Kelas Menengah Muslim

Top PDF Kelas Menengah Muslim:

SDIT dan Kelas Menengah Muslim

SDIT dan Kelas Menengah Muslim

Pada era reformasi, terdapat perkembangan menarik mengenai tren parental choice of education di Indonesia, ketika kalangan Menengah Muslim lebih tertarik menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah yang memiliki basic keagamaan (Islam) yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengapa Sekolah Dasar Islam Terpadu banyak diminati orang tua dari Kelas Menengah Muslim? Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi terlibat, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi orang tua dalam menyekolahkan putra- putrinya di SDIT meliputi tiga faktor, yakni; faktor teologis, sosiologis, dan akademis. Faktor teologis merupakan alasan yang didasari atas pertimbangan agama. Orang tua menginginkan anak-anaknya memiliki basic pendidikan agama yang kuat. Faktor sosiologis berkaitan dengan meningkatnya citra sekolah Islam di Indonesia. Faktor akademis berkaitan dengan kemampuan SDIT dalam mencapai prestasi akademik tinggi bagi para siswa. Posisi guru sebagai seorang murabby (pemandu moral) menjadi daya dukung utama sekolah ini. Posisi guru sebagai murabby menjadikan relasi antara guru dan siswa tidak hanya sebatas hubungan formal di sekolah, melainkan seperti hubungan antara orang tua dan anak di rumah. Oleh karena itu, pengembangan sekolah dasar ke depan perlu mempertimbangkan pendidikan keagamaan yang berkualitas dalam rangka untuk menarik parental choice of education dari kalangan menengah Muslim.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Revolusi konsumen kelas menengah telah menjadi biang munculnya revolusi pemasaran di Indonesia sejak tahun 2011. Naiknya daya beli konsumen kelas menengah telah menjadikan produk-produk yang dulunya hanya dapat dibeli oleh kalangan atas kini sudah mampu dibeli oleh orang banyak. Barang-barang yang dulunya dianggap mewah, kini bisa diakses dan dimiliki secara massal. Konsumen kelas menengah muslim di Indonesia berubah sangat cepat. Beberapa di antara fenomena menggeliatnya konsumen kelas menengah muslim di Indonesia seperti, dulu konsumen tak begitu peduli dengan label halal, kini label halal menjadi salah satu faktor penting dalam memutuskan pembelian.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Kelas Menengah Muslim Baru dan Kontestasi Wacana Pluralisme di Media Sosial | Ridho | Jurnal Pemikiran Sosiologi 28582 64013 1 PB

Kelas Menengah Muslim Baru dan Kontestasi Wacana Pluralisme di Media Sosial | Ridho | Jurnal Pemikiran Sosiologi 28582 64013 1 PB

Kelas menengah Muslim baru yang semestinya menjadi agen perubahan sosial justru belum dapat diandalkan sesuai harapan. Kelas menengah Muslim baru masih memosisikan Islam di era Presiden Jokowi ini sebagai kelompok yang dimarjinalkan sebagaimana di era Orde Baru. Penempatan umat Islam yang inferior ini menjadikan kelas menengah Muslim baru ini masih sibuk pada urusan domestik bangsa, seperti melahirkan gerakan Indonesia tanpa JIL yang mengusung pemikiran-pemikiran sekulerisme, pluralisme, liberalisme, maupun kesetaraaan gender di ruang publik. Memusuhi sesama anak bangsa terkesan lebih didahulukan, dengan dalih saat ini sedang terjadi ghazwul fikriy terhadap umat Islam, sehingga generasi mudanya harus terlibat dalam perang pemikiran tersebut. Pada saat bangsa lain sedang memikirkan aksi kolaboratif antar berbagai elemen untuk membangun negerinya masing-masing, bahkan sedang membuat global cizitenship akibat penetrasi internet yang luar biasa, sehingga tidak sekadar menjadi warga di sebuah negara tertentu melainkan menjadi warga global yang konsekuensinya mengurusi permasalahan-permasalahan global; global warming, pembalakan liar terhadap hutan, perdagangan manusia, krisis lingkungan, ketersediaan pangan. Justru kelas menengah Muslim baru di Indonesia ini tampaknya masih saja
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Teori Habitus dan Kelas Menengah Muslim

Teori Habitus dan Kelas Menengah Muslim

Dalam perkembangan selanjutnya, prakarsa Bimbo ini kemudian diikuti oleh performan musik relijius artistik yang lain yaitu kelompok Kiayi Kangjeng pimpinan budayawan Emha Ainun Nadjib. Emha bersama kelompoknya seniman Yogyakarta, menghidangkan musik relijius kreatif dengan menyulap dan mentransformasikan gamelan Jawa menjadi dentingan-dentingan musik bernuansa relijius Islami. Kreasi ini ia persembahkan dalam album Kado Muhammad yang di- release tahun 1988. Album ini berisi puisi, musik dan shalawatan , diiringi komposisi musik model baru yang merupakan gabungan antara gamelan Jawa seperti demung, saron, gambang, siter, bonang, gender, gong dan lain-lain, dengan unsur-unsur instrumen musik Barat seperti sintesiser, gitar, flute, violin, drum, dan organ. Album Kado Muhammad menuai sukses besar karena dianggap bisa memenuhi selera kreatif masyarakat Muslim kelas menengah dalam bidang musik dan seni relijius. Emha bersama krunya kemudian diundang tampil di berbagai kota-kota besar di Indonesia dan beberapa perguruan tinggi ternama untuk menampilkan simfoni kreatifnya. Kemudian, terinspirasi oleh observasinya bahwa masyarakat Muslim di wilayah-wilayah perkotaan sedang diterjang oleh kehausan musik bernuansa relijius, dia kemudian menghadirkan album selanjutnya yaitu “Menyorong Rembulan” tahun 1998 juga berisi lantunan shalawatan . Observasi Emha tentang hausnya masyarakat kota akan musik relijius tidak meleset. Tidak hanya album keduanya mengalami best seller , Emha juga menerima 500 undangan pertahun untuk menampilkan shalawatan Kiayi Kangjeng. Setiap penampilannya dihadiri oleh ribuan orang. ( Republika 4 Nopember 1998; 21 Februari 1999). Semaraknya shalawatan Kiayi Kangjeng adalah fenomena khas kelas menengah Muslim dimana masyarakat Muslim yang sudah mengalami transformasi ekonomi dan pendidikan di kota-kota menemukan ekspresi musik kasidahnya dalam bentuknya yang modern dan menyejukkan rasa.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat nilai Net Promoter Score Brand-Brand Indonesia pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim di Kota Medan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Net Promoter Score (NPS) yang kemudian dilanjutkan dengan mengukur pengalaman pelanggan (customer experience) melalui titik sentuh moment of truth setiap merek. Jumlah populasi penelitian ini tidak diketahui pasti jumlahnya, sehingga dalam penentuan sampel menggunakan rumus Supramono dan memperoleh jumlah sampel sebanyak 100 responden. Data sekunder juga dikumpulkan untuk mendukung analisis dalam penelitian ini dengan memperoleh data melalui buku, majalah, dan literature. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dan kuantitatif.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

MEMAKNAI KELAS MENENGAH MUSLIM SEBAGAI AGEN PERUBAHAN SOSIAL POLITIK INDONESIA

MEMAKNAI KELAS MENENGAH MUSLIM SEBAGAI AGEN PERUBAHAN SOSIAL POLITIK INDONESIA

Masa transisi demokrasi selama kurun waktu 1999-2004 diwarnai adanya perubahan drastis dalam kontur gerakan politik kelas menengah muslim Indonesia. Pelaksanaan pemilu langsung yang menghasilkan adanya dominasi kalangan nasionalis menjadikan kelas menengah muslim perlu melakukan negosiasi ulang terhadap perubahan politik. Hal itulah yang kemudian mendorong gerakan politik ekstra-parlementer di luar kekuasaan oleh berbagai macam organisasi kelas menengah muslim. Implikasinya kemudian memunculkan adanya legalisasi adanya perda syariah di kalangan akar rumput. Momentum adanya legalisasi perda syariah sendiri merupakan bagian dari wacana perubahan politik yang dilaksanakan oleh kelas menengah muslim terutama mereka yang menganut paham hard-liner untuk segera melegalkan adanya syariah, meskipun dalam lingkup kecil. Adapun bagi kelompok kalangan kelas menengah muslim yang konsisten pada jalur “lunak” malah justru semakin lunak terhadap perubahan politik dan makin apatis terhadap gerakan politik. Masih kuatnya sigma terorisme tersebut menjadikan legalisasi perda syariah sebagai jalan terakhir dalam perubahan politik kurang begitu Mereka pada umumnya telah menjelma kelas menengah muslim seperti pada era kekinian yang lebih menjaga hubungan dependen dengan kekuasaan daripada melakukan perubahan politik.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENDEKATAN KELAS MENENGAH MUSLIM PADA DE

PENDEKATAN KELAS MENENGAH MUSLIM PADA DE

Gaya hidup kelas menengah yang antusias pada ilmu pengetahuan dan rasionalitas menggiring mereka untuk dekat dengan sumber-sumber informasi seperti halnya buku. Hal inilah kemudian yang menjadikan industri penerbitan buku tumbuh selaras dengan pertumbuhan kelas menengah itu sendiri. Ditilik dari sudut pandang teori habitus milik Bourdieu, aktivitas membaca buku-buku Islam jelas merupakan bentuk konstruksi budaya yang pada gilirannya membentuk identitas kelas sosial. Disadari atau tidak, kebiasaan membeli dan membaca buku-buku Islam tersebut akan membentuk sebuah identitas kolektif yang kemudian bisa dikategorikan ke dalam kelas menengah muslim.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Sufisme Urban: Konstruksi Keimanan Baru Kelas Menengah Muslim

Sufisme Urban: Konstruksi Keimanan Baru Kelas Menengah Muslim

Sufisme yang ditekankan dalam kajian Cak Nun adalah sufisme yang menyejukkan dalam artian bahwa sejuk bahwa dengan agama sebagai basis pencari solusi dan bentuk praksis solusi itu dicapai. Oleh karena itulah, perpaduan antara musik dan sufisme adalah upaya untuk menyeimbangkan aspek agama sebagai basis spiritualitas dan aspek budaya sebagai basis identitas. Dengan keduanya dipadukan, kelas menengah muslim dapat menampilkan jati dirinya yang tangguh. Penekanan aspek musik dalam pengajaran sufisme Islam kemudian membentuk adanya budaya populer nasyid dan juga barzanji di kalangan masyarakat. Musik nasyid maupun juga diikuti dengan terentuknya kelompok marawis sejatinya juga merupakan bentuk dakwah sufisme melalui seni yang pada isinya mengingatkan dan memuji kepada Tuhan. Metode musik sufisme melalui nasyid di kalangan memengah muslim Indoesia diinsiasi oleh kelompok nasyid Snada, Raihan, Opick, dan lain sebagainya. Kalangan kelas menengah urban pada umumnya menyukai musik religius tersebut karena mengandung pesan moral kuat untuk kembali istiqomah kepada Tuhan-Nya. Berkembangnya musik populer juga mencerminkan aktualisasi ketakwaan sosial yang diinginkan oleh kelompok kelas menengah muslim berlnagsung secara dinamis dan inklusif.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (3)

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (3)

Bedah Buku “Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia” Penulis Wasisto Raharjo Jati (LIPI Jakarta) pada hari Jum’at, 5 Mei 2017 di Ruang Seminar FISIP UNS. Pembicara Wasisto Raharjo Jati (Penulis Buku, LIPI Jakarta), Pembedah Dr. Ahmad Zuber, D.E.A., Moderator Panggio Restu Wilujeng, S.Sos., M.Si. Kegiatan bedah buku ini diberi sambutan, dan dibuka oleh Ketua Lab Sosio, Prodi Sosiologi FISIP UNS, Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si.

2 Baca lebih lajut

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (1)

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (1)

Islam Populer di Kalangan Kelas Menengah Muslim  Pengertian Islam Populer dipahami dalam dua perspektif yakni 1perspektif kulturalis, 2 perspektif skriptualis  Perspektif kulturalis[r]

12 Baca lebih lajut

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (2)

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (2)

Wasis menjelaskan bahwa intelektualisme ditandai dengan munculnya kelompok epistemik kampus dan berbasis masjid, sedangkan modernisasi dimulai dengan munculnya berbagai produk syariah dan Islami. Pada akhir pemaparannya, Wasis memberikan kesimpulannya terkait kelas menengah muslim Indonesia. Menurutnya, kelas menengah muslim Indonesia masih berupaya membangun eksistensi dan representasi politis dengan upaya beradaptasi dengan modernisasi. Peran kelas menengah dalam politik informal justru lebih aktif sebagai kelompok kepentingan atau pun kelompok penekan. (Humas UGM/Catur)
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

di Indonesia, khususnya kelas menengah. Konsumen kelas menengah muslim di Indonesia berubah sangat cepat. Beberapa di antara fenomena menggeliatnya konsumen kelas menengah muslim di Indonesia seperti, dulu konsumen tak begitu peduli dengan label halal, kini label halal menjadi salah satu faktor penting dalam memutuskan pembelian. Dengan fenomena tersebut membuat banyak pelaku bisnis berbondong-bondong membuat produk syariah, khususnya produk wanita. Misalnya Wardah yang sukses sebagai kosmetik berlabel halal, merek shampoo seperti Sunsilk yang melakukan inovasi dengan membuat varian shampoo khusus wanita berhijab.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Dari seluruh merek-merek di Indonesia, Frontier Consulting Group menjadikan beberapa merek menjadi Top brand yang diukur berdasarkan mind share, market share dan commitment share. Top brand dispesifikasikan atau dipilih beberapa merek yang sesuai dengan objek penelitian yaitu wanita kelas menengah muslim dan kemudian diukur tingkat loyalitas pelanggan terhadap merek-merek tersebut dengan menggunakan metode Net Promoter Score (NPS). Selain itu, pengalaman pelanggan (customer experience) terhadap merek-merek tersebut juga diukur sebagai penguat hasil penelitian dengan mengetahui pada titik sentuh moment of truth mana yang paling sensitif bagi konsumen.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

MEMAKNAI KELAS MENENGAH MUSLIM SEBAGAI A

MEMAKNAI KELAS MENENGAH MUSLIM SEBAGAI A

Adanya kedua kutub pemahaman berbeda dari deskripsi pos- populisme yang menggejala di kalangan kelas menengah muslim Indonesia tersebut menjadikan arah perubahan sosial politik yang ditawarkan kemudian berorientasi pada pembangunan Islam inklusif. Namun demikian ada juga yang mengartikannya bahwa perubahan sosial-politik yang diusung oleh kelas menengah muslim Indonesia adalah bagian dari upaya radikalisasi Islam sebagai ideologi dan falsafah hidup yang kemudian terlegitimasikan dalam tindakan separatisme maupun juga terorisme. Radikalisasi tersebut sebenarnya merupakan respons terhadap adanya ruang kuasa negara yang hilang dalam mengontrol masyarakat sehingga terjailah pertarungan antar ideologi untuk menjadi yang terdepan dalam artikulasi kepentingan. Oleh karena itulah, Islam kemudian tersulut untuk menjadikan dirinya sebagai tuan di negeri sendiri. Adanya resurgensi dan resistensi yang dilakukan oleh kelas menengah muslim terutama meradikalkan Islam adalah respons dari adanya ketimpangan dan alienasi kelas. Dalam bidang perekonomian, kelas menengah muslim sendiri sendiri mengalami kekalahan sumber daya ekonomi dengan para konglomerasi Tionghoa. Adapun dalam bidang politik, kelas menengah muslim menghadapi kenyataan adanya dominasi kalangan nasionalis-Jawa dalam pemerintahan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Membaca Kelas Menengah Muslim Indonesia

Membaca Kelas Menengah Muslim Indonesia

Wasisto menafsirkan pemikiran Weber untuk membuka pembahas- an mengenai kelas menengah. Pemikiran Weber yang dimaksud yakni tentang relasi antara agama dan ekonomi, dengan kasus perkembangan ekonomi di Eropa pada abad 16. Dalam studinya, Weber mendapati bahwa penggerak ekonomi Eropa yang mayoritas adalah kelompok Pro- testan sekte Calvin. Weber kemudian menjelaskan adanya peran aga- ma Protestan dalam membentuk etos kerja pengikutnya menjadi rajin bekerja (Jati 2016, 6). Kemampuan agama Protestan untuk mendorong pengikutnya memiliki etos kerja tinggi ini dipahami Wasisto sebagai asal muasal kemunculan kelas menengah dengan basis agama. Wasisto kemudian menggunakan hal ini sebagai analogi untuk menganalisis kemunculan kelas menengah Islam, meski dengan beberapa catatan (Jati 2016, 39-40). Menariknya, Weber sendiri sebenarnya tidak secara khusus menjadikan analisis tentang etika ekonomi Protestan ini sebagai analisis kemunculan kelas menengah berbasis agama (Protestan). We- ber tidak secara eksplisit menyebut konsep ‘kelas menengah Protestan’, sehingga perlu diperiksa ulang apakah Weber menggunakan kerang- ka kelas dalam konteks kasus tersebut (Weber 1930). Pemeriksaan ini penting untuk melihat relevansi teori yang digunakan Wasisto untuk mengkaji kemunculan kelas menengah Muslim.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Departemen Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini berjudul “Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim”.

11 Baca lebih lajut

Membedah Politik Kelas Menengah Muslim I (1)

Membedah Politik Kelas Menengah Muslim I (1)

Pen erim aan Islam di kalan gan kelas m en en gah m uslim In don esia pun dibagi Wasisto m en jadi dua, yaitu pem aham an secara em osion al atau fun gsion al dan pem aham an secara spiritual. Secara em osion al, m isaln ya den gan m em in ta disebut bergelar haji, m en abun g di ban k syariah, m en ggun akan kosakata Arab atau

1 Baca lebih lajut

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

Pengukuran Loyalitas Pelanggan Pada Produk-Produk Brand Indonesia dengan Metode Net Promoter Score Pada Konsumen Wanita Kelas Menengah Muslim

120 11.Fashion N o Customer Experience CE Zoya Shafira Rabbani Elzatta Dian Pelangi ZARA H&M nev ce nev ce nev ce nev ce nev ce nev ce nev ce 1 Iklan 2 Interaksi dengan staff 3[r]

16 Baca lebih lajut

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (5)

Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim (5)

m en yam paikan ban yak hal m en arik ten tan g buku pertam an ya itu. Men urutn ya, fen om en a kelas m en en gah Muslim di In don esia bukan lah sesuatu yan g tun ggal (sin gular ev en t) sebab dilatarbelakangi oleh berbagai faktor: ekon om i, sosial, politik dan juga agam a. “Mun culn ya produk-produk berlabel syariah, m ulai dari ban k syariah, asuran si syariah, hotel syariah, um roh “plus-plus”, hijab syar’i den gan beragam m odel dan lain sebagain ya sesun gguhn ya m erupakan ben tuk pen egasan eksisten si kelas m en en gah Muslim , di sam pin g juga bisa disebut sebagai kom odifikasi sim bol-sim bol agam a,” kata Wasisto.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...