kelinci lokal jantan

Top PDF kelinci lokal jantan:

Komposisi Karkas dan Non Karkas Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Pakan Limbah Tauge

Komposisi Karkas dan Non Karkas Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Pakan Limbah Tauge

Kelinci memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu ternak potong. Kelinci termasuk ternak yang menyukai segala jenis tumbuhan termasuk limbah pasar seperti limbah tauge. Limbah tauge mengandung 13.26% protein dan 64.5% TDN. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi komposisi karkas dan non karkas kelinci lokal jantan muda yang berumur 12 minggu dengan pemberian pakan mengandung limbah tauge. Peubah yang diamati adalah bobot potong, bobot tubuh kosong, bobot karkas panas dan dingin, bobot potongan komersial, bobot komposisi karkas, proporsi karkas dan potongan komersial, bobot dan persentase non karkas. Penelitian ini menggunakan 12 ekor kelinci lokal jantan dengan bobot badan awal sekitar 747 ± 104.543 g. Ternak dipelihara selama 12 minggu dan dipotong pada umur 6 bulan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Terdapat tiga jenis perlakuan: 100% pakan komersil (P0), 70% pakan komersil+30% limbah tauge (P1), dan 50% pakan komersil+50% limbah tauge (P2). Data dianalisis dengan menggunakan ANCOVA dengan menggunakan bobot tubuh kosong dan karkas panas sebagai kovariabel. Penelitian ini menunjukkan dengan penambahan limbah tauge menyebabkan bobot non karkas, bobot dan persentase potongan komersial hindleg dan lambung lebih tinggi dibandingkan tanpa penambahan limbah tauge. Penambahan limbah tauge tidak mempengaruhi bobot potong, bobot tubuh kosong, dan bobot karkas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa limbah tauge dapat diberikan dalam bentuk segar untuk penggemukan kelinci hingga 50% menggantikan pakan komersil
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG TANGKAI JAMUR KANCING (Agaricus bisporus) DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN.

PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG TANGKAI JAMUR KANCING (Agaricus bisporus) DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN.

Dari hasil analisis yang dilakukan maka penggunaan tepung tangkai jamur kancing (Champignon) pada ransum kelinci lokal jantan belum mampu mempengaruhi konversi ransum (Gambar 3). Pengaruh yang berbeda tidak nyata pada nilai konversi pakan ini juga diduga karena kualitas nutrien dari pakan perlakuan yang relatif sama. Hal ini sesuai dengan Martawidjaya et al (1998) bahwa konversi pakan ternak dipengaruhi oleh kualitas pakan, besarnya pertambahan berat badan dan nilai kecernaan. Dengan kata lain karena konsumsi ransum yang hasilnya berbeda tidak nyata dan pertambahan berat badan yang relatif sama atau berbeda tidak nyata pada setiap perlakuan, maka hal ini diduga menyebabkan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap konversi ransum.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Performa Produksi Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Campuran Pellet Komersil dan Limbah Tauge

Performa Produksi Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Campuran Pellet Komersil dan Limbah Tauge

9 Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan pakan yang berbeda memberikan pengaruh nyata (P<0.05) terhadap nilai konversi pakan kelinci lokal jantan muda. Berikutnya, hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada kelinci yang diberi perlakuan pakan campuran limbah tauge sebanyak 50% memberikan nilai konversi pakan yang berbeda dibandingkan perlakuan kontrol berupa pemberian 100% pellet komersil. Akan tetapi, pemberian limbah tauge 30% tidak memberikan perbedaan nilai konversi pakan terhadap kontrol maupun perlakuan limbah tauge 50%. Konversi pakan merupakan parameter yang sering digunakan untuk memperkirakan efisensi pakan pada pemeliharaan sistem intensif. Nilai konversi pakan dapat dioptimalkan dengan penggunaan ransum berenergi tinggi (Blas dan Wiseman 2010). Semakin rendah nilai konversi pakan, semakin baik nilai efisiensi pakannya. Pemberian pakan berkualitas tinggi dengan pengelolaan yang baik dapat menghasilkan konversi pakan kelinci sebesar 2.80 sampai 4.00 (Aritonang et al. 2003). Rataan nilai konversi pakan kelinci penelitian sebesar 6.06±0.98, artinya untuk setiap pertambahan bobot badan sebanyak 1 g diperlukan konsumsi pakan dalam bentuk bahan kering sebanyak 6.06 g.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Komposisi Karkas dan Sifat Fisik Daging Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Pakan Mengandung Limbah Tauge

Komposisi Karkas dan Sifat Fisik Daging Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Pakan Mengandung Limbah Tauge

Susut Masak Daging ialah perbedaan antara bobot daging sebelum dan sesudah dimasak dan dinyatakan dalam persentase.Susut masak adalah salah satu indikator nutrisi daging yang berhubungan dengan kadar air, yaitu banyaknya air yang terikat di dalam dan diantara otot.Susut masak dipengaruhi oleh temperature dan lama pemasakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan pakan dengan kandungan limbah tauge yang berbeda, tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap susut masak daging kelinci.Nilai susut masak yang tidak berbeda nyata ini dikarenakan nilai daya mengikat air yang juga tidak berbeda. Rataan susut masak daging kelinci pada penelitian ini adalah 33,82%. Nilai susut masak pada penelitian ini lebih rendah dari penelitian Setiawan (2009) dan Puspita (2010) yang mendapatkan nilai susut masak sebesar 40,77 dan 39,56%. Persentase susut masak yang rendah ini menunjukkan bahwa daging pada penelitian ini berkualitas baik. Daging dengan susut masak yang lebih rendah mempunyai kualitas yang relatif lebih baik daripada daging dengan susut masak yang lebih tinggi. Secara umum daging dengan susut masak yang rendah memiliki nutrisi yang baikkarena sedikit mengalami pengurangan nutrisi saat pemasakan.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Substitusi Rumput Gajah dengan Limbah Tauge dalam Ransum Bentuk Pellet terhadap Performa dan Nilai Komersil Kelinci Jantan Lokal persilangan.

Substitusi Rumput Gajah dengan Limbah Tauge dalam Ransum Bentuk Pellet terhadap Performa dan Nilai Komersil Kelinci Jantan Lokal persilangan.

Alternatif pakan untuk mengurangi penggunaan ransum komersil adalah limbah tauge. Penelitian ini bertujuan membandingkan performa kelinci jantan lokal yang diberi pakan komplit berbentuk pellet dengan menggunakan limbah tauge yang mensubstitusi penggunaan rumput gajah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ternak yang digunakan 16 ekor kelinci lokal jantan berumur 2 bulan dengan bobot hidup rata rata 879.375 + 60.874 g ekor -1 . Perlakuan yang diberikan terdiri dari P0 = 15% rumput gajah + 85% konsentrat, P1 = 10% rumput gajah + 5% limbah tauge + 85% konsentrat, P2 = 5% rumput gajah + 10% limbah tauge + 85% konsentrat, P3 = 15% limbah tauge + 85% konsentrat. Data dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan limbah tauge sampai taraf 15% dalam Pellet dapat mensubstitusi rumput gajah dan menurunkan harga pakan dengan memberikan performa yang baik pada ternak kelinci jantan lokal. Pertambahan bobot badan harian kelinci yang diberi pellet P2 dan P3 sebesar 18.954 – 19.785 g ekor -1 hari -1 dengan bobot badan akhir lebih besar dibandingkan P0 dan P1. Konsumsi pellet yang paling tinggi pada perlakuan P2 dan P1, konsumsi pellet perlakuan P3 tidak terlalu tinggi dan menunjukkan rataan bobot badan akhir lebih baik selain itu dapat menurunkan biaya.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) DALAM RANSUM TERHADAP PERSENTASE KARKAS DAN LEMAK ABDOMINAL KELINCI LOKAL JANTAN

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) DALAM RANSUM TERHADAP PERSENTASE KARKAS DAN LEMAK ABDOMINAL KELINCI LOKAL JANTAN

Analisis Variansi menunjukkan hasil berbeda tidak nyata pada setiap parameter yang diamati. Hal ini di diduga karena penambahan tepung temulawak sampai taraf enam persen belum mampu meningkatkan nafsu makan kelinci lokal jantan sehingga konsumsinya masih pada taraf berbeda tidak nyata (P ≥ 0,05). Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa penambahan tepung temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dalam ransum kelinci lokal jantan sampai level enam persen tidak berpengaruh terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, konformasi karkas dan persentase lemak abdominalnya.
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

Performa Kelinci Potong Jantan Lokal Peranakan New Zealand White Yang Diberi Pakan Silase Atau Pelet Ransum Komplit

Performa Kelinci Potong Jantan Lokal Peranakan New Zealand White Yang Diberi Pakan Silase Atau Pelet Ransum Komplit

Bentuk pakan yang umum dikonsumsi oleh kelinci adalah hijauan dan pelet. Salah satu kelemahan dari pakan bentuk pelet adalah biaya proses pembuatan pelet cukup mahal. Teknologi silase ransum komplit merupakan salah satu teknologi pengawetan yang mengkombinasikan antara pakan hijauan dan konsentrat dengan menggunakan biaya yang cukup rendah dan mempunyai daya simpan yang lebih tahan lama. Teknologi ini banyak digunakan untuk ternak ruminansia dan masih berupa silase berbahan tunggal. Penggunaan silase ransum komplit ini belum pernah diberikan pada ternak kelinci, sehingga dibutuhkan evaluasi mengenai kualitas dan pengaruh silase ransum komplit pada ternak kelinci. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan dan menganalisa performa kelinci yang diberi perlakuan silase ransum komplit dengan performa kelinci yang diberi pelet ransum komplit.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK BIJI JINTAN HITAM (NIGELLA SATIVA) TOPIKAL SEBAGAI ANTI DRY EYE SYNDROME (DES) PADA KELINCI JANTAN LOKAL PERANAKAN NEW ZEALAND WHITE (NZW) YANG DIINDUKSI KAPORIT (NaOCl) (UJI SCHIRMER)

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK BIJI JINTAN HITAM (NIGELLA SATIVA) TOPIKAL SEBAGAI ANTI DRY EYE SYNDROME (DES) PADA KELINCI JANTAN LOKAL PERANAKAN NEW ZEALAND WHITE (NZW) YANG DIINDUKSI KAPORIT (NaOCl) (UJI SCHIRMER)

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya atas rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Uji Efektivitas Ekstrak Biji Jintan Hitam (Nigella sativa) Topikal Sebagai Anti Dry Eye Syndrome (DES) Pada Kelinci Jantan Lokal Peranakan New Zealand White (NZW) Yang Diinduksi Kaporit (NaOCl) (Uji Schirmer)”. Latar belakang kami mengambil judul tersebut adalah karena

Baca lebih lajut

Pengaruh    Konsentrasi   Dan   Frekuensi   Aplikasi   Pupuk   Organik   Cair   Urine  Kelinci   Terhadap   Pertumbuhan   Dan   Produksi  Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.)

Pengaruh Konsentrasi Dan Frekuensi Aplikasi Pupuk Organik Cair Urine Kelinci Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.)

konsentrasi urine kelinci (K0). Hal ini juga dapat dilihat pada parameter jumlah daun (helai) dimana pemberian urine kelinci menunjukan angka yang berpengaruh nyata secara bertahap dimulai dari minggu ketiga sampai minggu ke tujuh. Dengan demikian pemberian urine kelinci dapat dijadikan alternatif untuk meminimalkan pemakaian pupuk kimia mengingat peran urine kelinci sebagai pupuk organik dengan kandungan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan tanaman karena berupa unsur hara N, P dan K yang cukup baik dan arena kandungan proteinnya yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suradi (2005), potensi kelinci tidak hanya sebagai penghasil daging yang sehat. Juga sebagai penghasil kulit bulu (fur) dan wool. Selain dari pada itu kotoran kelinci merupakan sumber pupuk kandang yang baik karena mengandung unsur hara N, P dan K yang cukup baik.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Dan Frekuensi Aplikasi Pupuk Organik Cair Urine Kelinci Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.)

Pengaruh Konsentrasi Dan Frekuensi Aplikasi Pupuk Organik Cair Urine Kelinci Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.)

Menurut Noor dkk. (1996), manure dan urine kelinci dikenal sebagai sumber pupuk organik yang potensial untuk tanaman hortikultura. Petani sayuran di Ciwidey dan Lembang, Bandung juga banyak memanfaatkan manure dan urine kelinci yang dicampur berbagai bahan lain untuk strawberry, tomat dan sayuran lainnya. Penggunaan manure kelinci dibandingkan dengan manure ayam pada berbagai jenis sayuran di Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan produksi sebesar 2,1% (jagung), 11,8% (kubis), 12,5% (buncis), 22,7% (kacang merah) dan (kentang) 5,5%.

Baca lebih lajut

RESPON BIOLOGI DAN KARAKTERISTIK KARKAS KELINCI JANTAN LOKAL (Lepus nigricollis) YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG LIMBAH WINE ANGGUR.

RESPON BIOLOGI DAN KARAKTERISTIK KARKAS KELINCI JANTAN LOKAL (Lepus nigricollis) YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG LIMBAH WINE ANGGUR.

Menurut Lestari (1997) ternak kelinci sebagai ternak monogastrik mempunyai keunikan dalam hal kapasitas, sifat, dan faali dari saluran pencernaanya, yaitu kemampuan kelinci untuk melakukan coprophagy. Kelinci termasuk kedalam autocoprophagy, yaitu kelinci membuang feses dari saluran pencernaanya dalam 2 bentuk, feses kering dan keras serta feses lembek berlendir dikeluarkan pada malam hari dan pagi hari. Feses yang lembek berlendir inilah yang dimakan kembali oleh kelinci langsung dari duburnya, ini dilakukan untuk memanfaatkan protein, serat kasar, vitamin yang terkandung dalam feses. Anon (2011) menyatakan Feses yang lembek dan berlendir mengandung banyak vitamin, dan nutrien seperti riboflavin, sianokobalamin (vitamin B 12), asam pantotenat dan niasin. Dengan memakan kembali fesesnya kelinci tidak akan kekurangan vitamin dan nutrien karena isi saluran pencernaan berdaur ulang kembali.
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Karakteristik Karkas, Sifat Fisik dan Kimia Daging Kelinci Rex dan Lokal

Karakteristik Karkas, Sifat Fisik dan Kimia Daging Kelinci Rex dan Lokal

Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial dengan faktor pertama adalah jenis bangsa dan faktor kedua ialah jenis kelamin. Materi yang digunakan masing- masing 6 ekor kelinci Rex dan kelinci lokal (3 jantan dan 3 betina). Peubah yang diamati adalah karakteristik karkas, sifat fisik dan kimia daging. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik. Hasil penelitian ini menunjukkkan bahwa kelinci Rex jantan memiliki nilai yang lebih baik terhadap semua jenis kelinci pada peubah bobot jantung, saluran pencernaan, persentase karkas (P<0.01), persentase offal dan daya mengikat air (DMA) (P<0.05). Kelinci Rex betina unggul pada peubah bobot foreleg (P<0.05), kepala, kadar air dan kadar lemak kasar (P<0.01). Kelinci lokal jantan unggul pada peubah pH daging (P<0.05) dan gross energi (P<0.01), sedangkan kelinci lokal betina hanya unggul pada peubah keempukkan daging (P<0.05). Variasi perbedaan tersebut dipengaruhi oleh manajemen pemeliharaan terutama pengaruh kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan, perlakuan sebelum dan sesudah pemotongan serta aktivitas ternak (perilaku). Secara umum, kelinci Rex lebih baik daripada kelinci lokal, tetapi kelinci lokal, baik jantan maupun betina, berpotensi besar pula sebagai alternatif sumber protein hewani baru.
Baca lebih lanjut

144 Baca lebih lajut

PENGUKURAN KOEFISIEN CERNA RANSUM DENGAN KELINCI HARLEQUIN.

PENGUKURAN KOEFISIEN CERNA RANSUM DENGAN KELINCI HARLEQUIN.

organik, bahan anorganik dan protein tidak berbeda nyata antara perlakuan. Jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap kecernaan dan koeisien cerna bahan tersebut di atas. Ada kecenderungan kecernaan dan koeisien cerna bahan konsentrat lengkap lebih tinggi daripada jagung butiran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disarankan bahwa penelitian kualitas pakan (kecernaan ataupun koeisien cerna pakan) baik dengan kelinci jantan maupun betina dapat dilakukan dengan hasil yang sama.

Baca lebih lajut

Pertumbuhan dan Produksi Karkas Kelinci Rex pada Umur Potong yang Berbeda

Pertumbuhan dan Produksi Karkas Kelinci Rex pada Umur Potong yang Berbeda

Kelinci muda mengalami pertumbuhan yang cepat dan puncak pertumbuhan (accelerating) dicapai pada umur delapan minggu (Rao et al. 1979). Titik belok bobot hidup adalah titik dimana ternak mengalami penurunan kecepatan pertumbuhan pada satuan waktu titik belok umurnya atau bobot ternak mencapai masa pubertasnya baik pada jantan maupun betina (Brahmantiyo 2010). Pada Gambar 2 terlihat pola laju pertumbuhan pada masing masing umur potong yang menunjukkan kecenderungan meningkat. Selisih nilai rataan terbesar diantara umur 10 dan 12 minggu sebesar 346.61 g ekor -1 . Laju pertumbuhan menunjukkan kecenderungan menurun hingga mencapai umur 14 dan 16 minggu sebesar 263.14 dan 161.50 g ekor -1 . Pertumbuhan kelinci mencapai umur potong 10 sampai 12 minggu memiliki pola garis pertumbuhan yang stabil dan menanjak. Pemotongan pada usaha ternak pedaging dilakukan pada saat umur dan bobot potong yang tepat agar produksi karkas optimal. Semakin tinggi bobot potong kelinci diharapkan produksi karkas yang dihasilkan juga semakin besar. Kondisi tersebut sekaligus dapat memperbaiki karakteristik fisik karkas (bobot, persentase daging, tulang dan lemak karkas). Laju pertumbuhan, status nutrisi, jenis kelamin dan bobot badan merupakan faktor yang berhubungan erat satu sama lain, secara sendiri atau kombinasi dapat mempengaruhi komposisi tubuh atau karkas yang dihasilkan.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Penentuan Profil Farmakokinetika  Diklofenak Pada Kelinci Jantan

Penentuan Profil Farmakokinetika Diklofenak Pada Kelinci Jantan

Untuk mendapatkan keadaan yang optimal, penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan larutan Natrium diklofenak baku kepada 6 ekor hewan kelinci jantan yang beratnya sekitar 1,5-2 kg dengan pemberian secara oral. Dan untuk mendapatkan kadar obat dalam darah pada masing- masing kelinci jantan maka darah diambil dengan selang waktu 0,25 jam; 0,5 jam; 0,75 jam; 1,25 jam; 1,5 jam; 2,5 jam; 3,5 jam; 4,5 jam; 5,5 jam. Lalu divortex dengan menggunakan TCA dan disentrifuge. Pengukuran kadar obat Natrium diklofenak dalam plasma kelinci jantan dilakukan dengan menggunakan KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi). Fase gerak yang digunakan untuk mengukur kadar Natrium diklofenak dalam plasma kelinci jantan adalah MeOH : buffer asetat (Na asetat 6,8 g / l sesuaikan sampai pH 4,2 dengan HCl (p) ) dengan perbandingan (90 : 10) dan
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

DAFTAR ISI  UJI PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH OLEH EKSTRAK ETANOL 70% HERBA JAKA TUWA (Scoparia dulcis L.) PADA KELINCI JANTAN YANG DIBEBANI GLUKOSA.

DAFTAR ISI UJI PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH OLEH EKSTRAK ETANOL 70% HERBA JAKA TUWA (Scoparia dulcis L.) PADA KELINCI JANTAN YANG DIBEBANI GLUKOSA.

Penelitian ini termasuk kategori penelitian eksperimental semu rancangan percobaan acak lengkap pola searah. Sebanyak 20 ekor kelinci jantan lokal albino, berat badan 1,0-1,9 kg, dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok I diberi CMC Na 1% sebagai kontrol negatif, kelompok II diberi larutan acarbose 2,33 mg/kgBB sebagai kontrol positif, kelompok III, IV, V diberi perlakuan ekstrak etanol 70% herba jaka tuwa dosis 100; 200 dan 400 mg/kgBB. Seketika sebelum perlakuan kelinci diberi pembebanan glukosa 50% (1,67 g/kgBB) terlebih dahulu. Cuplikan darah diambil tiap 30 menit selama 300 menit. Data yang diperoleh berupa kadar glukosa darah mg/dl. Data yang diperoleh dihitung AUC (Area Under Curve) dan dianalisis menggunakan uji ANAVA satu jalan, dan apabila hasilnya bermakna dilanjutkan dengan uji LSD dengan taraf kapercayaan 95%.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analysis of Rabbit Farming in Sejahtera Farm District Ciampea Bogor

Analysis of Rabbit Farming in Sejahtera Farm District Ciampea Bogor

Peternak mengawinkan kelinci pertama kali pada umur enam bulan untuk betina dan tujuh bulan untuk pejantan. Menurut Abidin (2003) menyatakan bahwa kelinci biasa dikawinkan kapan saja asal sudah dewasa kelamin (berumur 4-6 bulan). Menurut Sarwono (2002) kelinci mempunyai dewasa kelamin berbeda-beda ter- gantung dari jenis kelamin dan tipe kelinci. Kelinci betina lebih cepat dewasa kelamin dibandingkan dengan kelinci jantan. Kelinci tipe kecil (bobot 0,9-1 kg) mempunyai umur dewasa kelamin berkisar 3-4 bulan, tipe sedang (bobot 2-4 kg) berkisar 5-6 bulan, dan tipe besar (bobot 5-8 kg) berkisar 7-8 bulan. Pemeriksaan birahi dilakukan dengan melihat pada bagian kelamin betina yaitu vulva membengkak, basah dan berwarna merah, ini menunjukkan bahwa kelinci betina sudah siap dikawinkan. Pemeriksaan ini harus dilakukan dengan teliti agar periode birahi tidak terlewat. Jika birahi terlewat maka harus menunggu sampai siklus berikutnya. Hal ini merugikan peternak karena menambah biaya produksi. pemeriksaan birahi dilakukan kembali pada induk yang baru menyapih dan saat masa menyusui.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pemanfaatan Tepung Ampas Kelapa (Cocos nucifera L.) Fermentasi Terhadap Performans Kelinci Rex Jantan Lepas Sapih

Pemanfaatan Tepung Ampas Kelapa (Cocos nucifera L.) Fermentasi Terhadap Performans Kelinci Rex Jantan Lepas Sapih

Cheeke, R.B., N.M. Patton., S.D. Lukefahr and J.I. Mcniit. 1987. Rabbit production. Sixth Edition. TheInterstate Printers and Publisher, Inc. Danville, Illinois. Pdf. Aritonang et al. 2003. Laju Pertumbuhan Kelinci Rex, Satin dan Persilangannya yang Diberi Lactosym@ dalam Sistem Pemeliharaan Intensif. [10 Maret 2014].

Baca lebih lajut

Efek Analgetik Ekstrak Lerak (Sapindus rarak DC) pada Gigi-gigi Kelinci Jantan (Penelitian In Vivo)

Efek Analgetik Ekstrak Lerak (Sapindus rarak DC) pada Gigi-gigi Kelinci Jantan (Penelitian In Vivo)

Perhitungan dilakukan selama 60 menit, hal ini sesuai dengan lama kerja anastesi ketamin dan diazepam yaitu 2 jam, 28 60 menit pertama digunakan untuk pengeburan gigi insisivus atas kanan dan kiri kelinci, dan 60 menit berikutnya digunakan untuk perhitungan nilai voltase. Efek analgetik ekstrak lerak mulai bekerja pada menit ke-5, hal ini dapat dilihat dari perbedaan yang signifikan antara menit ke- 0 (nilai voltase selelum ekstrak lerak dan kontrol negatif diaplikasikan) dengan menit ke-5, dan efek ini terus bertahan sampai menit ke-60. Dapat disimpulkan durasi efek analgetik yang dihasilkan oleh ekstrak lerak 2,5%, 5%, dan adalah 5-60 menit. Namun pada ekstrak lerak 7,5% efek analgetik mengalami penurunan pada menit ke- 30, dan kembali naik pada menit ke-40 (tabel 3).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Pisang Raja Difermentasi MOL (Mikroorganisme Lokal) Dibandingkan Trichoderma harzianum Sebagai Pakan Berbentuk Pelet Terhadap Karkas Kelinci Rex Jantan Lepas Sapih

Pemanfaatan Kulit Pisang Raja Difermentasi MOL (Mikroorganisme Lokal) Dibandingkan Trichoderma harzianum Sebagai Pakan Berbentuk Pelet Terhadap Karkas Kelinci Rex Jantan Lepas Sapih

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pemanfaatan Kulit Pisang Raja Difermentasi MOL (Mikroorganisme lokal) Dibandingkan Trichoderma harzianum Sebagai Pakan Berbentuk Pelet Terhadap Karkas Kelinci Rex Jantan Lepas Sapih”.

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...