indole-3-acetic acid

Top PDF indole-3-acetic acid:

Karakterisasi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Indole-3-Acetic Acid Serta Aplikasinya Pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.)

Karakterisasi Bakteri Penambat Nitrogen Dan Penghasil Indole-3-Acetic Acid Serta Aplikasinya Pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.)

Mikroorganisme tanah memainkan peranan penting dalam menjaga kesuburan tanah sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan dalam pertanian yang berkelanjutan. Salah satu mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan ialah bakteri penambat nitrogen. Bakteri penambat nitrogen ada yang bersimbiosis seperti Rhizobium (Djordjevic et al. 1987) dan yang hidup bebas seperti Azospirillum sp. (Dobereiner et al. 1976), Bacillus sp. (Seldin et al. 1984), dan Paenibacillus sp. (Rosado et al. 1998). Ketika digunakan sebagai inokulan, bakteri penambat nitrogen dapat meningkatkan (memperlihatkan efek positif) dalam pertumbuhan tanaman sehingga disebut plant growth promoting rhizobacteria (PGPR). PGPR sering digunakan sebagai inokulan untuk meningkatkan hasil pertanian (Loper dan Schroth 1986). Salah satu mekanisme PGPR dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman ialah dengan menghasilkan hormon pertumbuhan, yaitu indole-3-acetic acid (IAA) (Khalid et al. 2003). IAA berfungsi mengendalikan beberapa mekanisme fisiologi tumbuhan, seperti proses pembelahan sel dan diferensiasi jaringan tumbuhan.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

Khamir Penghasil Indole-3-Acetic Acid dari Rhizosfer Anggrek Tanah Pecteilis susannae (L.) Rafin

Khamir Penghasil Indole-3-Acetic Acid dari Rhizosfer Anggrek Tanah Pecteilis susannae (L.) Rafin

Indole-3-acetic acid (IAA) is a growth hormone produced by plants. Several types of yeast has been reported to produce these hormones, and generally produce IAA in an higher amount than in plants. The purpose of this study is to get the yeast producing indole-3-acetic acid in the rhizosphere soil orchid Pecteilis susannae (L.) Rafin and to test the ability of yeast isolates to form IAA on medium L-tryptophan given as precursors. Yeasts were isolated and tested for their ability to produce IAA in vitro. The results showed that there are four potential yeast isolates that produce IAA which are isolates K2, U5, A3, and A1. Highest concentration of IAA was produced by A3 isolates grown on a medium containing GPB 200 ug / ml of L-tryptophan in the amount of 56.262 g/ml.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH KONSENTRASI IAA (Indole-3-Acetic Acid) TERHADAP PERTUMBUHAN BIJI SINTETIS ANGGREK MACAN (Grammatophyllum scriptum (Lindl.) BI.).

PENGARUH KONSENTRASI IAA (Indole-3-Acetic Acid) TERHADAP PERTUMBUHAN BIJI SINTETIS ANGGREK MACAN (Grammatophyllum scriptum (Lindl.) BI.).

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala penyertaan yang telah diberikan, sehingga skripsi yang berjudul “ Pengaruh Konsentrasi IAA (Indole-3-Acetic Acid) terhadap Pertumbuhan Biji Sintetis Anggrek Macan ( Grammatophyllum scriptum (Lindl.) BI.) ” dapat terselesaikan d engan baik. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana sains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

13 Baca lebih lajut

Pengujian Potensi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (Iaa) Asal Tanah Batuan Kapur Pada Penanaman Lamtoro (Leucaena Leucocephala)

Pengujian Potensi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (Iaa) Asal Tanah Batuan Kapur Pada Penanaman Lamtoro (Leucaena Leucocephala)

Reklamasi dapat dilakukan salah satunya dengan menginduksi bakteri ke dalam tanah untuk meningkatkan daya dukung tanah pascatambang batuan kapur. Galur bakteri yang dapat diinduksikan dan menguntungkan dalam peningkatan pertumbuhan tanaman dikelompokkan sebagai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) (Kloepper dan Scroth 1978). Salah satu kelompok bakteri yang dapat diaplikasikan untuk reklamasi lahan ialah bakteri penghasil auksin atau Indole-3-Acetic Acid (IAA). Frankenberger dan Arshad (1995) menyebutkan bahwa produksi IAA sangat bervariasi antar spesies bakteri yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, tingkat pertumbuhan, dan ketersediaan substrat seperti asam amino. Proses selanjutnya dalam pemulihan lahan pascatambang dengan melakukan penghijauan. Tanaman yang baik untuk penghijauan di tanah pascatambang batu kapur yaitu jenis legum, salah satunya tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala) (Suriadikarta dan Setyorini 2005). Tanaman ini merupakan tanaman leguminosa yang paling produktif dibanding yang lain, kualitas hijaunya tinggi, tahan kekeringan, tumbuh dalam variasi iklim yang luas, dan dapat digunakan sebagai pupuk hijau serta pakan ternak (Purwantari dan Sajimin 2006). Publikasi mengenai proses reklamasi dengan bakteri penghasil IAA sebagai agen mempercepat pertumbuhan tanaman belum banyak dilaporkan, sehingga pengujian potensi bakteri penghasil IAA asal tanah bekas tambang batuan kapur sangat bermanfaat untuk dilakukan.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Seleksi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (Iaa) Dan Pengujian Pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.).

Seleksi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (Iaa) Dan Pengujian Pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.).

Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.) is a crop that has a high economic value in the production of vegetable oil in Indonesia. The eminent seed quality and seedlings preparation of oil palm are some factors that effect plant productivity and a basic step which determinates the planting process in field. The high cost for fertilizer expenses was a basic matter for plant maintenance preparation. The use of chemical fertilizers and pesticides for long term in oil palm plantation can cause environmental problems due to the residue of this synthetic compound on the soil. One of the solutions for this problem is the use of a natural compound or biological agent that can promote plant growth. Indole-3-acetic acid (IAA) is the most active phytohormone which widely available in nature. Exogenous auxin derived from rhizosphere bacteria is the focus of this study. The objectives of this study was to obtain bacteria producing IAA from Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBDB) Jambi and to apply the selected bacteria in oil palm seedlings.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Isolasi dan seleksi bakteri penambat nitrogen dan penghasil indole-3-acetic acid asal sampel tanah dari Jambi Indonesia

Isolasi dan seleksi bakteri penambat nitrogen dan penghasil indole-3-acetic acid asal sampel tanah dari Jambi Indonesia

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Isolasi dan Seleksi Bakteri Penambat Nitrogen dan Penghasil Indole-3-Acetic Acid Asal Sampel Tanah dari Jambi Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

26 Baca lebih lajut

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (IAA) yang Berasal dari Area Penambangan Batu Kapur.

Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Indole-3-Acetic Acid (IAA) yang Berasal dari Area Penambangan Batu Kapur.

Tanaman reklamasi membutuhkan suatu zat pemacu pertumbuhan agar dapat hidup dengan baik pada tanah bekas tambang. Rizobakter sebagai agensia pemacu pertumbuhan tanaman (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria/ PGPR) dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman reklamasi batu kapur. PGPR indigenus tanah tambang batu kapur lebih mudah beradaptasi bila diaplikasikan ke lingkungan aslinya, seperti aplikasi bakteri pelarut fosfat asal tambang batuan kapur Cirebon pada bibit tanaman akasia (Mubarik et al. 2014). Mekanisme PGPR dalam memacu pertumbuhan tanaman salah satunya dengan mensekresikan zat pemacu tumbuh tanaman seperti Indole-3-acetic acid (IAA).
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

AKTIVITAS FITOHORMON INDOLE-3-ACETIC ACID (IAA) DARI BEBERAPA ISOLAT BAKTERI RIZOSFER DAN ENDOFIT

AKTIVITAS FITOHORMON INDOLE-3-ACETIC ACID (IAA) DARI BEBERAPA ISOLAT BAKTERI RIZOSFER DAN ENDOFIT

A total of 34 isolates of rhizosphere bacteria and endophytic bacteria have been isolated from several fruit and vegetable plants. Bacterial isolates were then screened to produce phytohormone indole-3-acetic acid (IAA) in a minimal medium (MM) with the addition of 1 g/l tryptophan as a precursor. Phytohormone production was carried out in an incubator shaker for 5 days at 28 o C in a dark condition. IAA in the culture supernatant was extracted with ethyl acetate. The presence of IAA in the bacterial extract was detected using Thin Layer Chromatography (TLC). The concentration of IAA was determined quantitatively using High Performance Liquid Chromatography (HPLC). The result showed that among 34 bacterial isolates, 20 isolates were able to produce IAA with different concentrations. The highest concentration of IAA (16,71 ppm) was produced by the endophytic bacteria isolated from twigs of starfruit plant. In addition, within the group of rhizosphere bacterial isolates, bacteria from kangkung plant was found to be the best one with IAA concentration of 10.99 ppm.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

MULTIPLIKASI TUNAS PISANG AMBON KUNING SEBAGAI RESPONS TERHADAP KONSENTRASI BENZYLADENINE DAN INDOLE-3-ACETIC ACID

MULTIPLIKASI TUNAS PISANG AMBON KUNING SEBAGAI RESPONS TERHADAP KONSENTRASI BENZYLADENINE DAN INDOLE-3-ACETIC ACID

One method to propagate banana shoots in vitro is by used of axillary branching, in which shoots are stimulated to form and multiplied in existance of high ratio of cytokinin vs auxin in the system. The objections of this research were: (1) to study the effects of increasing benzyladenine (BA) concentrations on shoot multiplication (2) to study the effects of increasing indole-3-acetic acid (IAA) in combination with BA on shoot multiplication (3) to indentify if three was any interaction between BA and IAA in affectiny shoot multiplication, and (4) to find the best treatment which produced the hightest number of shoots and propagules of banana cv. Ambon Kuning.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

INDUKSI KALUS EKSPLAN DAUN SIRIH HITAM (Piper betle L.) DENGAN KOMBINASI KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH INDOLE-3-ACETIC ACID (IAA) DAN BENZYL AMINO PURIN (BAP)

INDUKSI KALUS EKSPLAN DAUN SIRIH HITAM (Piper betle L.) DENGAN KOMBINASI KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH INDOLE-3-ACETIC ACID (IAA) DAN BENZYL AMINO PURIN (BAP)

1.4 Hipotesis penelitian 1.4.1 Hipotesis kerja Jika kombinasi konsentrasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP berpengaruh terhadap waktu induksi kalus, persentase eksplan membentuk kalus, [r]

147 Baca lebih lajut

021-040.doc 24KB Mar 29 2010 04:52:04 AM

021-040.doc 24KB Mar 29 2010 04:52:04 AM

Amasino Trends in Plant Science, 2000, 5:7:278-282 25.Indole-3-acetic acid: a reciprocal signalling molecule in bacteria–plant interactions [Viewpoint] Mark Lambrecht, Yaacov Okon, Ann[r]

3 Baca lebih lajut

Directory UMM :Data Elmu:jurnal:S:Scientia Horticulturae:Vol84.Issue3-4.June2000:

Directory UMM :Data Elmu:jurnal:S:Scientia Horticulturae:Vol84.Issue3-4.June2000:

Auxin generally is considered as a plant growth promoter. Exogenously applied Indole 3-acetic acid (IAA) strongly promoted stem elongation over a long period in intact light-grown seedlings of both dwarf and tall peas (Yang et al., 1993), but auxin generally inhibits root elongation (Pilet and Saugy, 1987; Tanimoto and Watanabe, 1986). Abscisic acid (ABA) is regarded not only to be an inhibitor of elongation (Bensen et al., 1988; Sakurai et al., 1985; Yadava and Dayton, 1972) but a growth promoter (Bradford, 1983; Weston, 1976). A negative correlation between root growth and endogenous ABA was reported (Pilet and Saugy, 1987), and exogenous ABA inhibited the tip growth of excised roots (Gaither et al., 1975). The roles of IAA and ABA in scion-rootstock interaction are not fully known. We examined the levels of endogenous IAA and ABA in citrus scion- rootstock combinations and here discuss the effect of the rootstock on scion growth.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI BAKTERI ENDOFIT PENGHASIL FITOHORMON IAA (INDOLE ACETIC ACID) DARI KULIT BATANG TUMBUHAN RARU (COTYLELOBIUM MELANOXYLON).

KARAKTERISASI BAKTERI ENDOFIT PENGHASIL FITOHORMON IAA (INDOLE ACETIC ACID) DARI KULIT BATANG TUMBUHAN RARU (COTYLELOBIUM MELANOXYLON).

Anggara, dkk (2010) juga melaporkan bahwa terdapat empat isolat bakteri endofit dari ubi jalar yang berpotensi menghasilkan hormon IAA, yaitu isolat A1,B1,B2 dan B3 dengan karakter yang berbeda – beda. Selain itu bakteri endofit dari kelompok actinomietes dan Corynebacterium yang diisolasi dari tanaman gandum juga berpotensi dalam menghasilkan auksin, dimana penambahan IAA pada media kultur jaringan yang dihasilkan oleh bakteri endofit kelompok actinomycetes dan corynebacterium dapat meningkatkan kapasitas perkecambahan (Merzaeva, dkk., 2010) dan mempercepat pertumbuhan bibit ekplan gandum yang dibudidayakan dengan teknik in vitro (Yadav, dkk., 2012). Penelitian tentang bakteri endofit yang dapat menghasilkan hormon IAA juga telah dilakukan oleh Inyoman, dkk (2004) dimana didapat bakteri endofit kelompok actinomicetes, streptomyces griseoviridis dan pseudomonas fluorescens yang mampu memproduksi auksin indole-3-acetic-acid secara in vitro.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Isolasi Dan Uji Kemampuan Bakteri Endofit Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) Dari Akar Tanaman Jagung (Zea mays L.)

Isolasi Dan Uji Kemampuan Bakteri Endofit Penghasil Hormon IAA (Indole Acetic Acid) Dari Akar Tanaman Jagung (Zea mays L.)

Akar tanaman jagung dari kedua lokasi segera dicuci dengan air untuk menghilangkan kotoran yang menempel di permukaan akar. Akar selanjutnya dikeringkan, dibungkus dengan kertas koran dan dimasukkan kedalam kantong plastik, dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi FMIPA USU. Tahap awal isolasi adalah mencuci bagian akar tanaman (3-5 cm) dengan air mengalir selama 20 menit. Kemudian disterilisasikan bagian permukaan akar tanaman dengan merendamnya secara berturut- turut dalam larutan etanol 75% selama 2 menit, larutan sodium hipoklorit 5,3% selama 5 menit, dan etanol 75% selama 30 detik. Selanjutnya, akar dibilas dengan akuades steril sebanyak 2 kali dan dikeringkan dengan kertas saring steril. Setelah kering, bagian ujung kiri dan kanan akar tanaman dibuang ± 1 cm. Kemudian masing- masing akar dipotong menjadi 4 bagian dan diletakkan pada permukaan media NA yang telah dicampurkan dengan antibiotik ketokonazol (0,3 gram/ 100 ml) dengan posisi bekas potongan kearah media. Kemudian diinkubasi pada suhu ruang (25º- 30ºC) selama ±1 hari. Koloni yang muncul dari bagian akar tanaman sebelah dalam disubkulturkan ke media NA yang baru sampai didapat biakan murni. Isolat murni yang diperoleh dikarakterisasi morfologinya dengan pewarnaan gram serta uji biokimia metabolisme bakteri seperti uji sitrat, uji gelatin, uji motilitas, uji sulfida, uji katalase dan uji hidrolisis pati (Lay, 1994).
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Konstruksi Mutan Pseudomonas sp. untuk Meningkatkan Produksi Indole Acetic Acid (IAA) melalui Mutagenesis dengan Transposon

Konstruksi Mutan Pseudomonas sp. untuk Meningkatkan Produksi Indole Acetic Acid (IAA) melalui Mutagenesis dengan Transposon

terbentuk dicuci sebanyak 3 kali dengan garam fisiologis steril. Pelet sel resipien yang telah dipanen ditambah LB sebanyak 40 µL. Suspensi sel resipien kemudian dipindahkan ke dalam tabung mikro yang berisi pelet sel donor. Suspensi campuran sel donor dan resipien diresuspensi dan dipindahkan dan diletakkan di atas membran filter milipore steril dan diletakan di atas media Luria Agar (LA). Begitu pula, pelet sel donor dan pelet sel resipien sebagai kontrol negatif. Inkubasi dilakukan selama 24 jam. Masing-masing membran milipore selanjutnya diangkat dan dimasukkan ke dalam tabung mikro berisi 1 mL garam fisiologis. Setelah divorteks hingga sel terlepas dari membran milipore, sebanyak 100 µL suspensi sel disebarkan pada agar cawan King’s B + Km 50 µg/mL + Kl 50 µg/mL dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang. Koloni yang muncul pada media tersebut menunjukkan Pseudomonas sp. CRB17 mutan yang telah tersisipi genomnya oleh gen Km1 dari transposon Mini-Tn5Km1 sehingga selain resisten terhadap kloramfenikol juga resisten terhadap kanamisin.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH INDOLE-3-BUTYRIC ACID (IBA) DAN α-NAPHTHALENE ACETIC ACID (NAA) TERHADAP PENGAKARAN SETEK DAN CANGKOK JAMBU JAMAIKA (Syzygium malaccense (L.) Merr. & Perry)

PENGARUH INDOLE-3-BUTYRIC ACID (IBA) DAN α-NAPHTHALENE ACETIC ACID (NAA) TERHADAP PENGAKARAN SETEK DAN CANGKOK JAMBU JAMAIKA (Syzygium malaccense (L.) Merr. & Perry)

1000 ppm hanya menghasilkan volume akar 1,8 cm 3 . Volume akar tersebut tergolong sedikit dan menggambarkan bahwa jambu jamaika termasuk sulit diperbanyak melalui setek. Lebih lanjut Lebrun et al. (1998) dalam Ryadin et al. (2014) menduga bahwa sulitnya perbanyakan jambu jamaika dengan setek dimungkinkan karena adanya tanin dan kalium oksalat yang dapat menghambat pembentukan akar pada setek. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan keberhasilan setek jambu jamaika dapat dilakukan dengan mengaplikasikan ZPT perangsang akar.

64 Baca lebih lajut

PENGARUH BERBAGAI LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI LARUTAN ZPT IAA (Indole Acetic Acid) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK MENTIGI (Vaccinium varingiaefolium (BL.) MIQ.)

PENGARUH BERBAGAI LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI LARUTAN ZPT IAA (Indole Acetic Acid) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK MENTIGI (Vaccinium varingiaefolium (BL.) MIQ.)

Mentigi…………………………..………………………………... 57 Tabel 3. Analisis Ragam Jumlah Akar Stek Pucuk Mentigi…….………….. 58 Tabel 4. Analisis Ragam Panjang Akar Stek Pucuk Mentigi………..…….... 58 Tabel 5. Analisis Ragam Berat Basah Akar Stek Pucuk Mentigi………..…. 59 Tabel 6. Analisis Ragam Berat Kering Akar Stek Pucuk Mentigi……..…… 59 Tabel 7. Analisis Ragam Persentase Stek Pucuk Mentigi Hidup….………...

19 Baca lebih lajut

PENGARUH KOMBINASI INTENSITAS NAUNGAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH INDOLE BUTIRIC ACID (IBA), NAPHTHALENE ACETIC ACID (NAA), DAN VITAMIN B1 DALAM AKLIMATISASI PERTUMBUHAN BIBIT GAHARU (Aquilaria beccariana)

PENGARUH KOMBINASI INTENSITAS NAUNGAN DENGAN ZAT PENGATUR TUMBUH INDOLE BUTIRIC ACID (IBA), NAPHTHALENE ACETIC ACID (NAA), DAN VITAMIN B1 DALAM AKLIMATISASI PERTUMBUHAN BIBIT GAHARU (Aquilaria beccariana)

The objective of this research is to know the optimal formula of Indole Butiric Acid (IBA), Naphthalene Acetic Acid (NAA), Vitamine B1 and the combination with shading intensities to the acclimatization of Gaharu stump (Aquilaria beccariana). This research used Factorial Design with basic analysis of Complete Randomized Design in order to know the effect of treatment. The research was carried out in Agroindustry and Biotechnology Laboratory, Ciampea, Bogor, from July to September 2007. The results of the research showed that after 8 weeks of treatment: (a). The combination of 55 % shading intensity with IBA 15 mg/l + NAA 10 mg/l + Vitamine B1 1 mg/l was the best formula for increasing height of Gaharu stump 4.660 cm. (b). The combination of 55 % shading intensity with IBA 15 mg/l + NAA 30 mg/l + Vitamine B1 1 mg/l was the best formula for increasing sum of Gaharu leaf stump 12.337 leafs, (c). The combination of 55 % shading intensity with IBA 15 mg/l + NAA 40 mg/l + Vitamine B1 1 mg/l was the best formula for increasing sum of Gaharu root stump 3.783 roots, and (d). The combination of 55 % shading intensity with IBA 15 mg/l + NAA 40 mg/l + Vitamine B1 1 mg/l was the best formula for increasing length of Gaharu root stump 3.686 cm.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

DAMPAK INDOLE ACETIC ACID (IAA) TERHADAP PRODUKSI BETA-GLUKAN LINGZHI (Ganoderma lucidum) DI KULTUR MEDIA PADAT.

DAMPAK INDOLE ACETIC ACID (IAA) TERHADAP PRODUKSI BETA-GLUKAN LINGZHI (Ganoderma lucidum) DI KULTUR MEDIA PADAT.

Jamur mendapat makanan dalam bentuk selulosa, glukosa, lignin, protein, dan senyawa pati. Bahan makanan tersebut diperoleh dari media pertumbuhannya. Jamur akan menyerap nutrisi lebih tinggi apabila kondisi lingkungan dan syarat tumbuh yang dibutuhkan terpenuhi (Ridwan et al. 2013). Beta-glukan merupakan bagian dari polisakarida yang menyusun dinding sel jamur. Berdaarkan hasil dari banyak penelitian, beta-glukan memberikan efek fisiologis pada sel, terutama untuk mengobati berbagai penyakit kronis tidak menular. Konsentrasi beta-glukan pada jamur pangan berkisar antara 20.06 ± 1,76% sampai 44,21 ± 0,13% atau 29,74 ± 1,40% sampai 56,47 ± 4,72% tergantung pada jenis jamur (Bak et al. 2014). Nasim et al. (2004) memberikan IAA pada media pertumbuhan miselium Aspergilus oryzae, Aspergilus terreus, Aspergilus niger, Alternaria alternata. Terjadi peningkatan biomassa secara signifikan pada perlakuan IAA 45 mg -1 . IAA merupakan hormon pertumbuhan yang berkerja dalam pemanjangan, pembelahan, dan diferensiasi sel khususnya sel jamur. Namun, hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian IAA tidak menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap kadar air, berat kering, berat segar, dameter koloni lingzhi ( α>0.005 ). Hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada Tabel 4, Tabel 5, Tabel 6, Tabel 7, Tabel 8, Tabel 9, Tabel 10, Tabel 11, Tabel 13, Tabel 14, Tabel 15, Tabel 16, Tabel 17 (Lampiran 1). Hasil uji korelasi pada penelitian juga menunjukan bahwa berat kering miselium lingzhi (biomassa) dan beta-glukan tidak memiliki hubungan interaksi yang besar (Tabel 3). Nishitani et al. (1979) mengatakan bahwa sukrosa merangsang induksi IAA untuk perpanjangan sel, tetapi sangat kecil peranan IAA dalam pelonggaran dinding sel. Pengaruh pemberian IAA terhadap beta-glukan lingzhi menunjukan adanya interaksi yang besar pada analisisi korelasi (r 2 : 0,876 ) dan menunjukan pengaruh yang siginfikan pada analisis varians ( α<0,005 ). Pengaruh pemberian IAA terhadap kadar beta-glukan miselium lingzhi dapat dilihat pada Tabel 12, Tabel 13, Tabel 18 (Lampiran 1). Namun kadar beta-glukan terbesar diperoleh oleh perlakuan tanpa IAA (Tabel 2). IAA berpengaruh negatif
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN INDOLE ACETIC ACID (IAA) PADA PELAPIS KITOSAN TERHADAP MUTU DAN MASA SIMPAN BUAH JAMBU BIJI ‘CRYSTAL’

PENGARUH PENAMBAHAN INDOLE ACETIC ACID (IAA) PADA PELAPIS KITOSAN TERHADAP MUTU DAN MASA SIMPAN BUAH JAMBU BIJI ‘CRYSTAL’

Pengamatan dilakukan pada awal dan akhir pengamatan terhadap peubah masa simpan, bobot buah, kekerasan buah, kandungan padatan terlarut (ºBrix), dan asam bebas. Untuk menggambarkan kondisi permukaan kulit buah, analisis scanning electron microscope (SEM) dilakukan pada sampel buah kontrol dan yang diperlakukan dengan kitosan. Pengamatan dihentikan apabila buah menunjukkan gejala kemerosotan mutu (telah muncul bintik hitam kurang lebih 50% atau warna kusam pada kulit, Gambar 3).

43 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...