Kelas Menengah Muslim

Top PDF Kelas Menengah Muslim:

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Departemen Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini berjudul “Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim”.

11 Baca lebih lajut

Membaca Kelas Menengah Muslim Indonesia

Membaca Kelas Menengah Muslim Indonesia

Wasisto menafsirkan pemikiran Weber untuk membuka pembahas- an mengenai kelas menengah. Pemikiran Weber yang dimaksud yakni tentang relasi antara agama dan ekonomi, dengan kasus perkembangan ekonomi di Eropa pada abad 16. Dalam studinya, Weber mendapati bahwa penggerak ekonomi Eropa yang mayoritas adalah kelompok Pro- testan sekte Calvin. Weber kemudian menjelaskan adanya peran aga- ma Protestan dalam membentuk etos kerja pengikutnya menjadi rajin bekerja (Jati 2016, 6). Kemampuan agama Protestan untuk mendorong pengikutnya memiliki etos kerja tinggi ini dipahami Wasisto sebagai asal muasal kemunculan kelas menengah dengan basis agama. Wasisto kemudian menggunakan hal ini sebagai analogi untuk menganalisis kemunculan kelas menengah Islam, meski dengan beberapa catatan (Jati 2016, 39-40). Menariknya, Weber sendiri sebenarnya tidak secara khusus menjadikan analisis tentang etika ekonomi Protestan ini sebagai analisis kemunculan kelas menengah berbasis agama (Protestan). We- ber tidak secara eksplisit menyebut konsep ‘kelas menengah Protestan’, sehingga perlu diperiksa ulang apakah Weber menggunakan kerang- ka kelas dalam konteks kasus tersebut (Weber 1930). Pemeriksaan ini penting untuk melihat relevansi teori yang digunakan Wasisto untuk mengkaji kemunculan kelas menengah Muslim.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kelas Menengah Muslim Baru dan Kontestasi Wacana Pluralisme di Media Sosial | Ridho | Jurnal Pemikiran Sosiologi 28582 64013 1 PB

Kelas Menengah Muslim Baru dan Kontestasi Wacana Pluralisme di Media Sosial | Ridho | Jurnal Pemikiran Sosiologi 28582 64013 1 PB

92 adalah travel keluar negeri dengan tujuan ke tanah suci untuk melakukan umroh plus. Berdasarkan apologi wisata religi ke situs para nabi di Mekkah dan Madinah, plus melanglang ke negeri-negeri di sekitarnya seperti Turki, Dubai dan sejenisnya untuk membuat rileks kejiwaan mereka. Tidak mengherankan pula jika saat ini ada Muslim/Muslimah yang tiap tahun melakukan ibadah umroh demi membelanjakan pendapatannya di jalan ibadah, demikian argumen mereka. Sementara itu untuk melengkapi paket wisata, hotel pun berjamuran yang mengusung konsep hotel syar’i, demi kenyamanan dan keimanan batin yang tidak dapat ditawar lagi. Pasar hotel syar’i pun menjanjikan secara pendapatan ekonomi pemiliknya. Saat ini tumbuh halal tourism, yang mencoba menghadirkan paket halal dalam berwisata; makanan, penginapan, tempat-tempat yang dikunjungi, kesiapan venue dengan masjid/musholanya serta perlengkapan pendukung lainnya menjadikan kelas menengah Muslim baru ini betul-betul dimanjakan oleh berbagai varian pilihan gaya hidup di abad 21 yang berbalutkan identitas Islam.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Revolusi hijab juga merupakan fenomena yang terjadi pada wanita kelas menengah muslim. Dulu, hijab diasosiasikan sebagai busana kampungan, santri dan identik dengan ibu-ibu pengajian, tapi kini berubah menjadi busana yang modern, stylish dan fashionable. Hijab juga semakin terlihat modis karena mulai banyak dikenakan oleh para artis. Kecanggihan teknologi juga salah satu pendorong wanita kelas menengah muslim kini semakin percaya diri untuk berhijab. Melalui TV atau media sosial, konsumen dapat mencari referensi model- model baju muslim yang dipakai para artis serta melihat tutorial hijab di Youtube. Tidak hanya dari segi fashion, fenomena lainnya yang terjadi pada konsumen kelas menengah muslim adalah meningkatnya peminat bank syariah, banyaknya komunitas hijab, dan maraknya paket umrah plus wisata yang banyak diminati konsumen kelas menengah muslim dari berbagai kalangan usia.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat nilai Net Promoter Score Brand-Brand Indonesia pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim di Kota Medan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Net Promoter Score (NPS) yang kemudian dilanjutkan dengan mengukur pengalaman pelanggan (customer experience) melalui titik sentuh moment of truth setiap merek. Jumlah populasi penelitian ini tidak diketahui pasti jumlahnya, sehingga dalam penentuan sampel menggunakan rumus Supramono dan memperoleh jumlah sampel sebanyak 100 responden. Data sekunder juga dikumpulkan untuk mendukung analisis dalam penelitian ini dengan memperoleh data melalui buku, majalah, dan literature. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dan kuantitatif.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (3)

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (3)

Bedah Buku “Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia” Penulis Wasisto Raharjo Jati (LIPI Jakarta) pada hari Jum’at, 5 Mei 2017 di Ruang Seminar FISIP UNS. Pembicara Wasisto Raharjo Jati (Penulis Buku, LIPI Jakarta), Pembedah Dr. Ahmad Zuber, D.E.A., Moderator Panggio Restu Wilujeng, S.Sos., M.Si. Kegiatan bedah buku ini diberi sambutan, dan dibuka oleh Ketua Lab Sosio, Prodi Sosiologi FISIP UNS, Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si.

2 Baca lebih lajut

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (2)

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (2)

Wasis menjelaskan bahwa intelektualisme ditandai dengan munculnya kelompok epistemik kampus dan berbasis masjid, sedangkan modernisasi dimulai dengan munculnya berbagai produk syariah dan Islami. Pada akhir pemaparannya, Wasis memberikan kesimpulannya terkait kelas menengah muslim Indonesia. Menurutnya, kelas menengah muslim Indonesia masih berupaya membangun eksistensi dan representasi politis dengan upaya beradaptasi dengan modernisasi. Peran kelas menengah dalam politik informal justru lebih aktif sebagai kelompok kepentingan atau pun kelompok penekan. (Humas UGM/Catur)
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

MEMAKNAI KELAS MENENGAH MUSLIM SEBAGAI A

MEMAKNAI KELAS MENENGAH MUSLIM SEBAGAI A

Adanya kedua kutub pemahaman berbeda dari deskripsi pos- populisme yang menggejala di kalangan kelas menengah muslim Indonesia tersebut menjadikan arah perubahan sosial politik yang ditawarkan kemudian berorientasi pada pembangunan Islam inklusif. Namun demikian ada juga yang mengartikannya bahwa perubahan sosial-politik yang diusung oleh kelas menengah muslim Indonesia adalah bagian dari upaya radikalisasi Islam sebagai ideologi dan falsafah hidup yang kemudian terlegitimasikan dalam tindakan separatisme maupun juga terorisme. Radikalisasi tersebut sebenarnya merupakan respons terhadap adanya ruang kuasa negara yang hilang dalam mengontrol masyarakat sehingga terjailah pertarungan antar ideologi untuk menjadi yang terdepan dalam artikulasi kepentingan. Oleh karena itulah, Islam kemudian tersulut untuk menjadikan dirinya sebagai tuan di negeri sendiri. Adanya resurgensi dan resistensi yang dilakukan oleh kelas menengah muslim terutama meradikalkan Islam adalah respons dari adanya ketimpangan dan alienasi kelas. Dalam bidang perekonomian, kelas menengah muslim sendiri sendiri mengalami kekalahan sumber daya ekonomi dengan para konglomerasi Tionghoa. Adapun dalam bidang politik, kelas menengah muslim menghadapi kenyataan adanya dominasi kalangan nasionalis-Jawa dalam pemerintahan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENDEKATAN KELAS MENENGAH MUSLIM PADA DE

PENDEKATAN KELAS MENENGAH MUSLIM PADA DE

Selaras dengan konsep Bourdieu mengenai habitus, penerbit Qultum Media menciptakan produk bagi proses pembentukan kelas yang telah atau sedang berlangsung. Para pembaca usia muda mulai mengidentifikasi mereka secara sadar atau tidak ke dalam kelas sosial yang baru yaitu kelas menengah muslim. Dalam proses tersebut, gaya desain sampul buku memainkan peran yang sangat penting. Sementara, konsep modal budaya bisa terlihat setelah pola habitus telah terbentuk. Disasarnya pembaca berusia muda adalah wujud dari strategi pemasaran jangka panjang seperti yang termaktub dalam konsep modal budaya ala Bourdieu.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

SDIT dan Kelas Menengah Muslim

SDIT dan Kelas Menengah Muslim

Pada era reformasi, terdapat perkembangan menarik mengenai tren parental choice of education di Indonesia, ketika kalangan Menengah Muslim lebih tertarik menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah yang memiliki basic keagamaan (Islam) yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengapa Sekolah Dasar Islam Terpadu banyak diminati orang tua dari Kelas Menengah Muslim? Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi terlibat, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi orang tua dalam menyekolahkan putra- putrinya di SDIT meliputi tiga faktor, yakni; faktor teologis, sosiologis, dan akademis. Faktor teologis merupakan alasan yang didasari atas pertimbangan agama. Orang tua menginginkan anak-anaknya memiliki basic pendidikan agama yang kuat. Faktor sosiologis berkaitan dengan meningkatnya citra sekolah Islam di Indonesia. Faktor akademis berkaitan dengan kemampuan SDIT dalam mencapai prestasi akademik tinggi bagi para siswa. Posisi guru sebagai seorang murabby (pemandu moral) menjadi daya dukung utama sekolah ini. Posisi guru sebagai murabby menjadikan relasi antara guru dan siswa tidak hanya sebatas hubungan formal di sekolah, melainkan seperti hubungan antara orang tua dan anak di rumah. Oleh karena itu, pengembangan sekolah dasar ke depan perlu mempertimbangkan pendidikan keagamaan yang berkualitas dalam rangka untuk menarik parental choice of education dari kalangan menengah Muslim.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

MEMAKNAI KELAS MENENGAH MUSLIM SEBAGAI AGEN PERUBAHAN SOSIAL POLITIK INDONESIA

MEMAKNAI KELAS MENENGAH MUSLIM SEBAGAI AGEN PERUBAHAN SOSIAL POLITIK INDONESIA

Adanya kedua kutub pemahaman berbeda dari deskripsi pos- populisme yang menggejala di kalangan kelas menengah muslim Indonesia tersebut menjadikan arah perubahan sosial politik yang ditawarkan kemudian berorientasi pada pembangunan Islam inklusif. Namun demikian ada juga yang mengartikannya bahwa perubahan sosial-politik yang diusung oleh kelas menengah muslim Indonesia adalah bagian dari upaya radikalisasi Islam sebagai ideologi dan falsafah hidup yang kemudian terlegitimasikan dalam tindakan separatisme maupun juga terorisme. Radikalisasi tersebut sebenarnya merupakan respons terhadap adanya ruang kuasa negara yang hilang dalam mengontrol masyarakat sehingga terjadilah pertarungan antar ideologi untuk menjadi yang terdepan dalam artikulasi kepentingan. Oleh karena itulah, Islam kemudian tersulut untuk menjadikan dirinya sebagai tuan di negeri sendiri. Adanya resurgensi dan resistensi yang dilakukan oleh kelas menengah muslim terutama meradikalkan Islam adalah respons dari adanya ketimpangan dan alienasi kelas. Dalam bidang perekonomian, kelas menengah muslim sendiri sendiri mengalami kekalahan sumber daya ekonomi dengan para konglomerasi Tionghoa. Adapun dalam bidang politik, kelas menengah muslim menghadapi kenyataan adanya dominasi kalangan nasionalis-Jawa dalam pemerintahan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Pemahaman Islam Kelas Menengah Muslim In

Pemahaman Islam Kelas Menengah Muslim In

Kalau kita m elihat dalam kon teks ideologi, m aka kita bisa m elihat dari berbagai m acam ajaran seperti Salafi, Wahabi, Aswaja dan lain sebagain ya. Saya m elihat bahwa seben arn ya kon teks kelas m en en gah Muslim itu tim bul karen a linear den gan pem aham an yan g itu terban gun dalam ideologi tersebut. Kita tahu

Baca lebih lajut

Sufisme Urban: Konstruksi Keimanan Baru Kelas Menengah Muslim

Sufisme Urban: Konstruksi Keimanan Baru Kelas Menengah Muslim

Sufisme yang ditekankan dalam kajian Cak Nun adalah sufisme yang menyejukkan dalam artian bahwa sejuk bahwa dengan agama sebagai basis pencari solusi dan bentuk praksis solusi itu dicapai. Oleh karena itulah, perpaduan antara musik dan sufisme adalah upaya untuk menyeimbangkan aspek agama sebagai basis spiritualitas dan aspek budaya sebagai basis identitas. Dengan keduanya dipadukan, kelas menengah muslim dapat menampilkan jati dirinya yang tangguh. Penekanan aspek musik dalam pengajaran sufisme Islam kemudian membentuk adanya budaya populer nasyid dan juga barzanji di kalangan masyarakat. Musik nasyid maupun juga diikuti dengan terentuknya kelompok marawis sejatinya juga merupakan bentuk dakwah sufisme melalui seni yang pada isinya mengingatkan dan memuji kepada Tuhan. Metode musik sufisme melalui nasyid di kalangan memengah muslim Indoesia diinsiasi oleh kelompok nasyid Snada, Raihan, Opick, dan lain sebagainya. Kalangan kelas menengah urban pada umumnya menyukai musik religius tersebut karena mengandung pesan moral kuat untuk kembali istiqomah kepada Tuhan-Nya. Berkembangnya musik populer juga mencerminkan aktualisasi ketakwaan sosial yang diinginkan oleh kelompok kelas menengah muslim berlnagsung secara dinamis dan inklusif.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (5)

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (5)

m en yam paikan ban yak hal m en arik ten tan g buku pertam an ya itu. Men urutn ya, fen om en a kelas m en en gah Muslim di In don esia bukan lah sesuatu yan g tun ggal (sin gular ev en t) sebab dilatarbelakangi oleh berbagai faktor: ekon om i, sosial, politik dan juga agam a. “Mun culn ya produk-produk berlabel syariah, m ulai dari ban k syariah, asuran si syariah, hotel syariah, um roh “plus-plus”, hijab syar’i den gan beragam m odel dan lain sebagain ya sesun gguhn ya m erupakan ben tuk pen egasan eksisten si kelas m en en gah Muslim , di sam pin g juga bisa disebut sebagai kom odifikasi sim bol-sim bol agam a,” kata Wasisto.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Membedah Politik Kelas Menengah Muslim I (1)

Membedah Politik Kelas Menengah Muslim I (1)

Kelas m en en gah m uslim In don esia m asih terus berupaya m em ban gun ruan g eksisten si dan ruan g idealitas, serta perlu m em ban gun gagasan kon struktif alih- alih han ya di aren a kon sum tif. Dem ikian dipaparkan Wasisto Raharjo J ati dari Pusat Pen elitian Politik (P2P) LIPI dalam diskusi Forum Populi, 7 J un i 20 17 di J akarta. Diskusi in i m em bedah buku karya Wasisto Politik Kelas Men en gah Muslim In don esia (20 17), yan g dian gkat dari riset selam a berkarier sebagai peneliti LIPI.

1 Baca lebih lajut

Memotret Kelas Menengah Muslim Indonesia

Memotret Kelas Menengah Muslim Indonesia

Den gan m en ggun akan patokan itu, m en urut hitun gan alum n us Sekolah Tin ggi Filsafat Katolik Ledalero ini, jum lah m asyarakat kelas m enengah In don esia m en capai lebih dari separuh total penduduk n asion al, yaitu 56% dari total pen duduk In don esia atau sekitar 134 juta. J um lah tersebut din ilai sudah cukup besar un tuk m en jadi pen ggerak ekonom i RI ke arah yan g lebih baik.

Baca lebih lajut

Teori Habitus dan Kelas Menengah Muslim

Teori Habitus dan Kelas Menengah Muslim

Ulumul Qur’an (UQ) adalah jurnal ilmu dan kebudayaan yang diterbitkan oleh LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) binaan Dawam Rahardjo. Jurnal sekualitas UQ adalah jenis media yang lama ditunggu-tunggu oleh masyarakat Muslim Indonesia. Dawam Rahardjo melaporkan bahwa ratusan orang Islam di berbagai kota dan perguruan tinggi sudah memesan sebelum jurnal itu terbit. Dalam kata pengantarnya untuk edisi perdana, Dawam (1989 : 1) menjelaskan bahwa penerbitan UQ diinspirasikan oleh empat perkembangan modern yang terjadi di dunia Islam: Pertama, kembalinya kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Umat Islam perlu memahami kembalinya kepada Al-Qur’an dengan cahaya baru. Umat Islam perlu metode baru untuk memahami dunia yang berubah. Untuk menangkap semangat zaman, umat Islam perlu memiliki paradigma baru untuk memahami ilmu-ilmu Al-Qur’an. Usaha ini telah dirintis oleh para pemikir semisal Fazlur Rahman, Thabathaba’i, Yusuf Ali, Muhammad Asad dsb. Kedua, Islamisasi ilmu pengetahuan. Pionir dari usaha ini adalah Ismail Al-Faruqi. Ide ini paling banyak berpengaruh pada ekonomi, politik, antropologi dan kedokteran. Ketiga adalah aktualisasi ilmu-ilmu Islam tradisional dan modern, yang telah diwariskan oleh para pemikir Islam sebelumnya. Warisan intelektual Islam perlu di reaktualisasi, diapresiasi dan ditemukan kembali dalam konteksnya yang modern, dan dilengkapi dengan perkembangan pengetahuan terakhir.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Kelas Menengah Muslim dalam Kajian Poli (1)

Kelas Menengah Muslim dalam Kajian Poli (1)

Pen eliti Pusat Pen elitian Politik (P2P) Lem baga Ilm u Pen getahuan In don esia (LIPI), Wasisto Raharjo J ati, m em baca gejala m en arik dari kem un culan kelas m en en gah m uslim . “Istilah kelas m en en gah seben arn ya tidak ada di dalam Islam , karen a Islam m en ggunakan istilah um at. Saat terjadi pen yin gkiran peran um at Islam dalam politik di zam an rejim Orde Baru, m ereka m ulai m en un jukkan perjuan gan dan keban gkitan ,” kata Wasisto di IN SISTS Saturday Forum (ISF), Sabtu (13/ 5). Kelas m en en gah m uslim in i m en jadi kelom pok urban yan g
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

RADIKALISME POLITIK KELAS MENENGAH MUSLI (1)

RADIKALISME POLITIK KELAS MENENGAH MUSLI (1)

Terhadap pola radikalisme yang berkembang dalam masyarakat kelas menengah muslim Indonesia juga sebenarnya mengalami adanya uncivil society. Hal tersebut terlihat adanya pola indoktrinasi politik Islamisme yang itu kemudian menenkannkan pada pengedepanan prinsip nilai-nilai anti Barat, anti Kristen, anti demokrasi, maupun juga sikap anti Yahudi. Berbagai sikap “anti” tersebut menunjukkan bahwa kekalahan umat muslim di Indonesia dalam dunia politik karena kalah bersaing dengan keempat aktor tersebut. Kondisi itulah yang kemudian memicu adanya berbagai macam pergolakan penting dalam mobilisasi massa kelas menengah muslim Indonesia. Dalam kasus kelas menengah muslim di Indonesia, mobilisasi islam kemudian dikaitkan pula dengan terbangunnya berbagai macam identitas pendukung misalnya etnisitas, suku, ras, maupun juga ikatan primordial lainnya. Dengan kata lain, Islam adalah padanan kata yang menarik dalam membangkitkan sentimen primordial tersebut. Radikalisme yang tumbuh dan berkembang dalam kasus kelas menengah muslim Indonesia tidak mungkin bisa dan berkembang tanpa adanya kebangkitan politik identitas primodial yang mengikutinya. Hal ini dikarenakan pola radikalisme kelas menengah muslim bukanlah hadir dalam pola pengajaran teologis panjang berbasis sentimen kesukuan sehingga menimbulkan militansi seperti yang berlaku dalam kasus pengalaman Timur Tengah. Akan tetapi sentimen radikalisme kelas menengah muslim yang hadir di Indonesia lebih dikarenakan perebutan ruang kekuasaan di ruang publik. Kelompok Islam di Indonesia belum sepenuhnya solid sebagai suatu umma yang itu kasusnya banyak terjadi dalam kasus kelas menengah muslim hari ini. Hal itulah yang menjadikan pola radikalisme kelas menengah muslim Indonesia tidaklah selalu pada angkat senjata, namun dilakukan melalui berbagai cara.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MEMBANGUN PARTISIPASI POLITIK KELAS MENE (1)

MEMBANGUN PARTISIPASI POLITIK KELAS MENE (1)

Kelompok being Islam lebih banyak tumbuh di kalangan masyarakat perkotaan yang membutuhkan adanya nilai dan norma pegangan kuat terhadap agama. Bagi mereka, mengenakan adanya jilbab, tasbih, maupun juga surban adalah menunjukkan kesalehan dan bentuk ketaatan yang mereka ekspresikan sebagai bagian dari masyarakat islami. Dengan kata lain, memilih partai politik Islam bisa merupakan bagian dari ekspresi being Islam tersebut yang diejawantahkan dalam ailiasi terhadap partai poltiik. Partai politik Islam masih dianggap sebagai aktualisasi partisipasi politik kelas menengah Muslim untuk merengkuh kekuasaan melalui jalur politik. Namun demikian, konsensus politik yang dilakukan oleh kelas menengah Muslim kini juga sudah sedemikian pluralis baik melalui kegiatan ta’lim, bergabung dalam ormas, maupun juga menjadi pengurus partai. Oleh karena karakter partisipasi politik yang mereka tampilkan beraneka ragam menunjukkan adanya wajah politik yang abu-abu. Dikatakan sebagai modernis juga bukan, begitupun juga dikatakan sebagai kalangan tradisionalis dalam kehidupan sosial. Namun demikian bila dikaitkan dengan partisipasi politik, kelas menengah bisa menampilkan diri dalam berbagai bentuk kelompok kecil. Berbagai macam kelompok kecil tersebut biasanya terailiasi dengan kelompok majelis ta’lim maupun kelompok tarekat di masyarakat. Mereka memiliki solidaritas cukup kuat di kalangan masyarakat.\
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...