kadar glukosa darah sewaktu

Top PDF kadar glukosa darah sewaktu:

Gabriella Carolina Hutapea 22010112110095 LapKTI BAB II

Gabriella Carolina Hutapea 22010112110095 LapKTI BAB II

glukosa darah dalam jumlah memadai sebagai satu-satunya energi, karena itu, konsentrasi glukosa darah harus dipertahankan diatas suatu batas kritis. Konsentrasi glukosa darah biasanya adalah 100 mg glukosa/100 ml plasma dan normalnya dijaga dalam kisaran sempit 70-110 mg/100 ml. 21 Pemeriksaan kadar glukosa darah dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu menghitung kadar glukosa darah puasa (GDP), kadar glukosa darah sewaktu (GDS), serta kadar glukosa darah setelah makan atau postprandial (GDPP). Menghitung kadar glukosa darah puasa diperkirakan puasa atau tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam. Puasa ditujukan agar hasil yang akurat karena glukosa yang ada di dalam tubuh khususnya aliran darah terbentuk dari makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan sumber kalori lainnya. 22
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Pengaruh Biji Mahoni (Swietenia mahagoni) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Pria Usia 18-28 Tahun Dengan Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2.

Pengaruh Biji Mahoni (Swietenia mahagoni) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Pria Usia 18-28 Tahun Dengan Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2.

Penelitian eksperimental dengan desain pre-test dan post-test terhadap kadar glukosa darah sewaktu 30 orang subjek penelitian, pria usia 18-28 tahun. Sampel darah diambil saat pra dan pasca 3 hari mengkonsumsi kapsul biji mahoni diukur dengan glukometer (mg/dL).Data dianalisis dengan uji- t berpasangan, α=0,05 . Hasil penelitian menunjukkan penurunan yang signifikan sebelum dan sesudah mengkonsumsi biji mahoni pada hari ke-3 pada kadar glukosa darah.

21 Baca lebih lajut

Korelasi Antara Nilai Hemoglobin A1C Dengan Kadar Glukosa Darah Puasa Dan Kadar Glukosa Darah 2 Jam Postprandial Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2.

Korelasi Antara Nilai Hemoglobin A1C Dengan Kadar Glukosa Darah Puasa Dan Kadar Glukosa Darah 2 Jam Postprandial Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2.

Diagnosis DM yang telah lama mengacu pada kriteria yang telah ditetapkan WHO atau pun ADA, seperti yang telah dianut oleh PERKENI di Indonesia. Secara laboratoris, diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu (GDP) dan puasa, serta 2 jam postgrandial (GD2-PP). American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa tujuan penanganan pada penderita DM adalah mempertahankan kadar glukosa darah yang mendekati kadar glukosa darah normal dan pemantauan kadar glukosa darah optimal, sehingga dapat mencegah atau menunda timbulnya komplikasi DM untuk jangka waktu yang panjang. Namun demikian pemeriksaan kadar glukosa darah hanya menggambarkan keadaan kadar glukosa darah sesaat saja, tidak menggambarkan keadaan periode sebelumnya. Dengan demikian diperlukan pemeriksaan untuk evaluasi kadar glukosa darah selama periode tertentu, yaitu melalui pemeriksaan HbA 1c . HbA 1c adalah HbA dengan
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Glukosa Darah

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Glukosa Darah

Sampel atau bahan pemeriksaan kadar glukosa darah adalah serum, plasma, dan darah lengkap. Serum, merupakan bagian cairan darah tanpa faktor pembekuan atau sel darah. Serum didapatkan dengan cara membiarkan darah di dalam tabung reaksi tanpa antikoagulan membeku, kemudian disentrifugasi dengan kecepatan tinggi untuk mengendapkan sel-selnya. Sentrifugasi merupakan proses pemisahan benda padat dari benda cair dengan dilakukan pemutaran, ketika darah disentrifugasi maka sel darah yang lebih berat akan mengendap ke bawah sedangkan serum yang terdapat clot berada di lapisan teratas. Cairan di atas yang berwarna kuning jernih disebut serum (Evelyn, 2009). Pemakaian serum mencegah pencemaran spesimen oleh antikoagulan yang mungkin mempengaruhi hasil pemeriksaan. Pengambilan serum harus dilakukan hati-hati supaya tidak terjadi hemolisis (Sacher, 2009).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perbandingan Kadar Glukosa Darah Kapiler Dengan kadar Glukosa Darah Vena Menggunakan Glukometer Pada Penderita Diabetes Melitus.

Perbandingan Kadar Glukosa Darah Kapiler Dengan kadar Glukosa Darah Vena Menggunakan Glukometer Pada Penderita Diabetes Melitus.

Darah kapiler berupa whole blood juga sering digunakan sebagai home monitoring dan near patient monitoring devices. Masih banyak klinisi yang menggunakan darah kapiler sebagai bahan pemeriksaan penunjang kadar glukosa darah dengan tujuan untuk mendiagnosis hipoglikemi, normoglikemi, hiperglikemi, dan memantau terapi. Penggunaan darah kapiler sebagai bahan pemeriksaan untuk mendiagnosis intoleransi glukosa masih diperdebatkan dikarenakan perbedaan nilai yang bervariasi dengan kadar glukosa darah vena. Penggunaan darah kapiler dalam bedside test direkomendasikan hanya untuk mendiagnosis hipoglikemi ataupun hiperglikemia parah dan memonitor kadar glukosa darah >5mmol/L (90 mg/dl) pada pasien DM (4) . Berdasarkan alasan di
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II Yuliyani

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II Yuliyani

Ada dua jenis sampel yang dites, pertama adalah glukosa darah, di mana bisa dilakukan secara rutin pada penderita Diabetes Mellitus , atau pada mereka yang menunjukkan gejala hiperglikemia ataupun hipoglikemia. Jika Anda penderita Diabetes Mellitus , biasanya akan melakukan beberapa kali pemeriksaan dalam satu harinya secara mandiri. Sedangkan glukosa urine biasanya dicek ketika pemeriksaan urine rutin (urinalisis). Biasanya sampel darah diambil dari lengan anda, atau setetes darah dari tusukan pada ujung jari, kadang sampel acak dari urine digunakan. Beberapa penderita Diabetes Mellitus mungkin akan memerlukan pemantauan glukosa berkelanjutan, dengan memasangkan sensor kecil berkabel di bawah permukaan kulit perut yang memantau kadar gula darah setiap 5 menit. Secara umum, anda disarankan untuk berpuasa, tidak makan atau minum apapun – kecuali air putih selama 8 jam sebelum tes kadar glukosa darah. Pada pasien Diabetes Mellitus , atau dicurigai memiliki Diabetes Mellitus , tes biasanya dilakukan baik pasca puasa dan setelah makan. Untuk tes dengan waktu tertentu, setelah makan ataupun acak, silahkan ikuti instruksi dari dokter (Sidartawan Soegondo, 2004).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian Air Susu Ibu Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Bayi Cukup Bulan

Pengaruh Pemberian Air Susu Ibu Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Bayi Cukup Bulan

Dari hasil penelitian ini terlihat pada BCB SMK kelompok ASI kadar rata-rata KGD segera setelah lahir dan 24 jam kemudian tidak mengalami perubahan. Sedangkan pada BCB SMK kelompok kontrol tampak perbandingan nilai rata-rata KGD segera setelah lahir dan 24 jam kemudian. Dari temuan tersebut, menunjukkan bahwa KGD kelompok ASI tidak mengalami perubahan setelah 24 jam. Dengan demikian pemberian ASI pada kelompok BCB SMK tidak berpengaruh pada KGD sehingga tidak perlu ada Tabel 3. Kadar glukosa darah

6 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Komplikasi di Rumah Sakit Umum Kabanjahe Tahun 2015

Karakteristik Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Komplikasi di Rumah Sakit Umum Kabanjahe Tahun 2015

Komplikasi ini adalah peningkatan senyawa keton yang bersifat asam dalam darah yang berasal dari asam lemak bebas hasil pemecahan sel-sel lemak jaringan. Gejala dan tandanya dapat berupa nafsu makan turun, merasa haus, banyak minum, banyak kencing, mual dan muntah, nyeri perut, pernapasan cepat dan dalam, napas berbau khas (keton), hipotensi, penurunan kesadaran sampai koma (Irianto, 2014). KAD adalah komplikasi akut DM yang serius dan membutuhkan pengelolaan gawat darurat , karena dapat mengalami dehidrasi berat sampai menyebabkan syok (Soewondo, 2009).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

DESRIYAN PURNAMA PUTRA G2A009076 BAB IV KTI

DESRIYAN PURNAMA PUTRA G2A009076 BAB IV KTI

Data merupakan data primer yang didapat dari catatan medik di instansi catatan medik RSUP dr. Kariadi Semarang. Yang perlu didata antara lain nama pasien, usia, jenis kelamin, kadar glukosa sebelum dan sesudah pemberian insulin, cara pemberian insulin.

5 Baca lebih lajut

Kata kunci: Antidiabetes, Coix lacryma-jobi, aloksan

Kata kunci: Antidiabetes, Coix lacryma-jobi, aloksan

Diabetes mellitus adalah penyakit disebabkan oleh adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Biji hanjeli (Coix lacryma jobi) diduga memiliki khasiat sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antidiabetes ekstrak etanol biji hanjeli (Coix lacryma jobi). Penelitian ini dilakukan secara in – vivo pada mencit jantan galur Swiss Webster dengan metode induksi aloksan 50-55 mg/Kg bb secara intravena. Sebanyak 30 ekor mencit dibagi secara acak ke dalam 6 kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif, kelompok dosis I (100 mg/Kg bb), kelompok dosis II (200 mg/Kg bb), kelompok dosis III (400 mg/Kg bb), dan kelompok glibenklamid 0,65 mg/kg BB. Data dianalisis dengan menggunakan uji One Way Anova dan uji Post-Hoc LSD. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna penurunan kadar glukosa darah ekstrak biji hanjeli 100 mg/Kg bb, 200 mg/Kg bb dan 400 mg/Kg bb yang dibandingkan dengan kontrol positif. Kesimpulan, ekstrak etanol biji hanjeli tidak dapat menurunkan kadar glukosa darah.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH JUS LIDAH BUAYA (Aloe chinensis Linn.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) STRAIN WISTAR

PENGARUH JUS LIDAH BUAYA (Aloe chinensis Linn.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) STRAIN WISTAR

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian jus Aloe chinensis L. terhadap kadar glukosa darah tikus putih yang telah diinduksi dengan glukosa terlebih dahulu. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian True-Experiment, Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap. Jumlah unit percobaan adalah 24 dengan jumlah kelompok perlakuan sebanyak 6 meliputi 4,6 mg/kgbb, 6,6 mg/kgbb, 8,6 mg/kgbb, 10,6 mg/kgbb dan dua kontrol yaitu kontrol normal dan kontrol hiperglikemik, masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia UMM pada tanggal 1 Pebruari – 12 Maret 2006 dengan probandus tikus putih jantan (Rattus novergicus). Analisis data
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

KESIMPULAN DAN SARAN  PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DAUN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L) PER-ORAL TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus L.).

KESIMPULAN DAN SARAN PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DAUN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L) PER-ORAL TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus L.).

Pemberian air perasan daun bayam merah per-oral selama 35 hari sangat berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus putih.. Penurunan kadar glukosa darah pada kelompok perlak[r]

5 Baca lebih lajut

TERAPI INSULIN SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN

TERAPI INSULIN SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan Sumber Daya Manusia. Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi system kesehatan suatu Negara. Walaupun belum ada survey nasional, sejalan dengan perubahan gaya hidup termasuk pola makan masyarakat, diperkirakan penderita DM ini semakin meningkat, terutama pada kelompok umur dewasa ke atas pada seluruh status sosial ekonomi. Saat ini upaya penganggulangan penyakit DM belum menempati skala prioritas utama dalam pelayanan kesehatan, walaupun diketahui dampak negatif yang ditimbulkannya cukup besar antara lain komplikasi kronik pada penyakit jantung kronis, hipertensi, otak, system saraf, hati, mata dan ginjal. DM merupakan salah satu penyakit degeneratif, dimana terjadi gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein serta ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia) dan dalam urin (glukosuria).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

TERAPI INSULIN

TERAPI INSULIN

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan Sumber Daya Manusia. Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi system kesehatan suatu Negara. Walaupun belum ada survey nasional, sejalan dengan perubahan gaya hidup termasuk pola makan masyarakat, diperkirakan penderita DM ini semakin meningkat, terutama pada kelompok umur dewasa ke atas pada seluruh status sosial ekonomi. Saat ini upaya penganggulangan penyakit DM belum menempati skala prioritas utama dalam pelayanan kesehatan, walaupun diketahui dampak negatif yang ditimbulkannya cukup besar antara lain komplikasi kronik pada penyakit jantung kronis, hipertensi, otak, system saraf, hati, mata dan ginjal. DM merupakan salah satu penyakit degeneratif, dimana terjadi gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein serta ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia) dan dalam urin (glukosuria).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KARBOHIDRAT DAN KOLESTEROL TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES  Hubungan Antara Konsumsi Karbohidrat Dan Kolesterol Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe Ii Rawat Jalan Di Rsud Dr.Moewa

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KARBOHIDRAT DAN KOLESTEROL TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES Hubungan Antara Konsumsi Karbohidrat Dan Kolesterol Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe Ii Rawat Jalan Di Rsud Dr.Moewa

Hasil penelitian konsumsi koleserol dengan Kadar GDP dan GD2JPP yaitu untuk hasil konsumsi kolesterol dengan kadar GDP p=0,388 (>0,05) H0 diterima berarti tidak ada hubungan konsumsi kolesterol dengan kadar GDP pada penderita Diabetes Melitus Tipe II. Sedangkan untuk konsumsi kolesterol dengan dengan kadar GDP2JPP yaitu p=0,18 (<0,05) H0 ditolak maka ada hubungan konsumsi kolesterol dengan kadar GD2JPP. Menurut Siswanti (2010) mengatakan bahwa penderita Diabetes Melitus kematian utama disebabkan oleh penyakit kardioserebrovaskular, pasien Diabetes Melitus sangat penting untuk menekan kolesterol. Menurut Yanti (2008) mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kadar kolesterol dengan kejadian PJK pada Diabetes Melitus Tipe II (P=0,032) dan kolesterol total >200mg/dl merupakan faktor resiko untuk terjadinya PJK pada Diabetes Melitus Tipe II.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

EFEK ANTIDIABETES EKSTRAK AIR KULIT BUAH PISANG AMBON (Musa paradisiaca L.) TERHADAP MENCIT (Mus musculus) MODEL HIPERGLIKEMIA | Indrawati | Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) 6245 20660 1 PB

EFEK ANTIDIABETES EKSTRAK AIR KULIT BUAH PISANG AMBON (Musa paradisiaca L.) TERHADAP MENCIT (Mus musculus) MODEL HIPERGLIKEMIA | Indrawati | Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) 6245 20660 1 PB

Pisang merupakan tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia dan merupakan buah yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia disemua kalangan, salah satu jenis pisang yaitu pisang ambon ( Musa paradisiaca L.). Pisang ambon memiliki khasiat sebagai antidiabetes (Imam, 2011). Bagian tanaman yang dimanfaatkan yaitu kulit buah. Hasil penelitian sebelumnya, ekstrak air kulit buah pisang ambon dosis 800 mg/Kg BB memiliki efek hipoglikemik terhadap mencit model hiperglikemik dengan metode toleransi glukosa. Menurut Someya (2002) dalam Peni Sri (2012), kulit pisang memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan daging buahnya. Antioksidan mampu mengontrol
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN MINYAK JINTEN HITAM (Nigella Sativa L ) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA TIKUS DIABETES AKIBAT INDUKSI ALOKSAN

PENGARUH PEMBERIAN MINYAK JINTEN HITAM (Nigella Sativa L ) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA TIKUS DIABETES AKIBAT INDUKSI ALOKSAN

Diabetes mellitus (DM) adalah suatu penyakit kronis dengan karakteristik adanya peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang sering dikaitkan sebagai penyebab penyakit degeneratif lain (Sizer and Whitney, 2006). Diabetes melitus dapat terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya (Rolfes et al, 2006). Sedangkan World Health Organization (WHO) merumuskan bahwa DM merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tetapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiwi akibat dari sejumlah faktor dimana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin (Gustaviani, 2006).
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Hubungan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Melitus yang Mengalami Kandidiasis dengan Perubahan Jumlah Koloni Candida albicans Rongga Mulut

Hubungan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Melitus yang Mengalami Kandidiasis dengan Perubahan Jumlah Koloni Candida albicans Rongga Mulut

Gejala klasik diabetes melitus seperti poliuria, polidipsi, polifagia, dan penurunan berat badan tidak selalu tampak pada lansia penderita diabetes melitus karena seiring dengan meningkatnya usia terjadi kenaikan ambang batas ginjal untuk glukosa sehingga glukosa baru dikeluarkan melalui urin bila glukosa darah sudah cukup tinggi. 19 Diabetes melitus pada lansia umumnya bersifat asimptomatik, jikalau ada gejala seringkali berupa gejala tidak khas seperti kelemahan, gatal, kesemutan, letargi, perubahan tingkah laku, menurunnya status kognitif atau kemampuan fungsional (antara lain delirium, demensia, depresi, agitasi, mudah jatuh, dan inkontinensia urin). Inilah yang menyebabkan diagnosis diabetes melitus pada lansia seringkali agak terlambat. Bahkan, diabetes melitus pada lansia seringkali baru terdiagnosis setelah timbul penyakit lain. 2,12,13 Gejala lain yang mungkin dikeluhkan penderita diabetes melitus adalah mata kabur, impotensi pada pria, dan pruritus vulva pada wanita. 13,15
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Peningkatan Produksi Radikal Bebas Pada Kasus Diabetes Melitus.

Peningkatan Produksi Radikal Bebas Pada Kasus Diabetes Melitus.

Pada kasus resistensi insulin, kadar glukosa darah yang tinggi, menyebabkan tubuh bekerja untuk menjadikan terjadinya hemostasis glukosa kea rah normal dengan jalan meningkatkan produksi insulin oleh sel-ß pankreas. Pada akhirnya kondisi hiperglikemia kronis menyebabkan sel-ß pankreas tidak merespon glukosa, kemudian terjadi disfungsi dari sel-sel tersebut (Leonardi et al., 2003; Ahmed et al., 2010).

21 Baca lebih lajut

Laporan Praktikum glukosa darah Indonesia

Laporan Praktikum glukosa darah Indonesia

Insulin merupakan hormon peptida yang disekresikan oleh sel beta pankreas. Fungsi insulin yaitu mengatur kadar normal glukosa darah. Insulin bekerja melalui memperantarai uptake glukosa seluler, regulasi metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, serta mendorong pemisahan dan pertumbuhan sel melalui efek motigenik pada insulin (Wilcox 2005). Apabila insulin tidak bekerja secara baik, maka akan mempengaruhi kadar glukosa dalam darah. Kadar glukosa darah yang tidak normal dapat menimbulkan kelainan pada tubuh, diantaranya seperti Diabetes Melitus, atherosklerosis, hyperglyceridemia dan lain-lain. Diabetes Melitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) yang diakibatkan oleh gangguan sekresi insulin, dan resistensi insulin atau keduanya. Hiperglikemia yang berlangsung lama (kronik) pada Diabetes Melitus akan menyebabkan kerusakan gangguan fungsi, kegagalan berbagai organ, terutama mata, organ, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah lainnya (Suastika et al. 2011).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...