Kemampuan awal

Top PDF Kemampuan awal:

Pembelajaran fisika dengan pendekatan induktif melalui metode eksperimen dan demonstrasi pada pokok bahasan kalor ditinjau dari kemampuan awal siswa SMA kelas x

Pembelajaran fisika dengan pendekatan induktif melalui metode eksperimen dan demonstrasi pada pokok bahasan kalor ditinjau dari kemampuan awal siswa SMA kelas x

mempunyai titik tolak atau berpangkal pada kemampuan siswa tertentu (tingkah laku awal) untuk dikembangkan menjadi kemampuan baru (tingkah laku final) sesuai tujuan instruksional”. Dari yang diungkapkan Winkel dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran bertolak pada kemampuan siswa yang telah dimiliki atau keadaan awal siswa yang diharapkan menjadi suatu kemampuan baru (pengetahuan/tingkah laku akhir) yang mempunyai relevansi terhadap penentuan dan pencapaian tujuan akhir pembelajaran yang diharapkan. Dari pendapat Winkel tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal yang dimiliki sebelum mendapatkan pengetahuan baru yang lebih tinggi. Jika perlu para guru atau pendidik mencatat dan memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individu di antara para siswanya. Mereka perlu mengetahui bahwa para siswa datang ke sekolah dengan membawa berbagai bekal kemampuan. Untuk mengetahui kemampuan awal siswa yang berbeda tersebut dapat dilakukan suatu tes awal (pretest) untuk mengukur kemampuan yang dimiliki siswa. Jadi, secara umum kemampuan awal merupakan keadaan awal siswa pada proses pembelajaran yang mempunyai kaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri.
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

ANALISIS HASIL BELAJAR RANAH KOGNITIF MENGGUNAKAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN MELALUI PENDEKATAN RESOURCE BASED LEARNING DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA

ANALISIS HASIL BELAJAR RANAH KOGNITIF MENGGUNAKAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN MELALUI PENDEKATAN RESOURCE BASED LEARNING DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA

peserta didik apabila ada trigger atau pemicu. Dalam proses pembelajaran kemampuan awal dapat diambil dari nilai yang sudah didapat sebelum materi baru diperoleh. Kemampuan awal merupakan prasyarat yang harus dimiliki siswa sebelum memasuki materi pelajaran berikutnya yang lebih tinggi. Kemampuan awal dapat juga diambil dari nilai tes. Selain itu juga dapat menggunakan interview atau cara-cara lain yang cukup sederhana seperti melontarkan pertanyaan-pertanyaan secara acak dengan distribusi perwakilan yang representatif.

71 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP.

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP.

Jumlah total sumbangan relatif dari kemampuan awal Fisika siswa dan ke- mampuan numerik siswa adalah 100%. Sumbangan relatif dalam penelitian ini adalah sumbangan yang diperoleh hasil belajar dari nilai kemampuan awal Fisika siswa dan kemampuan numerik siswa saja. Sedangkan jumlah total sumbangan efektif dari kemampuan awal Fisika siswa dan kemampuan numerik siswa adalah sebesar nilai korelasi ganda antara kemampuan awal Fisika siswa dan kemampuan nume- rik siswa dengan hasil belajar Fisika siswa, yaitu R y.1,2 = 0.34 . Sisa nilai sumbangan efektifnya adalah 0.66, nilai tersebut menunjukkan adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar Fisika siswa selain kemampuan awal Fisika siswa dan kemampuan numerik siswa.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Karakteristik Siswa 2 Kemampuan Awal Sis

Karakteristik Siswa 2 Kemampuan Awal Sis

Pembelajaran juga menjadi tidak bermakna jika siswa hanya mengikuti saja langkah-langkah atau aturan yang sudah disusun oleh guru dimana perhatian siswa tidak pada kaitannya melainkan lebih pada pemenuhan langlah-langkahnya. Proses interaksi dan penciptaan makna tidak akan terjadi hanya dengan mengaktifkan siswa dengan kegiatan-kegiatan di atas. Interaksi dan kebermaknaan informasi hanya akan terjadi jika guru mendasarkan pembelajarannya pada kemampuan awal siswa. Belajar harus dimulai dari sejak awal pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa. Jika proses pembelajaran hanya terfokus pada aspek materi pelajaran sebagaimana yang tertera dalam kurikulum dan pada langkah-langkah kegiatan yang telah disusun oleh guru, maka belajar todak akan bermakna, membosankan, tidak menarik, dan tidak menyenangkan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN IPA TERSTRUKTUR MELALUI METODE DISKUSI DAN PEMBERIAN TUGAS DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN MENALAR SISWA

PEMBELAJARAN IPA TERSTRUKTUR MELALUI METODE DISKUSI DAN PEMBERIAN TUGAS DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN MENALAR SISWA

Untuk mengatasi masalah belajar siswa, guru perlu mengadakan pendekatan pribadi di samping pendekatan instruksional dalam berbagai bentuk yang memungkinkan guru dapat lebih mengenal dan memahami siswa serta masalah belajar. Aspek–aspek yang mempengaruhi keberhasilan belajar itu sangat komplek, oleh karena itu menjadi sangat sulit bila semua aspek atau faktor penyebab kesulitan belajar dan rendahnya prestasi belajar tersebut diteliti dalam suatu penelitian, disamping sulit juga memerlukan waktu yang lama, akibatnya hasil penelitian menjadi kabur dan tidak jelas. Dengan dasar pertimbangan tersebut maka penilitian ini membatasi beberapa aspek yang diduga mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu: (1). Model pembelajaran, (2). Metode pembelajaran, (3). Kemampuan awal, (4). Kemampuan menalar siswa. Berdasar latar belakang masalah, guna mengetahui keefektifan pembelajaran IPA dalam penggunaan model pembelajaran dan metode mengajar yang sesuai untuk konsep besaran dan satuan, maka penulis mengambil judul penelitian “Pembelajaran IPA terstruktur dengan menggunakan metode diskusi dan pemberian tugas ditinjau dari kemampuan awal dan kemampuan menalar siswa terhadap prestasi belajar IPA”.
Baca lebih lanjut

164 Baca lebih lajut

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN KEMAMPUAN AWAL TERHADAP HASIL BELAJAR MENULIS BAHASA INGGRIS KELAS X SMA NEGERI 4 BINJAI.

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN KEMAMPUAN AWAL TERHADAP HASIL BELAJAR MENULIS BAHASA INGGRIS KELAS X SMA NEGERI 4 BINJAI.

Penelitian ini merupakan penelitian kuasi aksperimen. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 242 orang yang berasal dari 5 (lima) kelas mahasiswa SMA Negeri 4 Binjai. Sedangkan sampel berjumlah 90 orang yang diambil dari 2 kelas dengan menggunakan cluster random sampling. Sebelum perlakuan diberikan, terlebih dahulu sampel penelitian diberikan tes kemampuan awal untuk membedakan jenis kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa. Tes belajar yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian terlebih dahulu diujicobakan untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas tes. Hasil yang diperoleh dari 40 soal yang diujikan sebanyak 34 soal saja yang memenuhi persyaratan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif untuk menyajikan data dan statistik inferensial untuk menguji hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian diuji dengan menggunakan Anava 2 jalur yang sebelumnya, terlebih dahulu dilakukan uji persyarat analisis data yaitu uji normalitas dengan uji Lilliefors dan uji homogenitas varians dengan uji Bartlett dan Uji Fisher.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TAI DAN STAD TERHADAP PRESTASI SISWA DENGAN MEMPERHATIKAN KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN MATEMATIK | Amalia | Inkuiri 4632 10234 1 SM

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TAI DAN STAD TERHADAP PRESTASI SISWA DENGAN MEMPERHATIKAN KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN MATEMATIK | Amalia | Inkuiri 4632 10234 1 SM

Munoto, 2012), diketahui bahwa guru bertindak sebagai fasilitator dan mediator, maka siswa akan termotivator belajarnya. Siswa yang termotivasi atau memiliki motivasi belajar yang tinggi, siswa akan cenderung berpartisipasi aktif dalam belajar (Nurdjannah dan Munoto, 2012). Jika ada kesulitan pemahaman materi dapat dipecahkan bersama dengan asisten serta bimbingan guru karena keberhasilan setiap individu ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Parnata dan Suandi (2010) bahwa kelompok cooperative learning yang memiliki pengetahuan awal tinggi terjadi proses meaningful learning, sedang bagi kelompok yang memiliki pengetahuan awal rendah lebih lambat terjadi proses belajar bermakna, mengingat kelompok ini lambat kemampuannya dalam mengakomodasikan konsep-konsep. Keunggulan dari model pembelajaran TAI adalah adanya kesulitan pemahaman konsep dapat dipecahkan bersama. Hal ini yang memungkinkan siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi maupun rendah akan memberikan pengaruh yang sama terhadap prestasi kognitif yaitu prestasinya akan lebih baik jika diajar dengan model TAI. Sedangkan bila siswa diajar dengan model TAI akan memiliki rata-rata nilai yang lebih baik jika memiliki kemampuan awal yang tinggi daripada siswa yang memiliki kemampuan awal rendah, demikian pula pada siswa yang belajar dengan model STAD.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

EKSPERIMENTASI   PEMBELAJARAN   MATEMATIKA   MELALUI TEORI BELAJAR BRUNER DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL  Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Melalui Teori Belajar Bruner Ditinjau Dari Kemampuan Awal Siswa Kelas VIII Semester Gasal MTsN Ngemplak Kabupate

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI TEORI BELAJAR BRUNER DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Melalui Teori Belajar Bruner Ditinjau Dari Kemampuan Awal Siswa Kelas VIII Semester Gasal MTsN Ngemplak Kabupate

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menguji : (1) pengaruh penerapan teori belajar Bruner terhadap prestasi belajar matematika, (2) pengaruh kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar matematika, (3) interaksi antara penerapan teori belajar Bruner dan kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar matematika. Pupolasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTsN Ngemplak Kabupaten Boyolali tahun ajaran 2013/2014. Sampel pada penelitian sebanyak dua kelas, yaitu kelas VIIIF sebagai kelas kontrol yang dikenai dengan metode konvensional dan kelas VIIIG sebagai kelas eksperimen yang dikenai dengan penerapan teori belajar Bruner pada pembelajaran CTL. Teknik pengambilan sampel menggunakan Cluster Sampling. Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi (nilai ulangan tengah semester gasal tahun 2013/2014) untuk mengetahui kemampuan awal dan metode tes untuk mengetahui prestasi belajar matematika. Teknik analisis data menggunakan uji analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat analisis menggunakan metode Lilliefors untuk uji normalitas dan metode Bartlett untuk uji homogenitas. Sebagai tindak lanjut dari analisis variansi dilakukan uji lanjut pasca anava dengan metode Scheffe. Dari hasil analisis data dengan taraf signifikansi 5% diperoleh hasil : (1) ada pengaruh penerapan teori belajar Bruner terhadap prestasi belajar matematika dengan nilai F A = 5,839 (2) ada pengaruh kemampuan awal siswa
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN AWAL DAN KARAKTERISTIK PESERTA

KEMAMPUAN AWAL DAN KARAKTERISTIK PESERTA

Kemampuan awal (Entry Behavior) adalah kemampuan yang telah diperoleh siswa sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru. Kemampuan awal menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan siswa sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar tercapai oleh siswa. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan dari mana pengajaran harus dimulai. Kemampuan terminal merupakan arah tujuan pengajaran diakhiri. Jadi, pengajaran berlangsung dari kemampuan awal sampai ke kemampuan terminal itulah yang menjadi tanggung jawab pengajar.[2]
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Prestasi Belajar Ditinjau Dari Kemampuan Awal Dan Motivasi Belajar Pada Siswa Kelas VIII SMP Al-Islam 1 Surakarta Tahun Ajaran 2012/2013.

PENDAHULUAN Prestasi Belajar Ditinjau Dari Kemampuan Awal Dan Motivasi Belajar Pada Siswa Kelas VIII SMP Al-Islam 1 Surakarta Tahun Ajaran 2012/2013.

Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah kemampuan awal. Kemampuan awal merupakan segala sesuatu yang telah dimiliki berupa pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan yang relevan, yang terdapat pada awal proses belajar. Kemampuan tersebut berasal dari pengalaman masalalu yang telah dimiliki menjadi landasan bagi kemampuan pada jenjang atau tahap berikutnya. Kemampuan awal yang dimiliki siswa merupakan titik tolak dalam proses belajar mengajar, karena siswa memiliki kemampuan awal yang berbeda-beda dan perbedaan dari masing-masing siswa harus diketahui oleh guru agar dapat memilih cara pengajaran yang baik.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ANALISIS KEMAMPUAN AWAL PEBELAJAR

ANALISIS KEMAMPUAN AWAL PEBELAJAR

Kemampuan awal siap ulang, mengacu kepada kemampuan-kemampuan awal yang manapun dari ketujuh kemampuan awal yang diidentifikasi Reigeluth yang sudah pernah dipelajari pebelajar, namun belum dikuasai sepenuhnya atau belum siap digunakan ketika diperlukan. Karena belum menjadi miliknya, maka pebelajar masih sangat tergantung pada adanya sumber-sumber yang sesuai (biasanya buku teks) untuk dapat

18 Baca lebih lajut

STUDI PERBANDINGAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) DAN TIPE TWO STAY TWO STRAY (TSTS) PADA SISWA KELAS VIII MTS NEGERI 1 TANJUNG KARANG TAHUN PELAJARAN 2013/2014

STUDI PERBANDINGAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) DAN TIPE TWO STAY TWO STRAY (TSTS) PADA SISWA KELAS VIII MTS NEGERI 1 TANJUNG KARANG TAHUN PELAJARAN 2013/2014

apersepsi dan penjelasan mengenai materi atau soal yang akan dibahas. Langkah selanjutnya, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat orang, masing-masing kelompok terdapat anak yang mempunyai kemampuan awal tinggi dan rendah. Guru membagikan materi pelajaran dan soal untuk didiskusikan bersama teman sekelompoknya. Kemudian mereka berdiskusi dan saling mengutarakan pendapat di antara anggota kelompok tersebut dalam membahas materi pembelajaran dan soal yang telah ditentukan tersebut. Setelah dirasa cukup, maka dua orang anggota kelompok akan bertamu kepada kelompok yang lainnya untuk saling mendiskusikan dan berbagi informasi di antara anggota kelompok lainnya yang mereka kunjungi. Sementara itu, dua orang yang tinggal akan menerima dua tamu dari kelompok lainnya. Setelah diskusi selesai mereka kembali kepada kelompok masing- masing dan memberikan hasil temuan mereka dari kelompok lain dan mendiskusikannya kembali. Langkah yang terakhir, bersama guru mereka akan melakukan evaluasi atas apa yang telah mereka diskusikan bersama.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS IV TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB BINA TARUNA MANISRENGGO KLATEN TAHUN PELAJARAN 2008 2009

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS IV TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB BINA TARUNA MANISRENGGO KLATEN TAHUN PELAJARAN 2008 2009

Berdasarkan hasil penilitian yang telah diperoleh bahwa ada peningkatan prestasi belajar IPS dengan menggunakan media peta pada siswa kelas V SLB/C Bina Taruna, hal ini dapat dilihat dari skor yang diperoleh dari masing-masing siswa peningkatannya yaitu AN dari kemampuan awal 60 dan hasil akhir 70, IW kemampuan awal 60 dan hasil akhir 63 serta RS dengan kemampuan awal 65 hasil akhir 73, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPS dengan menggunakan media peta pada tunagrahita ringan kelas V SLB/C Bina Taruna dapat berjalan dengan baik. Adapun kegiatan yang dilaksanakan meliputi persiapan, pelaksanaan dan penilaian. Persiapan yang dilakukan guru antara lain membuat program pembelajaran dan menyusun strategi pembelajaran dengan menyiapkan materi yang akan disampaikan, menyiapkan media peta dan menjelaskan cara menggunakan media peta. Selanjutnya untuk evaluasi guru menggunakan penilaian proses dan metode tes, penilaian proses untuk mengetahui kegiatan di lapangan sedangkan tes untuk melihat hasil akhir dari penerapan media peta dalam pembelajaran IPS.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

t mtk 1004658 chapter5

t mtk 1004658 chapter5

1. Peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa secara keseluruhan yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan metakognitif berbantuan Autograph lebih baik daripada pembelajaran dengan pendekatan konvensional. Pada kemampuan awal matematis untuk kategori kemampuan awal tinggi peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan metakognitif berbantuan Autograph dan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan konvensional tidak berbeda signifikan. Tetapi pada kemampuan awal matematis kategori sedang dan rendah, peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan metakognitif berbantuan Autograph lebih baik daripada pembelajaran konvensional.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MTK 1201586 Chapter5

T MTK 1201586 Chapter5

2. Pada penerapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Open-Ended, sebaiknya guru membuat sebuah skenario dan perencanaan pembelajaran yang matang dengan memprediksi segala respon siswa yang mungkin lalu kemudian membuat antisipasi terhadap respon siswa tersebut. Dengan demikian, pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Open-Ended dapat diterapkan pada semua kategori kemampuan awal matematis siswa.

Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK KD 1.1 INDIK

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK KD 1.1 INDIK

Teknik yang paling tepat untuk mengetahui kemampuan awal siswa yaitu teknik tes. Teknik tes ini menggunakan tes prasyarat dan tes awal (pre-requisite dan pretes). Sebelum memasuki pelajaran sebaiknya guru membuat tes prasyarat dan tes awal, Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki pengetahuan keterampilan yang diperlukan atau disyaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal (pre test) adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai pelajaran yang hendak diikuti. Benjamin S. Bloom melalui beberapa eksperimen membuktikan bahwa “ untuk belajar yang bersifat kognitif apabila pengetahuan atau kecakapan pra syarat ini tidak dipenuhi, maka betapa pun kualitas pembelajaran tinggi, maka tidak akan menolong untuk memperoleh hasil belajar yang tinggi ”.. Hasil pre tes juga sangat berguna untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang telah dimiliki dan sebagai perbandingan dengan hasil yang dicapai setelah mengikuti pelajaran. Jadi kemampuan awal sangat diperlukan untuk menunjang pemahaman siswa sebelum diberi pengetahuan baru karena kedua hal tersebut saling berhubungan.[10]
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

t mtk 1007339 chapter5

t mtk 1007339 chapter5

4. Secara keseluruhan peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang memperoleh pembelajaran geometri dengan Wingeom lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Bila memperhatikan kemampuan awal matematis, untuk kemampuan awal matematis kategori tinggi, peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang memperoleh pembelajaran geometri dengan Wingeom lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Begitu juga dengan kemampuan awal matematis kategori sedang dan rendah. Untuk kemampuan awal matematis kategori sedang dan rendah, peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang memperoleh pembelajaran geometri dengan Wingeom lebih baik daripada pembelajaran konvensional. 5. Perbedaan kemampuan awal matematis memberikan pengaruh signifikan
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T MTK 1201586 Chapter5

T MTK 1201586 Chapter5

3. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan kategori kemampuan awal matematis siswa terhadap peningkatan kemampuan berpikir kreatif. Artinya, faktor pembelajaran dan kategori kemampuan awal matematis secara bersama-sama tidak memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa.

Baca lebih lajut

TEKNIK STIMULASI KEMAMPUAN LITERASI AWAL ANAK PRASEKOLAH OLEH IBU DI RUMAH  Teknik Stimulasi Kemampuan Literasi Awal Anak Prasekolah Oleh Ibu Di Rumah.

TEKNIK STIMULASI KEMAMPUAN LITERASI AWAL ANAK PRASEKOLAH OLEH IBU DI RUMAH Teknik Stimulasi Kemampuan Literasi Awal Anak Prasekolah Oleh Ibu Di Rumah.

Penentuan partisipan dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu ibu yang sudah pernah mengikuti pelatihan stimulasi literasi awal, berdasarkan kriteria tersebut, peneliti memilih 6 partisipan.Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan catatan harian.

Baca lebih lajut

TEKNIK STIMULASI KEMAMPUAN LITERASI AWAL ANAK PRASEKOLAH OLEH IBU DI RUMAH  Teknik Stimulasi Kemampuan Literasi Awal Anak Prasekolah Oleh Ibu Di Rumah.

TEKNIK STIMULASI KEMAMPUAN LITERASI AWAL ANAK PRASEKOLAH OLEH IBU DI RUMAH Teknik Stimulasi Kemampuan Literasi Awal Anak Prasekolah Oleh Ibu Di Rumah.

2 Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Rahmatika (2015) tentang pengaruh pelatihan teknik multisensori untuk meningkatkan pemahaman ibu mengenai stimulasi kemampuan literasi awal anak prasekolah yaitu adanya pengaruh yang positif dari pelatihan stimulasi literasi awal yang dilakukan oleh ibu berupa pemahaman ibu tentang stimulasi literasi meningkat setelah mengikuti pelatihan teknik multisensori. Setelah diberikan pelatihan, ibu sudah paham tentang teknik-teknik stimulasi literasi awal yang tepat untuk meningkatkan kemampuan literasi anak, selain itu berdasarkan hasil survei didapatkan hasil bahwa anak merasa nyaman dan menyukai teknik stimulasi kemampuan literasi awal yang dilakukan oleh ibu. Sehingga antara ibu dan anak sama-sama merasa nyaman selama proses kegiatan literasi yang dilakukan di rumah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...