Kakap putih

Top PDF Kakap putih:

Analisis Finansial Usaha Tambak Kepiting Bakau (Scylla serrata) dan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) di Kampung Sentosa Barat Lingkungan 20 Kelurahan Sicanang Kecamatan Medan Belawan

Analisis Finansial Usaha Tambak Kepiting Bakau (Scylla serrata) dan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) di Kampung Sentosa Barat Lingkungan 20 Kelurahan Sicanang Kecamatan Medan Belawan

Perikanan budidaya di Kelurahan Sicanang sangat potensial untuk dikembangkan dan dapat mendukung kesejahteraan pembudidaya, serta mampu meningkatkan nilai taraf hidup masyarakat pembudidaya Kepiting Bakau (Scylla serrata) dan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai finansial yang diperoleh usaha budidaya kepiting bakau dan ikan kakap putih di Kelurahan Sicanang. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu pada bulan Maret sampai April 2016 di Kampung Sentosa Barat Lingkungan 20 Kelurahan Sicanang Kecamatan Medan Belawan. Jenis penelitian ini merupakan metode survey. Metode Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan slovin dan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan Rata- rata pendapatan yang di peroleh pembudidaya kepiting bakau per tiga kali budidaya adalah sebesar Rp 93.110.000. Sedangkan pendapatan ikan kakap putih adalah sebesar Rp -1.389.131. Hal ini disebabkan oleh beberapa aspek yaitu harga dan keberadaan benih, kondisi alam dan harga jual ikan. Secara finansial usaha budidaya kepiting bakau lebih menguntungkan dan layak untuk dijalankan dibandingkan dengan ikan kakap putih yang memiliki berbagai masalah serta dianggap kurang layak untuk dijalankan ini terbukti dengan perolehan B/C ratio kepiting bakau yaitu 2,46 sedangkan ikan kakap putih memiliki B/C ratio sebesar 0,93. Namun, dalam hal pembudidayaan kepiting bakau dianggap sama memiliki kelebihan dengan ikan kakap putih. Seperti selera, harga, dan subsitusi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengembangan Perikanan Kakap Putih (Lates calcarifer) di Kabupaten Mimika

Pengembangan Perikanan Kakap Putih (Lates calcarifer) di Kabupaten Mimika

Daerah penyebaran ikan kakap putih sangat luas, meliputi daerah tropis dan sub tropis sampai ke bagian barat Pasifik dan Samudera Hindia antara 50ºBT- 160ºBB, 24ºLU dan 25ºLS yang meliputi daerah Pasifik Barat, mulai dari Persian Gulf, India, Burma, Sri Lanka, Bangladesh, Peninsula, Jawa, Borneo, Celebes, Philipina sampai Papua New Guinea, bagian utara Australia dan sampai Taiwan dan Amoy. Penyebaran geografis ini dibatasi oleh adanya ketidaksamaan habitatnya (sungai-sungai besar dan air tawar), kompetisi dengan spesies lain atau rendahnya temperatur (Kungvankij et al., 1986). Selain itu ditemukan juga di sekitar bagian utara Asia, ke selatan sampai pantai utara Australia dan ke barat sampai Afrika Timur. Di Indonesia sendiri banyak dijumpai di sepanjang pantai utara Jawa, pantai Sumatera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Selat Tiworu dan Arafura.
Baca lebih lanjut

150 Baca lebih lajut

TAP.COM -   RESPONS IMUN DAN PERTUMBUHAN IKAN KAKAP PUTIH ... - JOURNAL IPB 10320 33100 1 PB

TAP.COM - RESPONS IMUN DAN PERTUMBUHAN IKAN KAKAP PUTIH ... - JOURNAL IPB 10320 33100 1 PB

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan masing-masing memiliki tiga ulangan. Setiap unit percobaan ditempatkan secara acak agar mendapat perlakuan yang sama atau homogen. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemberian 3% protein hidrolisis, 2% protein hidrolisis, dan kontrol tanpa pemberian protein hidrolisis. Setiap perlakuan memiliki tiga ulangan. Semua ikan uji dalam penelitian ini masing-masing menerima pakan dengan kualitas yang sama. Selama masa penelitian, Pemberian pakan ditetapkan sebanyak 7% dari total biomass yang disesuaikan berdasarkan pertumbuhan harian (pertambahan panjang dan bobot) serta jumlah ikan kakap putih pada setiap perlakuan. Bak percobaan dilengkapi dengan sistem aerasi yang berkelanjutan, pergantian air dilakukan pagi dan sore hari. Penelitian pada fase pendederan dihentikan ketika ikan mencapai bobot ±20 g dan fase pembesaran mencapai bobot antara 50–60 g.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH JINTAN HITAM (Nigella sativa) TERHADAP HISTOPATOLOGI IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer) DENGAN UJI TANTANG VIRAL NERVOUS NECROSIS (VNN)

PENGARUH JINTAN HITAM (Nigella sativa) TERHADAP HISTOPATOLOGI IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer) DENGAN UJI TANTANG VIRAL NERVOUS NECROSIS (VNN)

Ikan kakap putih (L. calcarifer) memiliki bentuk badan memanjang, gepeng, batang sirip ekor lebar dengan bentuk bulat, mata berwarna merah cemerlang, bukaan mulut lebar sedikit serong dengan gigi-gigi halus dan tidak memiliki taring, terdapat lubang kuping bergerigi pada bagian penutup insang, sirip punggung terdiri dari jari-jari keras sebanyak 3 buah dan jari-jari lemah sebanyak 7-8 buah. Ikan kakap putih yang berumur 1-3 bulan berwarna terang, selanjutnya ikan kakap putih yang melewati umur 3 bulan akan berubah menjadi keabu-abuan dengan sirip berwarna gelap. Badan atau sirip tidak terdapat corak bintik-bintik (Gambar. 1) (FAO, 2006).
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

OPTIMASI PROSES PEMBUATAN HIDROLISAT JEROAN IKAN KAKAP PUTIH

OPTIMASI PROSES PEMBUATAN HIDROLISAT JEROAN IKAN KAKAP PUTIH

Jeroan ikan adalah bahan baku dengan kualitas rendah atau limbah yang jika tidak dimanfaatkan dapat menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan. Limbah jeroan ikan kakap putih memiliki kadar protein yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan menjadi hidrolisat protein ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi terbaik pembuatan hidrolisat protein serta mengkarakterisasi produk hidrolisat protein yang dihasilkan. Tahap penelitian meliputi karakterisasi jeroan, pembuangan komponen lemak (defatting), penentuan kondisi optimum hidrolisis, dan analisis kimia hidrolisat jeroan ikan kakap putih. Jeroan ikan kakap putih memiliki kadar protein tinggi sebesar 31,20%±0,03 (bk) dan lemak 61,44%±1,22 (bk). Kandungan lemak dapat mempengaruhi proses hidrolisis sehingga membutuhkan proses pembuangan lemak (defatting). Defatting mampu menurunkan lemak sebesar 2,95% (bk) dari lemak awal yakni 61,44%±1,22 (bk) menjadi 58,71%±0,65 (bk). Proses hidrolisis jeroan ikan kakap putih dilakukan menggunakan enzim papain dengan aktivitas 30 Usp/mL dengan konsentrasi enzim 0,15% (b/v), suhu 55 ° C, pH 8 selama 4 jam. Karakteristik produk hidrolisat jeroan ikan kakap putih (Lates calcarifer) yakni kadar air (10,82±0,84%), kadar protein (62,85%±0,72), kadar lemak (0,84%±0,28), kadar abu (7,30%±0,03), karbohidrat (18,19%±1,32) dan daya cerna protein sebesar 87,03%. Hidrolisat protein jeroan ikan kakap putih memiliki kandungan 15 jenis asam amino. Asam amino tertinggi yakni asam glutamat (10,75%), sedangkan asam amino terendah yakni histidin (1,38%). Hidrolisat protein dapat diaplikasikan sebagai sumber protein dalam pakan ikan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

168427 ID aspek reproduksi ikan kakap putih lates

168427 ID aspek reproduksi ikan kakap putih lates

Intisari: Penelitian mengenai aspek reproduksi ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) di Perairan Terusan Dalam kawasan Taman Nasional Sembilang Pesisir Kabupaten Banyuasin telah dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2012. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek reproduksi ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) yang meliputi hubungan panjang-berat, rasio kelamin, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), fekunditas dan diameter telur. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat tang- kap jaring tangsi yaitu jaring dengan mata jala berdiameter 3-4 inchi dan berukuran 100-500 meter yang dipa- sang menutupi sebagian perairan sepanjang aliran sungai dengan tinggi jaring berkisar antara 5 - 15 m dengan sistem pemasangan zig-zag. Jumlah ikan Kakap putih yang diperoleh dari bulan Maret sampai bulan Juni ber- jumlah 31 ekor. Pola pertumbuhan ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) bersifat allometrik negatif. Ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) termasuk ikan hermaprodit protandri yaitu sifat perubahan kelamin dari jantan men- jadi betina. Tidak ditemukan ikan Kakap putih berjenis kelamin betina. Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan Kakap putih (L. calcarifer Block) berdasarkan sampel dikelompokkan menjadi TKG I, II, dan III dengan kisaran indeks kematangan gonad (IKG) antara 0,0012 % sampai 0,006 %.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Profil Hematologi Kakap Putih Lates calc

Profil Hematologi Kakap Putih Lates calc

pakan), perlakuan B (2,5 g jintan hitam /kg pakan), perlakuan C (5,0 g jintan hitam /kg pakan) perlakuan D (7,5 g jintan hitam /kg pakan). Kakap putih dengan bobot sekitar ±15 gr sebanyak 60 ekor lalu diadaptasikan selama 7 hari dan diberi pakan berupa pelet. Ekstrak jintan hitam ditimbang sesuai dosis lalu dicampurkan pada pakan sebanyak 1 kg dengan bantuan spatula, ditambahkan dua putih telur sebagai binder dan diaduk dengan spatula, lalu pellet dikeringkan dengan cara diangin- anginkan. Pengambilan darah dilakukan setiap seminggu sekali, sebelum pengambilan darah kakap putih terlebih dahulu dibius mengunakan minyak cengkeh dengan dosis 0,04 ppm. Darah diambil pada bagian vena caudalis kemudian darah ditempatkan ke dalam eppendorf. Waktu pengambilan darah sampai uji tantang (Gambar 1).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

pembesaran ikan kakap putih

pembesaran ikan kakap putih

Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) atau lebih dikenal dengan nama seabass/Baramundi merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Produksi ikan kakap di indonesia sebagian besar masih dihasilkan dari penangkapan di laut, dan hanya beberapa saja diantarannya yang telah di hasilkan dari usah pemeliharaan (budidaya). Salah satu faktor selama ini yang menghambat perkembangan usaha budidaya ikan kakap di indonesia adalah masih sulitnya pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah yang cukup. Untuk mengatasi masalah benih, Balai Budidaya Laut Lampung bekerja sama dengan FAO/UNDP melalui Seafarming Development Project INS/81/008 dalam upaya untuk memproduksi benih kakap putih secara massal. Pada bulan April 1987 kakap putih telah berhasil dipijahkan ddengan rangsangan hormon, namun demikian belum diikuti dengan keberhasilan dalam pemeliharaan larva. Baru pada awal 1989 kakap putih dengan sukses telah dapat dipelihara larvanya secara massal di hatchery Balai Budidaya Lampung.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Produksi dan Karakterisasi Hidrolisat Jeroan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)

Produksi dan Karakterisasi Hidrolisat Jeroan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)

Kandungan lemak yang terdapat dalam produk hidrolisat yakni 0,84%±0,28. Kandungan lemak dalam produk hidrolisat jeroan ikan kakap putih lebih kecil jika dibandingkan dengan hidrolisat ikan Catla. Kandungan lemak dalam produk hidrolisat diduga dipengaruhi oleh karakteristik bahan baku yang digunakan serta proses pemisahan lemak setelah hidrolisis. Proses pemisahan lemak setelah hidrolisis dilakukan dengan metode penyimpanan pada suhu rendah dan proses penyaringan dengan menggunakan kertas saring dan belacu. Menurut Shahidi et al. (1995) menyatakan bahwa pada saat reaksi hidrolisis berlangsung, membran sel akan menyatu dan membentuk gelembung yang tidak terlarut, hal tersebut menyebabkan terlepasnya lemak pada struktur membran. Kandungan lemak ini dapat mempengaruhi daya simpan produk hidrolisat dan kestabilan produk terhadap oksidasi lemak (Ovissipour et al. 2008). Produk hidrolisat protein dengan kadar lemak rendah umumnya lebih stabil dan tahan lama jika dibandingkan dengan produk hidrolisat yang mempunyai kadar lemak yang tinggi. Kandungan protein dalam hidrolisat protein jeroan ikan kakap putih yakni 62,85% ± 0,72. Menurut Ovissipour et al. (2008) peningkatan kadar protein dalam produk hidrolisat disebabkan karena selama proses hidrolisis protein yang bersifat tidak larut dalam air berubah menjadi senyawa nitrogen yang bersifat larut dalam air dan senyawa-senyawa yang lebih sederhana misalnya peptida dan asam amino.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

KERAGAAN KERANG HIJAU (Parma vitrifies) PADA SISTEM MONOKULTUR DAN POLIKULTUR BERSAMA IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer)

KERAGAAN KERANG HIJAU (Parma vitrifies) PADA SISTEM MONOKULTUR DAN POLIKULTUR BERSAMA IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer)

7 berjumlah 35 batang, pelampung berjumlah 10 drum, tali berjenis serat alami digunakan untuk menempelnya benih kerang berjumlah 35 tali untuk 1 bambu. Keramba polikultur (kerang hijau dan kakap putih) yang diamati disajikan pada (Gambar 4) berukuran 8 x 9 m 3 dilengkapi bambu yang berjumlah 4 batang, pelampung berjumlah 12 drum dan wadah menggunakan jaring nilon berdiameter 1 inchi berukuran 3 x 3 m 3 . Bahan yang digunakan adalah benih kerang hijau, benih kakap putih (6-7 cm) sebanyak 600 ekor, pakan ikan kakap putih (pelet dan ikan rucah), akuades untuk pengamatan kualitas air dan formalin 4%. Alat dan bahan penelitian yang digunakan dapat dilihat di (Lampiran 1).
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

PENGARUH FORMULASI TERHADAP KUALITAS NUGGET IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer)

PENGARUH FORMULASI TERHADAP KUALITAS NUGGET IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer)

  Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Pengaruh Formulasi Terhadap Kualitas Nugget Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)” sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan pada Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian dan peternakan Universitas Muhammadiyah Malang.

13 Baca lebih lajut

Aktivitas Antioksidan dan Komponen Bioaktif Hidrolisat Protein Jeroan Ikan Kakap Putih (Lates calcalifer)

Aktivitas Antioksidan dan Komponen Bioaktif Hidrolisat Protein Jeroan Ikan Kakap Putih (Lates calcalifer)

Koesoemawardani dan Nurainy (2009) menyatakan bahwa hidrolisat protein ikan dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pangan, yaitu hidrolisat protein ikan rucah yang diaplikasikan kedalam produk biskuit. Hidrolisat protein ikan juga memiliki aktivitas antioksidan yang bermanfaat untuk mencegah ketengikan pada makanan (Venugopal 2006). Aktivitas antioksidan sangat erat kaitannya dengan ikatan peptida yang terdapat pada protein serta asam amino yang terkandung di dalamnya. Hal ini mengacu pada hasil penelitian produk hidrolisat protein jeroan ikan Catla catla (Bhaskar et al. 2008) dan produk hidrolisat protein cumi-cumi (Fang et al. 2012). Asam amino yang terkandung didalamnya antara lain asam aspartat, treonina, serina, glutamina, prolina, glisina, alanina, valina, metionina, leusina, isoleusina, tirosina, fenilalanina, histidina, dan lainnya. Penelitian mengenai aktivitas antioksidan produk hidrolisat protein ikan dan jeroannya sudah banyak dilakukan, namun informasi mengenai hidrolisat protein jeroan ikan kakap putih yang memiliki aktivitas antioksidan belum ada sehingga penelitian ini perlu dilakukan.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

bmp budidaya ikan kakap putih 2015

bmp budidaya ikan kakap putih 2015

kelompok tersebut dilakukan untuk mendiskusikan berbagai kegiatan dan permasalahan yang bersifat teknis operasional, kegiatan admisnistratif kelompok maupun masalah sosial. Kelompok pembudidaya kakap putih sebaiknya bergabung dalam wadah gabungan (forum kerjasama) antar kelompok. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya tawar para pembudidaya dalam pembelian sarana produksi maupun pemasaran hasil budidaya, maupun untuk membahas permasalahan lingkungan dalam satu kawasan.

30 Baca lebih lajut

pembenihan kakap putih hsrt

pembenihan kakap putih hsrt

Permasalahan utama dalam budidaya adalah terbatasnya benih yang tersedia baik dalam jumlah dan mutu secara terus menerus dan berkesinambungan. Sebagai gambaran di muara sungai Batam (Kabupaten Bengkalis - Kep. Riau) terdapat kurungan apung sebanyak 550 unit, setiap unit ditebarkan 1.000 ekor benih ukuran gelondongan sehingga dibutuhkan 550.000 ekor benih ukuran gelondongan atau 2.750.000 ekor benih umur D30. Dengan menggantungkan benih dari alam tentu saja tidak memadai karena jumlah yang didapat sangat terbatas, tingkat keseragamannya rendah dan kontinuitasnya tidak terjamin. Pembenihan kakap putih skala besar yang dikelola oleh swasta sampai saat ini belum ada, maka dari itu pembenihan kakap putih skala rumah tangga (HSRT- Hatchery-Skala Rumah Tangga) perlu dikembangkan karena mempunyai prospek yang cerah.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Analisis Finansial Usaha Tambak Kepiting Bakau (Scylla serrata) dan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) di Kampung Sentosa Barat Lingkungan 20 Kelurahan Sicanang Kecamatan Medan Belawan

Analisis Finansial Usaha Tambak Kepiting Bakau (Scylla serrata) dan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) di Kampung Sentosa Barat Lingkungan 20 Kelurahan Sicanang Kecamatan Medan Belawan

ha/tahun ................................................................................................ 40 9. Nilai NPV, Net B/C, dan IRR Usaha Tambak Kepiting Bakau ........... 42 10. Nilai NPV, Net B/C, dan IRR Usaha Tambak ikan kakap putih ......... 42 11. Nilai NPV, Net B/C, dan IRR pada kondisi normal, kenaikan harga

16 Baca lebih lajut

Pengembangan Perikanan Kakap Putih (Lates calcarifer) di Kabupaten Mimika

Pengembangan Perikanan Kakap Putih (Lates calcarifer) di Kabupaten Mimika

sepenuhnya untuk mengatur pemanfaatan sumber daya perikanan. Dalam hal ini maka keseluruhan proses pengelolaan mulai dari pengumpulan informasi, perencanaan peraturan, pembuatan peraturan, pelaksanaan, pengendalian, monitoring dan evaluasi dilakukan oleh pemerintah baik di tingkat nasional maupun di tingkat pemerintah daerah. Pola pengelolaan oleh pemerintah sering kali menghadapi kendala berupa tidak dipatuhinya aturan yang dikeluarkan dan ditetapkan. Aturan dapat menjadi mandul, tidak dapat dijalankan karena dianggap tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat nelayan sebagai pengguna sumber daya. Pemaksaan pemberlakuan aturan sering hanya berakibat terjadinya konflik antara pihak pemerintah sebagai pengelola dan nelayan sebagai pemanfaat sumber daya, atau bila tidak demikian maka akan terjadi praktek pelanggaran aturan oleh nelayan secara sembunyi-sembunyi menghindari petugas yang harus mengamankan aturan yang ada. Pada gilirannya pemerintah akan menanggung kerugian yang timbul akibat kegagalan mencapai tujuan pengelolaan yang diperparah oleh hilangnya segala energi berupa dana dan tenaga yang telah dikerahkan untuk merancang dan menjalankan proses pengelolaan dengan sia-sia. 6.4.2 Meningkatkan produksi kakap putih
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

BUDIDAYA KAKAP PUTIH DI KARAMBA JARING A

BUDIDAYA KAKAP PUTIH DI KARAMBA JARING A

Ikan yang banyak dikonsumsi karena rasanya lezat jika dibakar, seperti ikan kerapu, ikan kakap putih, harus dibudidayakan terlebih dahulu, karena sulitnya mendapatkan jenis ikan tersebut di alam bebas. Oleh karena itu penulis tertarik untuk menggeluti uasaha pembudidayaan ikan air laut yang susah didapatkan diperairan bebas.

4 Baca lebih lajut

Budidaya Ikan KAKAP PUTIH di KERAMBA JAR

Budidaya Ikan KAKAP PUTIH di KERAMBA JAR

Sebelum kegiatan budidaya dilakukan terlebih dahulu diadakan pemilihan lolkasi. Pemilihan lokasi yang tepat akan menentukan keberhasilan usaha budidaya ikan kakap putih. Secara umum lokasi yang baik untuk kegiatan usaha budidya ikan di laut adalah daerah perairan teluk, lagoon dan perairan pantai yang terletak diantara dua buah pulau (selat). Beberapa persyaratan teknis yang harus di penuhi untuk lokasi budidaya ikan kakap putih di laut adalah:

5 Baca lebih lajut

EFEKTIFITAS ELECTROLYZED REDUCED WATER SEBAGAI DISINFEKTAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP MUTU FILET IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcalifer) THE EFFECTIVENESS OF ELECTROLYZED REDUCED WATER AS DISINFECTING AGENT AND ITS EFFECT ON THE QUALITY OF SEABASS FILLET (Lates

EFEKTIFITAS ELECTROLYZED REDUCED WATER SEBAGAI DISINFEKTAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP MUTU FILET IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcalifer) THE EFFECTIVENESS OF ELECTROLYZED REDUCED WATER AS DISINFECTING AGENT AND ITS EFFECT ON THE QUALITY OF SEABASS FILLET (Lates

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat karunia-Nya, Penulis dapat menyelesaikan laporan skripsi dengan judul “ EFEKTIFITAS ELECTROLYZED REDUCED WATER SEBAGAI DISINFEKTAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP MUTU FILET IKAN KAKAP PUTIH (Lates Calcalifer) ”. Laporan skripsi ini merupakan salah satu syar at guna memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pangan di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Penelitian dalam skripsi ini juga merupakan bagian dari penelitian yang berjudul “ Fine-tunning Electrolyzed Water sebagai Disinfektan Pangan Berdasarkan Analisis Molekular Resistensi dan Recovery Mikroorganisme Kontaminan ” oleh Program Penelitian Unggulan Pergurutan Tinggi, tahun 2014.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

TAP.COM -   PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT P IKAN KAKAP PUTIH PENANGANAN ...

TAP.COM - PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT P IKAN KAKAP PUTIH PENANGANAN ...

Induk ikan kakap putih dapat dirangsang untuk memijah dilingkungan pemeliharaan dengan rangsangan hormon, manipulasi lingkungan atau mijah secara alami.Sebulan sebelum musim pemijahan induk induk ikan dipindahkan kedalam bak pemijahan dengan kepadatan 2 5 kg / m 3 dan perbandingan jantan betina 1 : 1 ( kg ).

16 Baca lebih lajut

Show all 7831 documents...