Hiu Paus

Top PDF Hiu Paus:

Komposisi Hiu Paus Berdasarkan Jenis Kelamin dan Ukuran Serta Perilaku Kemunculannya di Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Komposisi Hiu Paus Berdasarkan Jenis Kelamin dan Ukuran Serta Perilaku Kemunculannya di Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Ekologi dan tingkah laku hiu paus masih sangat jarang diketahui. Sejak Tahun 2 011 , keberadaan hiu paus di teluk cenderawasih menjadi daya tarik bagi wisatawan karena hubungan hiu paus tersebut terhadap bagan nelayan. Penelitian bertujuan untuk identifikasi individu hiu paus berdasarkan jenis kelamin dan ukuran serta tingkah laku di permukaan di Teluk Cenderawasih. Survei Pengamatan dilakukan di bagan nelayan dari April hingga Juli 2 013 dengan mencatat tanggal, waktu, lokasi dan jumlah hiu paus yang teramati setiap harinya. Selama pengamatan, teramati 36 hiu paus jantan dan 1 hiu paus betina. Ukuran hiu paus berkisar 3 – 6 meter yang mengindikasikan kisaran ukuran belum dewasa. Aktifitas hiu paus di permukaan tertinggi ditemukan di Perairan Sowa (76 kemunculan), diikuti Perairan Kwatisore (51 Kemunculan) dan Perairan Yaur (7 kemunculan). Perilaku hiu paus di permukaan perairan dekat bagan nelayan adalah perilaku untuk mendapatkan makanan. Hal ini ditunjukkan dengan kemunculan hiu paus yang berhubungan dengan hasil tangkapan nelayan bagan. Oleh karena itu, manajemen yang baik terhadap operasi bagan nelayan dan aktivitas wisatawan sangat penting diimplementasikan untuk menjaga hiu paus yang vital keberadaannya di Taman Nasional Teluk Cenderawasih.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

MANFAAT EKONOMI EKOWISATA HIU PAUS (Rhincodon typus) DI KAMPUNG AKUDIOMI DISTRIK YAUR KABUPATEN NABIRE

MANFAAT EKONOMI EKOWISATA HIU PAUS (Rhincodon typus) DI KAMPUNG AKUDIOMI DISTRIK YAUR KABUPATEN NABIRE

dapat berkontribusi dalam peningkatan ekonomi daerah terutama masyarakat lokal. (Western, 1995). Untuk mencapai tujuan ekowisata secara berkelanjutan maka diperlukan suatu pengelolaan yang dapat mendukung pengembangan kegi- atan ekowisata, sehingga mendatang-kan manfaat sebesar-besarnya bagi masya- rakat lokal. Sejak menjadi objek dan daya tarik wisata berbasis hiu paus, Kampung Akudiomi telah memberi manfaat eko- nomi bagi berbagai pihak pemangku kepentingan. Namun hingga kini, infor- masi tentang manfaat ekonomi tersebut belum diketahui. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui manfaat ekonomi yang diperoleh para pemangku kepentingan dan secara khusus mengetahui tingkat kesejahteraan pelaku usaha wisata lokal dari aktifitas ekowisata hiu paus. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dalam penyusunan kebijakan pengelolaan ekowisata hiu paus ke depan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK HABITAT HIU PAUS, Rhincodon typus Smith, 1828 (Elasmobranchii: Rhincodontidae) DI PESISIR KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR

KARAKTERISTIK HABITAT HIU PAUS, Rhincodon typus Smith, 1828 (Elasmobranchii: Rhincodontidae) DI PESISIR KABUPATEN PROBOLINGGO, JAWA TIMUR

Hiu paus (Rhincodon typus) merupakan spesies ikan terbesar di dunia. Ukurannya dapat mencapai 20 meter dan bobot 34 ton (Norman 2013). Daerah penyebarannya luas meliputi perairan tropis hingga subtropis hangat yaitu antara 30°LU dan 35°LS dengan kisaran suhu 21° – 30°C (KKJI 2014). Menurut Motta et al. (2010) ikan ini merupakan pemakan zooplankton yang cenderung jinak. Hal ini berbeda dari hiu pada umumnya yang merupakan karnivora dan buas. Penelitian mengenai beberapa aspek kehidupan hiu paus yang meliputi aspek biologi dan ekologi hingga saat ini cukup banyak dilakukan, seperti di Ninggalo Reef Australia (Steven et al. 2001), Afrika Timur (Stewart 2009), Belize (Heyman et al. 2001), California (Nelson et al. 2007), dan Mexico (Motta et al. 2010). Selain itu, di Indonesia penelitian mengenai penyebarannya sudah dilakukan di Taman Nasional Teluk Cendrawasih (Himawan 2014).
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Karakteristik Habitat Hiu Paus, Rhincodon Typus, SMITH 1828 (Elasmobranchii: Rhincodontidae) di Pesisir Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur

Karakteristik Habitat Hiu Paus, Rhincodon Typus, SMITH 1828 (Elasmobranchii: Rhincodontidae) di Pesisir Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur

Penelitian ini bertujuan untuk menduga karakteristik habitat dengan mengkaji kondisi lingkungan perairan dan potensi makanan saat hiu paus (Rhincodon typus) muncul ke permukaan. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan pengamatan secara visual terhadap kondisi kondisi lingkungan perairan, tingkah laku, serta pengambilan contoh zooplankton pada saat muncul ke permukaan. Observasi lapangan dilakukan selama 12 hari pada bulan Maret 2015. Hiu paus muncul ke permukaan pada saat cuaca cerah atau sedikit berawan, arus permukaan relatif tenang, dan angin utara berkecepatan rendah. Suhu permukaan air laut berada pada kisaran suhu antara 28,0-29,5 °C. Posisi kemunculan mendekati tepi pantai sekitar 500 meter dengan kedalaman perairan maksimum 20 meter. Ditemukan 72 ekor individu ikan selama waktu pengamatan dengan kisaran jumlah kemunculan 2 – 14 ekor per hari. Ukuran ikan hiu paus yang teramati berkisar antara 2-8 meter. Kemunculan hiu paus ke permukaan terkait aktivitas makan yang komposisinya didominasi oleh Lucifer dan copepoda.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

18 kepmen kp 2013 ttg penetapan status perlindungan penuh ikan hiu paus

18 kepmen kp 2013 ttg penetapan status perlindungan penuh ikan hiu paus

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/KEPMEN-KP/2013 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN HIU PAUS Rhincodon typus DENGAN RAHMAT TUHAN YAN[r]

5 Baca lebih lajut

Buku Pedoman monitoring Hiu paus final1

Buku Pedoman monitoring Hiu paus final1

Hiu paus atau “Gurano Bintang” dianggap sebagai hantu laut oleh masyarakat di TNTC. Ketika hiu paus muncul, maka masyarakat akan mematikan mesin dan tinggal diam di dalam perahu sampai hiu paus lewat. Kemunculan hiu paus juga dipercaya sebagai pertanda bahwa akan ada kedukaan (orang meninggal). Namun sejak hiu paus menjadi atraksi wisata, masyarakat mulai menganggap hiu paus sebagai ikan yang bersahabat. Kemunculan hiu paus oleh nelayan bagan yang biasanya berasal dari suku Bugis, Buton, dan Makassar juga dianggap sebagai pertanda baik karena kemunculannya biasa diikuti oleh ikan-ikan pelagis kecil yang menjadi target bagan (komunikasi personal).
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Dampak Zonasi Dan Pariwisata Atraksi Hiu Paus Terhadap Komunitas Kampung Kwatisore

Dampak Zonasi Dan Pariwisata Atraksi Hiu Paus Terhadap Komunitas Kampung Kwatisore

Para ahli memprediksi dan mengamati ada beberapa kegiatan yang akan menjadi ancaman terhadap keberadaan hiu paus yaitu pengeboman ikan, penggunaan jaring ikan yang tidak ramah lingkungan, rencana kegiatan eksplorasi migas, maraknya pembangunan dan belum adanya sistem pengaturan bagan ikan, alur pelayaran di wilayah perairan habitat hiu paus, konversi hutan bakau, kerusakan ekosistem padang lamun, ekosistem terumbu karang (Sumaryono 2011) dan maraknya kegiatan perburuan sirip hiu paus oleh para nelayan. Maraknya perburuan sirip hiu disebabkan karena tingginya permintaan sirip hiu untuk bahan baku pembuatan soup sirip hiu yang terkenal dengan kelezatannya. Norman (2002) yang dikutip dari WWF (2014a) menyatakan bahwa bagian yang diperdagangkan dari hiu paus meliputi sirip (untuk bisnis sirip hiu), minyak hati (untuk melapisi lambung kapal agar menjadi anti air), rahang, daging (segar, dikeringkan atau diasinkan), perut dan usus (untuk makanan), tulang rawan (untuk suplemen kesehatan), dan kulit (untuk produk kulit). Ancaman lainnya hiu paus sering terdampar di wilayah pesisir pantai saat melakukan migrasi. Tahun 2011 ditemukan hiu paus terdampar di Pantai Pangandaran, oleh masyarakat ikan tersebut dipotong dan dagingnya dikonsumsi. Pada tahun 2012 ditemukan dua ekor hiu paus terdampar di pesisir pantai selatan Jawa, tepatnya di wilayah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kebetulan sewaktu sedang melakukan penelitian di kawasan Kwatisore peneliti mendengar kabar dari para nelayan bahwa terdapat tiga ekor hiu paus yang terdampar dan mati di pulau.
Baca lebih lanjut

134 Baca lebih lajut

Potensi Maritim di Laut Selayar

Potensi Maritim di Laut Selayar

Kemudian kawasan bawah laut di Selayar memiliki potensi yang begitu besar untuk dimanfaatkan sebaik mungkin. Yang pertama yaitu sektor pariwisata, dengan jumlah pulau kurang lebih 100 pulau yang tersebar, memungkinkan pemerintah untuk mengelolah dengan baik dan benar pulau-pulau tersebut untuk dijadikan objek wisata. Kemudian ekosistem bawah laut yang begitu indah tentu menarik perhatian masyarakat lokal maupun manca negara. Kepulauan Selayar masuk dalam gugusan tiga karang dunia. Segitiga Terumbu Karang ini meliputi banyak wilayah dengan luas kurang lebih 6.500.000 km², dimana Selayar termasuk di dalam kawasan tersebut dan terdiri dari 600 spesies terumbu karang yang merupakan 75% semua spesies Karang yang ada di Dunia. Perairan Segitiga Karang Dunia juga merupakan tempat tinggal 3.000 spesies ikan, termasuk ikan terbesar hiu paus, dan fosil hidup coelacanth. 8 Dari data diatas, hal tersebut tentu menjadi kebanggan tersendiri untuk
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Belajar dari Paus Fransiskus Mengajar dan Mempengaruhi Dunia.

Belajar dari Paus Fransiskus Mengajar dan Mempengaruhi Dunia.

Pemikiran Paus tentang manusia dan dunia  Setiap manusia bernilai maka harus dihormati dan dicintai terutama mereka yang kecil, yang tersingkir, yang miskin, yang sakit.. Ini dilakuka[r]

4 Baca lebih lajut

Perbedaan Hasil Tangkapan Hiu dari Rawai

Perbedaan Hasil Tangkapan Hiu dari Rawai

Kegiatan penangkapan hiu sebagai target tangkapan utama bagi perikanan rawai di Tanjung Luar, Lombok Timur berlangsung sepanjang tahun dengan upaya penangkapan yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil tangkapan hiu dari alat tangkap rawai hanyut dan rawai dasar yang dioperasikan oleh nelayan yang berbasis di PPI Tanjung Luar, Lombok Timur. Data tangkapan diperoleh melalui catatan enumerator di Tanjung Luar, Lombok Timur dari Januari – November 2015. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan laju pancingnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju tangkap rawai hiu yang dioperasikan nelayan Tanjung Luar berfluktuasi tiap bulan dengan rerata 12,97±6,131 ekor/hari dan rerata laju pancing 4,32 ± 2,23 ekor/100 pancing. Fishing Power Index untuk rawai hanyut dan dasar sebesar 1,00 dan 0,55. Laju tangkap cenderung mulai mengalami peningkatan pada April dan mencapai puncaknya sekitar November. Laju tangkap rawai hanyut lebih tinggi dibandingkan rawai dasar karena frekuensi hiu tertangkap lebih banyak pada rawai hanyut. Jenis hiu hasil tangkapan rawai dasar lebih beragam (26 jenis) dibanding rawai hanyut (18 jenis). Rawai hanyut cenderung lebih banyak menangkap jenis hiu dengan status konservasi rawan dan langka menurut Daftar Merah IUCN serta masuk dalam Appendiks CITES. Total hasil tangkapan hiu didominasi oleh Carcharhinus falciformis (42,12%), Prionace glauca (10,51%) dan C. limbatus (10,32%). Jenis C. falciformis dan P. glauca cenderung lebih banyak tertangkap oleh rawai hanyut sedangkan C. limbatus banyak tertangkap oleh rawai dasar.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Membandingkan Kandungan and Manfaat Miny (1)

Membandingkan Kandungan and Manfaat Miny (1)

Uji laboratorium sangat bergantung pada banyak hal. termasuk diantaranya pada asal perairan kan tersebut, jenis subspesies ikan dll. Semisal pada uji lab minyak Ikan Hiu Botol indonesia di Universitas Gadjah Mada Justru menunjukan kandungan omega 3 ikan hiu botol lebih tinggi dari salmon yaitu 9% (lihat uji labnya)

3 Baca lebih lajut

Karakteristik Biologi Hiu dan Pari Appen

Karakteristik Biologi Hiu dan Pari Appen

Hiu tersebut memiliki nama lokal hiu monyet, hiu lancur (Bali), hiu tikus (Lombok), paitan (Cilacap) dan merupakan jenis ikan hiu oseanik yang hidup mulai dari perairan pantai hingga laut lepas, dari lapisan permukaan hingga kedalaman 600 m (White et al., 2006). Bentuk sirip ekornya yang panjang merupakan ciri khas dari kelompok ikan hiu dari Suku Alopiidae ini. Bentuk matanya yang besar dan adanya guratan dalam di bagian tengkuknya merupakan karakteristik yang membedakan jenis ini dengan jenis Alopias yang lain. Di perairan Indonesia, jenis hiu ini tercatat ditemukan di perairan Samudera Hindia, mulai dari barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara, Laut Pasifik, Selat Makassar, Laut Sulawesi dan Laut Banda. Tidak seperti jenis A.pelagicus, A.superciliosus tertangkap dalam jumlah yang relatif sedikit sebagai hasil tangkapan sampingan di dalam perikanan jaring tuna dan jaring lingkar yang beroperasi di perairan lepas pantai Samudera Hindia (Fahmi & Dharmadi, 2013).
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

POTENSI HIU DAN PARI SEBAGAI KOMODITAS I

POTENSI HIU DAN PARI SEBAGAI KOMODITAS I

Habitatnya yang sangat terbatas dan rawan terjadi kerusakan serta upaya penangkapan yang tidak lestari, mengakibatkan keberadaan populasinya di alam menjadi sangat terbatas sehingga dikhawatirkan akan mengalami kepunahan di masa mendatang. Selama ini para pengusaha ikan hias (hiu dan pari) di Indonesia umumnya selalu mengambil ikan langsung dari alam untuk kemudian ditampung dan dijual. Sekilas usaha tersebut terlihat tidak akan berdampak pada kelestarian ikan tersebut di alam karena dianggap hanya mengambil sebagian kecil dari jumlah ikan yang ada di alam. Namun, untuk jenis-jenis yang merupakan spesies endemik ini akan menjadi permasalahan tersendiri karena keberadaanya di alam yang terbatas. Umumnya jenis-jenis ikan endemik memiliki nilai jual yang tinggi di pasaran, sehingga hal ini mengakibatkan tingginya pula upaya nelayan untuk menangkap dan menjualnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENUTUP  KEBERPIHAKAN PERS DALAM PEMBERITAAN MENGENAI PERNYATAAN PAUS BENEDIKTUS XVI TENTANG ISLAM DI REPUBLIKA DAN KOMPAS.

PENUTUP KEBERPIHAKAN PERS DALAM PEMBERITAAN MENGENAI PERNYATAAN PAUS BENEDIKTUS XVI TENTANG ISLAM DI REPUBLIKA DAN KOMPAS.

Di hadapan ribuan peziarah di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Rabu (20/9), Paus Benediktus XVI menyatakan dirinya "sangat menghormati" Islam dan tidak bermaksud menyebarkan pandangan negatif tentang Islam. Paus mengakui sebagian dari isi pidatonya di Universitas Regensburg, Jerman, telah melukai perasaan Muslim. Ia berharap semua itu dapat membawa ke arah dialog antaragama. Namun, Paus kembali menegaskan bahwa isi pidatonya yang memicu kemarahan itu tidak merefleksikan pendapat pribadinya. "Saya amat menghormati semua agama, khususnya Islam yang menyembah satu Tuhan dan yang terus mempertahankan dan menyerukan keadilan sosial, nilai-nilai moral, perdamaian, dan kebebasan untuk seluruh umat manusia," kata Paus.
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

View of Pemimpin Ormas Keagamaan Sebagai Man of communion dalam Situasi Konflik Menurut Paus Benediktus XV dan Paus Yohanes XXIII

View of Pemimpin Ormas Keagamaan Sebagai Man of communion dalam Situasi Konflik Menurut Paus Benediktus XV dan Paus Yohanes XXIII

Capranica dan Universitas Gregoriana di Roma. Ia ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 21 Desember 1878, dan langsung disekolahkan untuk menjadi diplomat Gereja Katolik. Dari 1883 hingga 1887 ia menjadi sekretaris Nuntius di Spanyol dan membantu Nuntius untuk menjadi penengah antara Jerman dan Spanyol dalam persoalan kepulauan Caroline. Keinginannya untuk menjadi Nuntius tidak tercapai, karena Paus Pius X mengangkatnya menjadi Uskup di Bologna pada tahun 1907. Pada Mei 1914 ia diangkat menjadi Kardinal. Melalui konklaf 3 September 1914 beliau terpilih menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia dengan nama Benediktus XV, menggantikan Paus Pius X yang wafat pada 20 Agustus 1914. Keterpilihannya sangat mengejutkan, karena beliau sama sekali tidak dijagokan sebagai kandidat kuat (papabilis), mengingat baru tiga bulan diangkat menjadi Kardinal. Para peserta konklaf agaknya sungguh-sungguh sadar akan situasi kritis yang melanda Eropa, sehingga mereka sengaja memilih figur yang telah terbukti piawai di bidang diplomasi. 2 Agar pelantikannya tidak kontras dengan situasi prihatin yang
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Identifikasi spesies sirip hiu di tempat kuliner melalui dna barcoding penanda mitokondriasebagai upaya konservasi spesies hiu di indonesia

Identifikasi spesies sirip hiu di tempat kuliner melalui dna barcoding penanda mitokondriasebagai upaya konservasi spesies hiu di indonesia

Ikan hiu merupakan komoditas perikanan yang dieksploitasi secara besar-besaran karena nilai ekonominya yang sangat tinggi. Dalam hal mengidentifikasi hiu sangat sulit dilakukan karena antar spesies memiliki kesamaan morfologi dan sebagian besar bagian tubuhnya telah hilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan meninjau status spesies hiu yang diperdagangkan di tempat kuliner dan yang dilelang di Tempat Pelelangan Ikan Muara Saban. Amplifikasi DNA menggunakan marka mitokondria lokus Cytochrome oxydase I dengan panjang pasang basa 600-700 basepair. Peninjauan status berdasarkan daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan status CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Faunaand Flora) Hasil menunjukkan terdapat 4 spesies yang teridentifikasi sebagai hiu diantaranya Carcharhinus falciformis, C. sorrah, Atelomycterus marmoratus, dan Spyrna lewini. Selain hiu teridentifikasi 2 spesies pari yang juga diperdagangkan siripnya yaitu Taeniura lymma dan Aerobatus narinari. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi penelitian dasar untuk membantu pemerintah dalam upaya konservasi dan pengelolaan perikanan hiu Indonesia. Kata kunci : Hiu, Kuliner, DNA barcoding, Filogenetik, Status Konservasi, dan Status
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

MENEMUKAN TEOLOGI LEONARDO BOFF DALAM ENSIKLIK PAUS FRANSISKUS

MENEMUKAN TEOLOGI LEONARDO BOFF DALAM ENSIKLIK PAUS FRANSISKUS

dirinya sebagai Paus, untuk menghormati St. Fransiskus dari Asisi atas kepedulian, cinta, dan spiritualitas hidupnya kepada alam dan orang miskin. Benar bahwa Bergoglio mewakili ordo Jesuit yang untuk pertama kali tampil sebagai Paus setelah sekian lama dalam sejarah kelam Ordo ini, dihambat perkembangannya oleh Paus Clemens XVI pada tahun 1773, sehingga mereka tidak terorganisasi selama kurang lebih 70 tahun. John W. O’Malley, seorang profesor teologi dan sejarawan Yesuit di Georgetown University, menginformasikan bahwa perkembangan Jesuit yang pesat sampai sekarang ini tidak terlepas dari sejarah kelamnya. Misalnya, perselisihan dan permusuhan di antara Ordo Benediktin dan Ordo Yesuit di China ketika iman Katolik diberitakan. Perselisihan ini dipicu oleh kegusaran rahib Benediktin terhadap para Jesuit mengikuti penghambatan dari Paus Clemens XVI. Lembaran buram lainnya adalah penghambatan Yesuit di Roma, namun di biarkan berkembang di Rusia oleh Catherina the Great. Bukti sejarah ini menampilkan sisi kesyahihan Ordo Jesuit sepanjang perkembangannya walau dihambat.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

BAB II PENGATURAN PERBURUAN PAUS DI DALAM HUKUM INTERNASIONAL - Perlindungan Terhadap Paus Di Southren Ocean Whale Sanctuary Menurut International Convention For The Regulation Of Whaling (Studi Pada Sengketa Perburuan Paus Antara Jepang Dan Australia )

BAB II PENGATURAN PERBURUAN PAUS DI DALAM HUKUM INTERNASIONAL - Perlindungan Terhadap Paus Di Southren Ocean Whale Sanctuary Menurut International Convention For The Regulation Of Whaling (Studi Pada Sengketa Perburuan Paus Antara Jepang Dan Australia )

Di dalam menjalankan fungsinya, IWC yang bergerak dibidang regulasi perburuan paus, menggunakan ICRW sebagai dasar konvensinya untuk menjalankan kegiatannya dan memberikan izin terhadap kegiatan perburuan paus. ICRW sendiri merupakan sebuah konvensi internasional menyangkut permasalahan perburuan paus yang disetujui pada tahun 1946 di Washington D.C, Amerika Serikat. Pada awalnya, ICRW merupakan 2 perjanjian multilateral yang berkenaan dengan paus yang kemudian digabungkan. Kedua perjanjian tersebut yaitu konvensi mengenai regulasi paus (The Convention for the Regulation of Whaling) yang diadopsi pada tahun 1931 dan perjanjian internasional untuk regulasi paus pada tahun 1937.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Permen KP 59 Tahun 2014

Permen KP 59 Tahun 2014

(3) Ciri-ciri, deskripsi, dan gambar ikan Hiu Koboi (Carcharhinus longimanus) dan Hiu Martil (Sphyrna spp.) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

8 Baca lebih lajut

Show all 161 documents...