Kambing Peranakan Etawah

Top PDF Kambing Peranakan Etawah:

Kualitas semen beku kambing peranakan etawah menggunakan modifikasi pengencer tris soya dan tris kuning telur

Kualitas semen beku kambing peranakan etawah menggunakan modifikasi pengencer tris soya dan tris kuning telur

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Kualitas Semen Beku Kambing Peranakan Etawah Menggunakan Modifikasi Pengencer Tris Soya Dan Tris Kuning Telur adalah benar karya saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

27 Baca lebih lajut

Pola Pembibitan Kambing Peranakan Etawah di Koperasi Daya Mitra Primata

Pola Pembibitan Kambing Peranakan Etawah di Koperasi Daya Mitra Primata

Selang Beranak. Menurut Davendra dan Burns (1994) interval beranak ialah periode antara dua beranak yang berurutan dan terdiri atas periode perkawinan dan periode bunting. Interval beranak bervariasi antara induk dan bangsa yang berbeda. Selang beranak adalah penduga yang penting untuk produktivitas seumur hidup. interval beranak tergantung pada masa antara beranak dan perkawinan dan masa bunting (Sodiq dan Sumaryadi, 2002). Semakin pendek interval kelahirannya, dan setiap kali anaknya lahir kembar, maka semakin tinggi hasil produksi yang diperoleh. Beberapa faktor yang mempengaruhi interval kelahiran ialah bangsa dan umur kambing atau urutan kelahirannya, tingkat pemberian bahan makanannya, dan hasil dari suatu kebuntingan, dan tersedianya pejantan yang cukup (Abdulgani, 1981), musim, bangsa kambing, tata laksana, makanan, dan kesehatan (Williamson dan Payne, 1993). Menurut laporan Sodiq dan Sumaryadi (2002) selang beranak pada kambing Peranakan Etawah ialah maksimal 450 hari.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

Profil leukosit kambing peranakan etawah setelah vaksinasi iradiasi streptococcus agalactiae untuk pencegahan mastitis subklinis

Profil leukosit kambing peranakan etawah setelah vaksinasi iradiasi streptococcus agalactiae untuk pencegahan mastitis subklinis

Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing yang dipelihara untuk memenuhi kebutuhan susu dan daging. Sebagai ternak penghasil susu, kambing PE juga rentan terhadap mastitis subklinis. Di peternakan sapi perah Pulau Jawa, mastitis subklinis biasanya disebabkan oleh Streptococcus agalactiae. Banyak metode yang dikembangkan untuk mencegah mastitis subklinis antara lain meningkatkan higiene sanitasi, teat dipping, dan vaksinasi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi keefektifan vaksin untuk mencegah mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. agalactiae melalui pengamatan profil leukosit. Kambing yang digunakan adalah kambing sehat dengan usia kebuntingan empat sampai lima bulan yang divaksin dua sampai tiga kali dengan interval 2 minggu. Volume vaksin yang digunakan adalah 2 mL yang mengandung 10 8 cfu/mL S. agalactiae. Sampel darah yang digunakan diambil satu minggu setelah vaksinasi. Sampel darah yang diperoleh dibuat menjadi preparat ulas darah yang diwarnai dengan Giemsa dan diamati profil leukosit (nilai relatif dan jumlah) di bawah mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada posvaksinasi I nilai relatif dan jumlah limfosit dari kambing perlakuan lebih tinggi dari kontrol dan berbeda nyata pada (73.67±2.05% dan 5230±87 sel/µL) begitupun pada posvaksinasi III (66.00±4.08% dan 5676±1520 sel/µ L). Hal ini menunjukkan telah terbentuk imun sekunder terhadap S. agalctiae penyebab mastitis subklinis.
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Pemberian Nanokalsium pada Kambing Peranakan Etawah Laktasi terhadap Neraca Kalsium

Pemberian Nanokalsium pada Kambing Peranakan Etawah Laktasi terhadap Neraca Kalsium

Nanoteknologi telah berkembang mulai abad-21 dan telah digunakan dalam industri. Nanopartikel adalah salah satu produk model nanoteknologi, seperti nanokalsium. Suplementasi nanokalsium pada hewan model tikus yang sedang tumbuh mampu meningkatkan densitas tulang. Kualitas dan kuantitas kalsium pada kambing laktasi penting untuk mempertahankan produksi susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian nanokalsium pada kambing Peranakan Etawah laktasi. 10 ekor kambing Peranakan Etawah awal laktasi (35 kg ± 0.74) dikelompokkan ke dalam 2 perlakuan pakan secara acak yaitu perlakuan kontrol ransum dengan kalsium bentuk normal (K) dan bentuk nanokalsium (N). Variabel yang diukur adalah kondisi fisiologis, konsumsi pakan dan kalsium, kalsium darah, kalsium susu, produksi susu serta kualitas susu. Semua data dibandingkan dengan menggunakan uji-T. Hasil dari variabel yang diukur menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara perlakuan kontrol dan perlakuan nanokalsium dosis 0.13% pada seluruh parameter selain produksi susu. Perlakuan nanokalsium (N) memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0.05) terhadap produksi susu dan 6.76% lebih tinggi dari perlakun kontrol (K). Kata kunci: kalsium, kambing laktasi, nanokalsium
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

KUALITAS SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE) SKRIPSI

KUALITAS SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE) SKRIPSI

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas susu kambing PE dengan pemberian pakan hijauan daun singkong dan konsentrat pada imbangan yang berbeda. Pendekatan ini diharapkan akan memberikan pengaruh positif terhadap kualitas susu kambing Peranakan Etawah (PE). Penelitian ini dilaksanakan di peternakan kambing perah Peranakan Etawah milik Bapak Yusuf yang berlokasi di Jalan Kapas Kec.Hamparan Perak Desa Klambir V, Medan. Analisis komposisi kimia susu dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Pangan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan dibulan Juni-Oktober 2014. Penelitian ini dimulai dengan pemberian perlakuan berbagai imbangan hijauan dengan konsentrat terhadap objek penelitian setelah itu susu pagi dan sore diperah dan dicampur dengan perbandingan yang sama dan selanjutnya di analisis terhadap komposisi kimia susu seperti protein, lemak, berat jenis, bahan kering dan bahan kering tanpa lemak (solid non fat).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH LEVEL KONSENTRAT DALAM RANSUM TERHADAP KOMPOSISI TUBUH KAMBING PERANAKAN ETAWAH.

PENGARUH LEVEL KONSENTRAT DALAM RANSUM TERHADAP KOMPOSISI TUBUH KAMBING PERANAKAN ETAWAH.

Pengaruh level konsentrat dalam ransum telah diteliti untuk menghasilkan komposisi tubuh pada kambing peranakan etawah.Penelitianmenggunakanrancanganacakkelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Keempatperlakuannyaadalah: (A) konsentrat 75% +hijauan 25%; (B) konsentrat 60% +hijauan 40%; (C): konsentrat 45% +hijauan 55%; dan (D): konsentrat 30% +hijauan 70%. Hijauan yang diberikan terdiri dari atasrumput raja 60% dangamal 40%. Peubah yang diamati adalah pertambahanbobot badan, protein tubuh, lemak tubuh, retensi protein, retensi lemak dan retensi energi. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, bila nilai rata-rata perlakuan berbeda nyata (P<0,05) akan dilanjutkan dengan Uji Duncan pada taraf 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan, retensi protein, retensi lemak dan retensi energi kambing yang mendapat perlakuan A dan B nyata lebih tinggi (P<0,05) dari kambing yang mendapat perlakuan D.Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan pemberian level konsentrat dalam ransum dapat meningkatkankomposisi tubuh kambing peranakan etawah.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Sistem Produksi dan Kelayakan Usaha Peternakan Kambing Peranakan Etawah Studi Kasus di Kelompok Peternak Simpay Tampomas dan Tampomas Sejahtera, Sumedang, Jawa Barat.

Sistem Produksi dan Kelayakan Usaha Peternakan Kambing Peranakan Etawah Studi Kasus di Kelompok Peternak Simpay Tampomas dan Tampomas Sejahtera, Sumedang, Jawa Barat.

Lokasi penelitian adalah di Desa Cibeureum Wetan Kecamatan Cimalaka dan Desa Paseh Kaler Kecamatan Paseh, Sumedang, Jawa Barat. Penelitian ini melibatkan 17 peternak kambing dari kelompok peternak Simpay Tampomas dan 19 peternak dari Tampomas Sejahtera sebagai responden. Peternak diwawancara menggunakan kuisioner, data yang dikumpulkan meliputi: kondisi lokasi, karakteristik responden, jumlah ternak, jenis dan sumber pakan, biaya usaha, data reproduksi, data produksi susu yang meliputi jumlah susu per laktasi, dan harga susu. Usaha ternak kambing kelompok Simpay Tampomas dan kelompok Tampomas Sejahtera dilaksanakan secara semi tradisional, ternak di kandangkan dengan sistem pemberian pakan yang tidak terbatas dan manajemen sederhana. Jenis pakan yang diberikan adalah konsentrat dan hijauan berupa gamal dan kaliandra. Penanganan penyakit seperti diare menggunakan bahan lokal yakni daun nangka dan daun bambu. Hasil analisis kelayakan finansial untuk kelompok peternak Simpay Tampomas menunjukkan bahwa semakin besar skala usahanya, semakin tinggi keuntungan ditandai dengan nilai NPV, B/C rasio, dan IRR yang tinggi. Pada skala usaha kurang dari 10 ekor nilai NPV Rp -24.575.425, B/C rasio 0,439, dan IRR -10%. Pada skala usaha lebih dari 20 ekor nilai NPV Rp 22.292.034, B/C rasio 1,710, dan IRR 23%. Peternak dari dua kelompok belum melakukan pencatatan secara teratur terhadap unsur-unsur biaya usaha baik pengeluaran maupun pendapatan, sehingga informasi dan gambaran yang pasti tentang skala usaha yang layak sangat terbatas. Oleh karena itu peternak disarankan melakukan pencatatan dalam usaha ternak kambing PE, dan dengan skala usaha yang lebih menguntungkan.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Profil Imunoglobulin G Pada Kambing Peranakan Etawah Bunting Yang Diberi Mineral Zink (Zn).

Profil Imunoglobulin G Pada Kambing Peranakan Etawah Bunting Yang Diberi Mineral Zink (Zn).

Kambing yang dinyatakan sehat secara klinis diserentakkan berahinya menggunakan Controlled Internal Drug Release - Goat (CIDR – G) yang mengandung 0,33 gram progesterone (InterAg ® , Selandia Baru). CIDR – G dimasukkan dan diimplantasikan ke dalam vagina selama 14 hari. Hewan diharapkan memperlihatkan gejala berahi secara serentak setelah pencabutan implant CIDR-G. Dalam waktu 12 jam setelah berahi terdeteksi atau 48 sampai 60 jam setelah pencabutan implan CIDR – G dilakukan inseminasi buatan (IB), menggunakan semen cair dengan dosis inseminasi 200 juta sel sperma. Diagnosis kebuntingan pada induk kambing dilakukan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Karakteristik Karkas dan Non Karkas Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah pada Bobot Potong 17 kg.

Karakteristik Karkas dan Non Karkas Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah pada Bobot Potong 17 kg.

Kambing kacang dan kambing peranakan etawah (PE) merupakan ternak lokal Indonesia. Kambing kacang dan kambing PE memiliki karakteristik tubuh yang berbeda. Kambing kacang memiliki tubuh lebih kecil dibandingkan dengan kambing PE. Kambing PE jantan dapat mencapai bobot potong 40 kg dan kambing kacang jantan dapat mencapai bobot badan 25 kg (Balai Pengkajian Pertanian Nusa Tenggara Barat 2009). Beberapa faktor yang mempengaruhi produksi karkas seekor ternak adalah bangsa, umur, jenis kelamin, laju pertumbuhan, bobot potong dan nutrisi (Oberbauer et al. 1994). Bobot Potong merupakan faktor yang mempengaruhi distribusi otot, lemak dan tulang pada ternak. Konsumen cenderung menyukai ternak yang masih muda dan bobotnya belum optimal untuk disembelih. Menurut Lestari et al. (2011), bobot potong yang rendah mempunyai edible portion rendah, sedangkan ternak dengan bobot potong yang tinggi memperoleh edible portion yang tinggi pula. Produksi edible portion, baik dari karkas maupun non karkas, dapat menggambarkan keberhasilan penggemukan karena menunjukkan produktivitas seekor ternak secara keseluruhan yang bernilai ekonomi tinggi.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Karakteristik Karkas dan Non Karkas Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah (PE) pada Bobot Lepas Sapih.

Karakteristik Karkas dan Non Karkas Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah (PE) pada Bobot Lepas Sapih.

Ternak kambing berkembang di berbagai belahan dunia tetapi paling populer di daerah tropis. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) melaporkan jumlah populasi kambing di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 16 946 000 ekor. Bangsa kambing yang memiliki populasi tinggi di Indonesia menurut Rumich (1967) adalah kambing kacang, kambing etawah dan kambing Peranakan Etawah (PE). Kambing kacang merupakan kambing asli Indonesia yang banyak dikembangkan untuk menghasilkan daging. Bangsa kambing ini merupakan bangsa kambing yang terpenting ditinjau dari segi jumlah dibandingkan dengan bangsa kambing lain (Devendra dan Burns 1983). Kambing PE merupakan kambing dwiguna hasil persilangan antara kambing etawah yang berasal dari India dengan kambing kacang. Kambing PE memiliki penampilan mirip kambing etawah namun dengan ukuran tubuh yang lebih kecil.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Identifikasi keragaman gen β-Kasein (CSN2) pada kambing peranakan etawah, saanen dan persilangannya dengan metode PCR-SSCP

Identifikasi keragaman gen β-Kasein (CSN2) pada kambing peranakan etawah, saanen dan persilangannya dengan metode PCR-SSCP

Casein genetic polymorphisms are important and well known due to their effects on quantitative traits and properties of milk. β -kasein gene is directly related to the quality and properties of milk. A protocol for the rapid and simultaneous genotyping of β -kasein alleles was conducted by single strand conformational polymorphism polymerase chain reaction (SSCP-PCR) method in goat. Screening β -kasein gene variability in 3 dairy goat breeds was conducted for Etawah Grade (77 samples), Saanen (67 samples) and PESA (Crossbreed Etawah Grade with Saanen) (29 samples) in Bogor and Sukabumi. The objective of this research was to identify polymorphism of the β -kasein (CSN2) gene in dairy goat. This research found three alleles of the β -casein gene, ie CSN2*A, CSN2*C, dan CSN2*O. In most breeds, CSN2*O occurred in the lowest frequency. The identification of the CSN2 gene variability in the goat breeds indicated the highly of the A allele. The CSN2*A allele had a high frequency in Saanen in Cijeruk (0,66); Etawah Grade in Cariu (0,62); and PESA in Cariu (0,54). While the CSN2*C allele had a high frequency in PESA in Balitnak (0,83); Etawah Grade in Ciapus (0,48); and Saanen in Taurus (0.38). Based on the results of chi-square analysis, found that Saanen in Cariu and Taurus were not in Hardy-Weinberg equilibrium.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

PRODUKSI SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH YANG DITERNAKKAN DI DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH.

PRODUKSI SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH YANG DITERNAKKAN DI DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH.

Susu merupakan bahan makanan yang kaya gizi, menyehatkan, mencerdaskan bagi yang mengkonsumsinya dan sangat dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat. Sementara ini konsumsi susu masyarakat Indonesia baru 7,5 kg/kapita/tahun, sangat kurang dibandingkan dengan negara-negara lain, karena susu bagi sebagian besar orang Indonesia masih dianggap barang mewah dan mahal. Kambing Peranakan Etawah (PE) selain dikenal sebagai kambing bertipe besar juga dikenal sebagai penghasil susu yang cukup potensial, mampu menghasilkan susu sebanyak 0,45-2,2 liter perhari dengan panjang masa laktasi 92-256 hari. Dengan demikian pengembangan kambing PE selain untuk meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas juga untuk produksi susu yang akan dapat membantu mengatasi masalah penyediaan susu nasional. Produksi susu dari ternak dipengaruhi 30% oleh faktor dalam dan 70% oleh faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan adalah dataran rendah dan dataran tinggi. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui produksi susu kambing PE yang diternakan di dataran tinggi dan dataran rendah. Pada penelitian ini untuk dataran tinggi yaitu desa Sepang, Kabupaten Buleleng dan dataran rendah desa Paksebali, Kabupaten Klungkung.Sebagai data pendukung untuk produksi susu adalah dari ukuran tubuh kambing PE. Pengukurannya dilakukan pada tempat datar dengan mengatur posisi kedua kaki depan dan kaki belakang berdiri tegak sehingga letak keempat kakinya merupakan segi empat. Lingkar dada diukur dengan melingkarkan pita ukur melingkar tubuh tepat dibelakang siku (Oleoranon). Tinggi pundak jarak tertinggi sampai tanah. Panjang badan mulai dari benjolan tulang bahu sampai benjolan tulang tapis. Bobot badan diukur dengan mengangkat keatas timbangan selanjutnya bobot badan diperoleh dengan mengurangi bobot total dengan bobot sipengangkat. Produksi susu diukur dari hasil pemerahan.Ukuran tubuh dan produksi susu kambing PE di dataran tinggi : lingkar dada 91,6±5,4 cm, tinggi badan 83,1±6,3 cm, panjang badan 74,5±2,9 cm, bobot badan 57,8±8,4 kg dan produksi susu 1,7 ± 0,2 liter/ekor/hari. Sedangkan di dataran rendah : lingkar dada 87,0±3,1 cm, tinggi badan 78,7±3,5 cm, panjang badan 70,1±3,0 cm, bobot badan 51,1±5,5 kg dan produksi susu1,5 ± 0,1 liter/ekor/hari. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa produksi susu dan ukuran-ukuran tubuh kambing PE yang dipelihara di dataran tinggi lebih tinggi dibandingkan yang dipelihara di dataran rendah.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Komposisi dan Distribusi Otot Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah yang Dipotong pada Bobot Sedang.

Komposisi dan Distribusi Otot Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah yang Dipotong pada Bobot Sedang.

Komponen lemak bawah kulit, lemak antar otot dan lemak pelvis pada penelitian ini tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0.05) baik bobot maupun persentasenya. Namun kambing kacang nyata lebih tinggi persentase lemak ginjalnya dibandingkan kambing PE. Lemak ginjal adalah lemak yang paling awal dideposisi (masak dini) dalam karkas ternak (Wariss 2000). Persentase lemak ginjal berdasarkan bobot setengah karkas pada penelitian ini yaitu kambing kacang 17.70% dan kambing PE 9.92%. Meningkatnya bobot tubuh, persentase karkas meningkat, persentase otot dan lemak meningkat dan persentase tulang berkurang. Berdasarkan pertumbuhan maksimumnya, jaringan tubuh mempunyai urutan tumbuh berdasarkan umurnya adalah 1) jaringan syaraf, 2) tulang, 3) otot dan 4) lemak. Lemak menumpuk diberbagai depot dengan kecepatan yang berbeda dengan umurnya mempunyai urutan 1) lemak interium, 2) lemak ginjal, 3) lemak antar otot (intermusular fat) dan 4) lemak bawah kulit (subcutaneous fat). Dengan meningkatnya bobot lemak, maka persentase lemak subkutan dan intermuskuler berkurang, persentase lemak ginjal dan pelvis bertambah (Herman 1981).
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Pendugaan Bobot Kambing Peranakan Etawah dari Ukuran Tubuh

Pendugaan Bobot Kambing Peranakan Etawah dari Ukuran Tubuh

ABSTRACT. Body measurements were n o t s i g n i f i c a n t l y affected by sex i n Kacang x Etawah c r o s s g o a t s . g i r t h was more c l o s e l y r e l a t e d t o the body w e i g h t , a s the animals grew. growth c o e f f i c i e n t r e l a t i v e t o body w e i g h t for h e i g h t , body length, w i d t h of chest, depth of c h e s t and h e a r t g i r t h were 0.2664, 0.2782, 0.2812, 0.2921 and 0.3286,

Baca lebih lajut

Pemanfaatan Tris Sari Kedelai Sebagai Bahan Pengencer Semen Cair Kambing Peranakan Etawah.

Pemanfaatan Tris Sari Kedelai Sebagai Bahan Pengencer Semen Cair Kambing Peranakan Etawah.

Ciri-ciri spesifik kambing PE antara lain panjang telinga berkisar antara 18-30 cm, bobot badan jantan dewasa 40 Kg sedangkan betina 35 Kg, tinggi pundak berkisar antara 76-100 cm, warna bulu bervariasi dari coklat sampai hitam (Kartinaty & Gufroni 2010). Kambing PE betina di Indonesia dapat menghasilkan susu rata-rata 2-3 liter per ekor per hari dengan masa laktasi lebih dari 150 hari (Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan 2003). Kambing PE dapat beranak tiga kali dalam dua tahun dengan rataan jumlah kelahiran 1-3 ekor (Balai Penelitian Ternak 2001). Rataan bobot lahir kambing PE kelahiran tunggal betina dan jantan masing-masing 3.2 dan 3.7 kg (Setiadi & Sutama 1997)
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Mutu Bibit dan Daging Kambing Yang Sehat

Mutu Bibit dan Daging Kambing Yang Sehat

Standar tersebut menyebutkan bahwa bibit kambing Peranakan Etawah yang memenuhi syarat mutu adalah yang sehat dan bebas dari penyakit hewan strategis yang dinyatakan oleh dokter hewan yang punya kewenangan. Kambing ini harus bebas dari segala bentuk cacat fisik dan cacat organ reproduksi, untuk bibit kambing jantan memiliki libido dan kualitas semen yang yang baik dan untuk bibit kambing betina memilih kambing normal dan simetris.

Baca lebih lajut

Produksi Susu Kambing Peranakan Etawa (PE) yang Diberikan Pakan Legume Indigofera sp

Produksi Susu Kambing Peranakan Etawa (PE) yang Diberikan Pakan Legume Indigofera sp

Adriani, A. Sudono, T. Sutardi, W. Manalu dan I-K. Sutama. 2004. The effect of superovulation and dietary zinc in does on the prepartum and postpartum growth of her kids . J. Pengembangan Peternakan Tropis. 29:177-183. Didalam Adriani, A.Latif, S. Fachri dan I. Sulaksana. 2014. Peningkatan Produksi dan Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawah Sebagai Respon Perbaikan Kualitas Pakan. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan. 17 (1).

Baca lebih lajut

Suplementasi daun bangun bangun dan Zicn vitamin E dalam ransum untuk mempertahankan metabolisme dan produksi susu kambing peternakan etawah

Suplementasi daun bangun bangun dan Zicn vitamin E dalam ransum untuk mempertahankan metabolisme dan produksi susu kambing peternakan etawah

Pemenuhan kebutuhan protein hewani tidak mudah dicapai apabila hanya mengandalkan produksi dari ternak-ternak tertentu saja. Demikian halnya produksi susu, tidak harus bergantung pada sapi perah saja, tetapi dapat memaksimalkan potensi ternak penghasil susu lainnya. Kambing peranakan etawah (PE) adalah salah satu jenis ternak yang memiliki prospek cukup baik sebagai ternak perah. Namun sampai saat ini, produksi susunya relatif masih rendah. Rendahnya produksi susu ini berkaitan erat dengan penyediaan pakan. Perbaikan mutu pakan melalui suplementasi atau fortifikasi, sangat mendukung optimalisasi produksi. Dari berbagai sumber, diketahui bahwa daun bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour), dapat membantu menstimulir produksi susu. Lawrence et al. (2005) menyatakan bahwa dalam tanaman daun bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) ditemukan komponen utama yang bersifat lactagogue. Hal ini telah dibuktikan melalui beberapa penelitian, di antaranya Santosa (2001), yang mendapatkan peningkatan produksi air susu ibu (ASI) sampai 47.4 % pada ibu menyusui dan pertambahan bobot badan bayi lebih tinggi. Penelitian lain yang dilakukan Damanik et al. (2001), menunjukkan bahwa pada ibu melahirkan, konsumsi daun bangun-bangun membantu mengontrol postpartum bleeding dan berperan sebagai uterine cleansing agent, sedangkan pada ibu menyusui, konsumsi daun bangun-bangun dapat menstimulir produksi susu, tanpa efek merugikan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Suplementasi daun bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) dan Zicn-vitamin E dalam ransum untuk mempertahankan metabolisme dan produksi susu kambing peternakan etawah

Suplementasi daun bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) dan Zicn-vitamin E dalam ransum untuk mempertahankan metabolisme dan produksi susu kambing peternakan etawah

Pemenuhan kebutuhan protein hewani tidak mudah dicapai apabila hanya mengandalkan produksi dari ternak-ternak tertentu saja. Demikian halnya produksi susu, tidak harus bergantung pada sapi perah saja, tetapi dapat memaksimalkan potensi ternak penghasil susu lainnya. Kambing peranakan etawah (PE) adalah salah satu jenis ternak yang memiliki prospek cukup baik sebagai ternak perah. Namun sampai saat ini, produksi susunya relatif masih rendah. Rendahnya produksi susu ini berkaitan erat dengan penyediaan pakan. Perbaikan mutu pakan melalui suplementasi atau fortifikasi, sangat mendukung optimalisasi produksi. Dari berbagai sumber, diketahui bahwa daun bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour), dapat membantu menstimulir produksi susu. Lawrence et al. (2005) menyatakan bahwa dalam tanaman daun bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) ditemukan komponen utama yang bersifat lactagogue. Hal ini telah dibuktikan melalui beberapa penelitian, di antaranya Santosa (2001), yang mendapatkan peningkatan produksi air susu ibu (ASI) sampai 47.4 % pada ibu menyusui dan pertambahan bobot badan bayi lebih tinggi. Penelitian lain yang dilakukan Damanik et al. (2001), menunjukkan bahwa pada ibu melahirkan, konsumsi daun bangun-bangun membantu mengontrol postpartum bleeding dan berperan sebagai uterine cleansing agent, sedangkan pada ibu menyusui, konsumsi daun bangun-bangun dapat menstimulir produksi susu, tanpa efek merugikan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Laju Pertumbuhan Kambing Anak Hasil Persilangan antara Kambing Boer dengan Peranakan Etawah pada Periode Pra-sapih

Laju Pertumbuhan Kambing Anak Hasil Persilangan antara Kambing Boer dengan Peranakan Etawah pada Periode Pra-sapih

Produksi susu induk dan penyakit adalah faktor yang paling dominan mempengaruhi pertumbuhan anak periode pra sapih (S PEDDING , 1970). Rataan dan standar deviasi dari pertambahan bobot hidup yang telah dikoreksi ke jenis kelamin dan tipe kelahiran pada tiap perlakuan ditunjukkan pada Tabel 1, yaitu kelompok A sebesar 116,40 g ekor -1 hari -1 dan kelompok B sebesar 105,29 g ekor -1 hari -1 . Hasil analisis statistik tidak berbeda nyata (P>0,05) antara kelompok A dan B. Ada kecenderungan pertambahan bobot hidup anak kelompok A lebih cepat daripada pertambahan bobot hidup anak kelompok B, seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Hal ini menunjukkan pengaruh dari faktor bangsa pejantan yang dipergunakan. Pejantan yang digunakan pada kelompok A adalah kambing Boer yang termasuk tipe pedaging dengan tingkat pertumbuhan antara 150-170 g ekor -1 hari -1 (C ASEY dan VAN N IEKERS , 1988). Sebagai konsekuensinya bobot lahir dan bobot sapih anak yang dihasilkan lebih berat daripada kelompok B. Anak yang mempunyai bobot lahir yang lebih berat akan tumbuh lebih cepat dan mencapai bobot sapih yang lebih berat pula. Seperti telah dijelaskan sebelumnya terdapat korelasi genetik yang positif antara bobot lahir dan bobot sapih serta pertambahan bobot hidup dari lahir sampai disapih (A CKER , 1983).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 2274 documents...