kelinci lokal jantan

Top PDF kelinci lokal jantan:

Komposisi Karkas dan Non Karkas Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Pakan Limbah Tauge

Komposisi Karkas dan Non Karkas Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Pakan Limbah Tauge

Bobot potong adalah bobot tubuh hewan sebelum dipotong. Berdasarkan Tabel 5. diketahui bahwa perbedaan perlakuan pakan tidak berpengaruh nyata terhadap bobot potong. Hal tersebut dapat dikarenakan bobot awal ternak yang seragam sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap bobot potong. Konsumsi protein dan energi yang tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat (Soeparno 2005). Pemberian ransum yang berkualitas tinggi dalam jumlah yang cukup akan meningkatkan pertambahan bobot hidup sehingga akan menghasilkan bobot potong dan bobot karkas yang tinggi (Lestari et al. 2005). Meiaro (2008) menambahkan bahwa bobot potong akan memiliki korelasi positif dengan bobot tubuh kosong. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rataan bobot potong yang diperoleh lebih rendah dibanding hasil Kurniawan (2013), yang meneliti komposisi karkas dan sifat fisik daging kelinci lokal jantan muda dengan pemberian pakan mengandung limbah tauge sebesar 1 780.83 g. Bobot Tubuh Kosong
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

View of Penggantian Bungkil Kelapa dengan Lumpur Sawit Fermentasi dalam Ransum Terhadap Kecernaan Kelinci Lokal Jantan

View of Penggantian Bungkil Kelapa dengan Lumpur Sawit Fermentasi dalam Ransum Terhadap Kecernaan Kelinci Lokal Jantan

Hasil anova menyatakan bahwa rataan kecernaan bahan kering pakan kelinci lokal jantan selama penelitian berturut-turut dari nilai tertinggi sampai terendah P0, P1, P2 dan P3 adalah 53,31; 52,32; 51,71 dan 49,80 %, seperti tertera pada Gambar 1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan terhadap kecernaan bahan kering berbeda tidak nyata (p>0,05). Artinya penggunaan LSF hingga level 15% tidak berpengaruh terhadap kecernaan bahan kering kelinci lokal jantan yang di pelihara di Kota Pontianak. Hal ini diduga disebabkan konsumsi bahan kering masing- masing perlakuan yang berbeda tidak nyata. Menurut Mcdonald et al (2010) bahwa tingginya kecernaan bahan kering dipengaruhi oleh jumlah pakan yang dikonsumsi. Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya daya cerna bahan pakan adalah jenis ternak, jumlah pakan yang diberikan, komposisi pakan dan pengolahan pakan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG TANGKAI JAMUR KANCING (Agaricus bisporus) DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN.

PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG TANGKAI JAMUR KANCING (Agaricus bisporus) DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN.

Pada kandungan nutrien ransum perlakuan (Tabel 3), terlihat bahwa semakin tinggi penggunaan tepung tangkai jamur kancing (Champignon) maka kandungan serat kasar pun semakin meningkat. Namun tingginya kandungan serat kasar pada pakan perlakuan diduga belum memberikan pengaruh terhadap konsumsi pakan kelinci lokal jantan, hal ini dibuktikan dengan hasil konsumsi ransum cenderung berbeda tidak nyata pada setiap perlakuan (Gambar 1). Selain faktor palatabilitas, perbedaan yang tidak nyata dari setiap perlakuan, diduga juga disebabkan karena penggunaan tepung tangkai jamur kancing (Champignon) dalam ransum sampai taraf 15% masih memiliki kandungan energi dan protein yang relatif sama.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

PENGARUH SUBSTITUSI KONSENTRAT DENGAN TEPUNG DAUN WORTEL DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN

PENGARUH SUBSTITUSI KONSENTRAT DENGAN TEPUNG DAUN WORTEL DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata dari kelima macam perlakuan yaitu P0, P1, P2, P3 dan P4 berturut-turut untuk konsumsi pakan 72.97; 75.49; 75.67; 68.74 dan 67.31 (gram/ekor/hari), PBBH 10.17; 10.64; 9.95; 9.38 dan 9.40 (gram/ekor/hari), konversi pakan 7.39; 7.14; 7.76; 7.44 dan 7.34. Sedangkan FCG adalah Rp. 25395.97; Rp. 20354.22; Rp. 17576.91; Rp. 12500.33 dan Rp. 8660.38. Berdasarkan analisis variansi substitusi konsentrat dengan tepung daun wortel dari perlakuan P1 (tepung daun wortel 25% dari total konsentrat) sampai P4 (tepung daun wortel 100% dari total konsentrat) dalam ransum berpengaruh tidak nyata terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian dan konversi pakan. Dari feed cost per gain, didapatkan pemberian tepung daun wortel hingga 100% dari total konsentrat (P4) merupakan pakan yang paling efisien. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tepung daun wortel dapat digunakan sebagai pengganti konsentrat dalam ransum terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian, konversi pakan dan feed cost per gain kelinci lokal jantan.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN LIMBAH MEDIA TANAM JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus florida) SEBAGAI KOMPONEN RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN

PENGARUH PENGGUNAAN LIMBAH MEDIA TANAM JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus florida) SEBAGAI KOMPONEN RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN

tinggi sehingga nilai konversi pakan menjadi rendah. Demikian Siregar (2002) menambahkan semakin kecil nilai konversi pakan berarti semakin efisien ternak dalam penggunaan pakan berarti semakin sedikit jumlah pakan yang dibutuhkan untuk mencapai pertambahan satu kilo gam berat badan. Konversi pakan digunakan sebagai pegangan berproduksi karena melibatkan bobot badan dan konsumsi pakan. Oleh karena itu besar kecilnya tingkat konversi pakan kelinci dipengaruhi oleh besarnya konsumsi pakan dan pertambahan berat badan kelinci. Namun dalam penelitian ini pemberian limbah media tanam jamur tiram putih sampai taraf 15% dari hasil analisis variansi tidak mempengaruhi konversi pakan pada kelinci lokal jantan. Hal ini sejalan dengan tingkat konsumsi dan PBBH yang sama.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

Performa Produksi Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Campuran Pellet Komersil dan Limbah Tauge

Performa Produksi Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Campuran Pellet Komersil dan Limbah Tauge

Kelinci (Orictolagus cuniculus) berpotensi besar sebagai penghasil daging karena sifatnya yang prolifik, pertumbuhannya cepat, dan dapat memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan. Limbah tauge merupakan limbah pasar yang kandungan nutrisinya yang masih baik sehingga dapat digunakan sebagai pakan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengamati performa produksi kelinci lokal jantan muda yang diberi limbah tauge. Sebanyak 12 ekor kelinci lokal jantan muda dengan kisaran umur 12 minggu dan rataan bobot badan 747±104.53 g digunakan dalam penelitian ini. Tiga perlakuan pakan yang diberikan yaitu P0 berupa 100% pellet komersil, P1 berupa 30% limbah tauge dan 70% pellet komersil, serta P2 berupa 50% limbah tauge dan 50% pellet komersil. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan pakan tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering, protein kasar, TDN dan pertambahan bobot badan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa limbah tauge segar dapat dijadikan sebagai substitusi pakan kelinci hingga taraf 50% tanpa menurunkan performa produksinya.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) DALAM RANSUM TERHADAP PERSENTASE KARKAS DAN LEMAK ABDOMINAL KELINCI LOKAL JANTAN

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) DALAM RANSUM TERHADAP PERSENTASE KARKAS DAN LEMAK ABDOMINAL KELINCI LOKAL JANTAN

Analisis Variansi menunjukkan hasil berbeda tidak nyata pada setiap parameter yang diamati. Hal ini di diduga karena penambahan tepung temulawak sampai taraf enam persen belum mampu meningkatkan nafsu makan kelinci lokal jantan sehingga konsumsinya masih pada taraf berbeda tidak nyata (P ≥ 0,05). Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa penambahan tepung temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dalam ransum kelinci lokal jantan sampai level enam persen tidak berpengaruh terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, konformasi karkas dan persentase lemak abdominalnya.
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMAN KELINCI LOKAL JANTAN

Rerata konsumsi pakan yang diperoleh selama penelitian untuk perlakuan P0, P1, P2, P3 berturut-turut yaitu 51,89; 53,85; 50,02; 55,57 (gram/ekor/hari). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa konsumsi pakan dalam bahan kering berbeda tidak nyata (P ≥ 0,05). Hal ini berarti bahwa penambahan tepung temulawak dalam konsentrat hingga level 6% dari ransum total tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan kelinci lokal jantan. Wijayakusuma (2003), temulawak berpengaruh pada pankreas dan dapat mempercepat pengosongan lambung. Dengan demikian akan timbul rasa lapar dan merangsang nafsu makan. Didukung oleh Anonimus (2003), bahwa bau dan rasa minyak atsiri menstimulasi sistem saraf pusat, yang akhirnya menghasilkan peningkatan nafsu makan dan konsumsi zat-zat makanan. Namun pada penelitian didapatkan hasil yang berbeda tidak nyata.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Komposisi Karkas dan Sifat Fisik Daging Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Pakan Mengandung Limbah Tauge

Komposisi Karkas dan Sifat Fisik Daging Kelinci Lokal Jantan Muda dengan Pemberian Pakan Mengandung Limbah Tauge

Kelinci sebenarnya sangat sensitif terhadap kelembaban yang rendah (di bawah 55%) namun juga tidak terlalu tinggi. Berdasarkan Food and Agriculture Organization (1997), peternak kelinci di Perancis mengemukakan bahwa pada kelembaban 60% – 65% akan menghasilkan produksi yang optimal.Kelembaban yang didapatkan pada penelitian ini pada pagi hari yaitu 94,53% dan pada sore hari yaitu 77,52%. Kelembaban ini berbeda cukup jauh dari literatur yang ada. Kelembaban yang tinggi ini dikarenakan hujan yang sering turun pada malam hari sehingga pada pagi hari masih lembab dan dapat menyebabkan turunnya nafsu makan pada kelinci karena kelinci merasa tidak nyaman. Saat temperatur dan kelembaban tinggi, tidak banyak panas dalam tubuh yang dapat dikeluarkan sebagai uap air melalui proses evaporasi. Hal ini akan menyebabkan ketidaknyamanan yang diikuti dengan kelemahan pada kelinci. Musim yang sangat panas dengan kelembaban yang tinggidapat menyebabkan masalah yang serius, hanya saja hal tersebut biasanya terjadi pada daerah beriklim tropis selama musim hujan (Food and Agriculture Organization, 1997).
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Pengaruh penggantian konsentrat dengan tepung roti afkir terhadap performan kelinci lokal jantan

Pengaruh penggantian konsentrat dengan tepung roti afkir terhadap performan kelinci lokal jantan

Hijauan merupakan pakan pokok kelinci. Dalam peternakan semi intensif, umumnya hijauan diberikan sebesar 80% sedangkan 20% lainnya dalam bentuk kosentrat. Pemberian hijauan oleh peternak kelinci ada tiga golongan yakni : hijauan saja, diberi hijauan (60% - 80%) dan sisanya konsentrat (20% - 40%) serta konsentrat (lebih dari 60%) dan sisanya berupa hijauan. Hijauan yang biasa diberikan untuk kelinci antara lain daun kangkung, rumput lapangan, daun pisang, daun lamtoro, daun turi dan sebagainya (Whendrato dan Madyana, 1983). Hijauan mempunyai kandungan serat kasar yang tinggi, sedangkan kandungan energi dan protein kasarnya rendah. Kandungan rumput lapangan adalah bahan kering (BK) 21,8%, protein kasar (PK) 6,7%, serat kasar (SK) 34,2% dan lemak kasar (LK) 1,8% (Siregar, 1994). Baik karbohidrat maupun lemak, keduanya dibutuhkan kelinci guna menghasilkan energi (tenaga). Kelebihan karbohidrat akan membantu pembentukan lemak di dalam tubuh sehingga kelinci menjadi gemuk. Pemberian konsentrat untuk sapi perah pada ternak kelinci yang dikombinasikan dengan rumput lapangan yang diberikan secara terpisah memberikan hasil yang bagus. Jumlah pemberian konsentrat pada setiap harinya adalah 50 gram setiap ekor untuk kelinci pertumbuhan dan penggemukan. Rumput lapangan diberikan secara ad libitum (Kartadisastra, 2001).
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Karakteristik Karkas, Sifat Fisik dan Kimia Daging Kelinci Rex dan Lokal

Karakteristik Karkas, Sifat Fisik dan Kimia Daging Kelinci Rex dan Lokal

Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial dengan faktor pertama adalah jenis bangsa dan faktor kedua ialah jenis kelamin. Materi yang digunakan masing- masing 6 ekor kelinci Rex dan kelinci lokal (3 jantan dan 3 betina). Peubah yang diamati adalah karakteristik karkas, sifat fisik dan kimia daging. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik. Hasil penelitian ini menunjukkkan bahwa kelinci Rex jantan memiliki nilai yang lebih baik terhadap semua jenis kelinci pada peubah bobot jantung, saluran pencernaan, persentase karkas (P<0.01), persentase offal dan daya mengikat air (DMA) (P<0.05). Kelinci Rex betina unggul pada peubah bobot foreleg (P<0.05), kepala, kadar air dan kadar lemak kasar (P<0.01). Kelinci lokal jantan unggul pada peubah pH daging (P<0.05) dan gross energi (P<0.01), sedangkan kelinci lokal betina hanya unggul pada peubah keempukkan daging (P<0.05). Variasi perbedaan tersebut dipengaruhi oleh manajemen pemeliharaan terutama pengaruh kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan, perlakuan sebelum dan sesudah pemotongan serta aktivitas ternak (perilaku). Secara umum, kelinci Rex lebih baik daripada kelinci lokal, tetapi kelinci lokal, baik jantan maupun betina, berpotensi besar pula sebagai alternatif sumber protein hewani baru.
Baca lebih lanjut

144 Baca lebih lajut

Substitusi Rumput Gajah dengan Limbah Tauge dalam Ransum Bentuk Pellet terhadap Performa dan Nilai Komersil Kelinci Jantan Lokal persilangan.

Substitusi Rumput Gajah dengan Limbah Tauge dalam Ransum Bentuk Pellet terhadap Performa dan Nilai Komersil Kelinci Jantan Lokal persilangan.

Alternatif pakan untuk mengurangi penggunaan ransum komersil adalah limbah tauge. Penelitian ini bertujuan membandingkan performa kelinci jantan lokal yang diberi pakan komplit berbentuk pellet dengan menggunakan limbah tauge yang mensubstitusi penggunaan rumput gajah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ternak yang digunakan 16 ekor kelinci lokal jantan berumur 2 bulan dengan bobot hidup rata rata 879.375 + 60.874 g ekor -1 . Perlakuan yang diberikan terdiri dari P0 = 15% rumput gajah + 85% konsentrat, P1 = 10% rumput gajah + 5% limbah tauge + 85% konsentrat, P2 = 5% rumput gajah + 10% limbah tauge + 85% konsentrat, P3 = 15% limbah tauge + 85% konsentrat. Data dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan limbah tauge sampai taraf 15% dalam Pellet dapat mensubstitusi rumput gajah dan menurunkan harga pakan dengan memberikan performa yang baik pada ternak kelinci jantan lokal. Pertambahan bobot badan harian kelinci yang diberi pellet P2 dan P3 sebesar 18.954 – 19.785 g ekor -1 hari -1 dengan bobot badan akhir lebih besar dibandingkan P0 dan P1. Konsumsi pellet yang paling tinggi pada perlakuan P2 dan P1, konsumsi pellet perlakuan P3 tidak terlalu tinggi dan menunjukkan rataan bobot badan akhir lebih baik selain itu dapat menurunkan biaya.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Penggunaan Tepung Kulit Buah Markisa (Passiflora edulis var.edulis) yang difermentasi dengan Phanerochaetechrysosporium terhadap Karkas Kelinci RexJantanLepasSapih.

Penggunaan Tepung Kulit Buah Markisa (Passiflora edulis var.edulis) yang difermentasi dengan Phanerochaetechrysosporium terhadap Karkas Kelinci RexJantanLepasSapih.

Pengaruh Pemberian Ransum Hijauan Dan Konsentrat yang Berbeda Terhadap Bobot Potong, Persentase Karkas dan Non Karkas Kelinci Lokal Jantan.. Laporan Penelitian Fakultas Pertanian UNS, [r]

4 Baca lebih lajut

RESPON BIOLOGI DAN KARAKTERISTIK KARKAS KELINCI JANTAN LOKAL (Lepus nigricollis) YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG LIMBAH WINE ANGGUR.

RESPON BIOLOGI DAN KARAKTERISTIK KARKAS KELINCI JANTAN LOKAL (Lepus nigricollis) YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG LIMBAH WINE ANGGUR.

Limbah industri pembuatan wine dari anggur mempunyai potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena produksinya tinggi. Pengolahan anggur menjadi wine akan mengasilkan limbah berupa biji dan kulit sebesar 40%. Biji dan kulit anggur kaya akan komponen monomer fenolik seperti katekin, epikatekin, epikatekin- 3-O-gallat, dan proantosianidin (pada bentuk dimetrik, trimetrik, dan tetrametrik) yang memiliki efek mutagenik dan antivirus (Kim et al., 2006). Pada umumnya biji anggur mengandung 74 -78% oligometrik proantosianidin dan kurang dari 6% berat kering ekstrak biji anggur mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan alami. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Voisinet et al. (1997) penggunaan ransum dengan tambahan limbah cair wine dari anggur akan menghasilkan perubahan kimia pada daging sapi menjadi lebih empuk. Berdasarkan penelitian Moote et al. (2012) penggunaan limbah wine anggur sebesar 7% dalam ransum sapi angus jantan tidak menunjukan perbedaan yang nyata dari segi pertambahan bobot badan serta skor warna daging dibandingkan kontrol.
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Pertumbuhan dan Produksi Karkas Kelinci Rex pada Umur Potong yang Berbeda

Pertumbuhan dan Produksi Karkas Kelinci Rex pada Umur Potong yang Berbeda

Perletakan dan distribusi lemak mempunyai nilai ekonomi penting dalam produksi daging. Depot lemak merupakan komponen karkas yang masak lambat, persentase depot lemak meningkat seiring dengan bertambahnya bobot badan. Distribusi lemak sangat mempengaruhi proporsi jaringan otot karkas. Hal ini disebabkan proporsi daging dan tulang berkurang sedangkan komponen lemak bertambah dengan meningkatnya bobot karkas. Pertumbuhan lemak pada kelinci berlangsung pada umur lebih dari dua bulan yaitu pada bobot badan 1.5 sampai 2.0 kg, tetapi lemak yang dikandungnya lebih kecil dari ternak yang lain. Lemak pada kelinci pada organ di sekitar rusuk, sepanjang tulang belakang, daerah paha, sekitar leher, ginjal dan jantung. Kelinci Rex umur 10, 12 dan 14 minggu tidak memiliki lemak subcutan dan lemak abdominal sedangkan kedua lemak ini mulai tumbuh pada umur 16 minggu. Kadar lemak karkas kelinci Rex pada umur 16 minggu sebesar 0.4 % dari bobot potong lebih rendah dari hasil penelitian Salvini et al. (1998) sebesar 6.8 % pada kelinci New Zealand White dengan pakan campuran hijauan dan pellet yang mengandung protein kasar sebesar 16 %, serat kasar sebesar 14 % dan lemak sebesar 3 %. Kadar lemak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis pakan, kandungan lemak pakan, tipe pemeliharaan, suhu, dan jenis kelamin. Rasio atau perbandingan daging dan tulang dapat menunjukkan besarnya bagian dari seekor ternak dapat dikonsumsi. Nilai rasio yang semakin besar maka akan semakin besar pula bagian yang dapat dikonsumsi. Hasil rataan rasio daging dan tulang penelitian sebesar 2.89 dengan rataan tertinggi pada umur 12 minggu sebesar 3.42 ± 0.59, hal ini sebanding dengan tingginya kadar daging dan rendahnya kadar bobot tulang pada umur 12 minggu (Tabel 4).
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...