kerusakan sel hepar

Top PDF kerusakan sel hepar:

PENGARUH PEMBERIAN DEKSAMETASON DOSIS BERTINGKAT PER ORAL 30 HARI TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR TIKUS WISTAR - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PENGARUH PEMBERIAN DEKSAMETASON DOSIS BERTINGKAT PER ORAL 30 HARI TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR TIKUS WISTAR - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Hasil uji beda antar kelompok perlakuan menunjukkan perbedaan yang bermakna, yaitu antara P1 dengan P2, P1 dengan P3 serta P2 dengan P3. Hal ini menunjukkan bahwa pada P1,yaitu pemberian deksametason dengan dosis 0,018 mg akan menunjukkan perbedaan gambaran tingkat kerusakan sel hepar dengan kelompok perlakuan dosis 0,731 mg dan 1,444mg. Terdapatnya perbedaan gambaran kerusakan sel hepar antar kelompok perlakuan tersebut menunjukkan bahwa terjadi hubungan antara pemberian dosis secara bertingkat dengan gambaran kerusakan hepar pada dosis paparan. Efek kortikosteroid kebanyakan berhubungan dengan besarnya dosis, makin besar dosis terapi makin besar efek yang didapat.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L) TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L) TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL.

Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorik dengan pendekatan studi the post test only control group design. Sampel berupa 28 mencit jantan, galur Swiss Webster berumur 2-3 bulan dengan berat badan ± 20 gram, dibagi dalam 4 kelompok secara random, masing-masing kelompok terdiri dari 7 ekor mencit. Pada Kelompok Kontrol (KK) dan Kelompok Perlakuan 1 (KP1) diberikan akuades, sedangkan ekstrak kulit buah Manggis diberikan pada Kelompok Perlakuan 2 (KP2) dan Kelompok Perlakuan 3 (KP3) dengan dosis 10 mg/20 g BB mencit dan 15 mg/20 g BB mencit. Prasetamol diberikan kepada kelompok KP1, KP2, dan KP3 dengan dosis 5,07 mg/20 g BB mencit. Pada hari ke-4, mencit dikorbankan dengan cara dislokasi vertebra servikalis. Preparat sel hepar dibuat dengan pengecatan HE. Kerusakan sel hepar mencit diamati dengan menghitung jumlah inti sel yang mengalami nekrosis pada lobulus sentralis hepar. Data dianalisis dengan One-way ANOVA (α = 0,05) dan dilanjutkan dengan Post Hoc Multiple Comparisons menggunakan Least Significant Differences (LSD) test (α = 0,05).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN SARI KUNYIT KUNING (Curcuma longa) TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR MENCIT YANG DIINDUKSI PARASETAMOL

PENGARUH PEMBERIAN SARI KUNYIT KUNING (Curcuma longa) TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR MENCIT YANG DIINDUKSI PARASETAMOL

Metode penelitian. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik dengan post test only controlled group design. Sampel berupa mencit jantan galur Swiss webster berumur 2-3 bulan dengan berat badan ± 20 gr. Sampel sebanyak 28 ekor dibagi dalam 4 kelompok, masing – masing kelompok terdiri dari 7 ekor mencit. Kelompok kontrol negatif, K(-), mencit hanya diberi aquades. Kelompok kontrol positif, K(+), mencit diberi aquades selama 14 hari berturut – turut dan parasetamol pada hari ke- 12, 13, dan 14. Kelompok perlakuan 1, PI, mencit diberi sari kunyit kuning peroral dosis I selama 14 hari berturut-turut, hari ke-12, 13 dan 14 diberikan juga parasetamol. Kelompok perlakuan 2, PII, mencit diberi sari kunyit kuning peroral dosis II selama 14 hari berturut-turut, hari ke-12, 13 dan 14 diberikan juga parasetamol. Hari ke-15, mencit dikorbankan dengan cara dislokasi vertebra servikalis kemudian organ hepar kanan diambil untuk selanjutnya dibuat preparat histologi dengan metode blok parafin dan pengecatan Hematoksilin Eosin (HE). Gambaran histologis hepar diamati dan dinilai berdasarkan kerusakan histologis yang berupa inti pyknosis, karyorrhexis dan karyolysis. Data dianalisis dengan menggunakan uji One –Way ANOVA ( α = 0,05) dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc Multiple Comparasions (LSD) ( α = 0,05).
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

PENGARUH EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L.) TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus novergicus strain wistar) AKIBAT PAPARAN ISONIAZID DAN RIFAMPISIN SUBAKUT

PENGARUH EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L.) TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus novergicus strain wistar) AKIBAT PAPARAN ISONIAZID DAN RIFAMPISIN SUBAKUT

Penggunaan terapi isoniazid (INH) diduga menyebabkan kerusakan sel hepar dengan cara membentuk metabolit reaktif yaitu acetyl hidrazine yang dapat memicu radikal bebas yang menyebabkan terjadinya stres oksidatif. Rifampisin menyebabkan kerusakan sel hepar melalui cara meningkatkan metabolit reaktif dari isoniazid yaitu acetyl hydrazine dan hydrazine yang dapat menstimulus terbentuknya senyawa reaktif oksidatif (SOR) yang dapat memicu stres oksidatif yang akan mengakibatkan sel hepar menjadi rusak akibat penggunaan terapi anti tuberkulosis (Pillai, 2012).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BROKOLI (Brassica oleracea var. Italica) TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BROKOLI (Brassica oleracea var. Italica) TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL.

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Pengaruh Pemberian Ekstrak Brokoli ( Brassica oleracea var. Italica ) terhadap Kerusakan Sel Hepar Mencit ( Mus musculus ) yang Diinduksi Parasetamol ” yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Strata satu (S1) di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari bahwa penelitian tugas karya akhir ini tidak akan berhasil tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu dengan penuh rasa hormat ucapan terima kasih yang dalam penulis berikan kepada:
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

EFEK HEPATOPROTECTOR FLAVONOID TERHADAP KERUSAKAN HEPAR TIKUS.

EFEK HEPATOPROTECTOR FLAVONOID TERHADAP KERUSAKAN HEPAR TIKUS.

Di antara zat-zat kimia yang bersifat oksidan dan dapat menyebabkan kerusakan pada hepar, terdapat satu prototip yang karakteristik untuk menggambarkan kerusakan sel hepar irrevesibel yaitu karbon tetra khlorida (CCl4). Kerusakan sel hepar pada kasus ini terjadi karena serangan radikal bebas (oksidan) pada asam lemak tak jenuh pada fosfolipid membran. Reaksi oksidasi ini bersifat otokatalitik, sehingga dalam waktu yang relatif singkat terjadi kerusakan sel hepar yang berat. (7)

8 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN PEGAGAN (Centella asiatica L. Urban) TERHADAP KERUSAKAN STRUKTUR HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL DOSIS TOKSIK.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN PEGAGAN (Centella asiatica L. Urban) TERHADAP KERUSAKAN STRUKTUR HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL DOSIS TOKSIK.

Hasil Penelitian: Pada penelitian ini diperoleh rerata jumlah kerusakan sel hepar pada KN sebesar 16,08 ± 5,160; KI 66,00 ± 3,275; KP1 44,58 ± 5,583; KP2 31,67 ± 2,188; KP3 26,17 ± 3,810. Hasil uji One-Way ANOVA didapatkan nilai *p = 0,000, menunjukkan terdapat perbedaan rerata jumlah kerusakan sel hepar yang bermakna paling tidak pada dua kelompok. Hasil uji Post Hoc LSD juga menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelima kelompok dengan *p = 0,000 untuk KN-KI, KN-KP1, KN-KP2, KN-KP3, KI-KP1, KI-KP2, KI-KP3, KP1-KP2, KP1-KP3 dan *p = 0,002 untuk KP2-KP3
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN JUS STROBERI (Fragaria x ananassa) TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT YANG DIINDUKSI RHODAMIN B SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

PENGARUH PEMBERIAN JUS STROBERI (Fragaria x ananassa) TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT YANG DIINDUKSI RHODAMIN B SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan the post test only control group design. Hewan uji yang digunakan adalah mencit jantan galur Swiss webster berumur 2-3 bulan dengan berat badan ±20 gram. Sampel 28 ekor mencit dibagi secara random dalam 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 7 ekor mencit. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Mencit Kelompok Kontrol normal (KKn) diberi akuades, sedangkan mencit Kelompok Paparan (KP), Kelompok Perlakuan 1 (KP1), dan Kelompok Perlakuan 2 (KP2) diberi rhodamin B. Mencit pada KP1 dan KP2 juga diberi jus stroberi dengan dosis 0,4 ml/20 g BB dan 0,8 ml/20 g BB. Perlakuan diberikan selama 16 hari, pada hari ke-17 mencit dikorbankan dengan neck dislocation dan hepar mencit dibuat preparat dengan metode blok parafin dan pengecatan HE. Gambaran kerusakan sel hepar dihitung dengan menjumlahkan inti sel yang mengalami nekrosis dari tiap 100 sel hepar di zona 1 dan zona 3. Data dianalisis dengan uji One-Way ANOVA dan uji Post Hoc LSD (α = 0,05).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BUNGA ROSELLA  TERHADAP KERUSAKAN SEL SEL HEPAR MENCIT AKIBAT PAPARAN PARASETAMOL

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BUNGA ROSELLA TERHADAP KERUSAKAN SEL SEL HEPAR MENCIT AKIBAT PAPARAN PARASETAMOL

bahwa pemberian ekstrak bunga rosella tidak dapat menurunkan kerusakan sel hepar mencit akibat paparan parasetamol. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa ekstrak bunga rosella memiliki efek hepatoprotektif terhadap kerusakan toksik parasetamol. Hal ini mungkin disebabkan karena pada penelitian ini menggunakan ekstrak bunga rosella yang dibuat dengan cara perkolasi yang menggunakan etanol sebagai cairan pencari, sedangkan pada penelitian sebelumnya mengunakan water extract (Ali, 2003). Etanol yang digunakan sebagai cairan pencari mungkin memberikan efek hepatotoksik terhadap sel hepar mencit. Alkohol atau metabolitnya adalah hepatotoksik, dan oleh karenanya toksik bagi sel-sel tubuh lainnya. Hati mempunyai tiga jalur untuk metabolisme alkohol. Jalur dehidrogenase alkohol (ADH), sistem oksidasi etanol pada mikrosom, dan sistem katalase. Dari ketiganya, perubahan etanol menjadi asetaldehida melalui mediator ADH merupakan jalur yang paling utama. Asetaldehida menginduksi kerusakan sel hati dengan ikatan kovalen terhadap protein, sama halnya dengan mengaktifkan peroksidasi lemak membran sel (Robbins dan Kumar, 1995). Kerusakan hepar akibat overdosis parasetamol terlihat lebih nyata pada pecandu alkohol dan pasien yang meminum obat yang dapat menginduksi sitokrom P450 yang bertanggung jawab terhadap aktivasi parasetamol (Hodgson dan Levi, 2000).
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

PENGARUH EKSTRAK BIJI KAKAO (Theobroma cacao) TERHADAP HEPATOTOKSISITAS PARASETAMOL PADA MENCIT (Mus musculus) SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

PENGARUH EKSTRAK BIJI KAKAO (Theobroma cacao) TERHADAP HEPATOTOKSISITAS PARASETAMOL PADA MENCIT (Mus musculus) SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Derajat kerusakan sel hepar kelompok P2 lebih besar dari pada kelompok P3, namun hasil uji LSD menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna. Hal ini berarti peningkatan dosis ekstrak biji kakao dapat meningkatkan efek proteksi terhadap kerusakan sel hepar yang ditimbulkan oleh parasetamol, tetapi peningkatannya tidak signifikan. Menurut Bourne dan Roberts (1998), kurva hubungan antara dosis dan efek obat berbentuk sigmoid dengan suatu bagian tengah yang lurus atau linier. Dengan bertambahnya dosis obat, peningkatan respon berkurang, dan akhirnya dosis maksimal tercapai di mana responnya tidak bisa ditingkatkan lagi. Pengaruh ekstrak biji kakao terhadap kerusakan sel hepar yang diinduksi parasetamol dapat dianalogikan dengan cara kerja obat tersebut. Apabila dosis ekstrak biji kakao digambarkan dalam kurva hubungan antara dosis dan efek obat, maka efek dosis I dan dosis II berada pada bagian kurva yang hampir lurus atau linier sehingga peningkatan efeknya tidak terlalu signifikan.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

EFEK PEMBERIAN MADU TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) AKIBAT PAPARAN PARASETAMOL

EFEK PEMBERIAN MADU TERHADAP KERUSAKAN SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) AKIBAT PAPARAN PARASETAMOL

(Zn), Silikon (Si), Natrium (Na), Molibdenum (Mo) dan Alumunium (Al). Masing-masing mineral ini memiliki manfaat, diantaranya adalah Mangan yang berfungsi sebagai antioksidan dan berpengaruh dalam pengontrolan gula darah serta mengatur hormon steroid. Magnesium berperan penting dalam mengaktifkan fungsi replikasi sel, protein dan energi. Iodium berguna bagi pertumbuhan. Besi (Fe) dapat membantu proses pembentukan sel darah merah. Magnesium, Fospor dan Belerang berkaitan dengan metabolisme tubuh. Sedangkan Molibdenum berguna dalam pencegahan anemia dan sebagai penawar racun (Saptorini, 2003).
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

EFEK HEPATOPROTEKTOR EKSTRAK BUNGA TURI (SESBANIA GRANDIFLORA L) TERHADAP KERUSAKAN STRUKTUR SEL HEPAR MENCIT (MUS MUSCULUS) AKIBAT PAPARAN MINYAK KELAPA SAWIT PEMANASAN BERULANG.

EFEK HEPATOPROTEKTOR EKSTRAK BUNGA TURI (SESBANIA GRANDIFLORA L) TERHADAP KERUSAKAN STRUKTUR SEL HEPAR MENCIT (MUS MUSCULUS) AKIBAT PAPARAN MINYAK KELAPA SAWIT PEMANASAN BERULANG.

sebanyak 0.06 ml/ 20 gr BB dan ekstrak Bunga Turi dengan dosis 7 mg/20 gr BB, 14 mg/20 gr BB dan 28 mg/20 gr BB mencit. Perlakuan diberikan selama 14 hari. Gambaran kerusakan histologi sel hepar dihitung dengan menjumlahkan inti sel yang mengalami piknosis, karioreksis, dan kariolisis. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc LSD (α = 0.05)

11 Baca lebih lajut

PENGARUH HEPATOPROTEKTOR MADU TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) YANG DIBERI PERLAKUAN NATRIUM SIKLAMAT

PENGARUH HEPATOPROTEKTOR MADU TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) YANG DIBERI PERLAKUAN NATRIUM SIKLAMAT

Pada kelompok kontrol, dimana hanya mendapat aquades saja, didapatkan gambaran histologis sebagian besar sampel adalah normal, yaitu sebanyak 21 sampel dengan gambaran normal, 18 sampel dengan kerusakan ringan, 3 sampel dengan kerusakan sedang dan tanpa ada sampel dengan kerusakan berat. Hal ini menunjukkan kesesuaian dengan teori dimana aquades tidak mempunyai pengaruh terhadap kerusakan sel hati mencit sehingga gambaran yang didapatkan adalah seperti gambaran histologis normal mencit. Adanya sampel dengan kerusakan ringan maupun sedang pada kelompok kontrol dapat dimungkinkan karena proses penuaan dan kematian sel yang secara fisiologis dialami oleh semua sel-sel normal. Setiap sel dalam tubuh akan selalu mengalami penuaan yang diakhiri kematian sel dan digantikan oleh sel-sel baru melalui proses regenerasi (Iber dan Latham, 1994). Selain itu, mungkin juga karena pengaruh variabel luar yang tidak dapat dikendalikan misalnya kondisi psikologis mencit yang dipengaruhi lingkungan sekitar, reaksi hipersensitivitas yang berbeda pada tiap mencit, mungkin juga karena kondisi awal hepar mencit yang memang tidak diteliti pada penelitian ini.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIT MERAH (Beta vulgaris L.) TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIT MERAH (Beta vulgaris L.) TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL.

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa memberi berkat dan hikmat kepada penulis sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Bit Merah ( Beta vulgaris L.) terhadap Kerusakan Sel Hepar Mencit ( Mus musculus ) yang Diinduksi Parasetamol”.

11 Baca lebih lajut

PENGARUH SARI BUAH KIWI (Actinidia deliciosa) TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) AKIBAT PEMBERIAN PARASETAMOL

PENGARUH SARI BUAH KIWI (Actinidia deliciosa) TERHADAP KERUSAKAN HISTOLOGIS SEL HEPAR MENCIT (Mus musculus) AKIBAT PEMBERIAN PARASETAMOL

Sebagian besar parasetamol (80%) dikonjugasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat (Wilmana dan Gunawan, 2007). Hasil konjugasi ini akan dieliminasi lewat urin (Parod dan Dolgin, 1992). Selain itu dalam jumlah kecil (4%) diubah menjadi metabolit reaktif berupa senyawa antara yang reaktif dan toksik yaitu N-asetil-p-benzoquinonimin (NAPQI) (Brunton et al., 2006). NAPQI dibentuk dengan adanya bioaktivasi parasetamol melalui sistem sitokrom P-450 (Klaassen dan Watkins, 2003). Metabolit tersebut kemudian didetoksifikasi oleh glutation hepar menjadi metabolit sistin dan metabolit merkapturat yang non toksik. Pada dosis tinggi, jalur konjugasi parasetamol menjadi jenuh sehingga banyak parasetamol menjadi metabolit NAPQI, sebagai akibatnya terjadi deplesi glutation hepar, bahkan kandungan glutation hepar dapat dihabiskan (paling tidak berkurang 20-30% harga normal) (Rochmah, 2000). Akibatnya NAPQI akan membentuk ikatan kovalen dengan protein sel hepar secara irreversibel sehingga akan menyebabkan pengikatan kovalen pada makromolekul seperti DNA, RNA, dan protein. Jika demikian, maka akibat yang parah pada fungsi sel akan segera terlihat dengan nyata (Murray et al., 2003).
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian Vitamin C Dan E Terhadap Gambaran Histologis Hepar Mencit (Mus musculus L.) Yang Dipajankan  Monosodium Glutamat (MSG)

Pengaruh Pemberian Vitamin C Dan E Terhadap Gambaran Histologis Hepar Mencit (Mus musculus L.) Yang Dipajankan Monosodium Glutamat (MSG)

Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan ketahanan tubuh, khususnya organ hepar, dari bahaya berbagai toksikan termasuk salah satunya MSG. Pemberian MSG pada dosis 4 hingga 8 mg/g BB pada mencit jantan secara subkutan selama 6 hari dapat meningkatkan peroksidasi lipid dalam mikrosom- mikrosom hepar (Simanjuntak, 2010). Pemberian vitamin C dengan dosis 0,2 mg/g BB secara oral dapat menanggalkan efek senyawa radikal bebas (Fauzi, 2008). Oleh karena itu diduga vitamin C dapat mencegah terjadinya gangguan pada sel hepar serta melindungi dari kerusakan yang diakibatkan pemberian MSG. Menurut Hasil penelitian yang dilakukan Wresdiyati (2007), menyimpulkan bahwa pada pemberian α -tokoferol dengan dosis 60 mg/Kg BB selama 7 hari juga dapat mengurangi kerusakan jaringan hepar akibat kondisi stres . Vitamin E adalah antioksidan yang bekerja pada membran sel dan memerlukan tekanan oksigen yang tinggi, sedangkan vitamin C bekerja pada sitosol dan secara ekstrasel. Dengan mekanisme kerja yang berbeda, jika kedua vitamin ini digunakan bersamaan diharapkan akan memberikan efek yang optimal dalam menghadapi aktifitas senyawa oksigen reaktif (ROS). Vitamin C bersama-sama dengan vitamin E dapat menghambat reaksi oksidasi. Pertama vitamin E akan menangkap radikal bebas dan selanjutnya menjadi vitamin E radikal. Dengan bantuan vitamin C, maka vitamin E radikal tersebut dapat diubah menjadi vitamin E bebas yang berfungsi kembali menjadi antioksidan (Iswara, 2009).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN Uji Aktivitas Sitotoksik Fraksi Semipolar Ekstrak Aseton Kulit Batang Sukun (Artocarpus communis) terhadap Sel Myeloma.

PENDAHULUAN Uji Aktivitas Sitotoksik Fraksi Semipolar Ekstrak Aseton Kulit Batang Sukun (Artocarpus communis) terhadap Sel Myeloma.

1). Senyawa pengalkilasi. Senyawa pengalkilasi merupakan senyawa reaktif yang mampu mengalkilasi DNA, RNA dan enzim-enzim tertentu (Siswandono dan Sukardjo, 1995). Mekanisme kerja senyawa ini berdasarkan gugusan alkilnya yang sangat reaktif dan menyebabkan cross linking (saling mengikat) dengan rantai-rantai DNA dalam inti sel, sehingga penggandaan DNA terganggu dan pembelahan sel dirintangi (Tjay dan Rahardja, 2002). Obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain kelompok Mustar nitrogen, derivat etilenamin, alkil sulfonat, nitroso urea (Anonim, 2007).

Baca lebih lajut

PENGARUH SIMVASTATIN TERHADAPKADAR TRANSFORMING GROWTHFACTOR β1, SKOR FIBROSCAN DAN SKOR ASPARTAT TRANSAMINASE TO PLATELET INDEX PADA PASIEN SIROSIS HATI.

PENGARUH SIMVASTATIN TERHADAPKADAR TRANSFORMING GROWTHFACTOR β1, SKOR FIBROSCAN DAN SKOR ASPARTAT TRANSAMINASE TO PLATELET INDEX PADA PASIEN SIROSIS HATI.

Simvastatin adalah inhibitor 3 hydroxy 3 methylglutaryl coenzym A (HMG COA) reduktase yang berfungsi menurunkan kadar lemak dalam darah, anti inflamasi, anti oksidan, memperbaiki disfungsi endotel, meningkatkan bioavailabilitas nitrit oksida, menstabilkan plak atherosklerosis, menurunkan resistensi intra hepatal, dan menurunkan tekanan vena porta (Zafra 2003). Simvastatin akan menurunkan tekanan vena hepar dan meningkatkan perfusi hepar pada pasien sirosis (Albraldes, 2009). Mekanisme simvastatin sebagai anti fibrotik antara lain dengan menurunkan aktifitas sel ito hepar (Shirin et al , 2013), mengurangi proliferasi sel stelat hepar serta menurunkan deposisi kolagen (Rombouts et al , 2003), menghambat steatosis, fibrosis, dan karsinogenesis pada NASH (Miyaki et al, 2011), dan meningkatkan produksi nitrit oxide (NO) dan menurunkan resistensi vaskular di hepar pada sirosis hati. (Zafra et al, 2004) TGF- β merupakan faktor paling fibrogenik dalam aktivasi sel stelat hepar pada mekanisme fibrogenesis.(Gressnerr dan Weiskirchen , 2006) Vita et al melaporkan bahwa statin menurunkan aktivasi jalur Smad oleh TGF- β . Jalur Smad adalah sistem sinyal utama untuk TGF- β . Penghambatan dari RhoA adalah mekanisme intraseluler yang dimediasi oleh pemberian statin pada jalur TGF- β. TGF-- β melalui aktivasi jalur Smad mengatur banyak respon seluler, termasuk pertumbuhan sel, kelangsungan hidup sel, diferensiasi sel dan akumulasi matrik ekstraseluler (Vita et al, 2008). Penggunaan simvastatin pada tikus model fibrosis menunjukkan penurunan kadar TGF- β1 dan penurunan derajat fibrosis. (Vita et al, 2008; Wei Wang et al , 2013).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

EFEK HEPATOPROTEKTOR JUS SEMANGKA MERAH (Citrulus vulgaris) TERHADAPKERUSAKAN SEL HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) AKIBAT PAPARAN PARASETAMOL

EFEK HEPATOPROTEKTOR JUS SEMANGKA MERAH (Citrulus vulgaris) TERHADAPKERUSAKAN SEL HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) AKIBAT PAPARAN PARASETAMOL

Jika jumlah parasetamol yang dikonsumsi jauh melebihi dosis terapi, maka asam glukoronat dan asam sulfat dalam hepar akan habis cadangannya, kemudian terbentuklah metabolit reaktif NAPQI yang berlebihan. Selama glutation tersedia untuk mendetoksifikasi NAPQI tersebut, maka tidak akan terjadi reaksi hepatotoksisitas. Namun, bila glutation terus terpakai, akhirnya terjadi pengosongan glutation dan terjadi penimbunan metabolit NAPQI yang toksik dan reaktif. N-asetil-p- benzoquinonimin (NAPQI) merupakan metabolit minor dari parasetamol yang sangat aktif dan bersifat toksik bagi hepar dan ginjal. Metabolit ini akan bereaksi dengan gugusan nukleofilik yang terdapat pada makromolekul sel hepar, seperti protein, menimbulkan hepatotoksisitas yang menyebabkan nekrosis hepar (Wilmana dan Gunawan, 2007; Katzung, 1998). Selain itu, NAPQI dapat menimbulkan stres oksidatif, yang berarti bahwa NAPQI dapat menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid merupakan bagian dari proses atau rantai reaksi terbentuknya radikal bebas (Rubin et al., 2005). Radikal bebas mampu mengubah suatu molekul menjadi radikal bebas baru dan akan membentuk radikal bebas kembali sehingga terjadilah reaksi rantai (chain reaction) (Widjaja, 1997).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

STRUKTUR HISTOLOGIS HEPAR DAN REN TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) FEMININA GRAVID SETELAH PEMBERIAN RHODAMIN B SECARA ORAL Skripsi

STRUKTUR HISTOLOGIS HEPAR DAN REN TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) FEMININA GRAVID SETELAH PEMBERIAN RHODAMIN B SECARA ORAL Skripsi

adalah daerah sekitar triad portal. Pada daerah ini, hepatosit adalah yang pertama-tama menerima darah dan nutrisi, tentunya yang paling akhir mati bila menjumpai bahan toksik dan yang pertama mengalami regenerasi karena menerima aliran darah yang bermutu paling baik yaitu yang kaya oksigen dan nutrisi. Zona III adalah daerah sekitar vena sentralis, sel-sel hepar di daerah ini paling toleran, paling peka, sehingga paling cepat mati karena menerima darah dengan mutu paling rendah karena pasokan oksigen dan nutrisinya merupakan sisa dari zona I dan II. Zona II adalah daerah antara zona I dan III, sel-sel hepar memperoleh darah berkualitas sedang. Unit struktural dasar yang memungkinkan sel-sel berhubungan erat dengan darah adalah lobulus hepar. Lobulus terdiri dari simpul-simpul sel parenkim yang keluar dari vena sentral, tempat keluarnya darah dari lobulus dan diangkut ke vena cava. Lobulus terikat oleh beberapa triad portal yang terdiri dari percabangan vena portal, arteri hepatika dan saluran empedu. Sel-sel parenkim zona tengah adalah sel-sel yang terletak antara daerah periportal dan sentrilobular. Darah dari vena porta dan arteri hepatika memasuki lobulus hepar pada daerah portal mengalir dalam sinusoid antara simpul- simpul sel parenkim ke daerah sentralobular (Dellman, 1992). b. Fisiologi hepar
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...