Keterkaitan Konsep Plea Bargaining dengan RUU

Top PDF Keterkaitan Konsep Plea Bargaining dengan RUU:

Konsep Pengakuan Bersalah Terdakwa pada Jalur Khusus Menurut RUU Kuhap dan Perbandingannya dengan Praktek Plea Bargaining di Beberapa Negara

Konsep Pengakuan Bersalah Terdakwa pada Jalur Khusus Menurut RUU Kuhap dan Perbandingannya dengan Praktek Plea Bargaining di Beberapa Negara

´,Q &DQDGD WKH FRXUWV DOZays have the final say with regard to sentencing. Nevertheless, plea bargaining has become an accepted part of the criminal justice system although judges and Crown attorneys are often reluctant to refer to it as such. In most Canadian criminal proceedings, the Crown has the ability to recommend a lighter sentence than it would seek following a guilty verdict in exchange for a guilty plea.Like other common law jurisdictions, the Crown can also agree to withdraw some charges against the defendant in exchange for a guilty plea. This has become standard procedure for certain offences such as impaired driving. Note that in the case of hybrid offences, the Crown must make a binding decision as to whether to proceed summarily or by indictment prior to the defendant making his or her plea. If the Crown elects to proceed summarily and the defendant then pleads not guilty, the Crown cannot change its election. Therefore, the Crown is not in a position to offer to proceed summarily in exchange IRU D JXLOW\ SOHDµ . (Di Kanada, pengadilan selalu memiliki putusan akhir berkaitan dengan hukuman. Namun demikian, plea bargaining telah diterima sebagai bagian dari sistem peradilan pidana meskipun hakim dan pengacara/penuntut umum kerajaan sering enggan untuk menyebutnya seperti itu. Dalam kebanyakan proses pidana Kanada, pengacara/penuntut umum kerajaan memiliki kemampuan untuk merekomendasikan hukuman yang lebih ringan dari itu akan mencari menyusul vonis bersalah dalam pertukaran untuk pengakuan bersalah. Seperti yurisdiksi common law lainnya, pengacara/penuntut umum kerajaan juga bisa menyetujui untuk menarik beberapa dakwaan terhadap terdakwa dalam pertukaran untuk pengakuan bersalah.Hal ini telah menjadi prosedur standar untuk pelanggaran tertentu seperti gangguan mengemudi.Perhatikan bahwa dalam kasus pelanggaran hybrid, pengacara/penuntut umum kerajaan harus membuat keputusan yang mengikat, apakah untuk melanjutkan atau dengan dakwaan sebelum terdakwa membuat permohonan.Jika pengacara/penuntut umum kerajaan memilih untuk melanjutkan dan terdakwa kemudian mengaku tidak bersalah, mahkota tidak dapat mengubah putusan.Oleh karena itu, pengacara/penuntut umum kerajaan tidak dalam posisi untuk menawarkan untuk melanjutkan pertukaran untuk pengakuan bersalah). Maka dapat disimpulkan bahwa praktek plea bargaining yang diterapkan di Kanada, dapat dikatakan tidak berbeda dengan plea bargaining yang diterapkan di Amerika Serikat. Satu hal yang diatur secara komprehensif dalam sistem peradilan SLGDQD .DQDGD \DNQL DGDQ\D ´SDUWLVLSDVL NRUban (victim participation)µ VHKLQJJD plea bargaining dapat diberlakukan tidak hanya semata-mata menguntungkan terdakwa, tetapi juga dapat memuaskan kepentingan korban.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

JALUR KHUSUS & PLEA BARGAINING

JALUR KHUSUS & PLEA BARGAINING

Terdakwa yang mengakui perbuatannya tidak dapat melakukan kesepakatan dengan jaksa mengenai lama hukuman yang diterimanya. Mereka juga tidak dapat bernegosiasi mengenai dakwaan apaa yang akan didakwakan ke terdakwa karena kesempatan pengakuan bersalah baru ada setelah jaksa membuat dan membacakan dakwaan. RUU KUHAP mengatur bahwa hakim tetap berperan penting dalam menjatuhkan hukuman. Namun, hakim dibatasi tidak boleh melebihi 2/3 dari ancaman pidana maksimum dari tindak pidana yang didakwakan. 31 Pengurangan hukuman ini

6 Baca lebih lajut

Plea Bargaining dalam Sistem Peradilan Pidana di Beberapa Negara

Plea Bargaining dalam Sistem Peradilan Pidana di Beberapa Negara

Abstrak. Plea Bargaining System secara luas diartikan sebagai sebuah pernyataan bersalah dari seorang tersangka maupun terdakwa. Plea Bargaining banyak dianut di negara-negara yang menganut sistem hukum Common Law. Plea Bargaining yang dikembangkan dalam sistem hukum “common law” ini telah mengilhami munculnya “mediasi” dalam praktik peradilan berdasarkan hukum pidana di Belanda dan Prancis, yang dikenal dengan “transactie”. Plea Bargaining dikategorikan sebagai sebuah upaya penyelesaian di luar sidang dan penggunanya juga didasari oleh alasan-alasan tertentu. Bahkan dalam upaya pembaharuan hukum acara peradilan pidana di Indonesia, telah juga mengambil konsep dasar plea bargaining yang diadopsi dalam RUU KUHAP dengan konsep “Jalur Khusus”. Bahwa dengan hadirnya konsep “Jalur Khusus” ini, juga menjadi perhatian apabila melihat dapat diberlakukannya kembali pengakuan bersalah terdakwa sebagai dasar hakim menjatuhkan putusan. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui, menganalisa plea bargaining di beberapa negara. Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif, menggunakan pendekatan konseptual, pendekatan perbandingan, dan pendekatan sejarah.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

URGENSI PLEA BARGAINING SYSTEM DALAM PEMBAHARUAN SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA

(Studi Perbandingan Plea Bargaining System di Amerika Serikat)

URGENSI PLEA BARGAINING SYSTEM DALAM PEMBAHARUAN SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA (Studi Perbandingan Plea Bargaining System di Amerika Serikat)

Proses peradilan pidana di Indonesia hingga saat ini masih terdapat berbagai permasalahan yang belum mampu terpecahkan, salah satunya mengenai penumpukan perkara dalam lingkup sistem peradilan pidana di Indonesia. Masalah penumpukan perkara menunjukkan bahwa sistem peradilan pidana di Indonesia hingga saat ini berjalan kurang efektif dan efisien sehingga sampai saat ini proses peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan tidak mampu diwujudkan dalam system peradilan pidana di Indonesia. Permasalahan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah 1) Bagaimana konsep Plea Bargaining System dalam Sistem Peradilan Pidana di Amerika Serikat. 2) Bagaimana urgensi Plea Bargaining System dalam pembaharuan Sistem Peradilan Pidana di Indonesia. Adapun metode penelitian dalam tulisan ini adalah menggunakan tipe penelitian yuridis normatif (normatif legal research), dengan menggunakan metode pendekatan konseptual (conseptual approach) dan pendekatan komparatif (comparative approach).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

JALUR KHUSUS (PLEA BARGAINING) DALAM HUKUM ACARA PIDANA

JALUR KHUSUS (PLEA BARGAINING) DALAM HUKUM ACARA PIDANA

Konsep peradilan pidana yang efektif dan efisien di dalam RUU KUHAP disebut dengan Jalur Khusus seringkali disamakan dengan sistem Plea Bar[r]

12 Baca lebih lajut

Jalur Khusus dan Plea Bargaining: Serupa Tapi Tidak Sama. Choky Ramadhan 1

Jalur Khusus dan Plea Bargaining: Serupa Tapi Tidak Sama. Choky Ramadhan 1

Penyebaran dan transplantasi plea bargaining model AS telah terjadi ke beberapa negara karena keberhasilannya menyelesaikan masalah inefisiensi, tunggakan perkara, dan biaya litigasi yang tinggi. Indonesia saat ini dalam proses mendiskusikan dan menentukan apakah konsep serupa akan diatur dalam hukum acara pidana atau tidak. Metode tersebut disebut jalur khusus yang dapat memberikan proses persidangan lebih cepat dan hukuman yang lebih ringan pada terdakwa. Namun, jika diteliti dari rumusan pasal di RUU KUHAP terdapat perbedaan dengan plea bargaining. Perbedaan tersebut membuat jalur khusus kurang tepat jika disebut plea bargaining karena tidak ada negosiasi atau tawar menawar antra jaksa dengan terdakwa atau pengacaranya.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Prospek Penerapan Konsep Plea Bargaining Dalam Upaya Pembaharuan Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia

(Tinjauan Urgensi Perubahan Hukum Acara Pidana)

Prospek Penerapan Konsep Plea Bargaining Dalam Upaya Pembaharuan Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia (Tinjauan Urgensi Perubahan Hukum Acara Pidana)

kebutuhan yang tidak dapat dihindarkan lagi. Sistem hukum di Indonesia memiliki peluang untuk mengadopsi konsep Plea Bergaining ke dalam sistem peradilan pidana, hanya saja diperlukan penyesuaian atara konsep Plea bargaining dengan sistem Peradilan Pidana yang berlaku di Indonesia yang menganut sistem civil law yang memberlakukan batas minimum pembuktian. Amerika Serikat dan Inggris adalah Negara yang menggunakan sistem hukum common law, berberda dengan Indonesia yang menggunakan sistem hukum civil law, keduanya menggunakan model yang menjadi dasar sistem peradilan yang sama, yaitu due process model, sehingga, dengan sistem peradilan yang lebih mengutamakan perlindungan terhadap hak asasi individu secara adil dan sesuai dengan standar konstitusi, maka di Amerika Serikat diterapkan Plea Bergaining System. Sistem ini selain bertujuan untuk mempercepat proses p eradilan pidana, juga untuk memberikan penghormatanatas pengakuan bersalah dari tersangka/terdakwa. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai prospek pemberlakuan konsep
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

TINJAUAN TERHADAP KETERKAITAN PRINSIP COLLECTIVE BARGAINING DENGAN MEKANISME PENETAPAN UPAH MINIMUM OLEH GUBERNUR

TINJAUAN TERHADAP KETERKAITAN PRINSIP COLLECTIVE BARGAINING DENGAN MEKANISME PENETAPAN UPAH MINIMUM OLEH GUBERNUR

Dewasa ini, terdapat pendapat yang berkembang tentang Fleksibilitas tenaga kerja. Fleksibilitas tenaga kerja menjadi konsep yang m e n g u a t d a l a m h u b u n g a n i n d u s t r i a l . Economics.com mengatakan fleksibilitas tenaga kerja adalah keleluasaan pengusaha untuk mengurangi penggunaan tenaga kerja. Hal ini mensyaratkan pengaturan tenaga kerja secara minimal oleh pemerintah selaku pihak yang berhak melakukan proteksi negara (tidak ada upah minimum dan lemahnya serikat pekerja) padahal berdasarkan studi yang telah banyak dilakukan tidak ada kaitan yang relevan antara regulasi dalam ketenagakerjaan melalui peraturan perundangan yang melindungi hak pekerja terhadap tingkat pertumbuhan lapangan kerja. Justru yang menjadi kunci penting adalah bagaimana menciptakan iklim ketenagakerjaan yang kondusif agar para pengusaha merasa nyaman membuka usahanya di Indonesia.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Penguatan Kejaksaan dalam Penanganan Perkara Pidana melalui Plea Barganing

Penguatan Kejaksaan dalam Penanganan Perkara Pidana melalui Plea Barganing

Pengaruh Adversarial system juga menjangkiti Rusia untuk mencangkokan pengaruh Adversarial System dalam hukum acara pidananya. Adanya beberapan elemen unsur adversarial yang dimasukan dalam hukum acara pidana diantaranya : (i) memperkenalkan sistem juri (ii) mencabut kewenangan kejaksaan untuk melakukan penahanan (iii) memasukan konsep Special trial ke dalam hukum acara pidana. Perubahan hukum yang mempergunakan sistem juri dalam penanganan perkara berdampak pada penumpukan perkara, oleh karenanya oleh pembentuk undang-undang hukum acara pidana (Criminal Procedure Code) diperkenalkan Plea Barganing sebagai suatu solusi. Oleh karena Plea Barganing versi Amerika Serikat ditentang oleh legislator Rusia maka diterapkanlah model Patteggiamento. Model ini merupakan penerapan modifikasi Plea Bargaining di Italia. Adapun yang membedakan model Patteggiamento delu pena dengan model Plea Bargaining umumnya adalah tidak adanya pelibatan korban dalam hal mendakwakan atau memohon keringanan hukum. 21
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGUATAN KEJAKSAAN DALAM PENANGANAN PERKARA PIDANA MELALUI PLEA BARGANING. Oleh :

PENGUATAN KEJAKSAAN DALAM PENANGANAN PERKARA PIDANA MELALUI PLEA BARGANING. Oleh :

Pengaruh Adversarial system juga menjangkiti Rusia untuk mencangkokan pengaruh Adversarial System dalam hukum acara pidananya. Adanya beberapan elemen unsur adversarial yang dimasukan dalam hukum acara pidana diantaranya : (i) memperkenalkan sistem juri (ii) mencabut kewenangan kejaksaan untuk melakukan penahanan (iii) memasukan konsep Special trial ke dalam hukum acara pidana. Perubahan hukum yang mempergunakan sistem juri dalam penanganan perkara berdampak pada penumpukan perkara, oleh karenanya oleh pembentuk undang-undang hukum acara pidana (Criminal Procedure Code) diperkenalkan Plea Barganing sebagai suatu solusi. Oleh karena Plea Barganing versi Amerika Serikat ditentang oleh legislator Rusia maka diterapkanlah model Patteggiamento. Model ini merupakan penerapan modifikasi Plea Bargaining di Italia. Adapun yang membedakan model Patteggiamento delu pena dengan model Plea Bargaining umumnya adalah tidak adanya pelibatan korban dalam hal mendakwakan atau memohon keringanan hukum. 21
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Doktrin Precedent dan Plea Bargaining System

Doktrin Precedent dan Plea Bargaining System

Doktrin precedent dikenal dalam tatanan hukum Anglo Saxon, dimana hakim terikat pada putusan hakim terdahulu jika menghadapi kasus-kasus yang mirip. Di Amerika Serikat menganut the binding precedent dan persuasive precedent, sedangkan di Inggris menganut “the binding precedent”. Dalam sistem hukum acara pidana di Amerika Serikat juga mengenal plea bargaining system dimana antara jaksa dan terdakwa atau pembelanya dimungkinkan melakukan negosiasi jenis kejahatan yang akan dikenakan dan ancaman hukuman yang akan dituntut di muka persidangan, sistem ini tidak dianut dalam sistem hukum di Indonesia.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Keywords: pleading guilty, justice collaborator, plea bargaining

Keywords: pleading guilty, justice collaborator, plea bargaining

1) Bahwa terdakwa m erupakan JUSTICE COLLABORATOR, berdasarkan keterangan Saksi Verbalisant Rudi Gunawan di depan persidangan yang menerangkan bahwa Pihak Polisi Berterima [r]

9 Baca lebih lajut

CREATING CONSTITUTIONAL PROCEDURE FRYE, LAYFLER, AND PLEA BARGAINING REFROM.pdf

CREATING CONSTITUTIONAL PROCEDURE FRYE, LAYFLER, AND PLEA BARGAINING REFROM.pdf

The Supreme Court’s acknowledgement in Frye and Lafler that plea bargaining is the primary way that the criminal justice system functions leaves room for additional constitutional litigation concerning plea- bargaining practices. While the dissents raised the specter of litigation that would challenge prosecutorial practices and discretion, a wholesale challenge to prosecutorial discretion is unlikely to succeed; as a recognized characteristic of prosecution, prosecutorial discretion is even more entrenched in the legal system than plea bargaining. However, one possible plea-bargaining reform could result through Strickland challenges and would be consistent with scholarly recommendations and the practices of defense attorneys who find it impossible to provide effective counsel when plea offers have short expiration dates. A strategically filed Strickland petition in a case in which a plea agreement was only available to the defendant for hours at the first appearance could turn the court’s eyes to a practice that does more to clear cases from the docket than to secure justice.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Doktrin Precedent dan Plea Bargaining System. Oleh : Supriyanta, SH.MHum Fak. Hukum UNISRI Abstrak

Doktrin Precedent dan Plea Bargaining System. Oleh : Supriyanta, SH.MHum Fak. Hukum UNISRI Abstrak

Doktrin precedent dikenal dalam tatanan hukum Anglo Saxon, dimana hakim terikat pada putusan hakim terdahulu jika menghadapi kasus-kasus yang mirip. Di Amerika Serikat menganut the binding precedent dan persuasive precedent, sedangkan di Inggris menganut “the binding precedent”. Dalam sistem hukum acara pidana di Amerika Serikat juga mengenal plea bargaining system dimana antara jaksa dan terdakwa atau pembelanya dimungkinkan melakukan negosiasi jenis kejahatan yang akan dikenakan dan ancaman hukuman yang akan dituntut di muka persidangan, sistem ini tidak dianut dalam sistem hukum di Indonesia.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

KETERKAITAN ANTARA KONSEP METAFISIKA DEN

KETERKAITAN ANTARA KONSEP METAFISIKA DEN

Berbeda dengan pandangan realisme, Rancangan Canberra melihat bahwa metafisika merupakan usaha untuk mengumpulkan berbagai anggapan atau pernyataan hambar, yaitu seluruh kebenaran a priori yang mengatakan apa itu beberapa fenomena yang ada dihadapan kita (Mumford, 2008). Misalnya, metafisika hanya berbicara mengenai hubungan sebab akibat yang seharusnya, atau hukum alam. Metafisika hanya akan berbicara mengenai keterkaitan berbagai kejadian yang terkait dalam proses pencarian hubungan sebab-akibat. Setelah mendapatkan keterkaitan tersebut, metafisika mencoba membentuk rangkaian tetap diantara berbagai kejadian, dan seterusnya. Bagi Frank Jackson yang adalah pencetus rancangan Canberra, tahap metafisika hanyalah tahap awal. Tahap kedua yang penting dilakukan adalah melihat dan menemukan apa yang menjadi pembentuk fakta empiris. Atau dengan kata lain, dalam tahap kedua, manusia perlu menemukan apa yang ada di balik dan menjadi pembentuk realitas. Misalnya, pemindahan energi ataupun kekuatan kausal. Para ilmuwan berperan pada tahap kedua ini.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Stakeholder bargaining games

Stakeholder bargaining games

To gain the intuition for this result, fix a discount factor δ ∈ (0, 1) and consider a node off the equilibrium path where, following a series of rejections, the stakeholder puts forward the equilibrium proposal (x, 1 − x, s). Backtracking to the previous period, an offer by bargainer 2 would be accepted only if it yielded each respondent a payoff at least equal to the present discounted value of his continuation payoff following a rejection. This means that bargainer 2 would have to concede δs and δx to players 3 and 1, respectively, and retain for himself the residual payoff 1 + (1 − δ) s − δx. Similarly, backtracking one more period, the proposal by bargainer 1 would be accepted only as long as it yielded δ 2 s and δ (1 + (1 − δ) s − δx) to players 3 and 2, respectively, leaving player 1 with the residual payoff 1 + s − δ (1 + (1 − δ) s − δx) − δ 2 s = (1 + s) (1 − δ) + δ 2 x. The latter implies that any proposal (x, 1 − x, s) by the stakeholder should yield at least δ (1 + s) (1 − δ) + δ 2 x to player 1 and δ (1 + (1 − δ) s − δx) to player 2, that is x ≥ δ (1 + s) (1 − δ) + δ 2 x and 1 −x ≥ δ (1 + (1 − δ) s − δx). Provided s is not too large, there is a whole range of possible proposals (x, 1 − x, s) which are acceptable to both bargainers, and in all of them at least one bargainer obtains an equilibrium payoff in excess of his continuation payoff! This would never be possible in a stationary equilibrium of a standard trilateral bargaining game: in that case it cannot be optimal for a proposer to settle for an agreement that rewards opponents more than their continuation payoff, as she could improve on her own payoff by claiming a bit more, until she makes her opponents indifferent between accepting and rejecting. This is not always possible in the SB game, though, as the stakeholder can at most retain all of her stake s in equilibrium. Because of this reverse liquidity constraint, if the stake is ‘small’, this upper bound on the stakeholder’s payoff has a bite, and it is this which causes a multiplicity of stationary equilibria to arise. Note that this result does not depend on δ, and in the limit as the period between successive offers, ∆, becomes negligibly small (so that δ → 1) the range of values of x which can be supported in an SSPE lies in the closed interval k 1
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Melihat Prinsip Plea Bargain dalam RKUHAP

Melihat Prinsip Plea Bargain dalam RKUHAP

• Pada saat penuntut umum membacakan surat dakwaan, terdakwa mengakui semua perbuatan yang didakwakan dan mengaku bersalah melakukan tindak pidana yang ancaman pidan[r]

40 Baca lebih lajut

Keterkaitan Konsep Konseling Dengan Aspek-aspek Psikologis.

Keterkaitan Konsep Konseling Dengan Aspek-aspek Psikologis.

2.3 Komponen Konseling a. Klien Dalam Konseling Menurut konsep “daya psikologis”, orang yang amsuk ke dalam konseling pada dasarnya karena mengalami kekurangan daya psikologis, yaitu suatu kekuatan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan dalam keseluruhan hidupnya termasuk meyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya. Dalam hubungan ini, para konselor perlu memahami konsep “daya psikologis” ini sebagai landasan dalammemahami kehadiran klien dalam konseling. Dari kajian berbagai teori, daya psikologis pada dasarnya merupakan satu daya atau kekuatan yang menggerakkan individu untuk berbuat dalam menjalani tuntutan keseluruhan hidupnya.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

KETERKAITAN MOTIVASI UNTUK TERLIBAT DAN KONSEP DIRI  Keterkaitan Motivasi Untuk Terlibat Dan Konsep Diri Anggota Harley Davidson Club Indonesia Yogyakarta.

KETERKAITAN MOTIVASI UNTUK TERLIBAT DAN KONSEP DIRI Keterkaitan Motivasi Untuk Terlibat Dan Konsep Diri Anggota Harley Davidson Club Indonesia Yogyakarta.

Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Yogyakarta sebagai komunitas yang menyebut dirinya organisasi, telah menempatkan dirinya pada organisasi non profit. Karena tiap anggota adalah aset terpenting yang dimiliki oleh komunitas, maka terlibatnya anggota masuk ke organisasi menarik untuk diteliti. Seperti organisasi non profit lainnya, untuk bergabung dan terlibat ke dalam organisasi HDCI Yogyakarta ini, anggota organisasi diwajibkan memenuhi persyaratan yang ditentukan. Tentu hal ini membutuhkan pengorbanan dari anggota HDCI Yogyakarta. Dari berbagai pengorbanan yang dilakukan, masing-masing anggota HDCI Yogyakarta memiliki suatu motivasi yang menyebabkan mereka terlibat dalam organisasi. Kebutuhan dianggap sebagai hal yang paling penting digunakan untuk memahami motivasi, sebab kebutuhan merupakan kekuatan utama seseorang dalam memiliki motivasi. Dalam perspektif anggota organisasi, pemahaman akan motivasi dan konsep diri anggota organisasi merupakan bagian yang penting dalam konteks komunikasi organisasi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PLEA BARGAIN. Penguatan Peran Jaksa dalam Rancangan KUHAP pada Konteks Penerapan Plea Bargain. Bandung, 20 Desember 2021

PLEA BARGAIN. Penguatan Peran Jaksa dalam Rancangan KUHAP pada Konteks Penerapan Plea Bargain. Bandung, 20 Desember 2021

Plea-bargaining is the process whereby the accused and the prosecutor in a criminal case work out a mutually satisfactory disposition of the case subject to court approval. It usually involves the accused’s pleading guilty in return for a lighter sentence than that possible for the graver charge

18 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...