hutan hujan dataran rendah

Top PDF hutan hujan dataran rendah:

Tipologi Hutan Hujan Dataran Rendah

Tipologi Hutan Hujan Dataran Rendah

Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah meliputi pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Irian, Sulawesi dan beberapa pulau di Maluku misalnya di pulau Taliabu, Mangole, Mandioli, Sanan dan Obi (Indriyanto, 2006). Hutan hujan dataran rendah selalu hijau dapat dibagi ke dalam beberapa tipe. Di Nusa Tenggara dan Maluku, tipe hutan ini mungkin menyimpang dari norma umum kebanyakan kelompok hutan basah karena keterbatasan berbagai kondisi fisik dan biogeografi yang ada pada pulau-pulau kecil. Keragaman jenis kehidupan mungkin lebih rendah, dengan beberapa suku dan marga tertentu sangat dominan. Beberapa tipe mungkin tidak penting; hutan pinggir sungai jarang terlihat di Nusa Tenggara dan Maluku, karena kelangkaan sungai-sungai permanen. Di daerah-daerah lebih kering yang mendukung hutan monsun dan savana, petak-petak hutan basah-hutan galeri-berkembang di jurang-jurang dan di sepanjang dasar sungai di mana kelembaban tanah setempat menggantikan curah hujan sebagai faktor penentu pertumbuhan hutan. Sampai sekarang masih belum jelas, apakah hutan-hutan ini merupakan bekas hutan asli atau merupakan tipe hutan khusus yang terdapat di lembah-lembah, yang berbeda dari hutan di daerah resapan air. Hutan-hutan galeri mungkin sebenarnya merupakan tipe hutan yang tidak sesuai lagi dengan kondisi iklim kering tetapi masih bertahan hidup sebagai hutan karena kondisi lembah yang lembab.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Penentuan Bentuk Dan Luas Plot Contoh Optimal Pengukuran Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Pada Hutan Hujan Dataran Rendah Studi Kasus Di TN

Penentuan Bentuk Dan Luas Plot Contoh Optimal Pengukuran Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Pada Hutan Hujan Dataran Rendah Studi Kasus Di TN

Taman Nasional Kutai (TN. Kutai) yang mewakili ekosistem hutan hujan dataran rendah, memiliki fungsi melestarikan keanekaragaman spesies tumbuhan dan satwa (BAPPENAS 2003). Pengelolaan yang dilakukan adalah mengukur dan memantau keanekaragaman spesies yang diwakilinya sebagai upaya mempertahankan ekosistem hutan hujan dataran rendah. Pertanyaan penting yang diajukan adalah bentuk dan luas plot contoh seperti apa yang optimal (Burley & Gauld 1995) dalam pengukuran keanekaragaman spesies tumbuhan di TN. Kutai? Karena menurut Myers (1984) untuk melestarikan spesies membutuhkan pengetahuan berapa juml ah spesies yang ada, dimana mereka berada dan seberapa besar ancaman yang terjadi.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Penentuan Bentuk Dan Luas Plot Contoh Optimal Pengukuran Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Pada Hutan Hujan Dataran Rendah : Studi Kasus Di TN

Penentuan Bentuk Dan Luas Plot Contoh Optimal Pengukuran Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Pada Hutan Hujan Dataran Rendah : Studi Kasus Di TN

Secara umum dijelaskan WCMC (1992) bahwa keanekaragaman spesies di habitat alaminya meningkat pada areal hangat dan turun pada areal yang semakin tinggi garis lintang dan ketinggian dari permukaan laut. Areal paling kaya tidak terbantahkan adalah hutan hujan. Pemahaman yang belum pasti tentang hutan hujan berkaitan dengan kondisi asli keanekaragaman dan pemeliharaan keanekaragaman, menyangkut hal-hal antara lain kondisi saat ini dan kondisi di masa lalu (dalam geologi dan evolusi) yang berlaku, antara lain iklim, tanah dan topografi. Iklim yang terbangun dengan kondisi hangat, kelembaban dan musim yang relatif selama waktu lama lebih merupakan hal penting.
Baca lebih lanjut

178 Baca lebih lajut

Penerapan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam INdonesia (TPTI) pada Hutan Dipterocarpaceae, Hutan Hujan Dataran Rendah di HPH PT. Hugurya, Aceh

Penerapan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam INdonesia (TPTI) pada Hutan Dipterocarpaceae, Hutan Hujan Dataran Rendah di HPH PT. Hugurya, Aceh

adalah sistem silvikultur yang ditujukan untuk hujan tropika Indonesia yang sebagian besar didominasi oleh jenis-jenis dari famili Dipterocarpaceae. Sedangkan untuk tipe-tipe vegetasi (formasi lainnya sebaiknya dibuatkan sistem silvikultur tersendiri sesuai dengan kondisi dan potensi setempat.

24 Baca lebih lajut

Keberadaan dan Status Fungi Mikoriza Arbuskula pada Lahan Kakao Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

Keberadaan dan Status Fungi Mikoriza Arbuskula pada Lahan Kakao Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

Pada tahun 2010 penulis mengikuti Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri (UMB-PTN) dan diterima di Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Penulis memilih minat Budidaya Hutan. Di masa perkuliahan penulis aktif dalam kepengurusan maupun kepanitiaan dibeberapa organisasi kemahasiswaan seperti Badan Kemakmuran Musholla Baytul Asyjaar, Rain Forest, dan Inkubator Sains.

11 Baca lebih lajut

KARYA ILMIAH BENCANA BANJIR Disusun oleh

KARYA ILMIAH BENCANA BANJIR Disusun oleh

Pada dasarnya banjir disebabkan oleh luapan aliran air yang terjadi pada saluran atau sungai. Bisa terjadi dimana saja, ditempat yang tinggi mauun yang rendah. Banjir adalah peristiwa tergenang dan terbenamnya daratan, karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai. Pengertian yang lain yaitu, Banjir adalah aliran yang relatif tinggi, dan tidak tertampung oleh alur sungai atau saluran.

16 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Jenis Mamalia Besar Berdasarkan Komposisi Vegetasi dan Ketinggian Tempat Di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai

Keanekaragaman Jenis Mamalia Besar Berdasarkan Komposisi Vegetasi dan Ketinggian Tempat Di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai

Habitat adalah kawasan yang terdiri dari beberapa kawasan, baik fisik maupun biotik, yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup berkembangbiaknya satwaliar (Alikodra 2002). Hutan merupakan habitat alami yang terutama bagi begitu banyak jenis tumbuhan dan satwa. Perubahan habitat dapat membawa dampak terhadap terciptanya suatu masalah. Kartono et al. (2003) menambahkan bahwa kerusakan habitat dapat menyebabkan penurunan kekayaan jenis dan penurunan tersebut akan terlihat lebih jelas pada habitat terisolasi yang berukuran kecil dibandingkan pada habitat tidak terisolasi yang besar. Harmonis (2005) menyatakan bahwa kerusakan habitat melalui perambahan hutan merupakan salah satu penyebab yang memungkinkan terjadinya kerentanan kepunahan jenis satwaliar di Kalimantan Timur.
Baca lebih lanjut

116 Baca lebih lajut

Estimasi dan klasifikasi biomassa pada ekosistem transisi hutan dataran rendah di Provinsi Jambi

Estimasi dan klasifikasi biomassa pada ekosistem transisi hutan dataran rendah di Provinsi Jambi

Komponen utama 4 (PC4) merupakan indeks tanah gambut dan bukan gambut yang berpengaruh terhadap sebaran biomassa di areal ekosistem transisi. Pada PC 4 ini koefisen peubah tanah paling tinggi dibanding peubah lainnya, yaitu sebesar 0,882. Peubah tanah terutama pada tanah yang gambut dan bukan gambut sangat berpengaruh terhadap ketersediaan biomassa. Kandungan biomassa atas permukaan lebih tinggi pada tanah bukan gambut dibandingkan dengan kandungan biomassa pada tanah gambut. Tanah gambut merupakan tanah yang belum mengalami pelapukan lanjut karena masih terdapatnya bahan organik dalam tanah tersebut. Adanya proses pelapukan bahan organik menyebabkan tanah menjadi masam dan miskin hara (Istomo 2006), sehingga produktivitas untuk tapak di tanah gambut tidak setinggi dibandingkan produktivitas di tanah bukan gambut. Tanah gambut sendiri merupakan sumber biomassa yang cukup besar karena masih terdapatnya bahan-bahan organik yang masih kasar didalamnya. Suwarna et al. (2012) menemukan bahwa cadangan biomassa dan karbon tersimpan pada tanah gambut di hutan primer sebesar 8 kali lipat lebih besar daripada tumbuhan diatasnya, sedangkan di hutan bekas tebangan dan di hutan sekunder mencapai 10 kali lipat.
Baca lebih lanjut

299 Baca lebih lajut

Tingkat Parisitasi dan deskripsi parasioid  (online di jurnal lahan suboptimal kode 47 261 1 PB)

Tingkat Parisitasi dan deskripsi parasioid (online di jurnal lahan suboptimal kode 47 261 1 PB)

Tabel 1 menunjukkan bahwa tingkat parasitisasi Aphidius sp., D. rapae dan Aphelinus sp. lebih tinggi pada musim kemarau. Suhu lebih panas dan populasi A. gossypii lebih tinggi pada musim kemarau. Dua faktor tersebut menyebabkan spesies parasitoid banyak ditemukan pada dataran rendah di musim kemarau. Stary (1988a) menyatakan laju perkembangan spesies parasitoid Aphidiid dipengaruhi suhu tertentu selama dua atau beberapa minggu. Imago Aphidiid lebih aktif pada suhu panas dan hari cerah. Masa hidup imago parasitoid dipengaruhi makanan, kelembaban dan suhu. Menurut Eastop (1977) Aphelinus mali lebih mudah mengendalikan kutu daun pada suhu yang tinggi dibandingkan suhu rendah. Kenyataannya pada penelitian ini suhu pada musim kemarau lebih tinggi yaitu 35,56 o C, sedangkan pada musim hujan 32,26 o C.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Estimasi dan klasifikasi biomassa pada ekosistem transisi hutan dataran rendah di Provinsi Jambi

Estimasi dan klasifikasi biomassa pada ekosistem transisi hutan dataran rendah di Provinsi Jambi

Komponen utama 4 (PC4) merupakan indeks tanah gambut dan bukan gambut yang berpengaruh terhadap sebaran biomassa di areal ekosistem transisi. Pada PC 4 ini koefisen peubah tanah paling tinggi dibanding peubah lainnya, yaitu sebesar 0,882. Peubah tanah terutama pada tanah yang gambut dan bukan gambut sangat berpengaruh terhadap ketersediaan biomassa. Kandungan biomassa atas permukaan lebih tinggi pada tanah bukan gambut dibandingkan dengan kandungan biomassa pada tanah gambut. Tanah gambut merupakan tanah yang belum mengalami pelapukan lanjut karena masih terdapatnya bahan organik dalam tanah tersebut. Adanya proses pelapukan bahan organik menyebabkan tanah menjadi masam dan miskin hara (Istomo 2006), sehingga produktivitas untuk tapak di tanah gambut tidak setinggi dibandingkan produktivitas di tanah bukan gambut. Tanah gambut sendiri merupakan sumber biomassa yang cukup besar karena masih terdapatnya bahan-bahan organik yang masih kasar didalamnya. Suwarna et al. (2012) menemukan bahwa cadangan biomassa dan karbon tersimpan pada tanah gambut di hutan primer sebesar 8 kali lipat lebih besar daripada tumbuhan diatasnya, sedangkan di hutan bekas tebangan dan di hutan sekunder mencapai 10 kali lipat.
Baca lebih lanjut

161 Baca lebih lajut

orientasi pra rekonstruksi Bab4

orientasi pra rekonstruksi Bab4

Selain itu penimbunan kawasan mangrove untuk lokasi pengangkutan bahan hasil tambang juga sangat merugikan karena merusak hutan mangrove dan mengakibatkan hutan mangrove yang juga digunakan sebagai habitat satwa liar menjadi terfragmentasi. Habitat yang terganggu kan menyebabkan adanya reduksi populasi terhadap satwa liar terutama mamalia besar yang membutuhkan daerah jelajah yang luas, untuk kawasan hutan mangrove di Kabupaten Bintan adalah jenis primata. Terjadinya fragmentasi juga menjadi pemicu adanya kegiatan perburuan terhadap satwa liar karena akses menjadi lebih mudah. Hal ini terbukti di daerah Tanjung Mamboi, pegawai tambang biasa beberburu satwa liar untuk dimakan.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Masyarakat Iktiologi Indonesia Iktiofauna di perairan hutan tropis dataran rendah, Hutan Harapan Jambi

Masyarakat Iktiologi Indonesia Iktiofauna di perairan hutan tropis dataran rendah, Hutan Harapan Jambi

35 spesies (29%) berpotensi sebagai ikan hias, dan 30 spesies (24%) berpotensi keduanya. Ikan- ikan konsumsi dengan nilai ekonomi penting hi- dup alami di Hutan Harapan seperti: tambakang (Helostoma temminckii), lampam (Barbonymus schwanenfeldii), sebarau (Hampala macrolepi- dota), lais (Kryptopterus palembangensis), ke- pras besar (Cyclocheilichthys apogon), toman (Channa micropeltes), bujuk (Channa lucius), aro padi (Osteochilus borneensis), lembat (Cla- rias nieuhofii), gurami (Osphronemus goramy) serta betutu (Oxyeleotris marmorata). Apabila potensi ini dapat dikelola dengan baik dan di- kembangkan akan menjadi sumber ekonomi ma- syarakat lokal dan sekaligus akan mengurangi konflik lahan dan perambahan yang sering terjadi di Hutan Harapan. Seperti pendapat Dudgeon et al. (2006), keanekaragaman hayati pada ekosis- tem air tawar menyediakan berbagai nilai yang penting untuk kehidupan masyarakat seperti eko- nomi (perikanan) dan jasa lingkungan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kelim dan keaneka spesies serangga predator dan parasitoid Aphis gossypii di agroekosistem sumsel

Kelim dan keaneka spesies serangga predator dan parasitoid Aphis gossypii di agroekosistem sumsel

Kelimpahan dan Keanekaragaman Spesies Serangga Predator Aphis gossypii. Hasil survei menunjukkan di dataran rendah dan tinggi Sumatera Selatan dapat ditemukan 20 spesies serangga predator yang dapat menyerang A. gossypii. Serangga predator terdiri dari 15 spesies Coccinellidae, 2 spesies Syrphidae dan masing 1 spesies dari Chamaemyiidae, Mantidae dan Staphylinidae (Tabel 2). Brewer & Elliot (2004) juga melaporkan bahwa serangga predator utama kutudaun dari famili Coccinellidae, Syrphidae, Chamaemyiidae, Staphylinidae dan Chrysopidae. Sebelumnya Irsan (2003) juga menemukan 5 spesies serangga predator yang memangsa A. gossypii yang tergolong dalam tiga famili, yaitu Coccinellidae, Syrphidae dan Hemerobiidae. Dilihat dari jumlah spesiesnya famili Coccineliidae merupakan pemangsa utama A. gossypii di agroekosistem sayur Sumatera Selatan. Joshi & Sharma (2008) juga menyatakan bahwa kumbang coccinellid merupakan pemangsa utama kutudaun di agroekosistem Haridwar India.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Studi Sebaran Spasial Aktivitas Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae, Pocock 1929) di SPTN V Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, Taman Nasional Kerinci Seblat.

Studi Sebaran Spasial Aktivitas Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae, Pocock 1929) di SPTN V Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, Taman Nasional Kerinci Seblat.

Harimau menggunakan teknik berburu yang mengandalkan taktik perburuan individual, bersembunyi, mengejar dan menyerang secara tiba-tiba lalu membunuh mangsanya. Namun, tidak semua mangsa dibunuh dengan cara yang sama. Ada beberapa mangsa yang diterkam pada panggul belakangnya, ada yang diterkam dibagian lehernya, dan ada pula yang digigit secara mematikan pada bagian tenggorokannya atau pada bagian belakang tengkuknya. Sifat memangsa ini mungkin berbeda berdasarkan ukuran atau spesies mangsa dan berbeda berdasarkan tipe habitatnya, dan ada pula sifat pemangsa yang berubah karena berdasarkan pengalaman (Sunquist et al., 1999). Harimau sumatera merupakan satwa karnivora yang biasanya memangsa babi hutan (Sus sp), rusa sambar (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus sp), kerbau liar (Bubalus bubalis), tapir (Tapirus indicus), kera (Macaca sp), landak (Hystrix brachyura) dan trenggiling (Manis javanica).
Baca lebih lanjut

153 Baca lebih lajut

Estimasi Kepadatan Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson, 1827) Berdasarkan Jumlah Sarang Di Perbatasan Cagar Alam Dolok Sibual Buali

Estimasi Kepadatan Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson, 1827) Berdasarkan Jumlah Sarang Di Perbatasan Cagar Alam Dolok Sibual Buali

Dimensi sarang yang dapat menjadi penciri yang baik untuk menentukan kelas umur orangutan pembuat sarang adalah tinggi tempat bersarang, tinggi dinding sarang, dan diameter rata-rata sarang. Semakin tua kelas umur satwa, maka semakin tinggi dinding sarang dan semakin panjang diameter rata-rata sarang serta semakin rendah tempat bersarang yang dipilih. Jantan dewasa umunya memilih bersarang lebih rendah, tetapi betina dewasa (terutama yang memiliki bayi atau anak) menempatkan sarang lebih tinggi pada puncak tajuk pohon sesuai dengan struktur hutan yang ada untuk menghindari bahaya predator. (Kudus, 2000).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Potensi dan Pemanfaatan Tumbuhan Berguna Di Cagar Alam Bojonglarang Jayanti Kabupaten Cianjur Jawa Barat

Potensi dan Pemanfaatan Tumbuhan Berguna Di Cagar Alam Bojonglarang Jayanti Kabupaten Cianjur Jawa Barat

Hutan pantai merupakan hutan yang berada di ketinggian tempat berkisar 0- 500 mdpl. Hutan pantai terdapat di daerah-daerah kering tepi pantai dengan kondisi tanah berpasir atau berbatu dan terletak di atas garis pasang tertinggi. Daerah seperti itu pada umumnya jarang tergenang oleh air laut, namun sering terjadi atau terkena angin kencang dengan hembusan garam (Indriyanto 2006). Hutan pantai di CA Bojonglarang Jayanti pada tingkat pertumbuhan semai dan tumbuhan bawah di dominasi oleh tumbuhan sauheun (Cyathocalyx biovulatus) (Tabel 4). Tumbuhan waru (Hibiscus tiliaceus) sangat mendominasi pada tingkat pancang dan tiang sedangkan tingkat pohon didominasi oleh ketapang (Terminalia catappa).
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Intersepsi Dan Aliran Permukaan Pada Transformasi Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah Jambi

Intersepsi Dan Aliran Permukaan Pada Transformasi Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah Jambi

intersepsi mempunyai keeratan yang rendah dengan karakteristik tajuk (LAI, MLA dan GC). Hal ini selaras dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa pola intersepsi dan throughfall mempunyai asosiasi yang rendah dengan parameter tajuk yang diwakili oleh LAI namun mempunyai korelasi yang erat dengan karakteristik hujannya (Liu et al. 2013). Hasil penelitian di hutan spruce pegunungan di China diperoleh hasil bahwa LAI tidak signifikan dalam menduga intersepsi (He et al. 2014). Morfologi pohon termasuk LAI dan panjang tajuk tidak mempunyai korelasi dengan kapasistas tajuk untuk mengintersepsikan hujan (Carlyle-Moses et al. 2010). Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Xiao dan McPherson (2011) yang melaporkan bahwa persentase curah hujan yang menjadi throughfall dipengaruhi oleh LAI. Deguchi et al. (2006) juga mengemukakan bahwa rasio throughfall terhadap curah hujan meningkat seiring dengan peningkatan LAI, sebaliknya pada penelitian lain akumulasi throughfall cenderung menurun dengan meningkatnya LAI (Siles et al. 2010; Geißler et al. 2013). Hubungan antara LAI dengan kapasitas tampungan tajuk (canopy storage capacity) untuk mengintersepsikan air hujan sangat komplek (Wang et al. 2012), dimana peranan LAI dalam mempengaruhi intersepsi tidak berdiri sendiri namun secara bersama-sama dengan karakteristik tajuk lainnya seperti kekasaran tajuk, sudut dahan, keterbukaan tajuk, hidrophobisitas daun dan ukuran daun (Sadeghi et al. 2015). Throughfall dan intersepsi tajuk sangat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kapasitas simpan, potensial evaporasi, intensitas hujan dan lama hujan (Bulcock dan Jewitt 2012). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa canopy cover mempunyai korelasi yang rendah dengan throughfall pada tutupan lahan hutan bekas tebangan dan hutan karet. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian (Molina dan del Campo 2012) yang mengemukakan bahwa canopy cover bersama- sama dengan hujan secara signifikan mempengaruhi nilai throughfall yang berarti mempengaruhi intersepsi hujan.
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

B1J010003 11.

B1J010003 11.

N. bicalcarata merupakan tanaman hias yang potensial dengan harga jual tinggi. N. bicalcarata adalah tumbuhan khas daerah tropis yang juga dikenal dengan nama Fanged pitcher-plant (kantong semar bertaring) (Setiawan, 2013). Tanaman ini termasuk kritis jumlahnya dan diperkirakan semakin menurun jumlah individunya. Hal ini antara lain disebabkan oleh beberapa faktor seperti kebakaran hutan, alih fungsi lahan hutan atau semak belukar menjadi kawasan pemukiman, perladangan, perkebunan, pertanian, ataupun pertambangan (Mardhiana et al., 2012). Oleh karena itu, perlu adanya usaha perbanyakan N. bicalcarata secara ex-situ agar terhindar dari kepunahan. Usaha konservasi ex-situ perlu dilakukan dengan cara mendomestikasi melalui mekanisme budidaya dan pemuliaan (Mansur, 2007).
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

ringkasan - REHABILITASI HUTAN HUJAN TROPIS DATARAN RENDAH MELALUI INTERAKSI TUMBUHAN DENGAN JATUHAN SERASAH DAN DEKOMPOSISI DAUNNYA.

ringkasan - REHABILITASI HUTAN HUJAN TROPIS DATARAN RENDAH MELALUI INTERAKSI TUMBUHAN DENGAN JATUHAN SERASAH DAN DEKOMPOSISI DAUNNYA.

bahwa adanya variasi dalam jumlah pada periode waktu umumnya. Berbagai macam faktor menyebabkan tingginya jumlah produksi serasah. Hal ini bisa disebabkan pengaruh absisi daun dan organ ainnya dalam hutan. Dilain pihak penurunan produksi litter dipengaruhi juga oleh angin, dan curah hujan.

1 Baca lebih lajut

orientasi pra rekonstruksi Lamp4

orientasi pra rekonstruksi Lamp4

Seluruh kenampakan hutan di dataran rendah (0 – 1200 meter), yang telah menampakkan bekas penebangan (kenampakan alur dan bercak bekas penebangan). Bekas penebangan yang parah tapi tidak termasuk dalam areal HTI, perkebunan atau pertanian dimasukkan dalam lahan terbuka.

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...