Kelas Samurai

Top PDF Kelas Samurai:

BAB I PENDAHULUAN - Dominasi Kelas Samurai Terhadap Politik Jepang Pada Zaman Tokugawa

BAB I PENDAHULUAN - Dominasi Kelas Samurai Terhadap Politik Jepang Pada Zaman Tokugawa

Pemerintah Tokugawa secara tegas membagi masyarakat Jepang menjadi empat kelas yaitu kelas samurai (Bushi), kelas petani (Nomin), kelas pengrajin (Kosakunin), dan terakhir kelas pedagang (Shonin). Tingkatan kelas ini kemudian dikenal dengan Shi No Ko Sho, yang kemudian dilaksanakan secara keras dan kaku. Selain itu, masih ada golongan masyarakat yang tidak digolongkan ke dalam Shinokosho, yaitu orang-orang buangan yang disebut Eta atau Hinin. Dengan adanya ketentuan mengenai pembagian kelas tersebut maka seseorang tidak dapat pindah ke tingkatan yang lebih tinggi walaupun ia memiliki kemampuan dan bakat. Dalam masa shogunat Tokugawa kekuasaan tertinggi dalam struktur politik ada di tangan shogun, Dominasi kelas samurai menjadi penguasaan militer tertinggi di Jepang.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Dominasi Kelas Samurai Terhadap Politik Jepang Pada Zaman Tokugawa

Dominasi Kelas Samurai Terhadap Politik Jepang Pada Zaman Tokugawa

Ketika Minamoto Yoritomo wafat pada tahun 1199, kekuasaan diambil alih oleh keluarga Hojo yang merupakan pengikut Taira. Pada masa kepemimpinan keluarga Hojo (1199 -1336), ajaran Zen masuk dan berkembang di kalangan samurai. Para samurai mengekspresikan Zen sebagai falsafah dan tuntunan hidup mereka. Pada tahun 1274, Bangsa Mongol datang menyerang Jepang. Para samurai yang tidak terbiasa berperang secara berkelompok dengan susah payah dapat mengantisipasi serangan Bangsa Mongol tersebut. Untuk mengantisipasi serangan Bangsa Mongol yang kedua (tahun 1281), para samurai mendirikan tembok pertahanan di Teluk Hakata (pantai pendaratan Bangsa Mongol) dan mengadopsi taktik serangan malam. Secara menyeluruh, taktik berperang para samurai tidak mampu memberikan kehancuran yang berarti bagi tentara Mongol, yang menggunakan taktik pengepungan besar-besaran, gerak cepat, dan penggunaan senjata baru (dengan menggunakan mesiu). Pada akhirnya, angin topanlah yang menghancurkan armada Mongol, dan mencegah Bangsa Mongol untuk menduduki Jepang. Orang Jepang menyebut angin ini kamikaze (dewa angin). Dua hal yang diperoleh dari penyerbuan bangsa Mongol adalah pentingnya mobilisasi pasukan infantri secara besar-besaran, dan kelemahan dari kavaleri busur panah dalam menghadapi penyerang. Sebagai akibatnya, lambat laun samurai menggantikan busur-panah dengan “pedang” sebagai senjata utama samurai. Pada awal abad ke-14, pedang dan tombak menjadi senjata utama di kalangan panglima perang. Pada Zaman Muromachi (1392-1573), diwarnai dengan terpecahnya istana Kyoto menjadi dua, yakni Istana Utara di Kyoto dan Istana Selatan di Nara.
Baca lebih lanjut

151 Baca lebih lajut

Eksistensi Samurai Pada Masa Pemerintahan Meiji

Eksistensi Samurai Pada Masa Pemerintahan Meiji

Restorasi Meiji sendiri membawa dampak yang cukup besar bagi eksistensi kelas samurai. Adanya penghilangan hak-hak istimewa yang dimiliki oleh strata samurai pada era sebelumnya membuat keseluruhan kelas samurai menjadi tidak puas. Hilangnya hak-hak istimewa tersebut diakibatkan oleh adanya perubahan struktur masyarakat dalam bidang politik, sosial, teknologi maupun ekonomi. Dapat dikatakan era Meiji adalah masa dimana kelas samurai mengalami krisis identitas. Mereka kehilangan pekerjaan, sunber nafkah, dan prinsip-prinsip pegangan hidup mereka
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Eksistensi Samurai Pada Masa Pemerintahan Meiji Chapter III IV

Eksistensi Samurai Pada Masa Pemerintahan Meiji Chapter III IV

Kaum samurai tidak hanya terkena dampak reformasi dalam bidang militer saja namun juga dalam bidang ekonomi. Karena kegagalan Tokugawa sebelumnya dalam pemerintahan Jepang, maka pemerintah Meiji merasa perlu adanya proses industrialisasi besar-besaran di Jepang. Industrialisasi ini mencakup pembubaran kelas-kelas dalam masyarakat sehingga membawa universalitas, sistem pos nasional serta penemuan-penemuan baru seperti telegraph serta kereta api. Negara Jepang menjadi semakin berjaya dengan dijalankannya reformasi ini namun, tidak halnya dengan kaum samurai. Ketika proses modernisasi sedang berjalan maka, dalam jangka panjang akan butuh dana dan sumber daya yang besar. Karena hal ini pemerintah Meiji merasa perlu mengorbankan kelas samurai yang pada waktu itu dianggap tidak berguna dalam modernisasi. Hal ini dimulai dengan adanya pengurangan terhadap gaji untuk kaum samurai, dihilangkannya hak atas tanah yang sebelumnya diberikan oleh pemerintah Meiji kepada mereka, serta pembagian kelas samurai menjadi 2 kelas yaitu, smurai kelas atas dan samurai kelas rendahan. Pemerintah Meiji pada waktu itu menganggap samurai sebagai sesuatu yang bernilai kecil namun dengan ongkos pemeliharaan yang besar. Keterampilan mereka dalam seni pedang tidak berguna di masa damai.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Eksistensi Samurai Pada Masa Pemerintahan Meiji

Eksistensi Samurai Pada Masa Pemerintahan Meiji

Kedudukan kelas samurai berubah sejak dimulainya peristiwa Restorasi Meiji. Restorasi Meiji merupakan suatu gerakan pembaharuan yang dipelopori oleh Kaisar Mutsuhito atau Kaisar Meiji. Restorasi Meiji juga dikenal dengan sebutan Meiji Ishin. Restorasi Meiji merupakan suatu rangkaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Pemerintahan Meiji pada saat itu melakukan restorasi dan reformasi besar besaran dalam bidang politik, sosial, kebudayaan dan ekonomi. Pada saat itu seluruh rakyat Jepang dari berbagai kalangan mengalami dampak dari perubahan ini, baik positif maupun negatif. Perubahan ini pun berdampak pada posisi dan kedudukan kelas samurai pada saat itu. Pemerintah menganggap keberadaan kelas samurai selama masa damai hanya menjadi gangguan saja yang otomatis berdampak pada hak-hak istimewa yang dimiliki oleh kelas samurai sejak era sebelumnya. Hal ini menyebabkan samurai mulai menghilang didalam masyarakat Jepang.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Analisis Kesetiaan Tokoh Kaze Dalam Novel “Pembunuhan Sang Shogun” Karya Dale Furutani Dale Furutani No Sakuhin No Shougun No Satsugai No Shousetsu Ni Okeru Kaze To Iu Shujinko No Chujitsu No Bunseki

Analisis Kesetiaan Tokoh Kaze Dalam Novel “Pembunuhan Sang Shogun” Karya Dale Furutani Dale Furutani No Sakuhin No Shougun No Satsugai No Shousetsu Ni Okeru Kaze To Iu Shujinko No Chujitsu No Bunseki

Pembagian hirarki sosial ini tergantung pada pertimbangan kelahiran dan status keturunan. Salah satu pemikiran konfusius yang diterapkan pemerintahan Tokugawa adalah pemahaman terhadap hakekat takdir yang mengatakan,”manusia harus menerima takdir semenjak lahir. Tidak dapat menggugat takdir”. Dengan adanya pemikiran ini, rakyat secara tidak langsung dipaksakan untuk menerima keadaan serta status yang dimilikinya dan tidak dapat mengusahakan kenaikan atau perbaikan statusnya ke tingkat yang lebih tinggi. Pada kekuasaan shogun ke-3, Tokugawa Iemitsu, sistem hirarki sosial ini semakin ketat dan diskriminasi antar kelas semakin jelas. Hirarki sosial ini ditetapkan dengan tujuan tertentu, agar kelas penguasa tetap dapat mempertahankan kedudukannya dan memiliki kekuatan untuk menekan kelas yang berada di bawahnya. Susunan resmi yang ditetapkan Tokugawa mengenai hirarki ini diperkuat dengan perbedaan penampilan pakaian, tutur bahasa, etika, dan tata rambut serta pemakaian jenis pedang bagi kelas samurai.
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

Nilai Bushido dan Penyimpangannya dalam Dwilogi Novel Samurai Karya Takashi Matsuoka

Nilai Bushido dan Penyimpangannya dalam Dwilogi Novel Samurai Karya Takashi Matsuoka

“Jika kita benar -benar menjadi orang sebagaimana leluhur kita dahulu,” Genji berkata, “kita akan mempelajari semua yang kita bisa dari orang-orang asing secepat yang kita bisa, dan kita akan meninggalkan tanpa ragu atau sesal segalanya yang menghalangi kemajuan kita. Segalanya.” Taro, terlalu ngeri dan marah untuk memercayai dirinya berbicara, hanya menunduk dalam-dalam. Lord Genji barangkali menganggapnya sebagai tanda persetujuan. Padahal, dia tidak pernah sependapat. Tidakkah pengkhianatan Genji jauh lebih buruk ketimbang yang sedang dipertimbangkan Taro? Pengkhianatannya melawan jalan samurai itu sendiri. Genji bertekad bermoral, tidak terhormat. Apa gunanya kesetiaan ketika nilai yang tersisa hanyalah keuntungan? Apa gunanya keberanian ketika seseorang membunuh musuh, bukan dengan saling berhadapan dalam jarak dua pedang, melainkan tanpa terlihat dan tanpa melihat, dari kejauhan berkilo-kilometer, dan dengan mesin-mesin yang meledak berisik dan licik? Taro melirik dua wanita yang dipercayakan kepadanya untuk dilindungi. Dia adalah komandan kavaleri paling terhormat di kerajaan ini, tetapi berapa lama kavaleri akan bertahan di dunia yang hendak diciptakan Genji? (S2: 196-197).
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

Nilai Bushido dan Penyimpangannya dalam Dwilogi Novel Samurai Karya Takashi Matsuoka

Nilai Bushido dan Penyimpangannya dalam Dwilogi Novel Samurai Karya Takashi Matsuoka

ditandai dengan pengabdian diri yang mutlak dari anak buah terhadap tuannya, sehingga anak buah melakukan junshi yaitu bunuh diri mengikuti kematian tuannya. Kesetiaan untuk kepentingan bersama dan tuannya merupakan pemenuhan kewajiban samurai untuk mentaati nilai-nilai bushido. Perilaku junshi yang dilakukan bushi merupakan salah satu cerminan perilaku dari adanya budaya rasa malu di Jepang. Prinsip ketidakmampuan. membalaskan budi baik tuan membuat mereka melakukan pengabdian yang mutlak diluar dari pemikiran rasional. Rasa malu mengakibatkan pengabdian yang paling tinggi yang dilakukan para bushi terhadap tuannnya. Dalam hal ini rasa malu bagi bushi dapat diartikan dengan jalan kematian sehingga menjadi pedoman bagi setiap bushi. Seorang bushi membalaskan budi baik tuannya dengan cara mengabdi sampai mati untuk tuannya dengan melakukan junshi. Apabila seorang bushi tidak melakukan junshi setelah kematian tuannya maka masyarakat akan menilainya bushi pengecut sehingga ia akan merasa malu. Pada masa modern ini corak pengabdian diri bushi terlihat pada fenomena karoshi. Karoshi dapat diartikan kematian yang disebabkan karena terlalu banyak bekerja. Fenomena karoshi yang terjadi pada pekerja di Jepang, memiliki kesamaan dengan perilaku junshi yang dilakukan oleh kaum bushi, yaitu sebagai bentuk pengabdian terhadap atasan.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Analisis Kesetiaan Samurai Dalam Novel Kaze Karya Dale Furutani

Analisis Kesetiaan Samurai Dalam Novel Kaze Karya Dale Furutani

Novel Kaze Merupakan novel Trilogi yang dimana perjalanan novel ini ditulis dalam buku pertama yang berjudul Kaze, Pengembaraan Seorang Samurai Tak Bertuan Mencari Putri Kaisar yang hilang atau dengan judul asli Death At The Crossroad. Tokoh utama dalam novel “Kaze “ adalah menceritakan tentang seorang Samurai yang bernama Matsuyama Kaze. Dalam novel ini Kaze berperan sebagai tokoh utama yang menjadi tokoh sentralnya, Novel “ Kaze” ini mengisahkan tentang seorang pria ditemukan tewas mengenaskan dengan sebuah anak panah yang menancap di punggungnya. Noda darah menyebar dari ujung dimana anak panah itu menancap. Bentuk anak panah itu sangat baik, dengan tangkai kayu yang lurus berwarna gelap, bersih, dan bulu-bulu kelabu, yang dihiasi dengan indah. Dipersimpangan jalan Desa Suzaka mayat itu ditemukan oleh penjual arang yang bernama Jiro.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Peng

Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Peng

Nevertheless, these three films delineate the processes of modernization in Asia countries and at the same time, providing positive images of Asian cultures by also incorporating Orientalism and stereotypes constructed by the Westerners. In The Last Samurai, Algren who is an American, who at first finds Japanese despicable, now slowly but surely integrates more into the samurai world and truly understands their norms, culture, people and the real meaning of samurai, while Memoirs of a Geisha represents that geishas are not ridiculed at or insulted, but instead are seen and appreciated for their high-class abilities in doing performances like dance, classical music and games. Sayuri is an example of a geisha, who values and admires the geisha culture because to be a geisha requires so much more than just physical appearance Last but not least, the ending to The King and I depicts a development in the country’s system because Prince Chulalongkorn, the first son of King Mongkut, puts out a declaration that brings an end to slavery and assert that all subjects will no longer bow down to him.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Futatsu No Nagareboshi No Shousetsu No Bunseki

Futatsu No Nagareboshi No Shousetsu No Bunseki

Keesokan harinya , ketika matahari belum muncul, embun-embun masih terlihat di ujung-ujung daun. Kana , Sano Ryu dan 20 orang samurai telah berada di depan gerbang Gifu untuk menjalankan rencana memancing Saigai keluar dari kastil itu. Kedatangan mereka sudah di ketahui samurai penjaga Gifu. Suara terompet pun terdengar sebagai tanda kedatangan musuh. Pasukan Kana dan Sano Ryu pun segera mengangkat busur panah dan mengarahkan ke kastil. Peperangan terjadi sangat begitu lama hingga muncul pasukan berkuda dengan baju tempur lengkap yang tak dapat di hitung.diantara pasukan itu ternyata ada Saigai. Kana yang melihat sosok Saigai seketika itu langsung memberi isyarat kepada Sano Ryu untuk bersiap siaga. Tetapi Sano Ryu masih ragu dengan rencana mereka, ia takut tidak berjalan sesuai rencana.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Perilaku Junshi Para Tokoh Cerita Dalam Novel Kisah 47 Ronin Karya John Allyn

Perilaku Junshi Para Tokoh Cerita Dalam Novel Kisah 47 Ronin Karya John Allyn

Kesetiaan samurai berdasarkan ajaran Bushido, mengajarkan para Samurai untuk setia kepada majikan meskipun telah meninggal. Kesetiaan yang Menganggap Bahwa seorang samurai tidak dapat hidup di bawah satu langit yang sama dengan musuh majikannya membuat para Ronin berkeinginan untuk melakukan balas dendam sebagai cara untuk menunjukkan kesetiaan yang terbaik. Percakapan antara Oishi dengan anak buahnya menunjukkan bahwa keinginan untuk melakukan balas dendam tidak hanya pada dirinya, tapi juga para pengikutnya yang ingin menunjukkan kesetiaan dengan cara yang terbaik. Peristiwa yang membuat Ako menjadi tercoreng merupakan tugas para Ronin, untuk mengembalikan nama baik tersebut, hal ini dilakukan dengan tujuan agar roh majikan mereka menjadi tenang. Keinginan ini pada akhir, memutuskan para Ronin untuk melakukan balas dendam. Pengabdian kesetiaan ini juga terlihat pada saat sebelum mereka melakukan penyerangan ke kediaman Kira. Berikut kesiapan pasukan Asano yang diceritakan Oishi di makam Asano, hal 271-272 bab 19 :
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Nilai Bushido dan Penyimpangannya dalam Dwilogi Novel Samurai Karya Takashi Matsuoka

Nilai Bushido dan Penyimpangannya dalam Dwilogi Novel Samurai Karya Takashi Matsuoka

Bushido merupakan suatu budaya yang dimiliki oleh samurai Jepang. Nilai bushido ini banyak ditemukan di dalam novel Samurai karya Takashi Matsuoka. Penelitian tesis ini membicarakan mengenai nilai – nilai bushido yang terdapat di dalam novel Samurai karya Takashi Matsuoka berdasarkan teori antropologi sastra. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian ditemukan bahwa nilai – nilai bushido terdapat di dalam novel jilid pertama, yaitu Samurai: Suzume no Kumo. Nilai bushido ini juga masih terdapat di novel jilid kedua, yaitu novel Samurai: Aki no Hashi, namun di novel ini terdapat pertentangan terhadap nilai bushido yang diakibatkan oleh masuknya bangsa asing ke Jepang. Nilai bushido yang terdapat di dalam novel ini adalah nilai kesetiaan, kehormatan, keberanian, kejujuran, kepercayaan diri, kepatuhan, dan pengabdian diri.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGARUH TAYANGAN KARTUN TERHADAP DAYA K

PENGARUH TAYANGAN KARTUN TERHADAP DAYA K

- Samurai X, film yang pada awalnya tayang di SCTV ini memang sudah lama berakhir. Namun menjamurnya rasa suka terhadap film ini di kalangan anak masih dapat kita lihat. Film ini banyak berisi kekerasan, dari mulai Kenshin, sang tokoh utama yang dulunya adalah seorang samurai berdarah dingin yang selalu membantai setiap orang yang ia temui sampai pada Hatori, bocah yang masih kecil yang sudah sangat lihai memainkan pedang untuk melawan musuh. Dengan banyaknya kekerasan yang ada di dalam film ini sangat memungkinkan untuk menjadikan anak- anak di bawah umur berkhayal untuk selalu ingin lebih hebat dari yang lain dan juga selalu ingin tampil jagoan. Tayanyan kartun yangn berisi kekerasan sangat banyak beredar selain hanya film Samurai x. beberapa dia antaranya adalah Kungfu Kids,i TPI ada Tazmanian Devil dan Power Rangers in Space, Indosiar menyajikan Power Rangers Turbo, Ultraman, Dragon Ball, Ninja Hattori, dan sebagainya. RCTI seperti P-Man, dan Kobo Chan
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi Dalam Biografi The Swordless Samurai Karya Kitami Masao

Kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi Dalam Biografi The Swordless Samurai Karya Kitami Masao

Penokohan dalam biografi The Swordless Samurai adalah tokoh utama bernama Toyotomi Hideyoshi yang berpostur tubuh pendek, berwajah jelek, daun telinga yang besar, mata yang dalam, tubuh yang kecil, berwajah merah serta keriput, sehingga ia dijuluki “monyet” seumur hidupnya. Secara fisik tidak mencerminkan bahwa ia adalah seorang pemimpin.

15 Baca lebih lajut

Kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi Dalam Biografi The Swordless Samurai Karya Kitami Masao

Kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi Dalam Biografi The Swordless Samurai Karya Kitami Masao

Untuk menganalisis rumusan masalah di atas, dalam penelitian ini akan dibahas mengenai kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi. Adapun acuan pembahasannya menggunakan buku biografi The Swordless Samurai. Buku ini pertama diterbitkan di Jepang pada tahun 2005 dengan judul Toyotomi Hideyoshi no Keiei Juku Karya Kitami Masao. Kemudian pada tahun 2007 Tim Clack mengedit buku tersebut dan mengubahnya menjadi biografi dan telah disepakati oleh para ahli sejarah Jepang. Buku biografi The Swordless Samurai ini pertama kali berbahasa Inggris kemudian diterjemahkan oleh Mordohar S. dalam bahasa Indonesia pada tahun 2013 dengan 262 halaman.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi Dalam Biografi The Swordless Samurai Karya Kitami Masao

Kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi Dalam Biografi The Swordless Samurai Karya Kitami Masao

Penulisan skripsi ini menggunakan metode deskriptif untuk mendeskripsikan hasil analisa secara rinci dan jelas. Sumber data pada penulisan skripsi ini adalah biografi The Swordless Samurai karya Kitami Masao. Datanya berupa penggalan kalimat dan dialog mengenai karakter, gaya, serta strategi kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi. Kemudian rumusan masalah skripsi ini adalah bagaimana karakter Toyotomi Hideyoshi, gaya kepemimpinan dan strategi dalam menyatukan negara Jepang.

5 Baca lebih lajut

Kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi Dalam Biografi The Swordless Samurai Karya Kitami Masao

Kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi Dalam Biografi The Swordless Samurai Karya Kitami Masao

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti buku biografi The Swordless Samurai yang bercerita tentang bagaimana Toyotomi Hideyoshi meraih puncak kepemimpinannya dan menyatukan negeri Jepang. Seorang pemimpin dari kaum jelata yang menjadi wakil kaisar dan hidup bagaikan raja. Pemimpin yang berhasil menyatukan negeri Jepang yang sudah terpecah belah selama lebih dari seabad lamanya. Sebagai pemimpim yang memiliki karakter, strategi, serta gaya khusus dalam memimpin dan berhasil menyatukan negera Jepang. Sehingga ia memiliki ciri khas tersendiri dalam memimpin. Penulis tertarik untuk meneliti kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi dan menuangkannya ke dalam skripsi yang berjudul “Kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi Dalam Biografi The Swordless Samurai Karya Kitami Masao”
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Analisis Perilaku On Dan Giri Dalam Novel Samurai Kazegatan Karya Ichirou Yukiyama

Analisis Perilaku On Dan Giri Dalam Novel Samurai Kazegatan Karya Ichirou Yukiyama

Akazawa merasa sulit mempercayai kabar tentang perampokan terhadap iring-iringan kereta barang dagangan Takajima, salah seorang saudagar di Shirozora, dalam perjalannya menuju kota Hineriyama. Dengan peristiwa tersebut, berarti telah terjadi tiga perampokan di Jalan Ryuujin dalam kurun waktu lima hari. sebuah jumlah yang sangat besar untuk menyatakan adanya bahaya yang mengancam. Dalam keadaan seperti ini Akazawa berniat membatalkan mengirim barang dagangan. Namun Gorou memohon agar pengiriman barang tidak di batalkan. Akhirnya barang jadi dikirim, karena sekeras apapun Akazawa meyakinkan Gorou untuk membatalkan pengiriman barang, semakin keras Gorou memohon agar barang dagangan dikirim. Bila saja barang dagangan tidak jadi di kirim akan melukai perasaan Gorou sebagai seorang pengawal yang berjiwa Samurai. akhirnya Akazawa menyadari tak ada apapun di dunia ini akan dapat mengubah tekad Gorou.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Konflik Batin Nathan Algren (Analisis Semiotik Tentang Konflik Batin Pada Tokoh Nathan Algren Dalam Film “The Last Samurai”)

Konflik Batin Nathan Algren (Analisis Semiotik Tentang Konflik Batin Pada Tokoh Nathan Algren Dalam Film “The Last Samurai”)

Keadaan yang tidak seimbang ini membuat pasukan Kekaisaran kocar- kacir dan mundur secara teratur alih-alih Algren terjebak dalam situasi terkepung. Dengan susah payah dia menangkis serangan bertubi-tubi dari para samurai yang diarahkan kepadanya. Ternyata secara kebetulan Katsumoto melihat dengan jelas kegigihan Kapten Amerika ini. Sesuai dengan visinya di masa lalu ketika bermeditasi, Katsumoto menganalogikan Algren dengan harimau putih yang tak kenal takut dan pantang menyerah pada musuh-musuhnya walaupun nyawanya sudah di ujung tanduk. Dalam keadaan terjepit itulah justru Algren berhasil membunuh ksatria samurai berjubah merah yang kelak diketahui bernama Hirotaro, adik ipar Katsumoto.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...