Ilmu Sosial Profetik

Top PDF Ilmu Sosial Profetik:

ppm pelatihan penyusunan rpp berbasis ilmu sosial profetik

ppm pelatihan penyusunan rpp berbasis ilmu sosial profetik

Ceramah dilakukan sebagai salah satu bentuk pengenalan tentang kegiatan yang akan dilakukan pada umumnya, bagaimana kegiatan ini nanti berjalan, dan hal apa yang bisa peserta dapatkan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Kegiatan dilakukan dipadu dengan tanya jawab sebagai salah satu alternatif mendekatkan diri antara pengabdi dengan peserta, sekaligus agar peserta semakin paham tentang apa yang nantinya akan diajarkan. Materi disampaikan oleh Woro S, M.Pd (perwakilan guru MGMP IPS Sleman) yang menyampaikan tentang struktur RPP terbaru, dan Dr. Nasiwan, M.Si menyampaikan materi terkait dengan pembelajaran berbasis ilmu sosial profetik.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MODEL ILMU SOSIAL PROFETIK BERBASIS INDIGENEOUSASI DI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNY : SUATU STUDI KOMPARASI DENGAN FISIPOL UGM, FISIPOL UNHAS, DAN FISIPOL USU.

PENGEMBANGAN MODEL ILMU SOSIAL PROFETIK BERBASIS INDIGENEOUSASI DI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNY : SUATU STUDI KOMPARASI DENGAN FISIPOL UGM, FISIPOL UNHAS, DAN FISIPOL USU.

Keluaraan penelitian unggulan perguruan tinggi tahun pertama telah menghasilkan blue print kurikulum Pengembangan Model Ilmu Sosial Profetik.Produk penelitian ini merupakan respon dan tanggungjawab intelektual team peneliti menghapdai dinamika perkembangan Ilmu Sosial dan sekaligus ikhtiar untuk memberikan kontrobusi dan solusi berbagai persoalan sosial dan politik melalui medium pendidikan. Hal tersebut seiring dengan perkembangan pemikiran dan permasalahan yang dihadapi oleh manusia, ilmu sosial berkembang sangat dinamis, terutama di negara-negara yang tradisi berpikirnya telah mapan. Paradoksnya, justru di negara-negara berkembang (negara bekas jajahan) tradisi itu tidak berkembang. (Syed Hussein Al attas 2012:15) mengemukakan keprihatinanya atas fakta tersebut, impor besar-besaran konsep dan teori-teori sosial dari negara-negara barat tanpa adanya upaya untuk memodifikasii dan adaptasi menjadi faktor lemahnya perkembangan ilmu sosial di negara-negara berkembang.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

PERAN ILMU SOSIAL PROFETIK DALAM MENGHAD (1)

PERAN ILMU SOSIAL PROFETIK DALAM MENGHAD (1)

Nilai-nilai yang terkandung dalam Ilmu Sosial Profetik dapat dijadikan sebagai solusi alternatif dalam menghadapi era perang pemikiran atau ghazwul fikri. Humanisasi ( ta‟muruna bil ma‟ruf ), liberasi (tanhauna anil munkar) dan transendensi ( tu‟minuna billah ) adalah tujuan manusia hidup dimuka bumi sesuai dengan garis etika profetik (Nasiwan & Wahyuni, 2016:105). Nilai-nilai yang terkandung dalam Ilmu Sosial Profetik untuk menciptakan masyarakat yang mewujudkan cita-cita sosio-etiknya di masa depan sudah terkadung didalam Al- Qur’an bahwa “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali-Imran:110).
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

pengembangan model ilmu sosial profetik berbasis indigeneousasi di fakultas ilmu sosial uny suatu st

pengembangan model ilmu sosial profetik berbasis indigeneousasi di fakultas ilmu sosial uny suatu st

Tujuan ini pada tahun kedua adalah untuk menerapkan Kurikulum Ilnu Sosial profetik melalui uji coba terbatas di berbagai jurusan di Fakultas Ilmu Sosial FIS Universitas Negeri Yogyakarta) dalam rangka mencapai tujugan jangka pangjang penelitian ini adalah lahirnya ilmu sosial yang memiliki teori-teori, konsep-konsep digali dari kasanah, kekayaan nilai, perilaku, fenomena, peristiwa, relasi sosial yang hidup dan tumbuh di bumi Indonesi. Dengan hadirnya teori-teori ilmu sosial yang berbasis pada konteks keindonesian (indegeneous) maka terbuka peluang lebih besar untuk dapat berkontribusi menyelesaikan berbagai problem sosial yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, seperti problem di bidang pendidikan yang sering dissinyalir gagal melahirkan generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme, kemandirian ,berkarakter.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

model pengembangan ilmu sosial profetik 31 juli 2013

model pengembangan ilmu sosial profetik 31 juli 2013

NEGARA BERKEMBANG TERMASUK DI INDONESIA DIPENGARUHI OLEH ILMU SOSIAL BARAT. RELASI ANTARA TIMUR EAN BARAT BEROPERASI BERDASARKAN MODEL IDEOLOGI YANG DALAM PANDANGAN GRAMSCI DISEBUT DENGAN HEGEMONI. SUATU PANDANGAN TERTENTU LEBIH BERPENGARUH DARI GAGASAN LAIN, SEHINGGA KEBUDAYAAN TERTENTU LEBIH DOMINAN DARI KEBUDAYAAN LAIN.

16 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN PROFETIK; Mengenal Gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Masduki Institute Agama Islam Sunan Giri Ponorogo masduki_gtgyahoo.co.id Abstrak - PENDIDIKAN PROFETIK; Mengenal Gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo

PENDIDIKAN PROFETIK; Mengenal Gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo Masduki Institute Agama Islam Sunan Giri Ponorogo masduki_gtgyahoo.co.id Abstrak - PENDIDIKAN PROFETIK; Mengenal Gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo

Untuk memahami nilai-nilai pendidikan profetik, terlebih dahulu penulis kemukakan pengertian nilai. Istilah nilai memiliki banyak pengertian, tergantung dari sudut pandang mana seseorang memahami. Sosiolog, antropolog, psikolog, ekonom, serta politisi mempunyai persepsi dalam memaknai nilai. Pada intinya, memahami nilai itu bersifat subjektif. Dalam tulisan ini, nilai diartikan sebagai penentu seseorang dalam melakukan suatu tindakan yang positif atau nilai dapat juga disebut perilaku moral.

22 Baca lebih lajut

TEORI SOSIAL INDONESIA LANGKAH INDIGENIS

TEORI SOSIAL INDONESIA LANGKAH INDIGENIS

mengubah fenomena sosial tetapi memberi pentunjuk kea rah mana transformasi itu di lakukan untuk apa dan oleh siapa. Oleh sebab tersebut bahwa ilmu sosial tidak hanya bedasarkan citta-cita etik tetapi juga bedasarkan profrtik tertentu. Menurut Kuntowijoyo dalam [ CITATION Nas16 \l 1033 ] arah perubahan yang diidamkan masyarakatnya adalah didasarkan pada cita-cita humanisasi/emansipasi, liberasi, dan transendesi suatu cita-cita profetik yang diderivasikan dari misi historis islam sebagaimana terkandung kedalam surat Ali Imron ayat 110 (Kuntowijoyo, 2003). Surat Ali Imron ayat 110: Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan) dan beriman kepada Allah. Tiga muatan nilai inilah yang mengkarakterisasikan ilmu sosial profetik. Dengan kandungan nilai –nilai humanisasi, liberalisasi, dan transendensi, ilmu sosial profetik diarahkan untuk rekayasa masyarakat menuju cita-cita sosio- etiknya di masa depan.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

MENJAGA LINGKUNGAN DALAM PANDANGAN TEOLO

MENJAGA LINGKUNGAN DALAM PANDANGAN TEOLO

meliputi 3 aspek yang dibahas secara rigit dalam teori ilmu sosial profetik. Aspek pertama adalah humanisasi artinya memanusiakan manusia, menghilangkan aspek materialisme, egosentrisme, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia menuju manusia yang berperadaban. Aspek kedua yaitu liberasi, merupakan ilmu-ilmu yang didasari dari nilai-nilai transendental yang membebaskan dari belenggu- belenggu sistem ekonomi, sistem politik, sosial, dan budaya. Liberasi menempatkan diri pada aspek moralitas yang abstrak kepada moralitas yang konkrit yang didasari dengan nilai humanisme teosentris. Aspek ketiga ialah transendensi yang merupakan dasar dari humanisasi dan liberasi yang berperan mengarahkan tujuan hidup manusia agar kembali kefitrahnya sebagai khalifah fil- ardh.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan - Manifestasi nilai pendidikan profetik (studi di smp santa theresia pangkalpinang dan smp muhammadiyah Pangkalpinang) - Repository Universitas Bangka Belitung

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan - Manifestasi nilai pendidikan profetik (studi di smp santa theresia pangkalpinang dan smp muhammadiyah Pangkalpinang) - Repository Universitas Bangka Belitung

Penelitian ini menggunakan teori Ilmu Sosial Profetik (ISP) dari Kuntowijoyo yang menjelaskan tentang Ilmu Sosial Transformatif sebagai paradigma baru dalam ilmu sosial. Kuntowijoyo menjelaskan bahwa Ilmu Sosial Profetik hadir bukan hanya sebagai alat analisis semata, melainkan ditujukan untuk melakukan transformasi yang berdasar pada cita-cita etik atau profetik. Rekayasa masyarakat dapat dilakukan melalui transformasi sosial yang berdasarkan pada nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Paradigma Profetik: Pembaruan Basis Epistemologi Ilmu Hukum di Indonesia

Paradigma Profetik: Pembaruan Basis Epistemologi Ilmu Hukum di Indonesia

Dalam penilaian Golshani, pengabaian terhadap keterbatasan sains dan pengingkaran peranan filsafat dan agama dalam sains itu merupakan pemahaman yang naif. Baginya, sains tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai sepenuhnya, kerja ilmiah banyak diisi dengan perkiraan filosofis dan religius, dan metafisika memainkan peranan sangat penting hampir pada semua level aktivitas ilmiah. Tegasnya, menurut Golshani, terlalu sederhana untuk berfikir bahwa komitmen filosofis dan ideologis tidak akan pernah masuk ke dalam struktur ilmu pengetahuan. 32 Selain daripada itu berbagai macam klaim dan asumsi dasar yang membentuk kerangka basis epistemologis madzhab positivisme itu pun kemudian terbukti rapuh. Hal ini terutama disebabkan karena fenomena sosial tidak sama dengan fenomena alam sehingga pemakaian metode ilmu alam untuk mengkaji fenomena sosial, bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Teori- teori yang tercipta juga tidak universal sebagaimana klaim positivis, tapi sangat terkait dengan dimensi lokal dan temporal di mana teori itu muncul. Demikian pula, dalam kenyataannya, ilmu sosial ternyata tidak pernah mampu melepaskan diri dari keberpihakan terhadap nilai-nilai tertentu. Klaim bebas nilai tak lebih dari sebentuk hipokrasi intelektual. Suatu ilmu sosial yang value free tidak pernah ada. 33 Bahkan David J. Gray menyatakan dengan sangat lugas, bahwa ilmu sosial yang bebas nilai adalah “doktrin kemunafikan dan sebuah bentuk ketidak- bertanggungjawaban” ( a doctrine of hypocrisy and irresponsibility ) 34 . I nilah gugatan-gugatan yang dilontarkan sebagian ilmuwan sosial, baik barat maupun timur, terhadap positivisme.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM:  KRITIK TERHADAP ASUMSI-ASUMSI DASAR ILMU HUKUM  PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: Kritik Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik.

PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: KRITIK TERHADAP ASUMSI-ASUMSI DASAR ILMU HUKUM PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: Kritik Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik.

Paradigma profetik tidak berhenti pada pluralisme hukum yang menghargai perbedaan sebagai suatu konstruksi sosial, akan tetapi juga mendorong integralisasi hukum, yang disandarkan pada interobjektifitas norma- norma dan dihasilkan melalui pengalaman batin agama dan identitas kebudayaan. Makna ini dapat disebut dengan keadilan interobjektif yang diejawantahkan dari makna negara objektif 44 dan objektifisme sains. Cara yang perlukan adalah menjadikan wahyu sebagai teori umum (grand theory) yang harus diturunkan ke tahapan teoritis hingga praksis: teologi, filsafat sosial, teori sosial, dan perubahan sosial. 45
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

SKRIPSI  PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: Kritik Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik.

SKRIPSI PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: Kritik Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik.

Menilik dinamika perkembangan sains, terutama adanya penjungkirbalikan paradigma sains modern yang didukung oleh Welthanchauung Cartesian- Newtonian, sedikit banyak telah mengekspansi batas-batas pengetahuan lainnya, tak terkecuali mengukuhkan dominasi filsafat hukum positivistik. Seolah bangkit dari hegemoni dan menggeliat dari retakan-retakan bangunan hukum positivistik tersebut adalah ilmu hukum non-sistematik yang menggantungkan dukungan kepada teori legal disorder Charles Sampford, dekonstruksi Derrida, Consilience Edward.O Wilson, Gerak-Transsubstansial Mulla Shadra, Ian G. Barbour, Huston Smith, Ary Ginanjar serta Danah Zohar dan Ian Marshal. Pokok-pokok pemikiran ilmuwan-ilmuwan ini dihimpun oleh Anthon F. Susanto selain membentuk bangunan keilmuan, dan relatif meninggalkan pandangan sebelumnya. Juga telah menghasilkan fondasi baru atau asumsi-asumsi dasar mulai dari ontologinya yang melenyapkan dualisme, mengintroduksikan “manusia non - sistematik” ( homo- asyimethricus) hingga mendekonstruksi keadilan yang semula terbatas dan formalistik menjadi intersubjektif. Pandangan ini merupakan hasil dari proses pencarian yang sama sekali baru dalam domain ilmu hukum serta menunjukan semangat bahwa hukum harus berubah dan mulai melirik posmodernisme sebagai pemasok kontemplasi ilmuwan hukum. Di lain pihak, muncul juga gelombang posmodernisme selanjutnya yang diprakarsai intelegensia muslim. Meskipun gerakan ini sempat diragukan, lebih kepada keramahan posmodernisme pada ilmu-ilmu Islam yang berbasis ilmu kenabian. Tetapi berbeda dengan para ilmuwan muslim lainnya yang menilai posmodernisme mendukung pada nihilisme baik agama dan ilmu pengetahuan, posmodernisme diartikan Kuntowijoyo sebagai sebuah peluang reintegrasi ilmu dan wahyu yang disebutnya pengilmuan islam atau paradigma profetik. Wacana ini semakin berkembang dan membentuk blok- historis baru. Paradigma profetik mengafirmasi integralisme, mengajak kita berkenalan dengan spesies; “manusia profetik” (homo-propheticus) dan lebih dari itu suatu alternatif dalam memandang fondasi hukum.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: Kritik Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik.

PENDAHULUAN PARADIGMA PROFETIK DALAM ILMU HUKUM: Kritik Terhadap Asumsi-Asumsi Dasar Ilmu Hukum Non-Sistematik.

Dengan melihat pemikiran yang demikian, dapat diketahui bahwa gagasan modernisme dan postmodernisme pada hakikatnya mengembalikan paradigma keilmuan pada kehendak manusia, sebagai pencipta realitas dan makna, sehingga hal demikian tidak menyisakan nilai-nilai teosentris dalam diri manusia selain kemanusiaan itu sendiri. Modernisme yang bertumpu pada akal sebagai sumber kebenaran tunggal dan antroposentrisme serta posmodernisme dengan dekonstruksinya, pluralitas, subjektivitas sosial, relativitas kebenaran dan antagonisme terhadap universalisme termasuk agama, juga bias kepentingan akan upaya-upaya penghancuran sekat-sekat geografis, nasional dan intersubjektivisme dengan pluralisme sekular sebagai permukaan luarnya tetap saja tidak dapat lepas dari bayang-bayang masa lalu sebagai cara diam- diam untuk melakukan penundukan terhadap yang lain atau paling tidak penundukan diri terhadap pluralitas makna dan relativitas kebenaran. Maksudnya posmodernisme juga masih membawa kenangan dari modernisme sebagai sebuah pandangan dunia berupa penundukan terhadap alam dan sekularisme, disamping itu ketika suatu kesadaran yang didasarkan pada
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN EPISTEMOLOGI ILMU HUKUM BER

PENGEMBANGAN EPISTEMOLOGI ILMU HUKUM BER

Hukum profetik memandang dasar ilmu pengetahuan adanya petunjuk yang sifatnya intuitif (iman) atau apriori, Karena sifatnya yang intuitif maka pengetahuan bermula dari kemampuan reseptif manusia terhadap apa yang dilimpahkan dari wahyu atau hidayah, karena itu paradigma profetik menolak pandangan keraguan-kepastian Descrates atau keraguan-ketidakpastian Derida. Dalam paradigma profetik mengembangkan adanya relasi pengetahuan dalam diri manusia yang ditimbulkan dari organ- organ pemahamannya, diantaranya; indera atau sense baik indera lahir maupun batin, inspirasi atau intuisi yang terletak dalam hati atau jantung, rasio sebagai fungsi berfikir dan wahyu yang diturunkan kepada nabi. Konsekuensi dari hal tersebut adalah adanya integritas profetik yang merupakan suatu kesadaran emansipatoris: transendensi, humanisasi, liberasi dan aktivisme historis: Penghayatan atau pelibatan pikiran dan perasaan pada sesuatu yang diyakini (sebagai basis dari semua etos/nilai); Pengabdian; Etos kerja keilmuan; Etos kerja kemanusiaan, yang terdiri dari: kejujuran; keseksamaan/ketelitian; kekritisan dan penghargaan. 20
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Paradigma ilmu Hukum Profetik. docx

Paradigma ilmu Hukum Profetik. docx

Periode Ideologi yang ditandai dengan cara berfikir non logis, persatuan nasional yang tersentral, dan kepemimpinan intlektual. Namun, kekalahan SI dalam merebut simpati massa dengan PKI, pembubaran Masyumi, sampai munculnya ideoligisasi Pancasila, tidak membuat perjuangan Ummat telah usai. Justru hal ini dianggap Kunto sebagai blessing in disguisse (berkah yang tersembunyi), dengan masuknya Ummat kepada periode ilmu. Dalam periode Ilmu inilah Kunto menawarkan jalan objektivikasi. 38

Baca lebih lajut

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

o Kuntowijoyo dengan menawarkan membangun ilmu sosial profetik, yaitu suatu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa.

21 Baca lebih lajut

MENELUSURI EPISTEMOLOGI SOSIAL PROFETIK KUNTOWIJOYO.

MENELUSURI EPISTEMOLOGI SOSIAL PROFETIK KUNTOWIJOYO.

Pengetahuan model pertama memberikan kejelasan proporsi yang dibentuk dari prinsip- prinsip kepastian, dan kontradiksi.Dua hal itu dapat langsung diketahui dengan hanya melihat putusan yang membentuk suatu pernyataan.Koherensi antar kalimat dengan kalimat menjadi tolok ukur benar tidaknya suatu pernyataan.Kebenaran dihasilkan dengan menelusuri kesesuaian premis-premis dalam susunan kalimat, dengan suatu pembuktian-diri (self-evident).Pengetahuan yang termasuk kategori pertama misalnya ilmu logika dan matematika.Dalam logika dan matematika, segala kebenaran tidak didapatkan dari hasil penelusuran di luar prinsip- prinsipnya.Tidak perlu mencari kesesuaian antara teori dengan fakta.Yang dicari dalam menentukan benar tidaknya suatu kesimpulan adalah memeriksa susunan argumentasi, yang membuktikan suatu rumusan ilmiah.Hasil akhir rumusan itu terlepas dari observasi atas fakta alamiah.Dengan begitu, pengetahuan ini tidak memberikan masukan apapun atas fenomena alamiah, tapi hanya bisa diterapkan secara sementara pada batas-batas eksistensi. 22
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...