Kerentanan bencana

Top PDF Kerentanan bencana:

TINGKAT KERENTANAN BENCANA LETUSAN GUNUNGAPI GALUNGGUNG DI KABUPATEN TASIKMALAYA.

TINGKAT KERENTANAN BENCANA LETUSAN GUNUNGAPI GALUNGGUNG DI KABUPATEN TASIKMALAYA.

Gunung Galunggung merupakan satu-satunya gunungapi yang ada di Kabupaten Tasikmalaya. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1982, dan masih sangat berpotensi meletus kembali. Kondisi tersebut menyebabkan penduduk yang tinggal di kawasan Gunung Galunggung terancam. Untuk meminimalisir dampak dari bencana tersebut perlu dilakukan pengkajian resiko bencana salah satunya dengan mengetahui tingkat kerentanan wilayah tersebut, hal ini berkaitan dengan usaha mitigasi yang tepat untuk mengurangi dampak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kerentanan bencana letusan Gunung Galunggung, yang terdiri dari indikator kerentanan fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, karena data yang diperoleh dideskripsikan dan dianalisis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari instansi-instansi yang berkaitan dengan melakukan observasi dan dokumentasi langsung di lapangan. Indikator dari kerentanan fisik terdiri dari rumah, fasilitas umum, dan fasilitas kritis, untuk indikator kerentanan sosial adalah kepadatan penduduk dan rasio kelompok penduduk rentan, untuk indikator kerentanan ekonomi adalah lahan produktif dan PDRB sementara untuk indikator kerentanan lingkungan adalah luas hutan pada wilayah kajian. Keempat indikator kerentanan tersebut dianalisis dengan mengacu kepada skoring dan pembobotan dalam Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No.12 Tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan kawasan rawan bencana Gunung Galunggung memiliki nilai indeks kerentanan yang tinggi, yaitu Desa Sukaratu 0,808, Desa Sinagar 0,779, Desa Linggajati 0,700, Desa Mekarjaya adalah 0,842 dan Desa Cisaruni adalah 0,828. Peta kerentanan tersebut kemudian dioverlay dengan peta ancaman yang menghasilkan kesimpulan Desa Linggajati, Desa Sinagar dan Desa Sukaratu adalah desa dengan tingkat kerentanan dan ancaman yang tinggi, kemudian dapat diketahui bagian tenggara Desa Sinagar dan Desa Sukaratu memiliki tingkat ancaman sedang, serta Desa Mekarjaya dan Desa Cisaruni memiliki tingkat ancaman sedang. Hal itu menunjukkan potensi kerugian dan korban jiwa terhadap ancaman yang ada tinggi, sehingga upaya mitigasi yang tepat sangat diperlukan untuk mengurangi dampak bencana letusan Gunung Galunggung.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

ANALISIS KERENTANAN BENCANA LETUSAN GUNUNGAPI CEREMAI DI KECAMATAN CILIMUS KABUPATEN KUNINGAN.

ANALISIS KERENTANAN BENCANA LETUSAN GUNUNGAPI CEREMAI DI KECAMATAN CILIMUS KABUPATEN KUNINGAN.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, kerana data yang digunakan bersumber dari data primer dan data sekunder. Indikator dalam penelitian ini yaitu kerentanan fisik bangunan yang terdiri dari kawasan terbangun, kawasan pertanian dan kepadatan bangunan. Kerentanan sosial kependudukan yang terdiri dari kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, penduduk perempuan, kelompok masyarakat rentan. Kerentanan ekonomi yang terdiri penduduk miskin atau keluarga pra sejahtera dan pekerja di bidang pertanian. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik survey, sedangkan untuk menghitung tingkat kerentanan bencana menggunakan teknik analisis nilai baku dari setiap indikator kerentanan.
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

TINGKAT KERENTANAN BENCANA BANJIR SUNGAI CITARUM DI KECAMATAN BATUJAYA KABUPATEN KARAWANG.

TINGKAT KERENTANAN BENCANA BANJIR SUNGAI CITARUM DI KECAMATAN BATUJAYA KABUPATEN KARAWANG.

Kecamatan Batujaya Kabupaten Karawang berdasarkan lokasi geografis berada di wilayah hilir Sungai Citarum, merupakan kawasan dengan tingkat ancaman tinggi terhadap bencana banjir khususnya yang disebabkan oleh luapan Sungai Citarum, sehingga bencana banjir sering terjadi di wilayah tersebut pada setiap tahunnya. Dampak dari bencana banjir dipastikan dapat menimbulkan kerugian fisik dan non fisik di wilayah Kecamatan Batujaya. Masalahnya adalah berapa jumlah besarnya dampak yang akan dihasilkan dari bencana banjir Sungai Citarum di Kecamatan Batujaya. Tujuan penelitian ini untuk menentukan indeks kerugian, indeks penduduk terpapar, dan menghasilkan peta tingkat kerentanan bencana banjir Sungai Citarum di Kecamatan Batujaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif dengan pendekatan keruangan. Penelitian ini menggunakan variabel tunggal yang terdiri dari Indeks Penduduk Terpapar dan Indeks Kerugian Bencana Banjir Sungai Citarum Kecamatan Batujaya. Populasi dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu populasi penduduk dan pupulasi wilayah Kecamatan Batujaya. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan sampel jenuh. Data yang digunakan merupakan data sekunder dan data primer (dari hasil observasi) dengan menggunakan teknik analisis data berupa analisis indeks. Hasil dari penelitian ini Kecamatan Batujaya merupakan wilayah yang memiliki indeks kerugian tinggi 0,4 – 0,6 terhadap tingkat kerentanan bencana banjir Sungai Citarum yaitu apabila terjadi banjir maka lebih dari 67 % nilai aset yang dimiliki wilayah tersebut akan mengalami kerugian. Kelas indeks penduduk terpapar dari sepuluh desa, sembilan desa masuk kedalam kelas tinggi dan satu masuk kedalam kelas sedang. Peta kerentanan bencana banjir Sungai Citarum yang masuk kelas tinggi merupakan kawasan pemukiman pada wilayah administratif yang memiliki nilai indeks kelas penduduk terpapar tinggi dan berada di wilayah dengan ketinggian kurang dari dua meter diatas permukaan laut. Rekomendasi dari hasil penelitian ini yaitu Kecamatan Batujaya berdasarkan tingkat kerentanan termasuk kedalam kelas tinggi, sehingga harus meningkatkan kapasitas terhadap potensi bencana banjir berupa respon penduduk terhadap Bencana Banjir Sungai Citarum.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

KERENTANAN BENCANA TSUNAMI DI PANTAI BARAT KABUPATEN PANDEGLANG.

KERENTANAN BENCANA TSUNAMI DI PANTAI BARAT KABUPATEN PANDEGLANG.

Wilayah penelitian secara geografis terletak di pantai barat Kabupaten Pandeglang, yang secara letak sudah menunjukan bahwa rawan akan terjadinya bencana tsunami, terlebih lagi permasalahnnya yaitu wilayah penelitian sangat dekat dengan gunung krakata atau masyarakat sekitar menyebutnya dengan anak gunung krakatau, yang waktu tahun 1883 gunung krakatu meletus dan menimbulkan gelombang besar yang disebut tsunami yang menyebabkan ribuan korban jiwa penduduk disekitar dan kerusakan bangunan di wilayah sekitar pantai barat Kabupaten Pandeglang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menentukan tingkat kerentanan sosial, tingkat kerentanan ekonomi, tingkat kerentanan fisik, tingkat kerentanan lingkungan, dan peta kerentanan sosial. Selain kerentanan, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi materi kerentanan tsunami diajarkan di sekolah SMA dalam mata pelajaran geogrfai berdasarkan kurikulum 2013. Metode pada penelitian ini menggunakan metode desktiptif dengan pendekatan keruangan. Penelitian ini menggunakan satu variabel yang terdiri dari kepadatan penduduk, rasio jenis kelamin, kemiskinana, rasio orang cacat, rasio kelompok umur, lahan produktif dan PDRB, rumah, fasilitas umum dan fasilitas kritis, hutan alam, dan hutan mangrove/bakau. Populasi yang kerentanan lingkungan digunakan dalam penelitian ini yaitu populasi penduduk dan populasi wilayah di pantai barat Kabupaten Pandeglang. Sampel yang digunakan merupakan sampel jenuh. Hasil penelitian ini yaitu untuk kerentanan sosial memiliki kelas rendah, untuk kerentanan ekonomo memiliki kelas sedang, rendah dan kelas tinggi, untuk kerentanan fisik memiliki kelas sedang dan tinggi, untuk kerentanan lingkungan memeiliki kelas rendah, dan memiliki peta tingkat kerentanan bencana tsunami di pantai barat Kabupaten Pandeglang. Untuk implementasi kerentanan tsunami disekolah materi kerentanan tsunami berdasarkan kurikulum 2013 belum ada sub materi jadi tidak diajarkan disekolah SMA. Berdasarkan hasil penelitian rekomendasi yaitu untuk meningkatkan Tingkat Resiko Bencana yang hasilnya bisa digunakan untuk menyusun aksi praktis dalam rangka kesiapsiagaan, seperti menyusun rencana dan jalur evakuasi, pengambilan keputusan daerah tempat tinggal dan sebagainya agar dapat mengurangi resiko bencana tsunami di pantai barat Kabupaten Pandeglang. Kata Kunci : Kerentanan, Bencana Tsunami
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Pemetaan Kerentanan Bencana Tsunami di K (1)

Pemetaan Kerentanan Bencana Tsunami di K (1)

Kawasan pantai selatan Yogyakarta secara tektonik merupakan salah satu daerah dengan seismisitas tinggi dan aktif. Aktivitas seismisitas di kawasan ini dapat menyebabkan gempa bumi dan potensi tsunami, yang dapat berkembang menjadi bencana alam. Perairan pantai selatan Yogyakarta termasuk wilayah dengan pantai terbuka (open sea) dengan pantainya yang berhadapan dengan Samudra Hindia. Tsunami merupakan bencana yang belum bisa diprediksi kapan terjadinya bencana tersebut datang. Sebelum tsunami terjadi dimasa yang akan datang, yang dapat dilakukan adalah mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh tsunami melalui mitigasi. Salah satu cara untuk mendukung mitigasi bencana terhadap tsunami adalah dengan memetakkan tingkat kerentanan bencana tsunami di pesisir Kabupaten Bantul berupa peta tingkat rawan bencana tsunami di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang selanjutnya dapat dijadikan acuan dalam menentukan jalur evakuasi untuk meminimalisir korban akibat bencana tsunami.
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

INDEKS KERENTANAN BENCANA TSUNAMI DAN GE

INDEKS KERENTANAN BENCANA TSUNAMI DAN GE

Tingginya tingkat urbanisasi di perkotaan dapat menimbulkan interaksi dengan tingginya tingkat ancaman di kawasan perkotaan dan menimbulkan risiko bencana yang tinggi. Hal ini menjadikan suatu wilayah dengan tingkat urbanisasi tinggi menjadi rentan terhadap suatu bahaya, yang diasumsikan tidak mempunyai kemampuan finansial untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana. C. Kepekaan Sosial

7 Baca lebih lajut

S GEO 1001662 Chapter3

S GEO 1001662 Chapter3

Setelah mendapatkan hasil dari setiap parameter kerentanan bencana tsunami maka proses selanjutnya adalah menentukan tingkat kerentanan bencana tsunami di pantai barat Kabupaten Pandeglang sebagaimana dijelaskan oleh (BNPB.2012.hlm.39) “Semua faktor bobot yang digunakan untuk analisis kerentanan adalah hasil dari proses AHP”. Parameter konversi indeks kerentanan tsunami yang di tunjukan pada tabel 3.7 di bawah ini:

20 Baca lebih lajut

Kajian Resiko Bencana Longsor di Desa Citengah - Kecamatan Sumedang Selatan

Kajian Resiko Bencana Longsor di Desa Citengah - Kecamatan Sumedang Selatan

Abstrak. Desa Citengah mempunyai fenomena masalah rawan gerakan tanah longsor yang dalam kurun musim penghujan sangat rentan sekali terjadi sehingga membuat jalan menjadi terputus, rusak, serta rumah warga tertutup longsoran tanah. Selain itu terdapat faktor external, yaitu adanya lempengan Hindia Australia dan Asia Eropa yang mempunyai resiko menjadi penyebab bencana longsor. Oleh karena itu diperlukan kajian resiko bencana longsor di Desa Citengah ini. Tujuan dari penelitian ini adalah meminimalisir dampak bencana longsor serta meningkatan kapasitas desa terhadap bencana. Metode analisis resiko bencana menggunakan kriteria dari BNPB tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Kesimpulan penelitian ini adalah pertama, tingkat ancaman bencana berada dalam kategori rawan gempa menengah dengan skor 0.67. Kedua, tingkat kerentanan bencana longsor berada dalam kategori tinggi skor 0.74. Ketiga, tingkat kapasitas bencana berada pada pada level 2 karena hanya mempunyai indikator pengurangan faktor resiko dasar bencana longsor. Oleh karena itu, sebuah rencana penataan ruang Desa Citengah yang berkelanjutan perlu disusun sebagai salah satu upaya mengelola bencana longsor.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

S GEO 1103713 Chapter5

S GEO 1103713 Chapter5

2. Tingkat kerentanan bencana longsor di Kecamatan Sukahening termasuk ke dalam kelas tinggi, sehingga agar dapat mengurangi risiko bencana yang tinggi perlu meningkatkan kapasitas penduduk terhadap ancaman bencana longsor.

2 Baca lebih lajut

ANALISIS RISIKO KERENTANAN  SOSIAL DAN EKONOMI BENCANA LONGSORLAHAN DI  Analisis Risiko Kerentanan Sosial Dan Ekonomi Bencana Longsorlahan Di Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung.

ANALISIS RISIKO KERENTANAN SOSIAL DAN EKONOMI BENCANA LONGSORLAHAN DI Analisis Risiko Kerentanan Sosial Dan Ekonomi Bencana Longsorlahan Di Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung.

Longsorlahan merupakan salah satu jenis bencana alam yang banyak menimbulkan korban jiwa dan kerugian material. Aspek sosial dan ekonomi merupakan salah satu aspek yang signifikan terkena dampak longsorlahan. Upaya penanggulangan bencana dengan menganalisis kerentanan bencana sangat penting untuk dilakukan agar daerah yang rentan lebih siaga dalam menghadapi bencana, sehingga korban dan kerugian yang ditimbulkan dapat diminimalisir. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis sebaran risiko kerentanan sosial dan kerentanan ekonomi di Kecamatan Kandangan dan menganalisis hubungan kerentanan sosial dan ekonomi terhadap tingkat kerawanan bencana longsorlahan di Kecamatan Kandangan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Analisis Hubungan Tingkat Kerentanan Masyarakat Pesisir Terhadap Bencana Dengan Upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB)

Analisis Hubungan Tingkat Kerentanan Masyarakat Pesisir Terhadap Bencana Dengan Upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB)

Masyarakat pesisir kebanyakan adalah masyarakat miskin yang mayoritas hidup dengan kondisi sub standar sangat rentan terhadap bencana (Ruswandi 2009). Wilayah pesisir yang juga rentan terhadap bencana dapat meluluhlantakkan dengan sekejap seluruh fasilitas rumah, perahu, sumberdaya pesisir, dan sebagainya yang digunakan sebagai sumber penghidupan mereka sehari-hari. Jika semua itu telah rusak, maka akan berdampak pada kondisi sosial masyarakat dan perekonomiannya. Pernyataan tersebut didukung oleh Maarif (2010), bahwa setiap bencana mengganggu kehidupan masyarakat dan mata pencaharian atau bahkan mengubah modal sosial yang ada di masyarakat. Melalui perspektif kerentanan, bencana di wilayah pesisir tidak hanya disebabkan oleh becana fisik saja, seperti gempa bumi, Tsunami, banjir dan lainnya, tetapi juga dilihat dari tiga faktor, yaitu agen bencana fisik itu sendiri, setting fisik, dan kerentanan penduduk. Oleh karena itu dengan melakukan identifikasi dan analisis kerentanan masyarakat pesisir, selanjutnya dapat dijadikan sebagai permulaan proses membangun ketangguhan masyarakat terhadap bencana. Sekaligus, dapat menjadi masukan bagi masyarakat dan pemerintahan setempat untuk menyusun upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang mungkin akan terjadi.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

KAJIAN KERENTANAN WILAYAH PESISIR KOTA SEMARANG TERHADAP PERUBAHAN IKLIM - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

KAJIAN KERENTANAN WILAYAH PESISIR KOTA SEMARANG TERHADAP PERUBAHAN IKLIM - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

melandasi terbentuknya variabel-variabel dalam kerentanan lingkungan. Pada Undang-Undang Penataan Ruang adanya elemen pola ruang yang terdiri atas kawasan lindung dan budidaya yang melandasi bahwa kerentanan lingkungan juga terkait dengan hal-hal tersebut. Dalam konsep kerentanan di wilayah pesisir, dengan rusaknya kelestarian lingkungan yang ada berarti pula semakin tinggi kerentanan suatu wilayah terhadap bencana. Pada Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir maupun Undang-Undang Penanggulangan Bencana terdapat point penting bahwa perlunya tetap menjaga kelestarian lingkungan tanpa menyebut secara spesifik ekosistem yang perlu dilestarikan dalam mengantisipasi kerawanan bencana yang ada. Sedangkan pada konsep praktis berkembang dalam upaya penilaian kerentanan bencana didasari pada kawasan-kawasan lindung maupun kawasan konservasi buatan yang dapat terancam keberadaannya karena kerawanan bencana yang ada. Kerentanan lingkungan ini terkait dengan kondisi fisik alam yang memiliki nilai strategis terhadap kelangsungan manusia yang mendiami wilayah tersebut. Berdasarkan penggabungan dari beberapa sintesis undang-undang dan konsep praktis yang ada dijabarkan bahwa variabel-variabel terkait kerentanan lingkungan yakni: • Tutupan hutan lindung/kawasan resapan air
Baca lebih lanjut

231 Baca lebih lajut

ANALISIS RISIKO KERENTANAN  SOSIAL DAN EKONOMI BENCANA LONGSORLAHAN DI KECAMATAN KANDANGAN KABUPATEN  Analisis Risiko Kerentanan Sosial Dan Ekonomi Bencana Longsorlahan Di Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung.

ANALISIS RISIKO KERENTANAN SOSIAL DAN EKONOMI BENCANA LONGSORLAHAN DI KECAMATAN KANDANGAN KABUPATEN Analisis Risiko Kerentanan Sosial Dan Ekonomi Bencana Longsorlahan Di Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung.

permukiman, jalan, jembatan, irigasi dan prasarana fisik lainnya. Selain korban jiwa, kerugian secara ekonomi juga tidak dapat dikesampingkan. Meningkatnya kebutuhan lahan untuk permukiman, kegiatan ekonomi, atau infrastruktur akibat bertambahnya jumlah penduduk dapat pula meningkatkan resiko terjadinya longsor (Kuswaji dkk, 2006). Upaya penanggulangan bencana dengan menganalisis kerentanan bencana sosial ekonomi penting untuk dilakukan. Analisis kerentanan berkembang dan digunakan dalam berbagai sektor. Pada bencana alam, analisis kerentanan merupakan komponen dari analisis risko bencana (Djuaridah, 2009).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

JAS Vol 12 No 1 Ketahanan dan Kerentanan Usaha Kecil - Diantara Bencana Alam, Kebijakan Ekonomi, dan Lingkungan Sosial 03-Editorial

JAS Vol 12 No 1 Ketahanan dan Kerentanan Usaha Kecil - Diantara Bencana Alam, Kebijakan Ekonomi, dan Lingkungan Sosial 03-Editorial

Artikel Dede Mulyanto berjudul “Ke- rangka Sosiologis Memahami Dam- pak Bencana Alam terhadap Usaha Kecil” menyoroti beberapa variabel penting dalam analisis sosial dampak bencana. Pertama, bencana dikaitkan dengan derajat kerentanan atau keta- hanan usaha. Dalam kerangka konsep kerentanan, bencana alam berada di sisi guncangan (shock) yang dampak- nya terkait langsung dengan kemam- puan usaha dan pelaku usaha meng- hadapinya. Kemampuan ini berkaitan dengan ada tidaknya cadangan modal usaha baik berupa keuangan maupun jaringan sosial. Pelaku usaha kecil adalah juga anggota suatu kolektif. Bencana alam, berbeda dengan sum- ber-sumber guncangan usaha lain- nya, menimpa pelaku usaha bukan hanya sebagai usahawan semata, melainkan juga sebagai anggota ru- mah tangga, anggota kelompok keke- rabatan, dan warga pertetanggaan. Oleh karena itu, kajian dampak ben- cana perlu juga memperhatikan arena
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

t ips 0907653 chapter1

t ips 0907653 chapter1

Serangkaian bencana alam telah melanda Indonesia, khususnya Jawa Barat yang merupakan wilayah daerah dengan kerentanan bencana cukup besar seperti bencana gunungapi, gempa bumi dan tsunami, longsor, banjir, kekeringan, dan kegagalan teknologi. Selain itu juga kerentanan penduduk terhadap bencana termasuk tinggi hal ini dilihat dari kedekatan dengan sumber bencana, kualitas bangunan yang masih rendah, kemampuan kebencanaan yang rendah, struktur demografi yang padat dan usia non produktif yang tinggi.

10 Baca lebih lajut

PEMETAAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PEMETAAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR KOTA SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Pada pemetaan kerentanan bencana longsor kota semarang menghasilkan daerah terkecil yaitu kelurahan yang termasuk kedalam ancaman bencana tanah longsor. Dari hasil peta ancaman bencana tanah longsor terdapat 10 kecamatan dengan 83 kelurahan akan tetapi hasil itu masih diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu Semarang bagian bawah diwakili oleh Kecamatan Semarang Barat, Semarang bagian tengah diwakili oleh Kecamatan Gajah Mungkur dan Candisari serta Kecamatan Banyumanik mewakili Semarang bagian atas. Sehingga hasilnya menjadi 34 kelurahan dengan 4 kecamatan. IV.2.1 Hasil dan Analisis Komponen Kerentanan Fisik
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Zonasi Tingkat Kerentanan (Vulnerability) Banjir Daerah Kota Surakarta.

PENDAHULUAN Zonasi Tingkat Kerentanan (Vulnerability) Banjir Daerah Kota Surakarta.

Bencana tersebut tentunya ada kemungkinan terulang kembali beberapa tahun kedepan. Dengan tingginya potensi bencana banjir di Kota Surakarta, harusnya dapat menyadarkan semua pihak akan pentingnya pertimbangan aspek kebencanaan dalam pembangunan. Undang-undang nomor 24 tahun 2007 mengharuskan setiap pemerintah daerah mempunyai dokumen PRB (Pengurangan Risiko Bencana) sebagai dasar dalam penyusunan rencana aksi guna meminimalisir risiko dan dampak negatif jika terjadi bencana. Salah satu aspek penting dalam identifikasi risiko bencana adalah informasi lokasi-lokasi yang memiliki kerentanan bencana.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

KERENTANAN TERHADAP EROSI MARIN DI SEKTOR PARIWISATA PANTAI KABUPATEN BANTUL Muhammad Thariq Pratama mhdthariq22gmail.com Djati Mardiatno djati.mardiatnougm.ac.id Abstract - KERENTANAN TERHADAP EROSI MARIN DI SEKTOR PARIWISATA PANTAI KABUPATEN BANTUL

KERENTANAN TERHADAP EROSI MARIN DI SEKTOR PARIWISATA PANTAI KABUPATEN BANTUL Muhammad Thariq Pratama mhdthariq22gmail.com Djati Mardiatno djati.mardiatnougm.ac.id Abstract - KERENTANAN TERHADAP EROSI MARIN DI SEKTOR PARIWISATA PANTAI KABUPATEN BANTUL

Kabupaten Bantul merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah kepesisiran DIY dan mencakup area seluas 506,85 km² atau 15% dari total wilayah DIY. Topografi utama Kabupaten Bantul adalah dataran dan sebagian besar daerah berbukit yang kurang subur. Kabupaten Bantul terdiri dari 17 kecamatan dan 75 desa dengan jumlah penduduk 968.632 jiwa pada tahun 2015 (BPS, 2015). Dari berbagai potensi daerah yang ada, salah satunya ialah potensi pariwisata pantai. Berdasarkan sektor tersebut, perlu dilakukan analisis terkait potensi pariwisata pantai dan sektor kebencanan, khususnya bencana erosi pantai. Penelitian ini mengambil judul “Kerentanan Terhadap Erosi Marin di Sektor Pariwisata Pantai Kabupaten Bantul”, karena sektor pariwisata merupakan sektor yang rentan terhadap bencana marin terutama erosi marin.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ANALISIS KERENTANAN BANGUNAN TERHADAP BENCANA ANGIN PUTING BELIUNG DI KECAMATAN TANON  Analisis Kerentanan Bangunan terhadap Bencana Angin Puting Beliung di Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen.

ANALISIS KERENTANAN BANGUNAN TERHADAP BENCANA ANGIN PUTING BELIUNG DI KECAMATAN TANON Analisis Kerentanan Bangunan terhadap Bencana Angin Puting Beliung di Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen.

Pada tabel 7 menunjukan bahwa kelompok kerentanan bangunan yang berada pada klas tinggi memiliki jumlah 158 bangunan dari jumlah total 466 bangunan dengan hasil presentase 33.9%, untuk klas sedang memiliki 299 bangunan dari jumlah total 466 bangunan dengan presentase 64.2% dan untuk klas rendah memiliki 9 bangunan dari jumlah total 466 bangunan dengan presentase 1.9 %. Hasil perhitungan di atas menunjukan bahwa pada Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen, terdapat 33.9% bangunan yang telah menjadi sampel berada pada klas bangunan yang memiliki kerentanan bangunan yang tinggi terhadap terjangan angin puting beliung (angin kencang), sedangkan hanya terdapat 1.9% bangunan yang telah disampel berada pada klas kerentanan bangunan rendah terhadap terjangan angin puting beliung dan sisanya berada pada klas sedang dengan presentase 64.2%, oleh karena itu daerah penelitian berada pada klas kerentanan bangunan sedang-tinggi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 5126 documents...