Histologis Sel Hepar Wistar

Top PDF Histologis Sel Hepar Wistar:

EFEK HEPATOPROTEKTOR CUKA APEL Anna TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR WISTAR YANG DIINDUKSI PARASETAMOL

EFEK HEPATOPROTEKTOR CUKA APEL Anna TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR WISTAR YANG DIINDUKSI PARASETAMOL

kandungan buah apel segar. Asam asetat adalah komposisi kimia yang paling mendominasi di dalam cuka apel. Di Amerika Serikat, produk cuka harus mengandung minimal 4% keasaman. Terdapat beberapa senyawa yang berbeda dalam setiap asam cuka, perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan bahan baku apel yang digunakan serta perlakuan yang berbeda saat proses fermentasinya (Karim, 2011). Kandungan fenol dan asam asetat dalam cuka apel diyakini mempunyai khasiat berupa antioksidan alami yang mampu menangkal radikal bebas dalam tubuh. Fenol berfungsi sebagai antioksidan dengan menurunkan lipid peroksidasi sehingga mencegah kerusakan sel hepar. Asam asetat juga berperan dalam aktivitas antioksidan berupa perbaikan kadar enzim hepar dan menaikkan GSH (Mohamad et al, 2015). Selain itu, cuka apel mengandung nutrisi yang sama dengan apel, yaitu pektin, beta karoten, potasium, enzim, dan asam amino yang terbentuk selama proses fermentasi. Kandungan potasium yang tinggi mendorong pembentukan sel, jaringan dan organ tubuh, sementara enzim membantu meningkatkan reaksi kimia dalam tubuh. Cuka sari buah apel juga mengandung kalsium yang menjaga kesehatan tulang, membantu mengalirkan gerak saraf, dan mengatur kontraksi otot sedangkan zat besi yang penting bagi kesehatan darah. Magnesium adalah komponen lain yang banyak bermanfaat bagi tubuh terutama jantung (Pranowo, 2006).
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

Respon Histologis Hepar Tikus Wistar yang Mengalami Stres Fisiologis setelah Pemberian Pakan dengan Suplementasi Daging Ikan Gabus (Channa striata)

Respon Histologis Hepar Tikus Wistar yang Mengalami Stres Fisiologis setelah Pemberian Pakan dengan Suplementasi Daging Ikan Gabus (Channa striata)

Peningkatan diameter vena sentralis dan hepatosit pada perlakuan P4 merupakan indikasi peningkatan volume sel setelah perlakuan pakan dengan suplementasi daging ikan gabus dan peningkatan tersebut bukan degenerasi. Faktor yang menyebabkan peningkatan tersebut diduga berkaitan dengan perlakuan suplemen daging ikan gabus dengan konsentrasi 20%. Perlakuan suplemen daging ikan gabus dengan konsentrasi yang tinggi akan menyebabkan ketersediaan albumin, glutamin, sistein, dan glisin dalam plasma menjadi meningkat. Meningkatnya protein dan beberapa jenis asam amino ini akan menyebabkan ketersediaan protein dan senyawa intraseluler menjadi lebih meningkat yang akhirnya berpengaruh terhadap peningkatan volume sel. Schade et al. (2009) dan Flaring et al (2003) menyatakan bahwa protein albumin, glutamin, sistein, dan glisin dapat meningkatkan volume sel dan bobot jaringan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa albumin, glutamin, sistein dan glisin mempunyai keterkaitan dengan proses anabolik (sintesis asam nukleat dan protein), terlibat dalam pemulihan kondisi fisiologis pasca stres, perbaikan sel atau jaringan serta peningkatan volume dan integritas seluler (Dringen et al., 2000; Roth et al., 2008).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN SEDUHAN KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa) DOSIS BERTINGKAT SELAMA 30 HARI TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGIS HEPAR TIKUS WISTAR

PENGARUH PEMBERIAN SEDUHAN KELOPAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa) DOSIS BERTINGKAT SELAMA 30 HARI TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGIS HEPAR TIKUS WISTAR

Penelitian ini menunjukkan bahwa antara kelompok kontrol dengan perlakuan terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) gambaran histologis sel hepatosit dan terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) antar kelompok perlakuan. Kerusakan pada sel hepatosit dalam penelitian ini bisa dikarenakan obat sendiri yaitu karena dosis atau karena teknis penelitian yang tidak benar. Teknis yang dapat mengakibatkan hasil kerusakan positif palsu antara lain sonde yang tidak steril dan mengandung kuman sehingga saat dilakukan sonde kuman dapat masuk ke tubuh tikus, cara penyiapan bahan organ untuk preparat yang tidak benar sehingga organ menjadi rusak, preparat yang diteliti hanya sebagian kecil dari organ sehingga tidak mewakili organ secara keseluruhan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BUAH KARIKA (Vasconcellea pubescens A.DC.) TERHADAP KADAR BILIRUBIN DAN ALKALI FOSFATASE BESERTA PROFIL HISTOLOGIS HEPAR TIKUS GALUR Wistar YANG DIINDUKSI PARASETAMOL

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BUAH KARIKA (Vasconcellea pubescens A.DC.) TERHADAP KADAR BILIRUBIN DAN ALKALI FOSFATASE BESERTA PROFIL HISTOLOGIS HEPAR TIKUS GALUR Wistar YANG DIINDUKSI PARASETAMOL

Penelitian ini menggunakan metode postest only control group design pada hewan uji tikus jantan galur Wistar. Hewan uji dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok normal, kelompok negatif, kelompok positif, dan 3 kelompok perlakuan ekstrak etanol buah karika dengan variasi dosis 120, 240, dan 480 mg/kg BB. Perlakuan dilakukan selama 14 hari dengan frekuensi pemberian 1x sehari. Pada hari ke 14, semua kelompok uji kecuali kelompok normal diinduksi parasetamol dosis toksik (2 g/kg BB) . Diukur kadar bilirubin dan alkali fosfatse (ALP) serta jumlah kerusakan sel hepar. Data dianalisis dengan secara statistik dengan One-Way ANOVA.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BUNGA ROSELLA  TERHADAP KERUSAKAN SEL SEL HEPAR MENCIT AKIBAT PAPARAN PARASETAMOL

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BUNGA ROSELLA TERHADAP KERUSAKAN SEL SEL HEPAR MENCIT AKIBAT PAPARAN PARASETAMOL

bahwa pemberian ekstrak bunga rosella tidak dapat menurunkan kerusakan sel hepar mencit akibat paparan parasetamol. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa ekstrak bunga rosella memiliki efek hepatoprotektif terhadap kerusakan toksik parasetamol. Hal ini mungkin disebabkan karena pada penelitian ini menggunakan ekstrak bunga rosella yang dibuat dengan cara perkolasi yang menggunakan etanol sebagai cairan pencari, sedangkan pada penelitian sebelumnya mengunakan water extract (Ali, 2003). Etanol yang digunakan sebagai cairan pencari mungkin memberikan efek hepatotoksik terhadap sel hepar mencit. Alkohol atau metabolitnya adalah hepatotoksik, dan oleh karenanya toksik bagi sel-sel tubuh lainnya. Hati mempunyai tiga jalur untuk metabolisme alkohol. Jalur dehidrogenase alkohol (ADH), sistem oksidasi etanol pada mikrosom, dan sistem katalase. Dari ketiganya, perubahan etanol menjadi asetaldehida melalui mediator ADH merupakan jalur yang paling utama. Asetaldehida menginduksi kerusakan sel hati dengan ikatan kovalen terhadap protein, sama halnya dengan mengaktifkan peroksidasi lemak membran sel (Robbins dan Kumar, 1995). Kerusakan hepar akibat overdosis parasetamol terlihat lebih nyata pada pecandu alkohol dan pasien yang meminum obat yang dapat menginduksi sitokrom P450 yang bertanggung jawab terhadap aktivasi parasetamol (Hodgson dan Levi, 2000).
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN JUS STROBERI (Fragaria x ananassa) TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT YANG DIINDUKSI RHODAMIN B SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

PENGARUH PEMBERIAN JUS STROBERI (Fragaria x ananassa) TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT YANG DIINDUKSI RHODAMIN B SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Risky Pratiwi Pulungsari, G0011177, 2014. Pengaruh Pemberian Jus Stroberi (Fragaria x ananassa) terhadap Kerusakan Histologis Sel Hepar Mencit yang Diinduksi Rhodamin B. Skripsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

11 Baca lebih lajut

Perbandingan Efek Fiksasi Formalin Metode Intravital Dengan Metode Konvensional Pada Kualitas Gambaran Histologis Hepar Tikus

Perbandingan Efek Fiksasi Formalin Metode Intravital Dengan Metode Konvensional Pada Kualitas Gambaran Histologis Hepar Tikus

Pada pengamatan pewarnaan sitoplasma menunjukkan bahwa kualitas gambaran histologis dengan metode fiksasi intravital lebih baik dibandingkan dengan metode fiksasi konvensional. Namun pada analisis statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0.211). Pada Pewarnaan Haematoxyilin dan Eosin, pada pewarnaan ini eosin berperan sebagai pewarna asam yang mewarnai komponen jaringan yang tidak berinti sehingga berwarna merah sampai merah muda. Sebagian besar sitoplasma bersifat asidofilik baik intraseluler ataupun ekstraseluler. 9 Pada

20 Baca lebih lajut

HUBUNGAN GAMBARAN HISTOPATOLOGIS, KADAR BEBERAPA ENZIM HEPAR, KADAR BILIRUBIN HEPAR TIKUS Wistar YANG DIBERI EKSTRAK Ganoderma lucidum

HUBUNGAN GAMBARAN HISTOPATOLOGIS, KADAR BEBERAPA ENZIM HEPAR, KADAR BILIRUBIN HEPAR TIKUS Wistar YANG DIBERI EKSTRAK Ganoderma lucidum

Pada bulan pertama saat gambaran histopatologis hepar dikorelasikan dengan kadar Enzim SGOT, SGPT, Alkali fosfatase, Gama_GT dan kadar bilirubin ternyata pe-ningkatan kadar enzim-enzim hepar ini diikuti dengan kerusakan hepar dalam semua tingkatan. Dimana didapatkan p < 0,01 dan didapatkan korelasi yang sangat kuat dianta- ranya. Korelasi negatif pada sel normal dan sel yang mengalami degenerasi parenkimato- sa mengandung arti bahwa semakin banyak sel yang normal / sel yang mengalami dege- nerasi parenkimatosa kadar enzim cenderung menurun. Sedangkan korelasi positif me- ngandung arti bahwa terjadi hubungan linear antara kerusakan dan peningkatan kadar en- zim. Semakin tinggi derajat kerusakannya maka kadar enzim juga meningkat.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS WISTAR SETELAH PEMBERIAN ASETAMINOFEN BERBAGAI DOSIS

GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS WISTAR SETELAH PEMBERIAN ASETAMINOFEN BERBAGAI DOSIS

Asetaminofen banyak digunakan di masyarakat sebagai penghilang rasa sakit, namun banyak kasus menunjukkan penggunaan obat ini sudah melebihi dosis yang ditentukan. Menurut data dari Regional Medicines And Poisons Information Unit terjadi 70.000 kasus kegagalan hepar akut pada tahun 1998 di Inggris yang disebabkan oleh takar lajak asetaminofen. Di Indonesia sendiri merk obat yang mengandung asetaminofen dari tahun ke tahun semakin bertambah, tercatat dalam ISO 2004 terdapat 313 merk obat yang mengandung asetaminofen sedangkan pada tahun 2006 terdapat 432 merk, hal ini menunjukkan tingginya konsumsi masyarakat Indonesia terhadap asetaminofen.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENGARUH EKSTRAK BIJI PINANG (Areca catechu) TERHADAP GAMBARAN SEL LEMAK HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus novergicus strain wistar) DENGAN PERLEMAKAN HATI NONALKOHOLIK

PENGARUH EKSTRAK BIJI PINANG (Areca catechu) TERHADAP GAMBARAN SEL LEMAK HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus novergicus strain wistar) DENGAN PERLEMAKAN HATI NONALKOHOLIK

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh ekstrak biji pinang (Areca catechu) terhadap gambaran sel lemak hepar tikus putih (Rattus novergicus strain wistar) dengan perlemakan hati nonalkoholik”. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan pada junjungan Rasulullah Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari zaman gelap menuju jalan yang terang benderang yakni agama Islam.

18 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN DEKSAMETASON DOSIS BERTINGKAT PER ORAL 30 HARI TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR TIKUS WISTAR - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PENGARUH PEMBERIAN DEKSAMETASON DOSIS BERTINGKAT PER ORAL 30 HARI TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR TIKUS WISTAR - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Latar Belakang : Deksametason merupakan glukokortikoid sintetik yang banyak di gunakan masyarakat, tetapi penggunaan dalam dosis besar dalam jangka waktu yang panjang dapat berpengaruh terhadap hepar. Hepar merupakan tempat dimana obat dan bahan toksik lain dimetabolisme, namun belum ada penelitian yang mengkaji secara khusus pengaruh deksametason terhadap gambaran histologi organ hepar. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa tingkat kerusakan sel hepar pada kelompok yang diberi deksametason lebih besar dibanding kelompok kontrol, membuktikan bahwa pemberian deksametason dengan dosis lebih tinggi mengakibatkan tingkat kerusakan sel hepar yang lebih besar serta membuktikan bahwa terdapat hubungan antara pemberian dosis bertingkat deksametason terhadap tingkat kerusakan sel hepar.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Gambaran histologis sel spermatogenik pada tikus setelah pemberian ekstrak pegagan (Centella asiatica)

Gambaran histologis sel spermatogenik pada tikus setelah pemberian ekstrak pegagan (Centella asiatica)

Berdasarkan hasil eksperimental, pegagan menunjukkan potensi sebagai gonadotoksik (Heidari et al. 2012). Triterpenoid yang terkandung di dalam pegagan, diduga mampu menurunkan kadar hormon FSH, LH, dan testosteron. Triterpenoid glikosida memiliki cara penghambatan yang sama dengan kerja steroid yaitu dengan cara penekanan terhadap sekresi gonadotropin yang berakibat menurunkan testosteron testis, tetapi bersifat reversible (Nurliani et al. 2005). FSH, LH, dan testosteron telah diketahui memiliki peran terhadap terjadinya proses spermatogenesis. Ketidakhadiran hormon tersebut mampu menyebabkan terjadinya apoptosis dari sel-sel germinal (Sofikitis et al. 2008). Absennya testosteron dalam level jumlah yang relatif tinggi (>70nM pada tikus) menyebabkan penghentian spermatogenesis sehingga hanya ditemukan sedikit bahkan tidak ada spermatozoa (Zirkin et al. 1989).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Kerusakan Hepar Dan Kadar Enzim Katalase Tikus Wistar Terpapar Fluphenazine Decanoate

Kerusakan Hepar Dan Kadar Enzim Katalase Tikus Wistar Terpapar Fluphenazine Decanoate

Pada kelompok dengan pemberian fluphenazine decanoate 2 mg didapatkan kadar katalase dengan kadar tertinggi namun dengan kerusakan hepar yang paling parah. Akibat pemberian obat terdapat stresor yang menyebabkan peningkatan ROS (OH,superoksida,nitric oxide, hidrogen peroksida, nitric oxide,peroksi ,dll). 10 Sebagai respon tubuh akibat peningkatan ROS maka kadar katalase, hidrogen peroksidase, superoksida dismutase meningkat. Namun katalase dan beberapa antioksidan enzimatik lainnya tidak dapat menetralisir seluruh sumber ROS yang terbentuk. Sehingga masih tersisa sumber ROS yang dapat menyebabkan kerusakan berupa nekrosis. Apabila paparan stresor dalam hal ini adalah pemberian obat terus diberikan maka kerusakan yang terjadi akan semakin parah akibat semakin banyak sumber ROS yang sukar untuk dinetralisir oleh antioksidan. Salah satu penyebab penting stress oksidatif adalah terbentuknya hidrogen peroksida yang bersifat toksik di sel HepG2 karena memiliki waktu parah panjang dan secara mudah berubah menjadi radikal hidroksil. 11 Pada penelitian terdahulu mengatakan bahwa H ₂O₂ pada sel HepG2 merangsang apoptosis pada sel hepatosit. Apabila hidrogen peroksidase bereaksi dengan sel lemak maka akan terbentuk peroksidasi lemak yang merupakan suatu proses autokatalitik dengan hasil akhir kerusakan hingga kematian sel.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh diet tinggi fruktosa rendah magnesium terhadap histopatologis hepar tikus galur wistar

Pengaruh diet tinggi fruktosa rendah magnesium terhadap histopatologis hepar tikus galur wistar

Fruktosa dalam diet dapat menginduksi de novo lipogenesis (DNL) membentuk trigliserida dan VLDL, meningkatkan penimbunan lemak di hepar yang menyebabkan resistensi insulin. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk melihat gambaran histopatologi hepar yang mengalami nekrosis dan apoptosis dengan melihat peningkatan ekspresi p53 dalam pengaruh diet tinggi fruktosa rendah magnesium. Pada penelitian ini digunakan tikus jantan galur Wistar (Rattus norvegicus) sebanyak 32 ekor yang dibagi dalam 4 kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok P1 (diet tinggi fruktosa), kelompok P2 (diet rendah magnesium), dan kelompok P3 (tinggi fruktosa rendah magnesium). Data yang diperoleh berupa persentase sel nekrosis yang diolah secara statistik dengan uji One-Way Anova yang dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase jumlah sel yang mengalami nekrosis pada kelompok P1 sebesar 27,36%, kelompok P2 sebesar 13,73% pada kelompok P3 sebesar 37,48%. Pada pengamatan ekspresi p53 pada sel hepar tidak diperoleh hasil yang positif sehingga jumlah sel yang mengalami apoptosis tidak dapat dihitung. Oleh sebab itu, ditarik suatu kesimpulan bahwa diet tinggi fruktosa rendah magnesium dapat menyebabkan peningkatan jumlah sel yang mengalami nekrosis pada sel hepar jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kata kunci: Diet tinggi fruktosa rendah magnesium, nekrosis sel hepar,
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH TEMPE KEDELAI HITAM (Glycine soja) TERHADAP PERLEMAKAN SEL HEPAR TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novergicus strain wistar) YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK DAN PROPILTIOURASIL (PTU)

PENGARUH TEMPE KEDELAI HITAM (Glycine soja) TERHADAP PERLEMAKAN SEL HEPAR TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novergicus strain wistar) YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK DAN PROPILTIOURASIL (PTU)

Abdullah, S.A.M. 2014. Pengaruh tempe kedelai hitam (glycine soja) terhadap perlemakan sel hepartikusputih (Rattusnovergicus strain wistar) dengandiet tinggi lemak dan propiltiourasil (PTU). Karya Tulis Akhir, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang. Pembimbing: (1) Djoni Djunaedi* ) .(2) Nanang Mardiraharjo** ) .

25 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BIJI ANGGUR MERAH (Vitis vinifera L.) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI SEL HEPAR TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novergicus strain wistar) YANG DIINDUKSI ALKOHOL

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BIJI ANGGUR MERAH (Vitis vinifera L.) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI SEL HEPAR TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novergicus strain wistar) YANG DIINDUKSI ALKOHOL

ALD saat ini menjadi salah satu dari sepuluh penyebab kematian paling umum. Menurut data pada tahun 2008 di Inggris dan Wales, sebanyak 0,95% dari seluruh kematian yang terdaftar pada penduduk yang berusia ≥ 20 tahun disebabkan oleh ALD (Saucedo, 2013). ALD secara luas digambarkan sebagai kondisi dengan berbagai tingkat gangguan fungsi hepar dari konsumsi alkohol kronis dan berlebihan (EASL, 2010). Spektrum klinis dari penyakit hati alkoholik yaitu fatty liver, hepatitis alkoholik, sirosis alkoholik dan karsinoma hepatoseluler, serta perubahan histopatologi yang terdiri dari steatosis, steatohepatitis, dan steatofibrosis (Neil, 2013). ALD menyebabkan sekitar 80% dari para peminum berat mengalami perlemakan hati, 10% hingga 35% mengalami hepatitis alkoholik dan sekitar 10% mengalami sirosis (Cotran, Kumar, dan Robbins, 2007).
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

TOKSISITAS EKSTRAK GANODERMA LUCIDUM TERHADAP HEPAR DENGAN MELIHAT KADAR ALKALIN PHOSPHATASE TIKUS WISTAR

TOKSISITAS EKSTRAK GANODERMA LUCIDUM TERHADAP HEPAR DENGAN MELIHAT KADAR ALKALIN PHOSPHATASE TIKUS WISTAR

Latar belakang: Dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa Ganoderma lucidum menyebabkan toksisitas pada ginjal dan menimbulkan degenerasi lemak pada hepar. Alkalin phosphatase (ALP) merupakan indikator kerusakan hepar, maka dilakukan uji toksisitas terhadap hepar dengan melihat kadar ALP. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek toksik G. lucidum dengan melihat peningkatan kadar ALP tikus Wistar dan untuk

12 Baca lebih lajut

Pengaruh ekstrak air herba putri malu terhadap kerusakan sel hepar tikus wistar jantan sebagai pelengkap uji toksisitas subkronis - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Pengaruh ekstrak air herba putri malu terhadap kerusakan sel hepar tikus wistar jantan sebagai pelengkap uji toksisitas subkronis - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Astuti, U.N.W., Dewi, R., Siska, H., Susilo, H.S.,2006.Pemanfaatan Mindi (Melia azedarach L.)Sebagai Anti Parasit Trypanosoma evansi Dan Dampaknya Terhadap struktur Jaringan Hepar Dan Ginjal Mencit. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM. hlm. 293.

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Madu Terhadap Gambaran Mikroskopis Hepar Pada Tikus Wistar Jantan Yang Diinduksi Monosodium Glutamat

Pengaruh Madu Terhadap Gambaran Mikroskopis Hepar Pada Tikus Wistar Jantan Yang Diinduksi Monosodium Glutamat

Pada hari ke 31 setelah perlakuan selesai diberikan, semua hewan percobaan dikorbankan dengan dibius terlebih dahulu menggunakan etil alkohol, kemudian dilanjutkan dengn cara dislokasi vertebra servikalis, kemudian organ hepar diambil untuk selanjutnya dibuat preparat histologi dengan metode blok parafin dengan pengecatan HE. Dari setiap tikus dibuat dua sampai tiga preparat jaringan hepar dan tiap preparat dibaca dalam 5 lapangan pandang dengan pembesaran 100x dan 400x. Pengamatan dilakukan oleh peneliti dan ahli secara blind dalam rangka penghindaran subjektifitas. Data yang terkumpul telah diolah terlebih dahulu dengan uji Kappa dan selanjutnya data yang terkumpul dideskripsikan dalam bentuk proporsi untuk masing masing kelompok. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji Kruskall-wallis. Jika hasil uji Kruskall-wallis bermakna, maka akan dilanjutkan uji Mann-
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 7278 documents...