Hak Ulayat

Top PDF Hak Ulayat:

Laporan Penelitian Pemulihan Hak Ulayat

Laporan Penelitian Pemulihan Hak Ulayat

Dalam praktik, sering terjadi manipulasi hukum oleh pengusaha dan / atau pemerintah terhadap masyarakat hukum adat dalam pelaksanaan pengadaan tanah untuk HGU. 38 Pada saat pengadaan tanah tersebut, pengusaha mengadakan perjanjian sewa atau kontrak dengan masyarakat untuk jangka waktu tertentu, biasanya sangat lama di atas 70 tahun. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa setelah waktu sewanya habis tanah kembali menjadi tanah ulayat masyarakat hukum adat. Tetapi, penguasaha dan / atau pemerintah justru “memplintir” perjanjian tersebut sebagai alasan untuk pelepasan hak, sehingga akhirnya dikeluarkan HGU oleh pemerintah. Masyarakat tidak mengetahui hal ini atau mungkin sengaja tidak diberitahu, jika jangka waktu HGU sudah habis maka terjadi sengketa antara masyarakat dengan negara (pemerintah). Masyarakat berpegang pada perjanjian awal yaitu sewa sehingga tanahnya harus dikembalikan kepada mereka. Sementara itu, pemerintah menyatakan bahwa tanah tersebut jatuh menjadi tanah negara karena HGU adalah hak usaha yang berada diatas tanah negara. 39 Banyak sekali contoh kasus yang dapat ditemukan dalam konteks ini di temukan di sumatera barat seperti; kasus perkebunan kelapa sawit di pasaman barat, kasus tanah karet bekas hak erfpacht di nagari kapalo hilalang dan lain-lain. 40 Selain itu, tidak teridentifikasinya hak ulayat dengan baik menjadi penyebabnya banyaknya “perampasan” tanah ulayat oleh
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

ANALISA PENCABUTAN HAK ULAYAT DEMI KEPEN

ANALISA PENCABUTAN HAK ULAYAT DEMI KEPEN

Apabila hak ulayat yang diberikan kepada kelompok masyarakat sudah bertentangan dengan konstitusi dan disalahgunakan. Maka demi kepentingan umum seluruh Bangsa Indonesia, hak ulayat harus dicabut untuk pelestarian, rehabilitasi dan perlindungan hutan serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Seperti kasus dalam masalah kasus PT Freeport Indonesia, PT Newmoon Minahasa, Exon Mobile jelas bertentangan dengan Pasal 33 ayat (3) UU No.22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yaitu “ Bumi dan air dan kekay aan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar- besarnya untuk kemakmuran rakyat” hak ulayat yang diberikan keada masyarakat hukum adat malah dipakai oleh pihak asing untuk kepentingan investor asing sendiri. Dan beberapa kejadian lain bahwa hak ulayat malah disewakan kepada pihak lain. Memang hak itu bisa dipakai jika dengan persetujuan oleh masyarakat hukum adat itu sendiri. Namun apabila disalahgunakan, tentu hal itu idak dapat dibiarkan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Hak Menguasai Tanah Oleh Negara Terhadap Hak Ulayat

Hak Menguasai Tanah Oleh Negara Terhadap Hak Ulayat

Hubungan hukum antara Negara dengan tanah melahirkan hak menguasai tanah oleh Negara, Hubungan antara masyarakat hukum adat dengan tanah ulayatnya melahirkan hak ulayat, dan gabungan antara perorangan dengan tanah melahirkan hak-hak perorangan atas tanah. 7 idealnya hubungan ketiga hak tersebut (hak menguasai tanah oleh Negara, hak ulayat dan hak perorangan atas tanah) terjalin secara harmonis dan seimbang. Artinya, ketiga hak itu sama kedudukan dan kekuatannya, dan tidak saling merugikan. Namun peraturan perundang-undangan di Indonesia memberi kekusaan yang besar dan tidak jelas batas-batasnya kepada Negara untuk menguasai semua tanah yang ada diwilayahnya Indonesia. Sebagai contoh, berdasar Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang “Ketentuan- Ketentuan Pokok Pertambangan” dan Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang “Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan”, dalam pemberian Hak Guna Usaha (HGU), dan kuasa pertambangan yang diberikan diatas tanah ulayat, menyebabkan hilangnya sebagian tanah-tanah ulayat masyarakat hukum adat. Demikian pula dengan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1961 tentang “Pencabutan Hak Atas
Baca lebih lanjut

157 Baca lebih lajut

Hak Ulayat di Tanah Papua

Hak Ulayat di Tanah Papua

Bertalian dengan hubungan antara bangsa dan bumi serta air dan kekuasaan Negara diadakan ketentuan mengenai hak ulayat dari kesatuan-kesatuan masyarakat hukum, yang dimaksud akan mendudukkan hak itu pada tempat yang sewajarnya didalam alam bernegara dewasa ini. Ketentuan ini pertama-tama berpangkal pada pengakuan adanya hak ulayat itu dalam hukum-agraria yang baru. Sebagaimana diketahui biarpun menurut kenyataannya hak ulayat itu ada dan berlaku serta diperhatikan pula didalam keputusan-keputusan hakim, belum pernah hak tersebut diakui secara resmi didalam Undang-Undang, dengan akibat bahwa didalam melaksanakan peraturan-peraturan agraria hak ulayat itu pada zaman penjajahan dulu sering kali diabaikan. Berhubung dengan disebutnya hak ulayat didalam Undang- undang Pokok Agraria, yang pada hakekatnya berarti pula pengakuan hak itu, maka pada dasarnya hak ulayat itu akan diperhatikan, sepanjang hak tersebut menurut kenyataannya memang masih ada pada masyarakat hukum yang bersangkutan. Misalnya didalam pemberian sesuatu hak atas tanah (umpamanya hak guna-usaha) masyarakat hukum yang bersangkuatan. sebelumnya akan didengar pendapatanya dan akan diberi “recognitie“, yang memang ia berhak menerimanya selaku pegang hak ulayat itu.
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN HAK ULAYAT ATAS TANAH DI MASYARAKAT HUKUM ADAT PEPADUN KABUPATEN LAMPUNG UTARA

PENGELOLAAN HAK ULAYAT ATAS TANAH DI MASYARAKAT HUKUM ADAT PEPADUN KABUPATEN LAMPUNG UTARA

Negara indonesia keberadaan tanahnya memiliki fungsi bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Harta kekayaan masyarakat adat ialah tanah ulayat. Kedudukan hak ulayat diatur dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 amandemen ke IV, dan dipertegaas Pasal 3 UU No 5/1960 tentang UUPA, bahwa hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi. Secara konstitusional, jaminan hukum adat bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat adat serta keberadaannya selalu dipertanyakan. Batas wilayah hak ulayat masyarakat adat pepadun secara teritorial tidak dapat ditentukan pasti dan tanah sebagai hak ekonomi setiap orang atau badan hukum menimbulkan konflik maupun sengketa tanah ulayat, contohnya di masyarakat adat Desa Negara Tulang Bawang.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Keberadaan Hak Ulayat Di Kabupaten Simalungun

Keberadaan Hak Ulayat Di Kabupaten Simalungun

Eksistensi Hak Ulayat perlu mendapat pemikiran yang proporsional, karena masalah Hak Ulayat mengandung sejumlah polemik dan tulisan yang sate dengan yang lainnya bertolak belakang tentang patut dipertahankan, dibiarkan berkembang apa adanya atau diusahakan hapus secara otomatis. Peraturan Menteri Negara Agraria No. 5 Tahun 1999 (PMNA No. 5/99 dipergunakan dalam urusan pertanahan khusus mengenai hak ulayat untuk melihat:

5 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  EKSISTENSI PENGUASAAN DAN PEMILIKAN TANAH HAK ULAYAT SUKU MEE DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI DISTRIK KAPIRAYA KABUPATEN DEIYAI PROVINSI PAPUA.

PENDAHULUAN EKSISTENSI PENGUASAAN DAN PEMILIKAN TANAH HAK ULAYAT SUKU MEE DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DI DISTRIK KAPIRAYA KABUPATEN DEIYAI PROVINSI PAPUA.

2. Hak ulayat dan yang serupa itu dari masyarakat hukum adat, (untuk selanjutnya hak ulayat), adalah kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh kepunyaan masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan para warganya untuk menggambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah, dalam wilayah tersebut, bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya, yang timbul dari hubungan secara lahiriah dan batiniah turun-temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan. (Pasal 1 ayat (1), PMNA/KBPN No. 5 Tahun 1999).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH SUKU DAYAK TUNJUNG BENUAQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960JUNCTOPMNA/KBPN NOMOR 5 TAHUN 1999.

EKSISTENSI HAK ULAYAT ATAS TANAH SUKU DAYAK TUNJUNG BENUAQ DI KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960JUNCTOPMNA/KBPN NOMOR 5 TAHUN 1999.

Penenelitian dan penentuan mengenai masih adanya Hak Ulayat akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah yang melibatkan para tetua adat, pakar Hukum Adat, lembaga swadaya masyarakat dan instansi-instansi yang bertanggung jawab mengenai sumber daya alam. Selanjutnya hasil penelitian akan dimasukan ke dalam peta dasar pendaftaran tanah dengan mencantumkan suatu tanda kartografi apabila memungkinkan menggambarkan batas-batasnya serta mencatatnya dalam buku tanah. Menurut Boedi Harsono, Hak Ulayat merupakan serangkaian wewenang dan kewajiban suatu masyarakat Hukum Adat yang berhubungan dengan tanah yang terletak dalam lingkungan wilayahnya. Subyek dari Hak Ulayat adalah masyarakat Hukum Adat, baik yang bersifat territorial ( warganya tinggal di wilayah yang sama) maupun yang bersifat genealogic (warganya terikat dengan hubungan darah) dan Hak Ulayat itu di atur didalam Pasal 3 UUPA. Pasal 6 PMNA/KBPN Nomor 5 Tahun 1999 menentukan bahwa “ ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pasal 5 diatur dengan Peraturan daerah yang bersangkutan”. Pelaksanaan Hak
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Dilematika Pencabutan Hak Ulayat Untuk K

Dilematika Pencabutan Hak Ulayat Untuk K

dari frasa seluruh rakyat Indonesia ditujukan bukan untuk beberapa warga negara atau masyarakat hukum adat tertentu saja, akan tetapi frasa tersebut harus dimaknai secara holistik yang diperuntukan bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya adalah masyarakat hukum adat. Akan tetapi tidak jarang terdapat konflik agraria berupa benturan kepentingan dalam pelaksanaanya, salah satunya adalah terjadinya benturan antara pembangunan untuk kepentingan umum dengan eksistensi hak ulayat. Contoh kasusnya adalah mengenai pembangunan PLTA di Desa Kuta Gaja yang didirikan di atas tanah ulayat Marga Kembaren, pada situasi seperti ini PLTA adalah prioritas yang harus diutamakan karena PLTA ini akan memberikan kemaslahatan berupa manfaat listrik dalam konteks yang lebih luas ketimbang hak ulayat itu sendiri, lagipula ketika PLTA ini dibentuk kemanfaatan yang ada juga akan dirasakan oleh masyarakat hukum adat setempat itu sendiri. 15
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Hak Ulayat Laut dalam Perspektif Otonomi Daerah di Kepulauan Kei dan Papua | Hammar | Mimbar Hukum 16259 30807 1 PB

Hak Ulayat Laut dalam Perspektif Otonomi Daerah di Kepulauan Kei dan Papua | Hammar | Mimbar Hukum 16259 30807 1 PB

kebijakan tersebut sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 18B ayat (2) dinyatakan bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. Dalam Ketetapan MPR RI No. XVII/ MPR/1998 yang memuat Piagam Hak Asasi Manusia dinyatakan bahwa: identitas budaya masyarakat tradisional, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman (Pasal 41). Juga dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azazi Manusia dinyatakan bahwa identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk atas hak tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman (Pasal 6 ayat 2). Serta Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN No. 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Analisis Pelaksanaaan Peralihan Hak Ulayat Menjadi Hak Perseorangan Di Suku Jautunyi-Ormu Kota Jayapura.

Analisis Pelaksanaaan Peralihan Hak Ulayat Menjadi Hak Perseorangan Di Suku Jautunyi-Ormu Kota Jayapura.

Kesimpulan dari hasil penelitian pelaksanaan peralihan hak ulayat menjadi hak perseorangan yang terjadi di suku Jautunyi-Ormu yaitu: Proses peralihan hak ulayat menjadi hak perorangan yang seharusnya mengunakan ketentuan hukum Nasional dengan cara melepaskan hak ulayat ke negara kemudian dimohonkan haknya oleh pihak yang memerlukan tanah sama sekali tidak diterapkan dalam suku Jautunyi- Ormu. Dalam prateknya suku-Jautunyi Ormu membuat aturan adat sendiri tentang proses peralihan hak ulayat menjadi hak perorangan yang secara umum masih tejadi di bawah tangan. Masyarakat adat berangapan tanah hak ulayat adalah hak kekuasaan masyarakat adat yang telah ada sejak zaman dulu dan diwariskan oleh nenek moyang mereka sebelum pemerintah Republik Indonesia terbentuk.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

TANAH ULAYAT DAN HAK ULAYAT MASYARAKAT H

TANAH ULAYAT DAN HAK ULAYAT MASYARAKAT H

masyarakat sunda cigugur. Artinya, penulis harus menginventarisasi kembali semua pertanyaan yang lebih sesuai dengan kondisi sosial-budaya di lokasi penelitian. Hal inilah yang menjadi alasan kebingungan penulis pada masa-masa awal penelitian. Penulis juga mengalami kesulitan dalam hal kuantitas informan yang dapat diwawancarai mengenai tema yang penulis bahas. Penyebabnya adalah terbatasnya pihak yang memahami secara holistik tanah ulayat dan hak ulayat. Dengan keterbatasan informan tersebut, penulis mencoba untuk benar-benar menggali informasi sebanyak dan seakurat mungkin dari informan yang tersedia. Selama melakukan penelitian, penulis menemukan banyak sekali fakta yang sangat menarik dari masyarakat AKUR Sunda Cigugur tersebut. Salah satunya adalah mengenai konstruksi tanah ulayat dan hak ulayat pada masyarakat AKUR Sunda Cigugur yang ternyata tidak seperti konstruksi tanah ulayat dan hak ulayat yang dipahami dalam hukum agraria. Ada banyak sekali pengalaman berkesan yang penulis rasakan selama melakukan kegiatan penelitian, dari mengenali secara lebih dekat masyarakat AKUR Sunda Cigugur, mengikuti kegiatan masyarakat di sana seperti upacara panen, mengikuti forum ais pangampi, bertemu dan berinteraksi dengan raja dan ratu di dalam Paseban, dan banyak hal lainnya. Mendapati situasi dan kondisi dari masyarakat di lokasi penelitian yang sangat khas dan berkarakter membuat proses penelitian menjadi jauh lebih menyenangkan. Rentang waktu 3 (tiga) hari terasa sangat singkat untuk dapat memahami secara paripurna tanah ulayat dan hak ulayat masyarakat akur sunda cigugur pada khususnya dan pola kehidupan masyarakat akur sunda cigugur pada umumnya.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Perang Sunggal Mempertahankan Hak Ulayat

Perang Sunggal Mempertahankan Hak Ulayat

Menjelang akhir tahun 1871, rapat-rapat rahasia sering dilakukan di Sunggal. Hal-hal yang dibicarakan dalam pertemuan mereka itu, antara lain mengenai posisi mereka di wilayah Kesultanan Deli dan daerah Urung yang dirasakan semakin merosot dan mengenai hak-hak mereka atas konsesi tanah yang dimonopoli oleh Sultan Deli. Salah seorang tokohnya bernama Datuk Badiuzzaman Surbakti. Ia bernama lengkap Datuk Sri Diraja Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surbakti lahir di Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, pada tahun 1845. Ia merupakan seorang putera dari hasil perkawinan antara Raja Sunggal pada masa itu yakni Datuk Abdullah Ahmad Sri Indera Pahlawan Surbakti dengan seorang perempuan yang bernama Tengku Kemala Inasun Bahorok. Datuk Badiuzzaman merupakan putera terbaik pada masa Kerajaan Sunggal (Serbanyaman), ia merupakan keturunan ke-11 dari pemerintahan Tradisional Sunggal. Pertemuan itu kelak dapat dilihat sebagai sesuatu yang membuat pertempuran ini unik. Di dalamnya didapati gabungan perlawanan dari berbagai komponen anak bangsa, mulai dari suku Karo, Melayu, Batak, Gayo, dan Aceh. Mereka semua bersepakat untuk melawan ekspansi Belanda.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Konstitusionalitas Pengaturan Hak Ulayat Dalam Peraturan Nagari

Konstitusionalitas Pengaturan Hak Ulayat Dalam Peraturan Nagari

Penyebutan nagari sebagai nama lain dari desa secara explisit juga diatur dan dijelaskan dalam Pasal 1 angka 1 UU Desa yang menyatakan: “Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. lebih lanjut, Pasal 6 ayat (2) UU Desa menyatakan bahwa: “Penyebutan desa atau desa adat disesuaikan dengan penyebutan yang berlaku di daerah setempat”. Dalam perkembangannya, pelaksanaan sistem pemerintahan nagari diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sumatera Barat Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Nagari (Perda Nagari). Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam dalam UU Desa untuk mengakomodir desa-desa yang memiliki ciri khas berdasarkan asal-usul, adat istiadat, dan nilai sosial budaya masyarakat kedalam Peraturan Daerah. Dalam Pasal 1
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

kutipan tulisan tentang hak ulayat

kutipan tulisan tentang hak ulayat

Dalam kerangka berpikir diatas, dapat dianalisa jaminan apa yang dapat diberikan dari proses maupun hasil dari kegiatan pendaftaran tanah pada Kantor Pertanahan tersebut. Untuk mempermudah pemahaman dapat dikelompokkan, bahwa untuk data fisik disebut jaminan kepastian hak sedangkan untuk data yuridis disebut jaminan kepastian hukum. Pengelompokkan ini dapat diketahui bahwa data fisik sebagai hasil fisik kadaster seperti pengukuran, pemetaan, pemeriksaan oleh Panitia A dan lain sebagainya, dengan itu semua dapat dipastikan dimana letak, batas dan luas serta siapa pemegang haknya. Sedangkan data yuridis sebagai hasil dari legal kadaster seperti pembuatan buku tanah, pemberian surat tanda bukti hak sertipikat, peralihan han dan lain sebagainya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK ULAYAT ATAS TANAH MASYARAKAT HUKUM ADAT DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DI DESA COLOL KECAMATAN POCORANAKA TIMUR KABUPATEN MANGGARAI TIMUR (STUDI KASUS).

PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK ULAYAT ATAS TANAH MASYARAKAT HUKUM ADAT DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DI DESA COLOL KECAMATAN POCORANAKA TIMUR KABUPATEN MANGGARAI TIMUR (STUDI KASUS).

dalam berbagai undang-undang sektoral lainnya sudah diakui yaitu antara lain Undang- Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). UUPA secara tegas menentukan bahwa hukum adat sebagai landasan hukum agraria dan pertanahan nasional, namun pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat hukum adat dalam UUPA disertai dengan syarat-syarat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 UUPA. Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 2 ayat (4) UUPA menentukan bahwa “hak menguasai dari Negara tersebut diatas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah- daerah Swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat, sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah”. Pelimpahan wewenang untuk melaksanakan hak penguasaan dari negara atas tanah itu dilakukan dalam rangka tugas medebewind. Segala sesuatunya akan diselenggarakan menurut keperluannya dan sudah barang tentu tidak boleh bertentangan dengan kepentingan nasional. Wewenang negara yang bersumber dari negara dipegang oleh pemerintah pusat, sehingga sifatnya sentralistik dan pelaksanaannya berdasarkan asas dekonsentrasi. Pemberian kewenangan yang dimaksud merupakan upaya untuk memajukan kesejahteraan rakyat di daerah.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

HAK MASYARAKAT ADAT SUKU DAYAK ATAS TANAH DALAM KAITANNYA DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960 TENTANG PERATURAN DASAR POKOK POKOK AGRARIA DI KECAMATAN HULU KABUPATEN KAPUAS KALIMANTAN TENGAH

HAK MASYARAKAT ADAT SUKU DAYAK ATAS TANAH DALAM KAITANNYA DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960 TENTANG PERATURAN DASAR POKOK POKOK AGRARIA DI KECAMATAN HULU KABUPATEN KAPUAS KALIMANTAN TENGAH

Bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria dan peraturan pelaksananya yaitu Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat, dalam hukum tanah nasional Indonesia mengakui adanya hak ulayat sepanjang kenyataannya masih ada dan memenuhi unsur-unsur dan kriteria hak ulayat dalam hukum adat suatu masyarakat dalam suatu wilayah. Hubungan timbal balik antara hak ulayat dengan hak perorangan sebagaimana dirumuskan Iman Sudiyat, bahwa hak purba dan hak perorangan itu bersangkut paut dalam hubungan kempis mengembang, desak mendesak, batas membatasi, mulur mungkret tiada henti. Dimana hak purba kuat, disitu hak perorangan lemah, demikian pula sebaliknya Antara hak ulayat dan hak perorangan yang diakui secara adat selalu ada pengaruh timbal balik, makin banyak usaha yang dilakukan seseorang atas suatu bidang tanah maka makin eratlah hubungannya dengan tanah itu dan makin kuat pula haknya atas tanah tersebut. 10
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN UMUM MASYARAKAT HUKUM ADAT A. Pengertian dan Sejarah Masyarakat Hukum Adat - Tinjauan Yuridis Hak – Hak Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah Berdasarkan Ketentuan Pmna/Kepala Bpn Nomor 5 Tahun 1999 Dikaitkan Dengan Putusan Mk Nomor 35/Puu-X/20

BAB II TINJAUAN UMUM MASYARAKAT HUKUM ADAT A. Pengertian dan Sejarah Masyarakat Hukum Adat - Tinjauan Yuridis Hak – Hak Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah Berdasarkan Ketentuan Pmna/Kepala Bpn Nomor 5 Tahun 1999 Dikaitkan Dengan Putusan Mk Nomor 35/Puu-X/20

Berlaku keluar, karena bukan warga masyarakat hukum pada prinsipnya tidak diperbolehkan turut mengenyam/menggarap tanah yang merupakan wilayah kekuasaan persekutuan yang bersangkutan; hanya dengan seizin persekutuan karena serta setelah membayar pancang, uang pemasukan (Aceh), mesi (Jawa) dan kemudian memberikan ganti rugi, orang luar bukan warga persekutuan (masyarakat hukum) dapat memperoleh kesempatan untuk turut serta menggunakan tanah wilayah persekutuan atau masyarakat hukum. Berlaku kedalam, karena persekutuan sebagai suatu persekutuan yang berarti semua warga persekutuan bersama-sama sebagai satu keseluruhan melakukan hak ulayat dimaksud dengan memetik hasil dari tanah beserta segala tumbuh-tumbuhan dan binatang lain yang hidup diatasnya. Hak persekutuan ini pada hakekatnya membatasi kebebasan usaha atau kebebasan gerak para warga persekutuan sebagai perseorangan. Pembatasan ini dilakukan demi kepentingan persekutuan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kajian Etnografi Tanah Adat dan Sumbanga

Kajian Etnografi Tanah Adat dan Sumbanga

–  PeneliLan dan penentuan masih adanya hak ulayat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan mengikutsertakan para pakar hukum adat, masyarakat hukum adat yang ada di daerah yang bersangkutan, Lembaga Swadaya Masyarakat dan instansi-instansi yang mengelola sumber daya alam.

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...