Ilmu Sosial Profetik

Top PDF Ilmu Sosial Profetik:

PENGEMBANGAN MODEL ILMU SOSIAL PROFETIK BERBASIS INDIGENEOUSASI DI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNY : SUATU STUDI KOMPARASI DENGAN FISIPOL UGM, FISIPOL UNHAS, DAN FISIPOL USU.

PENGEMBANGAN MODEL ILMU SOSIAL PROFETIK BERBASIS INDIGENEOUSASI DI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNY : SUATU STUDI KOMPARASI DENGAN FISIPOL UGM, FISIPOL UNHAS, DAN FISIPOL USU.

stand of point, posisi pijak pemikiran Kuntowijoyo sekali pun familier dan fasih mengutip dan menggunakan teori-teori sosial barat tetapi secara subtansi gagasan pemikirannya tidak menunjukan ketundukan pada arus besar pemikiran barat yang sekuler. Kuntowijoyo sebagai intelektual tidak mau menyerah dan tunduk pada mainstream pemikiran yang sekuler bebas nilai. Dan dalam waktu yang sama. Ia juga tidak terjebak pada posisi ekslusif hanya bersedia menjadikan Islam sebagai satu-satunya alternatif pemikiran, tanpa pengayaan dan dialog yang cerdas dengan khazanah pemikiran peradaban dunia lainnya. Menghadapi posisi dunia pemikiran yang cenderung tunduk pada perspektif pemikiran Barat yang sekuler dan bebas nilai, yang tidak sejalan dengan keyakinan agama yang dianutnya (Islam) dari sisi pemikiran Pak kunto, telah melakukan ikhtiar yang cerdas, kreatif dan jernih yaitu dengan gagasanya untuk melahirkan suatu paradigma ilmu yang dapat mempertemukan antara tradisi pemikiran Barat yang rasional dipengaruhi oleh struktur sosial masyarakat industri dan tradisi pemikiran timur yang dekat deengan nuansa religius-mitos sangat kuat dipengaruhi oleh struktur sosial masyarakat agraris. Itulah yang beliau sebut dengan nama ilmu sosial profetik.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

ppm pelatihan penyusunan rpp berbasis ilmu sosial profetik

ppm pelatihan penyusunan rpp berbasis ilmu sosial profetik

Ceramah dilakukan sebagai salah satu bentuk pengenalan tentang kegiatan yang akan dilakukan pada umumnya, bagaimana kegiatan ini nanti berjalan, dan hal apa yang bisa peserta dapatkan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Kegiatan dilakukan dipadu dengan tanya jawab sebagai salah satu alternatif mendekatkan diri antara pengabdi dengan peserta, sekaligus agar peserta semakin paham tentang apa yang nantinya akan diajarkan. Materi disampaikan oleh Woro S, M.Pd (perwakilan guru MGMP IPS Sleman) yang menyampaikan tentang struktur RPP terbaru, dan Dr. Nasiwan, M.Si menyampaikan materi terkait dengan pembelajaran berbasis ilmu sosial profetik.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PERAN ILMU SOSIAL PROFETIK DALAM MENGHAD (1)

PERAN ILMU SOSIAL PROFETIK DALAM MENGHAD (1)

Nilai-nilai yang terkandung dalam Ilmu Sosial Profetik dapat dijadikan sebagai solusi alternatif dalam menghadapi era perang pemikiran atau ghazwul fikri. Humanisasi ( ta‟muruna bil ma‟ruf ), liberasi (tanhauna anil munkar) dan transendensi ( tu‟minuna billah ) adalah tujuan manusia hidup dimuka bumi sesuai dengan garis etika profetik (Nasiwan & Wahyuni, 2016:105). Nilai-nilai yang terkandung dalam Ilmu Sosial Profetik untuk menciptakan masyarakat yang mewujudkan cita-cita sosio-etiknya di masa depan sudah terkadung didalam Al- Qur’an bahwa “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali-Imran:110).
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

pengembangan model ilmu sosial profetik berbasis indigeneousasi di fakultas ilmu sosial uny suatu st

pengembangan model ilmu sosial profetik berbasis indigeneousasi di fakultas ilmu sosial uny suatu st

Sedangkan target khusus dari penelitian ini pada tahun kedua adalah implementasi ujincoba terbatas blue print kurikulum Ilmu Sosial Profetik yang telah dihasilkan dari penelitian tahun pertama di FIS UNY. Yakni model pengembangan ilmu sosial profetik dalam bentuk blue preint kurikulum Ilmu Sosial berbasis indegeneousasi yang akan beperan besar dalam rangka menyusun kurikulum baru di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Metode yang dipakai untuk mencapai tujuan adalah metode Research and and Development ( Thiagarajan, S., et, al., 1974) yang dikenal dengan model 4-D (Four-D Models) yang dimodifikasi dengan R & D dari ( Borg & Gall, 1983. Fase0-fase penelitian meliputi: fase Difine;fase Design; fase Develop dan fase Disseminate, dilengkapi dengan metode Fenomenlogi. Melalui keempat tahap utama pengembangan telah dihasilkan keluaran berupa suatu buku blueprint kuruikulum model pengembangan Ilmu Sosial Profetik berbasis Indegeneousasi, dalam rangka melahirkan konsep- teori ilmu sosial yang mampu dipakai untuk menjelaskan berbagai persoalan sosial di Indonesia, dengan perspektif teoritis dan solusi yang sesuai dengan kearifan lokal serta kondisi sosial budaya yang hidup dan tumbuh di masyarakat indonesia.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

model pengembangan ilmu sosial profetik 31 juli 2013

model pengembangan ilmu sosial profetik 31 juli 2013

NEGARA BERKEMBANG TERMASUK DI INDONESIA DIPENGARUHI OLEH ILMU SOSIAL BARAT. RELASI ANTARA TIMUR EAN BARAT BEROPERASI BERDASARKAN MODEL IDEOLOGI YANG DALAM PANDANGAN GRAMSCI DISEBUT DENGAN HEGEMONI. SUATU PANDANGAN TERTENTU LEBIH BERPENGARUH DARI GAGASAN LAIN, SEHINGGA KEBUDAYAAN TERTENTU LEBIH DOMINAN DARI KEBUDAYAAN LAIN.

16 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN PROFETIK; Mengenal Gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Masduki Institute Agama Islam Sunan Giri Ponorogo masduki_gtgyahoo.co.id Abstrak - PENDIDIKAN PROFETIK; Mengenal Gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo

PENDIDIKAN PROFETIK; Mengenal Gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Masduki Institute Agama Islam Sunan Giri Ponorogo masduki_gtgyahoo.co.id Abstrak - PENDIDIKAN PROFETIK; Mengenal Gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo

terhadap sifat-sifat wahyu, rasionalitas, dan kualitas bukti yang diajukannya, bahwa penolakan terhadap wahyu sebagai sumber pengetahuan sesungguhnya didasarkan pada alasan- alasan absurd dan artifisial, dibuat-buat dan bahwa konflik wahyu versus ilmu pengetahuan bukanlah konflik imperatif ataupun universal, tapi khas Barat. Karenanya, Louay Safi (2001) menyatakan, berbagai upaya untuk mereproduksi konflik ini dalam kebudayaan muslim adalah artifisial belaka dan didorong oleh keinginan irrasional untuk berjalan di atas landasan kebudayaan lain.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan - Manifestasi nilai pendidikan profetik (studi di smp santa theresia pangkalpinang dan smp muhammadiyah Pangkalpinang) - Repository Universitas Bangka Belitung

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan - Manifestasi nilai pendidikan profetik (studi di smp santa theresia pangkalpinang dan smp muhammadiyah Pangkalpinang) - Repository Universitas Bangka Belitung

Penelitian ini menggunakan teori Ilmu Sosial Profetik (ISP) dari Kuntowijoyo yang menjelaskan tentang Ilmu Sosial Transformatif sebagai paradigma baru dalam ilmu sosial. Kuntowijoyo menjelaskan bahwa Ilmu Sosial Profetik hadir bukan hanya sebagai alat analisis semata, melainkan ditujukan untuk melakukan transformasi yang berdasar pada cita-cita etik atau profetik. Rekayasa masyarakat dapat dilakukan melalui transformasi sosial yang berdasarkan pada nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM:  KRITIK TERHADAP ASUMSI-ASUMSI DASAR ILMU HUKUM  PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: Kritik Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik.

PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: KRITIK TERHADAP ASUMSI-ASUMSI DASAR ILMU HUKUM PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: Kritik Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik.

Dalam paradigma profetik, mengenal Tuhan dan wahyu merupakan unsur penting dalam menjelaskan realitas.Wahyu yang terkategorisasi menjadi ilmu- ilmu alam(hukum alam) dan teologi, di luar dua hal ini adalah ilmu-ilmu humaniora (makna, kesadaran dan nilai) 25 Dalam tinjauan ilmu-ilmu sosial profetik, kandungan Al-Quran terbagi menjadi dua bagian.Bagian pertama berisi konsep-konsep doktrin Islam dan welthanchuung dengan konsep-konsep ini kita diperkenalkan ideal-type. Sementara bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah dan archetype dapat dilakukan perenungan untuk memperoleh hikmah, Karenanya melalui pendekatan sintetik-analitik dapat dikembangkan perspektif etik dan moral individual, dan memposisikan wahyu sebagai data. 26
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

Unsur-unsur Konseptual Baik pada mata kuliah ISP mandiri maupun ISP terintegrasi, silabus memuat unsur-unsur konseptual yang berasal dari core concept pengembangan ilmu sosial profetik[r]

2 Baca lebih lajut

TEORI SOSIAL INDONESIA LANGKAH INDIGENIS

TEORI SOSIAL INDONESIA LANGKAH INDIGENIS

mengubah fenomena sosial tetapi memberi pentunjuk kea rah mana transformasi itu di lakukan untuk apa dan oleh siapa. Oleh sebab tersebut bahwa ilmu sosial tidak hanya bedasarkan citta-cita etik tetapi juga bedasarkan profrtik tertentu. Menurut Kuntowijoyo dalam [ CITATION Nas16 \l 1033 ] arah perubahan yang diidamkan masyarakatnya adalah didasarkan pada cita-cita humanisasi/emansipasi, liberasi, dan transendesi suatu cita-cita profetik yang diderivasikan dari misi historis islam sebagaimana terkandung kedalam surat Ali Imron ayat 110 (Kuntowijoyo, 2003). Surat Ali Imron ayat 110: Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan) dan beriman kepada Allah. Tiga muatan nilai inilah yang mengkarakterisasikan ilmu sosial profetik. Dengan kandungan nilai –nilai humanisasi, liberalisasi, dan transendensi, ilmu sosial profetik diarahkan untuk rekayasa masyarakat menuju cita-cita sosio- etiknya di masa depan.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

MENJAGA LINGKUNGAN DALAM PANDANGAN TEOLO

MENJAGA LINGKUNGAN DALAM PANDANGAN TEOLO

meliputi 3 aspek yang dibahas secara rigit dalam teori ilmu sosial profetik. Aspek pertama adalah humanisasi artinya memanusiakan manusia, menghilangkan aspek materialisme, egosentrisme, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia menuju manusia yang berperadaban. Aspek kedua yaitu liberasi, merupakan ilmu-ilmu yang didasari dari nilai-nilai transendental yang membebaskan dari belenggu- belenggu sistem ekonomi, sistem politik, sosial, dan budaya. Liberasi menempatkan diri pada aspek moralitas yang abstrak kepada moralitas yang konkrit yang didasari dengan nilai humanisme teosentris. Aspek ketiga ialah transendensi yang merupakan dasar dari humanisasi dan liberasi yang berperan mengarahkan tujuan hidup manusia agar kembali kefitrahnya sebagai khalifah fil- ardh.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

o Kuntowijoyo dengan menawarkan membangun ilmu sosial profetik, yaitu suatu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa.

21 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN EPISTEMOLOGI ILMU HUKUM BER

PENGEMBANGAN EPISTEMOLOGI ILMU HUKUM BER

Alasan yang mendasar bahwa ilmu dalam dunia modern yang selama ini dianggap segala-galanya, ternyata tidak mampu memecahkan persoalan- persoalan hidup dan kehidupan. Ilmu dianggap kejayaannya telah berakhir atau the end of science. Secara aksiologis ilmu sudah tidak ada lagi manfaatnya dan dianggap tidak mampu menyelesaikan persoalan dalam hidup masyarakat. Ilmu dianggap dominan ikut campur tangan dalam segala sektor kehidupan tetapi pada saat yang bersamaan ilmu telah menimbulkan berbagai persoalan. Dalam alam modernisme, perspektif transendental dengan segala aspeknya seperti keagamaan, etika, dan moral diletakkan sebagai bagian yang terpisah dari satu kesatuan pembangunan peradaban modern. Karena itu, hukum modern dalam perkembangannya telah kehilangan unsur yang esensial yang berupa nilai transedental. Hal ini terjadi sebagai akibat cara berpikir yang didasari dari pandangan keduniaan yang diurus oleh kaisar dan keagamaan yang diserahkan pada tokoh agama (pendeta, rahib dan ulama). 1
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kuntowijoyo Sastrawan Profetik

Kuntowijoyo Sastrawan Profetik

Sastra profetik adalah sastra yang berjiwa transendental dan sufistik karena berangkat dari nilai-nilai ketauhidan, tetapi yang setelah itu juga memiliki semangat untuk terlibat dalam mengubah sejarah kemanusiaan yang karena itu memiliki semangat kenabian. Sebagai aliran di dalam tradisi intelektual Islam, sastra sufistik dapat disebut juga sebagai sastra transendental karena pengalaman yang dipaparkan penulisnya ialah pengalaman transendental, seperti ekstase, kerinduan, dan persatuan mistikal dengan Yang Transenden. Pengalaman ini berada di atas pengalaman keseharian dan bersifat supralogis (Hadi, 1999:23).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ILMU ILMU ALAM DAN ILMU ILMU SOSIAL

ILMU ILMU ALAM DAN ILMU ILMU SOSIAL

- Ahli ilmu sosial merupakan bagian integral dari obyek kehidupan yang ditelaahnya. Keterlibatan secara emosional terhadap nilai-nilai tertentu menyebabkan seorang ahli-ahli ilmu sosial cenderung ikut setuju atau menolak suatu proses sosial tertentu. Menghilangkan kecenderungan- kecenderungan yang bersifat pribadi untuk tetap obyektif adalan sukar dalam menelaah dalam ilmu sosial.

9 Baca lebih lajut

Kuntowijoyo Sastrawan Profetik

Kuntowijoyo Sastrawan Profetik

Keempat, etika profetik. Ayat ini berlaku umum, untuk siapa saja, baik individu (orang awam, ahli, superahli), lembaga (ilmu, universitas, ormas, orsospol), maupun kolektivitas (jamaah, umat, kelompok masyarakat). Semua diharuskan untuk mengamalkan ayat ini, yaitu amar ma’ruf (menyuruh kebaikan), nahyi munkar (mencegah kejelekan), dan iman (tu’minuna) bi Allah (beriman kepada Allah). Ketiga hal ini adalah unsur yang tak terpisahkan dari etik profetik.

9 Baca lebih lajut

KELIK WARDIONO ABSTRACK

KELIK WARDIONO ABSTRACK

Basis epistemologis dari paradigma profetik, dan basis epistemologi dari ilmu hukum yang terbentuk oleh paradigma rasional yang didukung madzhab filsafat hukum positivistik ……….…..…… 303[r]

6 Baca lebih lajut

Konsep Kepemimpinan Profetik Dalam Memba

Konsep Kepemimpinan Profetik Dalam Memba

Perekrutan tenaga kerja pustakawan dengan gaya kepemimpinan profetik akan mewujudkan tenaga pustakawan dan staff perpustakaan yang berkualitas secara IQ, EQ dan SQ. Kecerdasan Emosional (EQ) yang dimiliki oleh calon tenaga pekerja di perpustakaan akan memunculkan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, kemampuan bergaul dangan orang lain, berempati dan berdoa. Sedangkan kemampuan spiritual (SQ) maka seorang pegawai akan bekerja dengan ikhlas, kebersihan orientasi dan tujuan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PROPHETIC EDUCATION: Recognising the Idea of Kuntowijoyo’s Prophetic Social Scienc

PROPHETIC EDUCATION: Recognising the Idea of Kuntowijoyo’s Prophetic Social Scienc

Rekonstruksi epistemologis itu Pertama, harus mampu membongkar akar-akar pemisahan wahyu dari wilayah ilmu pengetahuan dan selanjutnya membuktikan bahwa wahyu sesungguhnya dapat secara sah menjadi bagian dari epistemologi ilmu sosial. Dalam hal ini, tulisan Loay Safi kiranya sangat relevan. Safi mampu membuktikan melalui penelaahan terhadap sifat-sifat wahyu, rasionalitas, dan kualitas bukti yang diajukannya, bahwa penolakan terhadap wahyu sebagai sumber pengetahuan sesungguhnya didasarkan pada alasan-alasan absurd dan artifisial, dibuat-buat dan bahwa konflik wahyu versus ilmu pengetahuan bukanlah konflik imperatif ataupun universal, tapi khas Barat. Karenanya, Louay Safi menyatakan, berbagai upaya untuk mereproduksi konflik ini
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Implementasi Pembelajaran Inovatif dan Kreativitas Guru dalam Pendidikan Profetik di SDIT Nur Hidayah Surakarta Tahun 2014

Implementasi Pembelajaran Inovatif dan Kreativitas Guru dalam Pendidikan Profetik di SDIT Nur Hidayah Surakarta Tahun 2014

Hasbullah (2009:1 – 5) menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.Rosyadi (2009:136 – 137) menyatakan bahwa ;Pendidkan adalah proses sosialisasi, yakni memasyarakatkan nilai- nilai, ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan. Nabi SAW bersabda: “Didiklah anak - anakmu, sesungguhnya mereka diciptakan untukzamannya, dan bukan untuk zamanmu”. Jadi pendidik harus berorientasi masa depan futuristik. dan berkemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berguna untuk kehidupan manusia mendatang.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...