Jamur Beracun

Top PDF Jamur Beracun:

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Puji dan syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah Swt yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi penelitian yang berjudul “Ekplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Gunung Barus” ini telah diselesaikan dengan baik. Skripsi ini merupakan

13 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Hutan di Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat tinggi.Baru dalam beberapa tahun terahir ini, setelah era keemasan kayu bulat terlewati dengan meninggalkan banyak masalah akibat degradasi hutan yang luar biasa berat, Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) mulai mendapat perhatian yang lebih serius. Pergeseran paradigma pengelolaan hutan dari semula berbasis kayu (timber-based management) menjadi berbasis sumberdaya (resource based management) menjadi titik balik arah pembangunan kehutanan. Penelitian tentang Jamur Beracun ini dilaksanakan di Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike. Penelitian ini diharapkan menjadi metode penelitian dasar dalam pengembangan jamur beracun di Indonesia. Penelitian ini memiliki 3 tahap. Tahap yang pertama adalah aspek pengetahuan lokal dengan survei pengetahuan lokal. Tahap yang kedua adalah aspek keanekaragaman hayati dengan analisis pengumpulan data vegetasi. Tahap terakhir adalah aspek fitokimia dengan mendeteksi kandungan metabolit sekunder. Jenis jamur beracunyang ditemukan adalah Trametes versicolor, Ganoderma applanatum, Ganoderma sp. 1, Ganoderma sp. 2, Trametes sp. 1, Colitricia sp dan Trametes sp. 2. Semua sampel yang diidentifikasi mengandung senyawa metabolit sekunder.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Kuisioner Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Identitas Responden 1.. Apa mata pencarian yang anda lakukan untuk memenu[r]

3 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Hutan di Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat tinggi.Baru dalam beberapa tahun terahir ini, setelah era keemasan kayu bulat terlewati dengan meninggalkan banyak masalah akibat degradasi hutan yang luar biasa berat, Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) mulai mendapat perhatian yang lebih serius. Pergeseran paradigma pengelolaan hutan dari semula berbasis kayu (timber-based management) menjadi berbasis sumberdaya (resource based management) menjadi titik balik arah pembangunan kehutanan. Penelitian tentang Jamur Beracun ini dilaksanakan di Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike. Penelitian ini diharapkan menjadi metode penelitian dasar dalam pengembangan jamur beracun di Indonesia. Penelitian ini memiliki 3 tahap. Tahap yang pertama adalah aspek pengetahuan lokal dengan survei pengetahuan lokal. Tahap yang kedua adalah aspek keanekaragaman hayati dengan analisis pengumpulan data vegetasi. Tahap terakhir adalah aspek fitokimia dengan mendeteksi kandungan metabolit sekunder. Jenis jamur beracunyang ditemukan adalah Trametes versicolor, Ganoderma applanatum, Ganoderma sp. 1, Ganoderma sp. 2, Trametes sp. 1, Colitricia sp dan Trametes sp. 2. Semua sampel yang diidentifikasi mengandung senyawa metabolit sekunder.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Hutan di Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat tinggi.Baru dalam beberapa tahun terahir ini, setelah era keemasan kayu bulat terlewati dengan meninggalkan banyak masalah akibat degradasi hutan yang luar biasa berat, Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) mulai mendapat perhatian yang lebih serius. Pergeseran paradigma pengelolaan hutan dari semula berbasis kayu (timber-based management) menjadi berbasis sumberdaya (resource based management) menjadi titik balik arah pembangunan kehutanan. Penelitian tentang Jamur Beracun ini dilaksanakan di Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike. Penelitian ini diharapkan menjadi metode penelitian dasar dalam pengembangan jamur beracun di Indonesia. Penelitian ini memiliki 3 tahap. Tahap yang pertama adalah aspek pengetahuan lokal dengan survei pengetahuan lokal. Tahap yang kedua adalah aspek keanekaragaman hayati dengan analisis pengumpulan data vegetasi. Tahap terakhir adalah aspek fitokimia dengan mendeteksi kandungan metabolit sekunder. Jenis jamur beracunyang ditemukan adalah Trametes versicolor, Ganoderma applanatum, Ganoderma sp. 1, Ganoderma sp. 2, Trametes sp. 1, Colitricia sp dan Trametes sp. 2. Semua sampel yang diidentifikasi mengandung senyawa metabolit sekunder.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Masyarakat pada umumnya juga sangat sulit dalam membedakan mana yang termasuk jamur beracun dan mana yang tidak. Padahal pada sekarang ini sangat mudah untuk membedakannya seperti warna lebih mencolok, baunya kurang sedap, bersifat korosif bila di sayat pada pisau, berubah warna apabila di panaskan (Zubair, 2006).

2 Baca lebih lajut

Ekplorasi Jamur Beracun di Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Ekplorasi Jamur Beracun di Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis jenis jamur beracun yang terdapat pada Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. Waktu penelitian dilakukan selama 4 bulan dimulai dari bulan mei sampai September 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksplorasi atau jelajah. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan penjelajahan pada seluruh bagian Cagar Alam Martelu Purba, dan selanjutnya mengambil sampel jamur yang ditemukan pada saat penjelajahan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitan menunjukan di kawasan Cagar Alam Martelu Purba ditemukan 12 sampel jamur makroskopis yaitu Auricularia auricular, Ganoderma sp., Tyromycetes Floriformes, Colitricia sp, Vascellum sp,, Trametes corruguta, Cantharellus sp, Xylaria polymorpha, Sarcoscypha coccinea., Polyporus arcularius, Trametes sp, Lycoperdon sp. Ke 12 jamur tersebut tergolong dalam 5 famili : Polyporaceae, Cantharellaceae, Lycoperdaceae, Xylariaceae, dan Sarcoscyphaceae. Pada pengujian steroida dan terpenoida menunjukkan 11 jenis jamur mengandung senyawa terpen kecuali jenis Colitricia. Semua jenis jamur mengandung Alkaloid dan tidak mengandung fenolik. Dan pada uji saponin terdapat 3 jenis jamur yaitu Vascellum sp, Sarcoscypha coccinea, Trametes sp.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Hutan di Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat tinggi.Baru dalam beberapa tahun terahir ini, setelah era keemasan kayu bulat terlewati dengan meninggalkan banyak masalah akibat degradasi hutan yang luar biasa berat, Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) mulai mendapat perhatian yang lebih serius. Pergeseran paradigma pengelolaan hutan dari semula berbasis kayu (timber-based management) menjadi berbasis sumberdaya (resource based management) menjadi titik balik arah pembangunan kehutanan. Penelitian tentang Jamur Beracun ini dilaksanakan di Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike. Penelitian ini diharapkan menjadi metode penelitian dasar dalam pengembangan jamur beracun di Indonesia. Penelitian ini memiliki 3 tahap. Tahap yang pertama adalah aspek pengetahuan lokal dengan survei pengetahuan lokal. Tahap yang kedua adalah aspek keanekaragaman hayati dengan analisis pengumpulan data vegetasi. Tahap terakhir adalah aspek fitokimia dengan mendeteksi kandungan metabolit sekunder. Jenis jamur beracunyang ditemukan adalah Trametes versicolor, Ganoderma applanatum, Ganoderma sp. 1, Ganoderma sp. 2, Trametes sp. 1, Colitricia sp dan Trametes sp. 2. Semua sampel yang diidentifikasi mengandung senyawa metabolit sekunder.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

keterangan yang diperoleh, terdapat tiga suku secara umum di antaranya suku Jawa, Karo, dan Batak Toba. Ketiga masyarakat etnis tersebut masih memiliki kearifan lokal tentang pemanfaatan jamur makroskopis tersebut tetapi hanya sedikit. Biasanya masyarakat yang berada di sekitar Hutan Pendidikan Gunung Barus hanya memanfaatkan jamur sebagai pangan terutama lalapan. Sebagian besar masyarakat di sekitar Hutan Pendidikan Gunung Barus bermata pencarian sebagai petani (90%), selain itu ada pula bermata pencarian sebagai peternak, PNS, dan pengrajin (10%). Pada penelitian ini, hanya dua desa yang dijadikan sebagai sampel desa, yaitu Desa Basam dan Desa Barusjulu. Penelitian diawali dengan observasi lapangan dan dilanjutkan dengan wawancara kepada masyarakat desa. Wawancara dilakukan dengan memberikan kuisoner kepada 5 responden ataupun informan kunci yang masih memiliki keterkaitan dengan Hutan Pendidikan Gunung Barus. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, diketahui bahwa hanya 1 orang penduduk dari Desa Basam dan 2 orang penduduk dari Desa Barusjulu yang mengetahui keberadaan jamur makroskopis dan nama lokalnya. Menurut penduduk desa tersebut jamur beracun dapat menimbulkan bau yang agak menyengat dan membuat pusing, warnanya terang dan biasanya putih. Apabila jamur tersebut dikonsumsi, maka akan menimbulkan diare atau kehilangan cairan tubuh. Masyarakat yang berada di sekitar Hutan Pendidikan Gunung Barus, lebih mengenal jamur dengan sebutan Dawan.
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

baku kimia untuk membasmi organisme pengganggu tanaman (OPT). Penggunaan pestisida buatan tersebut dapat memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung pada lahan maupun hasil pertanian. Secara umum, masyarakat dapat mengurangi organisme pengganggu tanaman dengan cepat. Hanya saja, pada hasil pertanian tersebut akan terkandung bahan kimia yang berbahaya sehingga dapat mengganggu kesehatan. Oleh karena itu, munculnya pemikiran-pemikiran untuk mencari alternatif lain dimana salah satunya dengan memanfaatkan jamur beracun sebagai biopestisida alami.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Sebagian besar masyarakat di sekitar Hutan Pendidikan Gunung Barus bermata pencarian sebagai petani. Upaya yang dilakukan petani tersebut untuk membasmi organisme pengganggu tanaman masih menggunakan pestisida kimia, sehingga dapat merusak lahan dan hasil pertanian. Pada akhirnya hasil pertanian tersebut dapat membahayakan kesehatan. Disamping itu, biaya produksi yang dikeluarkan akan semakin besar. Oleh karena itu, timbul alternatif untuk memanfaatkan jamur sebagai pestisida. Ada beberapa tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi jenis-jenis jamur beracun, mengetahui Keanekaragaman jenis jamur yang mengandung racun (toksin), menganalisis kandungan fitokimia yang terdapat pada beberapa jenis jamur beracun, dan mengeanalisis potensi pengembangan jamur beracun di Hutan Pendidikan Gunung Barus. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dengan petak ukur. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat 18 jenis jamur makroskopis dan sebanyak 14 jenis jamur yang dilakukan pegujian fitokimia untuk mengetahui kandungan metabolit sekundernya, di antaranya 9 jenis yang mengandung Alkaloid, tidak ada jenis yang mengandung flavonoid, steroid-terpenoid, dan 6 jenis jamur yang mengandung saponin. Berdasarkan analisis vegetasi, diketahui jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi adalah Mara smius siccus, sedangkan jenis yang memiliki Indeks Nilai Penting terendah adalah Amanita sp2. Dari data analisis vegetasi tersebut juga diperoleh indeks keanekaragaman jenis sebesar 2,18. Jamur yang dapat dibudidayakan merupakan jamur yang memiliki senyawa metabolit yang lebih kompleks seperti Amanita sp1. dan Psathyrella bipellis. Kondisi lingkungannya sesuai dengan pertumbuhan kedua jamur tersebut.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Cortinarius merupakan genus yang memiliki kurang lebih 800 spesies di Amerika Utara. Sejak peristiwa keracunan pertama karena spesies C. Orellanus, Cortinarius banyak ditemukan mengandung racun Orellanine. The Lethal webcaps, dua spesies genus Cortinarius, yang termasuk dalam jamur beracun di dunia yaitu The Deadly Webcap (Cortinarius rubellus) dan The Fool's Webcap (C. Orellanus). Gejala keracunan yang umum adalah sakit kepala terus-menerus, menggigil, kelesuan, kelelahan, ketidaknyamanan muskuloskeletal dan sendi dan kurangnya nafsu makan disertai dengan oligura gagal ginjal yang progresif, atau lebih jarang poliuria, dan akhirnya anuria. Pada pemeriksaan laboratorium, tanda- tanda gagal ginjal terbukti nyata.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun yang Berpotensi Sebagai Bahan Biopestisida di Hutan Pendidikan Gunung Barus Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Lestari, Fajar. 2012. Pestisida nabati sebagai alternatif pengganti pestisida kimia sintetik. http://foreibanjarbaru.or.id/. diakses pada tanggal 27 Februari 2013 Mahardika, B. P. 2008. Klasifikasi jamur ke dalam kelas dapat dikonsumsi atau beracun menggunakan algoritma vfi 5 (studi kasus : famili agaricus dan lepiota). Laporan akhir Departemen ilmu komputer, Fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam Institut pertanian bogor

5 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Jamur yang bermanfaat tentu saja ialah jamur pangan (edible mushrooms) dan jamur obat (medicinal mushrooms). Jamur pangan misalnya, jamur merang (Volvarfelia votvacea), jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dan jamur kuping (Auricularia auricula). Jamur rayap (Termitomyces sp.), di samping sebagai jamur pangan, juga dapat berkhasiat sebagai obat, karena dapat memperkuat perut dan menyembuhkan ambeyen (bawazir) . Jamur-jamur pangan ini selain enak rasanya, juga bemilai gizi tinggi, karena mengandung asam amino esensial yang relatif lengkap (Winaro, et al., 1999).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Eksplorasi Jamur Beracun Pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Sicike-cike, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara

Keanekaragaman Vegetasi Tanaman Obat di Hutan Pendidikan Universitas Sumatera Utara Kawasan Taman Hutan Raya Tongkoh Kabupaten Karo Sumatera Utara.. Sentra Informasi Keracunan Nasional B[r]

2 Baca lebih lajut

Ekplorasi Jamur Beracun di Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Ekplorasi Jamur Beracun di Cagar Alam Martelu Purba Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Jamur memerlukan makanan dari zat-zat yang terkandung dalam kayu seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin dan zat isi sel lainnya. Selulosa, hemiselulosa, lignin yang menyusun kayu terdapat sebagai makromolekul yang terlalu besar dan tidak larut dalam air untuk diasemilasi langsung oleh jamur (Tambunan dan Nandika, 1989).

9 Baca lebih lajut

PENGELOLAAN LIMBAH BERBAHAYA DAN BERACUN

PENGELOLAAN LIMBAH BERBAHAYA DAN BERACUN

Yang dimaksud ddengan kecelakaan dalam ayat ini adalah lepas/tumpahnya bahan berbahaya dan beracun atau limbah B3 ke dalam lingkungan yang perlu ditanggulangi secara cepat dan tepat untuk mencegah meluasnya dampak akibat tumpahan limbah B3 tersebut, sehingga dapat dicegah meluasnya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan serta terganggunya kesehatan manusia.

0 Baca lebih lajut

PERMENLH 18 2009 LAMP 1

PERMENLH 18 2009 LAMP 1

Kepada Yth : Deputi MENLH Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun di Tempat Dengan ini kami mengajukan permohonan rekomendasi pengangkut[r]

2 Baca lebih lajut

Show all 3336 documents...

Related subjects