jalak Bali

Top PDF jalak Bali:

II.  TINJAUAN PUSTAKA  PENGGUNAAN METODE MOLECULAR SEXING UNTUK PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi).

II. TINJAUAN PUSTAKA PENGGUNAAN METODE MOLECULAR SEXING UNTUK PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi).

berwarna coklat tua, daerah sekitar kelopak mata berwarna biru tua dan tidak berbulu. Burung Jalak Bali mempunyai jambul yang indah, baik pada jenis kelamin jantan maupun pada betina. Jalak Bali mempunyai kaki berwarna abu-abu biru dengan empat jari jemari (satu ke belakang dan tiga ke depan). Paruhnya runcing dan mempunyai panjang dua hingga lima sentimeter dengan bentuk yang khas dimana pada bagian atasnya terdapat peninggian yang memipih tegak. Warna paruh abu-abu kehitaman dengan ujung berwarna kuning kecoklat-coklatan (Gambar 1). Berbeda dengan Jalak Putih (Sturnus melanopterus) , dimana warna hitam pada sayapnya lebih luas. Mata berwarna coklat tua, daerah sekitar kelopak mata tidak memiliki bulu dan berwarna kuning, paruhnya runcing dan mempunyai panjang dua sampai tiga sentimeter, berbentuk khas dengan bagian atas terdapat peninggian yang memipih tegak dengan warna paruh abu-abu kehitaman dan ujung kuning kecoklatan di mana kakinya berwarna abu- abu pucat (Sungkawa dkk., 1974; Alikodra, 1978 dalam Nurana, 1989).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Bogor, Jawa Barat

Teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding pada jalak bali (Leucopsar rothschildi) di Mega Bird and Orchid Farm (MBOF), Bogor, Jawa Barat

Jenis-jenis penyakit tersebut pernah diderita jalak bali di penangkaran MBOF. Namun, pada saat dilakukan penelitian yaitu pada bulan Juni – Agustus 2011 tidak terdapat penyakit pada jalak bali. Salah satu penyakit yang tidak dapat diobati adalah katarak. Penyakit ini memiliki ciri-ciri mata burung berair dan berwarna putih dan tidak dapat disembuhkan serta tidak laku untuk dijual. Biasanya jalak bali yang menderita penyakit ini tidak lama hidup dan segera mati. Penyakit lainnya adalah flu (influenza) yang disebabkan karena kondisi cuaca yang tidak baik (perubahan suhu yang ekstrim). Ciri-cirinya keluar lendir dari hidungnya dan bersin-bersin. Pemberian obat dilakukan dua hari sekali secara rutin selama sakit. Selain itu, juga diberikan vitamin lima hari sekali dengan cara dicampurkan pada air minum. Penyakit lainnya adalah sakit mata ciri-cirinya adalah mata tertutup, mata berair, dan bengkak .
Baca lebih lanjut

182 Baca lebih lajut

V.  SIMPULAN DAN SARAN  PENGGUNAAN METODE MOLECULAR SEXING UNTUK PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi).

V. SIMPULAN DAN SARAN PENGGUNAAN METODE MOLECULAR SEXING UNTUK PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi).

1. Dari 30 sampel individu burung Jalak Bali yang teridentifikasi primer P2/P8 hanya 27 sampel yang menunjukkan hasil positif yang terdiri dari 15 individu jantan dan 12 individu betina dengan rasio kebeharsilan PCR sebesar 90%. Primer 2550F/2718R hanya 26 sampel yang menunjukkan hasil positif yang terdiri dari 16 individu jantan dan 10 individu betina dengan rasio keberhasilan sebesar 86,7%. Primer 1237L/1272H hanya 22 sampel yang menunjukkan hasil positif yang terdiri 22 jantan tanpa ada individu betina dengan rasio keberhasilan 73,3%.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

 SKRIPSI  PENGGUNAAN METODE MOLECULAR SEXING UNTUK PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi).

SKRIPSI PENGGUNAAN METODE MOLECULAR SEXING UNTUK PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi).

8. Nana P. Rukmana selaku Kepala Resort Pusat Penangkaran Jalak Bali Tegal Bunder Taman Nasional Bali Barat dan segenap pegawai dan staf Balai Taman Nasional Bali Barat khususnya Segenap pegawai dan Staf Resort yang telah membantu penulis dalam proses pengambilan sampel di Pusat Penangkaran Jalak Bali Tegal Bunder Taman Nasional Bali Barat.

12 Baca lebih lajut

Teknik penangkaran dan aktivitas harian jalak bali (Leucopsar rotschildii Stresemann 1922) di penangkaran UD Anugrah Kediri Jawa Timur

Teknik penangkaran dan aktivitas harian jalak bali (Leucopsar rotschildii Stresemann 1922) di penangkaran UD Anugrah Kediri Jawa Timur

Tempat penangkaran tidak dapat dikondisikan serupa dengan habitat asli jalak bali di alam. Akibat keterbatasan inilah yang menyebabkan perubahan pada perilaku jalak bali. Hasil penelitian mengenai persentase aktivitas harian jalak bali di Penangkaran UD Anugrah dapat dilihat pada Gambar 17. Berdasarkan gambar 20, aktivitas jalak bali jantan banyak melakukan aktivitas diam, yaitu selama 147,13 menit atau sekitar 20,43% dari waktu pengamatan disusul dengan aktivitas mengerami telur yaitu selama 125,92 menit atau sekitar 17,49% dari waktu pengamatan, aktivitas yang sedikit dilakukan oleh jalak bali jantan aktivitas kawin yang dilakukan selama 0,2 menit atau sekitar 0,03% dari waktu pengamatan, sedangkan untuk aktivitas jalak bali betina aktivitas yang paling banyak dilakukan adalah aktivitas mengerami telur, yaitu selama 366,76 menit atau sekitar 50,94% dari waktu pengamatan disusul dengan aktivitas makan selama 94,45 menit atau sekitar 13,12% dari waktu pengamatan serta untuk aktivitas yang sedikit dilakukan yaitu aktivitas membangun sarang, yaitu selama 0,55 menit atau sekitar 0,08% dari waktu pengamatan. Aktivitas harian jalak bali yang ditunjukkan di Penangkaran UD Anugrah, jalak bali jantan cenderung lebih aktif dan dominan daripada jalak bali betina. Hal ini sesuai dengan pendapat Houpt dan Thomas (1982) dalam Rekapermana et. Al (2006), yang menyatakan bahwa pada umumnya satwa jantan lebih agresif dibandingkan satwa betina, baik dalam hubungan interspecies maupun intraspecies.
Baca lebih lanjut

178 Baca lebih lajut

Model Keberhasilan Penangkaran Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) berdasarkan Peubah Sosial Masyarakat

Model Keberhasilan Penangkaran Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) berdasarkan Peubah Sosial Masyarakat

Keberhasilan penangkaran sudah banyak dikaji dengan melihat dari beragam aspek, seperti aspek ekologi satwa yang ditangkarkan (Teddy 1998; Watiniasih et al. 2011), aspek teknik penangkaran yang dilakukan (Prayana 2012; Purwaningsih 2012; Azis 2013) termasuk karakteristik internal manusia yang menangkarkan (Purnamasari 2013), walaupun penelitian yang mengkaji aspek sosial masyarakat sangat jarang ditemukan. Penelitian mengenai karakteristik manusia umumnya masih bersifat kualitatif, belum terukur secara kuantitatif. Kuantifikasi diperlukan untuk mendeskripsikan data secara kuantitatif, membandingkan, menganalisis hubungan serta melakukan pendugaan atau peramalan. Perlu dilakukan penelitian lebih mendalam terhadap hasil yang diperoleh oleh Purnamasari (2013) mengenai peran setiap peubah dalam keberhasilan penangkaran. Karakteristik manusia yang terukur secara kuantitatif dengan demikian menjadi penting untuk dikaji terkait dengan keberhasilan penangkaran jalak bali di Desa Sumberklampok. Sebagai tambahan dalam peubah yang sudah teridentifikasi oleh Purnamasari (2013), penelitian ini juga menambahkan peubah sosial masyarakat yang berkaitan dengan teknis penangkaran yaitu modal, biaya operasional, curahan waktu dan frekuensi perawatan burung. Peubah-peubah sosial masyarakat yang berperan dalam keberhasilan penangkaran tersebut kemudian akan digunakan dalam merumuskan tipologi penangkar jalak bali yang berhasil. Tipologi penangkar yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi masukan dalam upaya peningkatan keberhasilan kegiatan penangkaran. Berdasarkan uraian tersebut, maka yang menjadi pertanyaan penelitian yaitu:
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Identifikasi Peubah Sosial Penentu Keberhasilan Pelestarian Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912)

Identifikasi Peubah Sosial Penentu Keberhasilan Pelestarian Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912)

Hasil analisis korelasi antara peubah budaya dengan karakteristik responden disajikan pada Tabel 7. Hasil analisis korelasi secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 4. Keanggotaan dalam organisasi penangkar berkorelasi dengan masa mukim dan profesi responden sebagai penangkar. Sebanyak 93,30% anggota organisasi merupakan masyarakat asli Sumberklampok yang lahir dan besar di desa tersebut. Masa mukim responden memiliki korelasi dengan umur responden (Tabel 6) yang kemudian berkaitan pula dengan profesi responden sebagai penangkar. Responden menganggap menjadi seorang penangkar membutuhkan keahlian, ketelitian dan keterampilan yang cukup tinggi sehingga hanya orang- orang tertentu saja yang dinilai mampu menjadi penangkar jalak bali. Amba (1998) menyatakan bahwa keahlian dan ketelitian membutuhkan keterampilan yang didapat melalui pengetahuan. Responden dengan usia yang lebih tua cenderung tidak berkeinginan untuk menjadi penangkar jalak bali. Hal ini sejalan dengan pendapat Lunandi (1989) dalam Amba (1998) yang menyatakan semakin tua usia dapat mengakibatkan timbulnya gangguan dan hambatan fisiologis seperti berkurangnya pendengaran dan penglihatan.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN METODE MOLECULAR SEXING UNTUK PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi).

PENGGUNAAN METODE MOLECULAR SEXING UNTUK PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi).

dengan hasil identifikasi secara morfologi seperti yang ditunjukkan pada sampel 1, 2, 3, 9, 10 dan 21 pada primer P2/P8. Sedangkan pada primer 2550F/2718R perbedaan ditunjukkan pada sampel 1, 3, 9, 10 dan 21. Hal ini membuktikan bahwa identifikasi yang dilakukan secara morfologi pada anakan dapat mengalami kesalahan walaupun dilakukan oleh orang yang sudah ahli sekalipun, ini ditunjukkan pada sampel nomor 1, 2 dan 9, oleh sebab itu perlu teknik PCR untuk mendapatkan hasil yang akurat terutama pada burung Jalak Bali saat usia anakan.

14 Baca lebih lajut

Teknik Pembesaran dan Pertumbuhan Anakan Jalak Bali (Leucopsar rotschildi Stresemann 1912) di Mega Bird and Orchid Farm Bogor.

Teknik Pembesaran dan Pertumbuhan Anakan Jalak Bali (Leucopsar rotschildi Stresemann 1912) di Mega Bird and Orchid Farm Bogor.

Gambar 8 (a) Kandang inkubator, (b) Perlengkapan kandang inkubator Pembersihan inkubator anakan jalak bali dilakukan setiap selesai memberikan pakan atau lolohan dengan menggunakan lap basah, sedangkan perawatan kandang dilakukan ketika terjadi kerusakan pada kandang seperi kawat ram yang patah dan engsel pintu inkubator yang lepas dengan menggunakan obeng dan palu. Suhu inkubator anakan jalak bali berkisar antara C - C dengan kelembaban 71% - 90%. Menurut Nugroho et al. (1996) diacu dalam Marthani (2011), anakan pada fase starter belum memiliki bulu untuk menjaga suhu tubuhnya sehingga anakan membutuhkan suhu lebih tinggi yaitu C - 34º C dan kelembaban 70%. Oleh karena itu, anakan sangat membutuhkan inkubator dalam proses pertumbuhannya dan menjadi aspek penting dalam kegiatan pembesaran. Suhu inkubator di MBOF sudah cukup sesuai untuk pembesaran anakan.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

I.  PENDAHULUAN  PENGGUNAAN METODE MOLECULAR SEXING UNTUK PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi).

I. PENDAHULUAN PENGGUNAAN METODE MOLECULAR SEXING UNTUK PENENTUAN JENIS KELAMIN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rothschildi).

(1998). Sedangkan pada penelitian yang telah dilakukan menggunakan tiga pasang primer P2/P8, 1237L/1272H dan 2550F/2718R yang digunakan oleh Griffiths dkk., (1998), Kahn dkk., (1998), Fridolfsson dan Ellegren (1999) untuk mengidentifikasi jenis kelamin pada burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi).

5 Baca lebih lajut

PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) BERBASIS PELESTARIAN JALAK BALI TERHADAP KEPEDULIAN LINGKUNGAN DAN HASIL PETA KOGNITIF SISWA

PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) BERBASIS PELESTARIAN JALAK BALI TERHADAP KEPEDULIAN LINGKUNGAN DAN HASIL PETA KOGNITIF SISWA

kepedulian dan hasil peta kognitif siswa dalam pelestarian Jalak Bali. Strategi ini didasarkan pada prinsip learning by doing dimana siswa dapat berinteraksi langsung dengan keadaan dilapangan sehingga seluruh indera yang dimilikinya akan difungsikan dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan Mulyani, dkk., (2008), bahwa pendekatan JAS memberikan pengalaman-pengalaman baru yang lebih menyenangkan sehingga dapat membangkitkan siswa untuk bertindak lebih peduli terhadap lingkungan, baik lingkungan sosial maupun alam sekitar.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perbandingan Sistem Penangkaran Jalak Bali (Leucopsar Rothschildi) Di Sistem Lingkungan Terkontrol Dan Semi Alami.

Perbandingan Sistem Penangkaran Jalak Bali (Leucopsar Rothschildi) Di Sistem Lingkungan Terkontrol Dan Semi Alami.

Tidak ada perbedaan jenis biaya di kedua sistem penangkaran jalak bali, namun yang berbeda adalah besaran dan komponen pendukung dari biaya tersebut. Penangkaran jalak bali menggunakan jenis biaya investasi, biaya tetap, dan biaya variabel. Biaya investasi umumnya digunakan dalam waktu yang relative lama, biaya ini berhubungan dengan pembangunan atau pengembangan infrastruktur. Berdasarkan hasil wawancara biaya investasi pada penangkaran jalak bali terdiri dari biaya pengadaan lahan, perijinan, pembuatan kandang, pembangunan pagar, penyediaan sarana dan prasarana kandang. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Kwatrina (2009) pada penangkaran rusa. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran perubahan volume kegiatan tertentu, besar kecilnya biaya ini dipengaruhi oleh strategi manajemen, sedangkan yang termasuk dalam biaya tetap adalah gaji pegawai, operasional perkantoran, dan pemeliharaan sapras. Terakhir adalah biaya variabel yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan per unit konstan, antara lain biaya pakan dan perawatan satwa (Santosa et.al 2012).
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

JUMLAH INDIVIDU JALAK BALI HASIL PELEPAS

JUMLAH INDIVIDU JALAK BALI HASIL PELEPAS

Taman Nasional Bali Barat merupakan habitat terakhir dari Jalak Bali (Leucopsar rothschildi). Didalam mengupayakan kelestariannya di alam, pengelola Taman Nasional Bali Barat melakukan upaya dari penangkaran hingga melepasliarkannya di alam. Salah satu titik pelepasliarannya berada di Resort Teluk Brumbun SPTN wilayah II Taman Nasional Bali Barat yang memiliki luas 2.280,579 Ha. Alasan pemilihan Resort Teluk Brumbun sebagai titik pelepasliaran dikarenakan resort ini berada di zona inti dan zona rimba dari Taman Nasional Bali Barat. Dalam suatu kawasan taman nasional, zona inti merupakan bagian dari taman nasional yang mempunyai kondisi biota dan fisik yang masih alami, atau masih sangat sedikit gangguan dari manusia. Dan fungsi dari zona inti adalah untuk perlindungan keterwakilan keanekaragaman hayati yang asli dan khas. Selain itu, di kawasan Resort Teluk Brumbun terdapat zona rimba yaitu, kawasan yang memiliki ekosistem dan atau keanekaragaman jenis yang mampu menyangga pelestarian zona inti.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Perilaku Perkembangbiakan Burung Jalak Bali (Leucopsar Rotschildi Stresemann 1912) Dalam Penangkaran Di Safari Bird Farm Nganjuk Jawa Timur.

Perilaku Perkembangbiakan Burung Jalak Bali (Leucopsar Rotschildi Stresemann 1912) Dalam Penangkaran Di Safari Bird Farm Nganjuk Jawa Timur.

alat bantu Closed Circuit Television (cctv) sebanyak dua buah yang diletakan di sudut atas kandang dan dihubungkan dengan satu buah laptop dengan Software Sentra Vision Securitiy sehingga tampilan dalam kandang dapat diamati pada layar laptop. Pengamat dapat mengamati perilaku perkembangbiakan jalak bali secara langsung pada hasil yang tampil pada layar laptop mau pun dengan cara pengulangan yaitu menyimpan semua kejadian yang terekam dengan cctv. Setiap perilaku dicatat frekuensi dan durasinya. Pengamatan perilaku dilakukan dengan merekam perilaku jalak bali di kandang mulai pukul 06.00-18.00 WIB setiap hari selama 15 hari. Pencatatan frekuensi dan durasi perilaku dilakukan dengan memutar kembali hasil rekaman video. Pengamatan ini dilakukan menggunakan metode focal animal sampling, yakni dengan mengamati satu individu yang menjadi fokus pengamatan dan mencatat secara rinci semua perilaku yang terjadi pada periode waktu yang ditentukan (Martin dan Bateson 1993). Pencatatan perilaku dilakukan dengan one zero sampling (Lehner 1979), yakni pemberian nilai satu jika ada perilaku yang dilakukan dan pemberian nilai nol jika tidak ada perilaku.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Masalah Pelestarian Jalak Bali

Masalah Pelestarian Jalak Bali

penyebarannya secara hanya terdapat di Nasional Bali Sehingga salah satu tujuan penting dalam pengelolaan Nasional ini adalah untuk melestarikan kehidupan jalak Bali. tetapi dijumpai berbagai kesulitan untuk melestarikan kehidupan jalak Bali Bali karena

8 Baca lebih lajut

Model Kolaborasi Penangkaran Jalak Bali Basis Masyarakat di Desa Sumberklampok, Bali

Model Kolaborasi Penangkaran Jalak Bali Basis Masyarakat di Desa Sumberklampok, Bali

Jalak bali (Leucopsar rothschildi) merupakan satwa khas Indonesia yang penyebarannya secara alami hanya berada di Pulau Bali. Burung ini masuk dalam kategori jenis yang dilindungi oleh pemerintah dan perdagangannya diatur dalam CITES Appendix I, kelompok yang terancam kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan. Populasinya dari tahun ke tahun mengalami penurunan sehingga menuju kepunahan. Menurut Kurniasih (1997), penyebab utama menurunnya populasi jalak bali di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) adalah terganggu keseimbangan lingkungan yang disebabkan antara lain oleh perburuan liar, penurunan kualitas lingkungan hidup dan kebakaran hutan. Selain itu pencurian jalak bali yang terjadi pada tahun 2000 telah mengakibatkan hilangnya 39 ekor jalak bali di TNBB. Hasil inventarisasi TNBB pada tahun 2011 jumlah jalak bali di alam tersisa 12 ekor.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Populasi Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi, Stresemann 1912) Hasil Pelepasliaran di Desa Ped dan Hutan Tembeling Pulau Nusa Penida, Bali

Populasi Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi, Stresemann 1912) Hasil Pelepasliaran di Desa Ped dan Hutan Tembeling Pulau Nusa Penida, Bali

Berdasarkan pengamatan, Jalak Bali paling sering menggunakan Pohon Kelapa baik dari segi frekuensi kehadiran maupun lama penggunaan. Hal ini dimungkinkan karena melimpahnya jumlah Pohon Kelapa di Pulau Nusa Penida memberikan kesempatan bagi Jalak Bali untuk memanfaatkannya. Menurut [13], Jalak Bali di Hutan Tembeling, Nusa Penida paling sering menggunakan Pohon Kelapa untuk bertengger, mencari makan, dan sebagai tempat untuk berlindung dari serangan predator. Pada saat pengamatan pada pagi hari ditemukan juga bahwa Jalak Bali membersihkan bulunya sambil bertengger di pelepah daun kelapa. Jalak Bali termasuk hewan yang menyukai kebersihan. Selain menyukai air untuk membersihkan dirinya, Jalak Bali juga sering membersihkan bulunya dengan menelisik bulunya satu persatu sehingga bersih dan terlihat mengkilap [14].
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

34. BA Evaluasi Penawaran LPSE jl jalak bali

34. BA Evaluasi Penawaran LPSE jl jalak bali

021 8242 6366 BEKASI Kode Pos 17113 BERITA ACARA EVALUASI DOKUMEN PENAWARAN PENGADAAN BARANG/PEKERJAAN KONSTRUKSI DINAS BINA MARGA DAN TATA AIR KOTA BEKASI TAHUN ANGGARAN 2012 No[r]

1 Baca lebih lajut

34. BA hasil lelang lpse  jalak bali

34. BA hasil lelang lpse jalak bali

BERITA ACARA HASIL PELELANGAN TAHUN ANGGARAN 2012 DINAS BINAMARGA DAN TATA AIR KOTA BEKASI Nomor : 602.1/12/PPPKSE.DISBIMARTA-APBD/VII/2012 Pada hari ini Rabu tanggal empat bulan Juli[r]

2 Baca lebih lajut

Show all 7683 documents...