Karsinoma Sel Basal

Top PDF Karsinoma Sel Basal:

Karsinoma Sel Basal

Karsinoma Sel Basal

Karsinoma sel basal (KSB)disebut juga basalioma adalah tumor ganas kulit yang paling sering ditemukan terutama pada orang kulit putih. Di Australia jumlah kasus baru KSB 652/tahun/100 ribu penduduk sedangkan di Amerika Serikat 480/tahun/100 ribu penduduk. Di Indonesia menurut data Badan Registrasi Kanker Ikatan Ahli Patologi Indonesia tahun 1989, dari 1530 kasus kanker kulit, yang terbanyak adalah kasus karsinoma sel basal yaitu 39.93%. 1,2,3

10 Baca lebih lajut

Dr. dr. Hj. Yulia FY, Sp.KK.(K) Aspek Genetik pada Karsinoma Sel Basal

Dr. dr. Hj. Yulia FY, Sp.KK.(K) Aspek Genetik pada Karsinoma Sel Basal

Berdasarkan teori famili Fox`terdiri dari sub-famili protein Fox1 termasuk grup A-G, I-L dan Q, sedangkan sub-famili FOX2 termasuk grup M-P. Pada regio basic c – terminal terdapat domain Fox yang merupakan gambaran umum yang sering dijumpai adalah protein FOX1. Gen FOXH-1 dan FOXO-1 mRNA diekspresikan pada sel punca embrio manusia. Amplikasi dan overekspresi gen FOXA-1 ditemukan pada kanker eosofagus dan kanker paru, sedangkan transkripsi gene FOX M-1 meningkat/upregulasi pada kanker pankreas dan KSB dengan melalui regulasi signaling pathways SHH. Penelitian sebelumnya mendapatkan FOXE-1 sebagai downstream target signaling pathway SHH/Gli pada morfognenesis folikel rambut 3,20 . Teh dkk (2002) dengan pemeriksaan PCR mengidentifikasi diferensiasi ekpresi FOX pada KSB, ternyata berperan sebagai faktor transduksi pada signaling pathway SHH. Ketiga FOXM-1 (a, b, c) teridentifikasi pada kulit manusia dan kultur keratinosit. Dibuktikan dengan Real time quantitative PCR (RTPCR) aktivasi FOXM-1b pada level mRNA isoform sebagai faktor transkripsi up-regulated pada KSB, sedangkan pada KSS atau pada kultur keratinosit proliferasi pimer, ekpresi FOXM-1b tidak menunjukkan peningkatan secara signifikan. Penelitian dengan imunohistokimia (IHK) menunjukkan pewarnaan sangat kuat terlihat pada nukleus dan sitoplasma dari bagian pulau2 tumor KSB, sedangkan tidak ditemui di bagian perifer tumor KSB, dengan predominan lokalized Ki-67 imunopositif proliferatif sel 26 . Penelitian terbaru dengan human epidermal keratinocyte (NHEK) dan epidermal human normal sel cancer menggunakan SNP microarray menunjukkan upregulasi FOXM1B pada keratinosit epidermal dipengaruhi UVB sebagai faktor penyebab KSB 27 . Penelitian pada kultur keratinosit primer dan pada lines sel lainnya, adanya Ekpresi SHH dengan target GLI- menyebabkan peningkatan secara signifikan level FOXM-1 mRNA dan aktifitas transkripsi mengindikasikan bahwa FOXM-1 sebagai downstream target dari GLI-1 7 Peranan Melanocortin-1 (MCIR-1) pada Karsinoma sel basal (KSB)
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Uji Diagnostik Dermatoskopi Pada Pasien Karsinoma Sel Basal di  RSUP. H. Adam Malik Medan

Uji Diagnostik Dermatoskopi Pada Pasien Karsinoma Sel Basal di RSUP. H. Adam Malik Medan

KSB adalah neoplasma maligna dari non keratinizing sel yang terletak pada lapisan basal epidermis dan merupakan karsinoma kulit non melanoma terbanyak dan paling sering ditemukan. 1,2,11,12 KSB pertama kali dikemukakan oleh Jacob pada tahun 1827, yang menyebutnya ulcus rodens. Karsinoma sel basal juga memiliki nama lain, yaitu basalioma, rodent ulcer, Jacob’s ulcer, rodent carcinoma, dan epithelioma basocellulare. 13 Kanker ini paling sering terjadi dan sebagian besar dapat dicegah. Kanker ini biasanya tidak bermetastasis, berkembang lambat, invasif, dan mengadakan destruksi lokal. Kanker ini bila bermetastasis akan menimbulkan kerusakan yang luas akan tetapi hal ini sangat jarang terjadi. 1,4
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Tampilan Imunohistokimia Epidermalgrowth Factor Reseptor (Egfr) Dan B-Cell Leukemia  Lymphoma-2 (Bcl-2) Pada Subtipe Histopatologi Karsinoma Sel Basal

Tampilan Imunohistokimia Epidermalgrowth Factor Reseptor (Egfr) Dan B-Cell Leukemia Lymphoma-2 (Bcl-2) Pada Subtipe Histopatologi Karsinoma Sel Basal

KSB pertama kali dideskripsikan oleh Jacob pada tahun 1827 yang menyebutnya sebagai ulcus rodens, 1,3,9,10 kemudian istilah ini berubah menjadi karsinoma sel basal oleh karena secara histologi tumor ini mirip dengan sel-sel basal pada epidermis. 3,11,12 Tumor ini sering terjadi pada populasi Kaukasian (orang kulit putih), yang tinggal di daerah papar sinar matahari. 10,13-14,15 Meskipun memiliki angka mortalitas yang rendah, 9 pola pertumbuhan yang lambat dan jarang bermetastasis, 1-

4 Baca lebih lajut

Indeks Mitosis dan Indeks Proliferasi Ki-67 Lebih Tinggi pada Karsinoma Sel Basal Tipe Agresif Dibandingkan Tipe Non Agresif

Indeks Mitosis dan Indeks Proliferasi Ki-67 Lebih Tinggi pada Karsinoma Sel Basal Tipe Agresif Dibandingkan Tipe Non Agresif

Karsinoma sel basal (KSB) adalah kanker kulit yang paling sering ditemukan. Umumnya tumbuh lambat, namun ada beberapa subtipe histologik agresif yang sering rekuren dan bermetastasis. Adanya kesulitan dalam penegakan diagnosis KSB secara histopatologik mendorong upaya untuk menemukan faktor-faktor yang berperan dalam agresivitas tumor. Salah satu cara menilai agresivitas tumor adalah dengan menilai laju proliferasi sel dengan menghitung indeks mitosis dan menilai indeks proliferasi Ki-67. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan indeks mitosis dan indeks proliferasi Ki-67 lebih tinggi pada KSB tipe agresif, dibandingkan non agresif.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KARSINOMA SEL BASAL PADA MATA

KARSINOMA SEL BASAL PADA MATA

Karsinoma sel basal merupakan tumor kulit meligna yang berasal dari sel-sel basal epidermis dan apendiknya, berkembang lambat dan tidak/jarang bermetastase, serta tidak mengakibatkan kematian. Faktor predisposisi dan pajanan sinar matahari sangat berperan dalam perkembangan karsinoma sel basal. Patogenesis KSB melibatkan perubahan ekspresi beberapa gen seperti P53, gen yang bertanggung jawab pada jalur Hedgehog. Diagnosa karsinoma sel basal ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan histopatologis. Pengobatan karsinoma sel basal bertujuan untuk kesembuhan dengan hasil kosmetik yang baik. Bedah Eksisi dan bedah mikrografi Mohs adalah terapi yang paling baik saat ini. Prognosis karsinoma sel basal pada umumnya baik apabila dapat di tegakkan diagnosis dini dan pengobatan segera.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Hubungan Ekspresi Ki-67 dan Tipe Stroma Peritumoral dengan Varian Histopatologik Karsinoma Sel Basal

Hubungan Ekspresi Ki-67 dan Tipe Stroma Peritumoral dengan Varian Histopatologik Karsinoma Sel Basal

Mekanisme terjadinya varian KSB agre- sif dan non-agresif masih belum dimengerti, diduga tingginya tingkat proliferasi sel yang berperan dalam patogenesis tumor ini. Proli- ferasi sel merupakan kunci utama progresi tumor. 12,18 Ki-67 merupakan salah satu penanda proliferasi sel yang mudah dan dapat diper- caya. 12 Karakteristik dari Ki-67 ini secara umum diekspresikan pada sel yang sedang berproli- ferasi dan tidak pada sel yang istirahat, sehingga memberi petunjuk tentang aktivitas pertumbuhan dan progresivitas tumor, jadi dapat menentukan prognosis dan sebagai dasar terapi yang lebih tepat. 8,19
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Tampilan Imunohistokimia Epidermalgrowth Factor Reseptor (Egfr) Dan B-Cell Leukemia  Lymphoma-2 (Bcl-2) Pada Subtipe Histopatologi Karsinoma Sel Basal

Tampilan Imunohistokimia Epidermalgrowth Factor Reseptor (Egfr) Dan B-Cell Leukemia Lymphoma-2 (Bcl-2) Pada Subtipe Histopatologi Karsinoma Sel Basal

Gambar 2.1. Skematik sel-sel tulang........................................................ Gambar 2.2. Skematik pertumbuhan tulang secara intramembranous..... Gambar 2.3. Gambaran pertumbuhan tulang secara endokondral........... Gambar 2.4. Gambaran distibusi usia osteosarkoma.... …..……………. Gambar 2.5. Gambaran distribusi lokasi osteosarkoma ...……………... Gambar 2.6. Gambaran makroskopis osteosarkoma tulang paha ….... .... Gambar 2.7. Gambaran makroskopis osteosarkoma tulang belakang..... Gambar 2.8. Gambaran mikroskopis osteosarkoma.... ……...………..... Gambar 2.9. Gambaran mikroskopis osteosarkoma.... ……………….... Gambar 2.10. Gambaran mikroskopis osteosarkoma …………………… Gambar 2.11. Gambaran sitologi osteosarkoma osteoblastik ................... Gambar 2.12. Gambaran sitologi osteosarkoma osteoblastik.................... Gambar 2.13. Gambaran sitologi osteosarkoma kondroblastik ................ Gambar 2.14. Gambaran sitologi osteosarkoma fibroblastik .................... Gambar 2.16. Gambaran sitologi osteosarkoma sel kecil ......................... Gambar 2.17. Gambaran foto polos osteosarkoma.................................... Gambar 2.18. Gambaran radiologis osteosarkoma....................................
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Tampilan Imunohistokimia Epidermalgrowth Factor Reseptor (Egfr) Dan B-Cell Leukemia  Lymphoma-2 (Bcl-2) Pada Subtipe Histopatologi Karsinoma Sel Basal

Tampilan Imunohistokimia Epidermalgrowth Factor Reseptor (Egfr) Dan B-Cell Leukemia Lymphoma-2 (Bcl-2) Pada Subtipe Histopatologi Karsinoma Sel Basal

Berbagai varian KSB dengan gambaran histopatologi yaitu lobulus, kolum, jaringan ikat dan sel basaloid (sel germinativum) berhubungan dengan sedikit sitoplasma dan gambaran sel menyerupai palisading, dengan stroma fibromyxoid longgar di sekitarnya. Adanya ruang retraksi antara tumor dan stroma bisa dijumpai. Interaksi tumor-stroma terjadi oleh karena kurangnya karakteristik hemidesmosom yang melekatkan lapisan epidermis normal terhadap lapisan dermis. Pelepasan keratin ke dalam stroma sebagai hasil apoptosis dapat menyebabkan pembentukan deposit amiloid. Melanosit dapat berproliferasi dalam beberapa tumor dan menghasilkan pigmentasi yang di produksi oleh melanin yang disimpan di dalam sel tumor atau di dalam melanofag di sekitarnya. 5
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

ETIOPATOGENESIS KARSINOMA SEL BASAL

ETIOPATOGENESIS KARSINOMA SEL BASAL

anatomi KSB dan selama ini dianggap sebagai bagian dari lesi KSB. Namun, Tan ST menemukan hal baru yang sangat menarik dalam penelitiannya dengan pewarnaan imunohistokimia (IHK) leucine-rich repeats and immunoglobuline-like domains 1 (LRIG1) dan leucine-rich repeat containing G protein-coupled receptor 6 (LGR6) pada lesi KSB. Sel-sel palisade dari lesi KSB bukanlah bagian dari lesi KSB, tetapi merupakan sel-sel basal normal yang terdorong oleh sekelompok sel KSB yang sebenarnya adalah sel-sel muda yang disebut dengan sel-sel holoklon. Sel-sel holoklon merupakan kumpulan dari sel KSB yang tumbuh akibat dari mutasi sel punca basal dari lapisan basal epidermis yang tidak terkendali proliferasinya. Sel-sel holoklon ini tidak pernah tumbuh menjadi sel basal lapisan epidermis, tetapi berproliferasi terus-menerus menjadi sekelompok sel yang dikelilingi oleh sel-sel normal lapisan basal epidermis (palisade). Seperti yang ditunjukkan pada gambar 2, pembentukan sel holoklon tanpa gangguan pembentukan sel basal jelas terlihat pada lesi KSB dengan sel monomorf di tengah lesi yang dikelilingi sel basal palisade. Pembentukan sel holoklon juga dapat diakibatkan oleh gangguan pada diferensiasi ke arah transit amplifying cell (sel TA) epidermis, sehingga tidak terbentuk sel spinosum, granulosum, maupun stratum korneum dan terjadi penipisan lapisan epidermis di atas lesi KSB. 31
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pro fil Keganasan Primer Kulit Tersering di Departemen Patologi Anatomik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Tahun 2005-2009

Pro fil Keganasan Primer Kulit Tersering di Departemen Patologi Anatomik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Tahun 2005-2009

Karsinoma sel basal merupakan neo- plasma primer pada organ kulit yang paling sering ditemukan di dunia terutama pada kulit putih. Angka kejadian karsinoma sel basal pada orang Asia lebih rendah dibandingkan pada orang kulit putih. Berbagai alasan dikemukakan antara lain faktor predisposisi sampai masalah kelainan genetik. 13 Karsinoma sel basal memiliki sifat invasif lokal, dengan penyebaran lambat, dan sangat jarang bermetastasis.

7 Baca lebih lajut

Ekspresi Epidermal Growth Factor Reseptor (EGFR) dan B-Cell LeukemiaLymphoma-2 (BCL-2) pada Subtipe Histopatologik

Ekspresi Epidermal Growth Factor Reseptor (EGFR) dan B-Cell LeukemiaLymphoma-2 (BCL-2) pada Subtipe Histopatologik

Karsinoma sel basal (KSB) adalah tumor ganas pada kulit yang berasal dari sel-sel primordial pluripotensial di lapisan basal epidermis, dapat juga berasal dari selubung luar folikel rambut atau kelenjar sebasea, atau adneksa kulit lainnya. KSB merupakan jenis kanker terbanyak pada kulit dan keganasan tersering pada manusia. Penelitian yang telah dilakukan untuk melihat adanya kecenderungan faktor risiko rekuren dan perkembangan terapi target, dengan beberapa petanda biologik seperti epidermal growth faktor reseptor (EGFR) dan B-cell leukemia/lymphoma-2 (BCL-2) pada KSB. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi EGFR dan BCL-2 pada subtipe histopatologik karsinoma sel basal.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Gambaran Radiografi Nevoid Basal Cell Carsinoma (Gorlin Golt’z Syndrome) Pada Rongga Mulut

Gambaran Radiografi Nevoid Basal Cell Carsinoma (Gorlin Golt’z Syndrome) Pada Rongga Mulut

Odontogenik keratosis akibat nevoid karsinoma sel basal agresif memiliki tingkat kekambuhan yang lebih tinggi (82%) dibandingkan dengan kista soliter (61%), diyakini bahwa perilaku biologis menyebabkan lapisan proliferasi epitel lebih tinggi. Histopatologi parakeratinized lebih sering terdapat pada odontogenik keratosis yang terkait dengan nevoid karsinoma sel basal dibandingkan pada kista soliter, seperti yang telah diamati pada pasien-pasien sebelumnya. Karsinoma sel basal paling sering berkembang antara masa pubertas dan usia 35 tahun. Tanda-tanda kulit lainnya adalah adanya kista dermal jinak. Keratin kecil berisi kista dapat ditemukan pada wajah sekitar 30% dari kasus. Pada pasien ini beberapa kista dermoid ditemukan pada kulit tangan setelah pemeriksaan histopatologi. 7
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Distribusi pasien KSB primer berdasarkan ukuran lesi

Distribusi pasien KSB primer berdasarkan ukuran lesi

Karsinoma sel basal (KSB) merupakan kanker kulit nonmelanoma (KKNM) yang paling banyak ditemukan di dunia, dengan kisaran 75% dari seluruh KKNM. Karsinoma sel basal terutama terdapat pada ras Kaukasian, menyerang terutama pada lanjut usia (Lansia), dengan jumlah rasio laki- laki lebih banyak dari pada perempuan 2:1,1 sedangkan di Malaysia dan Singapura, rasio laki-laki dibandingkan dengan perempuan hampir sama. 2,3 Meskipun insidens KSB di dunia setiap tahun selalu meningkat, namun di Asia insidens KSB masih rendah, seperti terlihat insidens di Jepang (0,131%), Korea (0,048%), dan Taiwan (0,015%) Chen CC, dkk (2006). 4 Penelitian retrospektif di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin (IKKK) – RSUP M. Hoesin Palembang, didapatkan adanya peningkatan insidens KSB primer. Penelitian Toruan TL dkk. (2000), mendapatkan 20 kasus (0,042%), 5 sedangkan Yahya YF dkk. (2008) mendapatkan 47 pasien (0,11% ). 6 Diagnosis standar KSB menurut klasifikasi WHO adalah berdasarkan gambaran histo- patologis menurut growth pattern yang disesuaikan dengan gambaran klinis, bertujuan untuk menentukan jenis pengobatan dan prognosis. Penelitian sebelumnya menunj- ukkan bahwa banyak perbedaan antara kedua gambaran tersebut. 7
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Karsinoma Sel Skuamosa Sebagai Salah Satu Kanker Rongga Mulut Dan Permasalahannya | Medawati | Insisiva Dental Journal 565 1758 1 PB

Karsinoma Sel Skuamosa Sebagai Salah Satu Kanker Rongga Mulut Dan Permasalahannya | Medawati | Insisiva Dental Journal 565 1758 1 PB

Gambaran klinis karsinoma sel skuamosa meliputi eksofitik, endofitik, leukoplakia (bercak putih), eritroplakia (bercak merah), eritroleukoplakia (kombinasi bercak merah dan putih). Pertumbuhan eksofitik (lesi superfisial) dapat berbentuk bunga kol atau papiler, dan mudah berdarah. Untuk pertumbuhan endofitik biasanya terdapat batas tegas antara lesi dan jaringan normal, invasinya dapat merusak tulang yang dapat menyebabkan nyeri dan penampakan pada radiografnya adalah radiolucency yang hampir sama dengan penyakit osteomyelitis. 12 Penampakan klinis berupa ulser dengan diameter kurang dari 2 cm, kebanyakan berwarna merah dengan atau tanpa disertai komponen putih, licin, halus dan memperlihatkan elevasi yang minimal. Karakteristik dari lesi karsinoma yang berlubang dengan dasar merah dan ditutupi oleh krusta karena hiposalivasi. 7
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Imunoekspresi p63 Pada Inverted Papilloma Dan Karsinoma Sel Skuamosa Sinonasal

Imunoekspresi p63 Pada Inverted Papilloma Dan Karsinoma Sel Skuamosa Sinonasal

Selain itu, diagnosis IP sering terabaikan dan memiliki tingkat kesulitan yang berarti dari ahli THT-KL dan ahli patologi. Terkadang, karsinoma in situ yang sering kali dijumpai bersamaan dengan IP luput dari pengamatan, karena keterbatasan pewarnaan yang hanya mengandalkan Hematoxylin Eosin (HE), sehingga penanganan dan penatalaksanaan lesi ini menjadi hambatan bagi para klinisi untuk mencapai hasil yang maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan. Peneliti juga berkeinginan mengetahui bagaimana ekspresi p63 pada inverted papilloma dan karsinoma sel skuamosa sinonasal.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Ekspresi C-kit dan Beberapa Faktor Klinokopatologis Karsinoma Payudara Subtipe Basal-like

Ekspresi C-kit dan Beberapa Faktor Klinokopatologis Karsinoma Payudara Subtipe Basal-like

From January 2011-October 2013, there were 301 breast cancer patients with 87 of them (28,90%) were triple negative subtype (ER-. PR-. HER2-). Forty two triple negative cancers that match with inclusion criterias were stained with CK 5/6 to defined the basal-like subtype. There were 34 patients (81%) positive CK 5/6 expression (basal-like subtype) and 8 patients (19%) negative CK 5/6 expression (non basal-like). Patients with basal-like subtype have younger mean of age (p=0.026) and a bit larger tumor size but not statistically significant (p=0.560) compared with the non basal-like subtype. There were no significant correlation between basal-like subtype with age (p=0.052), tumor size (p=0.521), lymph node status (p=0.243), histopathological grade (p=0.115) and c-kit expression (p=0.118). Among the basal-like subtype group, 25 patients (73%) shared negative c-kit expression and 9 patients (27%) positive c-kit expression. There were no difference between positive and negative c-kit expression groups with age (p=0.434) and tumor size (p=0.267). There were no significant correlation between c-kit expression with age (p=0.544), tumor size (p=0.616), lymph node status (p=0.560), and histopathological grade (p=0.955).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

A CASE REPORT OF HETEROLOG MALIGNANT MULLERIAN MIXED TUMOR (MMMT) UTERINE CORPUS.

A CASE REPORT OF HETEROLOG MALIGNANT MULLERIAN MIXED TUMOR (MMMT) UTERINE CORPUS.

Sebuah penelitian baru menilai gambaran klinis dan patologi secara komprehensif pasien MMMT dengan stadium FIGO I. Telah dikonfirmasi bahwa pasien MMMT stadium FIGO I lebih agresif dibandingkan kelompok kontrol, karsinoma endometrioid stadium FIGO 3, karsinoma serous maupun karsinoma sel jernih. Usia harapan hidup 3 tahun pasien adalah 87% pada wanita dengan karsinoma high grade dibandingkan 42% pada wanita dengan MMMT. Hal berbeda didapatkan dari penelitian klinis lain, stadium pasien, jenis tumor epitelial, invasi limfovaskuler, kedalaman invasi miometrium dan predominasi komponen sarkoma pada suatu karsinoma tidak memiliki hubungan terhadap harapan hidup pasien secara keseluruhan. Grading komponen epitelial dan mesenkimal juga tidak mempengaruhi harapan hidup pasien secara keseluruhan, tetapi pada MMMT komponen epitelial dan mesenkimal hampir selalu high grade. Satu-satunya fakta yang ditemukan memiliki nilai statistik bermakna yang mempengaruhi hasil terapi adalah adanya komponen heterolog berdiferensiasi sarkomatosa (umumnya rabdomioblastik), penilaian hanya didasarkan pada preparat dengan pengecatan hematoksilin-eosin. Elemen heterolog sarkomatosa berhubungan dengan harapan hidup yang sangat rendah. Saat hasil terapi dibandingkan hanya berdasarkan adanya elemen heterolog sarkomatosa pada pasien MMMT, berhubungan dengan harapan hidup yang sangat rendah, sangat berbeda dengan pasien karsinoma endometrial high grade. Pasien MMMT dengan komponen heterolog memiliki harapan hidup yang lebih buruk secara signifikan. Harapan hidup 3 tahun pasien MMMT stadium bedah I hanya 45% pada tumor heterolog, dibandingkan 93% pada tumor homolog . Penelitian ini menilai
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Suplemen Buku Sumatif I

Suplemen Buku Sumatif I

Ion kalsium dilepaskan retikulum sarkoplasma, masuk ke sel membran plasma, berikatan dengan calmodulin, menyebabkan perbubahan bentuk/pelepasan bagian aktif dari F-aktin dan mengaktivasi myosin light chain kinase. Myosin light chain kinase memfosforilasi salah satu myosin light chains, yang dikenal dengan chain regulator. Fosoforilasi light chain menyebaban interaksi aktin dan S1 subfragmen myosin, sehingga menyebakan kontraksi.

Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II RAKHMAT AJI SAPUTRA FARMASI’13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II RAKHMAT AJI SAPUTRA FARMASI’13

Tahap terakhir dari proses karsinogenis adalah tahap progresi yang merupakan tahapan dimana terjadi akumulasi dari sel-sel yang bermutasi sehingga memicu peningkatan proliferasi sel yang selanjutnya terjadi invasi tumor ke jaringan lokal dan berkembang menjadi metastasis. Pada tahap ini terjadi instabilitas genetik yang menyebabkan perubahan-perubahan mutagenik dan epigenetik. Proses ini akan menghasilkan klon baru sel-sel tumor yang memiliki aktivitas proliferasi, bersifat invasive (menyerang) dan potensi metastatiknya meningkat. Selama tahapan ini, sel-sel maligna berkembang biak menyerbu jaringan sekitar, menyebar ke tempat lain. Jika tidak ada yang menghalangi pertumbuhannya, akan terbentuk dalam jumlah yang cukup besar untuk mempengaruhi fungsi tubuh, dan gejala-gejala kanker akan terlihat (Balmer et al., 2005).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 7473 documents...