kepatuhan berobat

Top PDF kepatuhan berobat:

HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN TUBERCULOSIS TENTANG PENYAKIT TUBERCULOSIS DENGAN KEPATUHAN BEROBAT DI UNIT RAWAT JALAN RUMAH SAKIT PANTI WALUYA SAWAHAN MALANG

HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN TUBERCULOSIS TENTANG PENYAKIT TUBERCULOSIS DENGAN KEPATUHAN BEROBAT DI UNIT RAWAT JALAN RUMAH SAKIT PANTI WALUYA SAWAHAN MALANG

Tuberculosis masih terus menjadi masalah kesehatan di dunia terutama di negara berkembang. Masih banyak penderita tuberculosis paru maupun ekstra paru yang gagal dalam menjalani pengobatan secara lengkap dan teratur. Kepatuhan dalam pengobatan adalah kunci penting dalam keberhasilan pengobatan tuberculosis. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan pengetahuan pasien tuberkulosis tentang penyakit tuberkulosis dengan kepatuhan berobat. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang bersifat korelasional dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 20 orang, tehnik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuisoner dan checklist, dan analisa data menggunakan uji Chi Square dengan α = 0,05. Hasil penelitian didapatkan dari 8 responden (40%) yang berpengetahuan kurang, ada sebanyak 6 responden (30%) yang tergolong tidak patuh dalam berobat TB dan 2 responden (10%) tergolong patuh dalam pengobatan TB. Hasil Uji Chi Square diperoleh nilai p=0,002, yang berarti ditolak dan diterima, yaitu ada hubungan yang signifikan antara hubungan pengetahuan pasien Tuberculosis dengan kepatuhan berobat di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Mantan Pasien Kusta

Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Mantan Pasien Kusta

Mantan pasien kusta menyatakan bahwa ada dukungan keluarga dalam bentuk saran, bantuan finansial, sebagai pengawas dan juga membantu membantu mengambil obat, hanya saja kepatuhan berobat mantan pasien kusta tidak bergantung pada dukungan keluarga. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ada mantan pasien yang kurang mendapat dukungan keluarga tapi patuh dalam berobat. Demikian halnya dengan mantan pasien tidak patuh berobat meskipun mengakui adanya dukungan keluarga yang besar. Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian sebelumnya dari Fatmala (2016), di mana dalam penelitiannya berhasil membuktikan hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kepatuhan Berobat Pasien TB Paru Dewasa Di RS Immanuel Bandung Dengan Dots dan RS Mitra Idaman Banjar Tanpa Dots.

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kepatuhan Berobat Pasien TB Paru Dewasa Di RS Immanuel Bandung Dengan Dots dan RS Mitra Idaman Banjar Tanpa Dots.

Pengobatan terhadap penyakit ini dilakukan dalam jangka waktu yang panjang dan membutuhkan pengetahuan dari penderita TB paru agar tingkat kepatuhan berobat dari pasien meningkat, sehingga tidak menimbulkan resistensi terhadap regimen obat yang ada. Selain itu, diperlukan juga suatu sistem pelayanan kesehatan yang bersedia memantau tahapan pengobatan serta memberikan motivasi pada penderita TB paru agar mereka patuh terhadap pengobatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan pasien, maka semakin baik peneriman informasi tentang pengobatan yang diterimanya sehingga pasien akan patuh dalam pengobatan penyakitnya (Munro,2007).
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pendapatan Keluarga, Status Gizi, Dukungan Keluarga Dan Kepatuhan Berobat Terhadap Kesembuhan Pengobatan Tuberkulosis Paru Di Kota Mojokerto - UNS Institutional Repository

Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pendapatan Keluarga, Status Gizi, Dukungan Keluarga Dan Kepatuhan Berobat Terhadap Kesembuhan Pengobatan Tuberkulosis Paru Di Kota Mojokerto - UNS Institutional Repository

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan Tesis dengan judul “ Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pendapatan Keluarga, Status Gizi, Dukungan Keluarga, Dan Kepatuhan Berobat Terhadap Kesembuhan Pengobatan Tuberkulosis Paru Di Kota Mojokerto ” .

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT TUBERKULOSIS BALITA.

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT TUBERKULOSIS BALITA.

Dengan mengungkapkan faktor – faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat pada penderita tuberkulosis paru, maka dapat dengan segera dicari solusi yang tepat untuk mengatasinya. Sehingga pada akhirnya akan meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan angka kejadian penularan penyakit tuberkulosis paru pada balita di kota Surakarta pada khusnya dan di daerah lain pada umumnya.

5 Baca lebih lajut

Komunikasi Interpersonal Pengawas Minum Obat Berperspektif Gender Dengan Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Di Kabupaten Bogor

Komunikasi Interpersonal Pengawas Minum Obat Berperspektif Gender Dengan Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Di Kabupaten Bogor

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kemampuan komunikasi interpersonal PMO berperspektif gender dengan kepatuhan berobat penderita TB dan menganalisis hubungan antara komunikasi interpersonal PMO berperspektif gender dengan kepatuhan berobat penderita TB. Penelitian bersifat explanatory research, dengan rancangan cross sectional. Analisis data dengan menggunakan statistik deskriptif dan uji statistik inferensia korelasi Chi-Square. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner kepada 82 responden (PMO). Hasil penelitian menunjukkan karakteristik umur PMO sebagian besar lebih dari 35 tahun (tua), paling banyak perempuan, tingkat pendidikannya rendah (SD/SMP), tingkat pengetahuannya sedang, kurang berpengalaman, emosinya baik, motivasinya tinggi dan memiliki hubungan yang baik/dekat dengan penderita TB. Perspektif gender (peran domestik, peran publik, peran sosial) semuanya tinggi. Kemampuan komunikasi interpersonal (keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, kesetaraan) semuanya tinggi/baik. Secara keseluruhan tingkat kepatuhan di tiga Puskesmas di Kabupaten bogor adalah patuh.
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

Pengaruh Komunikasi Terapeutik Terhadap Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Paru Rawat Jalan Di RSUD Sidikalang Kabupaten Dairi

Pengaruh Komunikasi Terapeutik Terhadap Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Paru Rawat Jalan Di RSUD Sidikalang Kabupaten Dairi

Hasil uji chi-square menunjukkan secara statistik variabel teknik komunikasi mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepatuhan berobat penderita TB paru (p = 0,005). Hal ini mengindikasikan bahwa teknik dan media informasi digunakan dalam penyampaian informasi serta merta akan meningkatkan pemahaman penderita TB paru tentang penyakit dan prosedur pengobatannya sehingga patuh berobat, hal ini kemungkinan disebabkan karena teknik atau metode yang digunakan oleh perawat bervariasi sehingga cukup menarik perhatian, juga mungkin perawat tidak terlalu mendominasi selama pembicaraan berlangsung sehingga pasien cukup mendapat kesempatan untuk bertanya dan mengungkapkan pendapatnya. Selain itu, informasi yang disampaikan perawat melalui media cukup jelas sehingga pasien tidak mengalami salah tafsir terhadap informasi yang tertera pada media.
Baca lebih lanjut

150 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TB PARU DI RS PARU JEMBER

HUBUNGAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TB PARU DI RS PARU JEMBER

Menunjukan bahwa variabel usia pasien TB paru berhubungan dengan kepatuhan berobat pasien TB paru (p=0,004). Hasil penelitian tersebut sesuai yang di kemukakan oleh Lagrace menyatakan bahwa usia dan status perkembangan merupakan faktor penting yang menentukan kepatuhan dalam pengobatan (Smet,1994). Artinya dalam penelitian ini umur pasien TB paru merupakan faktor yang penting dalam menentukan perilaku pengobatan. Golongan umur yang lebih tua lebih cenderung tidak teratur dalam menjalankan pengobatanya dan pada puncaknya umur 40 - 90 tahun. (Evaluasi puskesmas istambul dalam gani, 1994). Hal senada juga dikemukakan oleh Niven (2002) bahwa orang yang sudah tua akan menjadi lebih terisolasi saat mereka semakin tua, serta terdapat penurunan fungsi sosial seperti intelektual, memori dan kemampuan memecahkan masalah. Selain itu Cumming dan Henry (1961) dalam Niven (2002) pada teori pemisahan menyatakan bahwa lansia secara bertahap akan mengurangi kontak sosialnya, menyerah terhadap peran sosialnya dan merasa paling senang jika mampu melakukanya.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS NGUNTORONADI I KABUPATEN WONOGIRI

KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS NGUNTORONADI I KABUPATEN WONOGIRI

Dari hasil analisis diperoleh nilai p value 0,378 > 0,05 maka disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dengan kepatuhan berobat penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Nguntoronadi I Kabupaten Wonogiri. Hasil penelitian bahwa responden didominasi oleh umur tua (>49 tahun), hal tersebut karena di usia tua sistem imunologis seseorang akan menurun sehingga rentan terhadap penyakit. Pada usia tua juga lebih tidak teratur menjalankan pengobatan karena kurangnya motivasi yang kuat untuk sehat dan memperhatikan kesehatannya, menjadi lebih terisolasi serta terdapat penurunan fungsi sosial seperti intelektual, memori dan kemampuan memecahkan masalah. 4 Pada usia remaja dan dewasa tubuh
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Tingkat Pengetahuan, Perilaku, dan Kepatuhan Berobat Orangtua dari Pasien Epilepsi Anak di Medan

Tingkat Pengetahuan, Perilaku, dan Kepatuhan Berobat Orangtua dari Pasien Epilepsi Anak di Medan

Kepatuhan berobat pada orangtua dan pengasuh dari anak pasien epilepsi pada umumnya baik, meskipun tingkat pengetahuan terhadap penyakit epilepsi masih rendah. Masih terjadi kesenjangan informasi dan dibutuhkan tambahan informasi tentang epilepsi dan tata laksananya. Program edukasi, penyebaran informasi kepada orangtua dari pasien epilepsi anak dan masyarakat di Medan dan sekitarnya akan sangat membantu mengatasi masalah tersebut.

5 Baca lebih lajut

MOTIVASI DAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA MEMPENGARUHI KEPATUHAN BEROBAT PADA PASIEN TB PARU

MOTIVASI DAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA MEMPENGARUHI KEPATUHAN BEROBAT PADA PASIEN TB PARU

pemberdayaan keluarga sebagai pengawas minum obat (PMO) dapat digunakan sebagai strategi yang paling efektif untuk mengontrol pengobatan TB paru. Motivasi dan dukungan keluarga sangat menunjang keberhasilan pengobatan seseorang dengan selalu mengingatkan penderita agar minum obat, perhatian yang diberikan kepada anggota keluarga yang sedang sakit dan memberi motivasi agar tetap rajin berobat, karena itu perlu diberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya kepatuhan pengobatan, motivasi dan dukungan keluarga kepada penderita supaya penderita menyelesaikan terapinya sampai sembuh. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan motivasi, dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan berobat pada pasien TB paru.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Pengaruh Komunikasi Terapeutik Terhadap Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Paru Rawat Jalan Di RSUD Sidikalang Kabupaten Dairi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Pengaruh Komunikasi Terapeutik Terhadap Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Paru Rawat Jalan Di RSUD Sidikalang Kabupaten Dairi

Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa komunikasi terapeutik perawat mempunyai peran yang cukup berpengaruh terhadap perilaku pasien, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Palestin (2002) bahwa secara statistik terdapat pengaruh yang bermakna setelah pemberian komunikasi terapeutik terhadap kepatuhan berobat penderita Diabetes Melitus. Kemudian penelitian yang dilakukan Kristina (2004) tentang pengaruh komunikasi terhadap perilaku kepatuhan berobat penderita pulpitis di poli gigi Puskesmas Pucang Sewu Kota Surabaya dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan kepatuhan berobat pada penderita pulpitis.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN PEMBELAJARAN TUBERKULOSIS TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT DAN TINGKAT KESEMBUHAN PENDERITA TUBERKULOSIS

PENGARUH PEMBERIAN PEMBELAJARAN TUBERKULOSIS TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT DAN TINGKAT KESEMBUHAN PENDERITA TUBERKULOSIS

kepatuhan berobat dengan tingkat kesembuhan, dalam penelitian ini memiliki hipotesis terdapat pengaruh antara kepatuhan berobat dengan tingkat kesembuhan. Hasil analisis statistik korelasi didapat besar r sebesar 0,324. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh kepatuhan berobat dengan tingkat kesembuhan adalah positif dan berkorelasi sedang, searah. Berarti semakin banyak kepatuhan berobat, semakin tinggi pula tingkat kesembuhan penderita untuk sembuh. Menentukan tingkat signifikansi dan daerah penerimaan atau penolakan α =5%, jika P value (sig) > α = H0 diterima, berarti dengan kata lain ambil kesimpulan H0, jika P value (sig) < α = Ha ditolak, berarti dengan kata lain ambil kesimpulan Ha. Hasil analisis data nampak P value (sig) diperoleh sebesar 0,026 yang artinya lebih kecil dari 0,05, sehingga disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan antara kepatuhan berobat terhadap tingkat kesembuhan. Hasil korelasi antara kepatuhan berobat dengan tingkat kesembuhan nampak pada pengujian regresi linier, dimana terdapat skor 0,026 yang artinya lebih kecil dari 0,05, sehingga terdapat pengaruh yang signifikan antara pembelajaran Tuberkulosis terhadap kepatuhan berobat. Hasil analisis nampak pada tabel 12. dibawah ini.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Berobat Pasien Kusta di Rumah Sakit Kusta Dr. Sitanala Tangerang.

Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Berobat Pasien Kusta di Rumah Sakit Kusta Dr. Sitanala Tangerang.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti ini ingin mengetahui adakah hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan berobat pasien kusta di RSK Dr. Sitanala Tangerang karena penelitian tentang kepatuhan berobat penderita kusta masih kurang, diharapkan dengan diketahui adanya hubungan tingkat pengetahuan dan kepatuhan berobat pasien kusta, pihak Rumah Sakit Kusta Dr. Sitanala dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dalam hal komunikasi dan edukasi tentang penyakit kusta dan pengobatannya untuk meningkatkan angka kepatuhan berobat pasien, hingga mencapai proses penyembuhan pasien dan mencapai penurunan angka kejadian kusta di Indonesia.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Pasien Diabetes Melitus pada Praktek Dokter Keluarga di Kota Tomohon | Tombokan | JIKMU 7442 14632 1 SM

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Pasien Diabetes Melitus pada Praktek Dokter Keluarga di Kota Tomohon | Tombokan | JIKMU 7442 14632 1 SM

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di 6 praktik dokter keluarga di Kota Tomohon, mulai bulan Maret 2014 sampai April 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien DM peserta BPJS Kesehatan yang berobat di praktik dokter keluarga di kota Tomohon. Sampel yang digunakan adalah sebanyak 96 responden. Variabel bebas ialah Pengetahuan, Pendidikan, Sikap, dan Motivasi sedangkan variabel terikat adalah kepatuhan berobat DM. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk kuasioner yang di buat sendiri dengan mengacu pada kerangka teori dan kerangka konsep. Kuasioner berisi daftar pertanyaan atau pernyataan mengenai pengetahuan, pendidikan, sikap dan motivasi, untuk kepatuhan pasien DM diobservasi melalui dokumen catatan medik pasien. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara dan
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TB PARU DI RS PARU JEMBER

HUBUNGAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TB PARU DI RS PARU JEMBER

Terdapat peningkatan jumlah pasien TB (Tuberkulosis) paru yang terus meningkat dari tahun ke tahun di Indonesia. Meningkatnya prevalensi TB paru berhubungan dengan berbagai faktor, diantaranya yaitu kemiskinan negara berkembang, perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dan perubahan struktur umur kependudukan. Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti berusaha mencari tahu hubungan karakteristik demografi dengan kepatuhan berobat pasien TB paru di RS Paru Jember. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan tindakan pencegahan atau penanganan yang lebih efektif dalm upaya menurunkan angka insidensi TB paru.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Berobat Pasien Yang Diterapi Dengan Tamoxifen Setelah Operasi Kanker Payudara

Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Berobat Pasien Yang Diterapi Dengan Tamoxifen Setelah Operasi Kanker Payudara

Faktor sosial ekonomi berperan dalam kepatuhan berobat pasien, semakin rendah sosial ekonomi seseorang semakin tidak patuh untuk berobat. Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna antara pendapatan keluarga dengan kepatuhan berobat pasien (p < 0,05). Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Timothy L.Lash dimana didapatkan pasien dengan pendapatan tinggi yang banyak berhenti menggunakan tamoxifen. (11) Hal ini disebabkan oleh bermacam faktor seperti perbedaan jumlah sampel, rumah sakit tempat pengobatan dan perbedaan sosial ekonomi negara.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Kepatuhan berobat penderita hipertensi dewasa madya.

Kepatuhan berobat penderita hipertensi dewasa madya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kepatuhan berobat penderita hipertensi dewasa madya dan untuk mengetahui faktor-faktor kepatuhan berobat penderita hipertensi dewasa madya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara yang dilakukan kepada subjek dan significant other dan didukung oleh dokumentasi. Subjek penelitian yaitu 3 orang penderita hipertensi usia dewasa madya yaitu usia antara 40-60 tahun. Kepatuhan dalam berobat oleh ketiga subjek dalam penelitian ini cukup beragam. Pilihan dan tujuan pengaturan, perencanaan pengobatan atau perawatan dan pelaksanaan aturan hidup. Hasil penelitian menunjukkan gambaran kepatuhan pada ketiga subjek adalah dengan mematuhi dengan penuh suka rela atas perintah dokter yaitu pengobatan secara farmakologi maupun non farmakologi. Pengobatan scara farmakologi adalah mengkonsumsi obat anti hipetensi dan cek up rutin sesuai dengan anjuran dokter. Sedangkan pengobatan secara non farmakologi adalah pengobatan yang dilakukan dengan cara menghentikan merokok, mengurangi berat badan, menghindari alkohol, serta melakukan aktifitas fisik dan membatasi asupan garam. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat penderita hipertensi dewasa madya adalah karakteristik individu, ciri kesakitan dan ciri pengobatan, variabel-variabel sosial, persepsi dan pengharapan pasien dan komunikasi antara pasien dan dokter.
Baca lebih lanjut

144 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU PENcEGAHAN DAN KEPATUHAN BERoBAT PENDERITA TB DI INDoNESIA

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU PENcEGAHAN DAN KEPATUHAN BERoBAT PENDERITA TB DI INDoNESIA

latar belakang: Indonesia sebagai negara ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita tuberculosis (TB) setelah India dan Cina. Salah satu masalah besar dalam penanggulangan TB adalah tingkat kepatuhan berobat penderita yang masih rendah. Tujuan dari penelitian ii adalah untuk mengetahui hubungan antara perilaku pencegahan penyakit TB dengan kepatuhan berobat penderita TB di Indonesia. Metode: Data digali dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010. Data didisain untuk mewakili Provinsi. Disain penelitian adalah potong lintang (cross sectional). Populasi adalah seluruh responden Riskesdas 2010, sedang sampelnya dipilih yang berumur ≥ 15 tahun dengan mempunyai penyakit TB paru, dikhususkan ≥ 15 tahun dengan mempunyai penyakit TB paru, dikhususkan yang menerima obat dan pengobatan dari fasilitas kesehatan. Wawancara dilaksanakan oleh pewawancara terlatih. Data diolah dengan menggunakan SPSS versi 15. Hasil: Responden perilaku menjemur kasur salah mempunyai risiko tidak patuh berobat sebesar 1,64 dibanding dengan responden yang berperilaku benar (OR = 1.64; P = 0.001; confidence interval (OR = 1.64; P = 0.001; confidence interval (CI)=1.21-2.22). Sedangkan,variable pendidikan rendah mempunyai risiko tidak patuh berobat sebesar 1,62 dibanding Sedangkan,variable pendidikan rendah mempunyai risiko tidak patuh berobat sebesar 1,62 dibanding responden yang berpendidikan tinggi (OR = 1.62; P = 0.005; confidence interval (CI) = 1.15-2.27). (OR = 1.62; P = 0.005; confidence interval (CI) = 1.15-2.27). kesimpulan: Dengan menggunakan data yang lebih update menunjukkan bahwa kepatuhan berobat pendertita TB paru akan kelihatan bermakna dalam hubungannya antara kepatuhan berobat dengan tingkat pendidikan dan perilaku menjemur kasur.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Jurnal Care Vol. 3, No. 2, Tahun 2015 PENGETAHUAN PASIEN TUBERCULOSIS BERIMPLIKASI TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT

Jurnal Care Vol. 3, No. 2, Tahun 2015 PENGETAHUAN PASIEN TUBERCULOSIS BERIMPLIKASI TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT

diterima dengan nilai signifikansi p(value) 0.002 lebih kecil dari alpha 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara hubungan pengetahuan pasien Tuberculosis dengan kepatuhan berobat di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pasek dan Satyawan (2013) yang berjudul Hubungan Persepsi dan Tingkat Pengetahuan Penderita TB dengan Kepatuhan Pengobatan di Kecamatan Buleleng diperoleh hasil uji regresi logistik mengenai hubungan pengetahuan dan kepatuhan pengobatan TB didapatkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan pengobatan. Penderita TB yang memiliki tingkat pengetahuan baik mengenai TB memiliki kemungkinan untuk patuh dalam pengobatan 19,71 kali lebih besar dari pada penderita TB yang memiliki pengetahuan tidak baik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 4548 documents...