Intensitas Menonton

Top PDF Intensitas Menonton:

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON REAL

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON REAL

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial adalah norma tanggung jawab sosial, norma timbal balik, belajar menolong (pengalaman), dan memutuskan untuk menolong. Kecenderungan perilaku prososial dalam penelitian ini berhubungan dengan intensitas menonton reality show, dalam menonton reality show ada proses belajar menolong, yaitu individu belajar menolong dari model tayangan reality show yang menjadi penolong dalam tayangan reality show. Adapun faktor spesifik yang juga mempengaruhi adalah faktor situasional, faktor penolong dan orang yang membutuhkan pertolongan. Faktor situasional meliputi kehadiran orang lain, kondisi lingkungan, tekanan waktu. Faktor penolong meliputi faktor kepribadian, suasana hati, rasa bersalah serta distress dan rasa empatik. Faktor yang meliputi orang yang membutuhkan pertolongan adalah menolong orang yang disukai dan menolong orang yang pantas ditolong.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TAYANGAN IKLAN KOSMETIK DENGAN MINAT MEMBELI PADA MAHASISWA  Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Iklan Kosmetik Dengan Minat Membeli Pada Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta.

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TAYANGAN IKLAN KOSMETIK DENGAN MINAT MEMBELI PADA MAHASISWA Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Iklan Kosmetik Dengan Minat Membeli Pada Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta.

Lowery dan De Fleur (Sari, 2008) mengungkapkan bahwa terdapat tiga hal yang dapat dijadikan sebagai alat atau aspek untuk mengidentifikasi perilaku pada mahasiswa dalam intensitas menonton tayangan, yaitu: Total waktu rata-rata yang dihabiskan untuk menonton tayangan; Pilihan program acara yang ditonton dalam sehari dan program acara yang paling disukai; Frekuensi menonton program acara tertentu. Sementara itu, Azjen (Setiawan, 2005) membagi intensitas menonton tayangan iklan menjadi empat aspek, yaitu Perhatian atau daya konsentrasi dalam menonton tayangan iklan, Penghayatan atau pemahaman terhadap tayangan iklan
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PENGARUH INTENSITAS MENONTON BERITA REPORTASE INVESTIGASITERHADAP SIKAP IBU RUMAH TANGGA SURYATMAJAN PENGARUH INTENSITAS MENONTON BERITA REPORTASE INVESTIGASI TERHADAP SIKAP IBU RUMAH TANGGA SURYATMAJAN (Studi Kuantitatif Terhadap Pengaruh Intensitas Meno

PENGARUH INTENSITAS MENONTON BERITA REPORTASE INVESTIGASITERHADAP SIKAP IBU RUMAH TANGGA SURYATMAJAN PENGARUH INTENSITAS MENONTON BERITA REPORTASE INVESTIGASI TERHADAP SIKAP IBU RUMAH TANGGA SURYATMAJAN (Studi Kuantitatif Terhadap Pengaruh Intensitas Meno

Penelitian ini ingin melihat apakah ada pengaruh dari intensitas menonton program berita Reportase Investigasi terhadap sikap para ibu rumah tangga Suryatmajan. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan dalam penyelesaiannya. Kekurangan tersebut diharapkan dapat menjadi tolak ukur agar penelitian berikutnya dapat membuahkan hasil yang lebih baik.

15 Baca lebih lajut

Hubungan antara tingkat religiositas dengan intensitas menonton tayangan kekerasan pada remaja akhir.

Hubungan antara tingkat religiositas dengan intensitas menonton tayangan kekerasan pada remaja akhir.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada hubungan antara religiositas dengan intensitas menonton tayangan kekerasan pada remaja akhir. Hipotesis dari penelitian ini adalah bahwa ada hubungan yang signifikan antara religiositas dengan intensitas menonton tayangan kekerasan pada remaja akhir. Peneliti berasumsi apabila seseorang yang memiliki religiositas tinggi sikap serta perilakunya akan dipengaruhi nilai-nilai yang bertentangan oleh kekerasan maka intensitas menonton tayangan kekerasan akan menjadi rendah. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja akhir yang memiliki rentang usia antara 17 tahun sampai 21 tahun dan beragama katolik. Alat pengumpul data yang digunakan terdiri dari dua alat ukur, skala religiositas dan skala intensitas menonton tayangan kekerasan. Skala religiositas telah melalui penyaringan sehingga diperoleh 48 item dan diperoleh koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,939 dengan rentang korelasi item total 0,306 sampai 0,736, uji reliabilitas ini dilakukan pada 50 subjek. Skala Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan disusun dengan memperhatikan durasi waktu menonton tayangan kekerasan per jam dalam seminggu dan skala ini tidak melalui uji reliabititas. Hasil penelitian pada N=100 diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,117 dengan signifikasi sebesar 0,123. Hal ini berarti terdapat hubungan yang tidak signifikan antara variabel religiositas dan intensitas menonton tayangan kekerasan. Maka hipotesis awal penelitian, yaitu ada hubungan yang signifikan antara religiositas dengan intensitas menonton tayangan kekerasan pada remaja akhir ditolak. Uji tambahan dilakukan untuk mengetahui korelasi aspek-aspek religiositas dengan intensitas menonton tayangan kekerasan, menunjukkan aspek perasaan pada religiositas berkorelasi positif dengan intensitas menonton tayangan kekerasan dengan hasil korelasi 0,180 dan nilai signifikan sebesar 0,037.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TAYANGAN IKLAN KOSMETIK DENGAN MINAT MEMBELI PADA MAHASISWA  Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Iklan Kosmetik Dengan Minat Membeli Pada Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta.

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TAYANGAN IKLAN KOSMETIK DENGAN MINAT MEMBELI PADA MAHASISWA Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Iklan Kosmetik Dengan Minat Membeli Pada Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta.

Minat membeli adalah suatu bentuk rancangan dalam pembelian suatu produk sebelum melakukan tindakan untuk membeli barang atau jasa. Sebuah minat membeli dapat terjadi apabila terdapat stimulus dari produk maupun jasa tersebut. Minat membeli timbul akibat faktor psikologis yaitu intensitas menonton tayangan iklan kosmetik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan intensitas menonton tayangan iklan kosmetik dengan minat membeli pada mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta.Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan subjek 106 mahasiswa. Metode pengumpulan data menggunakan skala psikologis, yaitu skala intensitas menonton tayangan iklan kosmetik dan skala minat membeli, dengan metode insidental sampling . Metode analisis data menggunakan product moment . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif yang sangat signifikan antara intensitas menonton tayangan iklan kosmetik dengan minat membeli. Semakin tinggi intensitas menonton tayangan iklan maka semakin tinggi pula minat membeli pada mahasiswa. Begitu pula sebaliknya semakin rendah intensitas menonton tayangan iklan kosmetik, maka semakin rendah pula minat membeli pada mahasiswa. Sedangkan tingkat intensitas menonton tayangan iklan kosmetik dengan minat membeli pada mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta Tergolong rendah dan tingkat minat membeli pada mahasiswa Perguruan Tnggi Swasta tergolong rendah.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

KORELASI ANTARA INTENSITAS MENONTON FILM GENRE DRAMA DAN INTENSITAS MEMBACA PUISI DENGAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS CERITA PENDEK PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 TEMPEL SLEMAN.

KORELASI ANTARA INTENSITAS MENONTON FILM GENRE DRAMA DAN INTENSITAS MEMBACA PUISI DENGAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS CERITA PENDEK PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 TEMPEL SLEMAN.

Penelitian ini merupakan penelitian korelasi. Pengambilan data menggunakan teknik angket dan tes. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Tempel Sleman. Sampel penelitian berjumlah 58 siswa dengan mengambil dua kelas secara random. Pengukuran intensitas menonton film genre drama dan intensitas membaca puisi menggunakan angket dengan soal berjumlah masing-masing 15 butir dengan alternatif jawaban menggunakan skala Likert. Kemampuan menulis teks cerita pendek diukur dengan tes praktik menulis teks cerita pendek langsung. Data dianalisis dengan korelasi product moment. Sebelum data dianalisis, dilakukan uji prasyarat analisis berupa uji normalitas, linieritas, dan multikolinearitas. Pengujian hipotesis menggunakan analisis bivarat dan analisis regresi ganda.
Baca lebih lanjut

172 Baca lebih lajut

INTENSITAS MENONTON KOREAN DRAMA DAN FASHION REMAJA PUTRI DI SURAKARTA

INTENSITAS MENONTON KOREAN DRAMA DAN FASHION REMAJA PUTRI DI SURAKARTA

Fenomena Hallyu tidak bisa dipungkiri merupakan fenomena yang sedang melanda remaja-remaja saat ini. Menyebarnya elemen budaya pop Korea, khususnya film, menjadi semakin lancar karena adanya teknologi informasi yang lebih maju. Teknologi tersebut meliputi televisi, sistem internet, dan media. Kemudian gencarnya film-film drama korea diikuti dengan munculnya tren baru. Tren ini muncul dalam berbagai bentuk fashion bergaya korea, musik bercitarasa korea, komunitas dan blog- blog yang juga banyak membahas film-film drama, musik, dan semua tentang kebudayaan korea. Semuanya merujuk kepada elemen budaya populer ala korea yang seperti banyak digambarkan dalam film-film drama Korea atau yang biasa kita sebut K-drama, khususnya dalam penelitian ini adalah fashion korea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara intensitas menonton K-drama terhadap fashion yang meliputi gaya busana, dan aksesoris di siswi – siswi SMA Negeri 3 Surakarta.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON FILM BERBAHASA JERMAN DENGAN KEMAMPUAN MENYIMAK.

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON FILM BERBAHASA JERMAN DENGAN KEMAMPUAN MENYIMAK.

3. Intensitas menonton film berbahasa Jerman memiliki hubungan yang positif dengan kemampuan menyimak mahasiswa semester IV Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman tahun ajaran 2013/2014 Universitas Pendidikan Indonesia. Hubungan ini dibuktikan dengan koefisien korelasi sebesar 0,54 yang termasuk ke dalam kategori cukup tinggi. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan berbanding lurus antara intensitas menonton film dengan kemampuan menyimak, yaitu semakin sering mahasiswa menonton film berbahasa Jerman maka semakin baik pula kemampuan menyimak mahasiswa, begitu pun sebaliknya.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan pada Televisi dengan Perilaku Agresif Siswa Kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran T1 132007002 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan pada Televisi dengan Perilaku Agresif Siswa Kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran T1 132007002 BAB V

Hasil analisis menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi dengan perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran Kabupaten Semarang. Analisis untuk sub konsep perilaku agresif berdasarkan 5 aspek juga menunjukan hasil yang sama yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antar intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi dengan perilaku agresif.

3 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Intensitas menonton tayangan kekerasan di media sosial internet dengan perilaku agresif anak sekolah di SD Negeri 1 Tirtomoyo.

DAFTAR PUSTAKA Intensitas menonton tayangan kekerasan di media sosial internet dengan perilaku agresif anak sekolah di SD Negeri 1 Tirtomoyo.

Pengaruh antara Intensitas Menonton Tayangan Televisi dan Kendali Orang Tua dalam Menonton Tayangan Televisi terhadap Perilaku Negatif Anak Usia Dini di TK Islam Syaichona Cholil Balikpa[r]

5 Baca lebih lajut

PENGARUH INTENSITAS MENONTON TAYANGAN MY TRIP MY ADVENTURE TERHADAP MINAT TRAVELING MAHASISWA (Studi Eksplanatoris Pengaruh Intensitas Menonton Tayangan My Trip My Adventuree terhadap Minat Traveling pada Mahasiswa S1 FISIP Universitas Sebelas Maret Surak

PENGARUH INTENSITAS MENONTON TAYANGAN MY TRIP MY ADVENTURE TERHADAP MINAT TRAVELING MAHASISWA (Studi Eksplanatoris Pengaruh Intensitas Menonton Tayangan My Trip My Adventuree terhadap Minat Traveling pada Mahasiswa S1 FISIP Universitas Sebelas Maret Surak

Televisi merupakan salah satu jenis media massa yang paling digemari masyarakat, khususnya di Indonesia. Mahasiswa merupakan manusia yang dinamis, moderen, dan memiliki intelektualitas yang tinggi menyadari akan pentingnya melestarikan lingkungan hidup. Padatnya aktivitas mereka, membuat mereka perlu melakukan kegiatan yang dapat menyegarkan jasmani dan rohani yaitu salah satunya dengan melakukan kegiatan traveling. Tayangan “ My Trip My Adventure e” adalah program berita dokumenter perjalanan yang menggambarkan petualangan dan eksplorasi keindahan alam Indonesia yang ditayangkan oleh Trans TV dan dikemas secara informatif dan menghibur. Dari sekian banyak tayangan perjalanan di televisi, “ My Trip My Adventure e” menjadi tayangan yang paling digemari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh intensitas menonton tayangan My Trip My Adventuree terhadap minat traveling mahasiswa S1 FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta angkatan 2015, serta untuk mengetahui adakah pengaruh lingkungan sosial terhadap hubungan intensitas menonton tayangan My Trip My Adventuree dan minat traveling mahasiswa S1 FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta angkatan 2015.
Baca lebih lanjut

131 Baca lebih lajut

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TAYANGAN IKLAN KOSMETIK DENGAN MINAT MEMBELI PADA MAHASISWA  Studi Komparasi Penggunaan Metode Ceramah dan Metode Mind Map Terhadap Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas V SD Muhammadiyah 10 Tipes Surakata Tahun Ajaran 2015/2016.

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TAYANGAN IKLAN KOSMETIK DENGAN MINAT MEMBELI PADA MAHASISWA Studi Komparasi Penggunaan Metode Ceramah dan Metode Mind Map Terhadap Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas V SD Muhammadiyah 10 Tipes Surakata Tahun Ajaran 2015/2016.

Lowery dan De Fleur (Sari, 2008) mengungkapkan bahwa terdapat tiga hal yang dapat dijadikan sebagai alat atau aspek untuk mengidentifikasi perilaku pada mahasiswa dalam intensitas menonton tayangan, yaitu: Total waktu rata-rata yang dihabiskan untuk menonton tayangan; Pilihan program acara yang ditonton dalam sehari dan program acara yang paling disukai; Frekuensi menonton program acara tertentu. Sementara itu, Azjen (Setiawan, 2005) membagi intensitas menonton tayangan iklan menjadi empat aspek, yaitu Perhatian atau daya konsentrasi dalam menonton tayangan iklan, Penghayatan atau pemahaman terhadap tayangan iklan
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TELEVISI DENGAN PRESTASI  BELAJAR SISWA KELAS V DI SD  Hubungan Intensitas Menonton Televisi Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas V Di Sd Muhammadiyah Program Khusus Surakarta.

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TELEVISI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V DI SD Hubungan Intensitas Menonton Televisi Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas V Di Sd Muhammadiyah Program Khusus Surakarta.

Anak yang menonton televisi ≥ 3 jam hanya 7 orang ( 13,2% ) yang mempunyai prestasi baik. Gambaran ini mencerminkan semakin tinggi intensitas menonoton televisi semakin sedikit responden yang berprestasi baik. Televisi mampu menyihir anak dan menbuatnya ketagihan. Pengaruh media televisi terhadap anak makin besar, teknologi semakin canggih dan intensitasnya semakin tinggi. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton televisi ketimbang melakukan hal lainnya. Dengan intensitas menonton televisi ≥ 3 jam dalam sehari membuat anak menjadi malas belajar dan lebih memilih menonton televisi dari pada belajar. Bagi anak-anak kebiasaan menonton televisi bisa mengakibatkan menurunnya minat baca anak-anak terhadap buku, anak cenderung lebih senang berlama-lama di depan televisi di bandingkan harus belajar membaca buku. Terlalu sering menonton televisi dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TELEVISI DENGAN PRESTASI  BELAJAR SISWA KELAS V DI SD  Hubungan Intensitas Menonton Televisi Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas V Di Sd Muhammadiyah Program Khusus Surakarta.

HUBUNGAN INTENSITAS MENONTON TELEVISI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V DI SD Hubungan Intensitas Menonton Televisi Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas V Di Sd Muhammadiyah Program Khusus Surakarta.

Televisi merupakan salah satu teknologi yang memiliki pengaruh besar diberbagai kalangan, salah satunya anak usia sekolah. Televisi mempunyai dampak positif dan negative. Dampak negatif yang ditimbulkan dari menonton televisi adalah berkurangnya jam tidur anak maupun frekuensi terbangun pada tidur malam. Dampak positif dari menonton televisi adalah mengambil manfaat berupa pengetahuan dari televisi sehingga mempengaruhi prestasi belajar siswa. Tujuan penelitian adalah mengetahui ada tidaknya hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar siswa Kelas V di SD Muhammadiyah Program Khusus Surakarta. Jenis penelitian adalah deskriprif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah responden penelitian sebanyak 53 siswa dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrument penelitian menggunakan kuesioner. Uji hipotesis penelitian menggunakan chi square test. Hasil penelitian intensitas menonton televisi menunjukkan menunjukkan 19 siswa menonton televisi selama < 2 jam, 17 siswa menonton televisi 2 - < 3 jam dan 17 siswa menonton televisi selama ≥ 3 jam. Hasil prestasi belajar menunjukkan 37 resoponden mempunyai prestasi belajar baik, dan 16 responden mempunyai prestasi belajar kurang baik. Hasil uji chi Square diperoleh nilai nilai x 2 sebesar 9,752 dengan signifikansi p = 0,008 (p<0,05). Hasil uji tersebut dapat disimpulkan terdapat hubungan intensitas menonton televisi dengan prestasi belajar siswa kelas V di SD Muhammadiyah Program Khusus Surakarta.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Sinetron Kepompong Di Televisi dengan Citra Diri Pada Remaja Puteri.

Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Sinetron Kepompong Di Televisi dengan Citra Diri Pada Remaja Puteri.

Adanya rasa simpatik dan sugesti membuat remaja semakin tinggi intensitas menonton tayangan sinetron yamh disukainya. Apollo dan Ancok (2005) menyatakan bahwa intensitas kegiatan seseorang mempunyai hubungan yang erat dengan perasaan. Perasaan senang terhadap kegiatan yang akan dilakukan dapat mendorong minat orang yang bersangkutan melakukan kegiatan tersebut. Sebaliknya, orang yang mempunyai perasaan tidak suka terhadap suatu kegiatan akan jarang melakukan kegiatan yang tidak disukai. Remaja yang menonton televisi 3-4 jam setiap harinya dapat mempengaruh psikologis remaja dalam imajinatif, kecerdasan, dan emosi yang berdampak terjadinya perubahan perilaku remaja. Contohnya seorang remaja suka dengan tayangan sinetron di televisi, maka kegiatan menonton tayangan sinetron akan sering dilakukan oleh remaja tersebut.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

INTENSITAS MENONTON TAYANGAN KEKERASAN  DI MEDIA SOSIAL INTERNET DENGAN PERILAKU   Intensitas menonton tayangan kekerasan di media sosial internet dengan perilaku agresif anak sekolah di SD Negeri 1 Tirtomoyo.

INTENSITAS MENONTON TAYANGAN KEKERASAN DI MEDIA SOSIAL INTERNET DENGAN PERILAKU Intensitas menonton tayangan kekerasan di media sosial internet dengan perilaku agresif anak sekolah di SD Negeri 1 Tirtomoyo.

hitung sebesar 4,979 (p - value = 0,026), berdasarkan tabulasi silang maka ada hubungan yang signifikan antara intensitas menonton tayangan kekerasan di media sosial internet dengan perilaku agresif anak sekolah di SD Negeri 1 Tirtomoyo. Kesimpulan semakin tinggi intensitas menonton tayangan kekerasan di media sosial internet maka perilaku agresif pada anak semakin tinggi.

17 Baca lebih lajut

INTENSITAS MENONTON TAYANGAN KEKERASAN  DI MEDIA SOSIAL INTERNET DENGAN PERILAKU   Intensitas menonton tayangan kekerasan di media sosial internet dengan perilaku agresif anak sekolah di SD Negeri 1 Tirtomoyo.

INTENSITAS MENONTON TAYANGAN KEKERASAN DI MEDIA SOSIAL INTERNET DENGAN PERILAKU Intensitas menonton tayangan kekerasan di media sosial internet dengan perilaku agresif anak sekolah di SD Negeri 1 Tirtomoyo.

Kondisi tersebut dapat disebabkan karena adanya faktor- faktor lain yang berhubungan dengan timbulnya perilaku agresif pada anak sekolah. Faktor tersebut seperti faktor dari keluarga (pola asuh orang tua), faktor sekolah dan faktor budaya (Hildayani, 2008). Peran faktor-faktor selain faktor intensitas menonton tayangan kekerasan di media sosial internet terhadap perilaku agresif sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian Putri (2015), yang meneliti korelasi pola asuh orang tua dengan perilaku agresif pada siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Pontianak. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa adanya korelasi negatif pola asuh orang tua dengan perilaku agresif siswa MTSN, yaitu semakin baik pola asuh orang tua maka perilaku agresif siswa semakin rendah.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Pola Asuh Otoriter, Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan dan Kecenderungan Agresif Anak Sekolah Dasar

Pola Asuh Otoriter, Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan dan Kecenderungan Agresif Anak Sekolah Dasar

Intisari. Saat ini banyak film yang ditayangkan dan macam-macam game yang digemari oleh anak-anak . Film dan permainan game yang digemari anak-anak biasanya yang banyak mengandung tantangan, sehingga tidak semua film dan permainan game mengandung muatan positif. Film dan permainan game yang mengandung muatan-muatan negatif, dikhawatirkan dapat memicu perilaku agresif pada anak terutama yang mengandung adegan kekerasan. Pola asuh otoriter juga merupakan faktor yang mempengaruhi agresivitas anak, didikan orang tua yang mengandung kekerasan tanpa adanya kompromi dapat menimbulkan sikap pemberontakan dan agresif pada anak kemudian perilaku agresif anak akan semakin tampak pada hubungan sosial anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola asuh otoriter dan intensitas menonton tayangan kekerasan terhadap tingkat agresivitas anak . Teori yang digunakan adalah teori belajar sosial (social learning theory) . Pendekatannya menggunakan metode penelitian kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah anak SD kelas 5 .Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara pola asuh otoriter dan intensitas menonton dengan kecenderungan agresivitas anak.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN  Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Reality Show Televisi Dengan Perilaku Prososial Remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Reality Show Televisi Dengan Perilaku Prososial Remaja.

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar -0,020 dengan signifikansi p=0, 774 p>0,05. Hal ini berarti tidak ada hubungan antara intensitas menonton tayangan reality show televisi dengan perilaku prososial remaja.Variabel intensitas menonton tayangan reality show televisi memiliki Rerata Emprik (RE) sebesar 65,50 dan Rerata Hipotetik (RH) sebesar 52,5 yang berarti intensitas menonton tayangan reality show televisi tergolong tinggi.Variabel perilaku prososial mempunyai Rerata Empirik (RE) sebesar 70,07 dan Rerata Hipotetik (RH) sebesar 50 yang berarti perilaku prososial tergolong sangat tinggi.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan pada Televisi dengan Perilaku Agresif Siswa Kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan pada Televisi dengan Perilaku Agresif Siswa Kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi hubungan antara intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi dengan perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran. Penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh dengan sampel berjumlah 134 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan dua macam kuesioner. Kuesioner yang digunakan adalah (1) kuesioner perilaku agresif ( agression questionnaire ) yang disusun oleh Buss dan Perry tahun 1992. (2) kuesioner intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi yang disusun oleh penulis. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Korelasi Kendall’s tau_b dengan menggunakan program SPSS for windows 16.0. dari hasil analisis diperoleh hasil bahwa Tidak ada hubungan yang signifikan antara intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi dengan perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran dengan koefisien korelasi r xy = 0,082 dengan p = 0,170 0,05. Dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 5064 documents...