Kadar Hormon Kortisol

Top PDF Kadar Hormon Kortisol:

View of PENGARUH LATIHAN RENANG TERHADAP KADAR HORMON KORTISOL PADA PENDERITA ASMA

View of PENGARUH LATIHAN RENANG TERHADAP KADAR HORMON KORTISOL PADA PENDERITA ASMA

diaktifkan maka postganglion tersebut melepaskan norepineprin sebagai neurotransmitter. Pada waktu yang sama, medula adrenal distimulasi untuk mensekresi epineprin di dalam darah. Norepinerin dan epineprin mengatur sel targetnya yang berikatan dengan reseptor adrenergik di membran plasma. Acetilcolin dilepaskan oleh semua syaraf preganglionik menstimulasi syaraf postganglionik ( nicotinic Acethycolin receptors ) dan berikatan dengan β 2 adrenergik mengakibatkan dilatasi saluran pernapasan (Fox, 2009). Hal ini juga dibuktikan pada penelitian ini, bahwa diperoleh hasil adanya peningkatan kadar hormon kortisol
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KADAR HORMON KORTISOL DENGAN KEJADIAN POSTPARTUM BLUES PADA PERSALINAN VAKUM EKSTRAKSI.

HUBUNGAN ANTARA KADAR HORMON KORTISOL DENGAN KEJADIAN POSTPARTUM BLUES PADA PERSALINAN VAKUM EKSTRAKSI.

a) Tesis yang berjudul : “ HUBUNGAN ANTARA KADAR HORMON KORTISOL DENGAN KEJADIAN POSTPARTUM BLUES PADA PERSALINAN VAKUM EKSTRAKSI” ini adalah karya ilmiah saya sendiri dan bebas plagiat, serta tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik serta tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis digunakan sebagai acuan serta daftar pustaka.apabila dikemudian hari terbukti terdapat plagiat di karya ilmiah ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan(permendiknas No 17, tahun 2010)
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

EFEKTIFITAS Guided Imagery and Music (GIM) TERHADAP KADAR HORMON KORTISOL PADA IBU POST PARTUM BLUES DI WILAYAH KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

EFEKTIFITAS Guided Imagery and Music (GIM) TERHADAP KADAR HORMON KORTISOL PADA IBU POST PARTUM BLUES DI WILAYAH KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Postpartum blues (PPB) atau sering juga disebut Maternity blues atau Baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan dan memuncak pada hari ke tiga sampai kelima dan menyerang dalam rentang waktu 14 hari terhitung setelah persalinan. Untuk mengantisipasi ibu postpartum yang mengalami post partum blues perlu diadakan penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi efektifitas Guided Imagery and Music (GIM) terhadap kadar hormon kortisol pada ibu postpartum blues di Wilayah Kota Semarang.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Kadar Hormon Kortisol Dengan Kejadian Postpartum Blues Pada Persalinan Vakum Ekstraksi cover

Hubungan Antara Kadar Hormon Kortisol Dengan Kejadian Postpartum Blues Pada Persalinan Vakum Ekstraksi cover

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kadar hormon kortisol dengan kejadian postpartum blues pada persalinan va kum ekstra ksi dan hubungan kadar hormon kortisol ibu bersalin dengan va kum ekstra ksi dan normal.

17 Baca lebih lajut

Hubungan kadar hormon kortisol dengan kejadian post partum blues pada persalinan dengan induksi abstrak

Hubungan kadar hormon kortisol dengan kejadian post partum blues pada persalinan dengan induksi abstrak

Hasil: Jumlah subyek penelitian adalah 30 orang, terbagi kedalam 2 kelompok (persalinan normal dan persalinan induksi) dan setiap kelompok 15 orang. Nilai mean kadar kortisol pada persalinan induksi 40,29±5,58, persalinan normal yaitu 33,59±11,17, p-value 0.047 < 0.05. Kelompok persalinan induksi meningkatkan kadar kortisol sebesar 2,169 kali dibandingkan kadar kortisol persalinan normal (OR = 2,169 dan p = 0,032 ). Kadar kortisol persalinan induksi meningkatkan risiko kejadian post partum blues sebesar 5,50 kali dibandingkan kadar kortisol persalinan normal (OR = 5,50 dan p = 0,028 ). Didapatkan nilai mean kadar kortisol pada kejadian post partum blues lebih tinggi yaitu sebesar 42,90±6,97 dibandingkan nilai mean kadar kortisol yang tidak post partum blues yaitu sebesar 30,14±6,66 dengan p-value 0.00 < 0.05.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENGARUH KUMULATIF ASAP ROKOK DAN STRES TERHADAP PENINGKATAN KADAR HORMON KORTISOL MENCIT

PENGARUH KUMULATIF ASAP ROKOK DAN STRES TERHADAP PENINGKATAN KADAR HORMON KORTISOL MENCIT

reseptor nikotinik menyebabkan aktivasi beberapa jalur neurohu- moral yang akan mengakibatkan pelepasan asetilkolin, norepi-nefrin, dopamin, serotonin, vasopresin, hormon pertumbuhan (GH) dan ACTH." Melalui nikotin dapat meningkatkan hormon kortisol dalam darah yang akan menekan respon imun. Nikotin dapat menye- babkan imunosupresif akibat dari pengaruh langsung pada limposit atau pengaruh tidak langsung melalui sistem neuroendokrin atau keduanya. 2 Stres electric foot shock berupa stres fisik yang dapat menimbulkan pelepasan IL-1 di dalam otak yang selanjutnya merangsang CRH (Corticotropin Releasing Hormon) akan mengaktifkan hipofise untuk mengeluarkan ACTH, selanjutnya ACTH akan memacu korteks adrenal untuk menghasilkan kortisol. 13 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kombinasi stres psikologik dan merokok menimbulkan efek aditif pada pelepasan kortisol. 14
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Patofisiologi Sekitar Partus pada Kambing Peranakan Etawah  Kajian Peran Suplementasi Zincum terhadap Respons Imunitas dan Produktivitas

Patofisiologi Sekitar Partus pada Kambing Peranakan Etawah Kajian Peran Suplementasi Zincum terhadap Respons Imunitas dan Produktivitas

Selama kebuntingan sampai partus terjadi peningkatan beberapa hormon seperti progesteron, estrogen dan glukokortikoid. Ketiganya memiliki sifat imunosupresan, dapat mempengaruhi gambaran darah dan fungsi sel leukosit sebagai sel pertahanan tubuh. Peningkatan hormon progesteron selama kebuntingan diperlukan untuk menjaga kebuntingan. Hormon progesteron memiliki reseptor pada sel limfosit, sehingga peningkatan hormon ini menyebabkan penurunan aktifitas sitotoksik dari limfosit (Kehrli et al. 1989) dan secara tidak langsung menekan fungsi sel PMN (Roth et al. 1983). Pada sapi hormon kortisol meningkat menjadi 4 sampai 8 ng/ml tiga hari sebelum partus, dan pada saat partus mencapai puncaknya sekitar 15 sampai 30 ng/ml. Hormon kortisol bekerja memblok fase mitosis dan meiosis sel secara umum dan respons imun seluler khususnya, termasuk hambatan proliferasi limfosit. Khan dan Ludri (2002) mengungkapkan terjadi peningkatan kadar hormon kortisol, prolaktin, growth hormon, estrogen, disertai terjadinya penurunan hormon progesteron, insulin, dan hormon tiroxin dalam peristiwa kebuntingan sekitar partus. Penurunan hormon insulin pada saat partus diimbangi dengan mobilisasi nutrien dari depot lemak yang ditujukan untuk sintesis susu, dan merefleksikan ketidakcukupan pakan selama periode ini (Goff dan Horst 1997). Pada kambing yang partus kortisol meningkat dari 10 ng/ml sebelumnya menjadi sekitar 25 ng/ml. Minton et al. (1992) melaporkan pada domba yang mengalami stress kadar kortisol dapat mencapai 70 ng/ml, sedangkan pada kontrol kadar kortisol berkisar 20 ng/ml.
Baca lebih lanjut

118 Baca lebih lajut

PENGARUH PREGNANCY MASSAGETERHADAP PERUBAHAN KUALITAS TIDUR IBU HAMIL TRIMESTER KETIGA (Studi di Mojo Baby Spa Kec.Maron Kab.Probolinggo)

PENGARUH PREGNANCY MASSAGETERHADAP PERUBAHAN KUALITAS TIDUR IBU HAMIL TRIMESTER KETIGA (Studi di Mojo Baby Spa Kec.Maron Kab.Probolinggo)

hindari penekanan pada bagian tertentu, misalnya pada bagian kaki karena hal ini dapat merangsang persalinan jika dilakukan saat usia kehamilan kurang dari 28 minggu. Pijat hamil dapat memperlancar sirkulasi darah, membuat tubuh menjadi rileks, ketegangan otot pada bagian tertendu dapat berkurang (Aprillia, 2010). Pregnancy massage memiliki efek yang positif pada ibu hamil dengan menurunkan hormon kortisol untuk mengurangi stres, neropineprin untuk mengurangi kecemasan, serotonin untuk mengurangi nyeri pada bagian punggung dan kaki, aktifitas janin rendah, sehingga kualitas tidur ibu hamil meningkat, dan tingkat prematur pada bayi rendah (Field et al, 2004).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kadar Kortisol Saliva Sebagai Penanda Derajat Sindroma Premenstruasi Pada Remaja

Kadar Kortisol Saliva Sebagai Penanda Derajat Sindroma Premenstruasi Pada Remaja

Telah diteliti bahwa sindroma premenstruasi berkaitan erat dengan tingkat stres seorang perempuan, dan telah dipostulasikan bahwa stres menginduksi sekresi hormon kortisol yang pada akhirnya menghasilkan suatu kaskade perubahan fisiologis akibat aktivasi dari pusat neuroendokrin di hipotalamus dalam aksis hipotalamus'hipofisis'adrenal (Facchinetti et al 1994; Demers, 1999; Ziegler & Herman, 2002; Halbreich 2003; Kalman& Grahn, 2004; Kurina et al, 2004; Matsumoto et al,2007; Taylor et al 2008; Rabin et al, 2011).

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Kebisingan Intensitas Tinggi Terhadap Kadar Kortisol Pada Tikus Jantan

Pengaruh Kebisingan Intensitas Tinggi Terhadap Kadar Kortisol Pada Tikus Jantan

Hasil menunjukan bahwa kebisingan meningkatkan kadar kortisol darah tikus jantan secara signifikan p = 0,0000 (p < 0,05), mengurangi pertambahan berat badan tikus jantan yang bermakna p = 0,0000 (p < 0,05), sedangkan pertambahan berat badan dan berat kelenjar adreanl tidak bermakna p = 0,353 (p > 0,05).

Baca lebih lajut

UJI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN KADAR KORTISOL DAN MYELOID-RELATED PROTEIN 8/14 DALAM MENILAI KEJADIAN PAYAH JANTUNG AKUT Studi Penelitian pada Pasien Infark Miokard Akut.

UJI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN KADAR KORTISOL DAN MYELOID-RELATED PROTEIN 8/14 DALAM MENILAI KEJADIAN PAYAH JANTUNG AKUT Studi Penelitian pada Pasien Infark Miokard Akut.

Myeloid-related protein 8/14 (MRP 8/14) merupakan penanda aktivasi fagosit yang terlibat pada ketidakstabilan plak, terutama diekspresikan oleh netrofil dan monosit. Peningkatan kadar MRP 8/14 pada SKA terdapat pada lokasi oklusi koroner dan sirkulasi sistemik. Penanda inflamasi ini meningkat sebelum peningkatan penanda nekrosis jantung (mioglobin, troponin, dan CKMB) (Altwegg et al ., 2007; Dekker et al., 2010; Katashima et al, 2010).

Baca lebih lajut

b. Perubahan Fisiologis Pada Kehamilan - ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN PATOLOGI PADA NY.S UMUR 20 TAHUN, GIP0A0, HAMIL 32 MINGGU DENGAN DIABETES MELLITUS GESTASIONAL DI PUSKESMAS KELING I JEPARA - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

b. Perubahan Fisiologis Pada Kehamilan - ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN PATOLOGI PADA NY.S UMUR 20 TAHUN, GIP0A0, HAMIL 32 MINGGU DENGAN DIABETES MELLITUS GESTASIONAL DI PUSKESMAS KELING I JEPARA - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Resistensi insulin merupakan mekanisme penghematan glukosa untuk memastikan suplai glukosa pada janin tercukupi. Selama trimerter 2 & 3 hormon estrogen, progesterin, HPL kortisol dan prolaktin bekerja sebagai antagonis untuk meningkatkan resistensi insulin.Menjelang akhir kehamilan kebutuhan insulin meningkat 2-4 kali, jika pancreas tidak cukup memproduksi insulin maka akan menjadi pemicu terjadinya DMG.10 % ibu hamil mengalami glukosuria tanpa kenaikan glukosa darah, karena peningkatan GFR selama kehamilan, kondisi ini sering terjadi pada primipara (Hanifa, 2006).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PEMBERIAN EKSTRAK BIJI PRONOJIWO (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn) SECARA ORAL DAPAT MENINGKATKAN KADAR HORMON TESTOSTERON PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) JANTAN TUA.

PEMBERIAN EKSTRAK BIJI PRONOJIWO (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn) SECARA ORAL DAPAT MENINGKATKAN KADAR HORMON TESTOSTERON PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) JANTAN TUA.

Hormon testosteron terutama memegang peranan pada masa pubertas yaitu usia 10-14 tahun, dimana akan terjadi maturasi dari sistem reproduksi yang sebelumnya tidak berfungsi menjadi berfungsi dan mempunyai kemampuan untuk bereproduksi. Pada masa pubertas, sel Leydig mulai mensekresi hormon testosteron. Testosteron inilah yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan dan perkembangan seluruh sistem reproduksi laki-laki. Sekresi testosteron berpengaruh terhadap terjadinya pembesaran testis dan dimulainya produksi sperma untuk pertama kalinya, terjadinya pembesaran glandula seksual aksesoris dan pembesaran penis serta skrotum. Setelah masa pubertas, sekresi testosteron dan spermatogenesis terjadi secara terus-menerus seumur hidup seorang laki- laki, meskipun produksinya akan berkurang secara bertahap setelah umur 45 atau 50 tahun keatas. Penurunan level testosteron dan produksi sperma ini tidak disebabkan oleh penurunan stimulasi testis tetapi kemungkinan besar terjadi karena perubahan degenerasi yang berkaitan dengan penuaan yang terjadi pada pembuluh darah kecil di testis. Penurunan ini sering disebut sebagai andropause.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

PEMBERIAN EKSTRAK BIJI PRONOJIWO (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn) SECARA ORAL DAPAT MENINGKATKAN KADAR HORMON TESTOSTERON PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) JANTAN TUA.

PEMBERIAN EKSTRAK BIJI PRONOJIWO (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn) SECARA ORAL DAPAT MENINGKATKAN KADAR HORMON TESTOSTERON PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) JANTAN TUA.

Hormon testosteron terutama memegang peranan pada masa pubertas yaitu usia 10-14 tahun, dimana akan terjadi maturasi dari sistem reproduksi yang sebelumnya tidak berfungsi menjadi berfungsi dan mempunyai kemampuan untuk bereproduksi. Pada masa pubertas, sel Leydig mulai mensekresi hormon testosteron. Testosteron inilah yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan dan perkembangan seluruh sistem reproduksi laki-laki. Sekresi testosteron berpengaruh terhadap terjadinya pembesaran testis dan dimulainya produksi sperma untuk pertama kalinya, terjadinya pembesaran glandula seksual aksesoris dan pembesaran penis serta skrotum. Setelah masa pubertas, sekresi testosteron dan spermatogenesis terjadi secara terus-menerus seumur hidup seorang laki- laki, meskipun produksinya akan berkurang secara bertahap setelah umur 45 atau 50 tahun keatas. Penurunan level testosteron dan produksi sperma ini tidak disebabkan oleh penurunan stimulasi testis tetapi kemungkinan besar terjadi karena perubahan degenerasi yang berkaitan dengan penuaan yang terjadi pada pembuluh darah kecil di testis. Penurunan ini sering disebut sebagai andropause.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Stres Psikologis Pada Pasien Psoriasis (10 14)

Stres Psikologis Pada Pasien Psoriasis (10 14)

Prevalensi psoriasis sangat bervariasi di masing-masing negara, di Amerika sekitar 3 % dari populasi menderita psoriasis. Faktor genetik sangat berperan, bila orang tua pasien tidak menderita psoriasis, risiko untuk mendapat psoriasis adalah 12%, sedangkan jika salah satu orang tuanya menderita psoriasis risikonya 34-39%, bila kedua orang tua menderita psoriasis maka risikonya sebesar 60-70%. Berdasarkan awitan penyakit dikenal dua tipe: psoriasis yaitu tipe I dengan awitan dini, bersifat familial dan psoriasis tipe II dengan awitan lambat bersifat nonfamilial. 3 Penyebab psoriasis belum diketahui dengan pasti karena bersifat multiorgan dan multifaktor. Salah satu sebagai faktor risiko adalah stres psikologis (stres). 4 Pada awalnya diketahui bahwa stres psikologis dapat mengakibatkan menurunnya respons terapi dan menyebabkan bertambah beratnya keadaan pasien, kemudian diketahui bahwa hormon stress, seperti kortisol dan norepinefrin yang meningkat dapat mengganggu keseimbangan Th1/Th2, sebagai akibat dari stimuli stres terhadap sumbu hipotalamus-pituitary- adrenal (HPA). 5
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pengaruh Hormon Triiodotironin Dan Kortisol Terhadap Perkembangan, Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Larva Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata, BLKR.)

Pengaruh Hormon Triiodotironin Dan Kortisol Terhadap Perkembangan, Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Larva Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata, BLKR.)

Protein diperlukan oleh tubuh larva ikan betutu antara lain sebagai bahan bagi pertumbuhan. Protein ini diperoleh oleh larva dari makanan yang dikonsumsi. Di dalam pengubahan protein makanan ini menjadi protein tubuh (pertumbuhan) dikenal adanya peran ARN-K (asam ribose nukleat-kurir [mRNA]). Peningkatan sintesis protein karena peningkatan sintesis ARN-K di dalam sel akibat pemberian triiodotironin dan kortisol, maka akan memerlukan peningkatan jumlah makanan

5 Baca lebih lajut

Analisis Hormon Kortisol dan Penerapan Aspek Kesejahteraan Hewan pada Sapi yang Dipingsankan dan Tidak Dipingsankan Sebelum Penyembelihan

Analisis Hormon Kortisol dan Penerapan Aspek Kesejahteraan Hewan pada Sapi yang Dipingsankan dan Tidak Dipingsankan Sebelum Penyembelihan

Penelitian Dunn (1990) melaporkan bahwa pengekangan sapi dengan posisi terbalik (telentang) selama 103 detik menyebabkan konsentrasi hormon kortisol meningkat menjadi dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan sapi yang dikekang menggunakan perangkat dengan posisi tegak. Proses pemutaran sapi pada restraining box dapat membuat sapi terkejut dan berpotensi menimbulkan stres. Sapi yang dikekang pada restraining box dengan membalikkan posisi sapi mempunyai rata-rata konsentrasi hormon kortisol sebesar 93 ng/ml (Dunn 1990). Penelitian Lamboij et al. (2012) melaporkan bahwa konsentrasi hormon kortisol pada darah dapat meningkat secara signifikan setelah perebahan sapi hingga 180 derajat pada metode pengekangan sapi sebelum penyembelihan tanpa pemingsanan. Ketidaknyamanan sapi pada pengekangan dengan menggunakan restraining box Mark IV diduga juga karena adanya suara bising yang timbul dari sistem hidrolik alat pengekangan ini pada saat memutar sapi 90 derajat. Suara bising dari sistem hidrolik sangat mengganggu sapi, hal ini dapat diatasi dengan penambahan bantalan karet sisi-sisi restraining box atau pembangunan dinding yang dapat meredam suara (Grandin 2000).
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Konsentrasi Hormon Kortisol dan Kualitas Daging pada Sapi yang Dipingsankan dengan Captive Bolt Stun Gun sebelum Disembelih

Konsentrasi Hormon Kortisol dan Kualitas Daging pada Sapi yang Dipingsankan dengan Captive Bolt Stun Gun sebelum Disembelih

11 Hasil analisa deskriptif konsentrasi hormon kortisol pada sapi yang dipingsankan dengan captive bolt stun gun sebelum disembelih disajikan pada Tabel 1. Konsentrasi hormon kortisol sapi yang dipingsankan dengan captive bolt stun gun sebelum disembelih adalah 26.5916.61 ng/ml. Hasil yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian Mounier et al. (2006) bahwa konsentrasi kortisol darah pada saat penyembelihan rata-rata sekitar 21 ng/ml. Menurut Ewbank et al. (1992), konsentrasi kortisol sapi yang ditangani dengan baik adalah 24 ng/ml. Tingginya nilai konsentrasi hormon kortisol pada penelitian diduga karena hewan mengalami stres. Diduga hewan mengalami stres tidak hanya pada saat penyembelihan namun juga pada saat penanganan yang kurang baik di kandang penampungan, penggiringan sapi di gang way, penanganan ketika memasuki restraining box, dan stunner yang kurang terlatih.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Siklus Menstruasi - Hubungan Status Gizi, Stress, Olah Raga Teratur dengan Keteraturan Siklus Menstruasi pada Siswi SMA St. Thomas 2 Medan Tahun 2014

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Siklus Menstruasi - Hubungan Status Gizi, Stress, Olah Raga Teratur dengan Keteraturan Siklus Menstruasi pada Siswi SMA St. Thomas 2 Medan Tahun 2014

Respon utama terhadap rangsangan stress adalah pengaktifan sistem saraf simpatis generalisata dan pengaktifan sistem CRH-ACTH-kortisol (Corticotropin- releasing hormone-Adenocorticotropik Hormone) (Sherwood, 2009). Stress akan memicu produksi hormon kortisol yang berlebihan, dimana hormon ini bekerja mengatur seluruh sistem di dalam tubuh, termasuk sistem reproduksi. Produksi kortisol yang berlebihan ini akan mempengaruhi pengeluaran hormon dari korteks adrenal, terutama hormon estrogen yang nantinya akan mempengaruhi kelancaran siklus menstruasi dan akan memicu perubahan-perubahan dependen androgen pada wanita (Duchesne, 2013).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Hiperprolaktinemia pada Pasien Gagal Ginjal Kronik

Hiperprolaktinemia pada Pasien Gagal Ginjal Kronik

Hasil laboratorium menunjukkan Hb 9,3 mg%, leukosit dan trombosit normal. Fungsi ginjal : ureum 113,8mg/dL, kreatinin 9,56mg/dL. Elektrolit normal. Fungsi tiroid, T3: 0,52ng/ml, T4:2,85ug/dl, TSH: 5,970 uIU/ml. Hormon seks, Prolaktin : 1318, LH : 10,42, FSH : 6,93 mIU/mL, Estradiol : 58,31 pg/mL, β HCG : 0, Testosteron : 0,44 ng/ml. USG mammae : ginekomastia. Foto toraks: kardiomegali+edema paru.

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...