasien untuk mendapatkan data mengenai premature loss gigi molar desidui.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 5714 documents...