KADAR ASPAL OPTIMUM (KAO)

Top PDF KADAR ASPAL OPTIMUM (KAO):

PENGARUH NILAI ABRASI AGREGAT TERHADAP KARAKTERISTIK BETON ASPAL | Arifin | SMARTek 448 1569 1 PB

PENGARUH NILAI ABRASI AGREGAT TERHADAP KARAKTERISTIK BETON ASPAL | Arifin | SMARTek 448 1569 1 PB

Setelah pKAO didapat, selanjutnya dibuat benda uji dengan masing-masing empat variasi kadar aspal, dua diatas dan dua dibawah dari nilai pKAO, dengan peningkatan dan penurunan sebesar 0,5 %. Sehingga variasi kadar aspal yang digunakan untuk menentukan kadar aspal optimum yaitu 5 %, 5,5 %, 6 %, 6,5 % dan 7 %. Dari masing-masing kadar aspal tersebut, diperoleh KAO yang merupakan kadar aspal yang memenuhi semua sifat-sifat campuran (parameter Marshall). Grafik batang (barchart) adalah salah satu metode yang sering digunakan dalam menentukan KAO. Nilai KAO yang diperoleh untuk tiap variasi nilai abrasi, sebagaimana pada tabel 7.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK ULTRA THIN SURFACING HOT MIX ASPHALT DITINJAU DARI NILAI MARSHALL, KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG, KUAT TEKAN BEBAS, DAN PERMEABILITAS

KARAKTERISTIK ULTRA THIN SURFACING HOT MIX ASPHALT DITINJAU DARI NILAI MARSHALL, KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG, KUAT TEKAN BEBAS, DAN PERMEABILITAS

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Perkerasan Jalan Raya Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Standar pembuatan UTSHMA mengacu pada Standard Spesification Construction of Transport Systems (Georgia Department of Transportation, 2001), sedangkan pengujian terhadap benda uji mengacu pada standar yang dikeluarkan oleh The Asphalt Institute (1997)Superpave Series No.1 (SP-1) dan mengadopsi dari metode – metode yang disahkan atau distandarkan oleh Bina Marga yang berupa SK SNI. Tahap penelitian meliputi penentuan gradasi terbaik, penentuan kadar aspal optimum, pembuatan benda uji dengan kadar aspal optimum, pengujian ITS, pengujian UCS, pengujian permeabilitas. Jumlah benda uji pada penentuan gradasi terbaik adalah 3 buah untuk masing-masing varian gradasi. Jumlah benda uji pada penentuan KAO adalah 3 untuk masing- masing kadar aspal. Jumlah benda uji pada pengujian kuat tarik tidak langsung, pengujian kuat tekan bebas, dan permeabilitas adalah 3 buah untuk masing-masing pengujian.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN PLASTIK HDPE SEBAGAI BAHAN ADITIF TERHADAP ASPAL DENGAN AGREGAT KASAR HASIL LIMBAH BETON THE EFFECTS OF HDPE PLASTICS ADDITION IN ASPHALT MIXTURES WITH CONCRETE WASTE AS THE COARSE AGGREGATES

PENGARUH PENGGUNAAN PLASTIK HDPE SEBAGAI BAHAN ADITIF TERHADAP ASPAL DENGAN AGREGAT KASAR HASIL LIMBAH BETON THE EFFECTS OF HDPE PLASTICS ADDITION IN ASPHALT MIXTURES WITH CONCRETE WASTE AS THE COARSE AGGREGATES

Nilai kadar aspal optimum akan digunakan untuk membuat benda uji berikutnya yang campurannya telah dimodifikasi dengan menggunakan plastik serta agregat kasar hasil limbah uji beton, yang diharapkan akan menaikkan nilai kualitas benda uji pada metode marshall. Untuk benda uji modifikasi dengan plastik, agregat kasar terlebih dahulu diproses oven bersama dengan plastik yang telah lolos saringan no. 4, dengan suhu 190 o selama 2,5 jam. Hal

13 Baca lebih lajut

Studi Penggunaan Mikro Karbon Pada Campuran Beton Aspal.

Studi Penggunaan Mikro Karbon Pada Campuran Beton Aspal.

Tabel 4.3 Persyaratan Campuran Beraspal 31 Tabel 4.4 Hasil Uji Marshall Untuk Mencari Kadar Aspal Optimum 31 Tabel 4.5 Parameter Marshall Hasil Pengujian Marshall Standar 34 Tabel 4.6 Parameter Marshall Hasil Pengujian Marshall Immersion 34 Tabel 4.7 Uji Hipotesis Terhadap Parameter Marshall 36 Tabel 4.8 Analisis Varian Parameter Marshall 37 Tabel 4.9 Hasil Uji SNK untuk Stabilitas 38

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Kepadatan dan Temperatur Campuran Asphalt Concrete Wearing Course (Acwc) diperkuat Geogrid terhadap Lendutan Menggunakan Uji Beam Bending

Pengaruh Kepadatan dan Temperatur Campuran Asphalt Concrete Wearing Course (Acwc) diperkuat Geogrid terhadap Lendutan Menggunakan Uji Beam Bending

Kerusakan-kerusakan yang terjadi pada jalan telah mendorong para peneliti untuk mengungkap penyebab kerusakan dan mengembangkan inovasi teknologi untuk mendapatkan bahan campuran aspal yang handal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepadatan dan temperatur beton aspal ACWC yang diperkuat geogrid dalam menahan lendutan akibat beban kendaraan. Pengujian kinerja campuran AC-WC tanpa perkuatan geogrid dan dengan menggunakan perkuatan Geogrid yang diregangkan (dengan variasi regangan 2%, 4% dan 6%) dengan alat Marshall yang dimodifikasi (beam bending). Sampel untuk pengujian Beam Bending berupa beton aspal berbentuk plat ukuran 385x63x50 mm 3 . Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menguji campuran beton aspal AC-WC dengan alat Marshall yang dimodifikasi untuk mengukur lendutan maksimum. Faktor-faktor yang ditinjau dalam penelitian ini adalah faktor kepadatan beton aspal dan faktor temperatur perkerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Campuran Asphalt Concrete Wearing Course mempunyai kadar aspal optimum 6,7 % terhadap total campuran, Semakin padat campuran ACWC dan semakin rendah temperatur ACWC kemampuannya menahan beban statis cenderung semakin baik, hal ini ditunjukkan dari lendutan yang terjadi makin kecil pada kepadatan yang lebih tinggi serta pada temperatur yang lebih rendah, Semakin tinggi temperatur campuran ACWC semakin kecil pengaruh kepadatan terhadap kemampuan ACWC dalam menahan beban statis, geogrid yang dipasang di dalam lapisan ACWC mampu memberikan tambahan ketahanan terhadap kemampuan menahan beban statis (memperkecil lendutan) serta semakin besar regangan yang diberikan kepada geogrid saat pemasangan memberikan kemampuan menahan beban statis yang semakin baik.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Key Words: filler, nickel slag, hydrated lime, HRS Mixture I. PENDAHULUAN - PERBANDINGAN KINERJA FILLER SLAG NIKEL DENGAN KAPUR PADAMAN DALAM CAMPURAN HRS (HOT ROLLED SHEET)

Key Words: filler, nickel slag, hydrated lime, HRS Mixture I. PENDAHULUAN - PERBANDINGAN KINERJA FILLER SLAG NIKEL DENGAN KAPUR PADAMAN DALAM CAMPURAN HRS (HOT ROLLED SHEET)

(agregat, filler dan aspal) dilakukan dengan mengikuti standar AASTHO/ASTM. Campuran HRS yang digunakan adalah HRS-WC berdasarkan spesifikasi kimpraswil 2000 dengan target gradasi ideal yang dirancang dengan perbandingan berat. Rancangan dan jumlah benda uji untuk mendapatkan kadar filler dan kadar aspal optimum, diperoleh dengan melakukan variasi kadar filler dan kadar aspal. Kadar filler debu batu yang akan digunakan dalam rancangan campuran HRS ditentukan berdasarkan filler debu batu sesuai target gradasi yang telah ditentukan yaitu 9% dengan variasi kadar aspal aspal 6; 6,5; 7; 7,5; 8%. Variasi penggunaan filler kapur padaman dan slag nikel yaitu 1%, 3%,5%, 7%,dan 9% dengan variasi kadar aspal 6; 6,5; 7; 7,5; 8%. Jumlah benda uji yang dibuat untuk tiap variasi kadar aspal pada kadar filler tertentu sebanyak 15 buah sehingga total benda uji sebanyak 165 buah. Metode pembuatan benda uji didasarkan pada standar The American Society for Testing Materials (ASTM D 1559).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Efek Peredaman Terhadap Kuat Tarik Tidak Langsung Campuran HRA Yang Mengandung Bahan Pengisi Abu Batu dan Serbuk Arang - MCUrepository

Efek Peredaman Terhadap Kuat Tarik Tidak Langsung Campuran HRA Yang Mengandung Bahan Pengisi Abu Batu dan Serbuk Arang - MCUrepository

Pengujian Marshall dimaksudkan untuk mendapatkan kadar aspal optimum campuran HRA. Pada pengujian ini benda uji dengan kadar aspal yang berbeda direndam pada temperatur 60 0 C untuk 30 buah benda uji selama 30 menit, dan sebanyak 30 benda uji direndam selama 24 jam. Parameter yang diteliti meliputi stabilitas dan kelelehan (flow), stabilitas benda uji yang direndam selama 30 menit dibandingkan dengan stabilitas benda uji yang direndam selama 24 jam untuk

12 Baca lebih lajut

Efek Peredaman Terhadap Kuat Tarik Tidak Langsung Campuran HRA Yang Mengandung Bahan Pengisi Abu Batu dan Serbuk Arang.

Efek Peredaman Terhadap Kuat Tarik Tidak Langsung Campuran HRA Yang Mengandung Bahan Pengisi Abu Batu dan Serbuk Arang.

2. Campuran Hot Rolled Asphalt yang menggunakan bahan pengisi serbuk arang lebih banyak menyerap aspal daripada yang menggunakan bahan pengisi abu batu. Ini dapat dilihat dari kadar aspal optimum yang diperoleh campuran Hot Rolled Asphalt yang menggunakan serbuk arang dengan nilai 6,39 % lebih besar dibandingkan yang menggunakan bahan pengisi abu batu dengan nilai 5,89 %. 3. Perendaman 7 hari :

19 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN ABU BAGASSE SEBAGAI AGREGAT HALUS PADA CAMPURAN PERKERASAN LATASTON (HRS – HOT ROLLED SHEET)

PENGARUH PENGGUNAAN ABU BAGASSE SEBAGAI AGREGAT HALUS PADA CAMPURAN PERKERASAN LATASTON (HRS – HOT ROLLED SHEET)

Pabrik gula Kebon Agung di Malang, menghasilkan limbah jenis Abu Bagasse tidak kurang dari 2737 Ton/tahun. Selama ini limbah tersebut belum banyak dimanfaatkan, pemanfaatan secara ekonomis diantaranya adalah penggunaan Abu Bagasse sebagai agregat halus untuk campuran perkerasan jalan. Berdasar hasil analisa saringan, Abu bagasse dapat dijadikan bahan campuran aspal jenis Lataston (HRS – Hot Rolled Sheet). Studi ini bertujuan untuk mengetahui kualitas campuran aspal jenis Lataston dengan menggunakan Abu Bagasse sebagai agregat halus, baik secara penuh maupun bervariasi dengan abu batu dan pasir alam. Variasi yang dimaksud adalah: Pasir Alam & Abu Bagasse, Abu Batu & Abu Bagasse, Pasir Alam, Abu Batu & Abu Bagasse. Hasil studi menunjukkan, bahwa pada campuran aspal standart (Pasir Alam & Abu Batu) untuk kadar Aspal optimum diperoleh pada kadar 9,1% sementara untuk campuran aspal dengan variasi
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN SUPER BOND TERHADAP KARAKTERISTIK CAMPURAN BERASPAL Influence of Super Bond Addition on Characteristics of Asphalt Mixture - Repository UNRAM

PENGARUH PENAMBAHAN SUPER BOND TERHADAP KARAKTERISTIK CAMPURAN BERASPAL Influence of Super Bond Addition on Characteristics of Asphalt Mixture - Repository UNRAM

Penelitian dilakukan dengan menambahkan bahan yaitu zat aditif Super Bond yang berfungsi untuk meningkatkan daya lekat antara aspal dan agregat, dengan variasi kadar 0%, 0,1%, 0,3%, dan 0,5% dari berat aspal. Berdasarkan metode Marshall sesuai dengan spesifikasi Umum Bina Marga Rev III, ditentukan kadar aspal optimum dari masing-maing kadar aspal. Setelah mendapat kadar aspal optimum selanjutnya dibuat benda uji dengan penambahan Super Bond dengan kadar 0%, 0,1%, 0,3%, dan 0,5% untuk pengujian Marshall Standard dan Marshall Immerssion.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK MARSHALL CAMPURAN ASPHALT CONCRETE (AC) DENGAN BAHAN PENGISI (FILLER) ABU VULKANIK GUNUNG MERAPI

KARAKTERISTIK MARSHALL CAMPURAN ASPHALT CONCRETE (AC) DENGAN BAHAN PENGISI (FILLER) ABU VULKANIK GUNUNG MERAPI

Aspal dibuat dari minyak mentah (crude oil) dan secara umum berasal dari sisa organisme laut dan sisa tumbuhan laut dari masa lampau yang tertimbun oleh dan pecahan batu batuan. setelah berjuta juta tahun material organis dan lumpur terakumulasi dalam lapisan lapisan setelah ratusan meter, beban dari beban teratas menekan lapisan yang terbawah menjadi batuan sedimen. Sedimen tersebut yang lama kelamaan menjadi atau terproses menjadi minyak mentah senyawa dasar hydrocarbon. Aspal biasanya berasal dari destilasi minyak mentah ersebut, namun aspal ditemukan sebagai bahan alam (misal : asbuton), dimana sering juga disebut mineral (Shell Bitumen, 1990).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Perbandingan Kinerja Anti Stripping Agent WETFIX BE dengan DERBO-401 UN 2735 pada AC – WC yang Menggunakan Aggregat dari Patumbak (Penelitian)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Perbandingan Kinerja Anti Stripping Agent WETFIX BE dengan DERBO-401 UN 2735 pada AC – WC yang Menggunakan Aggregat dari Patumbak (Penelitian)

Kelekatan agregat terhadap aspal adalah kecenderungan agregat untuk menerima, menyerap dan menahan film aspal. Agregat hidrophobik (tidak menyukai air) adalah agregat yang memiliki sifat kelekatan terhadap aspal yang tinggi, contoh dari agregat ini adalah batu gamping dan dolomit. Sebaliknya, agregat hidrophilik (suka air) adalah agregat yang memiliki kelekatan terhadap aspal yang rendah. Sehingga agregat jenis ini cenderung terpisah dari film aspal bila terkena air. Kuarsit dan beberapa jenis granit adalah contoh agregat hidrophilik.

Baca lebih lajut

ANALISIS KARAKTERISTIK LAPISAN CAMPURAN ASPAL BETON DITINJAU DARI ASPEK PROPERTIES MARSHALL TUGAS AKHIR - ANALISIS KARAKTERISTIK LAPISAN CAMPURAN ASPAL BETON DITINJAU DARI ASPEK PROPERTIS MARSHALL

ANALISIS KARAKTERISTIK LAPISAN CAMPURAN ASPAL BETON DITINJAU DARI ASPEK PROPERTIES MARSHALL TUGAS AKHIR - ANALISIS KARAKTERISTIK LAPISAN CAMPURAN ASPAL BETON DITINJAU DARI ASPEK PROPERTIS MARSHALL

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan variasi kadar aspal 4,5%, 5%, 5,5%, 6% dan 6,5% terhadap total berat agregat. Karakteristik Marshall yang dicari adalah VIM, VFWA, stabilitas, flow dan Marshall Quotient (MQ) pada sampel utuh diperoleh dari hasil Marshall Test. Distribusi void dan orientasi agregat ditinjau berdasarkan sampel utuh.

Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK STABILITAS DAN STABILITAS SISA CAMPURAN BETON ASPAL DAUR ULANG | Kasan | MEKTEK 523 1843 1 PB

KARAKTERISTIK STABILITAS DAN STABILITAS SISA CAMPURAN BETON ASPAL DAUR ULANG | Kasan | MEKTEK 523 1843 1 PB

Konsep uji Marshall ditemukan oleh Bruce Marshall dan dikembangkan di Mississippi State Highway Department sekitar tahun 1939. Kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh U.S Army Corps of Engineering sehingga kini telah menjadi uji standar pada American Society for Testing and Materials (ASTM), yaitu ASTM D1559, Resistance to Plastic Flow of Bituminous Mixtures Using Marshall Apparatus. Metode ini digunakan hanya untuk menguji campuran beton aspal panas yang menggunakan aspal keras dengan penetrasi tertentu dan agregat yang memiliki ukuran maksimum 1 inci (The Asphalt Institute, 1993).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISA UJI KUAT TEKAN AGREGAT HALUS PASIR BESI TULUNGAGUNG PADA CAMPURAN ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN MARSHALL TEST.

ANALISA UJI KUAT TEKAN AGREGAT HALUS PASIR BESI TULUNGAGUNG PADA CAMPURAN ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN MARSHALL TEST.

Aspal beton adalah lapisan penutuo konstruksi jalan yang mempunyai nilai struktural yang pertama dikembangkan di Amerika oleh The Asphalt Institude dengan nama Asphalt Contrete (AC). Umumnya campuran ini terdiri dari atas agregat menerus dengan aspal keras, dicampur, dihamparkan dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu. Dalam perkerasan bahan utama aspal sebagai bahan pengikat antara butiran-butiran agregat sehingga terbentuk struktur yang dapat dilintasi kendaraan berat ataupun kendaraan ringan. Persyaratan aspal dapat dilihat pada tabel 2.1 sebagai berikut :
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PEDOMAN TEKNIK PEDOMAN PEMBUATAN ASPAL E

PEDOMAN TEKNIK PEDOMAN PEMBUATAN ASPAL E

Jumlah Kalsium Klorida dalam Aspal Emulsi berkisar antara 0% sampai 0,3 %. Jumlah Kalsium Klorida optimum dalam Aspal Emulsi ditentukan berdasarkan percobaan dl laboratorium dengan cara membuat beberapa contoh Aspal Emulsi dengan variasi kadar Kalsium Klorida dari 0 sampai 0,3%, sedang kadar phasa padat, Bahan Pengemulsi dan Asam Klorida tetap sesuai Butir 3.1.1 dan Butir 3.1.2a) di atas. Contoh Aspal Emulsi tersebut diuji nilai pengendapan satu hari dan nilai saringan. Kadar Kalsium Klorida optimum adalah kadar. yang memberikan Aspal Emulsi nilai pengendapan satu hari dan nilai pengujian saringan terkecil.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGGUNAAN MATERIAL GALIAN DARI DESA KORIPAN, MATESIH UNTUK PEMBUATAN ASPAL BETON CAMPURAN PANAS

PENGGUNAAN MATERIAL GALIAN DARI DESA KORIPAN, MATESIH UNTUK PEMBUATAN ASPAL BETON CAMPURAN PANAS

Dari grafik di atas terlihat bahwa secara umum nilai pengujian stabilitas dari campuran aspal yang menggunakan agregat Koripan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada campuran aspal yang menggunakan agregat dari AMP PT Pancadarma Puspawira. Keseluruhan sampel dari agregat Koripan juga diatas batas spesifikasi minimum yang disyaratkan. Perbedaan nilai stabilitas ini disebabkan oleh berat jenis agregat. Agregat Koripan dengan berat jenis lebih kecil pada berat benda uji yang sama (± 1100 gr) akan memiliki volume dan jumlah butiran yang lebih banyak. Dengan demikian campuran akan mempunyai interlocking yang lebih baik sehingga meningkatkan nilai stabilitas. Agregat dengan berat jenis lebih kecil umumnya juga memiliki pori yang lebih banyak. Hal ini berakibat aspal mudah terserap ke dalam agregat sehingga agregat terselimuti sempurna dan ikatan antar butir menjadi kuat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

The influence of Asphalt Concrete-Wearing Course Mixing for Marshall Charactertistic Roza Mildawati

The influence of Asphalt Concrete-Wearing Course Mixing for Marshall Charactertistic Roza Mildawati

Salah satu yang mempengaruhi mutu campuran aspal adalah suhu saat pelaksanaan penghamparan campuran aspal. Pada penelitian ini menggunakan spesifikasi Bina Marga. Komposisi campuran didapat setelah melakukan serangkaian pengujian sifat fisik dari mutu bahan, adapun pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan meliputi analisa saringan agregat, berat jenis dan penyerapan agregat, kelekatan aspal terhadap agregat, Sand Equivalent, pembuatan benda uji, selanjutnya dilakukan pengujian Marshall terhadap campuran. Metode yang dipakai adalah metode Marshall (SNI 06-2489-1991). Adapun suhu yang diteliti pada penelitian ini adalah 80°,110° 140 ⁰ , 160 ⁰ , 170 ⁰ , 200 ⁰ , 220 ⁰ dan suhu 250⁰ . Dari hasil pengujian Marshall di Laboratorium didapat nilai stabilitas yang di peroleh pada kadar aspal optimum tersebut adalah pada suhu 80 0 sebesar 575kg, suhu
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

01 Tjitjik Warsiah suroso 28 03 08

01 Tjitjik Warsiah suroso 28 03 08

Kecepatan Deformasi lebih kecil (35 %) dari campuran beraspal dengan aspal pen 60 (aspal konvensional) untuk itu disarankan dapat dicoba pada perkerasan dengan lalu lintas padat dan berat. Namun kinerja pencampuran cara basah lebih baik dari cara kering Stabilitas duinamis campuran basah ( lebih tinggi 7.1% ), kecepatan deformasi campuran cara basah 20 % lebih rendah dari campuran cara basah al ini kemungkinan disebabkan pada campuran secara basah plastik yang ditambahkan seluruhnya dapat bercampur dengan aspal. Hal ini kemungkinan tidak seluruh plastik bercampur dengan agregat (sebagian menempel ke wadah tempat pencampuran sehingga kadar plastik yang ditambahkan pada cara kering lebih rendah dari cara basah).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...