Kering alur sadap

Top PDF Kering alur sadap:

Pengaruh Asam Askorbat untuk Menyembuhan Kering Alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IRR 42

Pengaruh Asam Askorbat untuk Menyembuhan Kering Alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IRR 42

Seperti pada tanaman lain, berbagai kondisi fisiologis tanaman dan penyakit patogen mempengaruhi produksi karet alam. Kering Alur Sadap (KAS) atau tapping panel dryness (TPD) merupakan kejadian tanaman karet yang tidak menghasilkan atau mengalirkan lateks. Karena pengurasan yang begitu intensif, maka kemampuan tanaman meregenerasi lateks termasuk di dalamnya bahan- bahan organik menjadi tidak seimbang. Kondisi tanaman yang demikian disebut kelelahan fisiologis (physiological fatigue), dimana merupakan awal dari kejadian Kering Alur Sadap (KAS) (Tistama, 2013).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian NAA (Naphtalene-3-Acetic-Acid) dan Nutrisi Untuk Pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Quick Starter dan Slow Starter

Pengaruh Pemberian NAA (Naphtalene-3-Acetic-Acid) dan Nutrisi Untuk Pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Quick Starter dan Slow Starter

Bahan-bahan organik utama yang ikut keluar dalam lateks adalah protein, gula, dan karoten, sedangkan unsur makro dan mikro yang ikut keluar dalam lateks yaitu N, P, K, Mg, Mn, Zn, dan lain-lain. Kemampuan jaringan pembuluh lateks untuk meregenerasi bahan organik yang keluar tersebut membutuhkan waktu 24-72 jam (d’Auzac and Jacob, 1989). Tanaman yang mengalami pengurasan secara intensif atau penyadapan yang terlalu sering mengakibatkan terganggunya jaringan pembuluh lateks pada kulit untuk meregenerasi bahan organik sehingga berkurangnya asupan protein, gula, karoten danhara makro maupun mikro yang berdampak pada penurunan produktivitas lateks dimana keadaan ini merupakan penyebab dari kejadian Kering Alur Sadap (KAS), oleh karena itu pemberian nutrisi sangat diperlukan untuk pemenuhan asupan bahan organik serta pemulihan kulit dari kejadian Kering Alur Sadap (KAS).
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Pengaruh Asam Askorbat untuk Mengurangi Kering alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis Muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IIR 42

Pengaruh Asam Askorbat untuk Mengurangi Kering alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis Muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IIR 42

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asam askorbat dalam mengurangi kering alur sadap parsial tanaman karet pada klon PB 260 dan IRR 42. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan, Laboratorium Fisiologis Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet, Galang, Deli Serdang-Sumatera Utara, pada Mei 2015- Oktober 2015, menggunakan rancangan petak terpisah dengan dua faktor perlakuan yaitu petak utama klon tanaman karet (PB 260 dan IRR 42), anak petak pemberian asam askorbat (0 ppm, 150 ppm, 300 ppm, 450 ppm). Peubah amatan yang diamati adalah kadar sukrosa, fosfat anorganik, thiol, SOD, produktivitas lateks dan indeks penyumbatan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengaruh Asam Askorbat untuk Mengurangi Kering alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis Muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IIR 42

Pengaruh Asam Askorbat untuk Mengurangi Kering alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis Muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IIR 42

Kering Alur Sadap (KAS) adalah salah satu ancaman paling serius terhadap produksi karet alam yang diperkirakan memberikan kontribusi 15% - 20% hilangnya produksi. Sementara pada tanaman produktif, kehilangan mencapai 20% – 25%, di hampir semua wilayah perkebunan karet. KAS merupakan isu yang sangat spesifik pada pohon karet, yang dicirikan berhentinya aliran lateks (kulit kering) dan pengurangan bidang penyadapan (Jacob dan Krishnakumar, 2006).

5 Baca lebih lajut

Pengaruh Asam Askorbat untuk Menyembuhan Kering Alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IRR 42

Pengaruh Asam Askorbat untuk Menyembuhan Kering Alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IRR 42

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asam askorbat dalam penyembuhan kering alur sadap parsial tanaman karet pada klon PB 260 dan IRR 42. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan, Laboratorium Fisiologis Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet, Galang, Deli Serdang-Sumatera Utara, pada Mei 2015 - Oktober 2015, menggunakan rancangan petak terpisah dengan dua faktor perlakuan yaitu petak utama klon tanaman karet (PB 260 dan IRR 42), anak petak pemberian asam askorbat(0 ppm, 150 ppm, 300 ppm, 450 ppm). Peubah amatan yang diamati adalah kadar sukrosa, fosfat anorganik, thiol, superoksidase dismutase (SOD), produktivitas lateks dan indeks penyumbatan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengaruh Asam Askorbat untuk Menyembuhan Kering Alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IRR 42

Pengaruh Asam Askorbat untuk Menyembuhan Kering Alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IRR 42

Kering alur sadap dapat menyebar dengan cepat dalam angka waktu 2-4 bulan keseluruh kulit bidang sadap. Penyebaran KAS diduga mengikuti alur pembuluh lateks dan arah sadap. Proses penyebaran KAS pada bidang sadap BO- 1 mengarah keseluruh BO-1 dibawah irisan sadap. Penyebaran berikutnya menyebar ke bidang panel BO-2 dibagian bawah yang dilanjutkan ke bagian atas hingga bertemu mencapai HO-1. Pola penyebaran KAS di B1-1 hingga B1-2 kulit juga sama. Proses penyebaran yang cepat disebabkan oleh kecepatan terbentuknya tilasoid lebih tinggi dibandingkan dengan irisan sadap pada sadapan selanjutnya (Sumarmadji, 2005).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KAJIAN FISIOLOGIS KULIT DAN ANATOMI KULIT TANAMAN KARET (Hevea brasiliensisMuell. Arg.) PADA KLON IRR 42 DAN KLON IRR 118 TERSERANG CEKAMAN KERING ALUR SADAP (KAS).

KAJIAN FISIOLOGIS KULIT DAN ANATOMI KULIT TANAMAN KARET (Hevea brasiliensisMuell. Arg.) PADA KLON IRR 42 DAN KLON IRR 118 TERSERANG CEKAMAN KERING ALUR SADAP (KAS).

3 mencapai 20% - 25%, di hampir semua wilayah perkebunan karet. KAS merupakan isu yang sangat spesifik pada pohon karet, yang dicirikan berhentinya aliran lateks (kulit kering) dan pengurangan bidang penyadapan (Jacob dan Krishnakumar, 2006). Kering Alur Sadap terjadi akibat ketidakseimbangan dari penyadapan yang berlebihan melebihi kemampuan tanaman dalam meregenerasi lateks hingga menimbulkan gangguan fisiologis pada pembuluh lateks sehingga membentuk senyawa radikal bebas. Senyawa tersebut dapat mengganggu enzim- enzim yang terlibat dalam biosintesis lateks. Gangguan aktivitas enzim mengakibatkan penumpukan sukrosa. Senyawa radikal bebas dapat merusak membran yang ada pada inti sel dan lutoid. Kerusakan membran merangsang pecahnya lutoid, sehingga senyawa yang masam didalamnya menyebar dalam sitosol sel. Penurunan pH oleh asam-asam organik mengakibatkan terjadinya koagulasi didalam sel pembuluh lateks melalui pembentukan matriks-matriks partikel karet. Dengan demikian reaksi biokimia dan metabolisme tersebut terganggu sehingga pembentukan partikel karet juga terhenti (Tistama et al., 2006).
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Pengaruh Asam Askorbat untuk Mengurangi Kering alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis Muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IIR 42

Pengaruh Asam Askorbat untuk Mengurangi Kering alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis Muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IIR 42

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asam askorbat dalam mengurangi kering alur sadap parsial tanaman karet pada klon PB 260 dan IRR 42. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan, Laboratorium Fisiologis Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet, Galang, Deli Serdang-Sumatera Utara, pada Mei 2015- Oktober 2015, menggunakan rancangan petak terpisah dengan dua faktor perlakuan yaitu petak utama klon tanaman karet (PB 260 dan IRR 42), anak petak pemberian asam askorbat (0 ppm, 150 ppm, 300 ppm, 450 ppm). Peubah amatan yang diamati adalah kadar sukrosa, fosfat anorganik, thiol, SOD, produktivitas lateks dan indeks penyumbatan.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

Aktivitas Superoksida Dismutase (SOD) dan Fisiologi Lateks Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) PB260 dan RRIM 921 Kering Alur Sadap (KAS) Parsial Dengan Pemberian Zat Pengatur Tumbuh

Aktivitas Superoksida Dismutase (SOD) dan Fisiologi Lateks Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) PB260 dan RRIM 921 Kering Alur Sadap (KAS) Parsial Dengan Pemberian Zat Pengatur Tumbuh

Puji dan Syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Aktivitas Superokside Dismutase (SOD) dan Fisiologi Lateks Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) PB260 dan RRIM 921 Kering Alur Sadap (KAS) Parsial dengan Pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)” yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

84 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian NAA (Naphtalene-3-Acetic-Acid) dan Nutrisi Untuk Pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Quick Starter dan Slow Starter

Pengaruh Pemberian NAA (Naphtalene-3-Acetic-Acid) dan Nutrisi Untuk Pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Quick Starter dan Slow Starter

Seperti pada tanaman lain, berbagai kondisi fisiologis tanaman dan penyakit patogen mempengaruhi produksi karet alam. Kering Alur Sadap (KAS) atau tapping panel dryness (TPD) merupakan kejadian tanaman karet yang tidak menghasilkan atau mengalirkan lateks. Karena pengurasan yang begitu intensif,

4 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian NAA (Naphtalene-3-Acetic-Acid) dan Nutrisi Untuk Pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Quick Starter dan Slow Starter

Pengaruh Pemberian NAA (Naphtalene-3-Acetic-Acid) dan Nutrisi Untuk Pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Quick Starter dan Slow Starter

Penyakit Kering Alur Sadap (KAS) mengakibatkan kekeringan alur sadapsehingga tidak mengalirkan lateks, namun penyakit ini tidak mematikantanaman (Anwar, 2006). Gejala KAS ditandai dengan terdapatnya bagian-bagianalur sadap yang tidak mengeluarkan lateks. Bagian-bagian tersebutkemudian meluas dan akhirnya seluruh pohon tidak mengeluarkan lateks samasekali. Kulit sebelah dalam bagian yang sakit berubah warna menjadi cokelat (Semangun, 2000). Akibat perubahan hormon di sekitar kulit yang matiadakalanya terbentuk kambium sekunder sehingga menjadi pecah-pecah atauterbentuk tonjolan-tonjolan yang tidak teratur, sehingga penyadapan sulit dilakukan (Fairuzah, 2011).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian NAA (Naphtalene-3-Acetic-Acid) dan Nutrisi Untuk Pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Quick Starter dan Slow Starter

Pengaruh Pemberian NAA (Naphtalene-3-Acetic-Acid) dan Nutrisi Untuk Pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Quick Starter dan Slow Starter

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian NAA dan nutrisi untuk pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada tanaman karet quick starter dan slow starter.Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan, Laboratorium Fisiologis Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet, Galang, Deli Serdang-Sumatera Utara,pada Maret 2015-Desember 2015, menggunakan rancangan petak terpisah-pisah dengan tiga faktor perlakuan yaitu petak utama metabolisme tanaman karet (metabolisme tinggi dan rendah), anak petak pemberian NAA (0 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm), dan anak-anak petak pemberian nutrisi (diberi dan tidak diberi). Peubah amatan yang diamati adalah kadar sukrosa, fosfat anorganik, thiol, K, Ca, B, produktivitas lateks, dan persentase KAS.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengaruh Asam Askorbat untuk Menyembuhan Kering Alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IRR 42

Pengaruh Asam Askorbat untuk Menyembuhan Kering Alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IRR 42

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asam askorbat dalam penyembuhan kering alur sadap parsial tanaman karet pada klon PB 260 dan IRR 42. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan, Laboratorium Fisiologis Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet, Galang, Deli Serdang-Sumatera Utara, pada Mei 2015 - Oktober 2015, menggunakan rancangan petak terpisah dengan dua faktor perlakuan yaitu petak utama klon tanaman karet (PB 260 dan IRR 42), anak petak pemberian asam askorbat(0 ppm, 150 ppm, 300 ppm, 450 ppm). Peubah amatan yang diamati adalah kadar sukrosa, fosfat anorganik, thiol, superoksidase dismutase (SOD), produktivitas lateks dan indeks penyumbatan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pengaruh Asam Askorbat untuk Menyembuhan Kering Alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IRR 42

Pengaruh Asam Askorbat untuk Menyembuhan Kering Alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IRR 42

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asam askorbat dalam penyembuhan kering alur sadap parsial tanaman karet pada klon PB 260 dan IRR 42. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan, Laboratorium Fisiologis Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet, Galang, Deli Serdang-Sumatera Utara, pada Mei 2015 - Oktober 2015, menggunakan rancangan petak terpisah dengan dua faktor perlakuan yaitu petak utama klon tanaman karet (PB 260 dan IRR 42), anak petak pemberian asam askorbat(0 ppm, 150 ppm, 300 ppm, 450 ppm). Peubah amatan yang diamati adalah kadar sukrosa, fosfat anorganik, thiol, superoksidase dismutase (SOD), produktivitas lateks dan indeks penyumbatan.
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian NAA (Naphtalene-3-Acetic-Acid) dan Nutrisi Untuk Pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Quick Starter dan Slow Starter

Pengaruh Pemberian NAA (Naphtalene-3-Acetic-Acid) dan Nutrisi Untuk Pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Quick Starter dan Slow Starter

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian NAA dan nutrisi untuk pemulihan Kering Alur Sadap (KAS) pada tanaman karet quick starter dan slow starter.Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan, Laboratorium Fisiologis Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet, Galang, Deli Serdang-Sumatera Utara,pada Maret 2015-Desember 2015, menggunakan rancangan petak terpisah-pisah dengan tiga faktor perlakuan yaitu petak utama metabolisme tanaman karet (metabolisme tinggi dan rendah), anak petak pemberian NAA (0 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm), dan anak-anak petak pemberian nutrisi (diberi dan tidak diberi). Peubah amatan yang diamati adalah kadar sukrosa, fosfat anorganik, thiol, K, Ca, B, produktivitas lateks, dan persentase KAS.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengaruh Asam Askorbat untuk Mengurangi Kering alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis Muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IIR 42

Pengaruh Asam Askorbat untuk Mengurangi Kering alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis Muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IIR 42

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asam askorbat dalam mengurangi kering alur sadap parsial tanaman karet pada klon PB 260 dan IRR 42. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan, Laboratorium Fisiologis Balai Penelitian Sungai Putih, Pusat Penelitian Karet, Galang, Deli Serdang-Sumatera Utara, pada Mei 2015- Oktober 2015, menggunakan rancangan petak terpisah dengan dua faktor perlakuan yaitu petak utama klon tanaman karet (PB 260 dan IRR 42), anak petak pemberian asam askorbat (0 ppm, 150 ppm, 300 ppm, 450 ppm). Peubah amatan yang diamati adalah kadar sukrosa, fosfat anorganik, thiol, SOD, produktivitas lateks dan indeks penyumbatan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pengaruh Asam Askorbat untuk Mengurangi Kering alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis Muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IIR 42

Pengaruh Asam Askorbat untuk Mengurangi Kering alur Sadap Parsial Tanaman Karet (Heveabrasiliensis Muell. Arg) pada Klon PB 260 dan IIR 42

Deteksi dini dampak intensitas exploitasi terhadap tanaman karet dapat dilakukan dengan analisis fisiologi berupa ukrosa, PI (fosfat anorganik) dan thiol. Status ketiga unsur tersebut dapat digunakan untuk menilai kondisi keletihan fisiologis tanaman. Titik kritis status ketiga unsur tersebut sangat tergantung kepada klon, unsur dan dinamika fisiologis tanaman atau variasi musiman. Secara umum dapat digambarkan bahwa titik kritis untuk sukrosa < 4 mM, untuk pi >25 mM dan untuk thiol < 0,4Mm. Dalam penilaian ini biasanya masih membutuhkan peubah peubah yang lain (produksi g/p/s, kadar karet kering dan sebagainya. Namun cara ini dapat secara preventif mengatsi terjadinya KAS. Beberapa perkebunan menerapkan analisis lateks setahun sekali untuk menetapkan sistem sadap tahun berikutnya (Tistama et al., 2006).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGGUNAAN STIMULAN SEJAK AWAL PENYADAPAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KLON IRR 39

PENGGUNAAN STIMULAN SEJAK AWAL PENYADAPAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI KLON IRR 39

Klon unggul yang dihasilkan melalui program pemuliaan ternyata tidak semuanya disadap sesuai dengan sistem eksploitasi yang ada (Junaidi, et al., 1975), sehingga potensi produksi tidak dapat dihasilkan secara optimal. Setiap klon memiliki sifat yang spesifik termasuk klon- klon baru yang memiliki produktivitas tinggi, namun sebagian sangat peka terhadap serangan kering alur sadap (KAS), memiliki kulit pulihan yang cenderung benjol-benjol dan kurang respons terhadap pemberian stimulan (Sumarmadji, 2009). Penyadapan yang berlebihan menyebabkan produksi yang berlebihan pada periode awal namun akan diikuti oleh keletihan fisiologis sehingga dalam jangka panjang akan menurunkan produksi. Sebaliknya kekurangan intensitas eksploitasi menyebabkan kapasitas produksi tanaman tidak tergali secara optimal. Akibat dari kedua kondisi tersebut, produktivitas tanaman karet dalam satu siklus ekonomi tidak tercapai secara optimal (Sumarmadji, 2000).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Aktivitas Enzim Peroksidase (POD) Lateks dan Analisis Fisiologi Kulit Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) Klon PB 260 dan RRIM 921 Dengan Pemberian Antidepresan Pada Musim Gugur Daun

Aktivitas Enzim Peroksidase (POD) Lateks dan Analisis Fisiologi Kulit Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) Klon PB 260 dan RRIM 921 Dengan Pemberian Antidepresan Pada Musim Gugur Daun

Dari hasil penelitian rataan thiol antara klon RRIM 921 tidak berbeda nyata dengan dengan klon PB 260 pada bulan ke-0 dan ke-1 sedangkan pada bulan ke-2 berbeda nyata yaitu dengan nilai RRIM 921 adalah 0,913 lebih tinggi dibandingkan PB 260 yang adalah 0,478 dengan nilai signifikan 0,021. Berdasarkan jenis tanamannya pada tanaman sehat juga tidak berbeda nyata dengan tanaman yang mengalami Kering Alur Sadap (KAS) pada bulan ke-0 dan ke-2 sedangkan pada bulan ke-1 berbeda nyata dengan nilai signifikan 0,045 dimana konsentrasinya adalah tanaman sehat 0,464 memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan tanaman yang mengalami KAS yaitu 0,187. Kemudian berdasarkan penggunaan formulanya pada perlakuan tanpa formula tidak berbeda nyata dengan yang pakai formula pada bulan ke-0 dan ke-2 dan berbeda nyata pada bulan ke-1 dengan nilai signifikan 0,033 dengan konsentrasi pada perlakuan tanpa formula 0,183 lebih rendah dibandingkan yang memakai formula yang sebesar 0,302. Dari data diatas dapat kita lihat pada musim gugur daun setiap bulannya kadar thiol pada kulit tanaman karet yang berfungsi sebagai antioksidan memiliki kisaran 0,1 sampai 0,9 dan dapat berubah karena faktor keadaan lingkungan, jenis tanaman serta pemberian antidepresan. Menurut Sumarmadji dan Tistama (2004) thiol lateks berkisar 0,4-0,9 µM. Kadar setiap komponen dapat mengalami perubahan sesuai dengan faktor lingkungan ataupun terserang patogen, hama penyakit, dan gangguan fisiologis.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Disain dan kinerja pisau sadap elektrik untuk tanaman karet (hevea brasiliensis)

Disain dan kinerja pisau sadap elektrik untuk tanaman karet (hevea brasiliensis)

Tanaman karet pada umumnya disadap menggunakan pisau sadap manual. Pisau sadap manual tidak memiliki kendali konsumsi kulit dan kedalaman sadap. Untuk mengatasi konsumsi kulit dan kedalaman sadapan yang terkontrol maka dikembangkan pisau sadap mekanis atau elektris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendisain dan menguji kinerja pisau sadap elektrik. Adapun penentuan daya pemotongan dilakukan dengan mengukur tahanan pemotongan kulit tanaman karet umur 5-17 tahun menggunakan pisau sadap manual yang dilengkapi dengan sebuah ring transducer. Mekanisme gerak pahat bolak-balik telah dipilih untuk memotong kulit tanaman karet dan penggerak menggunakan motor listrik DC. Pisau sadap elektrik telah di disain untuk sistem sadap ke arah bawah dan dilengkapi dengan rol roda pengatur konsumsi kulit dan pengatur kedalaman irisan. Pisau sadap elektrik menggunakan daya motor listrik DC 66 Watt dan dioperasikan oleh seorang penyadap. Prototipe pisau sadap elektrik diujikan pada tanaman karet umur 5, 6 dan 8 tahun.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 7669 documents...