Kerapatan Adat Nagari

Top PDF Kerapatan Adat Nagari:

Peran Kerapatan Adat Nagari ( Kan ) Dalam Pembangunan Nagari  ( Studi  Pada Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten   Tanah Datar )

Peran Kerapatan Adat Nagari ( Kan ) Dalam Pembangunan Nagari ( Studi Pada Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar )

Pembangunan desa merupakan bagian penting dari pembangunan nasional, mengingat kawasan pedesaan masih dominan dan lebih setengah penduduk Indonesia masih tinggal di kawasan pedesaan. Kelembagaan lokal merupakan salah satu elemen penting dalam pembangunan desa. Tanpa adanya kelembagaan lokal, infrastruktur tidak akan dapat dibangun atau dipertahankan. Jasa pelayanan masyarakat tidak dapat dilakukan secara maksimal dan pemerintah tidak akan dapat memelihara atau mempertahankan arus informasi yang dibutuhkan masyarakat. Di Sumatera Barat desa disebut dengan istilah Nagari. Nagari merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara kesatuan Republik Indonesia. Kerapatan Adat Nagari ( KAN ) merupakan lembaga kerapatan Niniak Mamak pemangku adat yang telah ada dan diwarisi secara turun-temurun sepanjang adat yang berlaku dimasing- masing Nagari dan merupakan lembaga tertinggi dalam penyelenggeraan adat di Nagari. Pembangunan Nagari merupakan pembangunan untuk meningkatkan ekonomi,sosial dan politik masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan. Pembangunan di Nagari tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah Nagari tetapi juga dilakukan oleh Kerapatan Adat Nagari ( KAN ).
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

PERAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT DI PROVINSI SUMATRA BARAT DITINJAU DARI PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATRA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2008 TENTANG TANAH ULAYAT.

PERAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT DI PROVINSI SUMATRA BARAT DITINJAU DARI PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATRA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2008 TENTANG TANAH ULAYAT.

Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi yang masyarakatnya tidak jarang menghadapi permasalahan hukum dalam bidang pertanahan. Hal ini dilatarbelakangi oleh perkembangan kabupaten/kota yang semakin maju yang mengakibatkan kebutuhan akan tanah mengalami peningkatan luar biasa. Penyelesaian sengketa tanah ulayat di Minangkabau di selesaikan melalui lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN). Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dan menganalisis Peran Kerapatan Adat Nagari dalam proses penyelesaian sengketa tanah ulayat dan Kekuatan hukum putusan Kerapatan Adat Nagari provinsi Sumatra Barat.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Nagari Sebagai Pranata Penyelesaian Konflik : Suatu Kajian Tentang Kerapatan Adat Nagari (Kan) di Nagari Ketaping, Pariaman, Sumatra Barat

Nagari Sebagai Pranata Penyelesaian Konflik : Suatu Kajian Tentang Kerapatan Adat Nagari (Kan) di Nagari Ketaping, Pariaman, Sumatra Barat

Abstrak – Studi ini menganalisa mengenai upaya pencegahan konflik tanah ulayat oleh Kerapatan Adat Nagari di Nagari Ketaping Kabupaten Padang Pariaman. Nagari Ketaping merupakan wilayah berkembang yang memiliki potensi konflik tanah ulayat, dimana tanah ulayat bagi masyarakat Minangkabau merupakan pengikat bagi kaum dan identitas. Terjadinya konflik tanah ulayat di wilayah ini tidak menutup kemungkinan terjadinya potensi konflik yang berakhir pada krisis. Konflik yang disebabkan oleh konflik tanah ulayat pernah terjadi di wilayah ini, akan tetapi tingkat eskalasi konflik di wilayah ini tidak tinggi, meskipun berada di wilayah konflik. Studi ini dianalisis menggunakan Kerangka Dinamis Pencegahan dan Resolusi Konflik untuk menganalisa upaya pencegahan konflik tanah ulayat serta kerja sama KAN dan pemerintah. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan deskriptif analisis dengan pengambilan data menggunakan teknik wawancara, observasi, penelitian lapangan dan studi pustaka yang melibatkan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan pemerintah serta masyarakat setempat dan niniak mamak. Dari hasil studi didapatkan bahwa rendahnya eskalasi konflik di Nagari Ketaping ini karena adanya upaya pencegahan konflik tanah ulayat oleh Kerapatan Adat Nagari dengan menggunakan kerangka penyelesaian konflik tanah ulayat sehingga pencegahan konflik dapat dilakukan. Selain itu dengan adanya pengoptimalan berlakunya hukum adat yang merupakan kearifan lokal yang dimiliki oleh Nagari Ketaping dan sinergitas yang baik dari pemerintah dengan KAN menyebabkan Nagari tingkat konflik di Nagari ini rendah.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

PELATIHAN PERANGKAT KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK HUKUM (PIDANA) DI KENAGARIAN BATAGAK , KECAMATAN SUNGAI PUAR, KABUPATEN AGAM.

PELATIHAN PERANGKAT KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK HUKUM (PIDANA) DI KENAGARIAN BATAGAK , KECAMATAN SUNGAI PUAR, KABUPATEN AGAM.

Dalam kehidupan bermasyarakat sering terjadi konflik di antara individu angggota masyarakat, maupun antara individu dengan kelompoknya. Konflik tersebut diselesaikan melalui mekanisme yang telah disepakati sebelumnya, di antaranya melalui mekanisme penegakan hukum. Konflik hukum pidana diselesaikan dengan mekanisme sistem peradilan pidana, tetapi mekanisme ini, karena berbagai faktor, kurang mengakomodasi kepentingan pihak korban. Oleh karena itu perlu dipikirkan cara penyelesaian konflik hukum pidana, yang lebih berorientasi kepada pemulihan keseimbangan yang terdapat dalam masyarakat, dengan mengakomodir kepentingan semua pihak yang terkait. Pengadilan adat yang merupakan salah satu fungsi dari Kerapatan Adat Nagari, dapat berperan untuk menyelesaikan konflik hukum pidana, dengan tujuan pemulihan keseimbangan tersebut.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PERANAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA TANAH PUSAKO DI KENAGARIAN AMPANG GADANG DITINJAU DARI PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 5 TAHUN.

PERANAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA TANAH PUSAKO DI KENAGARIAN AMPANG GADANG DITINJAU DARI PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 5 TAHUN.

Tanah merupakan benda tidak bergerak yang memiliki nilai fungsi dalam menunjang kehidupan manusia. Permasalahan tanah yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Minangkabau disebabkan oleh tanah sebagai faktor penting dalam sistem keturunan matrilineal yang dianut oleh Minangkabau. Sengketa adat yang seringkali terjadi di Minangkabau adalah mengenai sengketa tanah khususnya tanah ulayat atau tanah pusako. Sengketa adat diselesaikan secara adat pula melalui lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN). Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dan menganalisis peranan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam menyelesaikan sengketa tanah pusako di Kenagarian Ampang Gadang dan perlindungan hukum bagi pihak yang bersengketa terhadap putusan KAN Ampang Gadang.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Tugas Dan Fungsi Kerapatan Adat Nagari (KAN) Dalam Menyelesaikan Sengketa Tanah Adat Di Kabupaten...

Tugas Dan Fungsi Kerapatan Adat Nagari (KAN) Dalam Menyelesaikan Sengketa Tanah Adat Di Kabupaten...

This research is based on the existence of KAN with the function as Tradition Court Institution accorded to the available culture at West Sumatera before the coming of Detach. By the issuance of Regional Regulation Number 13 of 1983, such as available tradition court is more empowered. One of the functions of KAN is too resolute the community land tradition dispute. In the case of development, community land in fact is used for development. Pasaman is one of potential regions for palm –oil plantation. After reformation era, it roused many problems and even some granddaughters and grandsons claim that they will be given plasma and also ninik mamak claiming that their community land should be returned and investor party should fulfill tradition regulation, namely adat libago dituang which must be submitted for nagari. Due to the problem occurs, then according to tradition rule and regulation of Minangkabau, such as problems will be handled through KAN, that is Regional Regulation No. 13 of 1983.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PDF ini THE ROLE OF LOCAL CUSTOMARY ASSOCIATION (KAN) IN THE RESOLUTION OF CUSTOMARY LAND DISPUTE (Case Study at Kinali Vilage and Lingkuang Aua, West Pasaman Regency) | . | 1 PB

PDF ini THE ROLE OF LOCAL CUSTOMARY ASSOCIATION (KAN) IN THE RESOLUTION OF CUSTOMARY LAND DISPUTE (Case Study at Kinali Vilage and Lingkuang Aua, West Pasaman Regency) | . | 1 PB

Penelitian bertujuan menganalisis peranan KAN dalam menyelesaikan sengketa tanah adat dan sekaligus mengetahui hambatan yang menyebabkan tidak optimalnya peranan KAN dalam menyelesaikan sengketa dan mengetahui usaha-usaha yang ditempuh KAN dan Pemerintah dalam meningkatkan peranan KAN. Penelitian ini adalah penelitian yuridis sosiologis (Social-Legal Research) berupa penelitian membuktikan hasil penelitian di lapangan dengan teori yang ada. Pendekatan ini dilakukan guna memperoleh data sekunder di bidang Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan untuk melengkapi literature hokum adat. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pengurus KAN di Kenagarian Kinali dan Lingkuang Aua Kabupaten Pasaman Barat. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa pembentukan Kerapatan Adat Nagari sejak 1983 sampai 2011 di KInali mulai berperan menyelesaikan sengketa tanah adat Masyarakat mulai percaya dengan eksistensi Kerapatan Adat Nagari, karena sebelumnya KAN masih bermasalah karena terlibat dalam menjual tanah adat dan mendapatkan keuntungan. Keberadaan perusahaan di Kinali sebagai investor ditentukan oleh KAN seperti di Nagari Lingkung Aua. Hambatan yang ditemui oleh Kerapatan Adat Nagari Kinali dalam menjalankan perannya selain dari luar, juga dari dalam organisasi KAN itu sendiri. Peranan pemerintah terhadap eksistensi KAN mulai diatur dalam kebijakan undang-undang yang lebih menfungsikan lembaga–lembaga adat yang ada di nagari termasuk meningkatkan kinerja pengurus KAN kedepannya. Dalam rangka meningkatkan kemampuan KAN disarankan Pemerintahan dan Pengurus KAN membangun program pendidikan hukum adat dan penyelesaian sengketa tanah adat.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

BAB IV PENYEBAB TERJADINYA SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMATERA BARAT A. Pengertian Harta Pusako Tinggi - PENYELESAIAN SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI STUDI KASUS MENURUT HUKUM ADAT MINANGKABAU DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMAT

BAB IV PENYEBAB TERJADINYA SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMATERA BARAT A. Pengertian Harta Pusako Tinggi - PENYELESAIAN SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI STUDI KASUS MENURUT HUKUM ADAT MINANGKABAU DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMAT

Tugas dan peranan Kerapatan Adat Nagari tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 2 tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari yang berbunyi bahwa Kerapatan Adat Nagari yang selanjutnya disebut KAN adalah Lembaga Kerapatan dari Ninik Mamak yang telah ada dan diwarisi secara turun temurun sepanjang adat dan berfungsi memelihara kelestarian adat serta menyelesaian perselisihan sako dan pusako. Dalam penyelesaian sengketa sako jo pusako Kerapatan Adat Nagari Tapan mengenal istilah bajanjang naiak batanggo turun (berjenjang naik bertangga turun) yaitu menyelesaikan suatu sengketa mulai dari tingkat paling bawah.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

J U R N A L H U K U M A C A R A P E R D ATA

J U R N A L H U K U M A C A R A P E R D ATA

Sengketa tanah ulayat di Minangkabau ditemukan dalam anggota paruik atau kaum akibat pembagian “gangam bauntuak” terhadap anggota kaum yang tidak merata oleh mamak kepala waris . Disamping itu juga terjadi sengketa antar kaum dikarenakan batas sepadan tanah yang kurang jelas sehinga kaum yang satu menggarap milik kaum yang lain dengan cara memindahkan batas tanah yang telah ditetapkan oleh mamak kepala kaum dan sengketa antar paruik dengan suku, sengketa tanah ulayat antar suku dan antar suku dengan nagari. Penyelesaian sengketa tanah ulayat di Minangkabau adalah “bajanjang naik batango turun”. Bajanjang naik maksudnya setiap persengketaan diselesaikan melalui proses lembaga adat pada tingkat yang paling rendah yaitu oleh mamak kaum. Apabila tidak memperoleh kesepakatan , maka penyelesaian sengketa diteruskan ke tingkat kampung yaitu oleh mamak dalam kampung. Begitu seterusnya hingga ke tingkat yang lebih tinggi yatu oleh kepala suku dan penghulu dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN). Batanggo Turun artinya hasil musyawarah atau atau hasil penyelesaian sengketa oleh ninik mamak atau orang yang dituakan dalam adat diharapkan akan dipatuhi oleh pihak-pihak yang berperkara. Teknik penyelesaian sengketa oleh lembaga adat yang ada di Minangkabau mulai dari lembaga yang lebi rendah yaitu oleh mamak separuik atau mamak kepala waris sampai ke tingkat yang lebih tinggi yatu oleh Kerapatan Adat Nagari adalah secara musyawarah dan mufakat serta mengutamakan rasa keadilan. Penyelesaian sengketa tanah ulayat melalui lembaga adat jauh lebih efektif dibanding penyelesaiannya melalui pengadilan negeri. Hal ini dikarenakan anggota kaum lebih menghormati orang yang dituakan dalam kaumnya yaitu mamak pemimpin kaum atau mamak kepala waris.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Dampak Perubahan Lokasi Pasar Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat Di Nagari Muaralabuh Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan.

Dampak Perubahan Lokasi Pasar Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat Di Nagari Muaralabuh Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan.

Pasar nagari adalah sebuah pasar yang berdiri di sebidang tanah ulayat nagari. Pasar yang memanfaatkan tanah ulayat nagari sebagai lokasi pasar harus di bawah pengawasan Kerapatan Adat Nagari yang terdiri dari pada penghulu pemimpin suku (Effendi, 2001: 11) dan merupakan tempat transaksi dan ajang pertemuan antara penjual dan pembeli, antara penjual dengan penjual serta pembeli dengan pembeli. Selain itu pasar nagari juga merupakan arena tawar menawar barang dan jasa, sebagai pusat komunikasi, sumber isu–isu hangat yang sedang dibicarakan masyarakat, tempat pertemuan sosial dan tempat pertukaran informasi. Dengan melihat betapa kompleksnya keberadaan suatu pasar sehingga memunculkan kesetiakawanan dan saling ketergantungan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENYELESAIAN SENGKETA TANAH PUSAKO TINGGI DI NAGARI TIKU KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM.

PENYELESAIAN SENGKETA TANAH PUSAKO TINGGI DI NAGARI TIKU KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM.

Harta pusaka dalam kekerabatan dalam matrilineal tidak dapat dibagi- bagikan kepada orang-perorangan karena harta tersebut akan tetap berada dalam suatu kaum. Namun dalam pelaksanaannya, masalah harta pusaka ini khususnya harta pusaka tinggi seringkali membawa sengketa dalam suatu kaum atau suku yang dikarenakan beberapa hal, sehingga sengketa tersebut diselesaikan melalui kerapatan adat nagari (KAN) ataupun mungkin berlanjut ke Pengadilan Negeri.

14 Baca lebih lajut

PT  BUN %26 Globalisasi1

PT BUN %26 Globalisasi1

Seperti dkemukakan di atas, bahwa PT BUN ini bertujuan untuk memperkuat ekonomi anak nagari. Maka bidang usaha PT BUN ini terutama adalah memasarkan produksi anak nagari, terutama produk andalan. Karena itu bidang usaha utamanya adalah perdagangan. Maka setelah PT terbentuk, kegiatan pertama yang dilakukan adalah membeli truk sebagai alat transportasi. Kemudian PT BUN mencari anak nagari yang dirantau untuk ditunjuk sebagai distributor di tempatnya merantau. Produk anak nagari yang cocok, tentu dengan kualitas tertentu, dibeli oleh PT BUN untuk dikirim ke distributor di tempat tujuan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pembuatan Surat Keterangan Tanah Adat SK

Pembuatan Surat Keterangan Tanah Adat SK

Kebijakan Pemerintah Provinsi dengan menetapkan Perda Provinsi Kalimantan Tengah No. 16/2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah dan Pergub Kalimantan Tengah No. 13/2009 Jo Pergub Provinsi Kalimantan Tengah No. 4/2012 tentang Tanah Adat dan Hak-hak Adat di Atas Tanah di Provinsi Kalimantan Tengah sangatlah tepat untuk kondisi Kalimantan Tengah saat ini. Tanah adat yang diolah dan dikuasai masyarakat adat selama ini, secara yuridis, menjadi memiliki sandaran hukum tertulis. Dalam Perda tersebut sangat jelas peranan para Damang Kepala Adat dan para Mantir, sebagai ujung tombak pelaksanaan berbagai perundangan tentang tanah adat tersebut. Untuk memberikan kemudahan dalam melaksanakan tugas tersebut, tentunya memerlukan petunjuk praktis tentang tata cara pengurusan tanah adat berdasarkan berbagai perundangan tersebut di atas. Terbitnya Panduan Pembuatan Surat Keterangan Tanah Adat (SKT-A) dan Hak-hak di Atas Tanah akan sangat membantu para Damang Kepala Adat dan para Mantir serta perangkat pemerintah daerah lainnya untuk mengurus registrasi tanah adat berdasarkan perundangan tentang tanah adat di atas.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

ANTARA NILAI DEMOKRASI MODERN DAN DEMOKRASI LOKAL: DILEMA PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DI SUMATERA BARAT.

ANTARA NILAI DEMOKRASI MODERN DAN DEMOKRASI LOKAL: DILEMA PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DI SUMATERA BARAT.

Praktik demokrasi lokal pada masa Orde Reformasi ternyata mendatangkan masalah dalam kehidupan masyarakat lokal. Masalah itu bermula dari kebijakan pemerintah pusat ketika mengakomodasi sistem sosiobudaya lokal dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah sebagai bentuk pengakuan terhadap hak masyarakat lokal. Namun, dalam pelaksanaan otonomi daerah tersebut, pemerintah pusat juga mendorong masyarakat lokal melaksanakan sistem demokrasi modern. Penggabungan kedua sistem nilai yang ada dalam pelaksanaan demokrasi tersebut membawa dampak bagi bagi masyarakat lokal, khususnya etnik Minangkabau di daerah Sumatera Barat. Etnik Minangkabau memiliki sistem sosiobudaya lokal yang mencerminkan nilai demokrasi lokal yang diwariskan secara turun temurun, terutama di nagari. Akan tetapi, dengan dilaksanakan sistem demokrasi modern melalui penyelenggaraan otonomi daerah, nilai lokal tersebut mulai bergeser dan bahkan hilang dari kebiasaan etnik Minangkabau dalam melaksanakan demokrasi tersebut. Artikel ini membahas pelaksanaan demokrasi lokal yang dilatabelakangi oleh proses modernisasi sistem politik lokal. Dalam artikel ini ditemukan adanya tiga model hubungan nilai dalam praktik demokrasi modern dengan demokasi lokal, yaitu model demokrasi yang saling menguatkan (mutual existing), model yang mendominasi di antara keduanya (positive asymmetrical dan negative asymmetrical), dan model yang saling bertolak belakang (diametrical).
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Peran Badan Permusyawaratan Nagari dalam Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nagari baringin Tahun 2015-2020

Peran Badan Permusyawaratan Nagari dalam Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nagari baringin Tahun 2015-2020

Keanggotan LMD berbeda dengan keanggotaan BPAN (sebelum menjadi Badan Permusyawaratan Nagari dahulu bernama Badan Perwakilan Anak Nagari / BPAN). Keanggotaan BPAN dipilih dari unsur Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang (wakil dari tokoh-tokoh perempuan Minangkabau), utusan Jorong serta utusan pemuda. Keanggotaan BPAN diresmikan secara administratif dengan keputusan Bupati. BPAN juga merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila sebagai mitra pemerintahan nagari. Peraturan Daerah sumatera Barat Nomor 9 tahun 2000 Tentang Ketentuan Pokok Pemerintahan Nagari dapat disimpulkan bahwa BPAN mempunyai kedudukan yang penting dan berbeda dengan LMD. Pertanggungjawaban Wali Nagari dapat diminta melalui BPAN dan BPAN dapat melakukan fungsi pengawasan dalam pelaksanaan pemerintahan nagari. Ini berbeda dengan LMD, yaitu tidak mempunyai peran yang vital dalam hal keputusan desa dan Kepala Desa hanya menyampaikan keterangan pertanggungjawaban kepada LMD.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Arus Balik Baliak Ka Nagari Antara Fakta

Arus Balik Baliak Ka Nagari Antara Fakta

Menemukan kembali nagari dalam formatnya sebagai desa adat menghadapi tiga tantangan, yaitu; Pertama, hibridasi nagari dualistik memungkinkan terjadi dengan adanya pengaturan lembaga adat dalam UU Desa. Dalam format ini, nagari tidak perlu menjadi desa adat penuh, namun cukup adat sebagai penanda atas pengaruhnya terhadap pemerintah desa (Vel dan Bedner 2016). Akibatnya, dualisme kelembagaan adat - pemerintah nagari dan pemisahaan wilayah nagari adat - wilayah nagari administratif potensial diadopsi kembali. Kedua, sistem pendanaan alokasi dana desa berbasis unit-unit desa memancing kembali nagari dalam format dualistik. Kecenderungan tersebut terlihat dalam wacana- wacana dari pengambil-pengambil kebijakan dari level provinsi sampai dengan kabupaten/kota dan mandeknya pembahasan raperda baru nagari di level Provinsi. Ketiga, Penataan nagari dan wilayah adat dalam rangka desa adat yang memotong wilayah administrasi kabupaten/kota. Pasal 101 UU Desa menyebutkan bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah provinsi dapat terlibat dalam penataan desa adat. Pasal ini bisa menjadi dasar hukum untuk mendorong penataan wilayah adat dalam rangka desa adat oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi untuk mengkaji ulang batas wilayah administrasi kabupaten/ kota yang tumpang tindih dengan wilayah adat. Secara formil hal ini memungkinkan, namun secara implementatif akan dibenturkan pada sektoralisme urusan pemerintahan dan dinamika politik daerah dan nasional untuk perubahan batas-batas administrasi kabupaten/kota.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 6946 documents...