kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

Top PDF kekerasan dalam rumah tangga (KDRT):

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA KDRT (6)

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA KDRT (6)

Kekerasan terhadap perempuan merupakan suatu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Pasal 28H ayat 2 UUD 1945 menyatakan bahwa “Setiap orang berhak mendapatkan kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai dan keadilan”. Pihak konstitusi telah mengatur dengan jelas, seperti dalam UU No. 23 tahun 2004 tentang penghapusan KDRT yang merupakan jaminan yang diberikan oleh negara untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dengan menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga. Namun hal ini masih perlu disosialisasikan lagi kepada seluruh masyarakat dengan sedetailnya, karena walaupun sudah ada peraturan yang mengatur, pada kenyataannya masih saja terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak bahkan semakin menjadi-jadi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA KDRT (1)

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA KDRT (1)

Setiap keluarga pada awalnya selalu mendambakan kehidupan rumah tangga yang aman, nyaman, dan membahagiakan. Secara fitrah perbedaan individual dan lingkungan sosial budaya berpotensi untuk menimbulkan konflik. Bila konflik sekecil apapun tidak segera dapat diatasi, sangatlah mungkin berkembang menjadi KDRT. Kejadian KDRT dapat terwujud dalam bentuk yang ringan sampai berat, bahkan dapat menimbulkan korban kematian, sesuatu yang seharusnya dihindari. Untuk dapat menyikapi KDRT secara efektif, perlu sekali setiap anggota keluarga memiliki kemampuan dan keterampilan mengatasi KDRT, sehingga tidak menimbulkan pengorbanan yang fatal. Tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan bagi anggota keluarga yang sudah memiliki usia kematangan tertentu dan memiliki keberanian untuk bersikap dan bertindak. Sebaliknya jika anggota keluarga tidak memiliki daya dan kemampuan untuk menghadapi KDRT, secara proaktif masyarakat, para ahli, dan pemerintah perlu mengambil inisiatif untuk ikut serta dalam penanganan korban KDRT, sehingga dapat segera menyelamatkan dan menghindarkan anggota keluarga dari kejadian yang tidak diinginkan. Dan Agama Kristen sebagai pedoman umat percaya memiliki peran untuk mencegah terjadinya KDRT melalui pengajaran tentang kasih
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA KDRT (4)

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA KDRT (4)

RUU KDRT adalah undang-undang yang mengatur permasalahan spesifik secara khusus, sehingga memuat unsure-unsur lex special. Unsur-unsur lex special terdiri dari : -- Unsur korektif terhadap pelaku. RUU KDRT mengatur alternatif sanksi dari pada KUHP yang hanya mengatur pidana penjara dan denda, yakni berupa kerja sosial dan program intervensi yang diberlakukan tehadap pelaku. Hal ini dimaksudkan agar pelaku tidak kembali melakukan tindak kekerasan.

Baca lebih lajut

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA KDRT DI DAL

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA KDRT DI DAL

Kasus kekerasan dalam rumah tangga atau lebih dikenal dengan singkatan KDRT tersebut pada beberapa tahun ini banyak yang mencuat ke permukaan dan menelan korban yang jumlahnya tidak sedikit. Sebenarnya, KDRT bukan merupakan kasus baru di dalam kehidupan manusia, melainkan merupakan kasus klasik yang hampir terjadi dalam setiap generasi manusia. Firaun sang penguasa Mesir tidak segan-segan menghukum dan mengeksekusi istrinya, Asiah, dan pelayan setia istrinya, Maesaroh, hanya karena kedua wanita itu teguh menjaga keimanannya terhadap Allah swt. Beberapa penguasa Romawi juga melakukan kekerasan terhadap keluarganya demi mewujudkan ambisinya itu. Salah seorang pangeran di negara Eropa Timur tega menyingkirkan istrinya yang sedang hamil tua, mendorongnya ke jurang, agar ia bebas melakukan kebiasaan buruk seksualnya. Salah seorang pemikir Prancis terkenal tega membuang kelima anak-anaknya hanya karena tidak menginginkan keributan di rumahnya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

kekerasan dalam rumah tangga KDRT

kekerasan dalam rumah tangga KDRT

Menurut KBBI, kekerasan berarti sifat atau hal yang keras, kekuatan dan paksaan. Paksaan berarti adanya suatu tekanan dan desakan yang keras. Kata-kata ini bersinonim dengan kata memperkosa yaitu menundukkan dengan kekerasan, menggagahi, memaksa dengan kekerasan dan melanggar dengan kekerasan. Dengan demikian kekerasan berarti membawa kekuatan paksaan dan tekanan. Istilah kekerasan menurut filsuf Thomas Hoblees (1588-1679) manusia dipandang sebagai makhluk yang dikuasai oleh dorongan-dorongan irasionil dan anarkis serta mekanistis yang saling iri, benci sehingga menjadi kasar, jahat, buas, pendek untuk berpikir. Menurutnya, kekerasan itu sebagai suatu yang sangat alamiah bagi manusia. Sedangkan Michael Crosby mendefinisikan kekerasan adalah setiap paksaan yang mengakibatkan luka.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hasil Penelitian Terdahulu - PENANGANAN KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) OLEH DINAS PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK (DPPKBP3A) DI KABUPATEN BANJARNEGARA - reposi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hasil Penelitian Terdahulu - PENANGANAN KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) OLEH DINAS PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK (DPPKBP3A) DI KABUPATEN BANJARNEGARA - reposi

pembahasan terdapat faktor pemicu atau penyebab terhadap terjadinya KDRT. Namun, penelitian tersebut terdapat perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis. Winda Yuliarti dalam penelitiannya melakukan kunjungan ke Pengadilan Negeri Watampone Kabupaten Bone guna mendapatkan putusan berkaitan dengan KDRT suami terhadap isterinya, dan penelitiannya yang dicantumkan dalam rumusan masalah lebih melihat kondisi kejiwaan yang dialami oleh pelaku saat melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga terhadap istrinya yang disebabkan oleh faktor emosi kepada istrinya, hal ini berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yang mengambil datanya di Dinas PPKBP3A, sementara rumusan masalah yang dibahas penulis tentang faktor-faktor penyebab KDRT dan penanganan kasus KDRT oleh DPPKBP3A.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PENANGANAN POLRI TERHADAP KASUS KEKERASAN SEKSUAL DALAM RUMAH TANGGA.

PENDAHULUAN PENANGANAN POLRI TERHADAP KASUS KEKERASAN SEKSUAL DALAM RUMAH TANGGA.

Dari definisi di atas sudah jelas bahwa yang dimaksud dengan KDRT adalah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan kerugian dan penderitaan bagi orang lain. Penderitaan tersebut dapat berupa fisik, seksual dan psikologis dan penelantaraan. Hal ini tentu saja merupakan sesuatu hal yang tidak diinginkan oleh semua pihak, karena pada dasarnya manusia itu sendiri diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang, bukan saling melukai apalagi diperlakukan tidak baik oleh orang-orang yang terdekat, yang seharusnya melindungi, memberi rasa aman, sehingga keutuhan dalam rumah tangga dapat terjaga.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - PENANGANAN KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) OLEH DINAS PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK (DPPKBP3A) DI KABUPATEN BANJARNEGARA - repository perpustakaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - PENANGANAN KASUS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) OLEH DINAS PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK (DPPKBP3A) DI KABUPATEN BANJARNEGARA - repository perpustakaan

Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama terhadap perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”.

7 Baca lebih lajut

 BAB I PENDAHULUAN  KEPRIBADIAN PELAKU KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT).

BAB I PENDAHULUAN KEPRIBADIAN PELAKU KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT).

Kenyataannya, tidak semua pasangan suami – istri mampu memenuhi tujuan awal dari pernikahan yang tertera dalam undang – undang perkawinan diatas. Hal ini disebabkan karena adanya tindakan kekerasan yang terjadi di rumah tangga yang dilakukan oleh suami atau istri terhadap pasangannya (Hasanah, dkk 2009). Tindakan kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga tersebut, dikenal dengan istilah KDRT. KDRT dalam pengertiannya yang tertuang pada undang – undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, pasal 1 ayat 1, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang mengakibatkan timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, serta penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan dengan melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Lianawati, 2009).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

GAMBARAN KONSEP DIRI DAN HARGA DIRI WANITA KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGA (KDRT)

GAMBARAN KONSEP DIRI DAN HARGA DIRI WANITA KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGA (KDRT)

Kata Kunci: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), konsep diri, harga diri Kekerasan dalam rumah tangga seringkali menggunakan paksaan yang kasar untuk menciptakan hubungan kekuasaan di dalam keluarga, di mana perempuan diajarkan dan dikondisikan untuk menerima status yang rendah terhadap dirinya sendiri. KDRT seakan-akan menunjukkan bahwa perempuan lebih baik hidup di bawah belas kasih pria. Hal ini juga membuat pria, dengan harga diri yang rendah, menghancurkan perasaan perempuan dan martabatnya karena mereka merasa tidak mampu untuk mengatasi seorang perempuan yang dapat berpikir dan bertindak sebagai manusia yang bebas dengan pemikiran dirinya sendiri. Sebagaimana pemerkosaan, pemukulan terhadap istri menjadi hal umum dan menjadi suatu keadaan yang serba sulit bagi perempuan di setiap bangsa, kasta, kelas, agama maupun wilayah. Institusi keluarga sebagai institusi terkecil dalam masyarakat, beberapa tahun terakhir ini dikatakan sebagai tempat paling rawan bagi munculnya tindak kekerasan terhadap perempuan. Banyak penyebab untuk ini diantaranya, menyebutkan bahwa laki-laki merupakan sumber konsep yang berbeda dengan perempuan. Laki-laki bersumber pada keberhasilan pekerjaan, persaingan dan kekuasaan, sementara perempuan bersumber pada keberhasilan tujuan pribadi citra fisik dan dalam hubungan keluarga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran konsep diri dan harga diri pada wanita korban kekerasan dalam rumah tangga.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kekerasan dalam rumah tangga dalam

Kekerasan dalam rumah tangga dalam

Yang merupakan lingkup tindakan KDRT adalah perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembatu rumah tangga yang tinggal dalam sebuah rumah tangga. Tidak semua tindakan KDRT dapat ditangani secara tuntas karena korban sering menutup-nutupi dengan alasan ikatan struktur budaya, agama, dan belum dipahaminya sistem hukum yang berlaku. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KEPRIBADIAN PELAKU KEKERASAN DALAM  KEPRIBADIAN PELAKU KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT).

KEPRIBADIAN PELAKU KEKERASAN DALAM KEPRIBADIAN PELAKU KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT).

Abstraksi. Penelitian ini merupakan salah satu bagian dari penelitian tentang kepribadian pelaku kekerasan dalam rumah tangga yang diungkap melalui alat tes kepribadian 16 pf. Peneliti bertujuan Mengetahui profil faktor kepribadian pelaku KDRT dan mengetahui bentuk – bentuk kekerasan apa saja yang bisa dimunculkan oleh pelaku KDRT berdasarkan profil faktor kepribadian yang mereka miliki. Semua data yang dihimpun oleh peneliti, ditempuh melalui tiga cara, tes kepribadian, angket terbuka dan wawancara. Hasil yang ditemukan bahwa terdapat lima faktor kepribadian yang sangat menonjol dari para pelaku yang menggambarkan mengenai kepribadian mereka, yaitu.kecerdasan, dominasi, kelihayan,ketidak-amanan, displin diri. Kelima faktor ini menguraikan karateristik kepribadian yang suka mengatur dan menguasai pasangan, terlalu keras pada pendirian, agresif, tidak mementingkan aturan orang lain dan tuntutan sosial, sinis, manis depresif, pencemas, mudah khawatir, menyalahkan lingkungan, memusuhi lingkungan, ceroboh, dan penyesuaian diri terganggu. Selain itu, terungkap pula mengenai ragamnya bentuk kekerasan yang mereka lakukan kepada pasangannya dan penyebab pelaku melakukan kekerasan. Dari keseluruhan data yang dihimpun, disimpulkan bahwa pelaku KDRT dapat terindentifikasi melalui kepribadian yang khas dan menonjol yang mereka miliki.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

View of KDRT dalam Konstitusi dan Implementasi Hukum

View of KDRT dalam Konstitusi dan Implementasi Hukum

pihak luar, termasuk jika masalah rumah tangga itu sebetulnya sudah merupakan bentuk kekerasan. Hal ini sangat diyakini oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, sehingga hampir tidak pernah ada kejadian/ kasus KDRT dilaporkan kepada pihak yang berwajib bahkan mungkin diutarakan kepada pihak kerabat terdekat pun hampir tidak terlakukan, karena kuatnya keyakinan sebagai suatu aib atau tabu dan akhirnya KDRT menjadi hal yang sangat tertutup atau ditutup-tutupi. Korban pun hanya diam seribu bahasa menikmati kesedihan dan kesendiriannya dalam memendam perasaan sakit, baik secara fisik maupun psikis atau perasaan-perasaan lain yang pada dasarnya suatu hal yang sangat tidak adil terhadap hak- hak asasi dirinya dan sangat membutuhkan bukan saja perlindungan sosial tetapi juga perlindungan hukum.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Tahapan Forgiveness Pada Istri Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Tahapan Forgiveness Pada Istri Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) perempuan, telah cukup menunjukkan fakta bahwa jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan sangat memprihatinkan. Kementrian Pemberdayaan Perempuan (KPP) mencatat, sedikitnya 11,4 persen atau 24 juta perempuan dari 217 penduduk Indonesia mengaku pernah mengalami KDRT. Sebagian besar kasus kekerasan domestik itu, terjadi dipedesaan yang bisa juga dianalogikan dialami oleh kaum perempuan dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah. Catatan yang diberikan LSM dan organisasi perempuan seperti Women’s Crisis Center (WCC) selama periode 1997 hingga 2000, telah menerima 879 kasus kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga hanya untuk daerah Jakarta. Tingginya jumlah kasus KDRT ini belum menggambarkan jumlah kasus secara menyeluruh karena masih banyak korban KDRT yang tidak mau melaporkan kasusnya kepihak yang berwajib atau LSM perempuan (Dian, 2004).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

faktor faktor penyebab terjadinya kekera (1)

faktor faktor penyebab terjadinya kekera (1)

Adanya ketentuan mengenai Lex Spesialis Derogat LexGeneralis yang berati Undang-undang yang khusus mengesampingkan Undang-undang yang umum nampaknya tidak mutlak diterapkan dalam perkara KDRT khususnya kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga. Hal ini nampak dari beberapa kasus kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga yang terjadi setelah diundangkan Undang-undang PKDRT pada Oktober 2006 masih tetap menggunakan dasar KUHP, seperti perkara No. 580/Pid.B/PN Mtrm. Yang telah diputus pada tanggal 16 September 2007, pelaku didakwakan dan diputus telah melanggar pasal 351 (3) KUHP dengan pidana penjara 7 tahun. Perkara ini sebenarnya masuk dalam kategori kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga karena terdakwa yang bernama Ilham (bukan nama sebenarnya) telah melakukan kekerasan fisik pada Istrinya yang bernama Sisi (bukan nama sebenarnya), hal tersebut terjadi karena Ilham yang tidak bekerja dan suka memukul Sisi. Sisi yang sudah tidak tahan bermaksud untuk pulang ke rumah orang tuanya namun dilarang oleh Ilham, dalam kondisi marah Ilham menyiramkan bensin ke tubuh Sisi dan membakarnya, akibatnya Sisi mengalami luka bakar yang cukup serius. Perkara tersebut terjadi pada tahun 2006 61 .
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

martien herna susanti ssos msi 197303312005012001

martien herna susanti ssos msi 197303312005012001

Judul : 1. Sosialisasi UU No. 32 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Bagi PKK Kelurahan Sendangmulyo Semarang<br /> 2. Pelatihan Pendampingan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Bagi PKK Kecamatan Gunungpati Semarang<br /> 3. Penanggulangan Dampak Negatif Tayangan Televisi Terhadap Anak Bagi Ibu-Ibu PKK Kelurahan Sendangmulyo Semarang

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kekerasan Rumah Tangga Dalam Film Televisi Sinema Indosiar (Analisis Isi Kekerasan dalam Rumah Tangga Dalam Film Televisi Sinema Indosiar Periode 27 Mei Hingga 2 Juni 2014).

PENDAHULUAN Kekerasan Rumah Tangga Dalam Film Televisi Sinema Indosiar (Analisis Isi Kekerasan dalam Rumah Tangga Dalam Film Televisi Sinema Indosiar Periode 27 Mei Hingga 2 Juni 2014).

Kasus KdRT terjadi karena adanya ketidak seimbangan relasi antara korban dengan pelaku, dimana suami lebih sering dianggap sebagai pihak yang paling berkuasa karena berperan sebagai kepala rumah tangga (Budaya patriarki). Menurut Anneleis Moor (1995) Selain itu KdRT disebabkan oleh ketergantungan ekonomi istri kepada suaminya, sehingga memungkinkan suami untuk menindas dan merendahkan istri (Anneleis Moor dalam Djananah Dkk, 2002: 2-3). Sejalan dengan hal itu, Gells juga menyebutkan bahwa kekerasan yang dilakukan suami kepada istri dikarenakan sikap ketergantungan istri secara ekonomi kepada mereka (Djannah dkk, 2003: 2- 3).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pembelajaran Sadar Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Gender Awareness) Melalui Pendidikan di Universitas - Scientific Repository

Pembelajaran Sadar Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (Gender Awareness) Melalui Pendidikan di Universitas - Scientific Repository

Kekerasan dalam rumah tangga (selanjutnya akan disingkat menjadi KDRT) semakin berani diungkapkan ke publik. Berdasarkan surat kabar Jawa Post (April 21, 2010). Jumlah yang melapor sebagai korban cenderung meningkat. Untuk wilayah Surabaya, pada tahun 2008, hanya ada 163 kasus yang dilaporkan. Sebanyak 77 di antaranya kasus KDRT dan 73 trafficking. Jumlah itu meningkat pada 2009 menjadi 203 kasus. Kasus KDRT meningkat menjadi 123 kasus. Kasus kekerasan di Jawa Timur terdata sekitar 88.300 kasus. Laporan yang masuk untuk wilayah Surabaya, hanya 203. Ini berarti, hanya 23% dari keseluruhan kasus KDRT di Jawa Timur. Diperkirakan kasus yang dilaporkan masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah kejadian yang sesungguhnya. Itu sebabnya, data korban, khususnya untuk wilayah Surabaya dianggap masih merupakan data fenomena gunung es, yang tampak kelihatannya sedikit kejadian, namun sebenarnya sangat banyak terjadi kekerasan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Budaya Hukum (Suatu Tinjauan Antropologis)

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Budaya Hukum (Suatu Tinjauan Antropologis)

Masih kuatnya budaya budaya malu mengakar dalam masyarakat membuat korban kekerasan enggan melapor, sehingga persentase pelaporan pengaduan hukum masih rendah. Data tahun 2001 dari 258 kasus KDRT yang dilakukan suami, hanya 21,11% menempuh proses hukum, sedangkan tahun 2006 dari 336 kasus hanya 14,88% yang memilih penyelesaian melalui hukum. Keengganan korban menempuh proses hukum juga dipengaruhi oleh penanganan aparat hukum dan lemahnya infrastruktur pelayanan terhadap korban (perempuan). Aparat yang kurang memahami sering beranggapan persoalan rumah tangga seharusnya diurus sendiri. Belum lagi ketika pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), penegak hukum atau polisi sering mengajukan pertanyaan yang menyudutkan, bahkan seringkali menyalahkan korban (blaming victim). Pada saat ini, Polri telah mempunyai 260 Ruang Pelayanan Khusus (RPK) dengan awak Polwan untuk menerima dan melayani pemeriksaan pelaku dan korban kekerasan, namun RPK hingga saat ini belum masuk dalam struktur anggaran organisasi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KEMATANGAN SOSIAL PADA ANAK KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)

KEMATANGAN SOSIAL PADA ANAK KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)

Begitu juga yang dialami oleh anak korban KDRT harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Anak korban KDRT di tuntut untuk dapat menyesuai diri dengan lingkungannya agar dapat berkembang dengan baik. Kebanyakan anak dalam KDRT mengalami trauma dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Banyak orangtua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan adalah bagian dari mendisiplinkan anak. Mereka lupa bahwa orangtua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya. Kekerasan anak adalah perlakuan orang dewasa atau anak yang lebih tua dengan menggunakan kekuasaan atau otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab pengasuhnya, yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat atau kematian.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...