Kekuatan Impak Resin

Top PDF Kekuatan Impak Resin:

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Resin akrilik polimerisasi panas merupakan bahan yang paling sering digunakan dalam pembuatan basis gigitiruan karena memiliki banyak kelebihan. Namun resin akrilik polimerisasi panas memiliki kekurangan yaitu mudah patah. Hal ini berhubungan dengan rendahnya kekuatan impak dan kekuatan transversal yang dimiliki oleh resin akrilik polimerisasi panas. Kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas hanya sekitar 0,26 ( charpy , Nm). Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah kepatahan dan meningkatkan kekuatan basis gigitiruan adalah dengan penambahan serat. 3,14,20 Penambahan serat dapat dilakukan dengan penambahan :
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas setelah Penambahan Serat Kaca Potongan Kecil 1% dengan Metode Berbeda

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas setelah Penambahan Serat Kaca Potongan Kecil 1% dengan Metode Berbeda

1. Nilai kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas tanpa serat kaca, resin akrilik polimerisasi panas dengan penambahan serat kaca dengan metode perendaman, dan metode penambahan serat kaca tanpa perendaman. ............................................................................................... 26 2. Hasil uji anova satu arah pada kekuatan impak resin akrilik polimerisasi

13 Baca lebih lajut

Perubahan kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas dalam perendaman larutan cuka apel

Perubahan kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas dalam perendaman larutan cuka apel

Larutan cuka apel merupakan minuman kesehatan. Kandungan fenol dalam larutan cuka apel kemungkinan dapat mempengaruhi sifat resin akrilik, terutama sifat mekanik. Sifat mekanis resin akrilik antara lain kekuatan impak. Kekuatan impak yang optimal diperlukan untuk mencegah kemungkinan terjadi kepatahan/fraktur pada basis gigitiruan yang terbuat dari resin akrilik. Kepatahan/fraktur tersebut dapat terjadi sewaktu dilakukan pembersihan gigitiruan secara rutin sehari-hari, misalnya gigitiruan resin akrilik terjatuh membentur lantai yang keras. Berdasar pemikiran tersebut di atas maka perlu dilakukan suatu penelitian mengenai perubahan kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas jenis cross- linked setelah perendaman dalam larutan cuka apel.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman Dalam Larutan Ekstrak Biji Pinang ( Areca Catechu L ) 20% Dengan Waktu Perendaman Yang Berbeda Chapter III VI

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman Dalam Larutan Ekstrak Biji Pinang ( Areca Catechu L ) 20% Dengan Waktu Perendaman Yang Berbeda Chapter III VI

Hasil uji menggunakan One Way Anova menunjukan adanya perbedaan kekuatan impak yang signifikan antar kelompok kontrol (tanpa perendaman) dan kelompok perlakuan (perendaman dalam larutan ekstrak biji pinang 20%). Sedangkan pada uji LSD tidak ada perbedaan yang signifikan pada kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas antara kelompok kontrol dengan kelompok perendaman dalam ekstrak biji pinang 20% selama 2 jam dengan p = 0,430 (p > 0,05), pada perendaman dalam ekstrak biji pinang 20% selama 4 jam dengan p = 0,325 (p > 0,05) , pada perendaman dalam ekstrak biji pinang 20% selama 6 jam dengan p = 0,056 (p > 0,05), namun terdapat perbedaan yang signifikan pada kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas setelah perendaman dalam ekstrak biji pinang 20% selama 8 jam dengan p = 0,002 (p < 0,05). Kelompok perendaman dalam ekstrak biji pinang 20% selama 8 jam memiliki rata-rata kekuatan impak paling rendah yakni 6,333 x 10 -3 J/mm 2 . Artinya, perendaman dalam larutan ekstrak biji pinang 20% selama 8 jam menyebabkan penurunan kekuatan impak paling tinggi. Sedangkan kelompok kontrol memiliki rata-rata kekuatan impak 8,667 x 10 -3 J/mm 2 , kelompok perendaman dalam ekstrak biji pinang 20% selama 2 jam memiliki rata-rata kekuatan impak 8,133 x 10 -3 J/mm2, kelompok perendaman dalam ekstrak biji pinang 20% selama 4 jam memiliki rata-rata kekuatan impak 8,000 x 10 -3 J/mm2, kelompok perendaman dalam ekstrak biji pinang 20% 6 jam memiliki rata-rata kekuatan impak 7,333 x 10 -3 J/mm 2 , maka disimpulkan bahwa rata-rata kekuatan impak kelompok perendaman dalam larutan ekstrak biji pinang 20% selama 2 jam, 4 jam, dan 6 tidak berbeda signifikan dengan kelompok kontrol. Sehingga berdasarkan hasil penelitian LSD dapat disimpulkan bahwa semakin lama waktu perendaman dalam larutan ekstrak biji pinang 20%, maka kekuatan impak semakin menurun.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman Dalam Larutan Tablet Pembersih Gigitiruan

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman Dalam Larutan Tablet Pembersih Gigitiruan

kelompok kontrol sebesar 6,86 x 10 -3 J/mm 2 , kelompok perendaman 5 kali sebesar 6,40 x 10 -3 J/mm 2 , kelompok perendaman10 kali sebesar 5,97 x 10 -3 J/mm 2 dan kelompok perendaman 15 kali sebesar 4,92 x 10 -3 J/mm 2 . Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan kekuatan impak yang signifikan setelah dilakukan perendaman dalam larutan tablet pembersih gigitiruan. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin lama perendaman sampel resin akrilik polimerisasi panas dalam larutan tablet pembersih gigitiruan polident maka nilai kekuatan impak resin akrilik polimerisasi semakin rendah.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman Dalam Larutan Ekstrak Biji Pinang ( Areca Catechu L ) 20% Dengan Waktu Perendaman Yang Berbeda

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman Dalam Larutan Ekstrak Biji Pinang ( Areca Catechu L ) 20% Dengan Waktu Perendaman Yang Berbeda

menggunakan uji ANOVA satu arah dan post hoc LSD. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan kekuatan impak yang signifikan pada lempeng resin akrilik polimerisasi panas setelah perendaman dalam ekstrak biji pinang 20% dan kontrol selama 2 jam dengan p = 0,430 (p > 0,05), selama 4 jam dengan p = 0,325 (p > 0,05), selama 6 jam dengan p = 0,056 (p > 0,05) dan pada perendaman 8 jam terdapat perbedaan signifikan dengan p = 0,002 (p < 0,05). Dapat disimpulkan hasil penelitian ini yaitu lama perendaman resin akrilik polimerisasi panas dalam larutan ekstrak biji pinang 20% berpengaruh terhadap kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas. Semakin lama perendaman dalam larutan ekstrak biji pinang 20% maka semakin menurun kekuatan impaknya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Lampiran 1 Skema Alur Penelitian KEKUATAN IMPAK RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS DENGAN PENAMBAHAN 0,3% , 0,6% DAN 0,9% SERAT POLIETILEN Master cast dari logam Penanaman dalam [r]

7 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas  Setelah Perendaman Dalam Larutan Tablet Pembersih Gigitiruan

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman Dalam Larutan Tablet Pembersih Gigitiruan

Hasil penelitian ini menunjukan adanya penurunan kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas yang signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok yang direndam dalam larutan tablet pembersih gigitiruan polident. Hal ini dipengaruhi oleh adanya sifat menyerapan air resin akrilik polimerisasi panas jika berkontak dengan suatu larutan. Seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh Susilaningtyas, dkk (2012) yang merendam sampel resin akrilik dalam larutan natrium hipoklorit 0,5%, dimana terjadi penurunan kekuatan impak yang signifikan dikarenakan terjadi penyerapan zat cair secara difusi diantara molekul resin akrilik polimerisasi panas tersebut. Molekul zat cair akan berdifusi kedalam struktur resin akrilik polimerisasi panas dan menempati posisi diantara polimer hingga menyebabkan ikatannya menjadi lemah. 16 Lemahnya ikatan ini akan menurunkan sifat-sifat resin akrilik, dalam hal ini sifat kekuatan impaknya.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Penggunaan serat polietilen bentuk potongan kecil telah banyak dilakukan dalam penelitian. Serat polietilen bentuk potongan kecil lebih mudah untuk dimanipulasi dan dicampur ke dalam adonan resin akrilik polimerisasi panas dibandingkan dengan bentuk anyaman. Ji-myung Bae, dkk (2012) menyimpulkan bahwa penambahan serat polietilen (PE; P.E., Dong Yang Rope Mfg., Co., Ltd, Busan, Korea) berbentuk potongan kecil pada bahan basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas (Vertex RS, Dentimax, Zeist, Netherlands) sebesar 5,3% dan 7,9% dapat meningkatkan kekuatan transversal dan flexural modulus, sementara penambahan serat polietilen 5,3% menunjukkan kekuatan yang tertinggi. 17 Kamble, dkk (2012) dalam penelitiannya menyatakan adanya peningkatan kekuatan transversal pada kelompok resin akrilik polimerisasi panas (DPI Heat cure, Mumbai, Maharashtra, India) yang ditambahkan dengan serat polietilen (Lotus Polytwist, Daman, India) bentuk potongan kecil dibandingkan dengan kelompok kontrol. 37
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Resin Akrilik 2.1.1 Pengertian - Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman Dalam Larutan Tablet Pembersih Gigitiruan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Resin Akrilik 2.1.1 Pengertian - Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman Dalam Larutan Tablet Pembersih Gigitiruan

Kekuatan impak adalah daya tahan suatu bahan agar tidak mudah patah bila bahan tersebut mendapat daya yang besar dan tiba-tiba dalam bentuk tekanan. 11,13,15,16,26 Kekuatan impak yang diperlukan oleh resin akrilik polimerisasi panas sebagai basis gigitiruan adalah 2 x 10 -3 J/mm (ISO 1567:1999). 14 Menurut Craig, dkk (2002) kekuatan impak minimal basis gigitiruan resin akrilik heat cured adalah sebesar 10 kg/cm. 16 Terdapat dua tipe alat untuk menguji kekuatan impak yaitu uji Izod dan uji Charpy. Pada alat penguji Izod sampel dijepit secara vertikal pada salah satu ujungnya. Sedangkan pada alat uji Charpy kedua ujung sampel diletakan pada posisi horizontal yang bertumpu pada ujung alat penguji. 25
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Bahan basis gigitiruan yang umum digunakan adalah resin akrilik polimerisasi panas. Bahan ini memiliki kekuatan impak yang rendah sehingga mudah patah. Kekuatan impak dapat ditingkatkan dengan penambahan serat polietilen. Penambahan serat polietilen pada bahan resin akrilik polimerisasi dengan konsentrasi yang berbeda kemungkinan dapat memberikan kekuatan impak yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan impak dengan penambahan serat polietilen tersebut pada resin akrilik polimerisasi panas. Rancangan penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Sampel resin akrilik polimerisasi panas dipergunakan sebanyak 10 sampel dengan ukuran sampel 80 mm x 10 mm x 4 mm untuk setiap kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol, kelompok serat polietilen 0,3%, 0,6% dan 0,9%. Pengukuran kekuatan impak dilakukan pada sampel dengan menggunakan alat uji kekuatan impak (Amslerotto Walpret Werke GMBH, Germany ). Data nilai kekuatan impak kemudian dianalisis dengan uji ANOVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan kekuatan impak yang signifikan ( p ≤ 0,05 ) dimana terjadi peningkatan kekuatan impak pada resin akrilik polimerisasi panas setelah penambahan serat polietilen dengan 0,3% (p ≤ 0,05), penambahan serat polietilen dengan 0,6% (p < 0,0 5), penambahan serat polietilen dengan 0,9% (p ≤ 0,05). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan serat polietilen 0,3%, 0,6% dan 0,9% pada bahan resin akrilik polimerisasi panas memberikan peningkatan kekuatan impak sehingga resin akrilik polimerisasi panas yang dihasilkan menjadi lebih kuat dan tidak mudah patah.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Sejak ditemukannya resin akrilik atau lebih dikenal dengan nama polimetil metakrilat (PMMA) pada tahun 1937, bahan ini telah menjadi pilihan utama dalam pembuatan basis gigitiruan sampai dengan sekarang ini. 1,2 Bahan basis gigitiruan dari resin akrilik dapat dibedakan atas resin akrilik swapolimerisasi, resin akrilik polimerisasi panas dan resin akrilik polimerisasi sinar. 3,4

4 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Heat Cured dengan Penambahan Serat Kaca 1% Setelah Perendaman dalam Saus Tomat

Kekuatan Impak Resin Akrilik Heat Cured dengan Penambahan Serat Kaca 1% Setelah Perendaman dalam Saus Tomat

Resin akrilik jenis heat cured dipilih sebagai bahan basis gigitiruan karena bersifat tidak toksis, tidak mengiritasi, tidak larut dalam cairan mulut, estetik baik, stabilitas warna baik, stabil, dan mudah direparasi serta harga murah. 2 Namun resin akrilik juga mempunyai sifat yang kurang menguntungkan yaitu mudah fraktur bila jatuh pada permukaan yang keras, menimbulkan macam-macam porositas, mudah aus dan dapat terjadi fraktur midline karena tekanan pengunyahan yang berlabihan. 2 Kerugian lain dari sifat resin akrilik yaitu dapat menyerap air atau cairan, dan juga dapat menyerap sisa makanan atau bahan kimia lain. 4,5 Beberapa zat atau pelarut yang dapat mempengaruhi kekuatan fisik resin akrilik yaitu benzena, metanol, fenol dan asam asetat. 6,7
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Bahan basis gigitiruan yang umum digunakan adalah resin akrilik polimerisasi panas. Bahan ini memiliki kekuatan impak yang rendah sehingga mudah patah. Kekuatan impak dapat ditingkatkan dengan penambahan serat polietilen. Penambahan serat polietilen pada bahan resin akrilik polimerisasi dengan konsentrasi yang berbeda kemungkinan dapat memberikan kekuatan impak yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan impak dengan penambahan serat polietilen tersebut pada resin akrilik polimerisasi panas. Rancangan penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Sampel resin akrilik polimerisasi panas dipergunakan sebanyak 10 sampel dengan ukuran sampel 80 mm x 10 mm x 4 mm untuk setiap kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol, kelompok serat polietilen 0,3%, 0,6% dan 0,9%. Pengukuran kekuatan impak dilakukan pada sampel dengan menggunakan alat uji kekuatan impak (Amslerotto Walpret Werke GMBH, Germany). Data nilai kekuatan impak kemudian dianalisis dengan uji ANOVA satu
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Penambahan 0,3% , 0,6% dan 0,9% Serat Polietilen

Impact strength of acrylic heat curing denture base resin reinforced woth e-glass fibers.. Prasad H, Kalavathy, Mohammed HS.[r]

4 Baca lebih lajut

KEKUATAN IMPAK RESIN AKRILIK HEAT CURED DENGAN PENAMBAHAN SERAT KACA 1 SETELAH PERENDAMAN DALAM SAUS TOMAT SELAMA 2 DAN 4 HARI

KEKUATAN IMPAK RESIN AKRILIK HEAT CURED DENGAN PENAMBAHAN SERAT KACA 1 SETELAH PERENDAMAN DALAM SAUS TOMAT SELAMA 2 DAN 4 HARI

tomat terhadap kekuatan impaknya. Kemudian dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk mengetahui adanya perbedaan bermakna antar kelompok. Hasil penelitian ini didapatkan perbedaan kekuatan impak yang tidak bermakna pada perlakuan kelompok 2 hari dan kelompok 4 hari yaitu menunjukkan signifikasi p = 0,128 (p>0,05). Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa resin akrilik head cured yang ditambah serat kaca 1% tidak mengalami penurunan kekuatan impak yang signifikan setelah perendaman dalam saus tomat selama 2 hari dan 4 hari.

14 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Resin Akrilik 2.1.1 Pengertian Resin Akrilik - Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas setelah Penambahan Serat Kaca Potongan Kecil 1% dengan Metode Berbeda

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Resin Akrilik 2.1.1 Pengertian Resin Akrilik - Kekuatan Impak Resin Akrilik Polimerisasi Panas setelah Penambahan Serat Kaca Potongan Kecil 1% dengan Metode Berbeda

Resin akrilik polimerisasi panas merupakan polimer yang paling banyak digunakan dalam pembuatan gigitiruan karena dapat diproses dengan mudah, stabilitas warna baik, tidak mengiritasi, tidak toksis, harga relatif murah dan mudah direparasi. 2,15,16 Selain memiliki keunggulan, resin akrilik polimerisasi panas memiliki beberapa kekurangan terutama dalam hal kekuatan dan kekerasan sehingga bahan ini sering mengalami retak dan fraktur setelah beberapa lama pemakaian akibat terkena benturan dan tarikan yang dialami secara berulang-ulang. 6-7
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Perbedaan Kekuatan Impak Bahan Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Termoplastik Nilon

Perbedaan Kekuatan Impak Bahan Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas dengan Termoplastik Nilon

Bahan basis gigitiruan yang umumnya dipergunakan dalam pembuatan gigitiruan adalah resin akrilik polimerisasi panas, tetapi bahan ini mempunyai kelemahan yakni mudah fraktur sehingga banyak dokter gigi yang menganjurkan pembuatan gigitiruan fleksibel berbasis termoplastik nilon untuk mengatasi keluhan fraktur dari pemakaian gigitiruan berbasis resin akrilik polimerisasi panas. Berdasarkan hal tersebut timbul permasalahan berapa kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas dan kekuatan impak termoplastik nilon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekuatan impak antara bahan basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas dengan termoplastik nilon.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

Pengaruh Penambahan Kitosan Nano Gel Terhadap Sifat Mekanis dan Stabilitas Warna Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas

Pengaruh Penambahan Kitosan Nano Gel Terhadap Sifat Mekanis dan Stabilitas Warna Bahan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas

Resin akrilik polimerisasi panas merupakan bahan yang sering digunakan sebagai basis gigi tiruan, namun bahan ini masih memiliki kekurangan dalam pemakaian jangka panjang salah satunya adalah sifat mekanis yang rendah. Untuk memperbaiki sifat tersebut, bahan penguat ditambahkan. Pemakaian bahan alam seperti kitosan untuk memperbaiki sifat resin akrilik polimerisasi panas lebih diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penambahan kitosan molekul tinggi dalam bentuk nano gel terhadap kekuatan mekanis bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dan stabilitas warnanya. Sampel pada penelitian ini adalah resin akrilik polimerisasi panas berbentuk persegi panjang dengan ukuran 50x6x4mm (untuk uji impak), 64x10x2,5mm (uji transversal), dan 40x10x2mm (uji stabilitas warna). Besar sampel 6 setiap kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok yang ditambahkan kitosan nano gel 0.25, 0.50%, 0.75%, 1.0%, dan 1.50%. Pembuatan sampel dimulai dengan membuat mold di dalam kuvet. Setelah pengepresan kuvet dilakukan kuring di dalam waterbath dengan suhu74 0 C selama 120 menit dan 100 0 C selama 60 menit. Pengujian kekuatan impak dilakukan dengan alat charpy tester, pengujian kekuatan transversal menggunakan torsee’s electronic system universal testing machine dengan beban awal 50 kgf dan pengukuran stabilitas warna dengan alat UV-Visible spectrophotometer dengan panjang gelombang 552 nm. Hasil Uji statistik ANOVA dan LSD menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada resin akrilik polimerisasi panas tanpa penambahan kitosan nano gel dengan penambahan kitosan nano gel. Nilai kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas tanpa penambahan kitosan nano gel 5.83x10 -3 J/mm 2 lebih rendah dibandingkan 5.91, 6.41, 6.58, 7.91 dan 6.08x10 -3 J/mm 2 dengan kitosan nano gel 0.25%, 0,50%, 0,75%, 1,0%, dan 1,5%. Hal yang sama pada nilai kekuatan transversal tanpa penambahan kitosan nano gel 74.62 Mpa lebih rendah dibandingkan 74.93, 75.14, 78.88, 79.00, dan 78.58 Mpa dengan penambahan kitosan nano gel 0.25%, 0,50%, 0,75%, 1,0%, dan 1,5%. Nilai stabilitas warna pada resin akrilik polimerisasi panas tanpa penambahan kitosan nano gel 0.07345cm -1 lebih rendah dibandingkan 0.07354, 0.07383, 0.07499, 0.07589 dan 0.07554 cm -1 dengan kitosan nano gel 0.25%, 0,50%, 0,75%, 1,0%, dan 1,5%. Kesimpulan, Ada perbedaan nilai kekuatan impak, kekuatan transversal dan perubahan warna bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas yang signifikan setelah penambahan kitosan nano gel dengan persentase yang berbeda yaitu 0.25%, 0.50%, 0.75%, 1.0% dan 1.5%. Penambahan kitosan nano gel 1% merupakan konsistensi yang paling cocok digunakan sebagai bahan penguat.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Perbedaan Pengaruh Penambahan Serat Kaca dan Serat Poliester Terhadap Kekuatan Impak Bahan Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi panas

Perbedaan Pengaruh Penambahan Serat Kaca dan Serat Poliester Terhadap Kekuatan Impak Bahan Basis Gigitiruan Resin Akrilik Polimerisasi panas

peningkatan kekuatan impak yang signifikan apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol. kekuatan impak pada serat kaca ukuran 6 mm 1% adalah sebesar 6,65 KJ/m 2 . 10 Penelitian lain yang dilakukan oleh Makarem A. (2011) dengan menggunakan resin akrilik polimerisasi panas (Major Base 2) dengan tambahan serat kaca (K and C moulding Ltd) potongan kecil 6 mm sebanyak 0.022 gm (1%) yang sebelumnya telah di preimpregnasi mendapatkan adanya peningkatan kekuatan impak yang signifikan pada kelompok resin akrilik yang ditambahkan serat kaca dibandingkan dengan kelompok resin akrilik yang tidak ditambahkan serat kaca, besarnya nilai rerata kekuatan impak resin akrilik polimerisasi panas adalah 8,866 ± 0.186 KJ/m 2 . 31 Hasil yang diperoleh pada penelitian ini juga sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dogan dkk (2006) yang menggunakan resin akrilik polimerisasi panas (Meliodent) dengan penambahan serat kaca potongan kecil ukuran berbeda, yaitu 2 mm, 4 mm dan 6 mm dengan konsentrasi 3%. Nilai rerata terbesar yang didapatkan dari penelitian tersebut yaitu sebesar 8,7 ± 0,13 KJ/m 2 pada kelompok serat kaca dengan ukuran 6 mm 3%. 28 Nilai rerata kelompok dengan penambahan serat kaca 1% 6 mm (kelompok A) pada penelitian ini adalah sebesar 7,96 ± 0,71 KJ/m 2 . Nilai ini lebih kecil dari nilai rerata hasil penelitian yang dilakukan oleh Makarem, hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan kondisi pada saat melakukan penelitian seperti perbedaan teknik pengadukan. Pengadukan yang tidak homogen akan menyebabkan terjadinya pengurangan kekuatan impak. 20,37 Nilai rerata pada kelompok dengan penambahan serat kaca 3% 6 mm (kelompok C) pada penelitian ini adalah sebesar 9,20 ± 1,78 KJ/m 2 . Nilai ini lebih besar apabila dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh dogan, dkk, hal ini mungkin disebabkan karena tidak adanya perendaman serat dalam monomer metil metaklirat sebelum ditambahkan ke dalam bahan basis gigitiruan resin akrilik polimerisasi panas sehingga akan menyebabkan terjadinya polimerization shrinkage yang akan mengurangi ikatan adhesi antara serat kaca dengan matriks polimer sehingga terbentuk void pada matriks resin yang akan mengurangi kekuatan impak. 20
Baca lebih lanjut

96 Baca lebih lajut

Show all 9530 documents...