Karakteristik Penderita Abortus

Top PDF Karakteristik Penderita Abortus:

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011 .” Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

14 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Untuk mengetahui karakteristik penderita abortus inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan tahun 2010 – 2011, dilakukan penelitian dengan desain case series dan penarikan sampel penelitian dengan cara total sampling (100 penderita).

2 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1 kali mengalami kejadian abortus spontan termasuk abortus inkompletus, pasangan akan mempunyai risiko 15% untuk mengalami abortus, sedangkan bila pernah 2 kali mengalami abortus, maka risikonya meningkat 25%. Beberapa studi meramalkan bahwa risiko abortus setelah mengalami 3 kali abortus berurutan adalah 30 – 45%. 12 Menurut Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan (2013), karakteristik sosial penderita abortus terdapat 42,9% terjadi pada kelompok umur diatas 35 tahun, berpendidikan tamat SMA 44,5%, tidak bekerja 49,1% dan 55,9% tinggal di wilayah perkotaan. 33
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Dalam penelitian ini, hampir semua penderita abortus inkompletus yang memiliki paritas multipara adalah penderita dengan usia risiko rendah, yaitu 20 – 35 tahun dan memiliki riwayat keguguran dimana memang pada rentang usia tersebut merupakan keadaan yang optimal bagi seorang wanita untuk hamil dan melahirkan sesuai dengan penelitian Azhari (2002) yang menyatakan bahwa umur reproduksi sehat atau umur yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah umur 20 – 35 tahun. 2,34 Ditambah lagi dengan adanya riwayat keguguran pada kehamilan sebelumnya maka risiko abortus, termasuk abortus inkompletus, akan semakin tinggi dengan bertambahnya paritas ibu. 15,39
Baca lebih lanjut

107 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Crosstabs Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent Riwayat Kehamilan Penderita AI * Pekerjaan Penderita AI 97 100.0% 0 .0% 97 100.0% Riwaya[r]

16 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Karakteristik Penderita Abortus Inkompletus di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan Tahun 2010 – 2011

Gambaran Angka Kejadian Abortus Inkompletus Berdasarkan karakteristik Ibu di Ruang Kebidanan RSUD’45 Kuningan Tahun 2008.. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan.[r]

4 Baca lebih lajut

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU ABORTUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU ABORTUS

Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Berdasarkan variasi berbagai batasan yang ada tentang usia / berat lahir janin viable ( yang mampu hidup di luar kandungan ), akhirnya ditentukan suatu batasan abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 g. Pada awal abortus terjadi pendarahan desiduabasalis, diikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK PEREMPUAN PENDERITA HIVAIDS

KARAKTERISTIK PEREMPUAN PENDERITA HIVAIDS

Pada infeksi HIV/AIDS, sumber infeksi adalah penderita AIDS dan pengidap HIV. Tidak ada hewan perantara, tetapi berbagai cairan tubuh dapat bertindak sebagai vehikulum, misalnya: semen (air mani), cairan vagina (serviks), air susu ibu, air mata, saliva, dsb. Vehikulum yang secara epidemiologis potensial sebagai media penularan hanyalah semen, darah, dan cairan vagina (serviks). Akibat infeksi HIV, tubuh akan membentuk antibodi terhadap HIV, tetapi tidak cukup untuk menimbulkan daya tahan infeksi HIV tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, dan sebagainya. Tempat keluar HIV dari sumber infeksi adalah alat genital, (semen, cairan vagina/serviks), melalui kulit/mukosa yang luka (darah), dan masuk kedai ani tubuh hospes baru melalui kulit/mukosa yang luka baik dengan perantaraan darah atau semen (Koes Irianto, 2014). HIV tidak dilaporkan terdapat dalam air mata dan keringat. Pria yang sudah disunat memiliki risiko HIV yang lebih kecil dibandingkan dengan pria yang tidak disunat.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

ANALISIS HUBUNGAN ANEMIA PADA KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN ABORTUS DI RSUD DEMANG SEPULAU RAYA KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

ANALISIS HUBUNGAN ANEMIA PADA KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN ABORTUS DI RSUD DEMANG SEPULAU RAYA KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Hasil uji statistik usia ibu dengan kejadian abortus menunjukkan hasil secara statistik adanya hubungan signifikan antara usia dengan kejadian abortus (nilai p-value: 0,048<0,05), serta dapat dilihat bahwa persentase responden dengan usia berisiko lebih besar pada kasus (19,8%) dibandingkan pada kontrol (8,1%) dengan OR=2,781 (95% CI:1,089–7,101), artinya bahwa kemungkinan risiko mengalami abortus pada responden dengan usia berisiko adalah 2,781 kali lebih besar dibandingkan pada responden dengan usia tidak berisiko. Usia ibu merupakan salah satu faktor risiko yang berhubungan dengan kualitas kehamilan. Usia yang paling aman atau bisa dikatakan waktu reproduksi sehat adalah antara umur 20 tahun sampai umur 30 tahun. Penyulit pada kehamilan remaja salah satunya preeklampsia lebih tinggi dibandingkan waktu reproduksi sehat. Keadaan ini disebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk hamil, sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun perkembangan dan pertumbuhan janin (Manuaba, 2010).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Preeklampsia Dan Ekalampsia Di Rsup Haji Adam Malik Medan Tahun 2009 – 2011

Karakteristik Penderita Preeklampsia Dan Ekalampsia Di Rsup Haji Adam Malik Medan Tahun 2009 – 2011

Penderita tidak mengalami aura dan mengalami serangan kejang dengan interval tidak sadar yang bervariasi. Permulaan kejang tonik ditandai dengan gerakan kejang twitching dari otot – otot muka khususnya sekitar mulut, beberapa detik disusul kontraksi otot – otot tubuh menegang sehingga seluruh tubuh kaku. Pada kondisi ini, wajah penderita mengalami distorsi, bola mata menonjol, kedua lengan fleksi, tangan menggenggam, dan kedua tungkai posisi inverse. Setelah berlangsung selama 15 – 30 detik, kejang tonik segera disusul kejang klonik. Kejang klonik ditandai terbukanya rahang secara tiba – tiba dan tertutup kembali dengan kuat, terbuka dan tertutupnya kelopak mata kemudian diikuti kontraksi intermitten otot – otot muka maupun seluruh tubuh. Gejala – gejala yang lain yaitu wajah membengkak karena kongesti, bintik – bintik perdarahan pada konjungtiva, mulut mengeluarkan liur berbusa disertai bercak – bercak darah, dan lidah tergigit akibat kontraksi otot rahang terbuka dan tertutup. Setelah lebih kurang 1 menit, kejang klonik berangsur melemah, diam dan penderita terjadi koma. Setelah kejang berakhir, frekuensi pernapasan meningkat cepat mencapai 50 kali per menit sebagai respon terjadinya hiperkarbia akibat asidemia laktat, asidosis respiratorik, dan hipoksia. Terjadinya demam dengan suhu 39 0 C, merupakan tanda yang sangat buruk akibat manifestasi perdarahan dari sistem saraf pusat.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Gambaran Karakteristik Pasien Dengan Kanker Payudara Di RSUP Haji Adam Malik tahun 2015

Gambaran Karakteristik Pasien Dengan Kanker Payudara Di RSUP Haji Adam Malik tahun 2015

Karakteristik Penderita Kanker Payudara yang Dirawat Inap di RS St Elisabeth Medan Tahun2011 – 2013.. Karakteristik Penderita Kanker Payudara Berdasarkan Gambaran Histopatologi di RSUD A[r]

3 Baca lebih lajut

Kualitas Hidup Penderita Melasma Pada Ibu-Ibu Pengunjung Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Di Kelurahan Tanjung Rejo

Kualitas Hidup Penderita Melasma Pada Ibu-Ibu Pengunjung Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Di Kelurahan Tanjung Rejo

Peneliti berminat untuk mengetahui gambaran kualitas hidup penderita melasma pada ibu-ibu pengunjung Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Kelurahan Tanjung Rejo, Kota Medan. Hal ini dikarenakan, dari survei pendahuluan, ditemukan bahwa terdapat keluhan melasma pada ibu-ibu tersebut yang terutama terdiri dari wanita usia produktif dan kemungkinan terpapar dengan berbagai faktor resiko melasma.

4 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ABORTUS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Abortus Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ABORTUS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Abortus Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

World Futurnity Survey yang diadakan 40 negara berkembang mengatakan bahwa 40-60% wanita berkeluarga tidak ingin menambah anak lagi. Namun 50-75% dari jumlah itu ternyata tidak menggunakan salah satu metode kontrasepsi efektif sehingga kemungkinan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan masih cukup besar, abortus yang sering terjadi pada kehamilan pertama adalah karena faktor fisik atau pun alasan sosial belum siap memiliki anak, abortus pada kehamilan lebih dari tiga disebabkan karena kondisi rahim yang tidak sehat, banyak pembuluh darah rahim yang sudah rusak (Wikjosastro, 2002).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hubungan Karakteristik Penderita dan Keb

Hubungan Karakteristik Penderita dan Keb

Dewasa ini masalah penanggulangan asma menjadi bahasan menarik karena meningkatnya penjualan obat antiasma ternyata tidak mengurangi kekambuhan pada penderita. Bahkan di beberapa negara terjadi kenaikan prevalensi, morbiditas dan mortalitas asma, sehingga penatalaksanaan penyakit tersebut perlu ditinjau kembali. Selain mengganggu aktivitas, asma tidak dapat disembuhkan bahkan dapat menimbulkan kematian. Sebagian besar atau 80 persen kematian justru terjadi di negara-negara berkembang. Tingginya angka kematian akibat asma banyak karena kontrol asma yang buruk. Hal ini juga karena sikap pasien dan dokter yang sering kali meremehkan tingkat keparahannya. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari hubungan antara karakteristik responden dan kebiasaan olahraga dengan frekuensi kekambuhan asma.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN KEJADIAN ABORTUS PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT SE-KOTA PONTIANAK - Repository UM Pontianak

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU DENGAN KEJADIAN ABORTUS PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT SE-KOTA PONTIANAK - Repository UM Pontianak

Dari hasil penelitian ditemukan sebagian besar ibu yang mengalami abortus berusia 20 – 35 tahun yaitu sebanyak 180 orang (72.2%) dan ibu yang paling sedikit mengalami abortus berusia <20 dan >35 tahun yaitu sebanyak 69 orang (27.7%). Berdasarkan hasil uji statistik Chi Square diperoleh nilai p=0.295 (nilai p>0.05) maka Ho diterima, artinya tidak ada hubungan antara usia dengan kejadian abortus di Rumah Sakit Se-Kota Pontianak.. Hasil penelitian ini sesuai dengan

13 Baca lebih lajut

Pengaruh suplementasi asam folat pada pasien maternal selama kehamilan terhadap kelahiran prematur di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

Pengaruh suplementasi asam folat pada pasien maternal selama kehamilan terhadap kelahiran prematur di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

Abstrak: Prematuritas adalah penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada perinatal dan neonatal. Persentase kelahiran prematur di Indonesia sebesar 15,5%. World Health Organization menyarankan untuk mengurangi prevalensi kelahiran prematur diperlukan nutrisi selama perawatan antenatal, salah satunya suplemen asam folat (0,4 mg/hari selama kehamilan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, hubungan faktor umur, antenatal care, riwayat abortus, paritas, dan suplementasi asam folat pada pasien maternal selama kehamilan terhadap kelahiran prematur di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Penelitian ini merupakan analitik observasional dengan rancangan cross sectional periode Juni 2015-Juni 2016. Total sampel dalam penelitian ini sebanyak 342 rekam medis. Data penelitian ini dianalisis menggunakan uji T tidak berpasangan, uji Chi Square dan Fisher. Pasien maternal yang mengkonsumsi suplementasi asam folat sesuai selama kehamilan (66,37%), berumur ≤30 tahun (59,90%), ibu rumah tangga (39,77%), Strata 1 (61,11%), antenatal care ≥4 kali (96,50%), riwayat abortus <1 kali (86,84%). Faktor umur, antenatal care, riwayat abortus, dan paritas tidak memiliki pengaruh terhadap kelahiran prematur (p>0,05). Hasil Chi Square menunjukkan adanya hubungan antara kesesuaian penggunaan suplementasi asam folat terhadap kelahiran prematur (p=0,009, OR= 2,856 (95% CI= 1,335- 6,110). Pasien maternal yang mengkonsumsi asam folat sesuai selama kehamilan dapat menurunkan risiko kelahiran prematur.
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

CAUSAL FACTORS OF ABORTUS SPONTANEOUS OCCURENCE IN DR. MOHAMMAD HOESIN GENERAL STATE HOSPITAL PALEMBANG

CAUSAL FACTORS OF ABORTUS SPONTANEOUS OCCURENCE IN DR. MOHAMMAD HOESIN GENERAL STATE HOSPITAL PALEMBANG

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jarak kehamilan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian abortus. Penelitian ini sejalan dengan Pariani et al yang menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara jarak kehamilan dengan kejadian abortus, sebab jarak kehamilan memiliki peran terhadap kejadian abortus. 10 Terlalu pendek jarak kehamilan dapat menyebabkan ketidaksuburan endometrium karena uterus belum siap untuk terjadinya implantasi dan pertumbuhan janin sehingga memungkinkan terjadinya abortus. 11 Jarak kehamilan yang terlalu jauh berhubungan dengan semakin bertambahnya usia ibu, sehingga terjadi proses degeneratif yang berpengaruh pada proses kehamilan dan persalinan akibat dari melemahnya kekuatan fungsi-fungsi otot uterus dan otot panggul. 12 Selain itu, hal ini dapat dipengaruhi oleh ketidakikutsertaan ibu dalam program Keluarga Berencana (KB) sehingga ibu tidak dapat memonitoring jarak kehamilan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects