Kebiasaan Menonton Tayangan Kekerasan di Media Televisi

Top PDF Kebiasaan Menonton Tayangan Kekerasan di Media Televisi:

KONTRIBUSI KEBIASAAN MENONTON TAYANGAN KEKERASAN DI MEDIA TELEVISI TERHADAP PERILAKU AGRESIF SISWA - repository UPI S PPB 1100810 Title

KONTRIBUSI KEBIASAAN MENONTON TAYANGAN KEKERASAN DI MEDIA TELEVISI TERHADAP PERILAKU AGRESIF SISWA - repository UPI S PPB 1100810 Title

Desi Wulandari, 2015 KONTRIBUSI KEBIASAAN MENONTON TAYANGAN KEKERASAN DI MEDIA TELEVISI TERHADAP PERILAKU AGRESIF SISWA Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpu[r]

4 Baca lebih lajut

KONTRIBUSI KEBIASAAN MENONTON TAYANGAN KEKERASAN DI MEDIA TELEVISI TERHADAP PERILAKU AGRESIF SISWA.

KONTRIBUSI KEBIASAAN MENONTON TAYANGAN KEKERASAN DI MEDIA TELEVISI TERHADAP PERILAKU AGRESIF SISWA.

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi terhadap perilaku agresif pada siswa kelas VII di SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015. Metode yang digunakan yaitu metode korelasi, metode ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi terhadap perilaku agresif siswa. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 29 Bandung yaitu sejumlah 348 siswa. Penelitian yang dilakukan menggunakan teknik simple random sampling pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Sampel yang digunakan dalam penelitian sejumlah 139 siswa. Pada penelitian teknik pengumpulan data menggunakan teknis non-tes berupa angket yang mengungkap kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi dan perilaku agresif. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu: (1) Secara umum waktu yang dihabiskan siswa kelas VII SMP N 29 Bandung untuk menonton tayangan kekerasan di televisi sebanyak 70 responden (50%) termasuk dalam kategori rendah; (2) pemilihan program acara dan ketertarikan siswa kelas VII SMP N 29 Bandung untuk menonton tayangan kekerasan di televisi sebanyak 75 responden (53.6%) termasuk dalam kategori sedang; (3) untuk kecenderungan perilaku agresif yang dimiliki siswa kelas VII SMP N 29 Bandung sebanyak 77 responden (55%) termasuk dalam kategori perilaku agresif sedang (4) hasil korelasi yang didapat bahwa pemilihan program acara dan ketertarikan dalam kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi memberikan pengaruh terhadap meningkatnya kecenderungan perilaku agresif . Penelitian ini terbatas pada kontribusi kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi terhadap perilaku agresif. Peneliti selanjutnya dapat mencoba menggunakan teknik untuk mereduksi perilaku agresif.
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

S PPB 1100810 Bibliography

S PPB 1100810 Bibliography

Desi Wulandari, 2015 KONTRIBUSI KEBIASAAN MENONTON TAYANGAN KEKERASAN DI MEDIA TELEVISI TERHADAP PERILAKU AGRESIF SISWA Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpu[r]

5 Baca lebih lajut

S PPB 1100810 Chapter3

S PPB 1100810 Chapter3

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik statistik korelasi. Menurut Creswell (2012, hlm.338) “ A correlation is a statistical test to determine the tendency or pattern for two (or more) variables or two sets of data to vary consistently ”. Teknik ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi terhadap perilaku agresif siswa. Serta menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila terdapat hubungan maka berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidak hubungan tersebut.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

S PPB 1100810 Abstract

S PPB 1100810 Abstract

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi terhadap perilaku agresif pada siswa kelas VII di SMP Negeri 29 Bandung tahun ajaran 2014/2015. Metode yang digunakan yaitu metode korelasi, metode ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi terhadap perilaku agresif siswa. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 29 Bandung yaitu sejumlah 348 siswa. Penelitian yang dilakukan menggunakan teknik simple random sampling pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Sampel yang digunakan dalam penelitian sejumlah 139 siswa. Pada penelitian teknik pengumpulan data menggunakan teknis non-tes berupa angket yang mengungkap kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi dan perilaku agresif. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu: (1) Secara umum waktu yang dihabiskan siswa kelas VII SMP N 29 Bandung untuk menonton tayangan kekerasan di televisi sebanyak 70 responden (50%) termasuk dalam kategori rendah; (2) pemilihan program acara dan ketertarikan siswa kelas VII SMP N 29 Bandung untuk menonton tayangan kekerasan di televisi sebanyak 75 responden (53.6%) termasuk dalam kategori sedang; (3) untuk kecenderungan perilaku agresif yang dimiliki siswa kelas VII SMP N 29 Bandung sebanyak 77 responden (55%) termasuk dalam kategori perilaku agresif sedang (4) hasil korelasi yang didapat bahwa pemilihan program acara dan ketertarikan dalam kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi memberikan pengaruh terhadap meningkatnya kecenderungan perilaku agresif . Penelitian ini terbatas pada kontribusi kebiasaan menonton tayangan kekerasan di media televisi terhadap perilaku agresif. Peneliti selanjutnya dapat mencoba menggunakan teknik untuk mereduksi perilaku agresif.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

S PPB 1100810 Table of content

S PPB 1100810 Table of content

Kekerasan Di Media Televisi (Sebelum Uji Validasi) ............................ 52 Tabel 3.4 Kisi-Kisi Instrumen Perilaku Agresif (Sebelum Validasi) ...................... 53 Tabel 3.5 Kriteria Reliabilitas Instrumen ................................................................. 56 Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Kebiasaan Menonton Tayangan

8 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Kebiasaan Menonton Televisi dengan Prokrastinasi Siswa Kelas V SD Negeri Mangunsari 04 Salatiga T1 132008606 BAB IV

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Kebiasaan Menonton Televisi dengan Prokrastinasi Siswa Kelas V SD Negeri Mangunsari 04 Salatiga T1 132008606 BAB IV

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil Penelitian Kurniawati dyah (2007) dengan judul hubungan kebiasaan menonton televisi dengan prokastinasi dengan sempel 90 orang.Penelitian ini sejalan denganPenelitian Anisa Wati (fakultas psikologi universitas sultan agung semarang) dengan subjek siswa yang sering menonton televise di SMP 6 Semarang menunjukan bahwa ada hubungan positif antara menonoton televise dengan prokastinasi koefisien determinan (R 2 ) sebesar 0,525 yang menunjukan bahwa 2,5% dari prokastinasi pada siswa yang sering mnenonton televisi,sedangkan 47,5 % lainya dipengaruhi variable lain.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Persepsi Ahli dan Pelajar terhadap Tayangan Kekerasan di Televisi dalam Proses Pengembangan Instrumen Pengukuran Derajat Kekerasan pada Tayangan Televisi.

Persepsi Ahli dan Pelajar terhadap Tayangan Kekerasan di Televisi dalam Proses Pengembangan Instrumen Pengukuran Derajat Kekerasan pada Tayangan Televisi.

Sebuah tanyangan dianggap kekerasan bila melibatkan dua pihak yang memang mereka berusaha saling membunuh, terus juga kalau kekerasan dalam rumah tangga biasanya itu dilakukan oleh satu pihak suami atau istri, terus juga ada korban bencana biasanya maksudnya kekerasan itu lebih ke korbannya mati bagaimana wujud korban itu diperlihatkan ketika dirumah sakit apakah korbannya itu banyak atau tidak misalkan apakah masih ada darah dan lain sebagainya terus yang selanjutnya adalah batasan apakah kekerasan itu ditolerir dalam aturan aturan itu manusiawi atau tidak makanya ada kekerasan yang biasa atau yang sadis didalam tayangan itu. Tayangan yang sadis (dibunuh dicekek atau ditembak). Yang selanjutnya kekerasan ini kalau didalam yang kita lihat itu bukannya kekerasan terhadap manusia tetapi juga kekerasan terhadap binatang. jadi yang kita lihat bukan hanya kekerasan yang melibatkan satu kelompok atau orang yang punya kekuatan memaksa orang lain untuk melakukan tindakan tertentu. bentuknya menyerang, memukul, meninju, menendang, mencekik, menembak dan lain sebagainya dan berdampak secara fisik misalkan efeknya nanti keliatan nyengir, rasa sakit dan lain sebagainya dan tindakannya juga bisa dilihat dengan kasat mata. Terus non fisik juga kekerasan visual ini, kenapa kita sebut kekerasa visual karna dalam beberapa hal televisi itu misalkan banyak menayangkan peristiwa peristiwa yang traumatik misalkan bencana, atau peperangan dan lain sebagainya. Tayangan yang sadis misalnya kasus Siska Yofie itu dibunuh dicekek atau ditembak gitu tapi ini dibunuh dengan cara yang sadis diseret dari motor tapi diperlihatkan. Yang selanjutnya kekerasan ini kalau didalam yang kita lihat itu bukannya kekerasan terhadap manusia tetapi juga kekerasan terhadap binatang. Komisi Penyiaran Indonesia (KPID) Jawa Barat
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN  Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Reality Show Televisi Dengan Perilaku Prososial Remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Reality Show Televisi Dengan Perilaku Prososial Remaja.

Siswa dalam masa pendidikan di sekolah menengah atas di harapkan memiliki sikap peduli untuk menolong orang lain, namun sering kali siswa justru bersikap acuh dan bermusuhan. Salah satu indikasi atau penyebab munculnya perilaku menolong adalah empati. Tingkah laku individu diperoleh sebagai hasil belajar melalui pengamatan (observasi) atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individu lain. Media massa saat ini banyak mengangkat acara reality yang disebut reality show yang mengangkat keadaan ekonomi masyarakat kelas bawah dan perjuangan tentang kisah-kisah yang dapat menjadi inspirasi tersendiri bagi penonton. Menonton tayangan reality show merupakan suatu pengalaman menempatkan diri pada keadaan emosi orang lain seolah-olah mengalaminya sendiri. Sikap empati inilah yang akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan menolong orang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton tayangan reality show televisi dengan perilaku prososial remaja, untuk mengetahui tingkat intensitas menonton reality show televisi, untuk mengetahui perilaku prososial remaja. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara intensitas menonton tayangan reality show televisi dengan perilaku prososial remaja.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

 BAB I PENDAHULUAN  Tayangan Televisi dan Pengetahuan Bahasa (Studi Kolerasi antara Intensitas Menonton Tayangan Televisi Dora The Explorer di Global TV dengan Tingkat kemampuan Bahasa Inggris di kalangan Siswa-Siswi Kelas V SDN II Sukomangu Purwantoro Wo

BAB I PENDAHULUAN Tayangan Televisi dan Pengetahuan Bahasa (Studi Kolerasi antara Intensitas Menonton Tayangan Televisi Dora The Explorer di Global TV dengan Tingkat kemampuan Bahasa Inggris di kalangan Siswa-Siswi Kelas V SDN II Sukomangu Purwantoro Wo

Keberadaan media televisi saat ini bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi masyarakat Indonesia. TVRI sebagai televisi pemerintah, adalah televisi pertama di Indonesia. Kemudian pada tahun 1989 berdiri stasiun swasta yaitu RCTI, dan disusul oleh kedelapan televisi swasta lainnya yaitu TPI, SCTV, Anteve, Indosiar, TV One, TV7 dan Global TV. Kini masyarakat Indonesia dapat memilih berbagai macam tayangan kesukaan dengan mudah. Kesembilan televisi swasta ini tentu tidak hanya memuat tayangan dalam negeri saja, melainkan juga aneka produk luar negeri, yang sebelumnya hanya dapat dinikmati melalui parabola atau saluran televisi kabel saja. Kini dengan adanya keterbukaan dan kemudahan dalam pertukaran informasi dan teknologi, televisi televisi swasta saling bersaing untuk mengadakan kerjasama dengan pihak luar negeri dengan membeli tayangan tayangan yang dapat menarik perhatian pemirsa di Indonesia. Tayangan yang dibeli oleh stasiun televisi swasta di Indonesia ini beraneka ragam jenisnya, mulai dari telenovela, film action, film kartun atau animasi, reality show, talk show, kuis dan masih banyak lagi (Chen, 2005: 99).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan pada Televisi dengan Perilaku Agresif Siswa Kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran T1 132007002 BAB IV

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan pada Televisi dengan Perilaku Agresif Siswa Kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran T1 132007002 BAB IV

kuesioner perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran dikategorikan dalam 5 kategori, yakni Sangat Tinggi, Tinggi, Sedang, Rendah dan Sangat Rendah. Jarak skor pada kuesioner intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi diperoleh dari perhitungan skor maksimal dikurangi skor minimal skala dibagi kategori atau (150-30) : 5 = 24. Begitu pula pada kuesioner perilaku agresif yaitu (145-29) : 5 = 23,2 atau dibulatkan menjadi 23. Kategori intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi dan perilaku agresif siswa kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran seperti tabel 4.5 dan tabel 4.6 berikut:
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TAYANGAN “WISATA KULINER” DAN KEPUASAN (Studi Korelasi Antara Motivasi Menonton Tayangan “Wisata Kuliner” di Trans TV Dan Kepuasan Penonton dikalangan Mahasiswa AMPTA Yogyakarta Tahun Ajaran 2008

TAYANGAN “WISATA KULINER” DAN KEPUASAN (Studi Korelasi Antara Motivasi Menonton Tayangan “Wisata Kuliner” di Trans TV Dan Kepuasan Penonton dikalangan Mahasiswa AMPTA Yogyakarta Tahun Ajaran 2008

Selain membahas masalah makanan, tayangan “Wisata Kuliner” kerap juga memberikan informasi yang tentu saja masih berkisar seputar wisata daerah. Kadangkala pembawa acara juga mengikutsertakan nama tempat dan lokasi yang berkompeten dan berkaitan dengan tema yang diangkat. Tayangan ini cukup berbeda dengan jenis tayangan lain yang disiarkan di Trans TV, yang lebih berorientasi kepada pemirsa dari kalangan remaja hingga tua meliputi semua tingkatan umur, status sosial dan ekonomi. “Wisata Kuliner” dikemas lebih serius dengan gaya tayangan dari pembawa acara yang membawakan acaranya, sehingga tayangan televisi ini menjadi hiburan untuk seluruh anggota keluarga.
Baca lebih lanjut

131 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan pada Televisi dengan Perilaku Agresif Siswa Kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran T1 132007002 BAB I

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Kekerasan pada Televisi dengan Perilaku Agresif Siswa Kelas VIII SMP Mardi Rahayu Ungaran T1 132007002 BAB I

sesuai dengan hasil penelitian Apollo (2003) menyimpulkan bahwa intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi terdapat hubungan yang positif dan signifikan dengan perilaku agresif anak. Akan tetapi bila penelitian ini menemukan tidak ada hubungan yang signifikan antara intensitas menonton tayangan kekerasan pada televisi dengan perilaku agresif siswa SMP Mardi Rahayu Ungaran maka penelitian ini sejalan dengan temuan Widiastuti (2002) menemukan bahwa intensitas menonoton tayangan kekerasan di televisi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku agresif yang artinya tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku agresif.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Latar Belakang - HUBUNGAN MENONTON TELEVISI TERHADAP PERKEMBANGAN PERSONAL SOSIAL PADA ANAK PRA SEKOLAH

Latar Belakang - HUBUNGAN MENONTON TELEVISI TERHADAP PERKEMBANGAN PERSONAL SOSIAL PADA ANAK PRA SEKOLAH

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayaan Kesejahteraan Sosial, Yogyakarta. Pada tahun 2008 ditemukan bahwa 68% (68 anak) cukup sampai sangat ingin mempraktekkan trik-trik dalam film keras apabila berkelahi dengan temannya, dan 32% (32 anak) menyatakan kurang sampai tidak ingin mempraktekkan (Reni, 2008). Film kartun menurut hasil penelitian Stein dan Friedrich di AS menunjukan bahwa anak pra sekolah menjadi lebih agresif yang dapat dikatagorikan anti sosial setelah mereka menonton film kartun. Tidak semua pada 2004 acara untuk anak yang aman hanya sekira 15% saja(Admin,2008). Berdasarkan hasil studi pendahuluan di TK Dharma Wanita Bayem 2 Kec. Kasembon, Kab. Malang tahun 2010 jumlah murid 30 anak terdiri dari kelas A berjumlah 18 anak dan kelas B berjumlah 12 anak. Peneliti melakukan wawancara tentang lama menonton televisi dari 6 anak didapatkan hasil 4 anak menonton televisi lebih dari 3,5 jam/hari dengan personal sosial yang kurang yaitu sering menyendiri.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN  Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Reality Show Televisi Dengan Perilaku Prososial Remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN Hubungan Antara Intensitas Menonton Tayangan Reality Show Televisi Dengan Perilaku Prososial Remaja.

Penelitian sebelumnya oleh Frisnawati (2012) menyatakan intensitas menonton tayangan reality show yang bertemakan sosial yang tinggi dapat meningkatkan kecenderungan perilaku prososial remaja. Ada beberapa kemungkinan hipotesis ditolak seperti yang diungkapkan Faturrochman (2006) adanya korelasi negatif antara pemberian pertolongan dengan jumlah pemerhati, semakin banyak orang yang melihat suatu kejadian yang memerlukan pertolongan, maka semakin kecil dorongan untuk menolong ia juga menambahkan ada kecenderungan bahwa orang yang baru melihat kesedihan lebih sedikit memberi bantuan dari pada orang yang baru saja melihat hal-hal yang menyenangkan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Lama Menonton Televisi Dan Prestasi Akademik Anak Usia Sekolah

Hubungan Antara Lama Menonton Televisi Dan Prestasi Akademik Anak Usia Sekolah

Metode. Penelitian ini merupakan studi cross sectional pada anak usia 6 sampai 12 tahun selama di SD Shafiyyatul Amaliyyah, Medan selama bulan November 2009 dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh orangtua. Hasil. Sebanyak 249 anak memenuhi kriteria sampel penelitian yang terdiri dari 137 (55%) anak laki-laki dan 112 (45%) anak perempuan. Dijumpai korelasi negatif yang lemah namun bermakna antara lama menonton televisi dengan prestasi akademik pada anak (r = - 0.205, P = 0.001). Namun tidak ada hubungan yang bermakna antara prestasi akademik dengan lama belajar, lama tidur, lama bermain game, lama bermain PS, usia awal menonton televisi dan jumlah ekstrakurikuler.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

MOTIF DAN KEPUASAN MENONTON TAYANGAN TELEVISI  Motif Dan Kepuasan Menonton Tayangan Televisi Studi Korelasi Motif Dan Kepuasan Dalam Menonton Tayangan Indonesia Lawak Klub Di Trans7 Pada Kalangan Mahasiswa Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta Angkatan

MOTIF DAN KEPUASAN MENONTON TAYANGAN TELEVISI Motif Dan Kepuasan Menonton Tayangan Televisi Studi Korelasi Motif Dan Kepuasan Dalam Menonton Tayangan Indonesia Lawak Klub Di Trans7 Pada Kalangan Mahasiswa Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta Angkatan

tayangan Indonesia Lawak Klub di Trans7 pada Mahasiswa Hukum UMS ............................................................................ 52 Tabel III. 3 Hasil Uji Reliabilitas ................................................................ 53 Tabel III. 4 Kategori Motif dan Kepuasan Dalam menonton tayangan

16 Baca lebih lajut

MOTIF DAN KEPUASAN MENONTON TAYANGAN TELEVISI  Motif Dan Kepuasan Menonton Tayangan Televisi Studi Korelasi Motif Dan Kepuasan Dalam Menonton Tayangan Indonesia Lawak Klub Di Trans7 Pada Kalangan Mahasiswa Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta Angkatan

MOTIF DAN KEPUASAN MENONTON TAYANGAN TELEVISI Motif Dan Kepuasan Menonton Tayangan Televisi Studi Korelasi Motif Dan Kepuasan Dalam Menonton Tayangan Indonesia Lawak Klub Di Trans7 Pada Kalangan Mahasiswa Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta Angkatan

The Existence of the mass media is very popular and loved by the general public especially the mass media television. In late, flourishing comedy impressions appear on various television stations, researches interested in researching a television comedy genre in particular impressions Indonesia Lawak Klub. So, researcher wants to know the level of the gap between motive and satisfaction Indonesia Lawak Klub audience impressions, especially in the Faculty of Law, University of Muhammdiyah Surakarta, class of 2013. This research is quantitative research with correlation approach. As the sampling technique using random sampling. Data collection technique using questionnaires and data analysis techniques using the technique of discrepancy gap analysis. The findings of study: 1). The level of the gap between the motive and the Law UMS students satisfaction in watching Indonesia Lawak Club Trans7 seen from the aspect of information including in the medium category with a value gap by 13%, 2). Rate gap between seen from the aspect of personal identity included in the low category with value gap by 21%, 3). Rate gap between seen from the aspect of integration and social interaction are included in the high category with a value gap of 7%, 4). Rate gap between seen from the aspect of entertainment is included in the low category with a value gap of 42%.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengaruh t v terhadap akhlak

Pengaruh t v terhadap akhlak

Manusia memanfaatkan televisi sebagai alat bantu yang paling efisien dan efektif. Dimana kesemuanya ini dapat terwujud melalui berbagai program dan tayangan televisi yang dapat dipertangung jawabkan secara moral dan material. Kebanyakan kegiatan menonton televisi cenderung terencana dan bersifat tak sadar, tiap kali banyak orang mempunyai waktu luang, mereka tiba-tiba saja duduk dihadapan televisinya tanpa diundang banyak niat dan rencana yang tiba-tiba saja dibatalkan, lantaran tergoda, terpanggil, tergelitik untuk menikmati acara tertentu yang disiarkan oleh televisi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...