Guided inquiry

Top PDF Guided inquiry:

KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED INQUIRY PADA MATA PELAJARAN SISTEM KOMPUTER KELAS X DI SMK MUHAMMADIYAH 3 YOGYAKARTA.

KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED INQUIRY PADA MATA PELAJARAN SISTEM KOMPUTER KELAS X DI SMK MUHAMMADIYAH 3 YOGYAKARTA.

dalam kurikulum 2013 yang berpusat kepada siswa ( student centered learning ). Permasalahan diatas merupakan permasalahan yang mendasar, jadi jika di biarkan dapat mengakibatkan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) tidak tercapai. Penggunaan metode yang tepat merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Metode pembelajaran dapat membantu guru dalam melaksanaan pembelajaran dan demi tercapainya target pembelajaran. Perencanaan kolaborasi antara penggunaan model pembelajaran dan media pembelajaran yang baik dapat memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Dalam kurikulum 2013 yang berpedoman pada pendekatan ilmiah dan berpusat pada siswa, maka model yang digunakan dalam proses pembelajaran model pembelajaran inkuiri terbimbing ( Guided Inquiry ).
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

Penerapan Model Guided Inquiry Berbantu

Penerapan Model Guided Inquiry Berbantu

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis Biologi siswa kelas X6 SMA Batik 1 Surakarta melalui penerapan model guided inquiry berbantu twitter. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research) yang dirancang dalam beberapa siklus, setiap siklus meliputi 4 tahapan yaitu: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X6 SMA Batik 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2012/2013. Data diperoleh melalui tes (tes pilihan ganda) dan non tes (observasi, wawancara dan angket). Data dianalitis dengan teknik analitis deskriptif, serta validasi data menggunakan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir analitis siswa meningkat pada Prasiklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III. Rata-rata kemampuan berpikir analitis siswa sebesar 28,52% menjadi 63,13%. Peningkatan untuk aspek menginterpretasikan informasi dan gagasan sudah meningkat dari 25,24% menjadi 71,05%. Aspek mengevaluasi pendapat meningkat dari 16,19% menjadi 37,72%. Aspek menyusun pendapat untuk mendukung sebuah kesimpulan meningkat dari 36,19% menjadi 72,37%. Aspek mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman meningkat dari 29,52% menjadi 75,26%. Aspek mengumpulkan dan menilai informasi dari sumber tertulis, elektronik dan observasi meningkat dari 26,86% menjadi 57,89%. Aspek menyusun dan mendukung hipotesis meningkat dari 37,14% menjadi 64,47%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model guided inquiry berbantu twitter dapat meningkatkan kemampuan berpikir analitis siswa kelas X6 SMA Batik 1 Surakarta.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL GUIDED DISCOVERY DAN GUIDED INQUIRY TERHADAP HASIL KOGNITIF, KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN SIKAP ILMIAH SISWA PADA MATERI HUKUM NEWTON DI SMPN 3 PALANGKA RAYA

PENERAPAN MODEL GUIDED DISCOVERY DAN GUIDED INQUIRY TERHADAP HASIL KOGNITIF, KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN SIKAP ILMIAH SISWA PADA MATERI HUKUM NEWTON DI SMPN 3 PALANGKA RAYA

Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) berdasarkananalisis hipotesis pada posttest, gain dan N-gainhasil belajar kognitif menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar dengan model guided discovery di kelas kontrol dan siswa yang diajar dengan model guided inquiry di kelas eksperimen, dengan nilai signifikansi posttest0,960 >0,05, (2) berdasarkan analisis uji hipotesis pada posttestketerampilan proses sains menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar dengan model guided discovery di kelas kontrol dan siswa yang diajar dengan model guided inquiry di kelas eksperimen, dengan nilai signifikansi posttest 0,231>0,05. Analisis hipotesis gain dan N-gain keterampilan proses sains menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar dengan model guided discovery di kelas kontrol dan siswa yang diajar dengan model guided inquiry di kelas eksperimen, (3)berdasarkananalisis hipotesis pada nilai rata-rata sikap ilmiah siswa menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar dengan model guided discovery di kelas kontrol dan siswa yang diajar dengan model guided inquiry di kelas eksperimen, dengan nilai signifikansi sikap ilmiah 0,793>0,05.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL GUIDED DISCOVERY DAN GUIDED INQUIRY TERHADAP HASIL KOGNITIF, KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN SIKAP ILMIAH SISWA PADA MATERI HUKUM NEWTON DI SMPN 3 PALANGKA RAYA IMPLEMENTATION GUIDED DISCOVERY MODEL AND GUIDED INQUIRY MODEL TOWARD COGNITIVE

PENERAPAN MODEL GUIDED DISCOVERY DAN GUIDED INQUIRY TERHADAP HASIL KOGNITIF, KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN SIKAP ILMIAH SISWA PADA MATERI HUKUM NEWTON DI SMPN 3 PALANGKA RAYA IMPLEMENTATION GUIDED DISCOVERY MODEL AND GUIDED INQUIRY MODEL TOWARD COGNITIVE

The study is aimed to know: 1) the whether significance difference student's cognitive outcomes who learning using guided discovery model and who learning using guided inquiry model in Newton law material, 2) the whether significance difference science process skill of students who learning the guided discovery model and who learning guided inquiry model in Newton law material. 3) The whether significance difference scientific attitude of students who learning the guided discovery model and who learning guided inquiry model in Newton law material. This research used model nonequivalent control group design. The instrument used student's cognitive outcomes test, science process skill test and sheet of monitoring student's scientific attitude test. Population of the study there were class VIII-3 the total number was 36 students as control class and there were class VIII first semester of SMPN 3 Palangka Raya, sample of the study there were class VIII-I the total number was 34 students as experiment class. The data analysis of pretest and posttest THB cognitive, process science skill and student's scientific attitude used SPSS 17.0 for windows.The result of the study showed: 1) based on hypothesis analysis of posttest, gain and N- gain THB cognitive showed there is no significance difference between student who learning using guided discovery model to the control class and the student who learning using guided inquiry model to the experiment, with the significant value of posttest 0,960 > 0,05, 2) based on hypothesis analysis of posttest, process science skill showed there is no significance difference between student who learning using guided discovery model to the control class and the student who learning using guided inquiry model to the experiment class, with the significant value of posttest 0,231> 0,05. The hypothesis analysis gain and N-gain process science skill found the significance difference between students who learning using guided discovery model to the control class and the student who learning using guided inquiry model to the experiment class, 3) based on hypothesis analysis of the average value of student's scientific attitude showed there is no significance difference between student who learning using guided discovery model to the control class and the student who learning using guided inquiry model to the experiment class, with the significant value of scientific attitude 0,793 > 0,05.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

44 Enhancing Students' Cognitive Outcome in Chemistry by Guided Inquiry Learning Models

44 Enhancing Students' Cognitive Outcome in Chemistry by Guided Inquiry Learning Models

that must be possessed by students through students through learning activities. This is in line with the implementation of Curriculum 2013 in Indonesia, conducted by trained the skills on students that are reflected in learning activities to improve learning outcomes [5]. One way to improve student learning outcomes is to use an inquiry-based learning model. Guided inquiry is a model that can improve students' cognitive learning outcomes. Guided inquiry has a syntax of learning: observation, formulating problems, designing experiments, conducting experiments, collecting experimental data, analyzing experimental data, drawing conclusions, and making conclusions [4,7].
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI BERBASIS GUIDED INQUIRY UNTUK MEMBERDAYAKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN SMA NEGERI 1 NGEMPLAK BOYOLALI | Nugroho | Prosiding SNPS (Seminar Nasional Pendidikan Sains) 5089 11124 1 SM

PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI BERBASIS GUIDED INQUIRY UNTUK MEMBERDAYAKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN SMA NEGERI 1 NGEMPLAK BOYOLALI | Nugroho | Prosiding SNPS (Seminar Nasional Pendidikan Sains) 5089 11124 1 SM

2. Modul biologi berbasis guided inquiry layak digunakan sebagai bahan ajar baru di sekolah, kelayakan modul didasarkan atas penilaian: a) hasil uji coba produk awal berdasarkan validasi ahli dan praktisi didapatkan rata-rata 3,61 dengan persentase 90,25% berkategori ˝Sangat Baik˝, b) hasil uji coba lapangan terbatas oleh 30 siswa yang didapatkan rata-rata 3,3 dengan persentase 82,5% dikategorikan ˝Baik˝, c) hasil uji lapangan operasional terhadap 30 siswa dan rata-rata penilaian hasilnya 3,77, dengan persentase 94,25% dikategorikan ˝Sangat Baik˝, dan d) hasil diseminasi oleh 8 guru biologi di Kabupaten Boyolali, rata-rata 3,64 berkategori ˝Sangat Baik˝.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PENDEKATAN GUIDED INQUIRY DAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA ANTARA PENDEKATAN GUIDED INQUIRY DAN PENDEKATAN MODIFIED FREE INQUIRY PADA TEMA “TEKANAN CAIRAN DI DALAM TUBUH MANUSIA' SISWA SMP KELAS VIII.

PERBEDAAN PENDEKATAN GUIDED INQUIRY DAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA ANTARA PENDEKATAN GUIDED INQUIRY DAN PENDEKATAN MODIFIED FREE INQUIRY PADA TEMA “TEKANAN CAIRAN DI DALAM TUBUH MANUSIA' SISWA SMP KELAS VIII.

This research aimed to: 1) determining whether or not differences in process skills and know better process skills of guided inquiry approach and modified free inquiry approach. 2 ) determine whether or not differences cognitive learning outcome and know better cognitive learning outcome between guided inquiry approach and modified free inquiry approach. This type of research is quasi experiment. The study population was taken from the eighth grade students of SMP N 15 Yogyakarta as many as 10 classes. The sampling technique was conducted by purposive sampling and obtained a class VIII F (guided inquiry) and class VIII E (modified free inquiry). To determine differences in cognitive learning outcomes used Independent t tests and to determine differences in process skills used Mann Whitney test. To find out which one is better to use the average analysis and gain scores. Mann-Whitney analysis results showed that there was no significant difference in the skills of the second grade with an average rating class guided and modified classes respectively 84.11 and 87.73. While the results of the t test analysis showed that the cognitive learning both classes have different cognitive learning outcomes significantly. The results of the analysis of the gain scores showed that class guided inquiry has cognitive learning outcomes better than free inquiry modified class with an average value of gain scores respectively 0.51 and 0.29.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL GUIDED INQUIRY TERHADAP SIKAP ILMIAH DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA TEMA EKOSISTEM

PENERAPAN MODEL GUIDED INQUIRY TERHADAP SIKAP ILMIAH DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA TEMA EKOSISTEM

This research aims to investigate the difference of scientific attitude by implementing guided inquiry on Ecosystem theme and the effectiveness of guided inquiry model to improv e students’ comprehension of concept. The design of this research was Quasi Experiment Design with Nonequivalent Control Group Design. The sample was class VII D and VII J of SMP Negeri 3 Ungaran students in even semester of academic year 2014/2015. The data was collectied by using interview draft of teachers, learning outcomes data obtained from pretest and posttest, observation sheet of students’ scientific attitude, and questionnaire sheet of students’ feedback towards guided inquiry model. The learning process was done in five stages; they are statement of problem, hypotheses, data collection, data interpretation, and conclusion. The worksheet assisted learning model was used in this research . The result shows that the average score of students’ scientific attitude was 86 in experiment class, and 82 in control class. The result of t-test of students’ scientific attitude was t count > t table with t count = 3.464 and t table =
Baca lebih lanjut

142 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS GUIDED INQUIRY LABORATORY PADA MATERI SISTEM PERNAPASAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR LOGIS SISWA SMA KELAS XI MIPA - UNS Institutional Repository

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS GUIDED INQUIRY LABORATORY PADA MATERI SISTEM PERNAPASAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR LOGIS SISWA SMA KELAS XI MIPA - UNS Institutional Repository

Hasil penelitian menunjukkan: 1) karakteristik produk modul berbasis Guided Inquiry Laboratory dikembangkan berdasarkan sintaks model pembelajaran Guided Inquiry Laboratory yang bermuatan aspek kemampuan berpikir logis yang divisualisasikan pada kegiatan dan soal evaluasi modul; 2) kelayakan modul siswa dan guru dinilai berkualifikasi sangat baik oleh penilaian ahli materi dengan pemenuhan 93%; ahli media pengembangan modul 92,9%; ahli bahasa 96,88%; dan ahli perangkat pembelajaran 98,2%; 3) modul berbasis Guided Inquiry Laboratory efektif meningkatkan kemampuan berpikir logis yang ditunjukkan dengan perolehan rata-rata nilai posttest experimental class 7,32 lebih tinggi dari nilai posttest existing class dan hasil uji Anacova ( 0,006 < 0,05 ) serta
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI BERBASIS MODEL GUIDED INQUIRY LABORATORY PADA MATERI BIOTEKNOLOGI | Nurjanah | Inkuiri 9675 20554 1 SM

PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI BERBASIS MODEL GUIDED INQUIRY LABORATORY PADA MATERI BIOTEKNOLOGI | Nurjanah | Inkuiri 9675 20554 1 SM

Penelitian dan pengembangan modul ini bertujuan untuk mengetahui: 1) karakteristik produk modul biologi berbasis model guided inquiry laboratory pada materi bioteknologi, 2) kelayakan prototipe modul biologi berbasis model guided inquiry laboratory pada materi bioteknologi, 3) keefektifan modul biologi berbasis model guided inquiry laboratory pada materi bioteknologi. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan metode Borg & Gall yang telah dimodifikasi menjadi sembilan tahapan: 1) tahap penelitian pendahuluan, 2) tahap perencanaan, 3) tahap pengembangan rancangan awal produk, 4) tahap uji coba lapangan permulaan, 5) tahap revisi produk tahap pertama, 6) tahap uji lapangan terbatas atau uji keterbacaan, 7) tahap revisi produk tahap kedua, 8) tahap uji lapangan operasional, 9) tahap revisi produk akhir. Model pengembangan modul menggunakan desains ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluations). Instrumen yang digunakan meliputi: angket, observasi, wawancara dan tes. Analisis data yang digunakan selama penelitian dan pengembangan adalah analisis deskriptif, teknik persentase dan uji independen sample t test. Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan: 1) karakteristik modul berbasis model guided inquiry laboratory dikembangkan berdasarkan sintaks guided inquiry laboratory, meliputi: observation, manipulation, generalitation,verifikation dan aplication, 2) kelayakan prototipe modul berbasis model guided inquiry laboratory menurut para ahli berkategori “ sangat baik”, praktisi pendidikan berkategori “ sangat baik” dan menurut siswa berkategori “sangat baik”, 3) modul biologi berbasis model guided inquiry laboratory efektif meningkatkan hasil belajar aspek sosial dengan skor rata-rata sebesar 85.94, aspek keterampilan dengan skor rata-rata sebesar 93.47, aspek pengetahuan siswa dengan skor rata-rata sebesar 86.58, berdasarkan hasil uji independent sample t test menunjukkan adanya perbedaan postest hasil belajar aspek pengetahuan antara kelas modul dengan kelas existing pada materi bioteknologi dengan signifikan T Hitung (0,002) < T Tabel (0.05).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBELAJARAN FISIKA MENGGUNAKAN MODEL MODIFIED FREE INQUIRY DAN GUIDED INQUIRY TERHADAP KEMAMPUAN MULTIREPRESENTASI DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS | Qurotul A’yun | Inkuiri 7415 15572 1 SM

PENGARUH PEMBELAJARAN FISIKA MENGGUNAKAN MODEL MODIFIED FREE INQUIRY DAN GUIDED INQUIRY TERHADAP KEMAMPUAN MULTIREPRESENTASI DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS | Qurotul A’yun | Inkuiri 7415 15572 1 SM

Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan, siswa malas dalam pembelajaran karena siswa belum dilibatkan secara aktif, pembelajaran fisika kurang menyenangkan, sehingga siswa merasa kesulitan dalam mempresentasikan ulang materi yang telah dibaca atau yang telah diketahui. Guru dalam pembelajaran kurang menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Mengacu pada tujuan kurikulum 2013, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik saintifik yaitu model pembelajaran inkuiri. Permasalahan yang ditemui di sekolah juga memerlukan pendekatan atau model pembelajaran yang bertujuan untuk membangkitkan minat siswa yaitu inkuiri yang memasukkan soal-soal yang berhubungan dengan kehidupan sehari- hari. Sehingga dilaksanakan suatu penelitian dengan judul pengaruh pembelajaran fisika menggunakan model modified free inquiry dan guided inquiry terhadap kemampuan multirepresentasi ditinjau dari kemampuan awal dan keterampilan proses sains.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL GUIDED INQUIRY DAN GUIDED DISCOVERYUNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA SMP PADA TEMA SUMBER ENERGI ALTERNATIF.

PENERAPAN MODEL GUIDED INQUIRY DAN GUIDED DISCOVERYUNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA SMP PADA TEMA SUMBER ENERGI ALTERNATIF.

Untuk mengatasi berbagai persoalan dan kendala dalam pembelajaran IPA yang telah dikemukakan, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui penerapan model guided inquirydan guided discoverydalam pembelajaran IPA terpadu di sekolah.Hal ini disebabkan karena model guided inquirydan guided discovery sebagai pembelajaran berbasis inkuiri dapat menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang memfasilitasi siswa dalam melatihkan dan mengembangkan keterampilan proses sains serta meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Wenning (2011) yang menyatakan bahwa ketika pembelajaran dilakukan dengan menggunakan pendekatan inkuiri, siswa memiliki kesempatan untuk melakukan observasi, merumuskan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis data, mengembangkan prinsip-prinsip ilmiah, mensintesis hukum, dan membuat serta mengujikan hipotesis untuk menghasilkan penjelasan. Selain itu, dalam setiap tahapan model guided inquiry siswa akan memperoleh pengalaman belajar secara langsung dalam melatihkan keterampilan proses sainsserta mengembangkan kemampuan kognitifnya.Bruner (dalam Dahar, 2006) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh siswa dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik karena mereka didorong untuk mencari pemecahan masalah sendiri sehingga menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN OPEN INQUIRY DAN GUIDED INQUIRY TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN SIKAP ILMIAH SISWA SMP PADA TEMA SUHU DAN PERUBAHAN - repository UPI T IPA 1302989 Title

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN OPEN INQUIRY DAN GUIDED INQUIRY TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN SIKAP ILMIAH SISWA SMP PADA TEMA SUHU DAN PERUBAHAN - repository UPI T IPA 1302989 Title

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “ IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN OPEN INQUIRY DAN GUIDED INQUIRY TERHADAP PENGUASAAN KONSEP DAN SIKAP ILMIAH SISWA SMP PADA TEMA SUHU DAN PERUBAHAN” beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri. Saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika ilmu yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan tersebut, saya siap menanggung resiko/sanksi apabila di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran etika keilmuan atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Guided Inquiry and Scientific Skill  Paidi UNY

Guided Inquiry and Scientific Skill Paidi UNY

Maksud dan tujuan tersebut dicapai melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK), panduan PTK Tim Pelatih Proyek PGSM, (1999), yang tiap siklus terdiri 4 tahapan tindakan, ialah planning, implementing, monitoring, reflecting. Penelitian ini diselesaikan dalam 2 (dua) siklus tindakan, terkait dengan indikator kinerja yang ditetapkan. Topik untuk siklus-1 adalah merencanakan percobaan pertumbuhan-1, melaksanakan, dan mengkomunikasikan hasilnya. Sedangkan topik untuk siklus-2 adalah merencanakan percobaan pertumbuhan-2, melaksanakan, dan mengkomunikasikan hasilnya. Treatment untuk tindakan dalam PTK ini berupa guided inquiry. Bentuk bimbingan dalam PTK ini, adalah mengadaptasi pikiran Herron (1971) dan Bonnstetter (Muslimin Ibrohim, 2007), ialah bimbingan guru pada siswa dalam pengidentifikasian masalah, menggunakan panduan tertulis dan lisan. Peningkatan scientific skill siswa diukur menggunakan instrumen berupa soal tes, lembar penilaian karya, dan lembar observasi diskusi.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Implikasi Pendekatan Inkuiri terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Surakarta | Bowo Sugi | Bio-Pedagogi 5507 11801 1 SM

Implikasi Pendekatan Inkuiri terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Surakarta | Bowo Sugi | Bio-Pedagogi 5507 11801 1 SM

pendekatan guided inquiry adalah 0,00. Berarti signifikansi ketiga pendekatan tersebut lebih kecil dari taraf signifikansi yang telah ditetapkan yaitu 0,05 (0,00< 0,05). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat diambil keputusan hipotesis nihil (Ho) ditolak dan hipotesis yang menyatakan terdapat perbedaan antara pendekatan

7 Baca lebih lajut

T IPA 1302989 Abstract

T IPA 1302989 Abstract

The aim of this study is to find out enhancement difference of concept mastery of students who use Open Inquiry learning model and students who use Guided inquiry in temperature and alteration theme, and to find out the difference of scientific attitude of students who use Open Inquiry learning model and students who use Guided Inquiry learning model in temperature and alteration theme. Sample of study are class VII students of Junior High School in Palembang City and the total numbers are 56 students. This study use Quasi Experiment method. Data collection technique is by using concept mastery test, scientific attitude scale and documentation. Data analysis technique use IBM SPSS Statistics 22 program. The result of study analysis show that N-Gain for Open Inquiry class is 0.69 with category of enhancement is medium and N-Gain for Guided Inquiry class is 0.73 with category of enhancement is high. Scientific attitude for Open Inquiry class is 81.0% with good category and for Guided Inquiry class is 82.6% with good category. Based on result of difference test, it can be concluded that there is significant difference in concept mastery enhancement of students who use Open Inquiry learning model and students who use Guided Inquiry learning model in temperature and alteration theme, and there is no difference in scientific attitude of students who use Open Inquiry learning model and students who use Guided Inquiry learning model in temperature and alteration theme.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Brown   Model Pogil

Brown Model Pogil

The Medicinal Chemistry course is part of the third semester of didactic material within the PharmD curric- ulum. This 4-hour course serves as the sole source of medicinal chemistry instruction within the curriculum. During the first day of class, the students were briefly introduced to the use of team-based guided inquiry learn- ing. The team-based learning is achieved through the use of POGIL-style exercises, referred to as ‘‘in-class exer- cises’’ in the syllabus. This introductory session included an explanation of the different roles the students would be playing in their self-selected groups. Each group was comprised of 3-4 students and each student had a specific job to facilitate the functioning of that group. The man- ager of the group ensured that all tasks were completed,
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

T IPA 1302322 Chapter3

T IPA 1302322 Chapter3

Desain penelitian ini menggunakan the matching-only pretest-posttest control group design , dimana kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diseleksi tanpa prosedur penempatan acak, sama-sama dilakukan pretest dan posttest serta kelompok eksperimen dan kontrol memperoleh treatment yang berbeda (Fraenkel, 2012).Hal ini berarti bahwa kedua kelas baik eksperimen maupun kontrol akan diberikan pretest-posttest yang sama serta treatment yang berbeda dimana kelas eksperimen akan diberikan perlakuan melalui penerapan model guided inquiry , sedangkan kelas kontrol akan melaksanakan pembelajaran dengan model guided discovery. Namun desain ini memiliki kelemahan yaitu tidak adanya jaminan bahwa kelompok eksperimen dan kontrol yang digunakan merupakan kelompok yang betul-betul setara (Fraenkel, 2012).Adapun rancangan
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Jurnal Pendidikan IPA Indonesia IMPLEMEN

Jurnal Pendidikan IPA Indonesia IMPLEMEN

Diantara ke empat jenis inkuiri tersebut yang paling sesuai digunakan untuk siswa me- nengah atas adalah Guided Inquiry. Beberapa keuntungannya adalah waktu pembelajaran dan bimbingan guru dalam pembelajaran yang me- madai dibandingkan dengan inkuiri bebas. Kese- suaian dari Guided Inquiry untuk siswa auditorik dapat dilihat dari cirinya yang dipaparkan oleh Wenning (2005;2006;2007;2010) dan Jabot & Kautz (2003) yaitu guru mengidentifikasi masa- lah dan menyampaikan banyak pertanyaan yang mengacu pada prosedur. Guided inquiry didahului oleh aktivitas pra-lab atau sebuah diskusi. Dalam bimbingan lab, siswa diberikan tujuan pembelaja- ran yang jelas dan ringkas.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

T IPA 1302989 Chapter5

T IPA 1302989 Chapter5

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada peningkatan penguasaan konsep siswa yang menggunakan model pembelajaran Open Inquiry dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran Guided Inquiry pada tema suhu dan perubahan. Kategori peningkatan penguasaan konsep untuk kelas yang menggunakan model pembelajaran Open Inquiry yaitu sedang dengan N-Gain sebesar 0,69 dan untuk kelas yang menggunakan model pembelajaran Guided Inquiry yaitu tinggi dengan N-Gain sebesar 0,73.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 3064 documents...