Jumlah Dewan Komisaris dan Kepemilikan Institusional

Top PDF Jumlah Dewan Komisaris dan Kepemilikan Institusional:

PERATAAN LABA TERHADAP REAKSI PASAR DENGAN MEKANISME GCG DAN CSR DISCLOSURE

PERATAAN LABA TERHADAP REAKSI PASAR DENGAN MEKANISME GCG DAN CSR DISCLOSURE

Beberapa hal yang terkait dengan mekanisme corporate governance adalah kepemilikian manajerial, kepemilikan institusional, dan peran dewan komisaris (jumlah dewan komisaris serta independensi dewan komisaris). Untuk meminimumkan biaya keagenan, dapat dilakukan dengan cara: Pertama, memperbesar kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen (managerial ownership) (Jensen dan Meckling, 1976), sehingga kepentingan pemilik atau pemegang saham akan dapat disejajarkan dengan kepentingan manajer. Kedua, kepemilikan saham oleh investor institusional. Moh’d et al. (1998) dalam Pratana dan Mas’ud (2003) menyatakan bahwa investor institusional merupakan pihak yang dapat memonitor agen dengan kepemilikannya yang besar, sehingga motivasi manajer untuk mengatur laba menjadi berkurang. Ketiga, melalui peran monitoring oleh dewan komisaris (board of directors).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, STRUKTUR DEWAN KOMISARIS, KUALITAS AUDIT DAN KOMITE AUDIT TERHADAP TAX AVOIDANCE.

PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, STRUKTUR DEWAN KOMISARIS, KUALITAS AUDIT DAN KOMITE AUDIT TERHADAP TAX AVOIDANCE.

Berdasarkan uji t menunjukkan bahwa jumlah dewan komisaris mempunyai nilai signifikansi α = 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel jumlah dewan komisaris berpengaruh signifikan terhadap book tax gap. Selain itu berdasarkan nilai B atau beta jumlah dewan komisaris berarah positif (0.479) terhadap tax avoidance. Sedangkan menurut teori jumlah dewan komisaris memiliki arah yang negatif yang berarti tingginya angka DK maka nilai BTG akan rendah bagitu pula sebaliknya. Hasil ini patut diduga karena dikontribusi dengan karakter data yang diolah yang sama dengan hasil penelitian. Sebagai contoh dengan nilai rata – rata BTG = 11.1024 dan rata – rata DK = 4.1649, sedangkan pada sampel terdapat perusahaan yang memiliki data ekstrim, yaitu perusahaan ASII yang memiliki nilai DK = 10 dan nilai BTG = 16.91190231 yang berarti nilai DK yang tinggi maka akan tinggi pula tax avoidance. Contoh lain perusahaan dengan kode LAPD, LMPI, IKAI, dll yang memiliki nilai DK terendah yaitu 2 dan memiliki nilai Y = 0, maka memiliki pengaruh jumlah dewan komisaris yang rendah akan rendah pula tax avoidance nya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGARUH TINGKAT PROFITABILITAS, LEVERAGE, JUMLAH DEWAN KOMISARIS INDEPENDEN DAN KEPEMILIKAN INSTITUSIONALTERHADAP PENGUNGKAPAN INTERNET FINANCIAL REPORTING(IFR) (Studi pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Dasar dan Kimia yang terdaftar di BEI perio

PENGARUH TINGKAT PROFITABILITAS, LEVERAGE, JUMLAH DEWAN KOMISARIS INDEPENDEN DAN KEPEMILIKAN INSTITUSIONALTERHADAP PENGUNGKAPAN INTERNET FINANCIAL REPORTING(IFR) (Studi pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Dasar dan Kimia yang terdaftar di BEI perio

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris pengaruh profitabilitas, leverage, jumlah dewan komisaris independen dan kepemilikan institusional terhadap internet financial reporting (IFR).Sampel dalam penelitian ini perusahaan manufaktur industri dasar dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji analisis regresi berganda dan uji hipotesis dengan tingkat signifikan (α) 0,05. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa profitabilitas, leverage dan jumlah dewan komisaris berpengaruh positif terhadap internet financial reporting (IFR).Sedangkan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap internet financial reporting (IFR).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENGARUH INTERDEPENDENSI MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA PERBANKAN

PENGARUH INTERDEPENDENSI MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA PERBANKAN

Secara simultan Komisaris Independen berpengaruh negatif signifikan terhadap efisiensi perbankan (0.068 < 0.10) dengan arah tidak sesuai prediksi, namun secara parsial tidak berpengaruh ( p-value = 0.857 > 0.10). Fakta tersebut menunjukkan komisaris independen lebih efektif jika proporsinya relatif kecil dan keefektifan tersebut hanya terjadi ketika bersama-sama mekanisme corporate governance lainnya. Hasil ini bertentangan dengan Mizruchi (1983) serta Daily dan Dalton (1994) yang menyebutkan independensi dewan komisaris mampu meningkatkan kinerja perusahaan, dengan kata lain semakin besar jumlah komisaris independen mendominasi dewan komisaris, kinerja semakin meningkat. Hasil yang bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa semakin banyak anggota dewan komisaris independen semakin baik efisiensi perusahaan menarik untuk dikaji ulang dalam penelitian selanjutnya. Salah satu sebab yang dapat dikemukakan di sini adalah peran komisaris independen berkaitan dengan peran investor institusional dalam memonitor kinerja manajer. Ketika kepemilikan institusional diperlakukan secara parsial berpengaruh positif signifikan namun ketika secara simultan bersama komisaris independen tidak berpengaruh, justru komisaris independen yang berpengaruh. Hal tersebut membuktikan
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Dewan Komisaris Independen, Leverage, dan Komite Audit Pada Perusahaan Perbankan Terdaftar di BEI

Analisis Pengaruh Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Dewan Komisaris Independen, Leverage, dan Komite Audit Pada Perusahaan Perbankan Terdaftar di BEI

earnings). Perubahan pada laba sekarang dapat mempengaruhi keputusan investor institusional. Jika perubahan ini tidak dirasakan menguntungkan oleh investor,maka investor dapat melikuidasi sahamnya. Investor institusional biasanya memiliki saham dengan jumlah besar,sehingga jika mereka melikuidasi sahamnya akan mempengaruhi nilai saham secara keseluruhan. Untuk menghindari tindakan likuidasi dari investor,manajer akan melakukan earnings management. Pendapat kedua memandang investor institusional sebagai investor yang berpengalaman. Menurut pendapat ini,investor lebih terfokus pada laba masa datang (future earnings) yang lebih besar relative dari laba sekarang. Investor institusional menghabiskan lebih banyak waktu untuk melakukan analisis investasi dan mereka memilih akses atas informasi yang terlalu mahal perolehannya bagi investor lain. Investor institusional akan melakukan monitoring secara efektif dan tidak akan mudah diperdaya dengan tindakan manipulasi yang dilakukan manajer.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - PENGARUH STRUKTUR CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANDATORY AND VOLUNTARY DISCLOSURES SETELAH KONVERGENSI IFRS (Studi Empiris Pada Perusahaan LQ 45 tahun 2012-2013) - Perbanas Institutional Repository

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - PENGARUH STRUKTUR CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANDATORY AND VOLUNTARY DISCLOSURES SETELAH KONVERGENSI IFRS (Studi Empiris Pada Perusahaan LQ 45 tahun 2012-2013) - Perbanas Institutional Repository

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pengungkapan wajib dalam konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) serta untuk mengetahui pengaruh mekanisme corporate governance terhadap tingkat kepatuhan pengungkapan wajib tersebut. Variabel independen dari penelitian ini adalah corporate governance yang diproksikan oleh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, jumlah rapat dewan komisaris, jumlah rapat komite audit dan proporsi komisaris independen, sedangkan variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat kepatuhan pengungkapan wajib IFRS yang diproksikan oleh 4 IAS pada tahun 2009 dan 5 IAS pada tahun 2010. Item pada IAS tersebut diidentifikasi berdasarkan IFRS Presentation and Disclosure Checklist dari Deloitte. Desain variabel dependen dalam penelitian ini menggunakan metode Unweighted dengan menggunakan teknik scoring.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

CORPORATE GOVERNANCE UKURAN PERUSAHAAN D

CORPORATE GOVERNANCE UKURAN PERUSAHAAN D

Hasil pengujian H1c menunjukkan bahwa ukuran dewan komisaris mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen laba dengan alpha sebesar 5%, artinya perusahaan yang memiliki dewan komisaris dengan jumlah yang lebih banyak akan meningkatkan tindakan manajemen laba. Hasil penelitian Beasley (1996), Yermack (1996), Midiastuty dan Machfoedz (2003), Nasution dan Setiawan (2007) juga menemukan bahwa ukuran dewan komisaris mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen laba. Kemampuan manusia berdiskusi dan bernegosiasi terbatas. Ukuran dewan komisaris yang terlalu besar dapat membuat proses mencari kesepakatan dan membuat keputusan menjadi sulit dan panjang. Yermarck (1996) berpendapat bahwa jumlah dewan komisaris yang besar akan meningkatkan permasalahan dalam hal komunikasi, koordinasi dan pengambilan keputusan sehingga menghambat proses pengawasan atas tindakan yang dilakukan oleh manajer. Dengan demikian, ukuran dewan yang kecil dianggap akan lebih efektif dalam menjalankan fungsi monitoring atas pelaporan keuangan, sehingga mengurangi insentif bagi manajer untuk memanipulasi laba.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian - Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan dengan mengunakan Manajemen Laba sebagai variabel intervening , Studi Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian - Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan dengan mengunakan Manajemen Laba sebagai variabel intervening , Studi Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

perbankan secara internasional. Seiring dengan tuntutan penerapan GCG pada sektor perbankan, maka pada tahun 2006 Bank Indonesia mengeluarkan peraturan yang secara khusus mengatur mengenai ketentuan pelaksanaan GCG di Bank Umum. Peraturan yang dimaksud adalah Peraturan bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tanggal 30 January 2006 tentang pelaksanaan GCG di Bank Umum yang kembali di sempurnakan melalu PBI No.8/14/PBI/2006 Tanggal 5 Oktober 2006 tentang Perubahan Atas PBI No.8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum. Peraturan ini menegaskan bahwa pelaksanaan GCG pada industri perbankan harus senantiasa berlandaskan pada lima prinsip dasar yakni keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggung jawaban (responsibility), independensi ( independency), dan kewajaran (fairness). Dalam pelaksanaan GCG tersebut di perlukan keberadaan Komisaris Independen dan Pihak Independen. Keberadaan pihak – pihak independen tersebut, diharapkan dapat menciptakan check and balance, menghindari benturan kepentingan (conflik of interest) dalam pelaksanaan tugasnya serta melindungi kepentingan stakeholders khususnya pemilik dana dan pemegang saham minoritas.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

this PDF file PENGARUH PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN DENGAN MENGGUNAKAN MANAJEMEN LABA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING ( Studi Pada Perusahaan Perbankan Yang terdaftar di Bursa efek Indonesia) | Taufiq | Jurnal Telaah dan Rise

this PDF file PENGARUH PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN DENGAN MENGGUNAKAN MANAJEMEN LABA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING ( Studi Pada Perusahaan Perbankan Yang terdaftar di Bursa efek Indonesia) | Taufiq | Jurnal Telaah dan Rise

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa corporate governance pada intinya adalah mengenai suatu sistem, proses, dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan organisasi. Corporate Governance dimaksudkan untuk mengatur hubungan-hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan (mistakes) signifikan dalam strategi korporasi dan untuk memastikan bahwa kesalahan- kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan segera.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Komisaris Independen, Komite Audit, Kepemilikan Manajerial, dan Kepemilikan Institusional Terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Otomotif yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Pengaruh Komisaris Independen, Komite Audit, Kepemilikan Manajerial, dan Kepemilikan Institusional Terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Otomotif yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

manipulasi laporan keuangan sejak tahun 1997-2000 dengan meningkatkan pendapatan sebesar US$ 3 miliar. Jumlah ini tidak sama dengan taksiran Securities and Exchange Commission (SEC). Menurut SEC, yang saat itu nilainya dari tahun 1997-2000 diperkirakan hanya US$ 3 miliar. Hal ini dilakukan untuk membuat analisis Wall Street dan investor lainnya tertarik dengan saham tersebut. Pada kasus PT. Kimia Farma Tbk, salah satu produsen obat-obatan di Indonesia, pada dasarnya dimotivasi oleh keinginan pihak direksi untuk menaikkan laba. Perusahaan ini diperkirakan melakukan mark up laba bersih dalam laporan keuangan tahun 2001. Dalam laporan tersebut, Kimia Farma menyebutkan berhasil memperoleh laba sebesar Rp 132 miliar. Namun, laba yang dilaporkan tersebut pada kenyataannya berbeda, pada tahun 2001 perusahaan sebenarnya hanya memperoleh keuntungan sebesar Rp 99 miliar. (Sumber : Creative Accounting )
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Pengaruh Value Added Intellectual Capital, GCG, dan Struktur Kepemilikan Terhadap Kinerja Keuangan

Pengaruh Value Added Intellectual Capital, GCG, dan Struktur Kepemilikan Terhadap Kinerja Keuangan

Kepemilikan manajerial yang tinggi sehingga kinerja manajer dalam mengelola perusahaan optimal dan manajer sebagai pemegang saham minoritas telah dapat berpartisipasi aktif dalam membuat suatu keputusan dalam perusahaan. Rasa memiliki manajer atas perusahaan sebagai pemegang saham cukup mampu membuat perbedaan dalam pencapaian kinerja dibandingkan dengan manajer murni sebagai tenaga professional yang digaji perusahaan. Tetapi tingkat kepemilikan manajerial yang terlalu tinggi juga dapat berakibat buruk terhadap perusahaan. Dapat dijelaskan bahwa kepemilikan saham manajerial dapat membantu penyatuan kepentingan antara manajer dan pemegang saham, sehingga semakin meningkat proporsi kepemilikan saham manajerial maka semakin baik kinerja perusahaan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Yudha (2014) dan penelitian Waskito (2015).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN REAL ESTATE PROPERTY Devita Ivanda Sari¹ Hendro Subroto² Siti Nurlaela³

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN REAL ESTATE PROPERTY Devita Ivanda Sari¹ Hendro Subroto² Siti Nurlaela³

Komite audit merupakan suatu institusi yang berada di bawah koordinasi dewan komisaris yang memiliki fungsi utama untuk menjembatani pemegang saham (Shareholder), Shareholder dan dewan komisaris dengan kegiatan pengendalian yang diselenggarakan oleh manajemen, auditor internal dan auditor eksternal. Penelitian Faiza, (2013) menunjukan bahwa Komite Audit tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Dari uraian diatas, maka hipotesis pertama (H3) adalah komite auditberpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan.

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Tata Kelola Perusahaan dan Kine

Pengaruh Tata Kelola Perusahaan dan Kine

Penelitian ini juga menemukan adanya hubungan positif kinerja lingkungan terhadap nilai perusahaan. Hal ini mengindikasikan diterimanya teori legitimasi, bahwa apabila perusahaan mampu memperhatikan pengelolaan lingkungannya, maka keberadaan perusahaan tersebut akan direspon positif oleh masyarakat. Investor lebih berminat pada perusahaan yang memiliki citra/ image baik di masyarakat karena berdampak pada tingginya loyalitas konsumen yang pada akhirnya juga berdampak pada peningkatan nilai perusahaan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan ukuran lain atas proksi GCG seperti kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, jumlah rapat komite audit dan lain-lain, serta memperpanjang periode penelitian yang lebih lama.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN KINERJA KEUANGAN TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI - Perbanas Institutional Repository

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN KINERJA KEUANGAN TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI - Perbanas Institutional Repository

Dalam menjalankan kegiatannya perusahaan membutuhkan dana atau modal yang biasa diperoleh melalui pasar uang maupun pasar modal. Menurut Bursa Efek Indonesia, pada dasarnya pasar modal merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang, saham, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Investasi digolongkan menjadi dua jenis, yaitu investasi dalam surat kepemilikan (saham) dan investasi dalam surat utang (obligasi). Salah satu instrumen yang diperjualbelikan di pasar modal adalah obligasi. Bursa Efek Indonesia mendefinisikan obligasi sebagai surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan dengan mengunakan Manajemen Laba sebagai variabel intervening , Studi  Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan dengan mengunakan Manajemen Laba sebagai variabel intervening , Studi Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

perbankan secara internasional. Seiring dengan tuntutan penerapan GCG pada sektor perbankan, maka pada tahun 2006 Bank Indonesia mengeluarkan peraturan yang secara khusus mengatur mengenai ketentuan pelaksanaan GCG di Bank Umum. Peraturan yang dimaksud adalah Peraturan bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tanggal 30 January 2006 tentang pelaksanaan GCG di Bank Umum yang kembali di sempurnakan melalu PBI No.8/14/PBI/2006 Tanggal 5 Oktober 2006 tentang Perubahan Atas PBI No.8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum. Peraturan ini menegaskan bahwa pelaksanaan GCG pada industri perbankan harus senantiasa berlandaskan pada lima prinsip dasar yakni keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggung jawaban (responsibility), independensi ( independency), dan kewajaran (fairness). Dalam pelaksanaan GCG tersebut di perlukan keberadaan Komisaris Independen dan Pihak Independen. Keberadaan pihak – pihak independen tersebut, diharapkan dapat menciptakan check and balance, menghindari benturan kepentingan (conflik of interest) dalam pelaksanaan tugasnya serta melindungi kepentingan stakeholders khususnya pemilik dana dan pemegang saham minoritas.
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

 M01706

M01706

Menurut Kaihatu (2006) ada dua hal yang ditekankan dalam mekanisme corporate goverance, pertama, pentingnya hak pemegang saham atau investor untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada waktunya, dan kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan secara akurat, tepat waktu dan transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan dan stakeholder. Mekanisme corporate governance dalam suatu perusahaan akan menentukan kesuksesan suatu perusahaan. Menurut pedoman umum yang dikeluarkan oleh KNKG (Komite Nasional Kebijakan Governance) terdapat lima prinsip dasar pengolahan perusahaan yang baik yaitu keadilan, transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, dan independensi.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

ANALISIS MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE DAN MANAJEMEN LABA  PERUSAHAAN GO PUBLIK TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA  Analisis Mekanisme Corporate Governance Dan Manajemen Laba Perusahaan Go Publik Terdaftar Pada Bursa Efek Indonesia.

ANALISIS MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE DAN MANAJEMEN LABA PERUSAHAAN GO PUBLIK TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA Analisis Mekanisme Corporate Governance Dan Manajemen Laba Perusahaan Go Publik Terdaftar Pada Bursa Efek Indonesia.

Secara umum dapat dikatakan bahwa persentase tertentu kepemilikan saham oleh pihak manajemen cenderung mempengaruhi tindakan manajemen laba (Gideon, 2005). Robert Jao (2011) dalam pelaksanaan corporate governance kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh negatif terhadap manajemen laba. Ujiyantho dan Pramuka (2007) dalam menelitiannya menemukan kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan terhadap discretionary accruals. Jensen dan Meckling (1976) ,Warfield et al., (1995), Dhaliwal et al., (1982), Morck et al., (1988), Pranata dan Mas’ud (2003) dan Cornett et al., (2006) yang menemukan adanya pengaruh negatif signifikan. Hasil ini menujukan bahwa kepemilikan manajerial mampu menjadi mekanisme corporate governance yang dapat mengurangi ketidak selarasan kepentingan antara manajemen dengan pemilik atau pemegang saham. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis pertama sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL DAN CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANAJEMEN LABA

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL DAN CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANAJEMEN LABA

Industri perbankan mempunyai regulasi yang lebih ketat dibandingkan dengan industri lain, misalnya suatu bank harus memenuhi kriteria CAAR minimum. Bank Indonesia menggunakan laporan keuangan sebagai dasar dalam penentuan status suatu bank (apakah bank tersebut merupakan bank yang sehat atau tidak). Oleh karena itu, manajer mempunyai insentif untuk melakukan manajemen laba supaya perusahaan mereka dapat memenuhi kriteria yang disyaratkan oleh BI (Setiawati dan Na’im, 2001, dan Rahmawati dan Baridwan, 2006). Setiawati dan Na’im (2001), Rahmawati (2006), dan Rahmawati dan Baridwan (2006) menunjukkan bahwa perbankan di Indonesia melakukan manajemen laba untuk memenuhi kriteria BI tersebut. Setiawati dan Na’im (2001) berargumen bahwa laporan keuangan yang telah direkayasa oleh manajemen dapat mengakibatkan distorsi dalam alokasi dana. Selain itu, industri perbankan merupakan industri “kepercayaan”. Jika investor berkurang kepercayaannya karena laporan keuangan yang bias karena tindakan manajemen laba, maka mereka akan melakukan penarikan dana secara bersama-sama yang dapat mengakibatkan rush. Oleh karena itu, perlu suatu mekanisme untuk meminimalkan manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan perbankan. Salah satu mekanisme yang dapat digunakan adalah praktik corporate governance. Oleh karena itu penelitian ini menguji pengaruh struktur kepemilikan institusional dan corporate governance terhadap manajemen laba di Indonesia.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu

9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu

Dewan direksi memiliki peranan penting dalam suatu perusahaan. Dewan direksi memiliki pengaruh yang besar untuk mengelola sumber daya di perusahaan. Tugas dari dewan direksi untuk menetukan kebijakan dan strategi sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penelitian Bukhori dan Raharja (2010) dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas, bahwa dewan direksi memiliki hak untuk mewakili urusan perusahaan di luar maupun dalam perusahan. Jika terdapat satu orang dewan direksi, maka dewan direksi tersebut dapat dengan bebas mewakili perusahaan di berbagai urusan perusahaan. Jumlah dewan direksi secara logis akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan pengambilan keputusan perusahaan. Penelitian Kusdiyanto dan Dezy (2015) menyatakan bahwa dewan direksi tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan, sedangkan menurut penelitian dari Amelia (2015) menunjukkan bahwa dewan direksi memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

TAP.COM -   FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA ... 138 546 1 PB

TAP.COM - FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA ... 138 546 1 PB

Chtourou dkk, (2001) juga menyatakan hal yang sama dengan Yu (2006), namun dalam penelitian mereka hal ini hanya terjadi pada kasus dimana manajemen laba dilakukan dengan penurunan laba (income decreasing), sedang untuk kasus sebaliknya (income increasing earnings management) hasilnya tidak signifikan. Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Zhou dan Chen (2004) menunjukkan bahwa ukuran dewan komisaris di bank komersial tidak berpengaruh terhadap earnings management yang diukur dengan menggunakan loan loss provisions. Zhou dan Chen (2004) juga membagi kriteria manajemen laba tinggi dan rendah dan mengujinya secara terpisah. Pengujian tersebut menyimpulkan bahwa ukuran dewan komisaris secara signifikan berpengaruh dalam menghalangi tindak manajemen laba untuk perusahaan yang melakukan manajemen laba tinggi. Xie, Davidson, dan Dadalt (2003) juga menyatakan hal yang sama yaitu makin banyak dewan komisaris maka pembatasan atas tindak manajemen laba dapat dilakukan lebih efektif.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...