Jenis Serangga

Top PDF Jenis Serangga:

INDEKS KERAGAMAN JENIS SERANGGA PADA TAN (3)

INDEKS KERAGAMAN JENIS SERANGGA PADA TAN (3)

Berdasarkan kriteria tersebut ekosistem tanaman stroberi pada fase vegetatif tergolong tidak stabil (rendah). Nilai keragaman jenis serangga tertinggi pada yaitu 1,03 pada pengamatan I dan hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan pada pengamatan I tergolong sedang. Menurut Untung (1996) bahwa keadaan agro-ekosistem tidak stabil dan selalu berubah karena tindakan manusia untuk mengolah dan mengelola ekosistem untuk kepentingannya. Dalam keadaan demikian diekosistem pertanian sangat mudah terjadi peningkatan populasi hama.

69 Baca lebih lajut

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Untuk mengetahui keanekaragaman jenis serangga pada suatu tempat yakni menentukan indeks keanekaragamannya, sangatlah diperlukan pengetahuan atau keterampilan dalam mengindentifikasi hewan (serangga). Bagi seseorang yang sudah terbiasa pun dalam melakukan identifikasi hewan sering membutuhkan waktu yang lama, apalagi yang belum terbiasa. Karena itu untuk kajian dalam komunitas dan indeks keanekaragaman sering didasarkan pada kelompok hewan, misalnya, famili, ordo atau kelas dan hal ini pun dibutuhkan cukup keterampilan dan pengalaman (Michael, 1995).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Tanaman Stroberi Flagariasp.. Universitas Sumatera Utara, Medan.[r]

2 Baca lebih lajut

Peranan Beberapa Jenis Serangga Sebagai Vektor Penyakit Darah pada Tanaman Pisang

Peranan Beberapa Jenis Serangga Sebagai Vektor Penyakit Darah pada Tanaman Pisang

Penyakit darah pada pisang yang disebabkan oleh blood disease bacterium (BDB) masih menjadi masalah serius di Indonesia. Bakteri ini termasuk patogen sangat merusak dengan sebaran penyakit yang luas. Diduga bahwa serangga pengunjung bunga pisang berperan dalam penyebaran penyakit darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kelimpahan dan mengidentifikasi jenis-jenis serangga pengunjung bunga pisang yang terserang penyakit darah pisang (BDB) di Kabupaten Pidi, Banda Aceh. Selanjutnya dibahas hubungan kelimpahan serangga dengan kejadian penyakit darah pisang. Penelitian diawali dengan survei pada sentra produksi pisang yang terserang penyakit darah. Penangkapan serangga dilakukan dengan menggunakan jaring serangga (sweep net) dan perangkap lekat (sticky trap) berwarna kuning yang digantungkan dekat bunga pisang. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa jenis-jenis serangga yang tertangkap di Desa Capah Paloh 1, Capah Paloh 2, Simpang Betung 1, Simpang Betung 2 dan Pante Cermin adalah dari ordo Diptera dan Hymenoptera. Jumlah serangga yang dominan tertangkap adalah Famili Drosophilidae, Muscidae dan Tephritidae dari Ordo Diptera. Kejadian penyakit di kelima desa contoh menunjukkan bahwa persentase kejadian penyakit darah pisang tertinggi terjadi di Desa Simpang Betung 1 yaitu 96.90% dan persentasi terendah terjadi di Desa Pante Cermin yaitu 40.68%. Rataan kejadian penyakit dari kelima desa contoh adalah 80.36%. Terdapat hubungan korelasi antara kelimpahan serangga Drosophilidae dengan kejadian penyakit darah pisang. Data sekunder diperoleh dengan mewawancarai petani. Hasil survey menunjukkan bahwa usaha tani pisang dikelola pada lahan seluas 2-< 3 ha. Sebahagian lahan merupakan milik sendiri. Pengalaman usaha tani pisang berkisar antara 6 - 10 tahun dan seluruh petani mengetahui adanya penyakit yang menyerang tanaman pisang. Pengetahuan mengenai penyakit darah pisang sama sekali tidak ada karena petani belum pernah mendapatkan penyuluhan mengenai penyakit darah pisang dan bagaimana cara mengendalikannya.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Jenis Serangga Diurnal Pada Tanaman Penutup Tanah Mucuna bracteata Di Pertanaman  Kelapa Sawit Di Areal Perkebunan PT. Tolan Tiga Kerasaan Estate Kabupaten Simalungun

Keanekaragaman Jenis Serangga Diurnal Pada Tanaman Penutup Tanah Mucuna bracteata Di Pertanaman Kelapa Sawit Di Areal Perkebunan PT. Tolan Tiga Kerasaan Estate Kabupaten Simalungun

Tabel 2 menunjukkan perbedaan jumlah populasi serangga yang berbeda setiap minggunya, populasi yang tertinggi pada pengamatan minggu ke- VII (153 ekor) dan terendah pada pengamatan minggu ke- I (96 ekor). Banyaknya jenis serangga merugikan tertinggi selama delapan minggu pengamatan terdapat pada famili Chrysomelidae, Cicadellidae, Membracidae, dan Acridiidae sebanyak 8. Banyaknya jenis serangga predator tertinggi selama delapan minggu pengamatan terdapat pada famili Formicidae sebanyak 8, terendah terdapat pada famili Cucujidae sebanyak 2, sedangkan jenis serangga parasitoid tertinggi terdapat pada famili Braconidae sebanyak 1. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah jenis serangga yang merugikan tinggi. Sementara itu jumlah serangga predator dan parasitoid rendah. Ini menunjukkan bahwa adanya campur tangan manusia dalam praktek budidaya guna mendapatkan hasil yang maksimal. Mengakibatkan populasi serangga parasitoid dan predator berkurang. Menurut Altieri dan Nichols (2004) dalam Mudjiono dkk (2007) menyatakan bahwa ekosistem dan praktek budidaya akan berpengaruh terhadap tingkat keanekaragaman pengendali alami dan kelimpahan serangga hama, yang memiliki arti dalam meningkatkan kesetabilan dan keberlanjutan ekosistem.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Anna Sari Siregar. 2014. ”INDEK S KEANEKARAGAMAN JENIS SERANGGA DI BERBAGAI TIPE LAHAN” , di bawah bimbingan Darma Bakti dan Fatimah Zahara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenisjenis hama penting yang terdapat pada jagung, kacang panjang dan padi serta untuk mengetahui jenis keanekaragaman serangga di berbagai lahan. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Kampung Susuk dan Laboratorium Hama Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan pada bulan Januari 2014 sampai Februari 2014. Penelitian ini menggunakan 3 teknik perangkap serangga (Sweep Net, Pitfall Trap, Light Trap).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Anna Sari Siregar. 2014. ”INDEKS KEANEKARAGAMAN JENIS SERANGGA DI BERBAGAI TIPE LAHAN” , di bawah bimbingan Darma Bakti dan Fatimah Zahara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenisjenis hama penting yang terdapat pada jagung, kacang panjang dan padi serta untuk mengetahui jenis keanekaragaman serangga di berbagai lahan. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Kampung Susuk dan Laboratorium Hama Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan pada bulan Januari 2014 sampai Februari 2014. Penelitian ini menggunakan 3 teknik perangkap serangga (Sweep Net, Pitfall Trap, Light Trap).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Untuk mengetahui keanekaragaman jenis serangga pada suatu tempat yakni menentukan indeks keanekaragamannya, sangatlah diperlukan pengetahuan atau keterampilan dalam mengindentifikasi hewan (serangga). Bagi seseorang yang sudah terbiasa pun dalam melakukan identifikasi hewan sering membutuhkan waktu yang lama, apalagi yang belum terbiasa. Karena itu untuk kajian dalam komunitas dan indeks keanekaragaman sering didasarkan pada kelompok hewan, misalnya, famili, ordo atau kelas dan hal ini pun dibutuhkan cukup keterampilan dan pengalaman (Michael, 1995).
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Indeks Keragaman Jenis Serangga Pada Tanaman Stroberi (Fragaria Sp ) Di Lapangan

Indeks Keragaman Jenis Serangga Pada Tanaman Stroberi (Fragaria Sp ) Di Lapangan

Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa pada pengamatan I, II, IV dan ke V indeks keragaman serangga yang diamati tergolong tidak stabil. Dari tabel juga dapat dilihat bahwa nilai keragaman serangga pada setiap periode pengamatan mengalami perubahan. Naik turunnya nilai keragaman jenis serangga diduga erat kaitannya dengan pengaplikasian pestisida. Hal ini didasarkan pada fungsi utama pestisida itu sendiri yang ditujukan untuk mengendalikan populasi hama yang secara langsung berdampak pada serangga keseluruhan. Terjadinya kenaikan yang cukup cepat ini sebagai kemungkinan adanya resistensi dan resurgensi hama sebagai akibat lain dari penggunaan pestisida.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Inventarisasi Jenis Serangga Tanah dengan Menggunakan Metode PitFall Trap di Kawasan Arboretum Nyaru Menteng Palangka Raya. - Digital Library IAIN Palangka Raya

Inventarisasi Jenis Serangga Tanah dengan Menggunakan Metode PitFall Trap di Kawasan Arboretum Nyaru Menteng Palangka Raya. - Digital Library IAIN Palangka Raya

Tujuan penelitian tentang inventarisasi serangga tanah di kawasan Arboretum Nyaru Menteng ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis serangga tanah, untuk mengetahui jenis serangga tanah yang mendominasi, untuk mengetahui indeks keanekaragaman dari serangga tanah dan untuk mengetahui korelasi antara faktor abiotik dan biotik di Kawasan Arboretum Nyaru Menteng Palangka Raya. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan teknik eksplorasi yaitu segala cara untuk menetapkan lebih teliti atau seksama dalam suatu penelitian dan dokumentasi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Pertanaman     Coffea arabica L. Setelah Erupsi Abu Vukanik Gunung     Sinabung di Kabupaten Karo

Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Pertanaman Coffea arabica L. Setelah Erupsi Abu Vukanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo

SERANGGA PADA PERTANAMAN Coffea arabica L. SETELAH ERUPSI ABU VULKANIK GUNUNG SINABUNG DI KABUPATEN KARO”, di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Darma Bakti MS dan Dr. Ir. Marheni MP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis serangga pada lahan pertanaman kopi arabika yang terkena erupsi abu vulkanik dan untuk mengetahui hama penting dan musuh alami pada lahan pertanaman kopi pada lahan terkena erupsi. Penelitian ini dilaksanakan di 3 Desa di Kec. Simpang Empat, Kab. Karo dan 1 Desa di Kab. Dairi. dan Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Sumatera Utara, Medan pada bulan Agustus sampai Oktober 2015. Penelitian ini menggunakan 4 teknik perangkap serangga (Sweep Net, Pitfall Trap,Yellow Sticky Trap dan Handpicking), dan diulang sebanyak empat kali.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Pertanaman Coffea arabica L. Setelah Erupsi Abu Vukanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo

Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Pertanaman Coffea arabica L. Setelah Erupsi Abu Vukanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo

Pada lahan tidak terkena erupsi abu vulkanik diketahui bahwa nilai frekuensi mutlak dan frekuensi relatif tertinggi terdapat pada family Vespidae, pentatomidae, reduviidae, braconidae, formicidae, halictidae, ichneumonidae, pompilidae, agromyzidae, bombylidae, culicidae, muscidae, tachinidae, tephritidae, cicadellidae, coccidae, delphacidae, noctuidae, papilionidae, sciaridae, scarabidae, scolytidae, gryllidae, gryllotalpidae, ghomphidae, chelisachidae dengan nilai FM = 4 dan FR = 3.539823%. Nilai tersebut karena serangga tersebut sering hadir dalam lahan pengamatan dan penyebaran serangga tersebut luas di daerah lahan pertanaman kopi. Hal ini sesuai dengan Purba (2010) yang menyatakan bahwa frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Serangga ditemukan hampir di semua ekosistem. Semakin banyak tempat dengan berbagai ekosistem maka terdapat jenis serangga yang beragam. Serangga yang berperan sebagai pemakan tanaman disebut hama, tetapi tidak semua serangga berbahaya bagi tanaman. Ada juga serangga berguna seperti serangga penyerbuk, pemakan bangkai, predator dan parasitoid. setiap serangga mempunyai sebaran khas yang dipengaruhi oleh biologi serangga, habitat dan kepadatan populasi (Putra, 1994).

4 Baca lebih lajut

Indeks Keragaman Jenis Serangga Pada Pertanaman Padi (Oryza Sativa L.) di Lapangan

Indeks Keragaman Jenis Serangga Pada Pertanaman Padi (Oryza Sativa L.) di Lapangan

Pada penelitian ini, kumbang predator Carabidae penyebarannya tinggi setelah padi pada fase generatif. Hal ini disebabkan vegetasi padi menjadi terbuka dan cahaya memasuki semua penjuru habitatnya. Kondisi seperti ini menyebabkan kumbang menyebar mencari habitat yang lebih teduh dan lembab. Serangga predator tersebut menyebar ke vegetasi yang tumbuh di lahan pinggir. Predator dapat pindah dari satu habitat ke habitat yang lainnya, karena predator mempunyai kemampuan berpindah yang tinggi, Herlinda (2004) melaporkan bahwa perpindahan predator antar habitat tersebut karena mengikuti ketersediaan mangsa di suatu habitat.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Di Berbagai Tipe Lahan

Lampiran 2 : Foto Perangkap Perangkap Jaring Sweep net Perangkap Jatuh fit fall trap.[r]

22 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Pertanaman Coffea arabica L. Setelah Erupsi Abu Vukanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo

Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Pertanaman Coffea arabica L. Setelah Erupsi Abu Vukanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo

nyata. Proses pembuatan lubang yang dilakukan oleh X. compactus menyebabkan ujung ranting layu, menguning dan mati. Serangan X. compactus dicirikan oleh adanya lubang gerek berdiameter sekitar 1-2 mm pada permukaan ranting tanaman kopi hingga mencapai panjang 20-50 mm. Lubang gerek dibuat oleh X. compactus betina dewasa sebagai tempat tinggalnya. Setelah menggerek, serangga betina meletakkan telur dalam lubang tersebut hingga menetas dan sampai tumbuh dewasa. Larva yang berada di dalam lubang gerek tidak memakan jaringan tanaman tetapi memakan jamur ambrosia (Fusarium solani) yang tumbuh dan berkembang dalam lubang gerek. Spora jamur tersebut dibawa oleh X. compactus betina dewasa sewaktu menggerek lubang. Aktivitas larva ketika makan jamur tersebut menyebabkan rusaknya jaringan tanaman pada lubang,
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ISOLASI BACILLUS THURINGIENSIS DARI TANAH DI LAMPUNG

ISOLASI BACILLUS THURINGIENSIS DARI TANAH DI LAMPUNG

thuringiensis (Bt). Bakteri ini tergolong dalam bakteri gram positif dan koloninya berwarna putih. Ciri khas pembeda Bt dengan spesies Bacillus yang lain adalah adanya protein kristal. Bt hidup di dalam tanah, permukaan daun dan di tubuh serangga. Penelitian ini bertujan untuk mendapatkan isolat Bt dari tanah di Lampung. Metode yang dilakukan yaitu dengan cara mencampur sampel tanah (dari 6 kabupaten di propinsi Lampung) dengan gerusan serangga (15 jenis serangga dari beberapa ordo) yang diduga berasosiasi dengan Bt. Sampel tanah dan gerusan serangga yang diisolasi terlebih dahulu disuspensikan, kemudian dipanaskan pada suhu 65 O C, dengan tujuan mendapatkan isolat dari genus
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Jenis Peranan dan Pengelolaan Serangga S

Jenis Peranan dan Pengelolaan Serangga S

Beberapa jenis serangga berasosiasi dengan tanaman jambu mete. Serangga-serangga tersebut dikelompokan ke dalam serangga fitofag, musuh alami (parasitoid dan predator) dan penyerbuk. Serangga fitofag seperti Helopeltis spp., Sanurus indecora, Placoderus ferrugineus, Anastrepha fraterculus, dan Cricula trifenestrata dilaporkan menjadi kendala produksi jambu mete di Indonesia dan beberapa negara lain. Musuh alami yang penting adalah parasitoid telur yaitu Mesocomis orientalis, Trichogramma sp. Aphanomerus sp, parasitoid pupa Brachymeria sp. dan Tetrastichus sp. serta parasitoid imago dari famili Epipyropidae, sedangkan predator di antaranya adalah semut, Chilomenes lunata, Sphodromantis lineola, Tarachodes afzelii, dan Amorphoscelis sp. Di samping musuh alami, kehadiran serangga penyerbuk seperti Apis mellifera dan Centris tarsata sangat penting mengingat jambu mete memerlukan bantuan serangga untuk pembentukan buah. Pengetahuan mengenai asosiasi yang komplek antara serangga dengan tanaman jambu mete perlu diketahui untuk strategi pengelolaannya di lapangan. Pengelolaan serangga fitofag diarahkan pada upaya penekanan populasinya dengan memaksimalkan peran musuh alami. Teknik manipulasi ekosistem jambu mete seperti pengelolaan vegetasi liar, pemangkasan, dan tumpangsari dapat dikembangkan untuk mendorong peran musuh alami yang lebih baik. Teknik tersebut juga diharapkan akan memikat serangga-serangga penyerbuk mengunjungi pertanaman jambu mete. Di samping itu, tindakan yang dapat mengganggu kehidupan alami seperti penggunaan insektisida harus dikurangi. Insektisida hanya digunakan jika peran musuh alami kurang berhasil dan populasi serangga fitofag berada pada taraf yang merugikan. Monitoring secara berkala terhadap serangga-serangga yang berasosiasi dengan jambu mete menjadi kunci penting untuk pengambilan keputusan berikutnya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Insect Diversity at the Forest Margin-Rice Field Interface:Indicator for a Healthy Ecosystem

Insect Diversity at the Forest Margin-Rice Field Interface:Indicator for a Healthy Ecosystem

Keanekaragaman hayati yang ada pada ekosistem pertanian seperti persawahan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu dalam sistem perputaran nutrisi, perubahan iklim mikro, dan detoksifikasi senyawa kimia (Altieri 1999). Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati juga memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivor, karnivor, dan detrivor (Strong et al. 1984). Serangga herbivor merupakan faktor penyebab utama dalam kehilangan hasil, baik secara langsung memakan jaringan tanaman atau sebagai vektor dari patogen tanaman (Kirk-Spriggs 1990). Di samping itu sebenarnya terdapat fungsi lain dari serangga yaitu sebagai bioindikator. Jenis serangga ini mulai banyak diteliti karena bermanfaat untuk mengetahui kondisi kesehatan suatu ekosistem. Serangga akuatik selama ini paling banyak digunakan untuk mengetahui kondisi pencemaran air pada suatu daerah. Tidak adanya serangga Ephemeroptera menandakan lingkungan tersebut telah tercemar, karena serangga ini tidak dapat hidup pada habitat yang sudah tercemar (Samways 1994). Serangga lainnya yang juga berpotensi sebagai bioindikator di antaranya Lepidoptera yaitu sebagai indikator terhadap perubahan habitat di Afrika Selatan (Holloway & Stork 1991), kumbang Carabidae sebagai bioindikator manajemen lahan pertanian (Kromp 1990) dan spesies semut untuk indikator kondisi agroekosistem pada suatu daerah (Peck et al. 1998).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Serangga pada Lahan Persawahan - Tepian Hutan: Indikator untuk Kesehatan Lingkungan

Keanekaragaman Serangga pada Lahan Persawahan - Tepian Hutan: Indikator untuk Kesehatan Lingkungan

Keanekaragaman hayati yang ada pada ekosistem pertanian seperti persawahan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu dalam sistem perputaran nutrisi, perubahan iklim mikro, dan detoksifikasi senyawa kimia (Altieri 1999). Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati juga memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivor, karnivor, dan detrivor (Strong et al. 1984). Serangga herbivor merupakan faktor penyebab utama dalam kehilangan hasil, baik secara langsung memakan jaringan tanaman atau sebagai vektor dari patogen tanaman (Kirk-Spriggs 1990). Di samping itu sebenarnya terdapat fungsi lain dari serangga yaitu sebagai bioindikator. Jenis serangga ini mulai banyak diteliti karena bermanfaat untuk mengetahui kondisi kesehatan suatu ekosistem. Serangga akuatik selama ini paling banyak digunakan untuk mengetahui kondisi pencemaran air pada suatu daerah. Tidak adanya serangga Ephemeroptera menandakan lingkungan tersebut telah tercemar, karena serangga ini tidak dapat hidup pada habitat yang sudah tercemar (Samways 1994). Serangga lainnya yang juga berpotensi sebagai bioindikator di antaranya Lepidoptera yaitu sebagai indikator terhadap perubahan habitat di Afrika Selatan (Holloway & Stork 1991), kumbang Carabidae sebagai bioindikator manajemen lahan pertanian (Kromp 1990) dan spesies semut untuk indikator kondisi agroekosistem pada suatu daerah (Peck et al. 1998).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects