Hukum Tenaga Kerja

Top PDF Hukum Tenaga Kerja:

HUKUM TENAGA KERJA HUBUNGAN KERJA MELALU

HUKUM TENAGA KERJA HUBUNGAN KERJA MELALU

Setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain disebut Pekerja. Agar hubungan antara pengusaha atau pemberi kerja dengan pekerja terjalin dengan baik perlulah dibuat suatu aturan yaitu Hukum Tenaga Kerja. Hubungan antara buruh dengan majikan dalam suatu hubungan kerja menimbulkan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing-masing pihak. Hubungan tersebut menjadi sebuah tata kehidupan tertib dan damai sehingga menjamin tingkat produktivitas kerja.

4 Baca lebih lajut

Tugas Hukum Tenaga Kerja (1)

Tugas Hukum Tenaga Kerja (1)

Undang – Undang Nomor 21 tahun 1954 tentang perjanjian perburuhan antrara serikat buruh dan majikan(sekarang disebut dengan Perjanjian Bersama) yangmemberikan kedudukan seimbang antara pekerja/buruh dengan pengusaha dalam menyusun syarat – syarat kerja di Peusahaan.

3 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TENAGA KERJA WANITA

PERLINDUNGAN HUKUM TENAGA KERJA WANITA

Lingkup perjanjian terlalu luas, mencakup juga perjanjian perkawinan yang diatur dalam bidang hukum keluarga. Padahal, yang dimaksud adalah hubungan antara debitor dan kreditor yang bersifat kebendaan. Perjanjian yang diatur dalam Buku III KUHpdt sebenarnya hanya melingkupi perjanjain bersifat kebendaan, tidak melingkupi perjanjian bersifat keorangan (personal). Perbuatan dapat dengan persetujuan dan dapat juga tanpa persetujuan. Dalam hal ni tanpa persetujuan, yang disimpulkan dari unsur definisi “perbuatan” yang meliputi juga perbuatan perwakilan sukarela (zaakwaarneming), perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) yang terjadinya tanpa persetujuan. Seharusnya unsur tersebut dirumuskan: perjanjian adalah “persetujuan”.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PERMASALAHAN HUKUM TENTANG TENAGA KERJA ANAK DI INDONESIA

PERMASALAHAN HUKUM TENTANG TENAGA KERJA ANAK DI INDONESIA

membayar upah; dalam hubungan kerja kewajiban utama bagi seorang pengusaha adalah membayar upah kepada pekerjanya secara tepat waktu. Ketentuan tentang upah ini juga telah mengalami perubahan pengaturan ke arah hukum publik. Hal ini terlihat dari campur tangan pemerintah dalam menetapkan besarnya upah terendah yang harus dibayar oleh pengusaha yang dikenal dengan nama upah minimum regional (UMR). Campur tangan pemerintah dalam menetapkan besarnya upah ini penting guna menjaga agar jangan sampai besarnya upah yang diterima oleh pekerja terlampau rendah, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup pekerja meskipun secara minimum sekaligus.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Akuisisi Terhadap Perjanjian Tenaga Kerja

Akibat Hukum Akuisisi Terhadap Perjanjian Tenaga Kerja

Pelaku Usaha yang akan melakukan Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu dapat melakukan konsultasi secara lisan atau tertulis kepada Komisi. Konsultasi secara tertulis dilakukan dengan mengisi formulir dan menyampaikan dokumen yang disyaratkan oleh komisi. Saran, bimbingan, dan/atau pendapat tertulis diberikan dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya formulir dan dokumen secara lengkap oleh Komisi.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Akuisisi Terhadap Perjanjian Tenaga Kerja

Akibat Hukum Akuisisi Terhadap Perjanjian Tenaga Kerja

oleh suatu sistem hukum yang modern. Hak dan kewenangan dari pihak karyawan akan diperjuangkan oleh organisasi-organisasi buruh. Karena itu, perusahaan harus memberi tempat yang baik terhadap organisasi buruh. 11 Karena itu, tidak mengherankan jika dalam undang-undang perseroan terbatas memerintahkan pihak pelaksana akuisisi untuk memperhatikan kepentingan karyawan. 12 Pada dasarnya apabila terjadi akuisisi atau pengambilalihan dalam Perseroan terbatas maka hak-hak perkerja/buruh menjadi tanggung jawab pengusaha baru, kecuali telah ditentukan lain dalam perjanjian pengalihan dengan tetap memperhatikan dan tidak merugikan karyawan dari perseroan tersebut hal ini sesuai dengan apa yang di atur dalam Pasal 61 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (selanjutnya disebut dengan UU Ketenagakerjaan) bahwa dalam hal terjadi pegalihan perusahaan maka hak-hak pekerja/buruh menjadi tanggung jawab pengusaha baru, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian pengalihan yang tidak mengurangi hak-hak pekerja/buruh.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

TESIS PERLINDUNGAN HUKUM DALAM PENEMPATAN TENAGA  PERLINDUNGAN HUKUM DALAM PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA DI MALAYSIA.

TESIS PERLINDUNGAN HUKUM DALAM PENEMPATAN TENAGA PERLINDUNGAN HUKUM DALAM PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA DI MALAYSIA.

Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian yang berfokus pada norma hukum positif. Penelitian ini meneliti hukum positif berupa peraturan perUndang-undangan yang mengatur tentang Perlindungan Hukum dalam penempatan TKI. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi hukum, dan pendekatan politik hukum. Hasil pendekatan sosiologi hukum, dan pendekatan politik hukum menjadi dasar untuk menentukan bagaimana sebaiknya hukum di Indonesia mengatur untuk memberikan perlindungan hukum terhadap pihak yang dirugikan karena adanya pelanggaran hukum dalam penempatan Tenaga Kerja Indonesia.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUKUM PERBURUHAN DAN TENAGA KERJA

HUKUM PERBURUHAN DAN TENAGA KERJA

 Frasa “…perjanjian kerja waktu tertentu” dalam Pasal 65 ayat (7) dan frasa “…perjanjian kerja untuk waktu tertentu” dalam Pasal 66 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang dalam perjanjian kerja tersebut tidak disyaratkan adanya pengalihan perlindungan hak-hak bagi pekerja/buruh yang objek kerjanya tetap ada, walaupun terjadi pergantian perusahaan yang melaksanakan sebagian pekerjaan borongan dari perusahaan lain atau perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh;
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Perempuan Yang Bekerja Di Malam Hari

Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Perempuan Yang Bekerja Di Malam Hari

Dari faktor-faktor yang mendukung di atas, dapat disimpulkan bahwa pemerintah telah mengupayakan seoptimal mungkin perlindungan hukum terhadap tenaga kerja perempuan yang bekerja di malam hari. Hanya saja dalam prakteknya di lapangan, seringkali pengusaha dengan segala cara berusaha melanggar segala ketentuan perundang-undangan. Hal ini dilakukan pengusaha karena tidak ingin melaksanakan kewajiban-kewajiban bagi pengusaha yang mempekerjakana tenaga kerja perempuan di malam hari, misalnya menyediakan fasilitas antar jemput, menyediakan makanan dan minuman yang bergizi bagi karyawannya, menyediakan fasilitas kaman mandi/WC yang terpisah antara karyawan laki-laki dan perempuan, dan lain- lain. Semua kewajiban itu dianggap pengusaha hanya merupakan penghambat untuk mendapatkan keuntungan yang optimal. Pengusaha berprinsip bahwa semua peraturan tersebut hanya bersifat merugikan dan membatasi ruang lingkupnya saja.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

FUNGSI KARTU TENAGA KERJA LUAR NEGERI (KTKLN) DALAM UPAYA PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TENAGA KERJA INDONESIA.

FUNGSI KARTU TENAGA KERJA LUAR NEGERI (KTKLN) DALAM UPAYA PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TENAGA KERJA INDONESIA.

Pemerintah dalam memberikan pekerjaan dan penghidupan yang layak salah satunya dengan penempatan tenaga kerja. Penempatan tenaga kerja ke luar negeri merupakan perluasan kesempatan kerja ke luar negeri oleh pemerintah. Pemerintah mengupayakan perlindungan bagi para TKI di negara penempatan. Salah satu upaya pemerintah mengeluarkan kebijakan penerbitan (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri) KTKLN bagi tenaga kerja Indonesia sebagai perlindungan hukum. Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri yang difungsikan sebagai salah satu alat perlindungan bagi tenaga kerja Indonesia di luar negeri, faktanya tidak menemui keefektifannya. Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri dianggap oleh tenaga kerja Indonesia hanya sebagai syarat formalitas untuk diizinkan bekerja di luar negeri. Tanpa KTKLN, tenaga kerja Indonesia akan dianggap ilegal dan dilarang untuk berangkat ke luar negeri meskipun sudah memiliki tiket pesawat, visa kerja maupun paspor.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENUTUP  KESIAPAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA DI BIDANG KETENAGAKERJAAN DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015 (STUDY KASUS DI KOTA YOGYAKARTA).

PENUTUP KESIAPAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA DI BIDANG KETENAGAKERJAAN DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015 (STUDY KASUS DI KOTA YOGYAKARTA).

Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. M.01-IZ.01.10 Tahun 2007 tentang Perubahaan Kedua atas Keputusan Menteri Kehakiman No. M. 02- IZ.01.10 Tahun 1995 tentang Visa Singgah, Visa Kunjungan, Vitas Tinggal Terbatas, Izin Masuk dan Izin Keimigrasian.

7 Baca lebih lajut

DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN TENAGA KERJA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN TENAGA KERJA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa setiap kuantitas produk dapat dihasilkan dengan berbagai macam kombinasi tenaga kerja dan modal. Misalnya, Isokuan 2 dapat dicapai dengan kombinasi antara 3 unit modal dan 2 unit tenaga kerja atau dengan 2 unit modal dan 3 unit tenaga kerja. Perusahaan dapat meningkatkan output-nya dari isokuan 2, katakanlah menjadi isokuan 3 dengan cara meningkatkan jumlah modal yang digunakan atau dengan cara meningkatkan kedua jenis input. Apabila diberikan kebebasan penuh untuk memilih, maka pengusaha akan menghasilkan setiap jenis output dengan kombinasi modal dan tenaga kerja yang paling sedikit biayanya. Akan tetapi, karena asumsi peneliti bahwa perusahaan itu berada dalam jangka pendek, maka perusahaan tidak mampu untuk mengubah kuantitas modal yang digunakan. Perusahaan dalam
Baca lebih lanjut

157 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  KEPASTIAN HUKUM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA YANG MELAKUKAN PEKERJAAN DI LUAR HUBUNGAN KERJA.

PENDAHULUAN KEPASTIAN HUKUM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA YANG MELAKUKAN PEKERJAAN DI LUAR HUBUNGAN KERJA.

Ciri-ciri usaha ekonomi informal antara lain : berskala mikro dengan modal kecil; menggunakan teknologi sederhana/rendah; menghasilkan barang dan/atau jasa dengan kualitas relatif rendah; tempat usaha tidak tetap; mobilitas tenaga kerja sangat tinggi; kelangsungan usaha tidak terjamin; jam kerja tidak teratur; tingkat produktivitas dan penghasilan relatif rendah dan tidak tetap (Latar Belakang Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor PER-24/MEN/VI/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi Tenaga Kerja yang Melakukan Pekerjaan di Luar Hubungan Kerja). Contohnya pedagang kecil (asongan/pedagang kaki lima), buruh bangunan, sopir angkutan umum, tukang ojek, nelayan dan petani tradisional, serta tenaga kerja yang bekerja di sektor industri kecil. Sebagian besar tenaga kerja pada usaha-usaha ekonomi informal tersebut belum terjangkau oleh upaya-upaya pembinaan dan perlindungan tenaga kerja yang berkesinambungan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan - Pemutusan Hubungan Kerja Oleh Perusahaan Kepada Pekerja Yang Mengalami Disabilitas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 (Studi Kasus Putusan Nomor 242K/Pdt.Sus/2008) - Ubharajaya Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan - Pemutusan Hubungan Kerja Oleh Perusahaan Kepada Pekerja Yang Mengalami Disabilitas Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 (Studi Kasus Putusan Nomor 242K/Pdt.Sus/2008) - Ubharajaya Repository

Kurangnya sistem pengawasan dan keamanan saat bekerja, banyak memakan korban khususnya para pekerja yang bekerja dikawasan perusahaan, kecelakaan kerja yang dapat menyebabkan pekerja mengalami sakit, cacat fisik sementara bahkan sampai ada pula yang mengalami cacat fisik permanent. Larangan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada pekerja yang mengalami sakit, sakit berkepanjangan dan cacat akibat hubungan kerja sebagaimana tertuang dalam Pasal 153 huruf j Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

15 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - 14.C2.0025 Albert Oenthersa BAB I

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - 14.C2.0025 Albert Oenthersa BAB I

12 hubungan kerjanya dengan rumah sakit sebagai pemberi kerja. Tenaga kerja sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Demikian halnya, tenaga kerja juga memiliki hak serta kewajiban yang dilindungi dan diatur pada Undang- Undang Nomor 13 tahun 2003. Menurut Asyhadie Zaenie, perlindungan kerja terhadap tenaga kerja, ada 3 yaitu: 1
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA

Sedikitnya lapangan kerja menyebabkan minat sebagian besar masyarakat Indonesia untuk melakukan migrasi dan bekerja di luar negeri sebagai buruh migrant Indonesia. Pengiriman buruh migran Indonesia ke hampir seluruh Negara penempatan,didominasi oleh perempuan dan mayoritas mereka bekerja di sektor informal, seperti pembantu rumah tangga (PRT), babby sitter dan perawat manusia lanjut usia (manula). Khususnya perempuan, berkontribusi besar terhadap lajur ekomomi Negara. Perempuan, yang pada awalnya tersingkir dari kerja perladangan untuk kemudian digantikan dengan tenaga teknologi modern di era pemerintahan soeharto dan dikenal dengan peristiwa ‘green revolution’, harus mencari penghidupan yang lain. Feminisasi kemiskinan dan konsep patriarkhal pun terjadi untuk selanjutnya kemudian menempatkan perempuan dalam sektor kerja domestik, mendapat upah yang murah dengan perlindungan yang minim.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KEPASTIAN HUKUM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA  BAGI TENAGA KERJA YANG MELAKUKAN PEKERJAAN  KEPASTIAN HUKUM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA YANG MELAKUKAN PEKERJAAN DI LUAR HUBUNGAN KERJA.

KEPASTIAN HUKUM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA YANG MELAKUKAN PEKERJAAN KEPASTIAN HUKUM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA YANG MELAKUKAN PEKERJAAN DI LUAR HUBUNGAN KERJA.

Penulis sangat menyadari bahwa keberhasilan yang diraih selama penulis menjalani pendidikan pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini tidak terlepas dari doa, motivasi, bimbingan dan bentuk perhatian lainnya baik secara moral maupun materi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan menggunakan media karya tulis ilmiah ini, penulis hendak menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya, secara berturut-turut kepada :

14 Baca lebih lajut

T1__BAB III Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Perlindungan Hukum bagi Tenaga Kerja Indonesia di Indonesia dengan  MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) T1  BAB III

T1__BAB III Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Perlindungan Hukum bagi Tenaga Kerja Indonesia di Indonesia dengan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) T1 BAB III

memanfaatkan kesempatan tersebut secara maksimal dengan meninjau perkembangan tenaga kerja sebagai salah satu aset negara di bidang perekonomian. Tenaga kerja yang memiliki kompetensi yang baik akan mampu bersaing dengan tenaga kerja asing yang lebih profesional. Pemerintah perlu menerapkan kebijakan-kebijakan di sektor-sektor tertentu khususnya di sektor Ketenagakerjaan, dengan adanya suatu kebijakan yang mampu mengayomi calon-calon tenaga kerja ahli di Indonesia, maka kekhawatiran yang muncul akan dapat diantisipasi. Peraturan-peraturan baik Undang-Undang hingga Peraturan di tingkat daerah, perlu untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah dengan adanya MEA ini.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA

Kesewenang-wenangan dari majikan juga sering dialami oleh para TKI seperti penganiayaan, pemerkosaan bahkan sampai kepada pembunuhan. Aparat negara tempat TKI bekerja juga sering berbuat sewenang-wenang terhadap para TKI, baru-baru ini kita dengar adanya tiga orang TKI yang ditembak mati oleh aparat Kepolisan Diraja Malaysia tanpa ada proses hukum terlebih dahulu ke sidang pengadilan, bahkan ironisnya diduga telah terjadi pengambilan beberapa bahagian organ tubuh dari korban penembakan tersebut. hal-hal seperti inilah sedikit contoh kasus yang dialami oleh para TKI di Luar Negeri.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA INDONESIA D

HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA INDONESIA D

Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan sentral kajian Undang-Undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri. Hasil penelitian ini adalah pada bentuk perlindungan hukum baik secara preventif (pencegahan) maupun secara represif (pemulihan) yang dilakukan oleh Pemerintah dari sebelum masa penempatan, masa penempatan hingga masa purna penempatan. Namun perlindungan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah tersebut masih kurang optimal. Hal itu ditunjukkan dengan adanya pelanggaran hak yang dilakukan oleh PPTKIS, masih adanya tindak penyiksaan terhadap TKI serta masih adanya TKI yang tersangkut masalah hukum dan belum dibebasakan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Seharusnya Pemerintah Republik Indonesia membekali calon TKI dengan buku pedoman keselamatan kerja yang juga memuat hak-hak TKI tersebut serta dicantumkan alamat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI)/ Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) yang berada di negara tujuan. Selain itu Pemerintah Republik Indonesia juga harus membuat perjanjian bilateral dengan negara tujuan dengan maksud agar negara tujuan dapat menekan pengguna untuk mematuhi isi perjanjian tersebut sehingga hak-hak TKI tersebut tetap terlindungi dalam masa penempatan.
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...