Kambing Peranakan Etawah

Top PDF Kambing Peranakan Etawah:

Karakteristik Karkas dan Non Karkas Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah pada Bobot Potong 17 kg.

Karakteristik Karkas dan Non Karkas Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah pada Bobot Potong 17 kg.

Sebanyak 36 ekor kambing lokal jantan yang terdiri dari 26 ekor kambing kacang dan 10 ekor kambing peranakan etawah (PE) digunakan untuk mengevaluasi karakteristik karkas dan non karkas pada bobot potong rata-rata 17 kg. Data karkas dan non karkas dianalisis menggunakan Analysis of Covariance (ANCOVA). Bobot potong dan bobot karkas kiri kambing digunakan sebagai covariable. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot potong, bobot tubuh kosong, bobot dan persentase karkas kambing kacang sangat nyata lebih tinggi (P<0.01) dibandingkan dengan kambing PE. Ada perbedaan signifikan pada komponen non karkas yaitu kepala, kulit, kaki, darah, lemak omental, jantung, kantung kemih, ginjal, dan jeroan hijau. Hasil analisis menunjukkan kambing PE memiliki persentase tulang dan jaringan ikat sangat nyata lebih tinggi (P<0.01) dan persentase lemak karkas yang lebih rendah (P<0.05) dibandingkan kambing kacang. Secara umum, kambing kacang dan kambing PE yang disembelih pada bobot potong rataan 17 kg menghasilkan masing-masing persentase karkas 41.02% dan 34.31% dan persentase non karkas 33.81% dan 32.61%
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK SIFAT KUANTITATIF KAMBING PERANAKAN ETAWAH BETINA DI KELOMPOK TERNAK MITRA USAHA KECAMATAN SAMARANG KABUPATEN GARUT (Quantitative Traits Identification of Peranakan Etawah Female Goat at Mitra Usaha Livestock Group Samarang Subd

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK SIFAT KUANTITATIF KAMBING PERANAKAN ETAWAH BETINA DI KELOMPOK TERNAK MITRA USAHA KECAMATAN SAMARANG KABUPATEN GARUT (Quantitative Traits Identification of Peranakan Etawah Female Goat at Mitra Usaha Livestock Group Samarang Subd

Penelitian dilaksanakan di Kampung Lengkong Desa Samarang Kecamatan Samarang Kabupaten Garut mulai tanggal 15 sampai 30 Januari 2013. Penelitian bertujuan untuk memperoleh karakteristik sifat kuantitatif kambing Peranakan Etawah betina yang meliputi bobot badan, tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, panjang telinga, dan panjang bulu rewos di Kelompok Ternak Mitra Usaha. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-analitik, penentuan sampel berdasarkan (purposive sampling). Jumlah kambing PE yang diteliti yaitu sebanyak 43 ekor betina tidak bunting berumur dua tahun. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata bobot badan 38,9 ± 0,10 kg dengan nilai koefisien variasi 4,5%, tinggi pundak 74,9 ± 0,53 cm dengan nilai koefisien variasi 2,9%, panjang badan 60,5 ± 0,25 cm dengan nilai koefisien variasi 3,2%, lingkar dada 78,9 ± 0,64 cm dengan nilai koefisien variasi 2,6%. panjang telinga 26,8 ± 0,40 cm dengan nilai koefisien variasi 3,8%, dan panjang bulu rewos 13,9 ± 0,24 cm dengan nilai koefisien variasi 11,6%. Hasil pengujian dengan menggunakan uji t, nilai distribusi ttabel (1,68), dari karakteristik sifat kuantitatif, karakteristik yang sesuai dengan standar SNI adalah panjang badan dengan nilai thitung 1,73, sedangkan karakteristik tidak sesuai standar yang dipersyaratkan SNI, bobot badan dengan nilai thitung -7,85, tinggi pundak dengan nilai thitung -0,37, lingkar dada dengan nilai thitung -6,75, panjang telinga dengan nilai thitung - 1,57, dan panjang bulu rewos dengan nilai thitung -0,58.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Kualitas semen beku kambing peranakan etawah menggunakan modifikasi pengencer tris soya dan tris kuning telur

Kualitas semen beku kambing peranakan etawah menggunakan modifikasi pengencer tris soya dan tris kuning telur

Pembekuan semen (kriopreservasi) merupakan usaha untuk menjamin daya tahan sperma dalam waktu yang lama melalui proses pengolahan, pengawetan, dan penyimpanan semen sehingga dapat digunakan pada suatu waktu sesuai kebutuhan (Graha 2005). Bahan pengencer semen beku pada kambing Peranakan Etawah yang telah dikembangkan adalah pengencer Tris Sitrat (Kostaman et al. 2000), pengencer dengan bahan dasar susu skim, sodium sitrat, laktosa atau larutan garam fisiologis (Werdhany 1999), Tris Fruktosa (Azawi et al. 1993) dan Skim Kuning Telur (Susilowati dan Tatik 2001). Pengencer Tris dikenal mempunyai hasil yang baik terhadap keberhasilan pembekuan semen. Hal ini telah dijelaskan oleh Tambing et al. (2001) bahwa kelebihan dari pengencer dengan bahan dasar Tris Sitrat Fruktosa dengan motilitas post thawing sebesar 68.43%, terletak pada kapasitas penyangga yang baik dan mempertahankan osmolaritas semen. Penggunaan krioprotektan gliserol berkisar antara 5-7% (Tambing et al. 2000) sehingga dapat melindungi sel sperma terhadap proses pembekuan.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Komposisi dan Distribusi Otot Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah yang Dipotong pada Bobot Sedang.

Komposisi dan Distribusi Otot Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah yang Dipotong pada Bobot Sedang.

Kambing peranakan etawah di Indonesia umumnya dipelihara dengan sistem intensif yaitu dikandangkan tanpa digembalakan. Dengan tata laksana pemeliharaan yang baik, kambing peranakan etawah mampu beranak tiga kali dalam dua tahun. Kambing dewasa mencapai bobot 40-80 kg untuk jantan dan 30- 50 kg untuk betina (Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2011). Kambing peranakan etawah dalam proporsi tertentu dapat dijumpai induk yang beranak lebih dari satu (prolifik). Prolifikasi adalah suatu karakter atau sifat yang menunjukkan kemampuan seekor induk untuk menghasilkan anak dalam jumlah lebih dari 1 pada setiap kelahiran.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Evaluasi komposisi tubuh dan pemanfaatan nutrien di ambing kambing peranakan etawah laktasi yang diberi pakan fermentasi limbah tempe

Evaluasi komposisi tubuh dan pemanfaatan nutrien di ambing kambing peranakan etawah laktasi yang diberi pakan fermentasi limbah tempe

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi komposisi tubuh, serapan nutrien di kelenjar ambing dan gambaran asam amino susu kambing Peranakan Etawah (PE) yang diberi pakan limbah tempe. Sebanyak duabelas ekor kambing PE laktasi kedua secara random dibagi kedalam tiga macam perlakuan ransum yang berbeda. Perlakuan R1 mendapat pakan konsentrat kontrol, perlakuan R2 mendapat pakan konsentrat ditambah ampas tempe segar dan R3 mendapat pakan konsentrat ditambah ampas tempe yang difermentasi dengan Aspergilus niger. Rumput gajah diberikan sebanyak 50% dari total ransum dan air minum diberikan secara ad libitum. Pada awal dan akhir penelitian dilakukan pengukuran komposisi tubuh dengan metoda urea space. Produksi susu diukur dua kali sehari melalui pemerahan setelah kelahiran selama dua bulan. Analisis protein susu, whey dan casein dilakukan dengan metode kjeldahl, sedangkan asam amino dianalisis dengan amino acid analyser. Serapan nutrien diukur berdasarkan prinsip Fick yaitu perkalian antara laju alir darah ke ambing dengan delta nutrien di arteri dan vena ambing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot badan pada perlakuan R3 adalah tertinggi namun tidak ada perbedaan persen air tubuh, protein tubuh dan lemak tubuh antar perlakuan. Produksi susu pada perlakuan R3 adalah tertinggi dan untuk semua perlakuan menghasilkan asam amino glutamat di susu kambing adalah tertinggi dibandingkan dengan asam amino yang lain. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ampas tempe yang difermentasi dengan Aspergilus niger dapat menggantikan 50% konsentrat dengan hasi bobot badan dan produksi susu tertinggi namun tidak ada perbedaan serapan nutrien di ambing untuk semua perlakuan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pemberian Nanokalsium pada Kambing Peranakan Etawah Laktasi terhadap Neraca Kalsium

Pemberian Nanokalsium pada Kambing Peranakan Etawah Laktasi terhadap Neraca Kalsium

Kambing Peranakan Etawah (PE) memiliki potensi sebagai ternak penghasil susu (ternak betina) dan daging (ternak jantan) di Indonesia karena lebih adaptif di lingkungan tropis dibandingkan kambing perah lain dan banyak dipelihara oleh masyarakat serta memiliki siklus laktasi yang lebih cepat dibandingkan sapi perah. Produksi susu harian mencapai 1 – 1.5 L ekor -1 hari -1 dengan kadar lemak 4.0% - 7.3% atau lebih lebih tinggi dari susu sapi 3.8% (Balitnak 2004; Srimulyati 2006; Sutama 1997). Perkembangan ternak kambing ini menyumbang kebutuhan susu dan daging nasional 66 027 ton pada tahun 2008 yang masih didominasi oleh produk dari ternak sapi dan ayam (buras dan broiler) (Sarwono 2011). Namun pemeliharaan kambing ini kurang diperhatikan terutama kualitas pemberian pakan seperti pada peternakan rakyat. Menurut NRC (2006), konsumsi bahan kering induk laktasi kambing PE laktasi awal dengan bobot badan (BB) 40 kg adalah 4.17% dari berat badan, yaitu 1.67 kg hari -1 dengan kadar lemak susu 4%. Kebutuhan total digestible nutrient (TDN), protein kasar (PK), kalsium (Ca), dan fosfor (P) berturut – turut adalah 0.89 kg hari -1
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Hubungan Indeks Ukuran Tubuh Induk dengan Penampilan Anak pada Kambing Peranakan Etawah - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Hubungan Indeks Ukuran Tubuh Induk dengan Penampilan Anak pada Kambing Peranakan Etawah - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ukuran tubuh induk kambing PE dengan bobot lahir anak kambing Peranakan Etawah (PE). Penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2016 di peternakan kambing PE milik CV. Indonesia Multi Indah Farm Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati.

12 Baca lebih lajut

Profil leukosit kambing peranakan etawah setelah vaksinasi iradiasi streptococcus agalactiae untuk pencegahan mastitis subklinis

Profil leukosit kambing peranakan etawah setelah vaksinasi iradiasi streptococcus agalactiae untuk pencegahan mastitis subklinis

Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing yang dipelihara untuk memenuhi kebutuhan susu dan daging. Sebagai ternak penghasil susu, kambing PE juga rentan terhadap mastitis subklinis. Di peternakan sapi perah Pulau Jawa, mastitis subklinis biasanya disebabkan oleh Streptococcus agalactiae. Banyak metode yang dikembangkan untuk mencegah mastitis subklinis antara lain meningkatkan higiene sanitasi, teat dipping, dan vaksinasi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi keefektifan vaksin untuk mencegah mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. agalactiae melalui pengamatan profil leukosit. Kambing yang digunakan adalah kambing sehat dengan usia kebuntingan empat sampai lima bulan yang divaksin dua sampai tiga kali dengan interval 2 minggu. Volume vaksin yang digunakan adalah 2 mL yang mengandung 10 8 cfu/mL S. agalactiae. Sampel darah yang digunakan diambil satu minggu setelah vaksinasi. Sampel darah yang diperoleh dibuat menjadi preparat ulas darah yang diwarnai dengan Giemsa dan diamati profil leukosit (nilai relatif dan jumlah) di bawah mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada posvaksinasi I nilai relatif dan jumlah limfosit dari kambing perlakuan lebih tinggi dari kontrol dan berbeda nyata pada (73.67±2.05% dan 5230±87 sel/µL) begitupun pada posvaksinasi III (66.00±4.08% dan 5676±1520 sel/µ L). Hal ini menunjukkan telah terbentuk imun sekunder terhadap S. agalctiae penyebab mastitis subklinis.
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

KUALITAS SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE) SKRIPSI

KUALITAS SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE) SKRIPSI

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Imbangan Hijauan Daun Singkong (Manihot utilisima) dengan Konsentrat terhadap Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawah (PE)” . Tidak lupa sholawat dan salam dihadiahkan kepada ruh junjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah mengeluarkan kita dari jaman kebodohan ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA UKURAN-UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADAN KAMBING PERANAKAN ETAWAH BETINA DEWASA DI KABUPATEN KLATEN - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA UKURAN-UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADAN KAMBING PERANAKAN ETAWAH BETINA DEWASA DI KABUPATEN KLATEN - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan jenis ternak ruminansia yang mulai banyak diminati masyarakat di daerah Klaten baik untuk bibit, potong, perah bahkan dijadikan sebagai ternak kontes. Ternak tersebut merupakan hasil persilangan dari kambing Etawah dan Kacang yang tampilannya mirip kambing Etawah. Ternak hasil persilangan ini mempunyai tubuh yang besar serta tipe dan ukuran telinga sangat beragam yang terdapat di antara kambing Kacang dan Etawah. Kambing ini merupakan tipe dwiguna atau dipelihara guna diambil hasil daging maupun susunya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Profil Imunoglobulin G Pada Kambing Peranakan Etawah Bunting Yang Diberi Mineral Zink (Zn).

Profil Imunoglobulin G Pada Kambing Peranakan Etawah Bunting Yang Diberi Mineral Zink (Zn).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek suplementasi mineral Zn terhadap profil imunoglobulin G (IgG) pada kambing Peranakan Etawah (PE) bunting periode sekitar partus. Penelitian ini menggunakan lima belas ekor kambing umur tiga sampai enam tahun, dengan bobot badan 30 sampai 50 kg. Induk kambing dibagi ke dalam tiga kelompok perlakuan, masing-masing terdiri atas 5 ekor. Kelompok Zn40 (kontrol) diberi pakan mengandung Zn 40 ppm, kelompok Zn60 mengandung Zn 60 ppm, dan kelompok Zn80 mengandung Zn 80 ppm. Pengambilan sampel darah dilakukan pada vena jugularis setiap dua minggu, mulai umur kebuntingan dua belas minggu sampai dengan delapan minggu setelah partus untuk dilakukan analisis terhadap konsentrasi IgG. Analisis konsentrasi IgG dilakukan menggunakan teknik Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) metode kompetitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05) antar kelompok perlakuan maupun waktu kebuntingan. Namun demikian, terdapat kecenderungan menurunnya konsentrasi IgG pada kelompok Zn40 dan Zn80 pada periode kebuntingan hingga partus, sedangkan pada kelompok Zn60 memperlihatkan konsentrasi IgG yang relatif stabil sepanjang pengamatan. Suplementasi Zn 60 ppm memperlihatkan konsentrasi IgG yang lebih tinggi dibandingkan dengan suplementasi Zn 80 ppm. Suplementasi Zn dalam pakan pada periode kebuntingan dan awal laktasi perlu dilakukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PRODUKSI SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH YANG DITERNAKKAN DI DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH.

PRODUKSI SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH YANG DITERNAKKAN DI DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH.

Djegho (1961) masing-masing 54,15; 65,35; 67,32 dan 76,65 cm pada gigi seri permanen nol sampai gigi seri permanen enam buah. Demikian pula Sudarisma (1987) mendapatkan rata-rata lingkar dada kambing Peranakan Etawah betina masing masing 64,23; 66,63; 66,65; 72,40 dan 74,43 cm untuk gigi seri permanen nol sampai gigi seri permanen empat buah. Sedangkan Singh et.al, (1979) pada penelitiannya terhadap kambing Black Bengal mendapatkan rata-rata lingkar dada masing-masing 53,3; 58,8; 60,2; 62,6 dan 64,7 cm untuk gigi seri permanen nol sampai empat buah. Salah satu cara untuk mengetahui pertumbuhan ternak disamping lingkar dada adalah dengan mengukur tinggi pundak, seperti yang dikemukakan oleh Lana et.al (1979) bahwa pertambahan bobot badan ternak dibarengi oleh pertambahan lingkar dada, tinggi pundak, panjang badan yang berjalan sesuai dengan umur ternak. Devendra dan Burns (1970) mengklasifikasikan kambing berdasarkan tinggi pundak yaitu besar (diatas 65 cm), sedang (51-65 cm). dam kecil (dibawah 50 cm).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Karakteristik Karkas dan Non Karkas Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah (PE) pada Bobot Lepas Sapih.

Karakteristik Karkas dan Non Karkas Kambing Kacang dan Kambing Peranakan Etawah (PE) pada Bobot Lepas Sapih.

Ternak kambing berkembang di berbagai belahan dunia tetapi paling populer di daerah tropis. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) melaporkan jumlah populasi kambing di Indonesia pada tahun 2011 mencapai 16 946 000 ekor. Bangsa kambing yang memiliki populasi tinggi di Indonesia menurut Rumich (1967) adalah kambing kacang, kambing etawah dan kambing Peranakan Etawah (PE). Kambing kacang merupakan kambing asli Indonesia yang banyak dikembangkan untuk menghasilkan daging. Bangsa kambing ini merupakan bangsa kambing yang terpenting ditinjau dari segi jumlah dibandingkan dengan bangsa kambing lain (Devendra dan Burns 1983). Kambing PE merupakan kambing dwiguna hasil persilangan antara kambing etawah yang berasal dari India dengan kambing kacang. Kambing PE memiliki penampilan mirip kambing etawah namun dengan ukuran tubuh yang lebih kecil.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

PENGARUH LEVEL KONSENTRAT DALAM RANSUM TERHADAP KOMPOSISI TUBUH KAMBING PERANAKAN ETAWAH.

PENGARUH LEVEL KONSENTRAT DALAM RANSUM TERHADAP KOMPOSISI TUBUH KAMBING PERANAKAN ETAWAH.

Pengaruh level konsentrat dalam ransum telah diteliti untuk menghasilkan komposisi tubuh pada kambing peranakan etawah.Penelitianmenggunakanrancanganacakkelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Keempatperlakuannyaadalah: (A) konsentrat 75% +hijauan 25%; (B) konsentrat 60% +hijauan 40%; (C): konsentrat 45% +hijauan 55%; dan (D): konsentrat 30% +hijauan 70%. Hijauan yang diberikan terdiri dari atasrumput raja 60% dangamal 40%. Peubah yang diamati adalah pertambahanbobot badan, protein tubuh, lemak tubuh, retensi protein, retensi lemak dan retensi energi. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, bila nilai rata-rata perlakuan berbeda nyata (P<0,05) akan dilanjutkan dengan Uji Duncan pada taraf 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan, retensi protein, retensi lemak dan retensi energi kambing yang mendapat perlakuan A dan B nyata lebih tinggi (P<0,05) dari kambing yang mendapat perlakuan D.Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan pemberian level konsentrat dalam ransum dapat meningkatkankomposisi tubuh kambing peranakan etawah.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pola Pembibitan Kambing Peranakan Etawah di Koperasi Daya Mitra Primata

Pola Pembibitan Kambing Peranakan Etawah di Koperasi Daya Mitra Primata

Selang Beranak. Menurut Davendra dan Burns (1994) interval beranak ialah periode antara dua beranak yang berurutan dan terdiri atas periode perkawinan dan periode bunting. Interval beranak bervariasi antara induk dan bangsa yang berbeda. Selang beranak adalah penduga yang penting untuk produktivitas seumur hidup. interval beranak tergantung pada masa antara beranak dan perkawinan dan masa bunting (Sodiq dan Sumaryadi, 2002). Semakin pendek interval kelahirannya, dan setiap kali anaknya lahir kembar, maka semakin tinggi hasil produksi yang diperoleh. Beberapa faktor yang mempengaruhi interval kelahiran ialah bangsa dan umur kambing atau urutan kelahirannya, tingkat pemberian bahan makanannya, dan hasil dari suatu kebuntingan, dan tersedianya pejantan yang cukup (Abdulgani, 1981), musim, bangsa kambing, tata laksana, makanan, dan kesehatan (Williamson dan Payne, 1993). Menurut laporan Sodiq dan Sumaryadi (2002) selang beranak pada kambing Peranakan Etawah ialah maksimal 450 hari.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

Identifikasi keragaman gen β-Kasein (CSN2) pada kambing peranakan etawah, saanen dan persilangannya dengan metode PCR-SSCP

Identifikasi keragaman gen β-Kasein (CSN2) pada kambing peranakan etawah, saanen dan persilangannya dengan metode PCR-SSCP

Casein genetic polymorphisms are important and well known due to their effects on quantitative traits and properties of milk. β -kasein gene is directly related to the quality and properties of milk. A protocol for the rapid and simultaneous genotyping of β -kasein alleles was conducted by single strand conformational polymorphism polymerase chain reaction (SSCP-PCR) method in goat. Screening β -kasein gene variability in 3 dairy goat breeds was conducted for Etawah Grade (77 samples), Saanen (67 samples) and PESA (Crossbreed Etawah Grade with Saanen) (29 samples) in Bogor and Sukabumi. The objective of this research was to identify polymorphism of the β -kasein (CSN2) gene in dairy goat. This research found three alleles of the β -casein gene, ie CSN2*A, CSN2*C, dan CSN2*O. In most breeds, CSN2*O occurred in the lowest frequency. The identification of the CSN2 gene variability in the goat breeds indicated the highly of the A allele. The CSN2*A allele had a high frequency in Saanen in Cijeruk (0,66); Etawah Grade in Cariu (0,62); and PESA in Cariu (0,54). While the CSN2*C allele had a high frequency in PESA in Balitnak (0,83); Etawah Grade in Ciapus (0,48); and Saanen in Taurus (0.38). Based on the results of chi-square analysis, found that Saanen in Cariu and Taurus were not in Hardy-Weinberg equilibrium.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

Sistem Produksi dan Kelayakan Usaha Peternakan Kambing Peranakan Etawah Studi Kasus di Kelompok Peternak Simpay Tampomas dan Tampomas Sejahtera, Sumedang, Jawa Barat.

Sistem Produksi dan Kelayakan Usaha Peternakan Kambing Peranakan Etawah Studi Kasus di Kelompok Peternak Simpay Tampomas dan Tampomas Sejahtera, Sumedang, Jawa Barat.

Etawah goat was resulted from the crossing of native Indonesian Kacang goat and Etawah (Jamnapari) Goat from India. The characteristics of PE goats were the combination between the 2 breeds including easy to maintain, well adapted to the local environment of which less favorable, and also were efficient in converting feed into meat and milk production. The study was conducted in the village of Cibeureum Wetan of Cimalaka District and Paseh Kaler of Paseh District, Sumedang-West Java. The study involved 17 farmers who were the members of Simpay Tampomas and 19 goats farmers of Tampomas Sejahtera. Both enterprises were managed semi traditionally, goats were kept by farmers in small number. The animals were placed in cages and the feed were given unlimited. Simple management was applied without good and regular recording. Diseases control done by farmers without consulting animal health officests, for example diarrhea was treated using local mediciens such as jack fruit leaves and bamboo leaves. The result of financial analysis showed that the larger the scale of goat enterprise, the higher the profit received by farmers indicated by NPV value, B/C ratio, IRR value. For those with the number of goats owned were less than 10 animals, the NPV value was Rp – 24,575, B/C ratio was 0.439 and the IRR value was 10%. Whereas, the scale of ownership more than 20 goats, the NPV was Rp 22,292,034, B/C ratio was 1.710 and IRR was 23%. This figures indicates that farmers group of Simpay Tampomas organization received high income from goat farming because the number of goats raised were more than enough to warrant a significant income. Data recording on the economic variables of the whole enterprise including buying, sales, income, and production cost of the goats business need to be done in detail and regular. The improvement of management and business scale up to 40 heads of goat was suggested in order to improve income of farmers.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Show all 2274 documents...