Karakteristik Sarang

Top PDF Karakteristik Sarang:

KEMELIMPAHAN, DISTRIBUSI, DAN KARAKTERISTIK SARANG BURUNG SERAK JAWA (Tyto alba javanica) DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

KEMELIMPAHAN, DISTRIBUSI, DAN KARAKTERISTIK SARANG BURUNG SERAK JAWA (Tyto alba javanica) DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

Penelitian dilakukan di sarangsarang aktif yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu RS. Grhasia Kaliurang, Universitas Islam Indonesia, Gedung Universitas Mercubuana Wates, Gedung Eks Akindo, Gedung STIE Widya Wiwaha, Gedung Arkeologi Yogyakarta, Puro Pakualaman, SMP 16 Yogyakarta, Gedung Jogja Nasional Museum, Universitas Pembangunan Nasional Babarsari, SMKN 7 Yogyakarta, Universitas Janabadra Yogyakarta, Gedung Vetri Taxi, serta Gedung Akper Karya Husada dilaksanakan pada bulan Mei 2015 sampai Juli 2016, mulai pukul 18.00 - 00.00 WIB (setiap kali pengamatan). Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yang meliputi survey, di dalam survey terbagi menjadi 4 tahap yaitu desk study, survey tahap 1 - onsite scoping survey, survey tahap 2 – investigate field survey, survey tahap 3 – nest site verification survey, dalam menghitung jumlah populasi dengan metode pengamatan serentak (Cooperative) dengan mengamati individu yang keluar dari sarang. Untuk menentukan karakteristik sarang dari Serak Jawa menurut buku Bibby dkk (2000) yaitu ketinggian sarang, bahan kontruksi bangunan, lubang masuk, serta materi dalam sarang. Analisis data digunakan analisis deskriptif.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser

Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser

Orangutan Sumatera (Pongo abelii) ditemukan hidup di hutan sekunder kawasan Resort Sei Betung, Taman Nasional Gunung Leuser. Hutan ini merupakan hutan yang masih baru ditempati oleh orangutan Sumatera sebagai tempat bersarang dan beraktifitas, namun demikian sampai saat ini belum diketahui bagaimanakah karakteristik sarang orangutan di lokasi tersebut.

3 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK SARANG DAN KEBERHASILAN BERBIAK KUNTUL BESAR (Egretta alba) DAN CANGAK ABU (Ardea cinerea) DI AREAL BREEDING SITE DESA TANJUNG REJO

KARAKTERISTIK SARANG DAN KEBERHASILAN BERBIAK KUNTUL BESAR (Egretta alba) DAN CANGAK ABU (Ardea cinerea) DI AREAL BREEDING SITE DESA TANJUNG REJO

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahma t serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Karakteristik Sarang, Keberhasilan Berbiak Kuntul Besar (Egretta alba) Dan Can gak Abu (Ardea Cinerea) Di Areal Breeding Site Desa Tanjung Rejo”. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Sains pada Fakultas M IPA USU Medan.

13 Baca lebih lajut

SKRIPSI  KEMELIMPAHAN, DISTRIBUSI, DAN KARAKTERISTIK SARANG BURUNG SERAK JAWA (Tyto alba javanica) DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

SKRIPSI KEMELIMPAHAN, DISTRIBUSI, DAN KARAKTERISTIK SARANG BURUNG SERAK JAWA (Tyto alba javanica) DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

Burung serak jawa (Tyto alba javanica) pertama kali dideskripsikan oleh Giovani Scopoli tahun 1769. Serak Jawa (Tyto alba javanica) merupakan sub spesies yang hanya terdapat di Pulau Jawa. Akan tetapi burung ini pernah ditemukan di Sumatera bagian selatan dan tengah. Hal ini terjadi diakibatkan karena penebangan hutan. Serak Jawa tidak membangun sarangnya seperti kebanyakan burung lainnya. Burung ini memanfaatkan lubang alami pada pohon, celah perbukitan, gua dan lubang pada bangunan. Adanya penebangan hutan yang berlebihan membuat burung Serak Jawa semakin kehilangan habitat alaminya dan menggeser sarang burung Serak Jawa untuk beradaptasi dengan lingkungan perkotaan dengan memanfaatkan lubang pada bangunan bertingkat yang memiliki ketinggian lebih dari 6 meter dengan rata-rata ketinggian sarang 7,8 meter dari permukaan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah populasi, distribusi dan karakteristik sarang burung Serak Jawa yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Percobaan yang dilakukan menggunakan analisis deskriptif dengan survey lokasi, pengamatan serentak dan karakteristik sarang menurut Bibby dkk (2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan kemelimpahan burung Serak Jawa di Daerah Istimewa Yogyakarta berjumlah 17 individu yang berbeda dengan distribusi sarang pada RS Grhasia Kaliurang, Universitas Islam Indonesia, Universitas Mercubuana Wates, Vetri Taxi Yogyakarta dan Akper Karya Husada. Setiap sarang memiliki ketinggian dari tanah lebih dari 6 meter dengan rata-rata ketinggian 7,8 meter, bahan konstruksi bangunan berupa genting, kayu, dan ternit, mempunyai 1 lubang masuk, materi dalam sarang berupa bulu dan pelet.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Karakteristik Sarang Tarsius wallacei di Lebanu, Sigi, Sulawesi Tengah | Alferi | Natural Science: Journal of Science and Technology 9193 30075 1 PB

Karakteristik Sarang Tarsius wallacei di Lebanu, Sigi, Sulawesi Tengah | Alferi | Natural Science: Journal of Science and Technology 9193 30075 1 PB

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Lebanu, ditemukan ada enam sarang tidur T. wallacei yang semuanya terdapat pada pohon yang tergolong ke dalam genus Ficus dengan karakter pohon berongga, relatif gelap dan memiliki akar gantung yang banyak. Informasi mengenai karakteristik sarang T. wallacei yang dideskripsikan dalam tulisan ini diharapkan dapat menjadi informasi penting sebagai bahan rujukan dalam konservasi T. wallacei di Sulawesi.

8 Baca lebih lajut

V.   SIMPULAN DAN SARAN  KEMELIMPAHAN, DISTRIBUSI, DAN KARAKTERISTIK SARANG BURUNG SERAK JAWA (Tyto alba javanica) DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

V. SIMPULAN DAN SARAN KEMELIMPAHAN, DISTRIBUSI, DAN KARAKTERISTIK SARANG BURUNG SERAK JAWA (Tyto alba javanica) DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

3. Karakteristik sarang Burung Serak Jawa meliputi semua sarang menunjukkan bahwa Serak Jawa memilih lokasi bersarang pada ketinggian dari tanah lebih dari 6 meter dengan rata-rata ketinggian 7,8 meter, bahan konstruksi bangunan berupa genting, kayu, dan ternit, mempunyai 1 lubang masuk, materi dalam sarang berupa bulu dan pellet.

4 Baca lebih lajut

Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser

Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser

Orangutan merupakan satwa yang terancam punah keberadaanya di dunia. Salah satu habitat orangutan Sumatera di TNGL adalah hutan sekunder Resort Sei Betung. Orangutan ditemukan beraktivitas dan bersarang di hutan tersebut. Penelitian mengenai “Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pong abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasonal Gunung Leuser” telah dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sarang orangutan Sumatera berdasarkan kelas sarang, posisi sarang, ketinggian sarang dan pohon tempat bersarang. Penelitian ini menggunakan metode Line Transect secara Random Sampling. Dari hasil penelitian didapatkan Persentase kelas sarang paling tinggi berturut-turut adalah kelas D (24%), kelas E (22%), kelas B (22%), kelas C (20%) dan kelas A (12%). Persentase posisi sarang terbanyak berurut-turut adalah posisi 3 (46%), posisi 2 (26%), posisi 1 (20%) dan posisi 4 (8%). Ketinggian sarang mulai dari 3-25m, ketinggian terbanyak berturut-turut adalah ketinggian 6-10m (54%), 11-15m (28%), 16-20m (9%), 0-5m (8%) dan 21-25% (2%). Karakteristik berdasarkan jenis pohon tempat bersarang ditemukan sebanyak 15 family dan 27 spesies yang didominasi oleh faimily Euphorbiaceae (31%) dan Lauraceae (11%) dan spesies yang paling mendominasi adalah Endospermum diadenum dan Macaranga lowii
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser

Karakteristik Sarang Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Di Kawasan Hutan Sekunder Resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser

Semua kera besar termasuk orangutan membangun sarang yang bisa dipergunakan baik untuk beristirahat pada siang maupun tidur pada malam hari (Van Schaik et al, 1994). Sarang bagi orangutan juga dapat berfungsi sebagai tempat bermain bagi orangutan muda, tempat berlindung, melahirkan, melakukan kopulasi, dan aktivitas makan (Rijksen, 1978).

9 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK SARANG BURUNG GOSONG KAKI MERAH (Megapodius reinwartdt) DI JALUR TELUK UJUNG TAMAN WISATA ALAM GUNUNG TUNAK NEST CHARACTERSISTICS OF ORANGE–FOOTED SCRUBFOWL (Megapodius reinwartdt) AT TELUK UJUNG TRACK, GUNUNG TUNAK ECOTOURISM PARK Zahra Hus

KARAKTERISTIK SARANG BURUNG GOSONG KAKI MERAH (Megapodius reinwartdt) DI JALUR TELUK UJUNG TAMAN WISATA ALAM GUNUNG TUNAK NEST CHARACTERSISTICS OF ORANGE–FOOTED SCRUBFOWL (Megapodius reinwartdt) AT TELUK UJUNG TRACK, GUNUNG TUNAK ECOTOURISM PARK Zahra Hus

Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2017 sampai April 2018, berlokasi di jalur Teluk Ujung Taman Wisata Alam Gunung Tunak, Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Propinsi Nusa Tenggara Barat, alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Luxmeter, GPS ( Global Positioning System), Kamera, Hygrometer, Termometer, Sendok semen, Kertas Lebel, Kantong Plastik, Peta Kawasan, Pengukur Waktu, Meteran , Hagameter, Tabung Erlenmeyer ukuran 50 ml,Tally sheet dan Patok kayu ukuran 2 m, sedangkan bahan yang digunakan adalah Bahan yang digunakan sebagai obyek penelitian ini adalah sarang burung gosong kaki merah (Megapodius reinwartdt) dan vegetasi sekitar sarang Burung Gosong kaki merah (Megapodius reinwartdt), serta pH stick, larutan NaOH 1N, larutan H202 10 %. Penentuan keberadaan sarang dalam penelitian ini menggunakan metode line transeck, dengan panjang line 1 Km dengan lebar jalur 100 m (Hedriansyah, 2005). Parameter fisik sarang diambil dengan menggunakan metode pengukuran dimana parameter fisik sarang meliputi diameter sarang, ketinggian sarang, jumlah lubang sarang dan kedalaman sarang (Purnama, 2017), dimana pengukuran terhadap diameter dan tinggi sarang dilakukan dengan menggunakan meteran, diameter sarang diukur dua kali, baik diameter pada mulut sarang maupun diameter sarang, sedangkan Kedalaman sarang diukur dengan menggunakan patok kayu yang dimasukkan ke dalam lubang. Batas kayu yang dapat dimasukkan kedalam lubang ditandai dan diukur sehingga diperoleh nilai kedalaman sarang. Selain mengukur kedalaman sarang, dilakukan juga perhitungan jumlah lubang yang ada diatas sarang yang diamati (Panggur, 2008). Data fisik lingkungan sarang diambil menggunakan metode pengukuran. Parameter yang diamati adala suhu dan kelembaban, serta intensitas cahaya, pengambilan data dilakukan dengan ulangan sebanyak 7 kali pada setiap sarang diamati (Panggur, 2008). Pengukuran suhu dan kelembaban sarang diukur pada kedalaman 30 cm. pengukuran suhu dan kelembaban juga dilakukan diluar permukaan sarang dengan ketinggian 20 cm di atas permukaan sarang, untuk besarnya intensitas cahaya (Lux) yang mengenai sarang diukur dengan menggunakan Luxmeter yang diletakkan pada ketinggian 20 cm di atas sarang. Suhu dan kelembaban rata-rata harian baik di dalam lubang maupun di luar lubang bertelur diukur dengan menggunakan persamaan dalam Handoko (1995), yaitu:
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kajian Perkembangbiakan Embrio Burung Mamoa (Eulipoa wallacei) di Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara

Kajian Perkembangbiakan Embrio Burung Mamoa (Eulipoa wallacei) di Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini untuk mempelajari karakteristik sarang pengeraman di habitat bertelur serta mempelajari tahapan perkembangan embrio burung Mamoa yang diteta[r]

214 Baca lebih lajut

Studi Distribusi Penggunaan dan Pemiliha (1)

Studi Distribusi Penggunaan dan Pemiliha (1)

oleh induk terhadap sifat fenotip life-history yang dibawa oleh offspring (Elpick dan Shine 1998; Madsen dan Shine1999). Dipilihnya lokasi sarang dengan sedikit naungan dan lebih panas oleh betina dapat mengindikasikan suatu pemilihan yang diperlukan untuk waktu inkubasi cepat. Kemungkinan hal ini untuk memastikan Biawak Komodo menetas dan keluar sarang bertepatan dengan akhir musim kering, saat kelimpahan serangga mangsa dalam jumlah banyak (Madsen dan Shine 1999). Sementara itu sebuah hasil yang menunjukan adanya sedikit perberbedaan pada karakteristik sarang Ular Piton Air (Liasis fuscus), Madsen dan Shine (1999) menemukan adanya perbedaan mencolok dalam tingkat pertahanan hidup kelompok dewasa, embrio dan tetasan dari sarang dalam lingkungan yang lebih panas, dimana sarang Biawak lebih stabil secara termodinamis dibandingkan sarang dalam lubang sistem perakaran yang memiliki suhu lebih dingin. Pekerjaan lebih lanjut tentang ketahanan hidup dan morfologi offspring akan mengarahkan kita untuk menjelaskan pengaruh pemilihan lokasi sarang dalam Biawak Komodo offspring.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Studi Distribusi Penggunaan dan Pemiliha

Studi Distribusi Penggunaan dan Pemiliha

oleh induk terhadap sifat fenotip life-history yang dibawa oleh offspring (Elpick dan Shine 1998; Madsen dan Shine1999). Dipilihnya lokasi sarang dengan sedikit naungan dan lebih panas oleh betina dapat mengindikasikan suatu pemilihan yang diperlukan untuk waktu inkubasi cepat. Kemungkinan hal ini untuk memastikan Biawak Komodo menetas dan keluar sarang bertepatan dengan akhir musim kering, saat kelimpahan serangga mangsa dalam jumlah banyak (Madsen dan Shine 1999). Sementara itu sebuah hasil yang menunjukan adanya sedikit perberbedaan pada karakteristik sarang Ular Piton Air (Liasis fuscus), Madsen dan Shine (1999) menemukan adanya perbedaan mencolok dalam tingkat pertahanan hidup kelompok dewasa, embrio dan tetasan dari sarang dalam lingkungan yang lebih panas, dimana sarang Biawak lebih stabil secara termodinamis dibandingkan sarang dalam lubang sistem perakaran yang memiliki suhu lebih dingin. Pekerjaan lebih lanjut tentang ketahanan hidup dan morfologi offspring akan mengarahkan kita untuk menjelaskan pengaruh pemilihan lokasi sarang dalam Biawak Komodo offspring.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

DISTRIBUTION OF NESTING SITE OF GREEN TURTLE (Chelonia mydas) IN SANGALAKI ISLAND OF DERAWAN ISLANDS, BERAU DISTRICT | Ibrahim | Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) 26214 67807 1 PB

DISTRIBUTION OF NESTING SITE OF GREEN TURTLE (Chelonia mydas) IN SANGALAKI ISLAND OF DERAWAN ISLANDS, BERAU DISTRICT | Ibrahim | Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) 26214 67807 1 PB

Kepulauan Derawan Kabupaten Berau. Pulau-pulau yang diketahui menjadi habitat bertelur penyu hijau di wilayah Kepulauan Derawan yaitu Pulau Derawan, Sangalaki, Semama, Sambit, Bilang-bilangan, Mataha dan Balikukup. Pulau Sangalaki adalah pulau dengan kepadatan bertelur penyu tertinggi, menyumbang lebih dari 30% dari total keseluruhan populasi penyu bertelur di Kabupaten Berau (Adnyana et al., 2007). Penyu membutuhkan pantai berpasir untuk membuat sarang dan meletakkan telurnya. Kawasan Konservasi Laut Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur memiliki beberapa pulau yang menjadi tempat paforit penyu untuk menetaskan telurnya. Sekeliling Pulau Sangalaki merupakan pantai berpasir yang menjadi habitat peneluran penyu (Machfudhi, 2014). Pulau Sangalaki memiliki panjang pantai sekitar 1.500 meter merupakan salah satu lokasi utama dari habitat peneluran penyu hijau, memiliki luas ±15 hektar. Pulau Sangalaki memiliki pantai yang landai, lebar dan butiran pasirnya halus, sehingga sesuai untuk peneluran penyu (Mukminin, 2002). Agar pengelolaan suatu kawasan konservasi berhasil, maka berbagai data dan informasi sangat dibutuhkan, sebagai dasar penetapan strategi dan kebijakan. Salah satu informasi tersebut adalah lokasi dan pola peneluran penyu hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi telur, frekuensi peneluran dan kesukaan habitat tempat peletakan telur bagi penyu hijau (Chelonia mydas) di pantai Pulau Sangalaki yang dikaitkan dengan pengaruh musim dan fase bulan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

SOAL LATIHAN IPA SD KELAS 1 semester 1.d

SOAL LATIHAN IPA SD KELAS 1 semester 1.d

Cara agar bak mandi tidak menjadi sarang nyamuk adalah … a.. Air tergenang menjadi sarang… a..[r]

3 Baca lebih lajut

Nesting Ecology and Utilization Intensity of Pig-nosed Turtle at Vriendschap River Asmat Regency, Papua.

Nesting Ecology and Utilization Intensity of Pig-nosed Turtle at Vriendschap River Asmat Regency, Papua.

Tabel I.2 menunjukkan pola sebaran jejak induk C. insculpta di Sungai Vriendschap juga mengelompok seperti pola sebaran sarang pada Tabel I.1. Pola sebaran sarang dan jejak induk yang mengelompok ini diduga disebabkan oleh sifat eco-ethology (sosio-ekologi) dari kelompok kura-kura atau penyu pada umumnya dimana induk ingin kembali pada tempat dilahirkan dengan pergerakan menuju tempat peneluran secara bersama sambil melakukan interaksi sosial. Sebaran mengelompok terjadi ketika individu cenderung tertarik ke (atau lebih mungkin bertahan dalam) bagian tertentu dari lingkungan, atau ketika kehadiran satu individu menarik atau memunculkan individu lainnya mendekat ke lingkungan tersebut (Begon et al. 2006). Di antara gerakan yang paling mencolok pada amfibi dan reptil yang masih ada adalah migrasi penyu dari tempat menetas menuju tempat makan sebagai remaja dan bertahun-tahun kemudian kembali ke pantai peneluran sebagai penyu dewasa (Vitt dan Caldwell 2009). Sifat tersebut juga diperlihatkan oleh Wood Turtles (Glyptemys insculpta) yang menunjukkan keterkaitan erat dengan tempat kelahirannya, dimana 95% betina kembali pada sarang atau tempat yang sama selama dua tahun berturut-turut (Walde et al. 2007). Tingkah laku bersarang yang mengelompok ini di satu sisi menjadi salah satu faktor penentu bagi peletakan dan keberhasilan persarangan, sementara disisi lain dapat memudahkan hilangnya sarang akibat pemanenan oleh manusia dan rusaknya sarang akibat pemangsaan satwa lainnya seperti babi hutan (Sus sp) dan biawak (Varanus sp).
Baca lebih lanjut

295 Baca lebih lajut

Uji Autentikasi Krim Sarang Burung Walet dengan Menggunakan Metode SDS-PAGE

Uji Autentikasi Krim Sarang Burung Walet dengan Menggunakan Metode SDS-PAGE

Salah satu produk kosmetik sebagai pencerah kulit yang beredar dan banyak digunakan dimasyarakat adalah krim sarang burung walet. Krim sarang burung walet dipasaran memiliki harga yang bervariatif, maka tidak menutup kemungkinan tindak kecurangan seperti pemalsuan dalam penggunaan sarang burung walet yang digunakan untuk sediaan krim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keaslian kandungan sarang burung walet dalam produk krim sarang burung walet yang beredar dimasyarakat menggunakan metode SDS-PAGE. Tahap awal penelitian, penyiapan sampel krim sebanyak 6 buah sampel dan pembuatan krim pembanding. Ekstraksi protein dari sediaan krim dengan metode partisi menggunakan kloroform dan presipitasi dengan aseton. Hasil ekstraksi protein di uji kualitatif protein yang selanjutnya dianalisis dengan SDS-PAGE untuk menentukan berat molekulnya. Hasil penelitian memperlihatkan tiga pita protein pada sampel krim C1 dengan bobot molekul sebesar 130,7296 kDa, 114,1799 kDa, dan 87,1005 kDa serta krim pembanding memperlihatkan enam pita protein dengan bobot molekul sebesar 130,7296 kDa, 114,1799 kDa, 53,5053 kDa, 43,0864 kDa, 38,6646 kDa, dan 14,2006 kDa, sedangkan 5 sampel yang lain tidak memperlihatkan pemisahan pita protein. Berdasarkan hasil tersebut sampel krim C1 diduga mengandung sarang burung walet.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

DI MANA SARANG TERORIS

DI MANA SARANG TERORIS

Kasus ditangkapnya tiga warga negara Indonesia di Philipina menyisakan misteri mengenai kemungkinan pemojokan terhadap Indonesia sebagai sarang bagi berbagai hal yang berbau terorisme. Sejumlah pejabat tinggi negara adidaya Amerika Serikat, beberapa waktu yang lalu, mengisyaratkan tudingan adanya jaringan teroris di Indonesia. Demikian halnya dengan tuduhan kontroversial dari mantan Perdana Menteri dan tokoh berpengaruh dari Singapura, Lee Kwan Yew, yang menimbulkan reaksi keras tokoh Islam di mana-mana. Fokus dari semua tudingan ialah Islam, lebih khusus lagi kelompok Islam di Indonesia.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Karakteristik Fisik Sarang Burung Maleo (Macrocephalon maleo) Di Suaka Margasatwa Pinjan-Tanjung Matop, Sulawesi Tengah.

Karakteristik Fisik Sarang Burung Maleo (Macrocephalon maleo) Di Suaka Margasatwa Pinjan-Tanjung Matop, Sulawesi Tengah.

Kelembaban merupakan faktor yang penting dalam penetasan telur karena akan mempengaruhi suhu. Menurut Russel (1961) suhu tanah dipengaruhi oleh kelembaban tanah. Tanah yang basah akan menggunakan setengah energi matahari yang diserapnya untuk penguapan, akibatnya energi yang pergunakan untuk memanaskan tanah menjadi berkurang (Russel, 1961). Dengan demikian, tingginya kelembaban di lokasi penelitian yang diakibatkan oleh hujan dan dekatnya sarang dengan pasang tertinggi menyebabkan rendahnya suhu tanah.

7 Baca lebih lajut

Obsevasi perilaku berdasarkan umur pada lebah pekerja apis cerana

Obsevasi perilaku berdasarkan umur pada lebah pekerja apis cerana

Objek penelitian yang digunakan adalah dua koloni lebah madu A. cerana yang berasal dari Gunung Arca Sukabumi Jawa Barat. Setiap koloni terdiri dari satu sisir sarang yang memiliki barisan sel-sel di bagian sisi kiri dan kanan. Satu sisir sarang lengkap memiliki lebah ratu, lebah pekerja, lebah jantan, dan sel pupa pekerja. Sisir sarang yang digunakan berukuran 35 x 25 x 3 cm yang dimasukkan ke dalam sarang kaca (observation hive) (Winston 1987) (Gambar 3). Sarang kaca diletakkan di area pinggir hutan Gunung Arca Sukabumi. Koloni A. cerana yang diamati merupakan koloni yang beraktivitas normal yang ditandai dengan adanya sel yang berisi nektar, polen, telur, dan larva. Perilaku lebah pekerja diamati menggunakan Handycam. Penandaan pada torak menggunakan label stiker nomor berwarna buatan Jerman Opalithplattchen mit Nr. 1-99 (Gambar 4), pinset, lup, dan jarum pentul. Plastik transparansi, spidol, dan asap digunakan untuk pembuatan peta lokasi sel pupa. Data lingkungan berupa suhu, intensitas cahaya dan kelembaban udara diukur berturut-turut menggunakan termometer, RH meter, dan luxmeter. Air gula digunakan sebagai bahan makanan tambahan pengganti nektar.
Baca lebih lanjut

221 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...